Summary : Senna lari dari rumah karena tidak ingin dijodohkan dengan putra kurosaki. Karena itu, Rukia harus menggantikan Senna….R&R please…^^
Author: Juzie chan
Disclaimer : Om Kubo lah...Author cuma minjam tokoh om Kubo hingga batas waktu yang terhingga (hingga bleach tidak ada lg di dunia ini...huhuhu)
Pairing : IchiRuki, slight IchiSena, RukiRen, ByakuRuki (ini mudah-mudahan enggak...)
Warning! : banyak Typo, AU, OOC, EYD tidak sesuai, Gaje, Jayus, Abal, penuh kenistaan, membosankan, dan segala kekurangan-kekurangan yang lainnya.
Oh, ya...
Salam kenal semua ya...Juzie adalah author baru belajardan tidak berpengalaman di dunia fanfiction. mohon dimaklumin ya sodara-sodara jika story yang Juzie buat sangat sangat tidak mengundang selera tapi kalau ada yang R&R Juzie akan sangat berterima kasih...
Mohon bimbingannya...
*Tengkyu ya yang udah baca and review di Chapter sebelumnya...Author sama sekali ga nyangka kalau fic ini bakal ada yang baca...^^
CH 7
Sanction
Ichigo's POV
Gawat gawat gawat GAWAT! Aku sampai kebobolan lupa memulangkan Rukia. Kira-kira Byakuya marah tidak, ya? Ah…mau bagaimana lagi? yang penting aku memulangkan Rukia dengan selamat lagipula aku membawa Rukia ke tempat yang sangat aman koq.
Kupercepat laju mobil. Kulirik Rukia yang duduk di sampingku, Rukia sudah tertidur pulas sambil memeluk boneka Chappy-nya, wajahnya ternyata lebih polos jika sedang tidur… Astaga, kenapa itu yang aku perhatikan? Aku harus fokus…fokus…
Kini mobilku berada di depan Mansion Kuchiki. Aku mengintip dari dalam mobil, kulihat Byakuya dan seorang pria berambut merah…ah aku tahu dia yang bernama Renji Abarai, mereka sedang berdiri di depan teras. Kulihat ekspresi wajah Byakuya… Gawat! Ekspresinya tidak seperti biasa yang selalu tenang dan tanpa ekspresi, wajahnya kali ini terlihat tegang….
"Rukia…kita sudah sampai…" aku menepuk pelan bahunya. Rukia terlihat berat membuka matanya.
"Kita sudah sampai, Ichigo?" tanya Rukia sambil mengucek-ngucek matanya.
"Iya, kita sudah sampai."
Aku lalu keluar dari mobil begitupun Rukia. Aku mengantar Rukia melewati taman yang penuh dengan pohon sakura. Ketika sampai di teras, Byakuya dan si rambut merah bernama Renji Abarai menatapku tajam. Matilah aku!
"Nii-sama belum tidur?" Rukia dengan wajah tanpa dosa menyapa Byakuya.
Byakuya mendengus sekali lalu memejamkan matanya sebentar. "Abarai, bawa masuk Rukia ke dalam dan pastikan Rukia masuk dalam kamarnya!" katanya tegas.
Rukia terlihat kebingunan. Ia sempat menatapku dengan tatapan penuh tanda tanya sebelum Renji menariknya ke dalam.
Beberapa langkah Rukia berhenti lalu menoleh ke arahku. "Ichigo jangan lupa nanti bawakan fotoku yang tadi ya!" dengan polosnya Rukia berseru mengingatkanku lalu kembali berjalan masuk bersama Renji.
Aku hendak menjelaskan ke Byakuya. "Byakuya, tadi aku hanya…"
"Aku yakin kau pasti yang memaksanya, Kurosaki!" Byakuya menyela perkataanku. "Rukia tidak mungkin keluar dari Mansion tanpa seizinku! Aku membolehkan kau mengenal Rukia tapi bukan berarti kau bisa membawanya pergi sesuka hatimu!" Byakuya memperingatkanku, "kau memang tunangan Rukia, tapi kau tetap harus tahu Rukia adalah gadis baik-baik seharusnya kau bisa menghormatinya, menjaga nama baiknya! Mana bisa kau membawanya hingga tengah malam begini?!" suara Byakuya meninggi. Byakuya benar-benar marah, aku tidak pernah mendengar suaranya meninggi seperti barusan.
