Summary : Senna lari dari rumah karena tidak ingin dijodohkan dengan putra kurosaki. Karena itu, Rukia harus menggantikan Senna….R&R please…^^

Author: Juzie chan

Disclaimer : Om Kubo lah...Author cuma minjam tokoh om Kubo hingga batas waktu yang terhingga (hingga bleach tidak ada lg di dunia ini...huhuhu)

Pairing : IchiRuki, slight IchiSena, RukiRen, ByakuRuki (ini mudah-mudahan enggak...)

Warning! : banyak Typo, AU, OOC, EYD tidak sesuai, Gaje, Jayus, Abal, penuh kenistaan, membosankan, dan segala kekurangan-kekurangan yang lainnya.

Oh, ya...

Salam kenal semua ya...Juzie adalah author baru belajardan tidak berpengalaman di dunia fanfiction. mohon dimaklumin ya sodara-sodara jika story yang Juzie buat sangat sangat tidak mengundang selera tapi kalau ada yang R&R Juzie akan sangat berterima kasih...

Mohon bimbingannya...

*Tengkyu ya yang udah baca and review di Chapter sebelumnya...Author sama sekali ga nyangka kalau fic ini bakal ada yang baca...^^

CH 11

Photos

Pagi-pagi Ichigo sudah duduk di ruang makan, merenung sendiri. Matanya terlihat sayu dan di bawah matanya menghitam. Setelah melihat kejadian semalam, Ichigo tidak dapat melanjutkan tidurnya. Pikirannya penuh dengan Rukia, tunangannya yang ia anggap mempunyai hubungan dengan Renji.

"Ichi-nii…" Yuzu memanggil Ichigo saat masuk ke ruang makan, "cepat sekali Ichi-nii bangun."

Ichigo diam, ia hanya menoleh sebentar.

"Kenapa pagi-pagi begini aku merasa lapar ya…" suara Karin. "Lho, Ichi-nii sudah bangun ya."

"Ummm…kalau begitu biar Yuzu menyuruh pelayan untuk menyiapkan sarapan," seru Yuzu lalu berlari ke dapur.

"Tidak pake lama ya, Yuzu-chan!" teriak Karin.

"Selaaaamat paaaaagi anak-anakku yang manizzzzzzz?!" seru Isshin heboh. "Cepat sekali kau bangun kali ini, Ichigo!" katanya pada putranya, "Ehm… Karin, di mana Rukia?"

"Tadi dia mandi sih…"

Beberapa waktu kemudian Rukia muncul. "Selamat pagi semua…." sapa Rukia ketika masuk ke ruang makan.

"Selamat pagi Rukia-chan!" balas Isshin.

"Pagi begini sudah kumpul semua ya…." kata Rukia. "emmm Ichigo, dimana Renji?" tanyanya ke Ichigo.

Rukia tidak menyadari pertanyaan yang ia lontarkan barusan adalah pertanyaan yang sensitif bagi Ichigo. Mendengar pertanyaan barusan alis Ichigo langsung mengerut dan ia tidak menyahut.

"Oi, Ichi-nii!" tegur Karin, "Rukia-chan bertanya dimana teman sekamarmu itu?!"

"Mana kutahu!" Ichigo menyahut kesal.

Bletakk

Isshin mendaratkan jitakan keras ke kepala Ichigo. "kapan kau pernah diajari menjawab seperti tadi, hah?!" Isshin menggertak Ichigo.

Karin menopang dagunya dan memicingkan matanya menatap Ichigo.

"Kalau begitu…maaf…" gumam Ichigo.

"Selamat pagi dunia!" seru Renji berseri-seri, Dia sudah mandi rupanya.

"Wah…panjang umur sekali dia…" gumam Karin.

Dengan semangat Renji mengambil duduk di samping Rukia. "Rukia… bagaimana tanganmu, apa sudah sembuh?" tanyanya.

"Ummmm…sudah koq," sahut Rukia. Ia lalu menyentuh lehernya, "tenggorokan kering sekali…aku ambil minuman du-"

"Eh, biar aku saja!" Renji berseru ketika Rukia hendak berdiri, ia lalu berlari ke arah dapur dan tidak lama kemudian ia membawakan Rukia air botol mineral.

