Summary : Senna lari dari rumah karena tidak ingin dijodohkan dengan putra kurosaki. Karena itu, Rukia harus menggantikan Senna….R&R please…^^
Author: Juzie chan
Disclaimer : Om Kubo lah...Author cuma minjam tokoh om Kubo hingga batas waktu yang terhingga (hingga bleach tidak ada lg di dunia ini...huhuhu)
Pairing : IchiRuki, slight IchiSena, RukiRen, ByakuRuki (ini mudah-mudahan enggak...)
Warning! : banyak Typo, AU, OOC, EYD tidak sesuai, Gaje, Jayus, Abal, penuh kenistaan, membosankan, dan segala kekurangan-kekurangan yang lainnya.
Oh, ya...
Salam kenal semua ya...Juzie adalah author baru belajardan tidak berpengalaman di dunia fanfiction. mohon dimaklumin ya sodara-sodara jika story yang Juzie buat sangat sangat tidak mengundang selera tapi kalau ada yang R&R Juzie akan sangat berterima kasih...
Mohon bimbingannya...
*Tengkyu ya yang udah baca and review di Chapter sebelumnya...Author sama sekali ga nyangka kalau fic ini bakal ada yang baca...^^
And...and...jangan kaget ya kalo fic ini semakin gaje aja...
CH 10
Burn in Hot Spring
"Ru…Rukia, kenapa kau ada di sini?" tanyaku.
Rukia hanya menjawab dengan senyuman. Senyumannya memang manis…ah, jangan-jangan maksud ayah tadi yang tidak akan membiarkanku kesepian ini ya? Ehehehehe…ayah tahu saja aku. Oh iya, aku baru ingat kalau kami akan menginap di sini empat atau lima hari…jadi…selama itu aku akan bersama dengan Rukia…terima kasih tuhan.
"Rukia-chan!" seru yuzu, ia dan karin lalu bergabung dengan Rukia.
"Kau baru sampai, Ichigo?" suara ini….suara yang tidak ingin aku dengar!
Aku menoleh sambil mendengus ke samping, Renji kini berdiri di sampingku dan menatapku sambil nyengir "kenapa kau juga ikut?!" pertanyaanku bernada protes. Kenapa si rambut nenas merah ini selalu saja mengikuti Rukia?!
Renji menatapku dengan mengerutkan alisnya, "memangnya kenapa?"
"Huh, aku jadi bingung sebenarnya pekerjaanmu itu asisten Byakuya atau pengawal Rukia? Tiap kali Rukia keluar kau selalu saja ikut!"
"Aku ini asisten Byakuya!" sahut Renji. "Tapi…waktu aku tahu ayah kamu mengajak Rukia, aku langsung menawarkan diri untuk mengawalnya…"
Sial!
"Kenapa? Kau mau protes?" tanya Renji sambil menyeringai, "sebenarnya aku lebih suka jika aku menjadi pengawal Rukia saja daripada jadi asisten kakaknya…"
"Tchh…" Renji ini benar-benar membuatku panas, ingin sekali aku menggunduli rambut panjangnya itu biar dia tidak banyak bicara yang tidak-tidak.
"Halo Semua!" seru ayah menemui kami, "sekarang kita akan membagi kamar. Di sini ada tiga kamar. Rukia, Yuzu dan Karin satu kamar, Ichigo dan Abarai-kun satu kamar, dan…ayah sendiri~"
Ayah lalu memberikan kami kunci kamar.
"Tunggu dulu ayah!" kataku, "kenapa aku harus sekamar dengan orang ini?!" protesku sambil menunjuk muka Renji. Aku benar-benar tidak suka kalau harus sekamar dengan Renji.
"Kenapa memangnya, Ichigo?" ayah bertanya balik. "apa kau merindukan pelukan hangat ayah saat kau ingin tidur? Ayah ingat waktu kamu kecil kamu tidak bisa tidur jika tidak dipeluk oleh ayah~"
"Berhenti bicara menjijikkan!" celetukku.