"Maaf," ucapku enteng. Byakuya terlihat jengkel dengan ucapanku barusan tapi hanya itu yang bisa kuucapkan.
Byakuya lalu mendesah. "Baik, aku maafkan kau, Kurosaki," kata Byakuya terpaksa. Aku jadi lega…ternyata kemarahan Byakuya cuma seperti ini…ehehehehe
"Tapi…." Byakuya melanjutkan, "selama kau berurusan dengan Rukia, maka kau juga harus mengikuti aturan keluarga Kuchiki.
GLEK..
Aku menelan liurku. Peraturan?
"Bagaimanapun aku harus memberimu sanksi agar kau tidak mengulanginya lagi, Kurosaki…kau tidak akan kuizinkan untuk bertemu dengan Rukia…selama dua minggu."
Hah? Aku tidak boleh bertemu dengan Rukia? selama dua minggu? Tchh...Peraturan macam apa itu?
"Bagaimana, Kurosaki? kau harus menyanggupinya!"
Aduh…agak lama aku memikirkan hukuman dari Byakuya itu. rasanya berat sekali karena aku baru saja kenalan dan jalan dengan Rukia lalu tidak bisa bertemu dengannya selama dua minggu! Kalau seperti ini bagaimana hubunganku dengan Rukia bisa lebih dekat? Tapi, bagaimanapun aku harus menyanggupinya. Di lihat dari sisi manapun aku memang sudah salah karena telah membawa Rukia tanpa sepengetahuan Byakuya.
"Oke oke!" sahutku terpaksa, "selama dua minggu aku tidak boleh ketemu dengan Rukia, kan? itu masih terlalu cepat!" aku lalu mendengus kesal.
"Bagus kalau begitu." Byakuya lalu membuang muka, meninggalku tanpa pamit.
"Ck…."
oOo
"Ichigo…." Aku melihat Sena berlari di suatu taman dengan latar bunga-bunga sakura yang berguguran indah…Ia hendak menghapiriku.
"Senna…" balasku sambil berlari untuk segera bertemu dengannya.
Kini kami saling berhadapan, aku menggenggam kedua tangannya. Senna tersenyum bahagia menatapku begitupun denganku. Aku benar-benar rindu dengan gadis hueco mundo itu. Terima kasih Tuhan, kau telah mempertemukan kami kembali.
"Ichigo…aku bahagia bisa melihatmu lagi…"
"Aku juga….Senna."
"Ichigo…selama ini aku merindukanmu, aku menyadari bahwa ternyata aku juga menyukaimu…"
Thanks God! Ini adalah jawaban yang telah kunanti-nantikan darinya…
Aku menatap Senna lekat-lekat. "Jadi, maukah kau menjadi kekasihku, Senna?" aku menanyakannya kembali dan Senna mengangguk cepat sebagai jawabannya. Kami lalu berpelukan erat.
Potong bebek angsa, angsa dikuali….nona minta dansa~
Tiba-tiba ada lagu 'potong bebek angsa' dengan suara cempreng yang benar-benar mengganggu adegan romantis antara aku dan Senna.
"Senna…HP-mu berbunyi?" tanyaku masih sedang memeluk Senna.
"Bukan, itu HP kamu kali yang bunyi," sahut Senna.
"Ah…bukan koq…"
"ICHIGOOO!" suara perempuan teriak memanggilku.
Cepat-cepat kumenoleh ke sumber teriakan itu karena rasa-rasanya aku kenal suaranya. Dan ternyata suara itu adalah…suara Rukia…RUKIA?!
Nampak Rukia berdiri tidak terlalu jauh dariku. Kedua tangannya memegang pinggangnya, wajahnya bersungut-sungut, dia terlihat sangat marah. Cepat-cepat kulepas pelukan Senna lalu kusembunyikan Senna dibelakangku.
"Ichigo, beraninya kau bermesraan dengan gadis lain dibelakangku!" Rukia berteriak kembali, wajahnya terlihat merah karena panas…panas karena marah maksudnya.
"Ti-tidak koq, Rukia! Kau salah lihat tadi! Mana ada gadis lain di sini…lihat, tidak ada kan?" aku berkelit saja.
Senna lalu keluar dari belakangku dan….
PLAKK
"Dasar playboy cap kucing!" Senna memakiku lalu lari meninggalkanku.
"Se…Senna…" ratapku memandang kepergiannya.