"Terima kasih, Renji…" kata Rukia. Ia lalu mencoba membuka tutup botol tapi tutup botolnya terlalu keras diputar rupanya. "Aduh…kenapa keras sekali…"

"Sini… biar kubuka," Renji lalu mengambil botol minuman Rukia dan membuka tutup botolnya.

Ichigo yang tidak menyukai pemandangan tersebut lalu memukul keras meja hingga semua orang yang berada di ruangan itu tersentak. Ichigo bangkit menghampiri Renji, menarik kerah depan Yukata Renji untuk memaksanya berdiri.

"Ikut denganku!" kata Ichigo sambil menyeret Renji keluar, "aku harus bicara denganmu!"

Isshin, Rukia, Karin dan Yuzu yang kini berdiri di ambang pintu terbengong-bengong melihat sikap Ichigo terhadap Renji. Ada apa dengan Ichigo? mengapa ia terlihat sangat marah dengan Renji.

Kini, Renji dan Ichigo berada di suatu lapangan berumput yang agak jauh dari penginapan.

"Hei!" seru Renji, "kau mau kemana?" tanyanya sembari mengikuti Ichigo dari belakang, "ini sudah lumayan jauh dari penginapan!"

Ichigo lalu menghentikan langkahnya. Mereka berdua memang sudah lumayan jauh dari penginapan.

"Kenapa mesti jauh begini hanya untuk bicara…" Renji menggererutu, "seperti anak sekolah yang mau menembak anak perempuan saja…."

"Kau menyukai Rukia kan?" tanya Ichigo tanpa basa-basi. Ia bahkan masih membelakangi Renji.

"Ha…..?" Renji malah memandang aneh Ichigo.

Ichigo memutar kesal bola matanya lalu berbalik ke arah Renji. "Kau… menjadikan foto Rukia sebagai Walpaper di ponselmu," kata Ichigo, "tidak ada alasan lain lagi kau menjadikannya wallpaper…"

Renji mengangkat sebelah alisnya. "Oh… berani sekali kau memegang ponselku tanpa sepengetahuanku…" sindirnya.

"Jangan mengalihkan pembicaraan!" teriak Ichigo. "Kau… bisa-bisanya kau menyukai dan mendekati tunangan orang…"

Renji diam menatap sebentar Ichigo, ia berusaha mencerna perkataan barusan Ichigo karena sebenarnya ia tidak begitu mengerti maksud Ichigo tapi, akhirnya ia mengerti apa yang telah dialami Ichigo. Renji malah tersenyum menyeringai ke arah Ichigo.

"Memangnya kenapa Ichigo? kalau aku menyukai Rukia, apa urusanku?"

"Tentu saja itu urusanku!" teriak emosi Ichigo, urat-urat lehernya sampai timbul di kulitnya. "Rukia itu tunanganku!"

"Memang benar Rukia itu tunanganmu, Ichigo…" kata Renji, "tapi, kau jangan lupa…kalian itu bertunangan karena dijodohkan… belum tentu Rukia senang dengan perjodohan kalian.."

"Sialan kau!" Ichigo lalu mencengkeram bagian depan kerah Renji.

"Seharusnya kau tahu diri Ichigo… Rukia bahkan baru melihatmu sewaktu di acara pertunangan kalian… apa kau pikir begitu melihatmu Rukia langsung menyukaimu…? Huh, asal kau tahu saja…aku dan Rukia sejak kecil sudah sangat dekat, bahkan aku lebih dekat dengannya ketimbang dengan keluarganya."

Mendengar ucapan Renji barusan, Ichigo semakin emosi. Ingin sekali ia meninju wajah Renji tapi masih ada yang ingin dia tanyakan. Ichigo menatap nanar Renji. "Kau… apa… kalian berdua… menjalin hubungan kekasih?"

Renji tersenyum penuh kemenangan. "Menurutmu?"

BLETAKK

Ichigo meninju keras pipi Renji dan karena itu Renji tersungkur jatuh agak jauh.

"Ichigo!" teriak Rukia yang sempat menyaksikan adegan 'Ichigo meninju Renji'. Rukia lalu berlari ke arah Renji dan memeriksa keadaannya.

"Astaga Renji…sakit ya?" tanya Rukia khawatir.

"Tentu saja sakit…" sahut Renji meringis.

"Ichigo…kau ini kenapa?!" teriak Rukia ke arah Ichigo.