"Terserah Ichi-nii saja…yang pasti Ichi-nii tidak akan sekamar dengan kami bertiga!" eh…baru kali ini Karin berpihak dengan ayah!
"Bagaimana Ichigo, kau mau sekamar dengan ayah?" ayah menanyaiku sambil tersenyum-senyum mesum.
"OGAH!"
Terpaksa aku menerima untuk sekamar dengan Renji.
Hari sudah mulai gelap rupanya. Kami semua memasuki kamar masing-masing. Aku dan Renji… oh my God… tolong beri aku kesabaran untuk bertahan sekamar dengan pria menyebalkan ini! Bisa-bisa aku dan Renji berkelahi nanti.
Renji sedang mencari sesuatu di dalam lemari. Aku mengambil duduk jauh-jauh darinya. Rupanya Renji sedang mengambil handuk tadi.
"Ooi, Ichigo!" panggil Renji, "kau tidak mau berendam di onsen?" tanyanya.
"Tidak!" sahutku, "nanti saja, aku tidak terbiasa berendam dengan pria."
Renji malah tersenyum jahil ke arahku, "Oh… berarti… kamu terbiasanya mandi dengan wanita, ya?"
"Sialan!" geramku.
"Ups, aku duluan ya kalau begitu hehehe.." Renji lalu keluar dari kamar dengan membawa handuk.
Aku lalu memeriksa ponselku. Ada banyak sms yang masuk rupanya. Aku buka satu-satu…ternyata kebanyakan sms yang masuk adalah sms yang tidak penting. Ada yang isinya cuma "hai", ada juga yang "salam kenal ya", ada tentang undian lah, mama minta pulsa lah…huh, mamaku sudah lama meninggal kali! Eh ada sms yang isinya mengajak buat ikutan togel… trus ada juga yang sedang kampanye lewat sms… apa ini? sampah semua ternyata!
Ah, aku lega akhirnya ada sms yang isinya normal. Sms dari Ishida rupanya.
"Kurosaki, kau dmn?
ada yg ingin aku bcrkan dngnmu. Penting!"
Waduh, penting katanya. Lebih baik aku telpon saja Ishida.
"Maaf…pulsa anda tidak mencukupi untuk melakukan panggilan. Silahkan mengisi pulsa terlebih dahulu!"
Shit! Pulsaku habis rupanya. Aku tidak sadar kalau pulsaku sudah habis. Bagaimana ini? Jangan-jangan ini menyangkut Chappy Land!
Aku melirik ponsel berwarna hitam tipis berlayar datar, tipis dan berukuran cukup besar yang kini tergeletak di lantai. Sepertinya itu ponsel Renji… Aaaha! kupakai saja untuk mengirim sms…ah, kupakai menelfon saja! Pulsa Renji pasti banyak karena ia harus terus menghubungi Byakuya untuk memberi laporan mengenai Rukia… ehehehehe…aku pakai pulsamu dulu ya Renji.
Aku kini menggenggam ponsel Renji. ternyata ponselnya oke juga…dan sepertinya mahal. Huh, berapa sih Byakuya menggaji Renji itu?
Aku lalu membuka kuncinya dan…terpampam wallpaper dengan gambar…bukan gambar tapi…foto! Mataku membelalak sewaktu melihat foto yang menjadi wallpaper di ponsel Renji. Dasar si Renji itu! Berani-beraninya dia!
Tiba-tiba aku dikagetkan dengan suara pintu yang bergeser. "Oi, Ichigo!" ternyata itu Renji. Gawat, aku sementara memegang ponselnya! Cepat-cepat kuletakkan di lantai. Untungnya posisiku sedang duduk membelakangi pintu.
"Kau benar-benar tidak ingin ikut berendam, Ichigo?" tanya Renji.
"Nanti aku menyusul!" sahutku tanpa menoleh sedikitpun.
"Oh…ya sudah," kemudian Renji menggeser menutup kembali pintu.