"Ichigo!" Aku tersentak. Aku teringat lagi dengan Rukia. Astaga…kenapa hari ini aku bisa apes begini? Barusan saja aku happy-happy eh…
"Ru…Rukia…aku…ini… tidak seperti yang kau pikirkan…" bicaraku kacau balau, aku kehilangan akal sekarang.
"Kejadian ini akan aku laporkan ke Nii-sama!" waduh Rukia malah mengancamku. Gawat sekalikan kalau Byakuya menambah hukumanku lagi.
"Ja-jangan Rukia…"
"Kau jangan lagi menemuiku, Ichigo!" lalu Rukia lari meninggalkanku.
"Ru-Rukia! Jangan pergi! Rukia…."
"Rukia!" teriakku sambil bangun dari tidurku. Ternyata kejadian barusan hanya mimpi… syukurlah.
Potong bebek angsa, angsa dikuali….~
Aku lalu melirik sumber lagu itu, ternyata lagu dengan suara cempreng yang terdengar dalam mimpiku tadi berasal dari suara weker dikamarku. Dengan malas kumatikan weker itu.
Aku menguap sekali lalu mengacak-ngacak rambutku dengan kasar. Aku mengecek sebentar HP-ku, ada pesan dari Ishida. Aku lalu membukanya.
"Dtglah ke kantor…
Km hrs brtanggung jawab krn mlupakn janjimu kmrn!"
Ah….ke kantor? Kenapa harus di kantor? Aku paling malas berada di kantor dan…sudah lama sekali aku tidak ke kantor.
Dengan terpaksa aku mengambil handuk dan pergi mandi, bersiap-siap untuk ke kantor. Kali ini aku memakai kemeja hitamku, memakai minyak wangi andalanku dan tidak lupa pula kukenakan jam tangan di atas tali merah jodohku. Setelah bersiap-siap aku turun ke bawah untuk ikut sarapan dengan yang lain. Aku membuka pintu ruang makan, di sana sudah ada Yuzu yang masih memakai celemek sedang meletakkan makanan di atas meja sementara Karin sedang membaca koran.
"Selamat pagi semua…" sapaku. Lalu aku menutup pintu ruang makan.
"SELAMAT PAGIIIII ICHIII…." mendengar suara ayah dari arah samping, aku tahu ia sedang melompat ke arahku, cepat-cepat saja kubuka pintu kembali dan….
BRUAKK
"….Go…." suara terakhir ayah setelah membentur pintu. Huh, rasain si tua Bangka itu!
"Selamat pagi, Ichi-nii…tumben sekali bangun pagi-pagi…" sahut Yuzu sambil menyendoki nasi dari rice cooker ke mangkok.
Karin mengintipku dari tepi atas koran, "Rapi sekali…" gumamnya lalu kembali membaca koran.
"Hari ini aku akan ke kantor," kataku sambil mengambil duduk, Yuzu segera memberiku mangkok berisi nasi.
"Itu bagus sekali, Ichigo!" seru Ayah yang tiba-tiba saja sudah duduk di sampingku, "kau harus mulai rajin mencari nafkah untuk masa depanmu kelak bersama Rukia!"
"Huh, biarpun Ichi-nii tidak ke kantorpun, uang Ichi-nii tetap mengalir deras," kata Karin.
Yah…memang benar kata Karin, walaupun aku tidak ke kantorpun para pekerjaku tetap bekerja dengan sangat baik apalagi aku memiliki partner kerja yang cerdas, teliti dan rajin. hehehehehe…siapa lagi kalau bukan Uryu Ishida.
"Ichi-nii…bagaimana dengan Rukia-chan kemarin?" Yuzu bertanya dan aku jadi teringat dengan hukuman konyol yang Byakuya berikan kepadaku. Sial.
"Oh, iya Ichigo. Bagaimana kemarin? Apa Byakuya marah?" ini ayah yang bertanya.
"Ya….kemarin Byakuya memang marah…" sahutku lalu melahap makananku.
"Kalau begitu, biar Ayah menelpon Byakuya…"ayah menawarkan bantuannya
"Tidak perlu Ayah…aku sudah bicara dengan Byakuya, dia memang marah tapi paling tidak marahnya tidak sampai mengamuk."
