Summary : Senna lari dari rumah karena tidak ingin dijodohkan dengan putra kurosaki. Karena itu, Rukia harus menggantikan Senna….R&R please…^^

Author: Juzie chan

Disclaimer : Om Kubo lah...Author cuma minjam tokoh om Kubo hingga batas waktu yang terhingga (hingga bleach tidak ada lg di dunia ini...huhuhu)

Pairing : IchiRuki, slight IchiSena, RukiRen, ByakuRuki (ini mudah-mudahan enggak...)

Warning! : banyak Typo, AU, OOC, EYD tidak sesuai, Gaje, Jayus, Abal, penuh kenistaan, membosankan, dan segala kekurangan-kekurangan yang lainnya.

Oh, ya...

Salam kenal semua ya...Juzie adalah author baru belajardan tidak berpengalaman di dunia fanfiction. mohon dimaklumin ya sodara-sodara jika story yang Juzie buat sangat sangat tidak mengundang selera tapi kalau ada yang R&R Juzie akan sangat berterima kasih...

Mohon bimbingannya...

*Tengkyu ya yang udah baca and review di Chapter sebelumnya...Author sama sekali ga nyangka kalau fic ini bakal ada yang baca...^^

CH 4

The Girl Who from The Slums

ICHIGO'S POV

"Ichigo! apa yang kau lakukan? Ayo siap-siap!" ayah berseru ketika mendapatiku duduk bersantai-santai di ruang keluarga.

Aku hanya melongo memandang Ayahku memakai…. Jas? Huh, tidak biasanya si tua bangka itu memakai jas!

"Cepat Ichi-nii! Nanti om Byakuya lama menunggu!" kata Yuzu. Yuzu malah memakai gaun dress selutut yang berwarna ungu.

"Benar, Ichi-nii tahu sendirikan kalau om om galak itu tidak suka menunggu lama…" ini suara Karin. Ya ampun…ada apa dengan anak ini? Karin memakai dress yang mirip dengan dress Yuzu?! Dan…kenapa juga nama Byakuya dibawa-bawa segala?

"Tunggu dulu… Kalian rapi amat, mau ke kondangan? Aku tidak usah ikut ya…" kataku santai.

"Kau ini bagaimana, Ichigo?!" seru ayah, "kita ini akan pergi ke mansion Kuchiki untuk membicarakan masalah perjodohanmu, kau lupa?"

Perjodohanku? Oh ya, benar juga. Aku akan menikah dengan adik Byakuya. Tapi…aku benar-benar tidak tahu kalau hari ini kita akan membicarakannya dengan keluarga Kuchiki.

"Ichi-nii! Jangan bengong saja, ayo siap-siap!" tegur Yuzu.

"Tau tuh, Ichi-nii." Karin malah ikut-ikutan

"Iya iya...kalian cerewet sekali. Aku barusan mau ke kamar untuk siap-siap nih," aku lalu berjalan ke kamar. Memakai kemeja biru muda dan jas hitam.

Kamipun ke mansion Kuchiki dengan mobil dan aku yang menjadi sopirnya. Di mobil kehebohanpun terjadi, entah sejak kapan ayah memasang poster ibu di belakang. Apalagi Yuzu yang duduk di sampingku tidak henti-hentinya bercerita mengenai topik 'Bagaimana nanti kalau aku sudah memiliki keponakan?' Astaga…aku belum menikah saja, mereka sudah berbicara tentang anak.

"MASAKI! Sebentar lagi kita akan bertemu dengan besan!" ayah bertingkah lebay lagi dimobil.

"Yuzu sudah tidak sabar lagi ingin gendong adek bayinya Ichi-nii…." Kata Yuzu yang duduk di sampingku. "Kalo Karin-chan?"

