Summary: Senna lari dari rumah karena tidak ingin dijodohkan dengan putra kurosaki. Karena itu, Rukia harus menggantikan Senna….R&R please…^^

Author: Juzie chan

Disclaimer : Om Kubo lah...Author cuma minjam tokoh om Kubo hingga batas waktu yang terhingga (hingga bleach tidak ada lg di dunia ini...huhuhu)

Pairing : IchiRuki, slight IchiSena, RukiRen, ByakuRuki (ini mudah-mudahan enggak...)

Warning! : banyak Typo, AU, AR (lebih tepat mungkin?), OOC, EYD tidak sesuai, Gaje, Jayus, Abal, penuh kenistaan, membosankan, dan segala kekurangan-kekurangan yang lainnya.

Oh, ya...

Salam kenal semua ya...Juzie adalah author baru belajardan tidak berpengalaman di dunia fanfiction. mohon dimaklumin ya sodara-sodara jika story yang Juzie buat sangat sangat tidak mengundang selera tapi kalau ada yang R&R Juzie akan sangat berterima kasih...

Mohon bimbingannya...

*Tengkyu ya yang udah baca and review di Chapter sebelumnya...Author sama sekali ga nyangka kalau fic ini bakal ada yang baca...^^

\

CH 8

The Spring Festival

Rukia's POV

Ya ampun…di saat seperti ini?!

"Rukia!" Nii-sama memanggilku lagi. Aku panik menatap Ichigo. Hal pertama yang aku pikirkan adalah aku harus menyembunyikan Ichigo!

"Kau harus sembunyi, Ichigo!" bisikku sambil menarik tangan Ichigo. wajah ichigo tak kalah bingung. Tidak ada tempat lain lagi, aku masukkan Ichigo ke dalam lemari kasurku saja.

"Hei, Rukia! Kau serius mau menyimpanku di sini?" Ichigo kini berada di dalam lemari.

"Tidak apa-apa, Ichigo…kau diam saja dulu di situ!" aku menekan kepala Ichigo agar masuk ke lemari lalu kututup pintu lemari rapat-rapat.

Nii-sama mengetok pintu kamarku lagi, tapi kali ini ketokannya lebih keras.

"Rukia, cepat buka pintunya! Kau tidak sendirian di dalam, kan?!"

"Tunggu sebentar!" sahutku sambil cepat-cepat merapikan posisi futonku. Setelah itu aku berlari untuk membuka pintu kamarku.

Nii-sama berdiri tepat di depan pintuku, ia bersama Renji dan kedua penjaga yang berdiri di belakangnya. Aku berusaha terlihat setenang mungkin waktu Nii-sama menatapku dengan tatapan menyelidik.

"Kurosaki ada di dalam kan? aku mendengar suaranya tadi," Nii-sama menanyaiku.

"Maksud Nii-sama, Ichigo?" aku berusaha berakting dengan memasang tampan polosku, "tidak ada siapa-siapa di dalam, dari tadi aku cuma sendirian….menggambar."

Aduh…kayaknya aktingku yang tadi sangat buruk! Tuhan…ampuni aku…ini pertama kalinya aku membohongi Nii-sama.

Nii-sama lalu masuk ke kamarku dan mengamati tiap sudut kamarku dengan tatapan curiga. "Aku yakin sekali kalau tadi aku mendengar suara Kurosaki dari kamar ini…suaranya jelas sekali."

Aku hanya diam, menggigit bibir bawahku. Gawat sekali kalau Ichigo ketahuan.

"Lalu, kenapa kau belum tidur? tadi juga kau lama sekali membuka pintu?" kali ini Renji yang bertanya. Memang dia gila urusan.

"Tadi aku sedang memasang futonku…." sahutku tapi sepertinya Renji tidak mempercayaiku, "bukannya kau juga tahu kan Renji kalau aku mau menggambar, makanya aku belum tidur…"

Tiba-tiba kudengar suara lemari terbuka. Aku menoleh ke samping, ke arah lemari kasurku dengan mata melotot.

"Tega sekali kau menyimpanku di lemari kecil dan pegap ini, Rukia!" DASAR JERUK BODOH?!

Ichigo kini berdiri di depan lemariku. Ya Tuhan…kenapa tunanganku itu sangat bodoh? Aku lalu menoleh ke arah Nii-sama, bisa kulihat ada api yang berkobar-kobar di belakangnya dengan sangat dahsyat.

"Apa yang kau lakukan di sini, Kurosaki?!" Nii-sama berteriak ke arah Ichigo.