"Lain kali kamu jangan lagi melakukan kesalahan dengan Byakuya, Ichigo!" ayah menasehatiku, tumben-tumben ayah seperti ini. "Karena setahuku, Byakuya itu tidak akan segan-segan menghukum orang yang melanggar aturan di keluarganya!"
Yayayaya, tepat sekali kata ayah barusan. Byakuya sudah mengeluarkan mandat untuk menghukumku. Huhuhuhuhu…
"Memangnya…Ichi-nii buat kesalahan ya?" Yuzu bertanya dengan polosnya.
"Sedikit…" sahutku.
"….jangan-jangan….kemarin Ichi-nii membawa Rukia-chan tanpa bilang-bilang ke om Byakuya ya?" Karin menebak. Aku menoleh ke Karin, ia menatapku dengan tatapan curiga. Huh, kuat juga instingnya dan juga tebakannya barusan tepat sekali.
"Sok tahu kamu…" kataku sengit ke Karin.
"Yah….aku menebak saja kan," Karin lalu kembali berkutat dengan korannya.
Kami lalu melanjutkan sarapan dan setelah itu aku langsung keluar menaiki mobilku. Sementara Yuzu dan karin berangkat ke sekolah diantar oleh ayah.
Sesampainya di kantor aku langsung menuju ke ruanganku. Semua karyawan yang berpapasan denganku memberi hormat kepadaku. Namanya juga Bos ya.. :p
Sesampainya ke ruanganku aku langsung menghempaskan tubuhku ke kursi kerjaku yang empuk. Kuambil ponselku dan kulihat-lihat hasil foto Rukia kemarin. Ternyata wajah si cebol itu manis juga di foto walaupun aslinya lebih manis sih…
Aku lalu memencet telpon kantorku untuk memanggil kepala sekretarisku.
"Tsukishima, segera ke ruanganku sekarang!"
"Baik…" sahutnya.
Sementara menunggu Tsukishima, aku terus memandangi foto-foto Rukia. Aku sedikit menyesal kenapa aku tidak ikut foto bersama Rukia kemarin ya?
Tsukishima lalu membuka pintu, ia membungkuk hormat sebentar sebelum menghadapku. Ia lalu membuka suatu laporan dan hendak membacanya.
"Aku tidak mau mendengar laporan hari ini," kataku sebelum Tsukishima membuka mulut.
"Ada yang bisa aku bantu, Tuan?" Tsukishima bertanya dengan sangat sopan.
"Ya," sahutku, "tolong kau print semua foto gadis ini," kataku sambil memperlihatkan foto-foto Rukia.
"Baik, segera kulaksanakan, Tuan," Tsukishima mengambil ponselku lalu keluar dari ruanganku.
Aku lalu menuju jendela yang berukuran layar tancap. Ya…aku memang sengaja membuat jendela sebesar mungkin untuk bisa memantau Chappy Land jika berada di kantor karena Chappy Land berada di samping kantorku. Aku juga menyediakan teropong bintang agar sudut-sudut terkecilpun dapat kupantau. Ku buka gordennya lalu kutarik teropongku. Ternyata pengunjung sudah mudah berdatangan. Datanglah banyak-banyak pengunjung dan hujani aku dengan uang kalian….ahahahahaha.
"Tumben sekali kau datang pagi-pagi begini, Kurosaki?" ah…ini suara Ishida.
Aku menoleh ke belakang. Kaget aku mendengar suaranya karena aku tidak mendengar ada suara pintu terbuka tadi. Ishida kini duduk di sofa.
"Lincah sekali kau masuk ke ruanganku tanpa suara…"sindirku, "kau masuk tanpa salam lagi…"
Ishida memperbaiki posisi kacamatanya, kebiasaan dia memang. "kau yang tidak memperhatikan aku masuk tadi, Kurosaki. Lagipula…apa aku harus beri salam?"
"Ya iyalah…ini ruangan pribadiku!"
"Sudahlah…" Ishida memperbaiki kacamatanya lagi, lagi, dan lagi. "Kenapa kemarin kau tidak datang, Kurosaki?" tanyanya, "kemarin Grimmjow sampai emosi karena lama menunggumu dan ternyata kau tidak datang juga," kata-kata Ishida barusan seperti menyinggungku.
Aku lalu menghampirinya dan duduk di sebelahnya. "Kemarin aku keluar bersama Rukia."
"Waw…cepat juga pergerakanmu, Kurosaki," kata Ishida sambil memperbaiki kembali kacamatanya. Rasanya aku bosan melihatnya begitu.
