Summary : Senna lari dari rumah karena tidak ingin dijodohkan dengan putra kurosaki. Karena itu, Rukia harus menggantikan Senna….R&R please…^^
Author: Juzie chan
Disclaimer : Om Kubo lah...Author cuma minjam tokoh om Kubo hingga batas waktu yang terhingga (hingga bleach tidak ada lg di dunia ini...huhuhu)
Pairing : IchiRuki, slight IchiSena, RukiRen, ByakuRuki (ini mudah-mudahan enggak...)
Warning! : banyak Typo, AU, OOC, EYD tidak sesuai, Gaje, Jayus, Abal, penuh kenistaan, membosankan, dan segala kekurangan-kekurangan yang lainnya.
Oh, ya...
Salam kenal semua ya...Juzie adalah author baru belajardan tidak berpengalaman di dunia fanfiction. mohon dimaklumin ya sodara-sodara jika story yang Juzie buat sangat sangat tidak mengundang selera tapi kalau ada yang R&R Juzie akan sangat berterima kasih...
Mohon bimbingannya...
*Tengkyu ya yang udah baca and review di Chapter sebelumnya...Author sama sekali ga nyangka kalau fic ini bakal ada yang baca...^^
Ch 6
Strong and Mature Out-Look but Childlike
Ichigo's POV
Aku melepas kacamataku agar bisa kulihat jelas gadis yang kini tepat berdiri di depanku. Aku sedikit takjub melihatnya…apalagi dia memakai dress hitam yang sangat kontras dengan warna kulitnya. Aku terus mengamatinya dari atas hingga bawah…apakah gadis ini adalah Rukia? Tapi dilihat dari sudut manapun gadis ini terlihat seperti anak SMA…tapi, lebih tepatnya anak SMP! Tapi warna matanya benar-benar warna mata Rukia yang kemarin dan juga ada tali merah di lengannya.
"Ichigo!" gadis kecil itu memanggilku, "kenapa kau malah melihatku seperti itu?" ia menegurku lagi.
"Benarkah kau Rukia yang bertunangan denganku kemarin?" tanyaku memastikan.
"Ya…tentu saja. memangnya kemarin kau bertunangan dengan siapa lagi?" Rukia malah terlihat lebih bingung dengan pertanyaanku barusan.
Aku kembali mengamati Rukia dari atas hingga bawah.
"Apa ada yang salah denganku?" suara Rukia terdengar gusar.
"Kau…kenapa kau pendek begini?"
Plakk.
"KENAPA KAU MENAMPARKU CEBOLLL?!"
Plakk.
"CEBOL! KAU INI KE-"
Bug.
Kali ini Rukia meninju hidungku…kuraba-raba hidungku dengan tangan. "DA…DARAH!" aku berteriak shock ketika melihat ada banyak darah segar di tanganku. Bahaya sekali perempuan satu ini, mukanya lugu, suaranya lembut tapi, ternyata dia mempunyai kekuatan perkasa.
"Kita baru kenal saja kau sudah menghinaku, mengataiku pendeklah…cebollah…kau pikir aku tidak tersinggung?" mata Rukia terlihat berkilat-kilat, ia benar-benar terlihat marah.
"Aku hanya berkata jujur!" protesku tapi Rukia malah menginjak kakiku.
"Wadoooouuwww," aku hanya bisa meringis kesakitan. Benar-benar gadis ini…
"Kalau kau datang ke sini hanya untuk menghinaku lebih baik kau pulang saja! Bye…" Rukia hendak meninggalkanku.
"Eh eh eh…" cepat-cepat kutarik lengannya, "mau kemana?"
"hehehehe…ke wc..." sahut Rukia cengengesan, "ke kamarkulah!" tiba-tiba ekspresi muka Rukia jadi menyeramkan.
"Jangan! Aku belum selesai kamu sudah mau kabur saja…Apa seperti ini keluarga Kuchiki memperlakukan tamunya?" Rukia hanya diam, sekilas kulihat ia memutar bola matanya sekali. Aku lalu tersenyum penuh kemenangan. Hehehe..senang sekali aku melihat perempuan ini.
