Summary : Senna lari dari rumah karena tidak ingin dijodohkan dengan putra kurosaki. Karena itu, Rukia harus menggantikan Senna….R&R please…^^

Author: Juzie chan

Disclaimer : Om Kubo lah...Author cuma minjam tokoh om Kubo hingga batas waktu yang terhingga (hingga bleach tidak ada lg di dunia ini...huhuhu)

Pairing : IchiRuki, slight IchiSena, RukiRen, ByakuRuki (ini mudah-mudahan enggak...)

Warning! : banyak Typo, AU, OOC, EYD tidak sesuai, Gaje, Jayus, Abal, penuh kenistaan, membosankan, dan segala kekurangan-kekurangan yang lainnya.

Oh, ya...

Salam kenal semua ya...Juzie adalah author baru belajardan tidak berpengalaman di dunia fanfiction. mohon dimaklumin ya sodara-sodara jika story yang Juzie buat sangat sangat tidak mengundang selera tapi kalau ada yang R&R Juzie akan sangat berterima kasih...

Mohon bimbingannya...

*Tengkyu ya yang udah baca and review di Chapter sebelumnya...Author sama sekali ga nyangka kalau fic ini bakal ada yang baca...^^

Ch 9

Son of Conglomerate

Kini Rukia berada di dalam kamar setelah pulang dari festival, berbaring di futon bersama boneka Chappy berukuran besar yang dibelikan oleh Ichigo. Rukia bercerita dengan Chappy mengenai Ichigo.

"Chappy…menurutmu apa Ichigo menyukaiku?" tanya Rukia ke Chappy, si Chappy hanya diam.

"Lalu, kenapa tadi dia seperti melamarku?" Rukia bertanya kembali, "dia juga mengataiku cantik…" Rukia lalu mendesah, "aku sempat kege-eran tadi…"

"Lalu? Apa kau menyukainya, Rukia?" Rukia membuat suaranya seperti anak-anak seakan-akan si Chappy-lah yang bersuara.

Rukia mendesah kembali. "Aku bahkan tidak tahu dengan perasaanku sendiri…"

oOo

Di Mansion Kuchiki, di ruang kerja pribadinya, Byakuya seorang diri duduk di lantai depan meja, ia terlihat sibuk mengulaskan kuasnya di atas selembar kertas membentuk huruf-huruf kanji yang indah bagai karya kaligrafi.

Tok tok tok…

"Silahkan masuk," kata Byakuya tanpa menghentikan aktivitasnya.

Seseorang dari luar membuka pintu, nampak seorang wanita berambut hitam berponi mengenakan pakaian tanpa lengan.

"Silahkan duduk, Soi Fon! Aku dari tadi menunggumu…" kata Byakuya masih mengulaskan kuasnya di atas kertas.

Wanita bernama Soi Fon lalu duduk di hadapan Byakuya, ia lalu mengeluarkan beberapa lembar foto dan menyerahkannya ke Byakuya. Byakuya lalu menghentikan aktivitasnya, pandangannya yang dingin langsung tertuju pada foto-foto itu.

"Kabar terakhir yang kudapat, Kuchiki-san pernah berada di Hueco Mundo…" kata Soi Fon, ia ternyata adalah detektif yang ditugaskan oleh Byakuya untuk mencari Senna, "di sana, ia menginap di Hotel Arrancar dan menurut kabar Hotel itu adalah milik orang tua salah satu teman Kuchiki-san, namanya Neil."

"Lalu?" Byakuya bertanya.

"Waktu aku mengeceknya di Hueco Mundo…ternyata Kuchiki-san sudah tidak berada di sana," sahut Soi Fon, "Tapi, kita bisa mencari informasi melalui Neil…"

"Kalau begitu, lakukan…dan tolong secepatnya temukan dia!" perintah Byakuya.

"Baik. Secepatnya kami laksanakan," kata Soi Fon lalu pamit keluar.

Byakuya menatap foto-foto Senna yang berada di Hueco Mundo. Dari wajahnya terlihat kebimbangan dan kekhawatiran apakah keadaan adiknya baik-baik saja.. dan mengapa sampai sekarang Senna belum pulang juga?