"Ya….diluar dugaan ternyata kami bisa cepat akrab."
"Baguslah kalau begitu…sepertinya hubunganmu dengan Rukia akan sangat lancar."
"Tidak juga begitu sih…" huh, hubunganku dengan Rukia akan semakin lancar jika Byakuya mencabut hukumanku.
"Oh, ya Ishida…aku masih penasaran denganmu dan Inoe." Aku kembali mengingatkan masalah Ishida dengan mantan kekasihnya itu. "Kenapa Inoe bisa menikah dengan ul…siapalah itu?"
Ekspresi wajah Ishida langsung berubah menjadi murung. "Sudahlah…itu sudah berlalu..."
"Tapi aku benar-benar kaget waktu Inoe memperkenalkan suaminya itu, kukira hubungan kalian baik-baik saja, ternyata…kalian sudah putus, sayang sekali padahal aku tahu sekali kalau kau sangat mencintainya."
Ishida menunduk diam sebentar. "Kurosaki, kau tahu sendiri seperti apa aku ini…" akhirnya Ishida bersuara, "aku bukan tipe pria yang bisa memberi perhatian secara terang-terangan, aku juga bukan pria yang lihai merayu gadis," aku terus menyimak perkataan serius Ishida. "Inoe merasa bahwa aku tidak benar-benar mencintainya karena tidak memberinya perhatian lebih, ia terus menuntutku tapi aku tidak bisa mengikuti keinginannya. Kau tahukan Kurosaki, aku mencintai Inoe dengan caraku sendiri."
Aku menatap kasihan Ishida, ya…aku tahu sekali kalau ia benar-benar mencintai Inoe tapi apa daya kalau Inoe tidak mengerti dengan perasaan Ishida. Mungkin ini ya yang namanya perasaan yang tidak sampai…
"Lalu di saat hubungan kami renggang, si Ulquiorra Cifer masuk melalui media social facebook, dia merayu Inoe habis-habisan hingga Inoe terkelepek-kelepek!" wajah Ishida yang semula murung berubah menjadi penuh kebencian.
"Tapi…kalau kulihat-lihat, si pucat bernama Ulquiorra itu tipe pria pendiam ya…" kataku mengingat-ingat suami Inoe waktu di acara pertunanganku.
"Aaaah, itu kelihatannya dari luar saja, Kurosaki! Sebenarnya si pucat itu jago merayu wanita!" rutuk Ishida, "buktinya dia merayu Inoe yang masih jadi kekasihku waktu itu…"
Tiba-tiba Ishida menutup matanya dengan telapak tangannya, ternyata Ishida sudah banjir air mata. Alamak, baru kali ini aku melihatnya seperti ini! Ishida yang selalu terlihat kalem, cool, cuek, sombong dan sok pintar kini menangis di sampingku?
"Huhuhuhuhuhu…Kurosaki…padahal susah payah aku mendapatkannya karena dulu Inoe sangat tergila-gila denganmu…"
Ishida mengucapkan sesuatu yang membuatku kaget. Inoe pernah tergila-gila denganku? Masa iya? Aku baru tahu sekarang! ah…menyesal juga aku baru tahu, coba kalau aku tahu dulu pasti Inoe yang cantik dan seksi itu sudah kupacari…ahahahahaha.
"Huhuhuhu…kenapa Inoe tega sekali meninggalkanku…" Ishida masih terisak-isak.
Aku lalu berusaha menghibur Ishida, kuusap-usap punggungnya. "Sudah… sudah…Ishida…cup cup…namanya juga jodoh…lebih baik kita doakan saja Inoe, semoga dia bahagia bersama Ulquiorra dan cepat dapat momongan…"
"HUAAAAA" tangis Ishida bukannya mereda tapi malah semakin menjadi-jadi, kaget sekali aku melihatnya seperti ini. Dan…karena kasihan terpaksa seharian ini aku menemani Ishida dari pagi hingga malam.
Hari sudah gelap, akhirnya aku berpisah dengan Ishida dan kini aku melaju pulang dengan mobilku.
Ketika lampu merah lalu lintas menyala aku menghentikan mobilku. Aku melirik foto-foto Rukia yang telah diprint Tsukisima tadi pagi. Aku lalu mengambilnya dan kulihat-lihat sambil menunggu lampu hijau menyala.