"Ya…gitcyu deh." sahut Karin yang duduk bersama ayah di belakang. Aku lalu meliriknya lewat kaca spion depan, tidak biasanya anak sok keren dan cuek itu berbicara aneh. Kalau Yuzu yang bersikap lebay sih wajar saja karena Yuzu memang senang mengikuti ayah.

"Gitcyu? Gitcyu itu apa ya?" yuzu malah kembali bertanya dengan polosnya.

"Gitcyu itu sama aja dengan Gettohhh! You know?!"

Aku semakin membelalakkan mata. Ada apa dengan Karin? Jangan bilang kalau dia telah berhasil terkontaminasi dan terjerumus ke dalam dunia perlebayan ayah?

"Gettoh? Apaan sih itu?" Yuzu belum mengerti-mengerti juga.

"Ya elah…itu artinya aku juga mau gendong adek bayinya Ichi-nii!" sahut karin sedikit frustasi. Syukurlah akhirnya Karin kembali normal. "GAK GAUL BANGET SIH, LO!" aku langsung tersendak hendak memuntahkan seluruh isi perutku! Dengan gerakan cepat aku menepikan mobil dan meremnya secara mendadak.

"ICHIGOOOO apa yang kau lakukan?!" ayah mengomel

"Kenapa Ichi nii mengerem mendadak sih?" yang ini Yuzu yang mengomel.

"Ichi nii mau membunuh kita semua ya?" kali ini Karin yang mengomel.

"Kau yang mau membunuh kita semua, Karin!" teriakku ke arah Karin. Benar-benar tidak tahu diri anak itu.

Karin malah cengo "Loh loh…kenapa aku? Yang nyetir kan Ichi-nii!"

"Iya…tapi aku tidak tahan dengan cara bicaramu tadi…benar-benar membuatku mual…"

"Nyantai aja kalle'!"

"Ampun deh…Ayah, ayah yang menyetir saja!" pintaku ke ayah.

Ayahpun menggantikanku menyetir. Dan tanpa sadar kita telah sampai di mansion kuchiki. Aku tahu kalau Kuchiki tidak lama ini membangun mansion di karakura, tapi pembangunannya benar-benar cepat dan….mewah. bahkan lebih besar dibanding mansion Kuchiki yang berada di Soul Society. Pantas saja kalau Byakuya memilih untuk pindah ke Karakura.

Kamipun masuk ke dalam.

"Selamat datang, Tuan Kurosaki….uhuk..uhuk…" seorang kakek-kakek renta dan bungkuk menyapa kami. Aku tahu kalau dia kepala pengurus rumah tangga Kuchiki, aku pernah melihatnya jalan dibelakang Byakuya waktu di Soul Society. Dia lalu membisikkan sesuatu ke seorang pelayan yang sedari tadi berdiri di belakangnya lalu pelayan itu pergi.

"Silahkan ke dalam, Tuan Kuchiki-sama sudah menunggu kalian semua…"

Kakek itu menuntun kami ke suatu ruangan. Astaga…lihat cara kakek itu jalan…kecepatannya menyamai bekicot.

"Kakek…umur kakek berapa?" tiba-tiba Yuzu menanyakan hal yang sangat tidak penting.

"Kalau tidak salah…umur kakek udah 85…"

"Benarkah? Masa sih kek?" Yuzu malah berseru.

"Kenapa? Tua banget ya, Nak? tapi…masih terlihat berumur 30-an kan?"

Tiba-tiba mulutku berbusa. Aku yakin kalau kakek-kakek ini sedang mengidap Alzheimer. Kasian banget kakek ini…ngapain juga si Uya Kuya eh maksudku Byakuya itu masih memperkerjakan kakek itu. Seharusnya kakek itu dirawat atau dimasukkan ke panti jompo…paling tidak seharusnya anak dan cucunya yang mengurusnya.

Akhirnya kita sampai juga di suatu ruangan. Di ruangan itu tidak ada sofa, hanya meja besar yang pendek.

"Silahkan duduk, Tuan Kuchiki-sama segera menuju ke mari." Kakek itu lalu meninggalkan kami.