"Oke. Aku tidak akan pergi selama kau bisa menjaga mulutmu yang kotor itu."
Cepat-cepat kututup mulutku dengan telapak tanganku. Enak saja, mulutku dibilang kotor!
"Lalu untuk apa kau mencariku, Ichigo…?" Rukia bertanya.
"Ya…untuk mengenalmu…" jawabku sambil menggaruk belakang kepalaku yang tidak gatal. Entah kenapa aku malu menjawab tadi. Rukia nampak kebingunan dengan jawabanku barusan. "Kita kan harus saling mengenal dulu sebelum menikah, ya kan?" tambahku.
"Iya…memang benar."
"Emmm…bagaimana kalau kita jalan-jalan?" ajakku.
Rukia mengerutkan dahinya, "Kemana?"
"Ya…kemana saja."
Rukia lalu menimbang-nimbang ajakanku, "emmmm…aku minta izin ke Nii-sama dulu, ya." Lalu ia berbalik hendak masuk.
"Eh…tidak usah!" seruku sambil menangkap lengan Rukia.
"Aku harus minta izin dulu ke Nii-sama, Ichigo…"
"Tidak usah! Aku sudah minta izin tadi.." aku tetap bersikeras, jangan sampai kalau Rukia meminta izin ke Byakuya, Byakuya malah tidak mengizinkannya. "Nii-samamu sedang sibuk loh…" kataku asal.
"Benar kamu sudah minta izin tadi?"
"Ya benarlah….kenapa juga aku bohong?"
Rukia menatapku, aku pasang muka super serius saja biar dia percaya.
"Okelah kalau begitu," sahutnya kemudian.
Yess, akhirnya Rukia akan ikut denganku.
"Pokoknya, kita akan senang-senang Rukia," kataku menarik Rukia jalan menuju mobilku.
"Oh, ya? Memangnya kita mau kemana?"
"Kemana saja kamu mau Rukia, tapi kita makan dulu, oke?"
"Baiklah…"
Dengan semangat kubukakan pintu mobil untuk Rukia dia depan lalu cepat-cepat kunaik dan duduk di sampingnya.
"Kita berangkat, Rukia…" hahahaha…akhirnya aku berhasil membawa Rukia, tapi bagaimana nanti ya kalau Byakuya marah aku bawa Rukia tanpa sepengetahuannya? Ah, urusan belakangan itu. Lagian Rukia kan bukan anak kecil lagi dan dia juga keluar denganku, dengan tunangannya, hehehehe…Byakuya pasti tidak komplen.
"Ichigo…kita mau makan dimana?" tanya Rukia.
"Ummmm dimana ya…kau suka makan apa, Rukia?"
"Kalau aku sih suka semuanya…jadi terserah saja"
"Oh…begitu ya?" hihihi…Rukia Rukia…kau sendiri ya yang bilang terserah.
Aku lalu membawa Rukia di suatu kedai kecil di pinggir jalan. Aku yakin Rukia tidak akan senang dengan kedai seperti itu, scara ya gadis bangsawan pasti makannya di restoran mewah yang memiliki chef ternama. Hihihihi…sekali-sekali kau makan di warung kedai tidak apa-apakan, Rukia?
"Kita makan di sini, Ichigo?"
"Begitulah…" jawabku berseri-seri sambil menarik Rukia masuk ke kedai. Rukia nurut-nurut saja sih.
"Aku pesan dua ramen, ya!" teriakku memesan makanan. Lalu mengambil duduk di belakang bersama Rukia. Kulihat Rukia hanya melihat-lihat isi ruang kedai ini.
"Kenapa? Kau tidak suka berada di sini?" tanyaku. Yah yah..aku memang sengaja ingin melihat Rukia kesal.
"Tidak juga…" sahutnya
"Kau pertama kali makan di tempat seperti ini, Rukia?"
Rukia mengangguk pelan, "Iya…ini pertama kali aku makan di kedai."
"Jadi, biasanya kamu makan di restoran, donk?" tanyaku sambil tersenyum menyeringai.