TEEEEEET TEEEEEET
Klakson kendaraan dibelakangku terus berbunyi.
"JALAN WHOOIIII! Teriak orang-orang dibelakang. Astaga…ternyata lampu hijau sudah menyala. Cepat-cepat kujalankan mobilku sebelum orang-orang dibelakang mengamuk.
Kukurangi kecepatan mobilku agar aku bisa terus melihat foto-foto Rukia. Aku jadi teringat di saat-saat terakhir aku berpisah dengannya kemarin.
"Ichigo, jangan lupa nanti bawakan fotoku yang tadi ya…" katanya kepadaku. Tapi…apa aku harus memberikan foto-foto ini dua minggu kemudian…apa itu tidak terlalu lama? Aku merenung agak lama dan akhirnya…aku memutuskan untuk melakukan sesuatu. Tidak peduli reaksi pemilik kendaraan lain yang kaget, dengan cepat ku putar saja mobilku untuk berbalik arah.
oOo
Rukia's POV
Lama aku berdiri di suatu jembatan kayu sambil memandang anak sungai di Mansion Kuchiki. Musim semi selalu membawa keindahan di Mansion. Bunga-bunga sakura yang beterbangan bagaikan salju pink yang lembut turun di malam hari lalu mengapung dan ikut dalam aliran sungai, terlihat benar-benar sangat indah.
Mungkin tidak lama lagi musim gugur tiba tapi angin malam hari ini ternyata terasa amat dingin, untung saja aku memakai kimono berlapis. Aku lalu menghembuskan nafas di telapak tanganku untuk menghangatkan tubuhku.
Aku mendesah, "hhhhh..kenapa dia lama sekali…" aku menunggu seseorang dari tadi. Keterlaluan sekali dia, membiarkanku kedinginan malam-malam begini. Memangnya apa yang dia lakukan?
"Hai, Rukia…."
Ah…akhirnya yang ditunggu-tunggu datang juga. Si rambut merah itu sedang berdiri di tepi jembatan dengan santainya. Aku pasang muka cemberut saja biar dia sadar atas kesalahannya.
"Kemana saja kamu? Kenapa lama sekali? aku sudah hampir karatan di sini!" ketusku sambil menyilangkan kedua tanganku di perut.
"Sory, tadi tiba-tiba Nii-samamu mencariku. Tentu aku memprioritaskan dia…" sahut Renji sambil mendekat ke arahku.
"Mana barangnya?" tanyaku.
Renji lalu menyerahkan barang pesananku yang terbungkus dalam tas-tas karton.
"Kupikir kau tidak lagi melakukan hobi anehmu itu, Rukia."
Aku menatap Renji dengan alis berkerut. "Aneh? Eh…tato di alismu itu jauh lebih aneh!" timpalku.
"Apa?!" Renji terlihat marah, "Hei, sudah baik aku membelikanmu barang tidak berguna itu! Kau bukannya tidak berterima kasih malah sengaja mencari gara-gara denganku!"
"Kalau begitu terima kasih, sudah ya…" sahutku ogah-ogahan. aku lalu meninggalkan Renji, sempat kudengar ia mendecak kecal tapi aku tidak mau peduli.
"Na na na na na na….Selaaaaaamat malaaaaaaam duhai kekaaasih~"
Aku menuju ke kamarku sambil mendendangkan lagu faforitku. Mansion sudah mulai sepi ternyata dan sepertinya Nii-sama sudah tidur. Aku masuk ke kamar lalu menguncinya. Ku gelar futon di lantai dan kutidurkan boneka Chappyku. Setelah itu aku duduk melantai di depan meja, mengecek barang di dalam tas karton yang tadi Renji bawakan. Isinya buku gambar, pensil dan crayon…crayon?
"Dasar Renji! Aku kan tadi bilang pensil warna! Masa dia tidak tahu perbedaannya. Benar-benar bodoh sekali dia!" rutukku.
Hhhh..tapi, mau bagaimana lagi… tidak apalah yang penting bisa digunakan untuk mewarnai. Aku lalu meletakkan semua barang itu di meja dan mulai menggambar tokoh kelinci kesukaanku, Chappy…yuhuuuuiii.
"Na na na na na na…~ ummmmm….Chappy-nya punya rambut berwarna seperti jeruk…hihihihihi mirip Ichigo."