Kamipun duduk dan tidak lama kemudian para pelayan muncul membawa banyak kue. Ada kue moci khas bandung, kue cucur, ongol-ongol, onde-onde, kue lumpur, kue talam, kue dadar, bakwan, panada, martabak manis, risoles dan lemper…oh dengan cangkir berisi teh pastinya.

"Keluarga Kuchiki benar-benar luar biasa…" kata ayah mengangumi segala apa yang ia lihat di mansion kuchiki.

"Menurutku wajar saja, Ayah. Keluarga Kuchiki kan memang keluarga bangsawan," kataku.

"Tadi, waktu kita jalan, aku lihat ada kolam ikan yang besaaaaaaaar sekali. Kolam ikannya bagus banget!" Yuzu berseru. "Ya kan, Karin chan?"

"Hu um…" karin menyahut.

"Kau seperti tidak pernah lihat kolam ikan besar saja, Yuzu," ketusku, "di rumah Yama-jii yang di Soul Society juga ada kolam ikan besar kan?"

"Tapi, yang tadi itu benar-benar besar! Ya kan, Ayah?"

Ayah malah sibuk melahap semua kue-kue di meja dengan rakusnya. Aku, Yuzu dan Karin sweatdrop menatap tingkah laku ayah yang benar-benar terlihat sangat….kampungan.

"Ayah! Ayah tidak memperhatikan Yuzu!" Yuzu mengomel.

"Daripada banyak bergosip mending kita mencicipi semua kue-kue ini…mumpung gratis." Kata ayah dengan mulut yang penuh dengan kue. Astaga…kalau saja Byakuya melihat tingkah ayah yang kampungan ini Byakuya pasti berpikir seribu kali untuk ingin menjadi satu keluarga dengan keluarga kami.

"Ngomong-ngomong, mansion Kuchiki di sini benar-benar besar dan mewah ya, Ichigo? wah…bisa-bisa kalau kau sudah menikah dengan adik Byakuya kau bisa tinggal di sini…" suara ayah terdengar sepeti sedang berkumur-kumur karena sambil mengunyah.

"Hah? yang benar saja! kalau nanti aku menikah dengan adik Byakuya tentu aku akan membawanya ke rumah kami berdua!" kataku, "bikin aku malu saja kalau harus tinggal di rumah ipar…"

"Benarkah itu, Kurosaki?" suara seorang pria tiba-tiba dan sukses membuat Ayah langsung tersedak hingga semua kue yang ada di mulutnya keluar semua.

Tiba-tiba aura dingin dan mencekam menyelimuti ruangan ini. Aku berbalik ke belakang untuk melihat siapa pemilik suara tadi dan aura dingin ini.

"BYAKUYA!" teriakku ketika memandang Byakuya.

"Panggil aku Kuchiki, Kurosaki!" Byakuya menegurku.

"Ke..kenapa kau tiba-tiba muncul seperti itu?! Sejak kapan kau ada di ruangan ini?!" tadi aku benar-benar shock karena si uya kuya itu tiba-tiba saja sudah ada di ruangan ini tanpa kami sadari apalagi mengingat ruangan ini tadinya tertutup rapat-rapat setelah kakek tua renta tadi pergi.

"Pertanyaanmu itu tidak penting aku jawab," sahut Byakuya dengan gaya yang sok cool tapi jijay dan tanpa ekspresi. "Kau belum menjawab pertanyaanku tadi, benarkah kau akan membawa Rukia pergi?"

Oh…nama adik Byakuya itu Rukia ya…akhirnya aku tahu juga namanya, nama calon istriku.

"Tentu saja! aku akan membawanya untuk tinggal bersamaku, di rumah kami! lagi pula…kalau adik kamu itu menikah denganku, dia bukan kuchiki lagi tapi ku-ro-sa-ki!" aku mengucapkannya dengan tegas.

