My Best Friend , My Love

By : Saita Hyuuga Sabaku

Disclaimer : Naruto Masashi Kishimoto

Pairing : Gaara & Sakura

Rated : T

Genre : Friendship, Romance

Warning : AU, OOC, alur berantakan, maksa, ga jelas, typo bertebaran dan kekurangan lainnya yang tak bisa dijabarkan satu persatu

.

.

.

Don't Like Don't Read

.

.

.

*** Happy Reading ***

.

.

.


Chapter 3

.

.

.

Hari berjalan seperti biasanya walau ke empat sahabat mereka sudah tidak bersama mereka lagi. Mereka kini jauh berada di Kirigakure, untuk melanjutkan jenjang pendidikannya. Naruto dan sahabatnya yang tersisa, melakukan aktivitas seperti biasa. Berkumpul di taman. Meski suasana menjadi sedikit lebih sepi, karena ke empat anggotanya sudah berada jauh dari mereka, tapi tetap tak memutuskan hubungan persahabatan di antara mereka. Mereka makin kompak dari waktu ke waktu.

Suatu hari, karena sebuah keadaan, Sakura tertidur di dalam kelas. Parahnya lagi, di saat itu yang mengajar adalah Asuma sensei. Guru yang terkenal akan kedisiplinannya dan kekejamannya.

Saat sedang asyik menerangkan, tiba-tiba saja ia menghentikan aktivitasnya. Ia menyadari ada salah satu muridnya yang tidak mendengarkan pelajarannya dan justru asyik tertidur. Asuma melangkahkan kaki menuju meja murid itu, yang tak lain adalah Haruno Sakura.

"Haruno Sa-ku-ra, sampai kapan kau mau tidur seperti itu?" ucapnya tegas, dan penuh penekanan pada kata 'Sakura'. Ia menggunakan penggaris besi untuk diketuk-ketukkan pada meja.

Sakura tersentak kaget dan berkata dengan gelagapan. "Go-gomennasai sensei, tadi kepalaku terasa pusing dan aku tidak sengaja ketiduran." Sakura menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal.

"Kalau kau kurang sehat, seharusnya kau pergi ke UKS, bukannya tidur di jam pelajaranku," ucap Asuma mengintimidasi.

Sakura hanya bisa menundukkan kepalanya dan pasrah dengan hukuman yang akan diberikan Asuma sensei padanya. Biar bagaimanapun ia mencoba membela diri, itu tak akan pernah berpengaruh pada Asuma sensei.

"Kau harus terima hukumannya Sakura," ucap Asuma tegas.

"Ha'i'," ucap Sakura pelan.

"Sekarang pergi ke gudang penyimpanan bola basket, dan bersihkan gudang beserta bola-bolanya!" Asuma memberikan perintah.

"Ha'i," ucap Sakura dan berlalu meninggalkan kelas.

Setelah Sakura meninggalkan kelas, Asuma pun melanjutkan materinya yang sempat terhenti karena keadaan kelas yang kurang kondusif akibat Sakura yang tadi tertidur.

.

.

.

.

.

Tap ... Tap ... Tap ... Tap

Sakura melangkahkan kaki menuju gudang penyimpanan bola basket yang berada di belakang halaman sekolah. Dalam perjalanannya ia terus merutuki kecerobohannya yang bisa-bisanya tertidur saat pelajaran Asuma sensei.

"Baka," gumamnya pelan.

"Ini gara-gara semalam aku tidur larut karena melihat pertandingan bola," rutuknya sepanjang perjalanan menuju gudang.

Beberapa langkah lagi ia sampai di gudang penyimpanan bola basket. Tapi langkahnya terhenti seketika, ia menelan ludah dan keringat mulai membasahi pelipisnya.

DEG

Ia ragu ingin masuk ke gudang itu. Pasalnya di sekolah ini terdengar desas desus tentang keberadaan makhluk gaib seperti hantu. Dan Sakura, ia sangat takut akan hal-hal berbau mistis seperti itu.

Hei jangan kalian kira seseorang gadis tomboy seperti Sakura tidak mempunyai kelemahan. Dan ... yup! Hal yang paling ditakutinya di dunia ini adalah hantu. Yah seperti Naruto.

Akhirnya setelah cukup lama berpikir, dengan perlahan tapi pasti, ia mulai melangkahkan kakinya menuju gudang itu. Keringat makin deras mengaliri pelipisnya. Tenggakan saliva makin sering terdengar untuk mengusir rasa gugupnya.