Aku kembali mengambil ponsel Renji dan menatap foto di wallpapernya. Rasanya sulit sekali aku menerima kenapa foto itu bisa menjadi wallpaper. Itu adalah foto Rukia…Rukia yang terlihat tersenyum menghadap ke samping. Kenapa Renji menjadikan foto Rukia sebagai wallpaper? Jangan-jangan… Astaga, apa Renji menyukai Rukia? Wah tidak benar ini! Rukia itu tunanganku! Bagaimana bisa dia menjadikan foto tunangan orang lain sebagai wallpaper di ponselnya?!
oOo
Sinar matahari pagi yang masuk dari celah gorden menyambar wajah Ichigo. Ia mengerjapkan matanya sebentar lalu berbalik ke samping untuk melihat teman sekamarnya. Ternyata Renji sudah tidak berada di kamar.
"Hoaaaaaaaamm" ichigo bangkit sambil menguap, meregangkan kedua tangannya ke atas. "Kemana lagi si rambut merah itu?" gumamnya. Dengan malas ia lalu berdiri, menuju kamar mandi untuk mandi lalu mengenakan Yukata seragam berwarna biru polos. Setelah mengenakan Yukatanya, Ichigo lalu menuju ke ruang makan. Di sana sudah ada Isshin yang memakai Yukata seragam dengan Ichigo, Yuzu, Karin dan Rukia memakai seragam Yukata merah polos, ini adalah seragam Yukata untuk wanita di penginapan itu.
"Selamat pagi, Ichigo!" sapa Isshin ke putra satu-satunya itu, "ayah baru saja ingin ke kamarmu untuk mengecekmu apakah kau sudah bangun atau tidak."
Ichigo lalu ikut gabung, ia mengambil duduk tepat di depan Rukia. Ia celengak-celengok pelan, seperti mencari seseorang.
"Dimana Renji?" tanya Ichigo.
"Renji keluar sebentar, katanya mau lihat-lihat di luar sebentar," kata Rukia.
"Oh…"
"Ichi-nii, apa semalam ichi-nii tidak bisa tidur?" tanya Yuzu, "tengah malam aku bangun dan aku lihat ichi-nii sedang duduk di luar."
"Ya… bagaimana aku bisa tidur kalau teman sekamarku sangat serampangan tidurnya," sahut Ichigo, dari raut wajahnya terlihat jelas ia sedang jengkel.
Beberapa pelayan lalu masuk dengan membawakan sarapan berupa makanan seafood yang sangat banyak. Yuzu, Karin dan Rukia sampai melongo melihat ada banyak makanan di meja.
"….sebanyak ini kah?" gumam Rukia.
"Ahahaha…tidak apa-apa. Ayo kita makan!" isshin berseru.
Mereka berlima pun mulai sarapan dan tidak lama kemudian Renji masuk.
"Renji," panggil Rukia, ayo, duduk di sini!" Rukia mengajak Renji untuk duduk di sampingnya. Dan tentu saja Renji langsung duduk di samping Rukia.
Ichigo yang tidak senang melihat Renji yang kini berada di samping Rukia berusaha untuk tidak memperdulikan Renji. semalam ia cukup berpikir dengan keras mengenai foto rukia yang menjadi wallpaper di ponsel Renji. Tapi, toh Rukia itu adalah tunangan Ichigo, walaupun Renji menyukai Rukia pun tidak akan merubah kenyataan bahwa Rukia adalah tunangan Ichigo. Ini berarti Ichigo tetap selangkah lebih unggul.
"Renji…kau suka sekali dengan kepiting kan?" tanya Rukia, "nih, makan yang banyak."
Mata Ichigo melotot sewaktu Rukia menaruh kepiting berukurang besar di piring Renji. Pemandangan barusan seolah-olah menunjukkan bahwa Rukia malah memberikan perhatiannya ke Renji. Hati Ichigo langsung berkecambuk, tapi ia tetap diam, sebagai pelampiasan ia melahap banyak makanannya dan mengunyahnya keras-keras.
