Summary : Senna lari dari rumah karena tidak ingin dijodohkan dengan putra kurosaki. Karena itu, Rukia harus menggantikan Senna….R&R please…^^
Author: Juzie chan
Disclaimer : Om Kubo lah...Author cuma minjam tokoh om Kubo hingga batas waktu yang terhingga (hingga bleach tidak ada lg di dunia ini...huhuhu)
Pairing : IchiRuki, slight IchiSena, RukiRen, ByakuRuki (ini mudah-mudahan enggak...)
Warning! : banyak Typo, AU, OOC, EYD tidak sesuai, Gaje, Jayus, Abal, penuh kenistaan, membosankan, dan segala kekurangan-kekurangan yang lainnya.
Oh, ya...
Salam kenal semua ya...Juzie adalah author baru belajardan tidak berpengalaman di dunia fanfiction. mohon dimaklumin ya sodara-sodara jika story yang Juzie buat sangat sangat tidak mengundang selera tapi kalau ada yang R&R Juzie akan sangat berterima kasih...
Mohon bimbingannya...
*Tengkyu ya yang udah baca and review di Chapter sebelumnya...Author sama sekali ga nyangka kalau fic ini bakal ada yang baca...^^
CH 5
Red Ropes and Green Tea
Ichigo's POV
"Di sana, di sana…geser sedikit…aduh kayaknya anglenya belum tepat…Ah pindahkan ke sana saja…" Ayah sedang sibuk mengatur posisi poster raksasa ibu ukuran layar tancap.
"Di sini, Tuan?" tanya salah satu pengawai yang bertugas mengangkat poster ibu.
"Yah, di situ! Bagus bagus." Ayah terlihat sangat puas tapi…
"Hentikan, Ayah! Copot cepat poster norak itu!" protesku.
"Kurang ajar sekali kau, Ichigo! Poster ibumu yang cantik begini kau bilang norak….ckckck."
"Tentu saja norak, Ayah! Para tamu akan kira kalau keluarga kita adalah keluarga udik kalau mereka liat poster ibu sebesar itu…" jelasku sengit, "lagian…ini acara pertunanganku dengan adik Byakuya, Ayah tidak takut apa kalau nanti Byakuya komplen dengan poster ibu itu di sini?"
"Ow ow ow ow…jangan khawatir Ichigo, Ayah sudah memberitahu Byakuya kalau kita akan memasang poster Masaki di sini, dan…Byakuya asyik asyik aja tuh."
Sial! Benar-benar sial! Hari ini aku akan bertunangan dengan adik Byakuya bernama Rukia Kuchiki. Kupikir, acara pertunanganku akan dilaksanakan sebulan, dua bulan atau tiga bulan kemudian setelah kejadian waktu aku ketika keluargaku ke Mansion Kuchiki untuk membicarakan perjodohan…tepatnya versi ayah untuk meminang Rukia Kuchiki. Memang sih ayah bersikeras agar pertunanganku harus cepat dilaksanankan tapi aku santai-santai saja karena kupikir tidak mungkin Byakuya bisa mengurusnya cepat. Ternyata…dua hari kemudian, tepatnya hari ini, pertunanganku akan dilaksanakan.
Flashback
"HUHUHUHUHU…Masaki…kau tidak tahu betapa bodohnya putramu tadi…" Ayah menangis Bombay ketika berada di mobil setelah keluar dari Mansion Kuchiki.
"Sudahlah ayah…semuanya sudah diputuskan. Kan yang penting nantinya aku akan menikah dengan adik Byakuya kan…gitu aja koq repot," aku lalu tersenyum puas plus sangat lega….setidaknya aku diberi waktu banyak untuk mengenal calon istriku sebelum pernikahanku benar-benar dilaksanakan.
"Pokoknya, pertunanganmu harus cepat-cepat dilaksanakan! HARUS CEPAT! Apapun yang terjadi…hiks."
End of Flashback….
