"Konoha Underground"

( terinspirasi dari anime Tokyo Underground )

Author : Saita Hyuuga Sabaku

Disclaimer Chara : Naruto Masashi Kishimoto

Pairing : SasuSaku, NaruIno

Rate : T

Genre : Adventure, Romance, Action(?)

Warning : AU, OOC, gaje, alur maksa, berantakan, typo bertebaran, dan masih banyak kekurangan lainnya yang tidak bisa disebutkan satu-persatu.

.

.

.

Don't Like, Don't Read

.

.

.

*** Happy Reading***

.

.

.


Chapter 4

.

.

.

Sepeninggalnya anak buah Orochimaru yang membawa Sakura, Sasuke yang kesal terus memukul-mukul tanah guna melampiaskan kekesalannya. Tiba-tiba keluar api yang cukup besar dari tangannya itu dan menjalar lurus ke arah depan sehingga membakar tumbuhan di depannya. Tapi anehnya ia tak merasakan kepanasan. Naruto yang menyadarinya langsung dibuat kaget akan keanehan yang terjadi pada sahabatnya itu.

"Teme! A-apa ... apa itu barusan?" tanya Naruto seraya menunjuk ke arah sahabatnya.

"Kenapa bisa keluar api dari tanganmu?" cecarnya terus tanpa peduli bahwa Sasuke pun tengah diliputi tanda tanya besar.

Sasuke membuka kepalan tangannya dan melihat telapak tangannya yang barusan mengeluarkan api.

'Ini nyata,' batinnya.

Ino yang tadinya sedang terpuruk pun menyadari keanehan yang terjadi pada Sasuke.

"Kau ... memiliki energi api?" tanya Ino tak percaya.

"Apa maksudmu? Apa itu artinya aku memiliki kekuatan yang sama denganmu?" tanya Sasuke meyakinkan persepsi yang ada di pikirannya.

Ino menatap ke arah Naruto.

"Naruto! Coba kau arahkan tinjumu pada pohon itu!" Perintah Ino.

Meski belum mengerti apa tujuan Ino memerintahkannya melakukan hal itu, Naruto langsung menurutinya. Ia mengarahkan tinjunya ke arah pohon, dan pohon pun langsung rubuh seketika tanpa sempat tersentuh oleh tinju Naruto.

"Kekuatan ini ...," ucap Ino tak percaya.

Ino pun mencoba meninju tanah dan benar saja kekuatan daya hancurnya bertambah 2 kali lipat.

"Jadi begitu ...," kata Ino mantap.

"Hei, apanya yang begitu Ino?" tanya Naruto penasaran.

Sasuke hanya melirik, menanti jawaban.

"Energi yang tadi keluar dari tubuh Sakura melalui tanda di dahinya itu adalah energi kehidupan. Jujur akupun baru kali ini melihat Sakura mengeluarkan energi itu. Energi kehidupan adalah sumber dari segala jenis energi. Energi itu adalah kekuatan alami yang hanya dimiliki oleh Sakura. Dia satu-satunya orang di Underground yang mempunyai kekuatan luar biasa seperti itu. Itulah alasan Orochimaru sangat menginginkan Sakura." Ino menjelaskan panjang lebar keadaan saat ini.

"Dengan kata lain, kekuatan yang kami miliki tiba-tiba adalah akibat dari cahaya yang dipancarkan oleh Sakura tadi?" tanya Sasuke.

"Ya begitulah. Kau dan Naruto memiliki kekuatan itu langsung dari sumbernya. Dan akupun bahkan merasakan energi yang ku keluarkan bertambah berkali-kali lipat," jelas Ino.

"Memangnya selama ini, bagaimana cara kalian mendapat kekuatan aneh itu?" Naruto jadi ikut penasaran dengan energi-energi yang Ino jelaskan.

"Selama ini, kami memiliki kekuatan ini, tidaklah alami. Kami menjalani latihan, dan juga meminum ramuan yang telah diberikan oleh tuan Orochimaru. Dia melakukan berbagai penelitian guna menghasilkan berbagai sumber kekuatan kemudian mencampurnya dengan enzim milik Sakura. Ternyata hasil penelitiannya berhasil. Dengan enzim dari sang pemilik energi kehidupan yang dicampur dengan ramuannya, alhasil kami memiliki kekuatan ini. Hanya saja kekuatan ini tidak bersifat permanen. Sekali setahun kami harus meminum ramuan dari Orochimaru agar kekuatan ini tetap melekat pada kami. Itulah sebabnya dia tidak akan membiarkan Sakura pergi dari Underground." Sesaat tatapan Ino berubah menjadi sendu, memikirkan nasib Sakura yang berada di Underground kini.

