Chapter 2
Disclaimer : Masashi Kishimoto
Pairing : Sasuke U. Sakura H.
Rated : T
Genre : Hurt/Comfort, Romance, Family
Warning : AU, OOC, alur berantakan, typo bertebaran, gaje , maksa dll
Summary : Dua nama telah terukir di garis takdir. Benang merah telah membentang, dan ujung-ujungnya telah terikat di masing-masing penerima takdir.
Takdir " Benang Merah "
By : Saita Hyuuga Sabaku
Don't like Don't Read
***Happy Reading***
Hari pemakaman.
"Suamiku, upacara pemakaman akan segera dimulai, apakah sudah ada kabar dari Fugaku?" tanya Yoshino.
"Aku sudah menghubunginya sejak semalam, bahkan sejak Mikoto masuk UGD. Dia bilang langsung bergegas kemari. Tapi...entahlah" Shikaku yang panik memijat keningnya yang tak sakit itu.
"Cobalah kau hubungi lagi" sahut Yoshino kemudian.
"Aku sudah mencoba menghubunginya dari tadi, tapi dia tidak menjawab teleponku. Kalau begini keadaannya, dalam 10 menit dia tidak hadir, terpaksa kita harus melakukan upacara pemakaman tanpa dia," ucap Shikaku seraya mencoba menghubungi kembali adik iparnya itu.
Itachi P.O.V on
Hari ini hari pemakaman Kaa-san, tapi Tousan belum juga menampakkan batang hidungnya.
'Tousan, sepenting itukah pekerjaanmu dibanding dengan keluargamu' batinku seraya mengepalkan tangan menahan rasa amarah dan kecewaku. Aku berjalan menghampiri Ji-san Shikaku.
"Ji-san, bagaimana? Apa Tou-san akan datang ?" tanyaku pada Ji-san Shikaku yang sejak tadi sibuk menelepon.
"Aku masih berusaha menghubunginya Itachi, tapi apa boleh buat, kalau dalam waktu 10 menit ini Tou-san mu tak datang, kita akan melakukan upacara pemakaman tanpa dia. Apa tidak masalah bagimu Itachi?" ucapnya seraya menepuk lembut bahuku.
Aku menundukkan kepalaku, dan berusaha tegar menjawabnya "Iya Ji-san. Tidak masalah," jawabku dengan suara yang agak bergetar. Aku tak ingin Ji-san melihat air mata yang sudah terkumpul di sudut onyx ku.
Walau sangat berat rasanya, tapi entah mengapa aku yakin Tou-san tidak akan datang.
'Lagipula, apakah Tou-san tau, jika Kaa-san sudah menghadap Kami-sama?' batinku. Setahuku Ji-san hanya menghubungi Tou-san saat Kaa-san masuk UGD. Lalu, saat Kaa-san dinyatakan meninggal, Ji-san segera menghubungi Tou-san. Hanya saja tak ada respon dari Tou-san. Akhirnya Ji-san hanya meninggalkan pesan suara. Tapi Ji-san tak pernah menyerah menghubungi Tou-san.
"Apa...apa yang sebenarnya terjadi?" ucapku lirih.
Perasaan ku kini sudah campur aduk. Antara kesal, marah, tapi juga cemas. Cemas akan Tou-san yang tak bisa dihubungi. Kujambak helaian ravenku, untuk menghilangkan sakit yang mendera kepalaku, karena berbagai perasaan yang menghinggapiku.
'Tou-san, kali ini saja, kumohon jangan campakkan kami. Kau sudah terlalu sering mencampakkan aku dan Kaa-san,' batinku lirih. "Jangan lagi, kumohon, jangan lagi," ucapku pada diri sendiri.
Aku tak ingin adikku merasakan hal yang sama. Tak di perhatikan oleh Tou-san. Aku masih bisa tegar, karena ada Kaa-san yang mendampingiku. Tapi kini, setelah Kaa-san pergi, aku tak bisa memperkirakan masa depan apa yang akan kuhadapi dengan adikku, kalau Tou-san tak juga berubah.
Aku bertekad akan menjadi kakak yang terbaik untuk adikku. Akan kuberikan kasih sayang yang seperti Kaa-san berikan padaku. Dan akan kuberi perhatian yang tidak kudapatkan dari Tou-san. Itulah janjiku seumur hidup untuk adikku. Aku sudah berjanji pada diriku sendiri.
Itachi POV end
.
.
.
Akhirnya upacara pemakaman pun dilakukan tanpa kehadiran Fugaku. Untuk sementara Shikaku membawa Itachi untuk tinggal di rumahnya. Apalagi si bungsu Uchiha yang baru saja lahir itu tentu membutuhkan perawatan. Ditambah lagi dengan Fugaku yang belum jelas keberadaannya.
.
.
.
Ruang tamu keluarga Nara
Shikaku, Yoshino, dan Itachi tengah duduk di ruang tamu. Mereka sedang membicarakan nama apa yang cocok untuk si bungsu Uchiha. Akhirnya setelah cukup lama berbincang-bincang, telah di putuskan nama si bungsu adalah "Sasuke". "Uchiha Sasuke". Nama itu adalah nama pemberian si sulung Uchiha, Uchiha Itachi.
.
.
.
Kediaman Haruno
Kizashi dan Mebuki telah pulang dari rumah sakit. Raut kebahagiaan jelas terlukis di wajah mereka, karena Mebuki telah melahirkan bayi perempuan yang sehat. Dengan helai soft pink yang lembut, dan mata emerald yang meneduhkan. Mereka memberi nama anaknya Sakura. Haruno Sakura.
Helaian rambut yang senada dengan bunga khas Jepang, dan hati mereka yang bersemi gembira layaknya pohon sakura yang tengah bermekaran di musim semi. Itulah alasan mereka memberi nama Sakura, pada gadis kecil kesayangannya.
Dua nama telah terukir di garis takdir. Benang merah telah membentang, dan ujung-ujungnya telah terikat di masing-masing penerima takdir.
.
.
.
Keesokan paginya suara dering telepon yang berkali-kali membuat si empunya rumah terbangun. Ini baru jam 4 pagi, tentu saja dering telepon itu terasa sangat mengganggu.
"Hn...ya...halo," ucap Shikaku dengan nada yang agak malas, karena nyawanya belum sepenuhnya terkumpul.
"Selamat pagi Tuan, maaf mengganggu pagi-pagi begini. Kami dari kepolisian Iwagakure," terdengar suara di seberang sana.
_TBC_
Sakura : Riview, saran dan kritik selalu dinanti untuk membantu author agar semangat untuk melanjutkan menulis fic ini. Kata author, dia tau fic ini jauh dari kata sempurna, maka dia membutuhkan review dari para readers sekalian.
Sasuke : Dia masih newbie.
Sakura : Jika berkenan meninggalkan review, merupakan suatu penghargaan tersendiri bagi author dan sebagai obat untuk menghilangkan rasa malasnya dalam berkarya. Benar kan Sasuke?
Sasuke : Hn.
Sakura : Kenapa kau malah melanjutkan fic yang sama sekali belum mendapat review? - #nanya ke author
Author : Karena fic ini sudah punya 5 chapter di grup ^_^ dan mendapat respon yang baik di sana.
Oke, terakhir, saya ucapkan terima kasih bagi yang telah membaca fic abal ini, terima bagi yang berkenan meninggalkan review, dan terima kasih juga bagi para silent reader.
With love,
Saita