"Ummmm…tidak. Aku juga tidak pernah makan di restoran."
Astaga…
"Jadi, selama ini kau hanya makan di rumah ya? Kau tidak pernah makan ramen?"
"Aku memang hanya makan di rumah...," sahutnya, "dulu ada teman yang selalu membawakanku ramen di rumah."
"Oh…baik sekali temanmu itu."
Tidak lama kemudian pesanan kami datang.
"Rukia…"panggilku
"Apa?"
"Boleh aku tahu kenapa kau menerima saja perjodohan kita?"
Rukia menatapku bingung, "karena Nii-sama yang meminta," jawabnya singkat, jelas, dan padat.
"Ya…kamu kan tidak mengenalku, Rukia. Jaman sekarang banyak gadis-gadis muda akan protes dijodohkan bahkan ada yang sampai lari dari rumah. Ya, kan?"
"Wah…lari dari rumah? Aku sudah pernah menyaksikan yang seperti itu. menurutku tindakan seperti itu sangat kekanak-kanakan, manja dan menyusahkan keluarga, padahal dia kan belum mengenal orang yang dijodohkan dengannya, siapa tahu ternyata orangnya sangat baik. Lagipula tidak mungkinkan kalau orang tua ingin menjodohkan anaknya dengan orang jahat atau dari keluarga tidak baik-baik."
"Ya…siapa tahu kalau gadis itu ternyata sudah punya pacar jadi dia kabur?"
"Kenapa juga harus kabur meninggalkan keluarga demi pacar yang belum tentu jadi jodoh…pacar itu bisa saja jadi mantan tapi kalau keluarga? Paling juga kalau sudah diputuskan, gadis itu kembali ke keluarganya sambil nangis."
Aku sedikit terkejut dengan jawaban Rukia. Ternyata dia lebih dewasa dari fisiknya..hehehehe…benar-benar menarik.
"Rukia, kau punya pacar?"
"Tidak ada."
"Tapi ada pria yang kamu sukai kan?"
Rukia mengerutkan dahinya, "kenapa kau bertanya seperti itu? jangan-jangan ada gadis yang kamu sukai lagi." Rukia lalu menyedot ramennya.
"Memang, tapi semuanya sudah berlalu," jawabku malas.
"Oh…"
"Ummm…Rukia…?"
"Apalagi?" Rukia menatapku dengan ekspresi mulai bosan dengan segala pertanyaanku.
"Ngomong-ngomong usiamu berapa sekarang?"
"Tidak sopan menanyakan usia pada perempuan…"
"Tidak apa-apa, kamu kan masih muda."
"Kurang lebih 21 tahun."
Astaga…usia Rukia dan Byakuya ternyata jauh sekali. Beda tujuh belas tahun ternyata.
Setelah makan dan membayar kami kembali ke mobil.
"Rukia, apa ada tempat yang ingin sekali kamu kunjungi?"
"Tempat yang ingin sekali aku kunjungi…" Rukia berpikir, "Oh, ada!" serunya kemudian.
"Apa itu?"
"Chappy Land, Ichigo…" sahut Rukia dengan suara lugunya.
Aku tersenyum menyeringai, "Oh…itu? Gampang...kita meluncur ke sana sekarang, Rukia…" aku lalu menancap gas menuju Chappy Land.
Kini kami sudah berada di Chappy land dan aku tidak menyangka bahwa ternyata Rukia adalah seorang maniak Chappy yang notabene banyak disukai anak berlari-lari memasuki gerbang besar Chappy Land.
"Ini benar-benar Chappy Land!" serunya, "kau tahu Ichigo, waktu di Soul Society aku membaca artikel tentang launching-nya Chappy Land di Karakura, aku selalu beragang-agang berada di sini dan ketika berada di Karakura aku selalu berpikir bagaimana caranya agar aku bisa ke sini." mata rukia terlihat berbinar-binar, "dan sekarang aku berada di Chappy Land!"
"Huh, kau tidak tahu saja siapa pemiliknya…" kataku menyeringai, siap-siap untuk menyombongkan diri.