Sebenarnya Orochimaru tidak akan mencelakakan Sakura sampai tiba saatnya ia tumbuh dewasa. Saat itu, energi kehidupan Sakura akan mencapai puncaknya. Dengan kekuatan itu, bahkan ia bisa mengendalikan dunia.

Ino hanya merasa iba dengan nasib Sakura yang harus terkurung lagi di kamar itu. Merasa kesepian karena tak ada teman, tak ada kehidupan layaknya di dunia normal dan hanya bisa menatap sinar bulan dari balik jendela kamarnya.

'Tunggu aku Sakura, aku pasti menyelamatkanmu,' batin Ino dengan tangan yang terkepal dan rahang yang mengeras.

"Kenapa kita tidak segera pergi ke Underground untuk menyelamatkan Sakura?" tanya Sasuke datar.

Meskipun begitu, jangan tanya lagi bagaimana perasaan Sasuke kini. Hatinya kesal, marah, kecewa, sakit, dan bergemuruh tak menentu. Dia sungguh khawatir dengan gadis musim semi yang telah memikat hatinya itu. Ia sungguh menyesal tak bisa menjaga seseorang yang berarti untuknya saat ini.

"Tidak bisa," ucap Ino tegas.

"Kenapa tidak bisa? Bukankah kita juga telah memiliki kekuatan seperti mereka?" protes Naruto.

"Memang benar kita telah memiliki kekuatan seperti mereka. Bahkan dapat kupastikan kekuatan kita ini permanen. Tapi ini masih belum cukup untuk menyelamatkan Sakura. Kita harus mengembangkan dulu kekuatan yang kita miliki," ucap Ino.

"Harus menunggu berapa lama untuk menyelamatkannya? Kita bahkan tidak tau apa yang akan mereka lakukan pada Sakura!" Ucap Sasuke dengan nada yang sedikit tinggi.

"Jangan berteriak padaku bocah!" Sentak Ino.

"Kenapa? Kenapa kau bisa setenang itu? Kita bahkan tidak tau bagaimana keadaan Sakura sekarang ...," ucap Sasuke dengan suara tertahan, berusaha meredam amarahnya.

"Karena mereka tidak akan menyakiti Sakura. Selama dia belum mendapatkan tujuan terbesarnya, Sakura akan baik-baik saja. Lebih baik kalian berlatih untuk mengembangkan kekuatan kalian." Setelah mengucapkan hal itu, Ino kembali memberitahu alasan Orochimaru tidak akan menyakiti Sakura.

Sasuke dan Naruto bisa bernafas lega untuk sementara waktu.

"Bagaimana cara kami mengembangkan kekuatan kami?"tanya Sasuke.

"Lalu berapa lama kita harus berlatih? Dan juga latihan seperti apa yang harus kami jalani?" tanya Naruto bertubi-tubi, membuat perempatan urat muncul di kening Ino.

Sedikit menghela nafas, Ino kembali menjelaskan, "Pertama, kalian harus bisa mengendalikan kekuatan kalian dengan benar. Karena kalau tidak, kalian bisa membahayakan warga sipil di Underground. Perlu kalian ketahui, energi yang saat ini kalian miliki, merupakan salah satu dari lima energi utama. Air, api, angin, tanah dan gravitasi. Oleh karena itu, dampak yang akan ditimbulkan oleh energi yang kalian miliki bisa sangat fatal. Untuk itu, aku sarankan kalian melakukan transfer energi. Dan untuk berapa lamanya kalian berlatih, itu semua tergantung berapa lama kalian menguasai transfer energi."

"Hei Ino, apa itu transfer energi? Aku sama sekali tidak mengerti," ucap Naruto polos.

"Transfer energi berarti kau harus memusatkan energimu pada suatu objek. Misalnya pedang. Kau harus berusaha mengalirkan energi angin yang kau miliki pada objek tersebut agar daya hancurnya hanya berpengaruh pada orang yang terkena tebasan pedangmu, tanpa menimbulkan kerusakan untuk lingkungan di sekitarmu," jelas seseorang di balik pohon. Entah perasaan Naruto, atau memang benar adanya, dia merasa sangat mengenali suara tersebut.