Bukan hanya itu juga, Byakuya juga bimbang mengenai pertunangan antara Rukia dan Ichigo Kurosaki. Bagaimanapun, pertunangan mereka tetap harus dilanjutkan. Masalahnya, keluarga besar klan Kuchiki menginginkan perjodohan antara Senna dan putra dari Kurosaki, itulah sebabnya pertunangan antara Rukia dan Ichigo tidak diketahui oleh keluarga besar Kuchiki. Begitu pula dengan keluarga Kurosaki, mereka tidak boleh tahu bahwa Rukia hanyalah adik angkat Byakuya Kuchiki.

Ketika Soi Fon keluar dari ruangan Byakuya, tiba-tiba Renji sudah berdiri di dekatnya, bersandar di dinding sambil menyilangkan tangannya.

"Apa Kuchiki-san sudah ditemukan?" tanya Renji lansung tanpa basa-basi.

Soi Fon menoleh ke arah Renji. "Belum," sahutnya, "tapi kami menemukan baru-baru ini Kuchiki-san pernah berada di Hueco Mundo," tambah Soi Fon lalu meninggalkan Renji. Renji diam, ia malah terlihat seperti sedang berpikir serius.

oOo

"Syalalalalalala…~" terlihat Rukia sedang berjalan dengan ceria di koridor sambil mendendangkan lagu.

"Huh, senang sekali kau!" suara seseorang tiba-tiba.

Rukia berhenti melangkah dan menoleh ke samping, Renji sedang berdiri di depan altar, memandang Rukia dengan senyum menyeringai.

"Aku senang atau sedih itu bukan urusanmu, Renji," timpal Rukia.

"Oh ya?" kata Renji, "tapi kurasa kau akan lebih 'senang' bila mendengar berita ini…" Renji menggantungkan ucapannya.

"Apa?" Rukia menatap serius Renji.

"Baru-baru ini, Senna ditemukan berada di Hueco Mundo dan…mungkin tidak lama lagi dia akan pulang."

Sekilas Rukia mengerutkan alisnya. "Apa kau sengaja menemuiku hanya untuk memberitahukan berita itu?" kata Rukia agak sinis, "baguskan kalau Senna bisa cepat pulang, itu berarti kita tidak perlu terlalu khawatir lagi…" lalu Rukia hendak meninggalkan Renji tapi Renji segera menarik lengan Rukia dan memaksanya untuk berhadapan dengannya.

"Kau ini bodoh atau apa Rukia?" kata Renji emosi, "apa kau tidak memikirkan bagaimana pertunanganmu dengan Ichigo jika Senna pulang? Jangan naïf! Kau hanya menggantikan Senna dan kau tahu sendiri kalau keluarga Kuchiki menginginkan pernikahan antara Senna dan Ichigo! Kau seharusnya lebih memikirkan posisimu sekarang!"

"Itu bukan urusanmu, Renji…"

"Memang! Tapi aku peduli!"

Rukia tertegun dengan ucapan Renji barusan, Renji kini menatap lekat-lekat Rukia. Rukia hanya bisa terdiam merenung, ternyata Renji, sahabat yang telah lama pisah dengannya masih peduli dengannya.

Jujur Rukia tidak pernah ingin memikirkan bagaimana kelanjutan pertunangannya dengan Ichigo. Bagaimana nanti kalau Senna pulang, keluarga kurosaki pasti nantinya mengetahui bahwa yang seharusnya bertunangan dengan Ichigo itu adalah Senna. Lalu, pada saat itu apa yang akan terjadi dengan Rukia?

oOo

Ichigo's POV

Akhirnya 14 hari telah berlalu dan itu artinya hukumanku telah berakhir…huahahaha. Aku bisa bertemu dengan Rukia lebih leluasa. Oh ya, aku akan memberikan Rukia handphone karena Rukia termasuk spesies manusia kuno seperti Byakuya yang tidak memiliki handphone, scara ya…Byakuya tidak membutuhkan handphone karena ia cukup menyuruh pelayannya untuk menghubungi si anu atau si itu dan pelayannya selalu stand by di dekatnya.

Ya…aku membelikan rukia handphone yang murah-murah saja sih hehehehe, cukup yang bisa menelpon, mengirim sms, ada senternya, dan juga ada gamenya, hehehe..layarnya hitam hijau sih. Aku sengaja tidak membelikannya handphone yang memiliki aplikasi untuk internet. Takutnya Rukia nanti sepeti Inoe…dirayu oleh pria-pria di sosial media.