Setelah sarapan, mereka lanjut dengan acara minum teh.
"Wah…bisa-bisa kita gemuk kalau tinggal lama di sini," kata Karin, ia nampaknya sangat kekenyangan rupanya.
"Hihi..aku malah ingin gemuk karena aku memang tidak pernah merasa yang namanya gemuk," kata Rukia sambil tertawa.
"Kau jangan gemuk, Rukia…kalau kau gemuk kau jadi jelek," kata Renji.
"Biarkan saja…" timpal Rukia.
Walaupun percakapan mereka terdengar biasa tapi Ichigo malah merasa kalau Renji dan Rukia terlihat akrab dan itu membuat Ichigo semakin gerah.
Yuzu lalu mengambil cangkir berbahan keramik berisi teh manis, ia tidak mengetahui bahwa air teh di dalam cangkir itu masih sangat panas.
"AH!" pekik Yuzu yang tidak sengaja menunpahkannya ke meja. Air teh yang panas itu sukses mengenai tangan Rukia yang kebetulan tergeletak di meja karena Rukia duduk di samping Yuzu.
Semua terkejut, Rukia apalagi! Ia meringis kesakitan akibat rasa panas dari air teh. Ichigo reflex berdiri, ia hendak membawa Rukia ke westafel dekat yang biasa digunakan untuk mencuci tangan, untuk segera menyiram tangan Rukia. Tapi…lagi-lagi Renji lebih gesit. Ia kini merangkul Rukia, menarik Rukia ke westafel.
"Maaf kan aku, Rukia-chan!" Yuzu berseru, ia merasa bersalah telah melukai tangan Rukia.
"Tidak apa-apa, Yuzu-chan!" Renji yang malah menyahut. Ia kini memutar kran air dan meletakkan tangan Rukia di bawah kran.
Tentu saja pemandangan barusan membuat Ichigo semakin panas seakan-akan ada yang menyulut api di dalam dirinya. Tapi, bagaimanapun ichigo tetap memilih diam. Setidaknya tindakan Renji itu bisa menolong tangan Rukia, itu lebih penting.
"Apa masih sakit?" nada suara Renji tersirat kekhawatiran.
"Masih agak perih sih…" kata Rukia, ia meniup-niup tangannya. Renji lalu membantu meniup-niup tangan Rukia.
Ichigo yang sudah tidak tahan lagi menyaksikan kedekatan Renji dan Rukia kini memilih meninggalkan ruang itu.
"Rukia-chan…maafkan aku…" Yuzu memohon kembali.
"Sudah tidak apa-apa, Yuzu-chan…" sahut Rukia lembut, ia memperlihatkan senyumannya agar Yuzu tidak begitu merasa bersalah.
/
Ichigo's POV
Kini aku duduk di teras belakang. Memandangi pohon-pohon untuk mengalihkan pikiranku, tapi…kenapa aku jadi frustasi begini? Sewaktu aku melihat foto Rukia di ponsel Renji, hatiku jadi was-was apalagi mengingat ucapan Kira waktu di acara pertunanganku bahwa satu-satunya orang terdekat Rukia di Seireitei adalah Renji. Belum lagi waktu festival di kuil, Rukia bercerita tentang cinta 'seorang sahabat yang tidak kesampaian'. Jangan-jangan yang Rukia maksud itu….ah, aku ingin sekali mengingkarinya tapi melihat kedekatan mereka…semakin mengarah dengan apa yang aku pikirkan.
Aku juga tidak mengerti dengan diriku sendiri. Sebenarnya masalah ini bukanlah masalah yang terlalu sulit, toh dulu aku bisa sangat mudah merebut pacar orang. Tapi… kenapa saat ini kepercayaan diriku jadi hilang? Di dalam hati ini…benar-benar tidak bisa kupungkiri ada rasa takut kalau-kalau…hati Rukia itu milik…
"Aaaaaaaaaaaakh," teriakku sambil mengacak frustasi rambutku. Ini efek karena terlalu banyak berpikir.