"Begitu pula dengan energi api yang kau miliki Sasuke. Kau harus bisa merefleksikannya pada suatu objek. Jika kalian sudah bisa memusatkan energi kalian pada objek tertentu, kalian bisa menggabungkan energi angin dan api yang kalian miliki sehingga menimbulkan energi baru yang maha dahsyat." Suara datar itu muncul dari atas pohon. Pohon yang sama dengan orang yang pertama menjelaskan. Dan Sasuke, bahkan Naruto pun mengenali suara itu.

"Energi baru itu berupa api hitam yang tidak akan padam, sebelum orang yang terkena api hitam itu kehilangan kekuatannya hingga tak dapat digunakan lagi. Tapi api hitam itu tidak akan membunuh lawannya. Hanya bersifat menghilangkan energi. Jadi tidak akan ada korban yang berjatuhan." Kali ini suara seorang gadis yang Ino kenal.

"Lagipula kalian tidak akan bisa masuk ke Underground saat ini. Orochimaru telah mengubah semua kata sandi di pintu masuk Underground. Dia juga telah memasang beberapa jebakan. Bahkan dia membuat jalan labirin yang cukup rumit dan merepotkan untuk menuju kesana. Meskipun merepotkan, aku pun turut bertanggung jawab agar energi kehidupan tidak jatuh ke tangan orang yang salah seperti Orochimaru itu." Suara itu tepat berada di sebelah gadis yang sebelumnya memberikan penjelasan.

"Aku akan membantu kalian untuk merakit persenjataan," ucap seorang gadis dengan riang.

"Aku yang akan melatih konsentrasi kalian dalam memusatkan energi," ucap seorang pemuda.

"Dan kali ini aku tidak akan membiarkan Orochimaru lolos," ucap seorang wanita dewasa.

Wanita dewasa itu menghancurkan dinding pembatas halaman rumah dan menampilkan dua sosok gadis dan dua sosok pemuda bersamanya. Kemudian dua orang yang berada di balik pohon dan di atas pohon ikut turun dan berkumpul bersama kelima orang itu.

"Kalian?" ucap Ino, Naruto dan Sasuke secara bersamaan.

"Kami tujuh penjaga kehidupan," ucap mereka secara bersamaan.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Sementara itu di Underground.

Tok! Tok! Tok!

Seorang pria bermasker dengan helaian perak yang melawan gravitasi tengah mengetuk pintu kamar yang di lapisi dengan emas dan ukiran batu permata di sekelilingnya. Di samping pria itu, ada wanita berhelai hitam panjang dan bergelombang dengan manik ruby yang menawan. Wanita itu membawa gaun panjang berwarna biru dibagian roknya dan berwarna putih di bagian atasnya. Gaun itu pun dihiasi dengan pita-pita berwarna biru di bagian atasnya.

"Masuklah," ucap gadis di dalam kamar dengan suara yang tak bersemangat.

Kakashi dan Kurenai pun masuk ke dalam kamar Sakura. Kamar mewah dengan corak soft pink dan biru di beberapa sudut kamar. Semua fasilitas mewah ada di dalam kamar tersebut. Ranjang king size, lemari kayu besar yang dihiasi ukiran berlian, meja rias mewah yang tampak elegan, dan masih banyak lagi kemewahan yang ada di kamar tersebut.

"Nona, Orochimaru-sama ingin Anda mengenakan pakaian ini. Tuan menunggu Anda satu jam lagi di meja makan," ucap Kurenai lembut. Dia meletakkan pakaian yang dibawanya di atas ranjang king size Sakura. Tepat di samping Sakura duduk.

"Arigatou Kurenai," ucap Sakura sambil tersenyum. Meskipun senyum itu adalah sebuah senyum terpaksa. Biar bagaimanapun hatinya masih merasa sedih harus meninggalkan permukaan.

"Kalau begitu aku permisi dulu," ucap Kurenai sambil membungkuk dan pergi keluar. Meninggalkan Sakura dan Kakashi berdua.

"Nona, apa kau mengeluarkan energi kehidupan itu?" tanya Kakashi melihat lambang bunga Sakura di dahinya, meski sudah terlihat samar.

Sakura mengangguk lemah.

"Aku tidak tau Nii-chan, kekuatan itu keluar dengan sendirinya. Aku tidak bisa melihat Ino, Sasuke-kun, dan Naruto-kun disiksa oleh Kabuto-san dan anak buahnya. Tiba-tiba saja cahaya berpendar dari tubuhku dan mengarah pada mereka. Aku tidak tau, bagaimana keadaan mereka sekarang, hiks ...," Sakura mulai terisak.