Kini aku berada di Mansion Kuchiki. "Di mana Rukia?" tanyaku pada seorang pelayan.

"Ada di koridor samping, Tuan," kata pelayan itu, "Boleh saya antar, Tuan?" tawarnya.

"Tidak usah," sahutku.

Lalu aku segera menuju ke koridor samping. Benar saja di sana ada Rukia tapi…dia tidak sendirian, ada Renji juga rupanya dan….apa-apaan si Renji itu?! berani-beraninya dia memegang lengan tunanganku seperti itu! dan juga…kenapa juga dia memandangi rukia seperti itu?! dan…kenapa Rukia diam saja? wah…tidak benar ini!

Aku datangi mereka saja. "Sedang apa kalian berdua di sini?!" tegurku. Rukia dan Renji terkejut dengan kehadiranku.

"I-Ichigo! sejak kapan kau ada di sini?" tanya Rukia, dia terlihat agak gugup.

"Barusan…" sahutku agak jengkel. Aku menatap tajam si Renji, dia hanya cuek saja.

"Rukia…ayo kita berduaan di sana!" ajakku sambil menarik tangan Rukia. Rukia menurut saja, kami lalu meninggalkan Renji.

Aku mengajak Rukia duduk di dekat kolam ikan besar. "Si Renji itu…" aku memulai pembicaraan, "kurang ajar sekali dia memegang tanganmu seperti tadi…apa dia tidak menganggapmu sebagai adik majikannya?"

"Itu biasa saja, Ichigo…dari kecil aku dan Renji sudah sahabatan dan kami sangat dekat…" Rukia menjelaskan.

Hah? jangan-jangan…kisah cinta sahabat yang tidak kesampaian yang Rukia maksud dulu waktu festival adalah….Renji? Jangan-jangan Renji menyukai Rukia lagi. Ini tidak baik, benar-benar tidak baik!

"Kenapa kau terlihat kesal begitu Ichigo? jangan-jangan…." Rukia menatapku menyelidik, "….kau cemburu?" tanyanya.

"Huh, tidak mungkin!" sahutku. Kenapa juga aku harus cemburu dengan si rambut merah berbentuk nenas. Tapi…

"Baguslah kalau begitu…" gumam Rukia. "Oh ya, Ichigo, kenapa kau ke sini?" tanyanya kemudian.

Aku jadi teringat dengan handphone yang ingin kuberikan untuk Rukia. Aku lalu mengeluarkan handphone jadul itu dari sakuku.

"Ini…handphone untukmu, Rukia," kataku sambil menyerahkan handphone bercashing motif Chappy, "mulai sekarang kita bisa saling menelpon dan mengirim sms," kataku.

Rukia menatap handphone itu. "Ini handphone, ya?" tanyanya polos, "kenapa beda sekali dengan yang ada di TV…di TV terlihat lebih besar, datar dan tipis…"

"Ini model baru Rukia," kataku asal, "yang model seperti ini sangat jarang yang punya, aku belikan spesial untukmu. By the way…jangan perlihatkan dan jangan juga beritahu Byakuya ya kalau aku memberikanmu Handphone."

Rukia mengangguk lalu mengambil handphone itu, ia mengamati dan memeriksanya. "Ichigo…ini…bagaimana menggunakannya?"

Aku sweatdrop mendengar pertanyaan polos Rukia. Ternyata oh ternyata… seperti yang kuduga, Rukia benar-benar spesies manusia kuno.

Aku lalu mengajari Rukia cara memanggil, mengirim sms, menyimpan nomor, memasang alarm, menyalakan senter hingga permainan game.

"Pencet itu Rukia…ya…itu itu yang ada tanda panah ke bawah…bukan yang itu...ja-KAU MENGERTI TIDAK SIH?!" teriakku frustasi.

Rukia cemberut menatapku, "kau tidak perlu teriak seperti itu Ichigo…"

"Lagian, sudah sejam aku ajarkan tapi kau tidak paham-paham juga, padahal tadi sudah diulangi berkali-kali kan!"

"Ah, kau yang tidak tahu bagaimana cara mengajar, Ichigo!"

"Kau yang bodoh!"

PLAKK

Aku mendapat tamparan keras, tapi…

Plakk

Aku balas saja tamparan Rukia…Huh, biar tahu diri dia, tapi sumpah tamparanku tidak keras koq!

Plakk

Rukia menamparku lagi.