Dan yang benar saja, ayah terus mendorong Byakuya agar cepat-cepat mengurus acara pertunanganku ini. Yang paling aku sesalkan, sampai detik ini aku belum pernah melihat bagaimana penampakan si Rukia itu! Karena kata Byakuya, Rukia ternyata baru sampai di Karakura tadi malam. Huhuhuhuhu…aku harus pasrah yah…minimal mudah-mudahan Rukia mukanya tidak buruk-buruk amatlah…semoga…semoga…
"Ichi-nii jangan tegang begitu…ini…" Yuzu lalu memberikanku mantel luaran kimonoku. Btw…konsep pertunanganku ini sangat tradisional, jadi semua orang memakai kimono.
Kemudian Byakuya masuk dalam gedung disertai oleh para pengawal yang berbaris rapi di belakangnya. Ia menghampiriku.
"Dimana Kurosaki-san?" tanya Byakuya dengan ekspresi datarnya.
"Aku?" tanyaku bingung.
"Bukan."
"Aku?" ini Yuzu yang bertanya.
"Bukan…"
Aku dan Yuzu lantas menatap Karin dengan tatapan curiga. Jangan bilang kalau ternyata Karin dan Byakuya punya hubungan special, astaga…"
"Bukan aku kan?" tanya Karin bingung sambil menunjuk wajahnya sendiri.
"Bukan bukan…maksudku ayah kalian," Byakuya mempertegasnya.
"Ooooooooh," Aku, Yuzu dan Karin ber-oh ria. Daritadi keq bilang kalau mau cari ayah.
"Tuh…" aku menunjuk ayah yang sedang beraksi lebay non konyol di depan poster raksasa ibu.
Byakuya menaikkan sebelah alisnya ketika melihat tingkah ayah di depan poster ibuku lalu byakuya menghampiri ayah.
Para tamu mulai berdatangan dan ternyata rombongan dari soul society juga hadir. Benar-benar luar biasa si Byakuya itu, dalam dua hari ini dia mampu menyebarkan undangan hingga ke Soul Society, benar-benar hebat. Tapi…kenapa penduduk Soul Society itu aneh-aneh ya…lihat saja mereka memakai serba hitam-hitam…ya…ada juga sih yang melapisi kimono hitamnya dengan mantel putih tapi, dominan dari mereka kan pake kimono hitam, kayak sedang di rumah duka saja… Enak saja! inikan acara pertunanganku!
Yah…sudahlah, pakai kimono hitam-hitam begitu di acara pertunangan atau pernikahan mungkin tradisi di soul society ya. Jadi, aku masih bisa maklumi. Tapi, tunggu dulu! Koq tamu dari soul society makin ke sini makin ngawur ya…itu cewek, tante-tante tepatnya, kepangnya koq malah di depan….eh itu malah ada yang pakai topeng setan… Ya ampun…seharusnya Byakuya memasang peringatan di luar mengenai larangan berpenampilan aneh atau memakai topeng di sini, bahaya sekali kan kalau ternyata tamu itu adalah teroris yang ingin mengebom kita semua? Tunggu dulu, tunggu dulu…itu aku tidak salah lihat kah? Anjing? Kenapa ada seekor anjing besar di sini? atau itu cuma kostum kah? benar-benar keterlaluan mereka, dipikirnya ini acara cosplay apa?!
Para rombongan Soul Society menyapaku.
"Selamat atas pertunanganmu, Kurosaki-kun," kata Sasakibe-san. Dia adalah ketua di akademik Seireitei, sekolah terbesar yang menampung anak yatim yang memiliki kecerdasan di atas rata-rata. Aku tahu karena keluargaku juga ikut berpartisipati didirikannya Seireitei.
"Terima kasih atas kedatangannya…" sahutku. Aku melirik si paman guguk, "Maaf, bisa aku cek apakah ini cuma kostum atau bulu betulan…" kataku pada paman anjing yang sedang berdiri di belakang Sasakibe-san.
Aku lalu menarik-narik bulunya, muka paman guguk itu sudah lain-lain tapi tetap saja kutarik bulunya karena penasaran…. Astaga, ternyata itu bulu asli! Ya, Tuhan…azab apa yang Engkau turunkan pada paman ini?
"Dia adalah Komamura…apa kau lupa, Kurosaki?" kata Sasakibe-san.