Tok tok tok
Aku langsung menghentikan aktivitasku karena kaget mendengar ada yang mengetok jendela kacaku. Aku diam, pencurikah itu? Tapi, masa iya pencuri pakai ketok-ketok pintu?
Aku mengendap-ngendap mendekati jendela.
Tok tok tok
"Rukia…" samar-samar kudengar suara seseorang memanggilku dari balik jendela. Orang itu mengenalku? Kini aku berdiri tepat di samping jendelaku.
"Rukia…kau ada di dalam, kan?" astaga…suara ini…cepat-cepat kugeser gorden kamarku dan benar saja, dia sedang berdiri seperti orang yang mencurigakan di balik jendelaku. Dia adalah…Ichigo!
"I-Ichigo?!" cepat-cepat kugeser jendela kacaku yang lumayan besar. "Kenapa kau ada di sini?!" tanyaku heran pada Ichigo.
"Aku masuk dulu, boleh? Di sini dingin sekali, Rukia…" kata Ichigo. aku lalu menggeser lebar-lebar jendelaku agar Ichigo dapat masuk.
"Hhhhh…kau tahu, Rukia? Butuh dua jam baru aku menemukan kamarmu. Rumah ini terlalu besar," keluh Ichigo ketika sudah berdiri di kamarku.
"Lalu, kenapa kau bisa tahu kamarku di sini?"
"Karena cuma jendela ini yang ada sticker Chappy-nya," sahut Ichigo sambil tersenyum menyeringai.
Ichigo lalu menuju ke futonku lalu membaringkan tubuhnya dengan seenaknya. Aku lalu duduk di tepi futon, di samping Ichigo. "kau ke sini bukan untuk tidur kan?" tanyaku agak sinis.
"Biarkan aku tidur sebentar, Rukia…aku capek gara-gara berkeliling di Mansion ini," sahut Ichigo dengan mata terpejam, "ternyata kamarmu lumayan nyaman juga…"
Tidak lama kemudian Ichigo mengeluarkan sesuatu dari kantong kemejanya. "Nih…foto-fotomu yang kemarin," kata Ichigo sambil menyerahkan beberapa lembar fotoku bersama Chappy.
Dengan semangat kuambil foto-foto itu, kulihat satu-persatu. "Ternyata aku cantik juga ya di foto…ehehehehe" gumamku sambil cengengesan sendiri melihat fotoku…tapi, serius fotoku cantik lho! :p
"Dari tadi mansion ini sudah sepi, Rukia…kenapa kau belum tidur…eits, apa itu?" sambil tiduran Ichigo menatap buku gambarku di meja . Cepat-cepat kuambil buku gambarku dan kusembunyikan di belakangku.
"Bukan apa-apa Ichigo," sahutku.
Ichigo lalu bangkit. "Itu buku gambar, kan? aku tidak tahu kalau kau suka menggambar rupanya. Kau menggambar apa?" Ichigo terlihat penasaran.
"Bukan apa-apa…"
"Ck…kenapa mesti malu begitu? Ayo perlihatkan! Biar aku bisa menilai kan."
"…aku memang suka sekali menggambar, Ichigo. Baiklah, kali ini aku akan memperlihatkan karyaku," kataku sambil menyerahkan buku gambarku.
Ichigo terlihat tidak sabaran membuka sampul depan buku gambarku. Kini ia menatap gambaran Chappy berambut orange hasil karyaku. Kulihat Ichigo malah cengo melihatnya.
"….ini benar gambaranmu, Rukia?" Ichigo bertanya dengan masih menatap gambaranku. Mungkin dia tidak percaya kalau ternyata aku bisa menggambar dengan sangat baik.
"Tentu saja, Ichigo! kau tidak percaya, ya? Kalau itu gambaranku."
Ichigo diam dan terus cengo menatap gambaranku lalu kemudian…
"BHUAHAHAHAHAHAHAHAHA…WOKWOKWOKWOWKWOWKWOWKOW…" Ichigo malah tertawa terguling-guling hingga futonku yang awalnya rapi kini terbongkar berantakan.
"Kenapa kau tertawa seperti itu, Ichigo?!" tanyaku kesal. Tawa Ichigo itu betul-betul membuatku tersinggung.
"WAHAHAHAHAHAHAHA…betulkah itu gambaranmu, Rukia?" tanya Ichigo masih tertawa terbahak-bahak.
"Tentu saja!" teriakku frustasi.