"Siapa? Kau mengenalnya?"
"Tentu saja! siapa lagi kalau bukan pria yang kini ada di dekatmu." Hehehehe
Eh..Rukia malah celengak-celengok. "Oh….paman itu?" ia malah menunjuk pak satpam yang sedang berdiri di samping gerbang.
"AKU WHOIIII!" teriakku frustasi.
"Oh…kamu Ichigo? ehehehehe…" astaga…Rukia malah cengengesan. "Hah? Benarkah kau pemiliknya, Ichigo?" Huh, baru sadar dia.
"Ya iyalah…" sahutku ketus.
"Hah….benar-benar tak kusangka…" Rukia terpesona memandangku. "Terima kasih Tuhan, Kau telah mempertemukanku dengan pemilik Chappy Land," Rukia malah sujud syukur. Hahaa akhirnya dia sadar betapa hebatnya tunangannya ini.
"Berarti, aku bisa main gratis sepuasnya kan?"
"Tentu saja Rukia….kau menginap saja di sini pasti bisa…"
"Cihuuuuuii…" rukia loncat-loncat kegirangan. "kalau begitu aku mau main itu, itu, itu, itu, itu, itu, itu…"
Aku menatap aneh Rukia melalui sudut mataku, "yang benar saja Rukia? Kau menunjuk semua wahana, tidak mungkin dalam sehari kau mampu memainkannya…"
"Ehehehehehe…kalau begitu kita main yang itu, itu sama….yang itu dulu, bagaimana?"
"Huh, kau serius? Semua yang kau tunjuk barusan itu permainan paling ekstrem, Rukia. Aku tidak yakin kalau jantungmu kuat, badanmu saja kecil begitu. Aku yakin sesampainya di atas nanti kau malah teriak-teriak sambil menangis tidak jelas…"
"Ichigo, ayo foto aku dengan chappy-chappy ini!" Tiba-tiba Rukia berseru.
Aku berbalik ke belakang, ternyata Rukia sudah berdiri bersama dua orang berkostum Chappy. Sial berarti daritadi Rukia tidak mendengarkanku.
"Cepat, Ichigo!" Rukia sudah mengambil pose bersama badut-badut Chappy itu. Aku lalu mengambil ponselku lalu memotretnya sekali.
Rukia berganti pose. "Lagi Ichigo!" pintanya. Akupun memotretnya.
"Lagi lagi…". aku kembali memotretnya lagi.
"Sekali lagi, Ichigo!" okelah, satu kali lagi tidak apa-apa.
"Lagi ya!" tidak apa-apa deh sekali kali…
"La-"
"SUDAH WHOII!" teriakku. "Chappy-chappy, sana kembali kerja!" aku mengusir kedua Chappy itu.
"Kau tidak perlu teriak seperti itu, Ichigo…" kata Rukia. Aku mendengus kesal. "Ichigo, ayo kita main saja kalau begitu…"
Rukia lalu menarikku menuju wahana jet coster. Aku kaget waktu Rukia ngotot ingin duduk paling depan. Huh, sok berani sekali gadis ini. Paling juga kalau jet costernya sudah jalan, dia akan teriak-teriak minta turun. Aku ikutin saja keinginannya, biar dia menyesal….dan ternyata…tak kusangka sewaktu jet coster meluncur dengan kecepatan tinggi, Rukia malah tertawa terbahak-bahak…astaga…benar-benar tunanganku ini. Dia tidak punya rasa takutkah? Bukan hanya itu saja di wahana hysteria dan tornado (Chappy land tiba-tiba berubah menjadi dufan -.-'), ia juga sangat menikmatinya. Astaga…
"Ichigo, ayo kita main lagi!" Aku menatapnya dengan mata melotot. Yang benar saja, Rukia menarikku untuk main lagi? Main wahana ekstrem itu lagi? Tuhan…tolong lindungi jantungku!