Plakk

Aku tampar lagi dia karena aku tidak mau kalah.

Plakk

Plakk

Plakk

Jadilah kami berdua saling menampar satu sama lain hingga…

"Apa yang sedang kalian lakukan di sini?" BYAKUYA!

Kami berdua langsung berhenti seketika. Perlahan-lahan aku menoleh ke arah Byakuya, dan waktu aku memandang Byakuya ternyata api sudah berkobar-kobar di belakang Byakuya dengan dahsyatnya. Byakuya melempariku tatapan deathglare seakan-akan ia mengatakan 'berani sekali kau menyentuh pipi adikku seperti itu?!'

"Nii-sama…" sapa Rukia.

Byakuya lalu melirik handphone yang ada di genggaman Rukia. "Apa itu Rukia?" tanyanya.

Gawat! Byakuya jadi lihat handphone itu. Aduh Rukia…tadi kan aku sudah bilang kalau jangan perlihatkan ke Byakuya! Bisa-bisa dibuang lagi sama Byakuya.

"Oh, ini? ini namanya hand…hand…aduh…tadi apa ya namanya?" Rukia lupa, ini kesempatan.

"Handgame!" seruku.

"Ya, Handgame!" Rukia ikut-ikutan berseru, "tadi aku lupa…" Hehehehe…

Rukia… Rukia…

Byakuya menaikkan sebelah alisnya. "Handgame?"

"Iya Nii-sama…ini ada macam-macam game di dalamnya, ada space impact, snake impact…" sahut Rukia.

"Snake impact?" Byakuya bertanya, "bukankah itu permainan yang paling popular?" aku melongo mendengar pertanyaan Byakuya barusan.

"Iya Nii-sama…" sahut Rukia dengan polosnya, "nih…" Rukia lalu memperlihatkan sekaligus mendemonstrasikan cara bermain snake impact. Astaga… ternyata dari semua yang aku ajarkan tadi permainan snake impact yang paling Rukia kuasai.

Byakuya terus memperhatikan dengan serius permainan snake impack yang dimainkan Rukia. "Aku juga sangat suka permainan snake impact….Kurosaki, tolong kau belikan aku juga handgame seperti ini ya!"

GUBRAK

Byakuya yang seorang bangsawan yang terkenal, tegas, dingin, dan angkuh ternyata menyukai permainan jadul snake impact! Sekali lagi, snake impact! Astaga naga…

"I…iya…" sahutku. Tuhan…tolong selamatkan aku dari manusia udik ini.

"Rukia…jangan lupa nanti kau ajarkan aku bermain snake impact! Aku harus pergi dulu, ada urusan penting sebentar," kata Byakuya lalu melangkah meninggalkan kami berdua, "Kurosaki, jangan lupa nanti belikan aku handgame persis punya Rukia!" Byakuya memperingatkanku kembali setelah berjalan beberapa langkah lalu berbalik pergi.

oOo

Lalu, bagaimana keadaan Senna sekarang?

Di Garganta, suatu kota yang tidak begitu jauh dari Hueco Mundo.

Seorang pria berkacamata dan berambut coklat nampak duduk tenang di ruang kerja pribadinya. Wajahnya yang selalu memancarkan kebijaksanaan sedang mengamati dokumen-dokumen penting mengenai perkembangan berbagai perusahaannya dan ia hanya mengamatinya dari rumah. Ia adalah pemimpin dari Hollow Grup, induk perusahaan terbesar, terkaya dan paling terkenal di Garganta dan Hueco mundo. Mengapa di hueco mundo? Karena kebanyakan cabang perusahaannya didirikan di Huecomundo. Ia bernama Sousuke Aizen.

Seorang pria muda lalu masuk ke ruangan Aizen tanpa mengetuk pintu. Wajahnya rupawan, tubuhnya tinggi dan ia memiliki rambut berwarna putih tapi, bukan uban ya..

"Ayah, aku mau keluar dengan teman, bisa kupinjam kartu kreditmu lagi?" kata pria muda yang merupakan anak Sousuke Aizen.

Aizen mengangkat sedikit wajahnya, dipandanginya anak satu-satunya itu dengan alis yang sedikit mengerut.

"Lagi?" tanya Aizen, "akhir-akhir ini kau selalu saja keluar dengan temanmu itu, Kokuto," kata Aizen, nama anak dari Aizen bernama Kokuto ternyata. "Kau jadi lebih jarang berada di rumah."