Ichigo tidak menyahut, melihat Rukia yang khawatir dengan Renji terlalu membuatnya sakit. Melihat Rukia yang kini merangkul Renji membuat semakin jelas apa yang ia pikirkan. Ia kini sadar akan hatinya terhadap Rukia. Mungkin memang benar bagaimanapun dekatnya hubungan Rukia dan Renji, Ichigo tetap akan memiliki Rukia, tapi belum tentu dengan hati Rukia.

"Ichigo…"

Ichigo lalu berbalik lalu benar-benar meninggalkan Rukia dan Renji. Rukia menatap kepergian Ichigo dengan penuh tanda tanya.

"Renji, kenapa dengan Ichigo itu?" tanya Rukia ke Renji, "apa kau sudah mencari gara-gara dengannya?"

"Sembarangan saja kau, Rukia…" sahut Renji sambil mengelus-ngelus pipinya, "Ichigo itu cuma cemburu…"

"Cemburu?"

"Iya… dia cemburu buta dengan kita."

"Ha?"

"Anak itu… yang kira-kira donk kalau cemburu!"

/

Rukia's POV

Ichigo cemburu? Aisssss, kenapa juga si kepala jeruk itu cemburu dengan Renji?! Dan Renji tidak ingin bercerita tentang apa yang membuat Ichigo bisa semarah itu. Ini pasti ada yang tidak beres.

Aku lalu mencari Ichigo, kulihat dia sedang duduk di koridor samping, merenung sendirian sambil menatap pohon-pohon. Aku benar-benar tidak menyukai melihatnya seperti ini… dia yang selalu ekspresif dan berisik. Aku menghampirinya saja.

"Ichigo…" sapaku lalu duduk di sampingnya. Ichigo menoleh sebentar ke arahku lalu berpaling sambil mendesah. "Apa kau marah padaku?" tanyaku sambil menatapnya. Ichigo hanya diam. Aku menyelipkan rambutku ke belakang telingaku dengan canggung. "Tidak apa-apa kalau kau tidak mau jawab…"

"….Rukia…" akhirnya Ichigo bersuara juga walaupun ia tidak menoleh ke arahku. "kita ini…bertunangan kan?" pertanyaan Ichigo membuatku bingung.

"Tentu saja Ichigo."

"Apa…sebenarnya…kau terpaksa bertunangan denganku?"

Aku mengerutkan alisku ke arah Ichigo. "kenapa kau malah bertanya seperti itu, Ichigo?"

Ichigo mendesah. "Sepertinya benar…" gumamnya.

"Apa maksudmu Ich-"

"Sudahlah Rukia…" Ichigo menyela ucapanku, "aku sudah mengerti dan aku mencoba memutuskan untuk tidak memaksamu…tapi…ternyata memang sulit…"

"Ha?"

"Yang tidak kumengeri darimu, Rukia… sebenarnya…apa kelebihan si rambut nanas merah bertampang preman pasar itu?!" Ichigo lalu mendesah. "Kupikir…Renjilah yang berada di antara kita…ternyata…Aku… " Ichigo menggeleng putus asa, "tidak seharusnya aku berada di antara kau dan Renji." aku terheran-heran mendengar ucapan Ichigo barusan. Ah…kini aku mulai mengerti maksud Ichigo.

"Astaga… kau benar-benar salah paham Ichigo!"

"Sudahlah Rukia… aku tidak akan menghalangi kalian. Jika kau memang lebih bahagia bersama Renji, aku akan segera memutuskan pertuna-"

Plakk..

"WHOI, KENAPA KAU MENAMPARKU?!" teriak Ichigo.

"Ya supaya kau sadar Ichigo…dari tadi bicaramu ngawur terus."

"Aku tidak ngawur koq! Kau saja yang sok tidak mengerti, aku sudah tahu kalau kalian itu pacaran, ya kan?"

Plakk..

"KAU KENAPA RUKIA?!" teriak Ichigo frustasi.

"Kau terus saja bicara ngawur!" balasku, "lagian…kenapa kau bisa mengatakan kalau aku dan Renji pacaran?"

"Aku melihat kalian!"

"Lihat apa?"

"Lihat kalian berci….ci….Aaaaaaaaaaaaaaakh!" Ichigo malah teriak tidak jelas sambil mengacak-ngacak rambutnya tidak karuan.

"Apaan sih?" Aku semakin bingung saja. "Cium maksudmu?" tebakku asal.

"Iya…" sahut Ichigo, "aku melihat kalian semalam!"