Kini aku duduk lemas di kursi taman. Benar-benar kuat Rukia itu, aku saja sudah lemas begini tapi Rukia malah tidak menunjukkan gejala kalau ia sudah capek. Lain kali kalau mau jalan dengan Rukia lagi, aku harus makan dua butir telur ayam kampung setengah masak dan madu biar staminaku kuat kalau perlu minum obat kuat juga…maksudku bukan obat kuat yang untuk gitu-gituan ya!
"Ichigo…" Ah…Rukia memanggilku lagi. Ia melambaikan tangannya dua kali lalu berlari ke arahku. Gawat! Sepertinya ia mau mengajakku main lagi. Aku harus berbuat sesuatu.
"Ichigo, ayo kita ma-"
"Rukia, di sana ada toko boneka Chappy lho!" cepat-cepat kualihkan saja perhatiannya.
"Mana-mana?" tanya Rukia sambil cepat-cepat celengak-celengok. Alhamdulillah perhatian Rukia cepat bisa dialihkan…leganya aku.
"Itu…" aku menunjuk salah satu toko yang menjual boneka Chappy, "ayo kita beli Chappy, Rukia!"
"Yuk yuk…" kami lalu berlari menuju toko itu. Rukia terlihat sangat bersemangat.
Aku ingin sekali tertawa ternyata Rukia ini sangat lucu dan unik. Tadi aku sempat menganguminya karena ia mempunyai pandangan dewasa tapi ternyata Rukia adalah gabungan wanita dewasa yang kuat tapi kekanak-kanakan.
Mata Rukia berbinar-binar ketika kami masuk ke dalam toko.
"Rukia, kau lihat-lihat saja sendiri dulu," kataku.
"Oke," Rukia lalu berlari ke dalam, melihat-lihat dan memilih-milih boneka Chappy.
Aku mengaktifkan ponselku dulu karena sebelum main tadi aku menonaktifkan ponselku. Dan ternyata ada banyak pesan yang masuk. Aku membukanya satu persatu. Yang pertama dari Tatsuki, tumben sekali si tomboy sok jagoan itu mengirimkanku sms.
"Hei, Ichigo
Sombong sekali kau tidak mengundangku di acara pertunanganmu!"
Aduh…bagaimana aku mengundangmu kalau acaranya terlalu tiba-tiba. Aku lalu membuka sms yang lain. Ah…dari Keigo!
"Jahat… jahat kau Ichigo!
Trnyata kmrin kau brtunangan. Knp tidak mngundangku?"
Aku lalu membuka sms dari Mizuiro.
"Bnrkah kmarin kau brtunangan, Ichigo?"
Astaga ada sms dari Chad juga.
"Ichigo, trnyata kmrn km brtunangan ya?
Slmt, ya. Btw, knp tdk undang-undang?"
Masih ada sms dari Cizuru, Ryou, Michiru, dan lainnya yang isi smsnya serupa tapi tak sama. Aku malas membacanya. tapi sebenarnya aku ingin meminta maaf dengan kalian semua. Kalau aku menikah nanti aku pasti undang kalian.
Oh, ada sms dari Ishida.
"Kurosaki, kau dmn skrg? Aku dan Grim sdg kumpul d t4 biasa.
Kau tdk lupa kan?"
Astaga…aku lupa ada janji dengan Ishida dan Grimmjow. Ah, biar saja. aku lalu membuka sms dari Grimjow.
"Kurosaki, dmn kau?"
Malas aku membalas semua sms ini. Ah…yang terakhir dari Yuzu.
Sbntr mlm cpt pulang ya. Yuzu msk rawon ksukaan Ichi-nii
Yuzu masak rawon malam ini….
"Ichigo, aku mau yang itu!" seru Rukia sambil menunjuk boneka Chappy paling besar.
"Ambil, Rukia…!" Hehehehe…apapun akan kubelikan asal kau tidak mengajakku main lagi Rukia.
Waktu aku membayar, kasir dan karyawan toko lainnya malah tersenyum-senyum ke arah kami. Setelah membayar dengan kartu kredit dan mengambil boneka Chappy besar itu, cepat-cepat aku menarik Rukia keluar.
