Summary : Senna lari dari rumah karena tidak ingin dijodohkan dengan putra kurosaki. Karena itu, Rukia harus menggantikan Senna….R&R please…^^

Author: Juzie chan

Disclaimer : Om Kubo lah...Author cuma minjam tokoh om Kubo hingga batas waktu yang terhingga (hingga bleach tidak ada lg di dunia ini...huhuhu)

Pairing : IchiRuki, slight IchiSena, RukiRen, ByakuRuki (ini mudah-mudahan enggak...)

Warning! : banyak Typo, AU, OOC, EYD tidak sesuai, Gaje, Jayus, Abal, penuh kenistaan, membosankan, dan segala kekurangan-kekurangan yang lainnya.

Oh, ya...

Salam kenal semua ya...Juzie adalah author baru belajardan tidak berpengalaman di dunia fanfiction. mohon dimaklumin ya sodara-sodara jika story yang Juzie buat sangat sangat tidak mengundang selera tapi kalau ada yang R&R Juzie akan sangat berterima kasih...

Mohon bimbingannya...

*Tengkyu ya yang udah baca and review di Chapter sebelumnya...Author sama sekali ga nyangka kalau fic ini bakal ada yang baca...^^

Ch 3

The Surrogate

"Ini milikku!"

"Jangan Francoise…aku sudah tidak punya lagi apa-apa sekarang."

"Ah, Aku tidak perduli!"

"Jangan…jangan…"

Akhirnya Rukia menemukan hiburan baru di mansion kuchiki. Sewaktu Rukia membantu membersihkan kamar Senna yang sudah sebulan lebih ditinggalkan penghuninya, Rukia menemukan beberapa komik milik Senna sewaktu kecil. Rukia sangat menyukai komik itu apalagi ini pertama kalinya ia melihat buku dengan gambar yang lucu (walaupun ceritanya tidak lucu) dan disertai dengan dialog.

"WHOOI, RUKIA!" teriak seseorang tepat di samping telinga Rukia dan sukses membuat Rukia terperanjat kaget hingga komik yang ia pegang terlempar dan masuk ke dalam kolam ikan.

"Renji! Apa-apan kamu ini?! Bikin aku kaget saja…" Rukia mengomel sambil mengelus dadanya yang tadi hampir terkena serangan jantung.

"Lagian…daritadi aku panggil-panggil tapi kamu tidak menyahut…Oh ya, tadi Nii sama-mu menyuruhku untuk memanggilmu.."

"Nii sama?" Rukia terperangah, tidak biasanya Nii sama-nya memanggilnya. "Kenapa Nii sama memanggilku, Renji?"

"Mana kutahu," Renji menjawab ogah-ogahan, "ayolah…Nii sama-mu itu tidak suka menunggu lama!"

Rukia lalu mengikuti Renji menuju ke ruang kerja Byakuya.

RUKIA'S POV

Nii sama memanggilku? Ini tidak biasanya. Apa aku sudah melakukan kesalahan? Ya..Tuhan ada apa ini? Aku benar-benar gugup.

Kini aku dan Renji sudah berada di depan ruangan Nii sama. Renji lalu membukakan pintu dan mempersilahkanku masuk. Ya ampun…kenapa hawa dingin ruangan itu langsung menyambarku, aku merasa menggigil, tiba-tiba saja perutku jadi mules, bibir pecah-pecah dan susah buang air besar. Dengan takut-takut kumasuki juga ruangan Nii sama. Kulihat Nii sama sedang membuat tulisan kaligrafi kanji di atas kertas dengan kuas.

"Duduklah Rukia…" kata Nii sama tanpa mengalihkan pandangannya.

Aku lalu duduk tepat di depannya. Aura dingin Nii sama benar-benar sangat tajam, aku sampai tidak bisa menenangkan diriku.

"Kau tidak perlu keluar, Renji," sepertinya tadi Renji hendak memberi aba-aba ke Nii sama untuk permisi keluar dari ruang beraura dingin itu. Ternyata bukan aku saja yang merasakan aura ruangan ini.

"Rukia…"

"Ya, Nii sama…" Astaga…suaraku terdengar sangat gugup barusan.

"Kau tahu kan alasan Senna lari dari rumah?" Aku sangat bingung dengan pertanyaan Nii sama. Tentu saja aku tahu alasan Senna lari dari rumah walaupun aku dan Senna sangat tidak akrab bahkan kami tidak pernah bertegur sapa. Toh, semua penghuni di mansion ini juga tahu bahwa Senna lari karena tidak ingin di jodohkan dengan putra dari keluarga Kurosaki.

"Ya…aku tahu…"

"Kakek Ginrei…dulunya punya persetujuan dengan Yamamoto Kurosaki, bahwa mereka akan menjadi satu keluarga."

Aku terus menyimak Nii sama-ku takut-takut kalau ada hal penting yang luput dari perhatianku, trus Nii sama malah menyuruhku mengulangi apa yang nii sama katakan, kan ga lucu kalau aku lupa atau asal jawab saja.

"Oleh karena itu, keturunan Kuchiki harus menikah dengan keturunan Kurosaki."

Aku berusaha mencerna ucapan nii sama barusan. Aku memang sudah tahu bahwa keluarga Kuchiki harus menikah dengan keluarga Kurosaki, oleh karena itu Senna dijodohkan dengan putra Kurosaki. Tapi, yang aku bingungkan kenapa Nii sama mesti memberitahukan aku apalagi semua orang di mansion ini tahu dengan keinginan kakek Ginrei sama.