"Ha….?" Aku cengo karena tebakanku yang asal-asalan tadi benar. "Ichigo…. matamu tidak ada kelainan kah? Aku mana pernah ciuman sama Renji…"

"Berhenti berakting! Aku lihat kalian semalam koq…" Ichigo tetap bersikeras.

Aku berciuman dengan Renji? huh, yang benar saja. Jelas-jelas tidak pernah! Aku benar-benar bingung kenapa Ichigo yakin sekali melihat aku dan Renji berciuman. Sebentar aku ingat-ingat…. semalam aku memang bersama Renji tapi…astaga, mungkin waktu Renji mengambil serangga di rambutku….ya, memang terlihat seperti ciuman kalau dari belakang.

Aku lalu terkikik sendiri… ternyata itu ya yang membuat Ichigo sangat marah dengan Renji. Astaga…

"Hei… kenapa kau malah tertawa Rukia? Sudah salah eh…tertawa lagi…" Ichigo menatapku aneh melalui sudut matanya, "tidak ada yang lucu…"

"Kau yang lucu Ichigo…"

"Ha?"

"Jadi itu yang membuatmu marah dengan Renji?"

"Ya… begitulah…" Ichigo seperti enggan mengakuinya, ia malah cemberut, hihihihi…benar-benar seperti anak-anak saja.

"Astaga Ichigo… aku dan Renji itu tidak punya hubungan seperti yang kau bayangkan…. Dan yang kau lihat semalam itu… itu bukan ciuman," aku benar-benar tidak bisa menahan tawaku, "yang kau lihat itu mungkin waktu Renji mengambil serangga di rambutku, kau salah paham saja."

Ichigo diam menatapku, mata hazelnya terlihat sedikit membesar. Aku tersenyum saja sambil menatapnya. "Ichigo… Ichigo… kenapa juga aku harus pacaran dengan Renji sementara aku sudah bertunangan dengan orang lain."

"Rukia… benar kau tidak pacaran dengan Renji?"

"Tentu saja tidak!" sahutku, "Renji itu sudah seperti keluargaku, walaupun kami sempat pisah tapi… ternyata kami masih saling peduli."

Ichigo terdiam, akupun demikian. Kurasa Ichigo sudah mengerti dan tidak salah paham lagi.

"Rukia…" akhirnya Ichigo bersuara, "aku… maafkan karena sudah berpikir yang tidak-tidak…" Ichigo lalu menggenggam lembut tanganku dan aku sedikit terkejut karena itu. "Aku merasa… sepertinya…. Aku susah menerima kalau kau…tidak denganku…"

Ichigo…apa maksud perkataanmu itu? dan…kenapa kau menatapku seperti itu? aku… aish, mulutku tiba-tiba menjadi kaku dan tidak bisa mengeluarkan kata-kata. Kenapa ini?

"Rukia… memang benar kata Renji… kau tidak mungkin langsung menyukaiku… tapi… aku baru menyadari perasaanku, aku harap kau bersedia untuk mulai belajar mencintaiku Rukia…"

Ichigo… aku… aku juga sebenarnya menyukaimu tapi… apa kau akan tetap seperti ini jika tahu aku hanya pengganti Senna, gadis yang seharusnya bertunangan denganmu.

"Akan lebih bahagia kalau kita menikah nanti disertai rasa cinta… tidak hanya karena perjodohan semata, aku… terus terang bersyukur karena telah dijodohkan denganmu Rukia…"

"Ichigo…"

Ichigo menatapku lekat-lekat, perlahan-lahan ia mendekatkan wajahnya ke wajahku…dan ketika hidung kami hampir bersentuhan…

Plakk..

"Ke…kenapa kau menamparku lagi, Rukia…?" Ichigo meringis.

"Ada nyamuk di pipimu, Ichigo…"

oOo

Kembali di mansion Kuchiki.

Byakuya turun dari mobil dan kini ia terlihat berjalan bersama para pengawalnya yang memakai jas serba hitam, berbaris rapi di belakangnya, memasuki mansion. Wajahnya yang dingin tanpa ekspresi tetap menatap ke depan, walaupun mungkin ada kucing yang sedang bertengkar atau ada yang membuat kegaduhanpun, ia tidak akan menoleh sedikitpun (?)