"Ternyata sudah mulai gelap, Ichigo," kata Rukia menatap langit, "aku lapar Ichigo, bagaimana kalau kita makan lalu pulang? Ummmm… waktu di atas jet coster aku lihat di atas sana ada restoran…"
Astaga…Rukia benar-benar luar biasa. Dia sementara ada di jet costerpun masih bisa lihat ada restoran di sana….ckckckck.
"Jangan makan di situ, Rukia! Masakannya tidak enak," kataku.
"Oh, ya? Kau pernah makan di sana?"
"Tentu saja. masakannya tidak enak, kau pasti tidak suka."
"Lalu, kita makan di mana?"
"Emmmmm…kau mau makan di tempat yang special, tidak?" tanyaku.
"Tempat spesial?" Rukia malah bertanya balik dengan memasang muka polosnya.
"Ya. Spesial pake telor. Kau mau?"
"Asal makanannya enak saja aku pasti mau, Ichigo."
"Baguslah kalau begitu, kita pergi Rukia…" aku tarik tangan Rukia untuk keluar dari Chappy Land.
oOo
Ichigo dan Rukia akhirnya sampai di suatu 'tempat special', suatu rumah berlantai dua dengan halaman kecil. Ichigo lalu memarkirkan mobilnya. Ketika turun dari mobil, Rukia menatap bingung rumah yang kini berada tepat di depannya, apalagi di depan rumah ada papan bertuliskan 'Klinik Praktek' dan nama ayah Ichigo.
"Ichigo, Ini…rumahmu?" Rukia bertanya sambil menunjuk rumah tersebut, "Jadi, kita akan makan di sini?"
"Ya," sahut Ichigo, "memang beda jauh dengan Mansion Kuchiki tapi dalamnya nyaman koq," lanjutnya, "Ayo masuk Rukia," Ichigo mengajak Rukia masuk.
"Aku pulang…" Ichigo berseru sambil membuka pintu.
"Ichi-nii…," suara Yuzu dari dalam, ia segera menyambut Ichigo, "kenapa Ichi nii la…" suara Yuzu terhenti ketika melihat ada seorang gadis di belakang Ichigo. Yuzu menatap sebentar gadis itu lalu akhirnya ia menyadari bahwa gadis itu adalah Rukia.
"Ayah! Karin-chan! Ichi-nii bawa Rukia-chan ke rumah!" Yuzu berseru keras.
"Apa kabar, Yuzu-chan?" Rukia sedikit membungkuk menyapa Yuzu.
Tap tap tap tap tap tap
Suara langkah berlari terdengar dari atas. Ichigo siap-siap memasang kuda-kuda untuk melakukan perlindungan dari tingkah laku konyol yang sering dilakukan oleh ayahnya.
Dan benar saja tiba-tiba Isshin muncul sambil meloncat ke arah Rukia untuk memberi salam pelukan.
"RUKIA-CHAAAANNN…" seru Isshin ketika melayang di udara. Ichigo lalu menendang ayahnya sebelum mengenai Rukia.
DUAAAAKK
Isshin lalu terlempar jauh hingga membentur dinding. Terlihat jelas keterkejutan di wajah Rukia melihat kejadian barusan, kejadian yang jelas-jelas menunjukkan adanya KDRT di rumah Ichigo.
"Aduh…sa…sakit…" Isshin meringis kesakitan.
"Pa…paman tidak apa-apa?" tanya Rukia sedikit khawatir dengan keadaan Isshin yang benar-benar memprihatinkan.
"Ayo masuk Rukia, jangan pedulikan si tua Bangka itu!" kata Ichigo sadis, Rukia menurut saja ikut masuk ke dalam.
"Benarkah Ichi-nii membawa Rukia-chan?" Karin datang untuk memastikan dan ia melongo ketika melihat ada seorang gadis lain jalan di belakang Ichigo.
"Hai, Karin-chan apa kabar?" Rukia menyapa Karin ketika berpapasan.
"Ba baik…" Karin melongo memandang Rukia.
Ichigo membawa Rukia ke kamar. "Rukia, jangan kaget ya lihat keluargaku aneh seperti tadi…" kata Ichigo sembari menutup pintu kamarnya.