Aku lalu merenung, tentang pertunanganku dan Rukia. Apakah Rukia terpaksa menyetujui perjodohan kami? Tapi… aku tidak pernah melihat beban di wajahnya atau… kenapa aku malah berpikir bahwa Rukia akan dibawa lari oleh Renji? apalagi… mereka satu rumah. Aduh…aku benar-benar pusing dengan ini semua.
Tiba-tiba aku merasa ada sesuatu yang dingin di pipiku. Aku menoleh cepat ke samping, ternyata Rukia menyentuhkan botol minuman jeruk dingin di pipiku. Kulihat dia tersenyum jenaka ke arahku. Aku hanya diam menatapnya, mencoba mencari 'apakah ada beban mengenai perjodohan kami', tapi…di lihat dari sudut manapun senyuman itu terlihat tulus. Apa Rukia itu sangat pandai menyembunyikan perasaannya?
Rukia memberiku minuman itu lalu duduk di sampingku. "Kenapa kau sendirian saja di sini, Ichigo?" tanyanya.
"…untuk mencari udara segar…" aku lalu meneguk minuman botol jeruk itu.
Rukia yang menatapku sedang minum tertawa kecil. "jeruk koq minum jeruk…" katanya. "Ichigo….ummm…aku tidak mau sok tahu sih…tapi…kalau kuperhatikan seharian ini kau terlihat lain, "Rukia menatapku serius.
"Lain? Lain bagaimana?"
"Iya…" sahut Rukia, "biasanya kalau kita bertemu… kalau bukan tertawa terbahak-bahak kau malah berteriak-teriak… rasanya aneh saja karena kamu biasanya sangat berisik tapi…hari ini…kau lebih banyak diam."
Aku lalu mendesah. Bahkan Rukia bisa melihat perubahan suasana hatiku.
"Melihatmu seperti ini…aku jadi merasa kesepian, Ichigo…"
Deg.
Tiba-tiba saja hatiku berdebar kencang mendengar ucapan Rukia barusan. Benarkah itu Rukia?
"Rukia…." Panggilku lemah, "ya… sebenarnya… aku… tidak begitu suka melihatmu dekat dengan Renji," akhirnya aku mengaku saja.
"Renji?"
"Ya, dia terlalu dekat denganmu."
"Itu wajar saja Ichigo…" kata Rukia, "karena saat ini Nii-sama menyerahkan aku sebagai tanggung jawabnya Renji, jadi wajar-wajar saja kalau Renji menjagaku." Ya… penjelasan Rukia yang tadi memang masuk akal sih, tapi… bagaimanapun Renji jelas-jelas menyukaimu Rukia.
Rukia lalu menatapku sambil tersenyum nakal. "Jangan-jangan….kau cemburu, Ichigo…"
"Ha? Aku?"
"Hihihihihi…iya, mengaku saja!" Rukia malah menggodaku.
"Tidak sama sekali!"
"Ayolah…" Rukia menyenggol lenganku sambil tertawa.
"Memang tidak koq!"
"Hihihihihi…tapi wajah bodohmu itu mengatakan iya!"
"APA? Tadi kau bilang wajahku bodoh?!" teriakku.
"Hehehehe…cuma bercanda ah," Rukia memperlihatkan senyuman manisnya dan karena itu aku jadi tidak bisa marah padanya.
Aku lalu melirik tangan Rukia. "ummmm..bagaimana tanganmu Rukia? Apa sudah baikan?"
"Ini…" Rukia memperlihatkan tangannya yang terkena teh panas tadi, "sudah tidak sakit lagi koq, ayahmu juga sudah tangani tadi.."
"Baguslah…" gumamku. "Oh, ya Rukia… menurutmu… aku tampan tidak memakai Yukata ini?" tanyaku. Sepertinya pembicaraan kami sudah berada di luar konteks.