"Aduh ayah…aku ini sudah besar dan aku ini laki-laki!" keluh Kokuto, "seperti anak perempuan saja kalau tinggal terus di rumah."

Aizen mendesah. Anak jaman sekarang memang kebanyakan sudah pintar berbicara keras dan tak sopan dengan orang tua. Apalagi Kokuto yang masih berusia dua puluh tahun, usia yang masih sangat mudah memang. Awalnya Kokuto hanyalah seorang anak laki-laki yang sangat patuh dengan orang tua tunggalnya namun sejak ia berteman dengan seorang gadis yang ia temui di Hueco Mundo, ia jadi lebih menentang ayahnya. Bukan berarti gadis huecomundo itu yang telah mempengaruhi Kokuto untuk menentang ayahnya, hanya saja nampaknya Kokuto sangat menyukai gadis itu sehingga apapun ia lakukan untuk bisa terus bertemu dengan gadis idamannya itu.

"Baiklah…"sahut Aizen kemudian, "aku akan memberikanmu kartu kredit asalkan…" Aizen menggantung ucapannya.

"Jangan bilang kalau pengawal ayah juga harus ikut?!" celetuk Kokuto, "astaga ayah ayah…apa setiap aku keluar si Gin Ichimaru itu juga harus ikut? Aku ini bukan bayi lagi yang harus diikuti oleh babysitter!"

"Terserah…" kata Aizen dengan tenang, "kalau kau tidak mau ayah juga tidak mau memberikan kartu kre-"

"IYA- IYA!" Kokuto berseru jengkel, "okelah kalau si rubah itu ikut….tchhh."

"Aku harap kau bisa mengerti Kokuto…"

"yaya…aku mengerti…" kata Kokuto sembari keluar dari ruangan Aizen.

Aizen menggeleng-gelengkan kepalanya. "dasar anak muda…."gumamnya.

/

Seorang gadis berambut ungu yang dikuncir dengan pita merah sedang duduk di bangku taman sambil mengayung-ayungkan kakinya. Siapakah dia? dia adalah Senna, adik dari Byakuya Kuchiki yang sudah dua bulan lebih minggat dari rumah. Ia kini berada di taman kediaman Sousuke Aizen, sedang menunggu seseorang.

"Senna, kau menunggu lama?" sapa Kokuto. Inilah pacar Senna, anak dari si konglomerat Sousuke Aizen.

Senna memanyungkan bibirnya. "Lumayan…" sahutnya rada kesal.

"Hahahaha…kau memang terlihat lebih cantik jika marah seperti itu, Senna!"

"Oh…kau pikir…aku akan senang mendengar gombalanmu barusan?" Senna menatap sinis Kokuto.

"Aku cuma mengatakan yang sebenarnya, kau benar-benar cantik…" kata Kokuto, lalu ia meraih tangan Senna, "okelah aku mohon maaf karena telah membuatmu menunggu lama, ummmm bagaimana kalau aku membayarnya dengan mengajakmu jalan dan mentraktirmu makan?"

"ummmm….bagaimana ya?" Senna sedang bercanda, seolah-olah terlihat berpikir.

"Ayolah senna…" rayu Kokuto, "pokoknya kita senang-senang malam ini."

"kau yang bayar ya…"

"Tentu saja…"

/

Kini Kokuto dan Senna berada di restoran tepi pantai, menikmati steak dari daging sapi dan angin malam…

"Kokuto…" Senna memulai pembicaraan, "Apa pria itu harus terus mengikuti kita?" tanya Senna sambil diam-diam menunjuk Gin Ichimaru yang duduk tidak jauh dari meja Senna dan Kokuto, ia menunjuk Gin dengan garpunya.

"Ya…kau tahu sendirikan kalau ayahku itu terlalu lebay."

"Orang itu buat kita tidak leluasa saja…"

"Benar.." kata Kokuto, "oh ya, Senna…aku ingin segera memperkenalkanmu dengan ayahku nanti…"

Senna lalu mendesah, "jangan dalam dekat ini ya, aku harus bicara dulu dengan kakakku…"

"Kalau begitu, cepatlah!" kata Kokuto.