Dengan keberanian yang dikumpulkannya, Sakura memasuki gudang yang gelap itu. Tangannya meraba-raba dinding untuk menyalakan lampu.

"Haaahh ... yokatta," ucapnya lega karena setidaknya gudang ini tidak seperti yang ia bayangkan. Tentu saja, karena lampu yang menyala terang itu setidaknya mengusir suasana mencekam yang sempat ia rasakan.

"Ya ampun, berapa lama sih gudang ini belum dibersihkan? Tch, berdebu sekali." Sakura terus menggerutu.

"Ah iya, lebih baik aku mendengarkan musik agar tidak jenuh," gumamnya.

Ia mulai merogoh sakunya dan mengeluarkan telepon genggam serta headsetnya. Ia pasang headset tersebut di kedua telinganya dan mulai menyetel musik. Dan ia pun mulai membersihkan gudang itu.

.

.

.

.

.

Sementara itu di luar gudang terlihat Guy sensei sedang menuju gudang tempat Sakura berada. Dia adalah guru olahraga terbaik di KHS. Dengan semangat masa muda dan tekad api yang tertanam di dirinya, ia mampu membuat murid-murid KHS selalu unggul dalam berbagai jenis cabang olahraga. Hanya saja, penampilannya yang ... errr ... bisa dibilang unik itu, tak ayal membuat murid malas memperhatikannya.

Lihat saja pakaian super ketat yang ia gunakan. Model rambut seperti mangkuk dan alis super tebalnya itu, terkadang membuat siswi KHS merinding. Hanya satu di sekolah ini yang mengikuti cara berpakaian Guy sensei saat berolahraga. Siapa dia? Tentu saja Lee, anggota kelompok Naruto dan Sakura. Itulah sebabnya kelompok mereka adalah orang yang paling bersemangat saat di ajar oleh Guy sensei. Mereka sudah terlalu terbiasa dengan Lee, sehingga tidak merasa aneh dengan Guy sensei.

Kembali pada kegiatan yang di lakukan Guy sensei. Saat tiba di depan gudang penyimpanan bola basket, ia melihat kunci yang tergantung di pintu gudang dan kemudian mengunci pintu gudang itu.

"Ya ampun, anak-anak jaman sekarang sungguh tidak memiliki rasa tanggung jawab yang tinggi. Sudah berapa kali kubilang, kunci lagi pintu gudang sehabis mengambil bola. Jangan tinggalkan kunci sembarangan begini! Apa susahnya sih? Untung saja aku selalu berpatroli," ucapnya bangga. Ia kemudian meninggalkan gudang setelah memastikan gudang itu telah terkunci. Dan tak lupa membawa kunci tersebut bersamanya.

Hey, Guy sensei, tak taukah kau disana sedang ada Sakura yang membersihkan gudang?

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

"Fuiiihhh, akhirnya selesai juga tugasku," ucapnya seraya mengusap keringat yang mengaliri pelipisnya.

Ia membuka headset yang daritadi dipasang untuk mendengarkan musik. Kemudian memasukkan headset tersebut ke dalam sakunya. Ia melihat jam di handphone dan ternyata sedikit lagi bel istirahat berbunyi. Ia melihat handphone yang sudah menunjukkan lampu merah, pertanda baterainya lemah.

"Ah, sebentar lagi pasti mati," gumamnya.

Sakura pun melangkahkan kakinya menuju pintu keluar. Perutnya sudah terasa sangat lapar dan dahaga telah mencekik kerongkongannya.

Ceklek

Sakura mengayunkan pegangan pintu berusaha membukanya.

CEKLEK CEKLEK CEKLEK

Ia makin keras mengayun pegangan pintu tersebut tapi tak juga berhasil membuka pintunya.

"Nani? Apa yang terjadi dengan pintu ini. Kenapa tiba-tiba terkunci?," gerutunya.

Dor ... Dor ... Dooorr

Ia menggedor-gedor pintu dan berteriak berharap seseorang lewat dan membukakan pintu untuknya.

"Tolong! Tolong aku! Tolong bukakan pintu ini!" Sakura terus berteriak dan berharap.

Pikiran-pikiran mistis mulai menghinggapi pikirannya.

'Apa benar gudang ini berhantu? Seingatku tadi pintu gudang ini kan terbuka. Kenapa tiba-tiba terkunci seperti ini,' batinnya.