"Iya…aku lupa," jawabku asal. Huh, boro-boro lupa emang aku tidak tahu koq kalau ternyata di Soul Society ada siluman anjing. Tapi, jika sasakibe-san saja mengenal paman anjing ini dan orang-orang aneh bersamanya, berarti aku tidak perlu curiga mengenai teroris.
"Di mana, Kuchiki-sama dan Ayahmu?" Sasakibe-san bertanya lagi.
"Di sana…" aku sebenarnya malu menunjuk ke arah ayah yang masih saja bertingkah lebay di depan poster ibu walaupun ada Byakuya juga di sana. Aku lalu memberi isyarat ke Yuzu dan Karin untuk mengantar rombongan Sasakibe-san untuk menemui ayah.
Seorang wanita berambut panjang, ikal dan berwarna coklat mengayungkan tangannya ke arahku…ah rombongan itu, Rangiku yang seksinya na'udzubillah, bersama si tuyul Ikaku, banci kaleng Yumichika, Kira yang sok keren, si berandalan Hisagi dan Momo yang sok polos.
"Hai, Ichigo…lama tidak ketemu," sapa Rangiku dengan gaya centilnya…gile tuh dada apa mesti dipamer kayak gitu?
"Aku benar-benar kaget waktu menerima undangan pertunanganmu, dan ternyata kau bertunangan dengan Rukia Kuchiki…benar-benar tidak kusangka," kata Ikaku. Hehehehe…samma donk, aku juga kaget waktu tahu akan dijodohkan dengan Rukia…. Aduh, Rukia itu kayak apa ya?
"Ngomong-ngomong, Ichigo, kenapa kau bisa bertunangan dengan Rukia Kuchiki…kupikir kau akan dijodohkan dengan…AOWWWW!" Hisagi berteriak histeris karena Rangiku tiba-tiba menginjaknya. Rangiku lalu menaruh telunjuknya di bibirnya seolah-seolah ia melarang hisangi berbicara. Apa-apaan mereka?
"Karena takdir makanya aku bertunangan dengan Rukia….memangnya aku mau dijodohkan dengan siapa lagi?" ketusku.
"Dengan Yumichika," sahut rangiku seenaknya sambil senyum sumringah.
"Hah? yang benar saja! masa aku dijodohkan sama…" aku agak takut kalau nantinya Yumichika tersinggung kalau aku mengatainya banci. Tau sendirikan kalau banci lagi marah atau tersinggung itu kayak apa.
"Sama banci maksudmu, Ichigo?" tanya Yumichika sambil melengkungkan bulu mata anti tornadonya ke atas..
"Emmm…" aku tidak jawab ya.
"Maaf ya, walaupun aku banci tapi kecantikanku ini selevel ratu sejagat, lagian…Rukia Kuchiki, tunanganmu itu tidak ada apa-apanya dibandingkan aku."
"Be-benarkah itu?" aku jadi merinding mendengar pernyataan Yumichika barusan. Masa Rukia tidak ada apa-apanya dibanding Yumichika…tapi aku harus tenang, paling tidak Rukia itu benar-benar seorang perempuan, bukan banci!
"Loh, jangan-jangan kau tidak pernah melihat Rukia Kuchiki, Ichigo?" ini suara Kira.
"Memang aku tidak pernah lihat…" sahutku penuh suka cita
"Astaga…." Semua serentak berkata.
"Bisa-bisanya kalian akan bertunangan sementara kalian belum bertemu. Apa kata dunia ini, Ichigo?" kata Ikaku heran.
"Yah…mau bagaimana lagi…" hanya ini yang bisa aku jawab.
"Emmm…Rukia Kuchiki ya…aku pernah sekelas dengannya waktu di Seireitei," kata Momo.
"Benarkah itu, Momo?" tanyaku tidak percaya. Rasanya aneh saja kalau ada keluarga Kuchiki yang bersekolah di Seireitei, karena setahuku di sana kan hanya anak yatim berprestasi yang sulit mendapatkan pendidikan berkualitas…memang sih kedua orang tua Byakuya sudah lama meninggal tapi bukannya selama ini keluarga Kuchiki mendapatkan pendidikan melalui home schooling karena tidak diperbolehkan bangsawan besar berbaur dengan rakyat jelata. Tapi, itu tak penting, suka-sukanya Byakuya kan mau menyekolahkan adiknya di manapun.