Kulihat Ichigo malah santai-santai saja diteriaki Nii-sama. "Tadi…aku ada keperluan sebentar dengan Rukia…"

"Apa kau sudah lupa dengan hukumanmu, Kurosaki?!"

Hukuman? Apa Nii-sama sedang menghukum Ichigo? tapi, kenapa bisa?

Ichigo mendecak jengkel. "Tentu saja tidak…."

Nii-sama sepertinya ingin meledakkan emosinya tapi ia mencoba untuk menahannya. Rasanya aku ingin lari dari sini karena aku belum pernah melihat Nii-sama semarah ini sebelumnya.

Nii-sama mendesah. "Sepertinya aku tidak bisa bersikap terlalu lunak denganmu, Kurosaki," kata nii-sama, "aku tidak bisa membiarkan kamu terus berbuat seenaknya terhadap keluargaku…" Nii-sama memejamkan matanya sebentar sambil menarik nafas. "Kemarin aku menghukummu yaitu melarang menemui Rukia selama dua minggu…tapi karena kau menyalahiku maka aku tidak hanya akan melarangmu untuk bertemu dengan Rukia, " kata Nii-sama tegas, "….aku juga melarangmu menginjakkan kaki di mansion Kuchiki!"

"Hei…kau menambah hukumanku, Byakuya?!" Ichigo ingin memprotes Nii-sama. Aduh…kenapa malah jadi seperti ini?

"Cepat bawa Kurosaki keluar dari sini!" Nii-sama memerintahkan Renji dan kedua penjaga untuk mengusir Ichigo.

"Hei…Byakuya, kau tidak serius kan?" Ichigo hendak melawan tapi kedua penjaga itu sudah memegang tangan Ichigo lalu menyeret Ichigo keluar dengan dituntun Renji.

"Hei, Byakuya! Kau tidak bisa melakukan ini padaku! HEIIIIII!" teriak Ichigo yang sudah agak jauh diseret dari kamarku.

Aku hanya bisa diam menatap Ichigo diperlakukan seperti itu. Aku kasihan melihat Ichigo diseret seperti itu, bagaimanapun dia adalah tunanganku.

"Rukia.."

Aku tersentak, Nii-sama memanggilku. Takut-takut aku menatapnya, apakah Nii-sama akan marah dan menghukumku?

"Kunci jendela dan pintumu kemudian cepatlah tidur!" perintah Nii-sama tegas.

"Ba-baik…."

Nii-sama lalu meninggalkanku. Aku bisa sedikit berlega tapi…bagaimana dengan Ichigo.

oOo

Ichigo's POV

"Hei, lepaskan aku?!" teriakku ke kedua penjaga yang kini sementara menyeretku paksa. "Apa kalian tidak punya telinga? Cepat lepaskan aku! Aku bisa jalan sendiri, Hei!" aku terus memberontak tapi diluar dugaan kedua penjaga berbadan besar ini sangat kuat rupanya.

"Lebih baik kau diam saja, Ichigo!" kata si rambut merah bernama Renji yang berjalan tepat di depanku.

"Hei, siapa yang menyuruhmu memanggilku seperti itu, dasar sok akrab?! Teriakku emosi ke Renji.

"Ya suka-suka aku donk, mau memanggilmu dengan apa saja…Ichigo Ichigo Ichigo~"

Sialan si Renji. Cih…bisa-bisanya Byakuya mempekerjakan orang kurang ajar seperti dia!

"Awas kalian semua!" ancamku, "terutama kau yang berambut merah!" aku menunjuk Renji dengan kakiku.

"Memangnya kau bisa apa, Ichigo~?"

"Sialan kau Renji!" teriakku. "WHOIIII KALIAN LEPASKAN AKU!"

Kini kami sudah berada di gerbang. Si rambut merah bertato bak preman pasar itu memberi isyarat ke kedua penjaga yang masih memegangku.

"Whuaaaa" Kedua penjaga sialan itu membuangku seperti membuang sampah….sialan betul mereka!Untung saja aspal di sini penuh dengan kelopak sakura jadi masih agak empuklah. "Puah Puah!" aku memuntahkan kelopak sakura yang masuk dalam mulutku.

"Hati-hati di jalan, ya…" kata Renji melambaikan tangannya ke arahku sambil menyeringai lalu berbalik bersama kedua penjaga itu.

"Akh…" aku lalu bangkit. Benar-benar sial aku hari ini, bukan cuma hari ini tapi dari kemarin aku sial. Aku lalu membersihkan kemeja dan jeans-ku dari helaian kelopak sakura.