Kakashi sedikit mengernyit heran, dengan dua nama yang tadi disebutkan oleh Sakura. Apalagi ia menyebut mereka dengan suffix kun di belakangnya. Tak ingin ambil pusing, ia enyahkan pikiran-pikiran yang bergelayut di otaknya.

Kakashi memposisikan dirinya duduk di samping Sakura. Kemudian ia membawa Sakura ke dalam pelukannya. Ia mengusap lembut helaian merah muda Sakura, berusaha untuk menenangkannya.

"Tenanglah Nona. Mereka baik-baik saja. Kau memiliki energi kehidupan. Tidak mungkin energi yang kau pancarkan memberi dampak buruk pada mereka," ucap Kakashi penuh wibawa.

"Benarkah itu Nii-chan?" tanya Sakura tak percaya. Ia langsung menatap Kakashi penuh harap.

Kakashi mengangguk dan tersenyum di balik maskernya.

"Tentu saja. Percayalah padaku ...," ucapnya sambil memegang kedua bahu mungil Sakura. Kemudian ia mengusap jejak air mata yang tadi mengaliri pipi chubby Sakura.

"Sekarang pergilah mandi dan siap-siap untuk makan malam. Tuan bisa memarahimu jika kau terlambat nanti." Kakashi menyentuh pucuk kepala Sakura dan mengacaknya pelan.

"Arigatou Nii-chan," ucap Sakura sambil tersenyum tulus.

"Ne, sudah kubilang berapa kali, jangan panggil aku Nona," lanjutnya lagi sambil mengerucutkan bibirnya.

"Hehehe, maafkan aku Sakura-chan, aku terbiasa memanggilmu dengan Nona, jadi rasanya sulit untuk menyebut namamu." Kakashi terkekeh pelan dan menggaruk pipinya yang tidak gatal itu.

"Kau tidak terbiasa memanggil Nona Sakura dengan namanya, tapi sepertinya kau terbiasa mengambil kesempatan dalam keadaan heh, Ka-ka-shi," ucap seorang pemuda dari balik pintu. Suara dingin dan datarnya itu, membuat Kakashi menghela nafas.

'Berani sekali dia melakukan penekanan kata pada namaku,' batin Kakashi.

"Hei, tidak usah berlebihan. Aku hanya berusaha menenangkannya. Benar kan Sakura?" Kakashi menjawab enteng dan tersenyum lembut ke arah Sakura.

"Kau curang Kakashi, selalu bersenang-senang dengan Nona Sakura tanpa kami. Lagipula kalau sampai kau ketahuan oleh Tuan Orochimaru, telah lancang memeluk Nona, tamatlah riwayatmu Kakashi," sahut seorang pemuda dengan nada yang sama datarnya dengan pemuda yang pertama. Tapi suaranya lebih terkesan hangat dari pemuda yang sebelumnya.

"Ya ampun, si kembar yang merepotkan telah kembali rupanya." Kakashi kembali menghela nafas.

"Nii-chan, masuklah!" Perintah Sakura.

Kedua orang yang sejak tadi berada di balik pintu akhirnya masuk ke kamar Sakura. Sakura langsung berhambur dan memeluk keduanya. Membuat kedua orang itu sedikit merona.

"Kalian ini, selalu saja menggodaku. Tak bisakah kalian hanya memanggil namaku?" gerutu Sakura.

"Iya, kami minta maaf Sakura," ucap kedua pemuda itu bersamaan.

"Mengobrolnya nanti saja ya," ucap Kakashi. Membuat ketiga orang itu melepaskan pelukannya.

"Kalau Sakura membuat Orochimaru-sama menunggu, ia bisa kena semprot," lanjut Kakashi.

"Baiklah," ucap mereka bersamaan.

"Sakura, cepatlah mandi. Aku akan memanggil Hinata untuk membantumu berkemas." Kakashi pun pergi keluar dan menggeret paksa kedua pemuda yang ia bilang kembar tadi.

Mereka pun keluar dari kamar Sakura dan bermaksud pergi ke kamar rekannya yang lain. Tapi di tengah lorong mereka bertemu dengan orang yang dimaksud dan akhirnya beralih menuju kamar Kakashi.