Keringat dingin mulai membasahi pelipisnya dan turun melewati pipi chubby nya. Matanya melirik ke kanan dan ke kiri. Jantungnya mulai berdetak tak berirama. Nafasnya mulai menari liar seirama dengan detak jantung yang tak beraturan. Tangannya terus berusaha membuka pintu sambil sesekali menggedor-gedor pintu tersebut.

Zeeeettt ... Ctak ... Ctaak

Tiba-tiba lampu gudang mulai berkedap-kedip. Sebentar menyala, sebentar mati, dan akhirnya mati total. Sebenarnya lampu itu konslet dan akhirnya mati, tapi kau tau reaksi orang yang takut hantu. Tentu saja Sakura berpikir itu tanda bahwa hantu akan muncul seperti yang biasa ia lihat di film horror.

Sakura mulai jatuh terduduk. Kakinya sudah terasa lemas akibat rasa takut yang menyelimutinya. Pandangan matanya menggeledah seisi ruangan. Pandangan awas dan khawatir jelas tergambar di wajahnya. Ia mulai terisak sambil terus berusaha membuka pintu.

"Tolong ... tolong buka pintunya, hiks. Aku takut, hiks. Siapapun tolong aku ...," teriaknya di sela isakan tangis dan nada yang terdengar bergetar dari suaranya.

"Jangan ganggu aku. Aku tidak mengganggumu kan? Aku hanya di perintah untuk membersihkan gudang ini. Kalau mau menyalahkan, salahkanlah Asuma sensei. Kalau mau mengganggu, ganggulah dia. Jangan aku. Kumohon ...," Sakura meracau sendiri akibat rasa takut yang luar biasa.

Ia bermaksud menghubungi sahabatnya. Entah itu Gaara, Naruto atau siapapun. Namun sayang, belum sampai nada sambungan terdengar handphone telah mati kehabisan daya.

'Andai saja aku tidak mendengar musik, aku bisa menghubungi Gaara atau siapapun,' rutuknya dalam hati.

Sakura mulai menenggelamkan kepalanya pada lutut yang ia tekuk dengan tumpuan kedua tangannya yang berada di atas lutut. Ia sudah tak berani melihat sekelilingnya yang makin terlihat gelap olehnya.

"Gaara, hiks, Naruto, hiks, Kiba, hiks, Chouji, hiks, Lee, hiks, tolong aku ...," tangisnya.

.

.

.

.

.

Sementara itu di taman.

"Hei Kiba, Saku-chan belum datang ya?" tanya Naruto yang duduk di sebelah Kiba.

"Entahlah, tumben sekali dia belum datang," jawab Kiba seadanya.

"Hei, dimana Sakura?" tanya Gaara yang baru datang.

"Aku baru saja menanyakan hal yang sama pada Kiba," jawab Naruto.

"Aneh sekali, tidak biasanya dia datang terlambat," sahut Chouji sambil memasukkan keripik kentang ke dalam mulutnya.

"Aku juga sudah berusaha menghubunginya. Tapi sepertinya handphone lowbet," timpal Kiba.

"Aku akan menjemputnya ke kelas," kata Lee bersemangat.

"Biar aku saja," ucap Gaara datar.

"Baiklah kita cari berdua. Kau ke kelasnya dan aku pergi ke kantin untuk bertanya pada temannya. Sekalian ada yang ingin kubeli di kantin," ucap Lee sambil menunjukkan cengiran dan acungan jempolnya.

Gaara mengangguk dan akhirnya berbalik untuk meninggalkan taman, di ikuti oleh Lee di belakangnya.

"Beritahu kami jika dapat informasi ya," teriak Naruto pada Gaara dan Lee yang mulai berjalan menjauhi mereka.

.

.

.

.

.

Saat Gaara hendak menuju kelas Sakura, ia berpapasan dengan Ino, teman sekelas Sakura. Ia berbalik dan memanggil Ino.

"Ino ...," panggil Gaara.

"Iya, ada apa senpai memanggilku?" tanya Ino bingung setelah berbalik ke arah Gaara. Tidak biasanya Gaara yang terdengar cuek menyapa adik kelas sepertinya, kecuali Sakura tentunya.

"Apa kau melihat Sakura?" tanya Gaara.

"Hmm, Sakura ya," Ino tampak berpikir dan mengingat-ingat. Maklum, Ino termasuk anak yang pelupa.

"Ah iya, tadi dia ketiduran di kelas. Kemudian Asuma sensei menghukumnya. Dia disuruh membersihkan gudang penyimpanan bola basket di belakang sekolah." Ino memberi penjelasan.

"Terima kasih," ucap Gaara dan langsung berlari menuju gudang belakang sekolah.