"Iyyaaaaa, waktu tahun ajaran pertama, ummmm umurku dan Rukia waktu itu masih 15 tahun…"
"Oh…bagaimana orangnya, Momo?" tanyaku penasaran.
"Ummmmmmm waktu itu kami masih unyu-unyunya…aku tidak akrab dengannya karena Rukia sepertinya orangnya tertutup…lagian Rukia di Seireitei tidak cukup setahun, benarkan Kira?"
"Ya, benar. Dia cuma sebentar di Seireitei…tapi sepertinya dia anaknya baik. Oh ya, satu-satunya yang dekat dengannya itu Renji Abarai."
"Renji Abarai?" Ah, aku pernah dengar nama itu, kalau tidak salah dia salah satu murid keluaran terbaik Seireitei. Tapi, aku tidak pernah bertemu dengannya.
"Lalu, dimana si Renji itu?" tanyaku pada Kira.
"Kau lihat laki-laki berambut merah yang berdiri di belakang Byakuya Kuchiki? dialah Renji Abarai. Sekarang dia menjabat sebagai asisten kepercayaan Byakuya."
Aku lalu mencari-cari laki-laki berambut merah di belakang Byakuya. Oh…ternyata itu ya? Wajahnya menakutkan juga ya apalagi dia memakai tato di wajahnya, seperti preman pasar saja.
"Kenapa pertunanganmu mesti buru-buru begini, Kurosaki?!" suara seseorang tepat di sampingku.
Aku lalu balik ke samping tapi tidak menemukan siapapun.
"Turunkan view-mu, Kurosaki!"
Aku pun sedikit menunduk, astaga…ternyata si bocah laki-laki berambut perak yang sok keren dan cool itu.
"TOSSSHIRO!" seruku, "sejak kapan kau ada di sini?"
"Panggil aku Hitsugaya-san! Ya, daritadilah aku di sini! Bersama yang lain!" sewot Toshiro.
"Astaga…aku tidak melihatmu…kau sudah daritadi ya…Maaf." Ucapku.
"Hihihihihhihhihi…Bos terlalu kecil sih," Rangiku malah menertawai bos-nya.
"Diam kau, Matsumoto! Kau mau honormu aku kurangi?" ancam si rambut perak. Rangiku lalu menutup mutupnya rapat-rapat.
"Ichigo, kita masuk dulu ya…"kata Ikaku.
"Oh…yayayayaya…selamat bersenang-senang…"
"Kurosaki-kun…" seorang wanita memanggilku dan aku tahu persis pemilik suara ini.
Aku berbalik dan benar saja itu Inoe. Kukira dia akan datang bersama Ishida tapi ternyata…Inoe lalu menghampiriku.
"Selamat ya, Kurosaki-kun…aku benar-benar kaget waktu tahu kamu akan bertunangan hari ini. Aku bahkan baru menerima undanganmu kemarin malam."
"Iya Inoe, acaranya memang terlalu tiba-tiba," kataku, "aku saja kaget kalau acaranya ternyata hari ini."
Aku lalu memperhatikan pria pucat yang datang bersama Inoe.
"Inoe, mana Ishida? Kenapa kau malah datang bersama pria lain," bisikku ke Inoe.
"Kurosaki-kun, kau tidak tahu ya kalau aku sudah menikah?"
Aku terperangah, "Hah? kau sudah menikah?" tanyaku benar-benar tidak tahu, "kenapa aku tidak tahu kalau kau sudah menikah, lagian undanganmu tidak ada…"
"Ehem…ehem…" pria pucat yang datang bersama Inoe berdehem.
"Kurosaki-kun perkenalkan ini suamiku namanya Ulquiorra Cifer…Ulquiorra, kenalkan ini Ichigo Kurosaki…" Inoe memperkenalkan kami.
"Salam kenal, Kurosaki." sapa si pucat, "Selamat atas pertunanganmu."