"Kalian tunggulah di kamarku. Aku akan memanggil Hinata dan pergi ke kamar setelah itu. Kita harus menyusun rencana," tegas Kakashi.

.

.

.

.

.

Sementara itu di ruang Orochimaru.

Pria berkaca mata dengan rambut putih silver yang di ikat ke belakang tengah menghadap Tuannya.

Setengah berlutut, ia mencoba meminta maaf pada Orochimaru karena telah menyakiti Sakura.

"Aku mohon, maafkan aku Tuan. Aku terpaksa berbuat kasar karena Nona Sakura terus memberontak," ucap Kabuto memohon.

"Sudah berapa kali kubilang padamu Kabuto, jangan membuat dia mengeluarkan kekuatannya. Sekarang lihat apa yang telah kau lakukan. Sakura jadi mengeluarkan kekuatannya dan parahnya lagi, orang-orang permukaan itu juga mendapat kekuatan seperti kita. Aku susah payah menciptakan ramuan, tapi mereka dengan mudah mendapatkan kekuatan," ucap Orochimaru geram.

"Aku sungguh tidak sengaja Tuan. Akan kuterima hukuman yang akan kau berikan," ucap Kabuto pasrah.

"Aku tidak akan menghukummu asal kau membunuh ketiga orang itu. Ino si pengkhianat dan dua pemuda yang bersamanya. Kau tidak boleh kembali ke Underground sebelum menyelesaikan tugasmu! Kali ini aku tidak ingin mendengar kegagalan," ucap Orochimaru tegas.

"Baik Tuan. Aku mengerti.' Kabuto pun menghilang dari pandangan Orochimaru.

"Pein, selain Ino, aku ingin kau temukan calon-calon pengkhianat di Underground ini!" Perintah Orochimaru pada pria berambut orange dengan tindikan yang memenuhi wajahnya.

"Baik Tuan," ucap Pein singkat.

Pein pun menghilang dari pandangan Orochimaru.

.

.

.

TBC


Bales Review

suket alang alang : sudah terjawab kan di chapter ini ^^

GaemSJ : Ok...nih udah di next ^^

hanazono yuri : Siip...nih udah di lanjut ^^

FiaaATiasrizqi : iya sekali-kali bikin Sakura kuat, hehehe. Disini shannaro-nya Sakura ada di Ino kan... #plaak...nih udah di update ya ^^

caesarpuspita : belum kok...Sasu belum ngakuin perasaannya ama Saku...masih dipendem ^^

harulisnachan : maaf ya ga bisa update kilat...baru di update nih ^^

Lady Bloodie : Senpai makasih atas pujian, kritik dan sarannya,,,sangat membangun ^^ . Maklum saya ini author pemula yang iseng-iseng naro karya saya di sini, jadilah tulisan gaje ini banyak kesalahannya. Typos, saya selalu usahakan meminimalkannya. Soal genre, itupun saya memang masih belum paham. Kalau menurut senpai sendiri, genre yang cocok untuk fic ini apa? Mungkin senpai yang baik hati ini bersedia membantu saya ^^ . Untuk AN, saya memang suka nyelipin itu, karena saya ngerasa ga pede sama tulisan saya. Sekali lagi terima kasih untuk saran dan kritiknya yang sangat membangun ini. Jika senpai ada waktu dan tidak berkeberatan, silahkan memberi saran dan kritik di tulisan abal saya yang lainnya. Makasih senpai ^^

hezty47eclair : makasih,,,ini udah di lanjut.

Hezlin Cherry : udah baca pan ya di fb lanjutannya ^^

yu : terima kasih atsa sarannya. ne, saya ga tau di chap ini apa sudah lebih baik dari chap sebelumnya. jangan sungkan-sungkan memberi kritik dan saran ya...arigatou ^^

onigiri : makasih udah bilang fic ini bagus...padahal mah berantakan banget. ini udah dilanjut yah ^^


Minna,,,arigatou ya udah nyempetin baca dan review fic saya ini. Maaf saya ga bisa update kilat-kilat, karena kesibukan di duta. Makasih atas review kalian yang membagun, sehingga saya semangat melanjutkan fic ini. Meskipun lama, saya bakal terus usahain update fic saya ini sampai TAMAT.

Makasih juga bagi para silent reader yang udah baca meski ga review. Bagi yang udah favorite dan juga follow fic ini...pokoknya saya makasih banget ama kalian.

Jangan sungkan ya memberi kritik dan saran...Arigatou...

With Love,

Saita