"Hhhhhh…sepertinya aku betul-betul tidak boleh bertemu dengan Rukia selama dua minggu.

oOo

ICHIGO'S POV

Sepuluh hari kemudian…

JRENG

Aku dan ayah melongo memandang Yuzu dan Karin yang sudah memakai Yukata di hadapan kami pagi-pagi.

"Mau kemana kalian berdua?" tanya ayah.

"Ayah tidak tahu ya kalau hari ini ada festival musim semi di kuil atas bukit?!" kata Karin, "sebentar lagi kan musim gugur…"

"Saat ini, di kuil seperti turun salju sakura…dimana-mana bunga sakura berguguran, pokoknya cantik!" seru Yuzu.

"Oh…palingan yang ikut festival lihat bunga cuma perempuan saja…" gumamku.

"Benarkah itu Ichigo?!" tanya ayah semangat, "ada banyak perempuan?"

"Cih…seperti tidak pernah ikut festival saja…" kata karin sengit ke ayah.

"Sayang sekali…tadi ayah ditelpon kalau ada pasien yang harus dioperasi sebentar…" kata ayah lemas.

"Tapi, sebentar malam ada festival lanjutan lho, akan ada perayaan kembang api," seru yuzu.

"Benarkah itu Yuzu?!" ayah kembali semangat 45.

Yuzu mengangguk dengan semangat.

"Kalau begitu ayah tidak akan melewatkannya!"

"Kalau begitu, aku jaga rumah saja ya…"kataku santai sambil menyandarkan punggungku di sofa. Aku benar-benar tidak berselera untuk ikut.

"Bicara apa kau ini, Ichigo?! tentu kita akan pergi sekeluarga!" teriak ayah.

"Ummmm…ayah, bagaimana kalau kita ajak Rukia-chan juga?" kata Yuzu.

"Itu ide bagus, Yuzu!"

"Huh, aku yakin Byakuya tidak akan mengizinkan Rukia…"

"Gampang itu!" kata ayah, "Yuzu cepat ambilkan telpon!"

Dengan gerakan cepat, Yuzu mengambil telpon dan segera menyerahkannya ke ayah. Dengan semangat ayah memencet nomor telpon Mansion Kuchiki.

"Halo, Byakuya?"

"Sudahlah ayah…Byakuya tidak akan mengizinkan Rukia…" kataku ke ayah. Tentu saja! Ini baru sepuluh hari, Byakuya tidak akan membiarkanku bisa bertemu dengan Rukia.

"Byakuya! Ada yang ingin aku…blablabla." Ayah terlihat serius berbincang dengan Byakuya.

"Sudah kubilang ayah…percuma ayah menelfon Byakuya…" aku terus mempengaruhi ayah.

"Bisakah Rukia…blablabla…" ayah tetap melanjutkan pembicaraannya di telpon.

"Ayah ayah…sudah kubi-"

PRAAAANG

Ayah melempariku dengan vas bunga dari keramik dan karena itu kepalaku jadi penuh darah.

"Bisa diam tidak sih kamu!" teriak ayah ke arahku lalu melanjutkan pembicaraannya dengan Byakuya. Sial! Huh, lihat saja Byakuya tidak mungkin mengizinkan Rukia…

"Apa?! Rukia bisa ikut!" seru ayah.

Aku langsung cengo, tidak percaya dengan apa yang diucapkan ayah barusan.

"Oke, Byakuya. Kalau begitu kami tunggu Rukia di kuil atas bukit yang tidak jauh dari rumahku!" kemudian ayah menekan tombol untuk mematikan telpon.

"Rukia bisa ikut sebentar malam!" seru ayah ke kami semua kemudian bertralala-trilili dengan Yuzu.

Sementara aku? Aku masih melongo, tidak percaya bahwa Byakuya akan mengizinkan Rukia ikut bersama kami ke festival sebentar malam. Apa Byakuya lupa dengan tenggang waktu hukumanku?

oOo

Malam harinya, di festival musim semi yang diadakan di kuil kuno atas bukit terlihat lebih ramai dibanding pada pagi hari. Ada banyak pedangang kaki lima yang ikut meramaikan festival, mulai pedagang yang menjual kue, makanan, pernak-pernik, lampu hias lampion, ada juga berbagai macam permainan. Semua orang mengenakan pakaian Yukata termasuk anak-anak.

JRENG

Kini keluarga kurosaki berada di gerbang kuil dan tentunya semuanya mengenakan Yukata. Isshin mengamati wanita-wanita yang memasuki gerbang kuil.

"Ohohohoho…semuanya cantik-cantik Ichigo…" kata Isshin sambil senyum-senyum mesum.