Sekilas kulihat Byakuya sempat mengerutkan alisnya. Sepertinya dia tidak senang dengan pernyataanku tadi. Tapi aku merasa tidak salah koq, bukannya istri memang harus ikut suami kan?

"Sudahlah…mau Kuchiki atau Kurosaki, intinya kita akan menjadi satu keluarga, satu untuk semua, semua untuk satu…Ahahahahaha…"akhirnya ayah mencairkan suasana yang mulai menegang tadi. Aku memang tidak pernah cocok dengan si Uya Kuya itu!

"By the way anyway busway, adik kamu dimana ya?" ayah bertanya ke Byakuya sambil celengak celengok. Oh iya…kami belum pernah melihat adik Byakuya. Aduh…aku sangat penasaran ingin melihatnya. Dia pasti ada di sini!

"Kebetulan kemarin Rukia ke Soul Society, ada yang ingin dia kunjungi di sana," kata Byakuya.

Yah… sayang sekali…

Byakuya lalu duduk di depan kami. Btw…ini duduknya melantai ya, khas jepang gitu pokoknya.

"Ehem…"ayah berdehem sekali, "Byakuya…kamu pasti tahu kan maksud kami datang ke sini untuk segera meminang adikmu, sesuai dengan keinginan almarhum Yamaji dan Ginrei Kuchiki," ayah berkata dengan wajah yang benar-benar…serius? Astaga ayah serius? Ini pertama kali dalam sejarah ayah serius seperti ini dan…HEI! Jadi ini acara lamaran? Aku menatap ayah dengan penuh tanda tanya. Apa-apaan ini? Bukannya tadi ayah cuma mengatakan baru ingin membicarakannya?

"Ya…tentu aku tahu." Byakuya menyahut, "tapi…bisakah mereka tidak menikah dulu?"

Kami sekeluarga cengo menatap Byakuya.

"Maksudku…bisakah mereka ditunangkan saja dulu…" Byakuya menambahkan untuk memperjelas jawaban sebelumnya, "akan lebih baik kalau kita membiarkan Rukia dan Kurosaki kun saling mengenal satu sama lain dulu, lagipula mereka masih terlalu muda, akan sangat baik kalau mereka bisa akrab sebelum menikah…" ucapan Byakuya kali ini terdengar seperti memberikan saran walau ekspresi wajahnya datar-datar saja.

Kulihat ayah sepertinya tidak setuju dengan saran Byakuya. Aku cepat-cepat saja menanggapi perkataan Byakuya tadi.

"Benar sekali!" seruku.

"Ichigo?" ayah melotot ke arahku.

"Kami sekeluarga memang sudah membicarakan ini di rumah dan kami memang sudah memutuskan untuk melakukan pertunangan dulu! Kata orang-orang tak kenal maka tak sayang," aku lalu melirik ayah, rahang bawah ayah sudah jatuh ke lantai karena perkataanku tadi.

"Kalau kalian memang sudah memutuskan demikian…baguslah. Berarti kita akan mengadakan pertunangan dulu dan untuk persiapannya biar aku yang urus nanti, terserah waktunya bisa kapan saja biar kalian yang menentukan tanggalnya."

Aku jadi lega, sementara ayah mojok di sudut. Karin dan Yuzu malah sudah menghabiskan semua kue di meja. Tapi itu tidak penting, yang penting pernikahanku bisa ditunda untuk sementara waktu.

I've been yearning for it…but never wanna go back

Rukia's POV.

Inuzuri, distrik 78 Rokungai, Soul Society…

Aku kembali lagi…tempat yang paling buruk di rokungai. Anak kecil kelaparan, kejahatan maupun kekerasan dimana-mana, dan orang tua yang sakit-sakitan…. Ah...ternyata sudah enam tahun aku meninggalkan tempat ini. Tempat yang penuh dengan suka duka dan misteri bagiku…karena sampai saat ini aku tidak tahu mengapa keluargaku sangat tega meninggalkan aku di tempat seperti ini. Tapi itu sudah berlalu, kini aku telah memiliki keluarga, walau sebenarnya hatiku lebih nyaman berada di tempat seperti ini.