"Terima kasih…"
Kamipun berjabat tangan, tangan si pucat itu benar-benar sangat dingin seperti mayat yang habis disimpan dalam freezer.
Aku benar-benar kaget ternyata Inoe menikah dengan pria lain. Aku kaget karena setahuku Inoe itu pacaran dengan Ishida tapi kenapa bisa menikah dengan si pucat bernama ul…ul…aaaaaahh apalah namanya itu.
"Undangannya ada koq! aku titip di Ishida-kun." Ujar Inoe.
Astaga…pantas saja undangannya tidak sampai di tanganku. Aku yakin Ishida pasti sudah membuangnya karena sakit hati. Lagian kenapa juga Inoe menitipkannya ke Ishida, siapa yang tidak sakit hati coba?
"Ngomong-ngomong kapan kalian menikah?" tanyaku.
"Bulan lalu, Kurosaki-kun!" sahut Inoe. "Masa kamu tidak dapat undanganku sih? Benar-benar keterlaluan Ishida itu! Dia pikir buat undangan itu tidak pakai biaya apa?" Inoe malah ngomel-ngomel tidak jelas.
"Mungkin Ishida lupa…" aku berusaha membela Ishida. Kasihan sekali Ishida sudah ditinggal nikah, disuruh titip undangan pula.
"Ummmm..baiklah kalau begitu, aku mau ucapkan selamat dulu ke Byakuya Kuchiki."
"Oh…silahkan..."
Inoe lalu masuk sambil menggandeng mesra suaminya.
Tidak lama kemudian Ishida dan Grimmjow datang. Dari jauh aku bisa lihat kalau Grimmjow sedang menertawaiku.
"Kurosaki, aku benar-benar tidak menyangka kalau hari ini kau akan bertunangan dengan gadis dari keluarga Kuchiki," kata Ishida.
Grimmjow masih terus saja menertawaiku, "Hahahahahaha, apakah kisah cintamu dengan gadis Hueco Mundo itu kandas karena pertunanganmu ini, Kurosaki?"
"Tutup mulutmu!" Grimmjow benar-benar membuatku kesal karena dia membuatku teringat Senna di hari pertunanganku.
"Kisah cintamu benar-benar suram, Kurosaki…ahahahahahaha."Grimmjow tidak henti-hentinya menggodaku.
Aku mendecak jengkel, "paling tidak kisah cintaku tidak sesuram Ishida…"
"Ishida?" Grimmjow berseru, "Hei, kau kenapa dengan Inoe?" tanya Grimmjow sambil menyenggol bahu Ishida. Ishida hanya diam, memperbaiki posisi kacamatanya yang tidak salah sama sekali.
"Bahkan kau juga tidak tahu, Grimmjow?" rasanya aku ingin tertawa melihat wajah Ishida, Grimmjow menanggapiku dengan menggeleng pelan. "ternyata Inoe sudah menikah dengan pria lain…"
Grimmjow terperangah tapi tidak lama kemudian tawanya menggelegar. "AHAHAHAHAHAHA…Benarkah itu, Kurosaki? kasihan sekali kau, Ishida…"
"Parahnya lagi, Inoe menitipkan undangan untuk kita ke Ishida tapi undangannya malah tidak sampai-sampai…" aku membongkar saja semuanya, Tawa Grimmjow semakin menjadi-jadi hingga perutnya sakit.
"Sudah puas kau, Kurosaki?" ucap Ishisa sinis dan lagi-lagi Ishida memperbaiki posisi kacamatanya "apa kau tidak melihat kalau kisah cintamu juga suram, kau bahkan akan bertunangan dengan gadis yang belum pernah kau temui," Ishida tidak mau kalah.
"Setidaknya aku tidak ditinggal nikah….lagian aku masih berstatus jomblo kan. Jadi, sah-sah saja kalau aku bertunangan." Aku membela diri.
"Aduh…malang sekali nasib kedua temanku ini…" akhirnya Grimmjow sudah bisa mengendalikan dirinya, "yang satu ditinggal nikah, yang satunya sudah ditolak eh malah dijodohkan…benar-benar kehidupan ini penuh misteri…" grimjow menggeleng-gelengkan kepalanya. "Tapi bagaimanapun aku tetap mengucapkan selamat atas pertunanganmu, Kurosaki." ucapnya disertai dengan senyum menyeringai.