"Ya…aku memang kaget tadi…tapi keluarga sangat menyenangkan." Kata Rukia sambil duduk di tepi ranjang.
"Menyenangkan? Menyenangkan apanya?" Ichigo menarik kursi dan duduk menghadap Rukia.
"Aku tidak tahu ternyata ayahmu sangat lucu…kalau aku jadi kau aku pasti selalu merasa terhibur…"
"Hah? yang benar saja!" celetuk Ichigo, "kau tidak tahu saja kalau tingkah konyol ayah selalu bisa membahayakan nyawa…"
"Kenapa kau sangat jahat ke ayahmu, Ichigo…" kata Rukia sembari mengangkat kakinya, hendak duduk bersila.
"Eh eh…jangan angkat kakimu seperti itu, Rukia!" tegur Ichigo gusar.
"Kenapa? Aku terbiasa seperti ini."
"Tidak bagus dilihatlah! Kau ini masih anak gadis, apalagi pakaianmu seperti itu… Cepat turunkan kakiku!"
"Ck…" rukia terpaksa menurunkan kakinya.
Ichigo lalu menuju pintu dan hendak keluar. "Sebentar ya, aku ambil minuman du-"
Bruak
Ichigo langsung sweatdrop melihat ada Isshin dan Yuzu jatuh di balik pintu, rupanya mereka menguping pembicaraan Ichigo dan Rukia barusan.
Ichigo mendengus marah, "Apa-apaan kalian?!" teriaknya.
"Ah…itu…emmm" bahasa Isshin jadi belepotan.
"Aku dan ayah cuma mau panggil Ichii-nii dan Rukia-chan makan…" kata Yuzu cepat-cepat.
"Oh…sebentar ya," Ichigo kembali masuk dan menutup kamarnya.
"Tadi siapa, Ichigo?" suara Rukia dari dalam kamar.
"Bukan siapa-siapa…"
Di ruang makan Yuzu menceritakan ke Karin semua pembicaraan Ichigo dan Rukia.
"Tadi, Rukia-chan sampai-sampai mengangkat kakinya di ranjang Ichi-nii..." Yuzu bercerita penuh semangat. "Ya kan, Ayah?!"
Isshin hanya mengangguk sambil menangis terharu mengetahui kenyataan bahwa putranya benar-benar dewasa sekarang. (?)
"Ah…itu biasa saja Yuzu. Aku dan kau juga sering kan mengangkat kaki di ranjang," Karin tidak ingin berpikiran kotor mengenai Ichigo dan Rukia.
"Tapi, tadi Ichi-nii sampai gusar begitu…."
"Yuzu, kau masak rawon kan?!" suara Ichigo tiba-tiba muncul. Ia kini berjalan bersama Rukia menuju meja makan.
"Iya, Ichi-nii."
Ichigo melihat sebentar rawon di mangkuk. "Sepertinya enak sekali ya…" Ichigo lalu mengambil posisi duduk di ujung.
"Rukia-chan duduk di sini!" Isshin menggeser kursi yang tepat di sampingnya untuk Rukia.
"Terima kasih, Paman…" ucap Rukia sambil tersenyum.
"Jangan panggil aku paman, Rukia! Panggil aku A-YAH!"
Rukia malah tertawa aneh. "I-iya…Paman eh maksudku…Ayah…" Rukia merasa sangat aneh ketika memanggil Isshin dengan ayah.
"Makan yang banyak ya, Rukia-chan…" kata Yuzu sambil menuangkan rawon dengan sendok ke piring Rukia.
"Terima kasih, Yuzu-chan."
"Iya Rukia! Kau harus banyak makan supaya kandunganmu sehat!"
Ichigo langsung tersedak mendengar ucapan ngawur Isshin barusan.
"Iya, terima kasih…" sahut Rukia.
"Rukia-chan," panggil Karin, "Kenapa bisa bersama dengan Ichi-nii…"
"Tadi, Ichigo datang ke rumah dan mengajakku jalan-jalan…"
"Ow ow ow ow…" mata Isshin langsung bercahaya bak intan yang bersinar lalu lari menuju poster masaki. "Masaki…andai kau bisa menyaksikan kejadian yang membahagiakan ini…" ucap Isshin penuh haru.