"Tidak semudah itu…aku kan sudah cerita kalau kakakku itu ingin menjodohkanku dengan pria lain, kalau aku bertemu dengannya sekarang…bisa-bisa aku malah dipaksa menikah!" terang Senna, "nanti kalau keadaan sudah tenang, aku pasti akan menemui kakakku."

Kedua sejoli tersebut melanjutkan makan malam mereka. Mungkin agak mengherankan kalau ternyata Senna telah menjadi kekasih pria lain. Lalu, bagaimana dengan Ichigo, pria berambut orange yang juga menyukai Senna sewaktu di Hueco Mundo? Ya…Sebenarnya Senna juga tertarik dengan si rambut orange itu, ia malah sempat berpikir untuk menerima cinta Ichigo. Tapi, setelah kencan mereka yang diakhiri dengan pernyataan sukanya Ichigo kepada Senna, kabar Ichigo tidak pernah lagi diketahui Senna. Senna jadi malah menganggap ternyata selama itu Ichigo hanya merayunya saja, buktinya pemilik rambut orange itu tidak pernah nampak berusaha mencari dan menghubungi Senna. Senna memutuskan untuk tidak mengharapkan si strawberry berambut orange itu.

Tidak lama kemudian Senna bertemu dengan Kokuto sewaktu Kokuto berliburan di Hueco Mundo dan menginap di Hotel Arrancar. Kebetulan Kokuto langsung menyukai Senna sewaktu pertama kali melihatnya, bisa dibilang kalau Kokuto mengalami jatuh cinta pada pandangan pertama, aneh memang. Dan…siapa sih yang tidak mengenal anak dari seorang konglomerat terkaya dan terkenal di Hueco Mundo. Tentu Senna tidak membiarkan kesempatan ini lepas, apalagi kondisi keuangan Senna yang semakin miris. Seorang pria muda yang tampan dan kaya raya kebetulan mendekatinya di saat yang tepat, ini benar-benar keberuntungan bagi Senna.

oOo

Kembali ke keluarga Kurosaki…

Kurosaki sekeluarga hari ini akan berkunjung ke pemakaman Masaki, tepatnya di Hokutan, distrik 1 bagian utara Rokungai, soul society. Tiap tahun mereka pasti akan mengunjungi makam Masaki di tanggal kematian Masaki Kurosaki.

Nampak Ichigo dan Isshin berdiri di tepi makam masaki sedangkan Yuzu dan karin jongkok. Isshin menyirami tanah makam Masaki dengan air dalam botol, Yuzu dan Karin sedang mendoakan ibunya dengan kusyuk, dan Ichigo, ia hanya terus menatap makam ibunya.

Ichigo's POV

Ibu…kau pasti tahu kan kalau aku sekarang sudah bertunangan dengan adik Byakuya, Rukia Kuchiki. Awalnya aku ragu dengan pertunangan ini…tapi ternyata…aku telah bertunangan dengan gadis yang baik, ia polos dan lucu seperti anak-anak…tiap aku bertemu dengannya aku selalu saja tersenyum, tertawa malah. Aku jadi lebih bisa menjadi diriku sendiri…hahaa. Ayah, Yuzu dan Karin sangat menyukainya, aku yakin kalau ibu bertemu dengannya ibu pasti juga menyukainya. Ibu…sepertinya aku benar-benar menyukai Rukia…

"Ooi..Ichigo!" ayah memanggilku.

Aku menoleh ke belakang, ternyata ayah, Yuzu dan karin sudah duduk masuk di mobil. Tumben sekali mereka cepat-cepat masuk ke mobil, aku belum tuntas bercerita dengan ibu tentang Rukia…

Ibu…aku pulang dulu ya. Salahkan si tua Bangka suamimu itu yang ingin cepat-cepat pulang, dasar dia…

Aku lalu menuju ke mobil dan duduk di samping sopir yaitu ayah…hehee.

"Let's Go! Kita meluncur sekarang!" seru ayah. Rasanya aneh saja, kenapa ayah terlihat sangat semangat hari ini.

"Ooooww senangnya dalam hati…bila beristri dua…~" ayah menyetir mobil sambil mendendangkan lagu. Yuzu dan karin sepertinya sednag asyik membaca komik di belakang. Sedangkan aku, aku hanya menatap pohon-pohon di pinggir jalan. Suasana di rokungai memang sangat beda jauh dengan suasana kota, malah bisa dibilang jika kita berada di rokungai kita akan merasa bahwa kita telah kembali ke jaman edo. Semua serba terlihat tradisional. Tapi sepertinya asyik juga tinggal di tempat seperti ini, suasananya amat tenang, udaranya juga sejuk, aku jadi ingin kelak aku sudah menikah aku ingin tinggal di sini saja.