"Terima kasih," sahutku singkat.
"Kalau begitu kita harus bertemu dengan ayahmu, untuk mengucapkan selamat." Kata Ishida.
"Yah…silahkan…"
Tidak lama kemudian acara pertunanganku dimulai. Sebenarnya aku tidak mengerti betul model acara pertunanganku ini. Kupikir mungkin ada acara tukar cincin atau apalah, tapi sepertinya lebih mirip dengan perjamuan minum teh bersama.
Semua duduk melantai dengan beberapa meja lebar, seperti di lesehan.
"Ichigo, sini!" Ayah memanggilku ke depan, ke meja besar tempat keluargaku dan keluarga kuchiki kumpul. Ayah, Yuzu dan Karin sudah berdiri di sana.
"Ichi-nii, om byakuya sementara mengantar Rukia ke sini!" seru Yuzu.
Deg.
Aduh…kenapa aku jadi gugup begini. Santai…santai…pokoknya aku harus terlihat tenang dan cool.
"Ichi-nii!" Kali ini karin yang berseru dan membuatku kaget.
"Kenapa lagi? bikin aku kaget saja.." aduh aduh…aku terlalu tegang nih.
"Itu om Byakuya dan Rukia…." Karin menunjuk ke arah pintu.
Reflex aku balik dan…benar saja itu Byakuya bersama…astaga, seorang gadis kecil berkimono, bersanggul besar dengan dandanan yang super duper dempul…
oOo
Rukia's POV
Aku memasuki pintu masuk gedung bersama Nii-sama. Aku sangat gugup ketika melihat para tamu yang berada dalam gedung, apalagi mereka semua memandangiku dengan dandanan seperti ini.
"Rukia, itu keluarga Kurosaki," kata Nii-sama sedikit berbisik. Aku lalu melemparkan pandanganku ke depan. Aku sedikit kaget melihat pria berambut jabrik dan berwarna orange yang sedang berdiri bersama ayah dan kedua adiknya. Dia mirip dengan seseorang…
"Rukia…" suara Nii-sama menyadarkanku.
Aku dan Nii-sama lalu berjalan hendak menghampiri keluarga Kurosaki. Aku benar-benar kesulitan berjalan, kimono dan mantel yang kukenakan sekarang sangat besar belum lagi sepatu tebal ini. Aku menarik-menarik mantel panjangku yang gombrang dan…
"Oooooohh…." Aku sampai jatuh tersandung karena menginjak kimonoku yang kepanjangan. Aku bisa merasakan kalau Nii-sama dan semua orang-orang di gedung kaget melihatku jatuh.
"Ru- Rukia, kau tidak apa-apa?" segera Nii-sama membantuku berdiri.
"Tidak apa-apa, Nii-sama. Kimonoku terlalu besar." Kataku sambil berdiri.
"Kalau begitu pegang tanganku."
Dengan segan aku pegang tangan nii-sama lalu Nii-sama menuntunku berjalan.
oOo
Ichigo's POV
Astaga…benarkah itu Rukia? Kenapa Rukia kayak memakai topeng ya? Dipakaikan bedak setebal itu…
Yayayaya. Rukia dan Byakuya sedang berjalan kemari. Astaga…aku kaget Rukia tiba-tiba jatuh…hehehe…dia pasti terpesona karena ketampananku..hehehehe, mau bagaimana lagi kalau aku terlalu tampan.
Sekarang Rukia dan Byakuya tepat berdiri di depanku. Aku terus mengamati Rukia, itu bedak atau masker bubuk sih? Aku ingin sekali protes kenapa tunanganku didandani seperti ini?! apa orang-orang di Soul Society harus didandani seperti itu kalau mau bertunangan atau menikah?
Rukia lalu membungkuk memberi hormat. Aku terus menatapnya. Aduh…tidak ketahuan kalau rukia cantik atau tidak kalau bedaknya kayak ngelenong begitu!