"Kaukah yang memasak ini, Yuzu? Ini benar-benar enak…aku ingin sekali bisa memasak seperti ini…" Rukia memuji.
"Benarkah? Kalau Rukia-chan mau, nanti Yuzu ajarin!" Yuzu berseru senang.
"Benar ya…Yuzu-chan yang ajarin," kata Rukia.
"Oh ya, Rukia-chan…ada sesuatu yang ingin aku sampaikan padamu…"tiba-tiba Isshin sudah berada di samping Rukia.
"Apa itu Paman, maksudku….Ayah?"
"Waktu Ayah dan sekeluarga ke Mansion Kuchiki, Ayah melihat ada kolam ikan yang besar…dan sepertinya banyak ikan besar-besar di kolam.."
"Ya…memang banyak ikan besar di sana," kata Rukia.
"Rukia-chan...bisakah Ayah meminta tolong padamu, Nak?"
"Tentu saja, apa yang bisa kubantu?"
"Bisakah…kau… memberikanku lima eh tiga ekor saja…"
Ichigo dan Karin menatap aneh ayahnya.
"Untuk apa Ayah meminta ikan hias?! Kita kan tidak punya kolam ataupun akuarium di sini!" tanya karin sinis.
"Ya, untuk dibakarlah, Karin!" sahut isshin. "air kolam ikan di Mansion Kuchiki itu diambil dari mata air pegunungan, pasti ikan-ikannya sangat enak!"
"Mana bisa ikan hias di makan?!"
"Kenapa tidak, Karin?! Semua jenis ikan itu halal! Kau tidak tahu?!" Isshin ngotot dengan hebohnya.
"Astaga…"gumam Ichigo frustasi, "bisakah kita makan dengan tenang sebentar."
Isshin lalu berdehem lalu melahap semua yang ada di piring.
Setelah makan malam Karin lalu mengajak Rukia bermain playstation hingga tak terasa jam telah menunjukkan pukul sepuluh malam lewat.
"Astaga…Sudah jam sepuluh…aku harus pulang, Ichigo," kata Rukia sedikit khawatir.
"Gawat…" Ichigo baru ingat lagi kalau tadi ia tidak meminta izin sama sekali ke Byakuya.
"Rukia-chan menginap saja…"Yuzu menawarkan.
"Tapi…kalau Rukia-chan menginap di sini, Rukia-chan tidur di mana? Kamar di sinikan cuma ada tiga…." kata karin.
"Eh….tapi sekarang sudah terlalu malam…" kata Yuzu ke Karin.
Isshin lalu menatap Karin tepat dihadapannya. "Benar kata Yuzu! Mungkin kita bisa tidur bersama di ranjang ayah. Jangan takut, Karin! Ayah akan memberikanmu pelukan hangat semalaman penuh~"
Karin yang jijik dengan perkataan ayahnya barusan langsung melempar stick ps-nya ke dalam mulut Isshin. Seketika Isshin terjatuh.
"Jangan ngingau! Ayah tidur saja sendiri, sana!" Teriak Karin emosi.
"Rukia, ayo aku antar pulang!" seru Ichigo ke arah Rukia.
"Tunggu dulu! Ini sudah terlalu malam, Ichigo!" kata Isshin setelah, "memang lebih baik Rukia nginap saja!"
"Tidak! Rukia harus pulang," kata Ichigo tegas. "Ayah, pokoknya Rukia harus pulang karena tadi aku tidak minta izin ke Byakuya waktu membawa Rukia…"Ichigo membisik ayahnya.
"HAH?" Isshin melotot ke arah Ichigo. Ia tidak mengira betapa beraninya putranya membawa adik Byakuya tanpa sepengetahuan Byakuya.
"Rukia, ayo!" panggil Ichigo. Rukia lalu cepat-cepat pamit ke keluarga Ichigo.
To be Continue...
oOo
Maaf ya...di chap ini blom ada romance2nya...-.-'