Pura-pura tidak kenal ah….batin Ichigo, Yuzu dan Karin.

Tiba-tiba sebuah mobil berhenti di depan Ichigo. Dari mobil keluar seorang gadis bertubuh mungil dengan balutan Yukata bermotif kembang yang berwarna ungu. Rambut hitamnya dikonde ke belakang dengan jepitan bunga.

"Hai Ichigo…"sapanya.

"Rukia…" akhirnya Ichigo bertemu juga dengan Rukia setelah sepuluh hari mereka tak jumpa. Mereka berdiri saling berhadapan dengan jarak kurang lebih 2,5 meter. Mata hazel Ichigo menatap mata Rukia yang bersinar bagai permata amethyst. Saat itu waktu seperti terhenti seketika, mereka hanya berdiam-diaman dan tak ada yang berinisiatif untuk mendekat. Bunga sakura yang menari-nari di udara menjadi latar mereka.

"Hai, Ichigo…" tiba-tiba Renji berdiri di samping Rukia. Suasana hati ichigo langsung berubah seketika.

"KENAPA KAU JUGA IKUT?!" teriak Ichigo emosi sambil menunjuk ke arah Renji.

"Ya suka-suka aku donk…" sahut Renji dengan aksen yang membuat Ichigo bertambah emosi.

"Nii-sama mengizinkanku ke sini asal Renji menemaniku…" kata Rukia.

"Cepat kau pulang sana! Hus…hus…" Ichigo mengusir Renji seperti mengusir kucing.

"Huh, jangan bodoh! Kalau aku pulang berarti Rukia juga harus pulang," timpal Renji. Ichigo lalu meninju batu besar hingga batu itu hancur berkeping-keping.

"Rukia-chan, ayo kita masuk!" seru Yuzu sambil menarik tangan Rukia.

Rukia, Yuzu dan Karin jalan bersama, Renji mengikuti Rukia dari belakang. Sedangkan Ichigo menarik ayahnya yang sedang asik menggoda seorang wanita muda.

"Hai tampan…silahkan manpir…" dua wanita berpakaian Yukata tapi cuma sepaha merayu Isshin untuk singgah ke kedai minuman sake mereka.

"Ayayayayayaya…" muka Isshin merah mesum memandangi kedua wanita seksi itu."

"Silahkan masuk…" ajak salah satu wanita seksi itu.

"Ow…pasti sayang," liur Isshin menetes.

"Eits…ayah tidak bermaksud untuk minum sake kan?" kata Yuzu ke ayah.

"Cuma mencicipi sedikit…" liur Isshin semakin banyak menetes.

"Hah? bukannya ayah sendiri yang bilang kalau minum sake itu tidak baik!" kata Karin sambil menatap sinis ayahnya.

"Benar! Nanti ayah mabok!" Yuzu menambahkan ucapan Karin.

"Ayah tidak mau minum sake koq…cuma mau berbincang-bincang saja dengan mereka…" liur Isshin kini mengalir deras bak air yang muncrat dari kran.

"hihihihihi…mari mari…" kedua wanita itu lalu menarik Isshin dan Isshin dengan suka cita masuk ke dalam kedai itu.

"Hhhhhh…ayah ini gampang sekali tergoda…" Yuzu mendesah.

"Dasar tua Bangka…" rutuk Karin.

"Karin-chan, ayo kita main dart!" ajak Yuzu ke Karin.

"Oke, kita lomba ya…" mereka berdua lalu berlari menuju tenda permainan dart.

"Aku mau coba itu…." Rukia menunjuk tenda yang menjual makanan sejenis sate yang terbuat dari daging sapi yang dipipihkan. Ichigo yang mendengar keinginan Rukia hendak menghampiri tenda itu tapi keduluan oleh Renji.

"Nih…" renji menyodorkan bungkusan yang penuh dengan sate sapi pipih.

"Waw…kau membeli sangat banyak," kata Rukia ke Renji.

"Kau pasti masih lapar, Rukia…tadi di Masion kulihat kau cuma makan sedikit…"

"Tch…" Ichigo terlihat kesal melihat Renji perhatian kepada Rukia.

Rukia mengeluarkan satu tusuk sate sapi dan menyodorkannya ke Ichigo. "Kau mau, Ichigo?" Rukia menawarkan.

"Tidak. Terima kasih…" sahut Ichigo dongkol. Ia sangat tidak berselera menerima sate itu apalagi sate itu dibeli oleh Renji.