"Kenapa malah begong, ayo beri salam!" seru ayah sambil menekan paksa kepalaku agar aku membungkuk.
Kemudian seorang wanita berusia paruh baya membawa sebuah nampan berlapis kain putih. Di atasnya ada sepasang tali berwarna merah.
"Di tradisi Kuchiki, sebelum dilaksanakan pernikahan, calon mempelai pria maupun wanita akan saling memasangkan tali merah di lengan mereka sebagai pengikat jodoh," kata Byakuya, "untuk itu…aku ingin kalian melakukannya juga di acara pertunangan ini untuk mempererat tali perjodohan antara kalian. Silahkan Kurosaki!"
Aku lalu mengambil satu tali merah itu lalu mengikatnya di lengan Rukia… Astaga, tanganku jadi tremor waktu memasangkan tali di lengan Rukia. Kemudian Rukia juga mengambil tali merah itu dan mengenakannya di lenganku.
"Dengan begini, kuharap kalian berdua benar-benar akan menjadi jodoh untuk selama-selamanya," kata Byakuya lalu disertai dengan tepuk tangan yang riuh dari para tamu.
"Mari kita duduk," kata Byakuya kepada kami.
Lalu kami duduk berhadapan. Keluargaku duduk di sebelah kiri meja sementara Byakuya dan Rukia duduk di sebelah kanan meja. Byakuya mempersilahkan seorang tante-tante memparadekan teknik menyediakan teh hijau…seperti di upacara minum teh itu tuh.
Byakuya dan Rukia sangat serius memperhatikan sang Tante membuat teh hijau. Aku malah terus menatap Rukia, aku masih penasaran bagaimana muka Rukia itu? Kimono dan mantelnya terlihat sangat gombrang tapi dilihat-lihat dia seperti anak-anak walaupun dandanannya seperti topeng.
Olala…Rukia sadar kalau aku terus menatapnya. Dia malah menatapku dengan tatapan menantang. Cepat-cepat kualihkan pandanganku ke tante pembuat teh itu karena sedikit salah tingkah. Astaga…ternyata Rukia memiliki warna mata yang indah.
"Ichigo, ayo ambil!" ayah berbisik sambil menyenggolku. Aduh…aku terlalu banyak melamun, ternyata tante pembuat teh sudah tidak ada di tempat. Kulihat Rukia menyerahkan cangkir berisi teh hijau ke arahku. Cepat-cepat kuambil saja cangkir itu…
"WADOOOOOWW! panas panas panas…" teriakku reflex menjatuhkan cangkir itu karena ternyata panas. Rukia sangat kaget, Byakuya juga, ayah, Yuzu dan Karin beserta semua tamu juga ikut-ikutan kaget. Samar-samar dari kejauhan terdengar tawa Grimmjow, Ikaku, Yumichika, Rangiku dan Hisagi. Sialan mereka!
"Seharusnya kau hati-hati, Kurosaki!" Byakuya menegurku setelah memeriksa tangan Rukia yang sedikit terkena percikan teh.
"Kau ini kenapa, Ichigo?" tegur ayah setengah berbisik.
"Ckckck…benar-benar memalukan…" kata Karin sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Aku lalu menatap tajam Karin.
Seorang pelayan cepat-cepat datang untuk membereskan tumpahan teh barusan.
"Tehnya memang masih panas…" ini suara Rukia yang kembali memberikanku secangkir teh hijau panas dengan tangan mungilnya. Aku sedikit bersyukur karena ternyata suara tunanganku ini ternyata sangat lembut. Aku lalu mengambil cangkirnya dengan hati-hati lalu meminumnya. Bweee ternyata rasanya sangat pahit hingga ke tenggorokan. Rukia cepat-cepat memberiku kue manis dan langsung saja kulahap.