"…kalau dua dua merajukk…kanda kawin tigaaaaaaa~" ayah lalu mengambil belokan ke kanan.

"Ayah…apa ayah mabuk?" tanyaku.

"Tentu saja tidak!" sahut ayah berseru.

"lalu…kenapa ayah mengambil jalan yang salah? Ini bukan jalan menuju karakura, ayah!" aku mengingatkan ayahku, siapa tahu ayah lupa jalan pulang.

"Benar kah itu, Ichi-nii?" suara Karin.

"ow ow ow ow…ayah tidak salah mengambil jalan anak-anakku, ayah memang tidak ingin pulang sekarang…."

"Ha?" aku menatap aneh ayahku.

"Kemarin ayah meminta cuti selama seminggu…" terang ayah. "Jadi…mungkin selama empat atau lima hari kita akan berwisata ke penginapan onsen Hokutan! Syalalalalalala…."

"Hah? kenapa ayah tidak bilang daritadi kalau mau menginap?!" protesku.

"Huh, dasar tua bangka…apa ayah sudah lupa kalau aku dan Yuzu harus sekolah besok!" kata karin sengit.

"Iya, Karin-chan benar!" seru Yuzu.

"Oh, kalau masalah itu tenang saja darla-darlaku, ayah tinggal telfon guru kalian kalau perlu kepala sekolah kalian ayah telfon! Jarang-jarang kita sekeluarga bisa liburan bersama.."

"Hoh…apa ayah sadar kalau kita semua tidak membawa baju ganti!" aku mengingatkan ayah.

"Yang itu tidak usah khawatir, Ichigo sayang!" kata ayah santai, "karena…di sana sudah disiapkan seragam, jadi kita tidak perlu susah membawa baju ganti…hahahaha.."

"Tapi…kitakan tidak bawa dalaman…masa iya selama itu kita tidak ganti dalaman…" kata Yuzu.

"Yuzu sayaaaaaangs..pokoknya kamu tidak perlu khawatir. Di sana itu, juga menyediakan dalaman, jadi nanti ayah tinggal bayar…hohohohohoho."

"iiiiihh…jangan sampai dalaman yang disediakan itu dalaman bekas orang…" Karin bergumam jijik.

Kini kami sampai di penginapan onsen Hokutan. Seperti namanya, penginapan ini menyediakan onsen, permandian air panas. Penginapan ini bernuansa sangat tradisional, di kiri kanan penginapan hanya ada hutan dan dibelakangnya kita bisa melihat pemandangan gunung. Benar-benar kita ke jaman edo sekarang.

"Jangan serius begitu Ichigo…pokoknya ayah tidak akan membiarkan kamu merasa kesepian…hihihihi.."

Aku menatap ayah dengan tatapan tanda tanya. Kesepian? Siapa yang kesepian?

"Selamat datang tuan-tuan…nona-nona…" kedua pelayan tante-tante yang mengenakan yukata berwarna dasar putih bermotif kota-kota biru menyapa ramah kami dan membukakan pintu geser untuk kami.

Kami masuk, ayah segera berurusan dengan bagian administrasi penginapan ini, salah satu pelayan mempersilahkan aku, Yuzu dan Karin untuk langsung masuk ke suatu ruangan, ruang tunggu barangkali. Saat pelayan membukakan pintu di ruangan itu, terlihat seorang gadis berambut hitam yang dikuncir memakai Yukata berwarna merah polos. Ia sedang menikmati teh hijau sambil duduk melantai.

"Hai Ichigo…" sapanya.

"Rukia?" aku melongo menatap gadis berambut hitam yang mengenakan Yukata yang sebenarnya adalah Rukia. Kenapa Rukia bisa ada di sini?

To be Continue...

oOo

Buat yang udah kangen ama Senna...ini Senna-nya uda ada ya :p

Mungkin dua atau tiga chapter berikutnya Ichigo bakal ketemu ama yayan Senna...hihihihi

Btw... Rukia yang di chapter bleach manga kemarin keren banget ya...ku langsung jatuh cintrong...hehehehehe