"Senna tidak menyetujui perjodohan itu dan sekarang entah dimana dia sekarang. Sementara keluarga Kurosaki terus menghubungiku…aku tidak bisa menolak perjodohan ini secara sepihak mengingat seluruh keluarga besar Kuchiki dan Kurosaki sangat menantikan pernikahan itu…"

Nii sama lalu meletakkan kuasnya di atas meja. Ia menatapku. Tatapannya terasa lebih dingin dibandingkan hawa ruangan ini.

"Rukia…sejak kau diadopsi kau sudah menjadi anggota keluarga Kuchiki walaupun darah Kuchiki tidak mengalir di tubuhmu. Bagaimanapun kau tetaplah seorang Kuchiki…" Nii sama memejamkan matanya sebentar, aku tahu ada sesuatu yang sangat mengganggu pikiran Nii sama, tidak biasanya Nii sama yang selalu terlihat tegas, dingin dan berkharisma itu terlihat galau seperti ini.

"Sebenarnya aku sangat berat menyampaikan ini…tapi aku benar-benar memohon kepadamu agar kau bersedia untuk menikah dengan putra dari keluarga kurosaki."

Aku kaget. Saking kagetnya mulutku tidak bisa mengeluarkan suara. Ya Tuhan… apa lagi rencanaku mengenai diriku. Aku yang akan menikah dengan keluarga Kurosaki?

Nii sama memejamkan matanya dan mendesah. Ia pasti sadar kalau aku sangat kaget barusan. "Tidak apa-apa kalau kau menolak Rukia…aku tidak akan memaksamu."

Jujur aku ingin menolaknya…tapi melihat Nii sama seperti ini…aku lalu memejamkan mata sambil terus menimbang-nimbang permohonan Nii sama.

"Tidak apa-apa Rukia…Aku sudah tahu jawabanmu…sekarang kau boleh keluar."

"Tidak. Aku akan menerima perjodohan ini!" kataku dengan tegas. Entah mengapa aku merasa sangat tidak enak jika menolak permintaan Nii sama yang telah memberiku keluarga.

Kulihat bola mata Nii sama membesar. Ia pasti tidak menyangka dengan jawaban barusan. Aku sendiri tidak percaya dengan keputusanku tapi…

"Kau benar-benar tidak keberatan, Rukia?" Nii sama masih ingin memastikan keputusanku.

"Ya. Aku tidak keberatan sama sekali, Nii sama."

Nii sama mengangguk pelan. "Terima kasih, Rukia…"

TAP TAP TAP TAP

"Rukia!"

Rukia tetap berjalan cepat, ia tidak peduli dengan teriakan Renji yang terus memanggil dan mengejarkan.

"Rukia!" kali ini suara Renji lebih nyaring dan ia lebih mempercepat langkahnya, "Rukia, HEI!" Renji berhasil meraih lengan Rukia dan memaksa gadis mungil itu berhadapan dengannya.

"Kau ini kenapa?!" Rukia berusaha melepaskan diri dari genggaman Renji tapi Renji terlalu kuat untuknya.

"Kau yang kenapa?! Kenapa tadi kau terpaksa menerima perjodohan itu?!"

"Tidak terpaksa koq! Aku memang mau…"

"Jangan bohong! Jelas-jelas kau terpaksa menerimanya. Kau tahu sendiri kalau mereka cuma memanfaatkanmu karena mereka harus menikahkan keluarga mereka dengan Kurosaki. Yang seharusnya menikah itu Senna, bukan kamu!

"DIAM! Kau terlalu banyak bicara, Renji."

"Aku hanya bicara yang sebenarnya! Setelah Senna pergi, mereka malah menyuruhmu untuk menggantikannya. Tentu saja mereka yakin kau tidak akan menolak permintaan mereka. Bagaimana nanti kalau Senna tiba-tiba muncul? Saat itu juga kau akan dihina oleh keluarga Kurosaki dan setelah itu pembesar keluarga Kuchiki pasti mengusirmu. Apa kamu tidak sadar juga kalau mereka sebenarnya tidak pernah menerimamu sebagai keluarga!"

PLAK.

Rukia menampar keras Renji.

"Sudah kubilang kau terlalu banyak bicara! Kau itu tidak pernah tahu apa-apa tentangku, Renji!"

Rukia lalu berbalik dan hendak pergi.

"Ya…aku memang tidak pernah tahu apa-apa tentangmu….Rukia…." suara Renji terdengar penuh keputusasaan.

Mendengar barusan, Rukia merasa ia sudah sangat menyakiti hati Renji. Tidak seharusnya ia berkata demikian. Bagaimanapun, mereka berdua pernah hidup bersama dalam suka duka, tentu Renji sangat mengenal Rukia. Ia ingin berbalik dan meminta maaf kepada Renji tapi ada sesuatu yang melarangnya sehingga Rukia memilh untuk lari meninggalkan Renji.

To bo Continue...

Hehehehehehe...Akhirnya hari ini berhasil update kilat...

Tapi Ch yang ke-3 ini pendek ya...:D coz tadi Author lg ikut acara seminar jadi ngetik Ch 3 ini kudu dikebut aja...

Tengkyu ya buat teman-teman yang udah baca, n sempet diripiu juga ;)

Saran dari teman-teman semua bener-bener ngebantu, n semoga ga bosen ngasi sarannya ya...^^

Mohon maaf ya...kalo masi banyak yang salah-salah^^