Entah ini acara pesta pertunangan atau upacara minum teh. Tapi aku mulai bosan karena aku memang tidak pernah suka ikut upacara minum teh…mungkin keluarga kuchiki sudah terbiasa dengan upacara teh seperti ini…tapi seperti inilah pertunanganku dengan Rukia. Tanpa cincin dan pesta romantis tapi dengan tali merah dan teh hijau, benar-benar tidak sesuai dengan apa yang kubayangkan sebelumnya.
oOo
Ichigo kini berada di Mansion Kuchiki. Ia berdiri di teras sambil memandangi kebun bunga sakura di balik kacamata hitam yang ia kenakan. Pertemuan pertama dengan Rukia Kuchiki di acara petunangannya semalam masih menyisakan rasa penasaran mengenai Rukia. Ia ingin melihat seperti bagaimana rupa gadis yang telah bertunangan dengannya.
"Tumben sekali kamu kemari sendirian, Kurosaki," sapa Byakuya seraya menghampiri Ichigo disertai dengan kedua pelayan yang mengikutinya.
Ichigo lalu menoleh ke belakang. "Hai, Byakuya.."
"Untuk apa kau ke sini, Kurosaki?" tanya Byakuya dengan ekspresi datarnya.
"Menemui tunanganku," sahut Ichigo, "kau sendiri yang bilangkan kalau aku dan Rukia harus saling mengenal dulu sebelum menikah."
Byakuya mengangguk kecil. "Hanataro, panggi Rukia. Katakan kalau Ichigo Kurosaki mencarinya," kata Byakuya ke salah satu pelayan bertubuh kecil dan kurus, bertampang polos nan lugu bernama Hanataro.
"Baik…" Hanataro segera pergi.
"Rukia tipe gadis yang agak tertutup jadi, kuminta kau tidak terlalu memaksanya, pelan-pelanlah mengenalnya…"
"Itu tidak jadi masalah," Ichigo menyahut enteng.
"Baik, tunggulah Rukia…aku harus mengurus sesuatu di dalam," Byakuya berpamit lalu meninggalkan Ichigo.
Ichigo kembali memandang bunga-bunga sakura di taman. Sayang sekali Ichigo tidak menyadari keindahan bunga-bunga sakura di taman Mansion Kuchiki karena ia masih mengenakan kacamata hitamnya. Lumayan lama ia menunggu Rukia hingga Ichigo melamunkan pertunangannya kemarin.
"Kau mencariku, Ichigo?" suara seseorang gadis menyadarkan Ichigo.
Ichigo menoleh ke belakang, ia melepaskan kacamata hitamnya. Nampak sosok gadis belia mengenakan dress berwarna hitam selutut. Warna rambutnya yang sebahu sangat senada dengan dress yang ia kenakan, sangat kontras dengan warna kulit gadis itu. Kulitnya yang putih membuat kilauan menyerupai kilau amethyst di matanya terlihat jelas.
To be continue….
oOo
Fiuuuuhh...akhirnya berhasil diapdet juga...hwhwhwhw
Sebenarnya dari kemarin mau apdat tapi berhubung ada teman yang nempel terus seharian sambil pasang muka curiga...jadi ga jadi deh...#ga penting banget Juzie cerita kayak ginian)
karena ada beberapa review yang ga bisa Juzie balas karena gambar buat replynya ga muncul, jadi Juzie balas di sini aja ya...:D
buat jessi, Salam Kenal ya...tenang aja...Juzie ga bakalan biarin Ichigo jahat sama Rukia koq :D
Salam kenal Guest, ichi dan ruki udah ketemuan di chap ini...tapi belum signifikan...:D #plakk. juzie janji chap selanjutnya full Ichiruki. di tunggu ya^^
Salam kenal rini desu, tengkyu ;) ichiruki ada d chap ini ya...chap selanjutnya full ichiruki :D
Salam kenal ika chan, tengkyu uda R&R. Iya pasti Ichiruki koq dan ceritanya tamat...kalau ga tamat jadi sinetron donk :p
Buat darries, tengkyu ya atas sarannya...iya ceritanya terlalu diolor-olor, jayus banget pula -.-' d chap ini Ichiruki ketemu tapi ketemuannya ga berbobot bgt :p. chap selanjutnya full Ichiruki ya...:D
hehehehe...btw Juzie mw tanya sama kalian semua, itu gmn caranya biar gambar reply reviewnya ga keliatan begitu?
But...tengkyu ya buat semuanya yang mau R&R di fic Juzie yang gaje and nista ini ;)