Rukia menatapku aneh melalui sudut matanya. "Narsis sekali kamu, mengatai dirimu sendiri tampan…"
"Ya-iyyalah…aku memang tampan koq!"
Rukia tertawa. "Ya…tampan-tampan saja sih…"
"Dulu waktu aku SMP, aku pernah memerankan tokoh samurai di panggung."
"Oh, ya? Kenapa bisa?"
"Itu karena aku yang paling tampan!" sahutku bangga, "dan aktingku sangat bagus…kamu lihat ya…"
Aku lalu mengambil ranting yang agak tebal dan panjang yang tergeletak di rumput-rumput.
"Hiaaaaatt," aku lalu memperagakan beberapa pose aksi seorang samurai yang memainkan pedang katana-nya. Rukia yang menontonku di belakang tertawa ceria sambil tepuk-tepuk tangan. Huh, pasti aku terlihat sangat keren…hehehehe…
Berendam di air panas di malam hari memang paling enak. Apalagi dengan suasana dan pemandangan yang masih kealam-alaman. Kalau seperti ini…aku bisa berendam sendirian hingga berjam-jam.
Seseorang menggeser pintu dan masuk, Renji orangnya. "Hoi, Ichigo," ia berseru memanggilk, "kau daritadi di sini?" tanyanya.
"Ya…" sahutku malas.
Renji lalu melepaskan Yukatanya hingga yang tertinggal adalah dalamannya. Aku tidak mesti menjelaskan bagaimana dalamannya ya, karena melihatnya saja aku tidak berselera.
"Satu…dua…" Renji kini menggambil kuda-kuda untuk meloncat ke kolam layaknya ia ingin loncat ke kolam renang. "Ti…ga"
BYURR
Dan air kolam onsen bermuncratan di wajahku hingga rambutku basah semua.
"Oi, Renji!" tegurku, "kira-kira dong kalau mau menceburkan diri…memangnya ini kolam renang apa?!"
Tidak ada jawaban dari Renji ia kini berada di dalam air…aneh sekali dia, tidak mungkinkan kalau dia tenggelam? Aku tidak bisa melihatnya karena terlalu banyak uap dan juga airnya keruh.
"Renji…oi?" belum ada jawaban dari Renji. "Oi, Renji! kamu tidak mungkin tenggelam kan? ini dangkal tahu! Anak kecil saja tidak mungkin tenggelam.."
Tidak ada suara sama sekali…masa iya Renji tenggelam?
"Ren-"
"CILUKBA!" tiba-tiba Renji muncul tepat didepanku dari bawah air. Tentu saja aku kaget setengah mampus.
"Ahahahahaha…" Renji malah menertawaiku, "lucu sekali mukamu tadi."
Aku memicingkan mata ke arahnya dan mendengus. "Tidak lucu tahu!"
Renji kini menuju di sampingku dan menyandarkan dirinya di batu besar. "ha….enaknya berendam…tapi…lebih enak lagi kalau berendam sambil ditemani dengan seorang gadis…ehehehehe…" Renji cengengesan mesum.
"Dasar mesum…" gumamku. Huh, asal yang menemanimu bukan Rukia saja…
"Seperti kau tidak pernah berpikir mesum saja…" timpal Renji. "Coba kau bayangkan Ichigo, kalau di sini ada gadis seksi, tubuhnya tinggi, dadanya besar dan pinggulnya besar sedang ikut berendam di sini..."
Oalah…sosok Rangiku Matsumoto langsung muncul di otakku.
"Terus…dia mendekat…dan…"
Aku langsung berdiri dan cepat-cepat keluar dari kolam sebelum khayalanku menjadi tidak-tidak karena ucapan Renji yang menjijikkan barusan. Sialan sekali si Renji ini.
"Oi, Ichigo!" Renji memanggilku, "kau mau kemana?"
"Aku sudah selesai!" kataku lalu menyambar Yukataku dan cepat-cepat kukenakan lalu meninggalkan si rambut nenas merah itu sendirian. Huh, tidak kusangka kalau dia spesies pria mesum.