Kini Byakuya memasuki ruang kerja pribadinya. Begitu duduk, seorang pria bertubuh besar dan berambut pink bernama Hachigen Ushouda, orang yang sementara menggantikan Renji karena Renji kini sedang mengawal Rukia, menyerahkan beberapa map berisi laporan mengenai perkembangan usaha keluarga Kuchiki. Byakura membaca sebentar laporan tersebut.

Tok tok tok..

"Bukakan ia pintu!" perintah Byakuya ke salah satu pengawalnya.

Salah satu pengawalnya itu lalu membukakan pintu. Terlihat seorang pelayan bertampan polos berambut hitam dan bertubuh kecil nan kurus masuk dengan membawa telpon.

"Permisi Tuan Kuchiki-sama… hamba hanya ingin menyampaikan…bahwa ada telfon dari detektif Soi Fon…" kata Hanataro dengan nada suara yang sangat segan.

Byakuya lalu memberikan isyarat ke pangawalnya untuk mengambil telpon dari Hanataro lalu pengawal tersebut menyerahkannya ke Byakuya.

"Ya?" suara Byakuya…

"Kami sudah menemukan Kuchiki-san…" sahut suara Soi fon di balik telpon, "Kuchiki-san…kini berada di Garganta…"

"….di Garganta?"

oOo

Kini Kurosaki sekeluarga sudah berada di rumah. Seperti biasa…Yuzu memasak, Karin bermain playstation, Isshin berada di rumah sakit karena ada pasien yang harus dioperasi, dan Ichigo…Ichigo sedari tadi berada di depan TV. Apakah yang ia tonton sekarang? Tidak ada sebenarnya, saat ini TV sedang menanyangkan tayangan gosip mengenai kelahiran anak ayu ting-ting yang konon kabarnya lahir oleh bantuan dukun beranak. Wajah Ichigo memang sedang menatap TV tapi ternyata pikirannya telah melayang jauh…dari tadi ia hanya senyum-senyum cengengesan bin gaje.

Yuzu yang daritadi mendengar senyum-senyum gaje Ichigo, merasa aneh dan segera memeriksa Ichigo sebentar.

Yuzu kini berdiri di dekat pintu sambil memegang sendok sayur. Ia menatap Ichigo aneh karena tidak biasanya kakak laki-lakinya itu menonton tayangan gosip apalagi sambil senyum-senyum aneh.

"Ichi-nii!" tegur Yuzu setengah teriak, Ichigo yang mendengar langsung tersentak. "Kenapa dari tadi Ichi-nii senyum-senyum sendiri nonton gosip?" memegang sendok sayur.

"Jangan pedulikan! Kau kembali masak saja!" seru Ichigo. Ia lalu mengganti canel TV ke canel berita. Yuzu kembali ke dapur untuk masak.

"Aku pulang…" seru Isshin sambil membuka pintu.

"Selamat datang ayah…" Yuzu menyahut dari arah dapur.

Ichigo yang ternyata daritadi menunggu ayahnya lalu menghampiri Isshin. "Ayah…ada yang ingin aku bicarakan ke ayah…" ucap Ichigo dengan wajah serius.

Isshin hanya terbengong-bengong memandang putranya. Tidak biasanya anak yang satunya itu menghampirinya ketika Isshin baru saja pulang. Dan wajah Ichigo terlihat sangat serius.

Mereka berdua kini duduk di ruang keluarga. Hanya mereka berdua, berbicara empat mata antara ayah dan anak.

"Ada apa Ichigo?" tanya Isshin.

"Ayah…" Ichigo memulai pembicaraan, "aku sudah memikirkan baik-baik kelanjutan pertunanganku dengan Rukia…" Isshin terus menyimak Ichigo, "akhirnya aku sudah memutuskan…"

"Apa?" Isshin agak penasaran.

"besok…aku akan menemui Byakuya dan akan berbicara dengannya…" Ichigo melanjutkan, "besok…aku…akan melamar Rukia, ayah…"

Isshin membelalakkan matanya. Benarkah yang tadi dikatakan Ichigo barusan? Seseorang lalu membuka pintu dengan keras. "Benarkah itu Ichi-nii?!" teriak Yuzu dan Karin juga sudah berada di samping Yuzu. Mereka rupanya menguping pembicaraan Ichigo dan Isshin rupanya. Ichigo hanya bisa sweatdrop.