"Benar nih?" tanya Rukia, "ini enak loh…"

"Tidak. Aku sudah kenyang tadi…"

"Tidak usah kasi Ichigo, Rukia! Dia itu terlalu pilih-pilih makanan….huh, jangan-jangan dia juga pilih-pilih dalam urusan jodoh!" Renji menyeringai ke arah Ichigo.

"Jangan sok tahu kau, rambut merah! Urusan kita yang kemarin belum selesai ya!" geram Ichigo sambil menarik bagian kerah Yukata Renji.

"Ow...begitu? jadi, kau mau selesaikan sekarang?" Renji tidak mau kalah, ia juga menarik kerah Yukata Ichigo.

"Hei, kalian jangan bertengkar di sini!" Rukia melerai Ichigo dan Renji. Dengan terpaksa mereka berdua saling melepaskan.

Mereka bertiga lalu kembali jalan bersama, Rukia berada di tengah.

"Indah sekali ya?" kata Rukia.

"Huh, jauh lebih indah di Mansion Kuchiki…"gumam Renji.

"Dua seringgit…dua seringgit…" seru seorang pedagang kembang gula. Seorang pedagang yang masih berusia lima tahun, berambut hitam lurus dengan poni di depan mirip dora tapi ini anak laki-laki.

"Ah!" pekik Rukia ketika melihat pedagang itu, "Kau…Mail bin mail kan? temannya upin ipin…"

"A…bennar…aku ini!" sahut pedangan bernama Mail temannya upin ipin dengan dialek melayu.

Rukia terlihat sangat bersemangat. "Tiap pagi dan sore aku selalu menonton upin ipin…"

GUBRAKK. Ichigo dan Renji langsung tepar di tempat.

"Aku ambil dua ya…ngomong-ngomong seringgit itu berapa rupiah ya?" Rukia bertanya dengan polosnya.

"Lima ribu…" sahut Mail senyum-senyum sambil menggerak-gerakkan alisnya ke atas. Dan Rukia yang tidak tahu mengenai nilai tukar uang langsung mengeluarkan uang lima ribu rupiah dari dadanya seperti mbok jamu mode on.

Mereka bertiga kembali jalan melihat-lihat.

"Ah…aku mau ikan itu..." kata Rukia sambil menunjuk tenda permainan kingyosukui. Permainan menangkap ikan mas kecil dengan sendok yang terbuat dari kertas seperti tissue.

"Kau mau itu, Rukia?" tanya Ichigo, "baiklah akan aku tangkapkan untukmu Rukia…" ichigo lalu mendatangi paman yang menjaga tenda itu.

"Aku beli satu scooping," kata Ichigo.

"Dua ribu satu…ini disposible ya.." sahut paman itu ogah-ogahan sambil menyerahkan satu scooping ikan ke ichigo.

"Apa kau bisa, Ichigo? itu tipis sekali loh…" kata Rukia.

"Tenang Rukia…ini gampang koq." Ichigo terlihat sangat percaya diri.

Ichigo duduk jongkok di tepi kolam, ia mengangkat bagian lengan Yukatanya lalu mulai menangkap ikan mas yang berenang-renang lincah dengan scoopingnya.

Plash..

Di luar dugaan ikan mas yang menjadi sasaran Ichigo lepas, bukan hanya itu saja, kertas scooping ichigo malah robek dan tidak bisa lagi dipakai.

"Bhuahahahaha….begitu saja kau tidak bisa, Ichigo!" Renji menertawai Ichigo. Ichigo lalu mematahkan pegangan scoopingnya dengan emosi

"Permainan seperti ini butuh teknik dan skill yang baik," seru Renji, "Paman, aku mau scoopingnya satu!"

Renji lalu membeli scooping dan kemudian duduk jongkok di tepi kolam, di depan Ichigo.

Renji mengangkat bagian lengan Yukatanya lalu mencoba untuk menangkap ikan mas.

Plash

"Wokwokwokwokwokwo…" Ichigo balas menertawai Renji karena ikan target Renji lolos dan kertas scoopingnya juga robek. "Sok jago sih!" Ichigo mengejek Renji.

Renji melempar bekas scoopingnya ke sembarang tempat. "Sialan!" teriaknya, "Kau sendiri juga tidak bisa!"

"Oh, kau sendiri? Merasa mampu tapi tidak bisa!" timpal Ichigo.

"Aku bisa koq!"

"Oh, ya? Mana?"

"Yang tadi itu cuma kebetulan!"

"Alah! Ngeles aja!"

"Paman, aku beli sepuluh scooping!" seru Renji.

"Paman, aku juga beli sepuluh scoping!" Ichigo tidak mau kalah.

Mereka lalu jongkok berhadapan di tepi kolam. Mereka saling melemparkan tatapan tajam.