Selesai berendam aku lalu mengambil jus jeruk di kulkas dan menenguknya. Ha…habis berendam panas-panas memang enak langsung minum jus jeruk dingin. Setelah itu aku menuju ke kamar, ternyata sudah jam sepuluh malam rupanya. Saatnya untuk tidur malam sebelum Renji mengangguku.
oOo
Rukia's POV
Entah mengapa malam ini aku tidak bisa tidur. Pikiranku mengenai Senna membuatku gelisah. Waktu itu Renji bilang bahwa tidak lama lagi Senna akan pulang. Aku senang sih mendengarnya tapi…aku jadi kepikiran dengan Ichigo dan keluarganya. Apa pertunangan kami akan putus? Apa ayah Ichigo akan marah? Hhhhh…aku pusing memikirkannya. Mengingat aku sudah merasa sangat nyaman bersama Ichigo, apalagi mereka sekeluarga sudah kuanggap sebagai keluargaku sendiri.
Aku melirik Yuzu dan Karin, ternyata mereka sudah tertidur dengan sangat nyenyak. Ah, mending aku keluar dulu mencari angin segar.
Kini aku berada di koridor belakang duduk di lantai sambil memandang pohon-pohon yang bergerak lembut karena angin malam.
"Hhhh…" aku mendesah, memikirkan kemungkinan apa yang akan terjadi setelah Senna pulang nanti.
Seseorang lalu mengenakanku mantel di punggungku. Cepat-cepat aku balik, ternyata Renji…
"Kau tidak bisa tidur Rukia?" tanyanya. Sambil mengambil dudukdi sampingku.
"Iya…" sahutku lemah.
Aku memandang kembali pohon-pohon, bisa kurasakan kalau Renji sedang menatapku.
"Renji…menurutmu…apa yang akan terjadi?"
"Aku juga tidak tidak tahu," sahut Renji, "Tapi…jangan terlalu dipikirkan, Rukia…" katanya sambil menyentuh bahuku, "semuanya pasti berlalu…tenang saja, aku pasti akan memihakmu."
Jujur ucapan Renji barusan sedikit bisa membuatku tenang. Ternyata… walaupun selama ini dia bersikap menyebalkan di depanku, dia masih peduli denganku.
"Renji…terima kasih ya…"
"Ya ya... eh, ngomong-ngomong… ini pertama kali aku mendengar kau mengatakan terima kasih.."
"Masa sih?"
"Huh, tidak nyadar lagi!"
Benar juga…mungkin karena kami dulunya terlalu akrab. Aku lalu terkikik sendiri.
"Kenapa kau? Apa ada yang lucu?" Renji mengerutkan alisnya ke arahku.
"Tidak ada sih…tapi aku baru tahu kalau ternyata selama ini kau menunggu-nunggu agar aku mengucapkan terima kasih…miris sekali.."
"Ha? Itu tidak benar koq!" Renji berkelit, "eh Rukia…jangan bergerak…" kata Renji tiba-tiba, "ada…kecoa di rambutmu.."
"Kecoa?!"
"hehehe…bukan sih…" Renji cengengesan, "jangan bergerak ya…"
Aku menuruti saja Renji dan Renji lalu mendekatkan wajahnya.
oOo
Ichigo's POV
Tiba-tiba saja aku berada di sebuah gedung. Kudapati diriku sudah memakai jas, ada ayah yang juga memakai jas, Byakuya juga, Yuzu dan Karin memakai gaun, teman-temanku dan orang-orang dari soul society juga ada. Apa ini?
"Huhuhuhu…Masaki akhirnya putra kita menikah juga.." ayah menangis Bombay di poster raksasa ibuku.
Aku bengong sebentar…astaga, ini acara pernikahanku ternyata. Pernikahanku dengan Rukia! Lalu…dimana Rukia? Oh, aku lega melihat dia ada di sampingku. Dia memakai gaun penganting putih…tapi wajahnya tertutupi dengan kain putih.