Musim panas sepanjang tahun dan debu ada di mana-mana. Ternyata tempat ini benar-benar tidak berubah sama sekali. Aku berjalan sebentar mengitari kampung halamanku untuk melihat-lihat. Tiba-tiba seorang gadis kecil berkimono selutut berwarna ungu lari menyambarku dari belakang. Aku sempat melihat wajahnya, dan…aku kaget dan hendak memanggilnya tapi anak itu sudah berlari jauh. Aku lalu berbalik ke belakang, seorang paman mengejar anak itu sambil membawa golok.

"Jalan lari kau, Setan kecil!" teriaknya. Lalu pemandangan tersebut tiba-tiba hilang dari pandanganku.

Aku memutuskan untuk ke padang rumput. Tempat aku dan teman-temanku bermain di sore hari. Di sore hari, di sana terasa sangat sejuk sehingga semua anak-anak di inuzuri bisa berlama-lama bermain.

Dan benar saja…di sana sudah banyak anak-anak bermain. Ada yang main perang-perangan, bermain ketapel, menangkap burung, bersandiwara menjadi samurai, dan sebagainya.

Aku lalu menemukan pohon yang dulu sering kupanjati bersama teman-teman. Ternyata pohon ini sudah bertambah besar dan terlihat sedikit keramat. Aku lalu memanjatnya. Dari atas aku mengamati anak-anak yang sedang bermain itu. Hhhhh…rasanya aku ingin merasakannya lagi, kembali menjadi kecil kemudian ikut bermain.

"Hahahahahahaha…" suara anak kecil tertawa tepat di sampingku. Aku langsung berbalik cepat karena tadinya aku berada di atas sendiri. Ternyata dia gadis kecil berkimono ungu dan berambut hitam sebahu yang tadi aku temui . Ia tertawa lepas melihat anak-anak kecil yang lain sedang bermain. Sinar matanya yang bagai amethyst tidak menunjukkan beban maupun penderitaan sedikitpun. Begitu damainya ia memandang dunia. Aku lalu tersenyum padanya.

"Apa kau tidak ingin ikut bermain?" tanyaku pada gadis kecil itu.

Gadis kecil itu hanya menatapku sebentar lalu loncat ke bawah dengan gesit kemudian ia berlari, bergabung dengan anak-anak yang lain. Aku menyadari bahwa…gadis kecil tadi adalah diriku. Seharusnya aku yang sekarang bisa setegar diriku yang dulu.

Setelah itu aku ke pemakaman teman-temanku, mendoakan mereka agar mereka tenang di dunia sana dan tetap bersabar menungguku. Kelak kita akan berkumpul dan kembali tinggal bersama.

"Teman-teman…kalian jangan khawatir…sekarang aku dan Renji hidup dengan sangat baik…walaupun hubungan kami tidak seperti dulu…" aku meletakkan setangkai crysant putih di pemakaman mereka. Selamat tinggal….

To be Continue...

Hwhwhwhwhwhwhwhw... akhirnya bisa update kebut lagi :)) walaupun ceritanya kayak makin abal ya =.='

Thanks banget ya yang udah R&R^^

Maaf...kalo di Chap ini belum ada interaksi Ichirukinya...:D

udah gitu masih banyak salah-salah lg...

di Chap selanjutnya interaksi Ichiruki diusahain ada...#plakk

Thanks juga yang udah ngasi saran ;)

n jangan bosen-bosen ya buat terus R&R ;) biar Juzie semangat ngelanjutinnya...:D

Oh ya...kayaknya Chap 5 ke atas ga bisa update kebut lagi...tapi diusahin biar bisa koq :D

Arigato!