"Ichigo, kita bertanding siapa yang duluan berhasil menangkap ikan, yang gagal harus push up 100x!" tantang Renji.

"Oke, siapa takut?" Ichigo mengiyakan tantangan Renji.

Terjadilah perlombaan kingyosukui yang berlangsung sengit. Ichigo dan Renji terlalu bersemangat menangkap ikan sampai-sampai air kolam bermuncratan ke sana kemari dan mengenai pengunjung lain yang juga bermain kingyosukui. Akibatnya, banyak pengunjung yang marah-marah, protes, ada yang malah sempat keramas, anak-anak kecil menangis, hingga akhirnya mereka kabur karena basah terkena air kolam ikan.

"Paman, aku tambah sepuluh lagi!" teriak Ichigo.

"Aku juga!" Renji ikut-ikutan.

"Oke…asal kalian bayar semua…"kata paman penjaga tenda yang ikut menyaksikan pertandingan tersebut dengan malas.

Pertandinganpun berlanjut dengan sangat sengit hingga akhirnya kedua peserta tepar di tempat karena capek.

"Aku capek, Renji…"

"Aku juga…"

Rukia yang daritadi menyaksikan tingkah laku kedua pria itu geleng-geleng kepala.

"Begitu saja kalian tidak bisa…" guman Rukia. "Paman aku beli satu!"

Rukia lalu membeli satu scooping dan jongkok di tepi kolam. Ia mengangkat bagian lengan Yukatanya sehingga terlihat lengan mungilnya yang sedang memegang scooping.

"Hah…aku berhasiil!" seru Rukia dengan riang gembira.

"Mana?" Ichigo dan Renji kompakan bangkit, melihat hasil tangkapan Rukia…

"Nih…"Rukia memperlihatkan hasil tangkapannya.

"Kau…kau benar-benar berhasil?" tanya Ichigo tak percaya.

"Pasti cuma kebetulan," kata Renji.

"Enak saja!" timpal Rukia, "kalian itu terlalu kasar, butuh kelembutan untuk menangkap ikan ini…"

Rukia lalu menyerahkan ikan hasil tangkapannya ke paman penjaga tenda untuk dibungkus.

Yuzu dan Karin lalu berlari ke arah Rukia, Ichigo dan Renji.

"Wah…Rukia-chan tadi main kingyosukui?" tanya Yuzu.

"Hu um…nih ikannya…"

Mereka berlima lalu kembali melihat-lihat. Tiba-tiba semua orang berdesak-desakkan menuju halaman depan kuil.

"Sebentar lagi kembang api dinyalakan!" seru karin.

"Kembang api?" tanya Renji.

"Iyya…" sahut Yuzu, "kau mau lihat?"

"Iya, aku mau lihat."

"Kalau begitu angkat kami berdua!" Yuzu menyuruh Renji, "aku dan Karin kan kecil, mana bisa berdesakan ke depan."

"Gampang itu!" Renji lalu menaikkan Yuzu dan Karin ke punggungnya dan menuju ke depan halaman Kuil.

Tinggallah Ichigo dan Rukia yang kini berada di tengah-tengah orang berdesakan.

"Rukia…di sini banyak sekali orang," kata Ichigo, "kita pindah saja dari sini."

Ichigo lalu menarik tangan Rukia dan membawanya keluar dari desakan pengunjung.

"Kita mau kemana, Ichigo?" tanya Rukia.

"Ke belakang kuil."

Ichigo's POV

Akhirnya aku dan Rukia berhasil lepas dari desakan pengunjung. Aku membawa Rukia ke belakang kuil. Di sana cukup sepi jadi aku bisa lebih leluasa berbincang-bincang dengan Rukia.

Kami telah sampai di belakang kuil. Nampak pemandangan danau dengan beberapa pohon sakura di tepinya, kelopak-kelopak bunga sakura berguguran lalu mengapung di danau. Kulirik Rukia, ia terpesona memandang pemandangan di depan kami.

"Di sini indah sekali…" kata Rukia takjub. Aku lalu menariknya, mengajaknya duduk di tempat duduk dari batu, dekat tepi danau.

"Astaga…" Rukia terkejut melihat kondisi bungkusan ikannya. Plastiknya robek sehingga airnya terus menetes keluar.

"Mungkin waktu kita berdesakan tadi, plastiknya robek," kataku, "kalau begitu lebih baik lepaskan saja ikannya di danau," aku menyarankan Rukia. Rukia lalu membawa ikan itu ke danau dan melepaskannya.