'Apa yang sebenarnya terjadi padamu Sakura? Apa kau belum selesai membersihkan gudang?' Gaara bertanya-tanya dalam hatinya. Entah kenapa perasaannya tidak enak.

Begitu sampai di depan pintu gudang, ia mendengar suara isak tangis. Tidak salah lagi, itu adalah suara Sakura.

"Sakura, kau di dalam?" tanyanya panik, sambil berusaha membuka pintu gudang.

"Gaara? Kaukah itu, hiks," sahut Sakura dari dalam.

"Iya. Ini aku. Ada apa denganmu? Kenapa kau menangis?" Suara Gaara terdengar sangat khawatir.

"Aku takut Gaara, hiks," jawab Sakura.

"Tenanglah. Ada aku disini. Aku akan mengambil kunci dan segera kembali." Gaara siap berbalik, tapi Sakura menghentikannya.

"Tidak Gaara. Jangan tinggalkan aku. Kumohon, aku takut ...," lirih Sakura.

"Baiklah, aku tetap disini. Tenanglah Sakura. Kau tidak sendirian. Ada aku bersamamu. Berhentilah menangis," ucap Gaara berusaha menenangkan.

"Um," ucap Sakura pelan seraya mengangguk.

Gaara langsung mengambil ponselnya dan menelepon Naruto.

"Naruto, tolong ambil kunci gudang penyimpanan bola basket. Sakura terkunci di gudang."

"Iya, cepatlah!"

Gaara mematikan sambungan teleponnya dan kembali mengajak Sakura bicara, agar ia tidak merasa sendirian.

Tidak lama kemudian Naruto dan kawan-kawan sampai di gudang dan menyerahkan kunci gudang pada Gaara. Gaara membuka pintu gudang dan akhirnya Sakura keluar.

Sakura yang keluar langsung berhambur memeluk Gaara dan menangis di pelukannya.

"Aku takut Gaara," isaknya.

"Tenanglah, kau sudah di luar. Tak ada yang perlu ditakuti lagi," ucap Gaara sambil mengelus punggung Sakura.

'Kami-sama, hentikanlah waktu dan biarkan aku menikmati ini,' batin Gaara.

"Ini ...," Lee menyerahkan air mineral pada Sakura.

Gaara membantu Sakura minum agar perasaannya lebih tenang.

"Sakura, ternyata kau takut hantu ya? Aku kira gadis tomboy sepertimu tidak takut apapun, hehehe." Naruto tertawa kikuk.

"Huh, jangan menggodaku Naruto, kau juga takut kan?" ketus Sakura.

"Hahaha begitulah," ucap Naruto sambil menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal.

"Aku sama sekali tidak mengira Sakura bisa menangis hanya karena terkunci di gudang," timpal Lee.

"Bukan masalah terkunci, tapi itu karena disini ada desas-desus tentang hantu," gerutu Sakura.

"Apa yang akan dikatakan Sasuke dan yang lain, jika tau kau secengeng ini ya?" ucap Kiba membayangkan reaksi teman-temannya yang berada di Suna. Dan sukses mendapat deathglare dari Sakura.

"Bisakah kalian berhenti menggoda Sakura?" ucap Gaara dingin dan datar.

Mereka semua berhenti tertawa dan merasakan hawa membunuh dari Gaara.

"Gaara, kau ini benar-benar seperti Nii-chan yang over protektif ya pada Sakura," timpal Chouji.

Mereka kembali tertawa bersama. Tawa lepas seperti yang biasa mereka lakukan. Gaara tersenyum tipis menanggapi perkataan Chouji. Tapi dalam hati dia berkata, 'Andai kalian tahu, kalau aku mencintainya.'

.

.

.

TBC


Huwaaa...gomen baru update setelah sekian lama... Thanks special to kyuaiioe yang udah mau follow dan review fic aku ini. Makasih juga buat yang udah follow dan fav fic yang sangat biasa ini. Aku tanpa kalian,,,butiran debu...#nyanyi #plaaak...

Huwaaa makasih buat Luca Marvell senpai ^^...langsung ku ubah nih...maklum aku pelupa dan ga cek lagi...gegara keseringan make Suna...#plaak *alesan

Rencananya chap depan mau dibikin tamat, tapi tergantung keadaan juga, hanya saja, saya emang ga bermaksud bikin fic ini sampe banyak chapter.

Sekali lagi makasih ya untuk kalian semua. Kritik, saran dan review selalu dinanti...Arigatou minna ^^

With Love,

Saita