"Wokwokwowokwokowowowowkwokowkwowkowkow….bahkan gambaran Yuzu yang masih sekolah dasarpun masih lebih baik 100x dari gambaranmu ini Rukia…"
"Kau…kau menghinaku, Ichigo?!"
"Aku tidak berniat begitu, Rukia…tapi gambaranmu itu benar-benar sangat… jelek…wkowkwokwowkowkwo" kali ini Ichigo tertawa sambil memegang perutnya.
"Ichigo, kau-Kau menghinaku!"
Ichigo tetap saja menertawaiku dan rasanya sudah habis kesabaranku. Aku akan memberikan si kepala jeruk itu pelajaran! Kurasa dengan satu tinjuan keras di hidungnya pasti bisa membuatnya sadar. Aku maju saja hendak meninjunya tapi…aku menginjak beberapa crayon yang berserakan di lantai dan…
BRUAKK
"Aduh…" tadi aku tersandung dan menimpa tubuh Ichigo dan kini…aku mengangkat sedikit wajahku dan wajah Ichigo kini tepat berada di bawah wajahku. Mata kami saling bertemu. Astaga…aku cepat-cepat bangkit, menjauh dari Ichigo.
"Itu tadi tidak sengaja, Ichigo…" kataku sambil memalingkan wajahku ke arah lain.
"Ya…aku tahu…" Ichigo bergumam.
Astaga…yang tadi itu terlalu dekat dan aku berada tepat di atas Ichigo! Dan posisi kami tadi terlihat seperti orang yang berpelukan di atas kasur. Pasti wajahku sudah merah sekali karena malu.
Aku dan Ichigo berdiam-diam. Aduh…kenapa kami malah salah tingkah begini? Yang tadi itukan benar-benar tidak disengaja. Tapi…
"Aku mau bereskan ini semua…" kataku sambil memungut crayon dan buku gambarku, "sebaiknya kau pulang saja, Ichigo…"
Tok tok tok.
Aku terkejut mendengar suara seseorang sedang mengetok pintu kamarku.
"Rukia! Buka pintunya!" suara Nii-sama?!
To be Continue….
oOo
Segala puji syukur Author panjatkan atas ter-updatenya chap baru fic gaje Juzie...#akhirnya sempat diselesaikan :D
Tengkyu teman-teman yang udah baca and tetap setia membaca fic abal Juzie ini...
BTW, Juzie balas ripiu di sini aja ya...coz ada beberapa yang tidak bisa direply :D
Buat Hanna Hoshiko Tengkyu ya udah tetap baca lanjutan chap fic gaje ini...n uda ripiu dari chap awal... *penyuk2*. iyya dari chap awal-awal emang banyak percakapannya...mungkin krn bawaan Authornya yang bawel kali ya..;p
Buat Onizuka Audrey hihihihi...iya Ichi suka ama Rawon, baru tw ya? *ngasal* mudah2an di chap ini udah mulai ada romancenya ya...^^
Buat .777 hihihihi...iyya...itu waktu Juzie ngetik tiba-tiba aja Juzie pengen makan rawon n rawon lagi kagak ada...jadilah dimasukin ke dalam fic aja...akkakakakak. eh, hati-hati senyum2 gaje...ntar dikira kesambet...#plakk
Buat jessi iya...akhirnya Ichi n Rukia ketemu juga...Alhamdulilah ya..:p hihihihi...ini uda diupdate ya
Buat Aina Kurochiki Iya, makanan Ichi Rawon...akkakakakaka...#itu Juzie cuma ngasal -_-'. Ichigo nantinya mengetahui kenyataan bahwa yang sebenarnya ia dijodohkan dengan Senna...Tunggu tanggal mainnya ya...^^
Buat darries...settingnya bukan di indonesia...bukan juga di jepang...tapi di karakura...hwhwhwhwhw. resep masakan rawon masuk di dunia bleach melalui jaringan internet...:p. mudah2an di chap ini udah ada romancenya ya, walo belum terlalu kerasa...Senna harus muncul donk, biar Rukia menderita...*Juzie ditimpuk sandal sama Rukia*
Buat rini desu iya coz Juzie sebenarnya ga suka buat cerita yang terlalu miris n sedih2...Juzie kan baik hati n ga sombong, masa Juzie tega banget sih ama Rukia...*"Trus ngapain lo buat cerita ginian?" tanya Rukia