Rukia kemudian duduk di sampingku. "Apa kau sering ke sini, Ichigo?" Rukia bertanya.

"Tidak juga…tapi waktu kecil aku sering main di sini," sahutku.

Rukia diam, ia sibuk memandangi pemandangan indah di depan kami. Aku lalu mengalihkan pandanganku ke arah Rukia. Bunga-bunga sakura beterbangan di sekitarnya. Kutatap terus mata Rukia, sinar di bola matanya benar-benar indah.

"Cantik sekali…"

"Apa?" Rukia cepat menoleh ke arahku.

"Kubilang cantik sekali," aku mengulangi ucapanku.

"Ya…pemandangannya memang cantik sekali," kata Rukia.

"Bukan itu!" sahutku, "tapi kau…"

Rukia sedikit kaget karena ucapanku barusan, bisa kulihat wajahnya langsung memerah karena pujianku tadi.

"Oh…terima kasih…" ucapnya sambil tersenyum agak malu.

Kami lalu berdiam-diaman, agak lama. Lalu kami dikagetkan dengan suara ledakan kembang api yang menggelegar dan menghiasi langit bagai hujan meteor. Rukia makin terpesona dengan pemandangan indah itu.

Aku lalu mengingat suatu hal.

"Rukia…aku ingat kau belum jawab satu pertanyaanku," tegurku.

"Pertanyaan yang mana?" tanya Rukia bingung.

"Kau belum jawab, apa ada pria yang kau sukai?" aku menanyakannya kembali.

Rukia terlihat bingung, berpikir. "Ummmm…kalau dulu mungkin," sahutnya akhirnya.

"Oh, ya?"

Rukia mengangguk pelan. "dulu aku punya teman, dari kecil kita selalu bersama-sama…tapi sekarang hubungan kami tidak seperti dulu…"

"Dia pacarmu?" tanyaku.

"Tidak bisa dibilang begitu sih…kami berteman tapi sebenarnya tidak hanya sekedar berteman…" Rukia terlihat bingung bagaimana menjelaskannya, "kita lebih dekat…"

"O…" kuanggap kalau pria yang Rukia maksud itu tidak masuk dalam kategori seorang pacar tapi lebih ke cinta seorang sahabat yang tidak kesampaian. Huh, baguslah…

"Apa ada yang lain?" tanyaku lagi.

"ummmm…aku juga pernah sempat menyukai guruku…"

"Gurumu?"

"Iya, guruku. Waktu itu Nii-sama memintaku untuk homeschooling dan memanggilkanku guru. Ternyata gurunya seorang pria dan masih muda…"

"Dia tampan makanya kamu jatuh cinta, begitu ya?"

"Ya…dia memang tampan tapi yang membuatku menyukainya itu adalah sikapnya…" aku terus memperhatikan cerita Rukia. "Dia menyenangkan, supel, humoris, dan dia tidak pernah mengganggapku sebagai putri bangsawan…walaupun sikapnya sedikit kasar tapi dia berhati lembut. Sayangnya tidak lama kemudian aku tahu kalau dia sedang mengidap penyakit." Bisa kulihat ada ekspresi kesedihan di wajah Rukia.

"Walaupun sakit, dia tetap saja datang untuk mengajariku…aku bertanya 'kenapa kamu tidak istirahat dan berobat saja'? dia malah menjawab 'kalau aku tidak mengajar pasti ada seorang muridku yang kesepian' itu katanya, aku sedikit cemburu sih..."

Astaga Rukia…apa kamu tidak sadar kalau murid yang dia maksud itu adalah kamu.

"Kau tahu, Ichigo? waktu aku pertama kali melihatmu…aku terkejut, kau sangat mirip dengan Kaien-dono, guruku itu…tapi dia berambut hitam."

Aku sedikit terkejut. Aku mirip dengan guru yang ia sukai? Ini benar-benar tidak baik!

"Lalu, dimana gurumu itu sekarang?" aku jadi penasaran dan ingin melihat si Kaien-dono yang katanya mirip denganku. Huh, masa ada pria lain yang sama tampannya denganku!

"…dia sudah meninggal, ichigo."

"Oh…" diam-diam aku sedikit lega, "tapi, apa kalian sempat pacaran?" tanyaku penasaran.

"Tentu saja tidak, Ichigo…dia itu sudah punya istri.. aku hanya sekedar menyukainya saja…"

Fiuh…baguslah.

"Jadi, kau tidak pernah pacaran, Rukia?" tanyaku.

Rukia menggeleng-gelengkan kepala sebagai jawaban. Yess! Thanks God!