"Kini waktunya untuk menukar cincin," kata Byakuya.
Yuzu lalu menyodorkan nampan berlapis kain putih yang di atasnya ada sepasang cincin pernikahan, cincin pernikahan aku dan Rukia. Aku lalu mengambil satu dan kukenakan ke jari manis mempelai wanitaku, begitupun Rukia, ia mengenakanku cincin di jariku.
"Sekarang, ayo cium istrimu, Kurosaki!" seru Grimmjow.
"Cium cium cium cium…" semua tamu ikut-ikutan berseru sambil bertepuk tangan.
Aku berdehem sekali, lalu aku mulai membuka kain penutup wajah istriku. Dan…begitu kubuka penutup wajahnya terpampang suatu wajah yang….Senna? aku lalu mengucek-ngucek mataku untuk memastikan, tapi…pengantinku yang kini berdiri di hadapanku benar-benar Senna!
"Hai, Ichigo…." Senna tersenyum manis ke arahku. Aku? Aku kaget sekali! kenapa yang muncul adalah Senna? Ada apa ini? Di-dimana Rukia?!
Aku mencari-cari sosok Rukia dan…dia berdiri di pintu, memakai kimono berwarna hijau bermotif kembang yang sangat sederhana, tangannya memegang sapu tangan untuk mengelap air matanya.
"Hiks…tega sekali kau,Ichigo…"
"Ru-Rukia!" pekikku, "aku tidak mengerti ini semua teriakku kebingungan. Aku, kau…kenapa aku malah menikah dengan Senna?! Aku…ini…aku juga bingung…ini bukan bercanda kan?" aku jadi bingung sendiri.
"Sudah…lupakan aku saja Ichigo…" kata Rukia sambil lari dari gedung.
"Ru-Rukia! Tunggu dulu, HEI!"
"Rukia!" teriakku sambil bangun. Ternyata yang tadi hanya mimpi… tapi… kenapa aku jadi ngos-ngosan sendiri.
Aku menoleh ke samping, futon di sampingku masih rapi. Aku sendiri di dalam kamar rupanya. Lalu…dimanakah Renji?
Aku lalu menyingkirkan selimutku lalu berdiri, keluar dari kamar. Aku menuju dapur untuk mencari minuman yang bisa menghilangkan dahagaku. Entah kenapa mimpi tadi membuatku capek padahal aku tidak sedang lari kan. Aku mengambil minuman botol jeruk. Aku lalu keluar dari dapur dan hendak kembali ke kamar. Saat aku berjalan menuju kamar aku mendengar samar-samar ada yang sedang berbicara di koridor belakang.
Aku mengendap-endap keluar untuk melihat siapa di luar sana. Di sana ada Rukia….dan Renji. Sedang apa mereka berdua?! Aku lalu menyembunyikan diriku di balik dinding, kuintip mereka. mereka terlihat sedang berbicara serius….aku berusaha mendengar apa yang mereka bicarakan tapi…suaranya terlalu kecil. Aku memilih untuk mengamati mereka saja.
Kulihat Renji menyentuh bahu Rukia, Rukia diam saja. Ah, aku benar-benar tidak suka melihat Renji memperlakukan Rukia seperti itu. Eh…tidak lama kemudian Rukia terlihat seperti terkikik dan Renji terlihat agak geram tapi…tidak lama kemudian Renji yang cengesan sendiri. Aduh…apa yang mereka bicarakan ya?
Aku terus mengamati mereka dan…apa-apaan si Renji itu?! kenapa wajahnya mendekat ke wajah Rukia dan…kenapa Rukia diam saja?! Aku berbalik cepat, tidak sanggup aku menyaksikan adegan tadi. Aku benar-benar tidak bisa percaya ini, ternyata mereka berdua mempunyai hubungan sedekat itu. Renji dan Rukia tunanganku… tadi mereka ber…ber…akh, aku jadi semakin frustasi. Kuputuskan untuk segera kembali ke kamar cepat-cepat.
To be Continue…