"Kau sendiri…kau punya gadis yang kamu sukai kan? apa dia pacarmu?" kali ini Rukia yang menanyaiku.

"Um….waktu liburan di Hueco Mundo aku sempat naksir dengan seorang gadis…ya dia cantik…tapi responnya sangat negatif," kenangku.

"Lalu?"

"Lalu aku kembali ke karakura dan…tahu-tahu aku sudah dijodohkan denganmu."

Rukia menatapku sebentar lalu mengalihkan pandangannya ke arah danau.

"Hidup itu…kadang sangat lucu ya?" kata Rukia, "kadang apa yang kita inginkan dan harapkan malah menjauh walau sekeras apapun dikejar…kita hanya dapat menerima dan terus menjalani…"

"Memang…tapi ada satu hal yang harus kau percayai, Rukia… percayalah apapun yang terjadi pada kita maka itulah yang terbaik, kadang-kadang manusia sering menganggap apa yang ia pikir itulah yang terbaik tapi sebenarnya manusia itu tidak tahu apa-apa…Tuhan tidak akan begitu kejam dengan kita, Rukia… Jadi, bersemangatlah…

Bola mata Rukia membesar menatapku lalu, tidak lama kemudian ia tersenyum, senyumannya sangat manis.

"Kali ini kau sangat pintar, Ichigo," kata Rukia sambil mengacak-ngacak rambutku. Aku membiarkan Rukia terus melakukannya karena dengan begitu aku bisa leluasa menatap matanya. Matanya benar-benar membuatku tertarik untuk terus memandangnya.

Rukia sadar bahwa aku terus menatapnya. Cepat-cepat ia singkirkan tangannya dan menggeser tubuhnya agar sedikit menjauh. Ia mengalihkan pandangannya ke arah danau lagi. Kami berdiam-diaman lagi.

Aku menggeser tubuhku agar lebih dekat dengan Rukia. Aku lalu meraih tangannya mungilnya, kulihat tali merah di lengannya, tali jodoh antara aku dan Rukia. Rukia nampak kaget waktu aku menggenggam tangannya.

"Rukia…maukah kau menikah denganku?"

Bisa kulihat keterkejutan di wajahnya. Sejenak ia berubah menjadi batu lalu kemudian cepar-cepat dia menarik tangannya.

"Kau ini bicara apa, Ichigo? kau tidak bilang begitupun kita nantinya akan menikah," kata Rukia.

"Ya…kau benar," aku menggaruk belakang kepalaku yang tak gatal. Aku menyesal kenapa aku mengatakan hal yang bodoh di depan Rukia. Tapi…

"Di sini mulai dingin…" gumam Rukia dan aku reflex mengambil kedua tangannya lalu menghembuskan nafasku untuk menghangatkannya.

"Ichigo, apa yang kau lakukan? Hentikan!" Rukia terlihat gusar dengan tindakanku, ia hendak menarik tangannya tapi aku malah menggenggamnya lebih erat.

"Kau sendiri bilang kalau kau dingin! Aku sedang membantu agar kau tidak merasa dingin sekarang jadi, diam saja!" aku terus melakukannya, menghangatkan telapak tangan Rukia. Kulihat Rukia seperti tidak nyaman dengan tindakanku tapi aku tidak peduli.

"Ichigo!"

"Rukia!"

Dari jauh kudengar suara ayah dan Renji memanggil kami.

"Rukia, ayah memanggil kita…" aku lalu mengajak Rukia ke depan dan di sana aku bertemu dengan ayah dan Renji. Yuzu dan Karin ternyata sudah tertidur di punggung Renji. Renji lalu memindahkan Yuzu dan Karin di punggungku.

"Terima kasih, paman eh…maksudku ayah," kata Rukia ke ayah sebelum masuk di mobil.

"Rajin-rajinlah mampir ke rumah, Rukia-chan!" seru ayah, Rukia membalasnya dengan senyuman kemudian ia masuk dalam mobil.

Renji segera menghidupkan mesin mobilnya. Sebelum mobil jalan, Rukia melambaikan tangannya ke arahku. "Sampai jumpa lagi, Ichigo…"

To be continue….

oOo

Fiuh...akhirnya selesai juga...:D

Sumpah juzie ga tenang waktu ngetik ni chap soalnya juzie ngetiknya di perpus n perpus lagi rame banget n lagi tempat ngetiknya terekspos banget jadi banyak yang liat...huhuhuhuhu...kompi di perpus pake linux lagi T.T

Sory ya kalo banyak banget salah-salahnya, coz ga leluasa banget ngetiknya -.-'

But, apapun yang terjadi nih chap mesti terapdate...huhuhuhu