Isshin lalu meneteskan air matanya dan mulai menangis Bombay di poster Masaki. "HUAAAAAAA…Masaki… kau bisa dengar sendirikan? Anak kita sudah benar-benar dewasa sekarang…ini pertama kalinya ia membuat keputusan yang sangat gantle…"

"…Memangnya…dulu-dulu tidak pernah?" gumam Ichigo sambil menatap aneh ayahnya.

"Berarti aku harus mempersiapkan gaun dong.." ucap Yuzu.

"Yuzu…besok aku berencana untuk bicara dulu empat mata sama Byakuya, jadi belum resmi.." kata Ichigo.

Isshin mengepalkan tangannya dan menyentuhnya ke telapak tangannya. "Ternyata tidak sia-sia si tua Bangka lapuk itu menjodohkan kalian…hahahahaha…ini benar-benar sudah takdir, Ichigo."

Ichigo tersenyum setelah menyampaikan berita ini. dari raut wajahnya terlihat jelas keyakinan akan hubungannya dengan Rukia. Ia tidak ingin lagi menunda-nunda pernikahannya, ia sudah memantapkan untuk menyegerakan pernikahannya agar Rukia benar-benar menjadi miliknya.

oOo

Keesokan paginya di mansion Kuchiki. Byakuya sedang merenung di ruang pribadinya sambil menatap kelopak-kelopak sakura yang berguguran. Mungkin agak aneh karena seharusnya byakuya merasa senang mendengar bahwa adiknya, Senna, telah diketahui keberadaannya. Hanya saja, Byakuya bimbang apakah ia harus menjemput Senna? Mengingat sifat Senna yang amat keras kepala, tidak semudah itu membujuknya untuk pulang. Kepergiaan Senna beberapa bulan yang lalu membuat Byakuya takut untuk memaksa Senna.

Tok tok tok…

"Masuk," suara Byakuya terdengar tegas.

Seorang kakek tua renta lalu masuk bersama dua orang pelayan, dia adalah si kakek kepala pelayan di keluarga Kuchiki. Ia lalu menghampiri Byakuya.

"Ada apa?" tanya Byakuya.

"Maafkan hamba kalau hamba mengganggu Tuan…" kata si kakek itu, "Hamba hanya ingin menyampaikan bahwa…para petinggi keluarga Kuchiki kini berada di ruang pertemuan menunggu anda…"

Mata Byakuya membesar. Jelas dia terkejut dengan ucapan kepala pelayannya barusan. Para petinggi klan Kuchiki kini berada di mansion sekarang? Pasti karena ada hal yang penting sehingga jauh-jauh mereka ke Karakura untuk menemui Byakuya. Perasaan Byakuya menjadi tidak enak, walaupun ia hanya diam tapi dari wajahnya nampak jelas ia menyimpan kekhawatiran yang besar.

oOo

Ichigo kini berada di mansion Kuchiki. Wajahnya terus dihiasi dengan senyuman kebahagiaan. Sebelum keluar dari mobil ia menyempatkan diri untuk melihat wajahnya di kaca spion, merapikan sedikit rambutnya. ia memakai kemeja biru muda dan jas hitam. Ia kini berjalan untuk masuk ke kediaman kuchiki.

"Di mana Byakuya?" tanyanya pada seorang pelayan yang ia temui di teras depan.

"Tuan Kuchiki-sama sedang ada rapat dengan petinggi besar Kuchiki…" sahut pelayan itu.

"Oh…apa masih lama?"

"Mungkin tidak karena rapatnya dari tadi pagi, Tuan.."

"Kalau begitu aku tunggu saja di ruang baca Byakuya, bisa kan?"

"Baik, tuan," kata pelayan itu, "akan aku sampaikan ke tuan Kuchiki-sama jika sudah rapat…"

Pelayan tersebut lalu mengantar Ichigo ke ruang baca pribadi Byakuya. Setelah sampai, pelayan tersebut lalu meninggalkan Ichigo seorang diri di sana. Ruang baca Byakuya memang luar biasa, dindingnya bahkan ditutupi dengan lemari besar yang penuh dengan buku. Belum lagi yang desain anteriornya yang sangat artistik. Ichigo lalu melihat-lihat ada buku apa saja.

/

Ichigo's POV

Kini aku berada di suatu perpustakan pribadi Byakuya. Benar-benar luar biasa si Byakuya itu, ini pertama kalinya aku melihat perpustakaan semewah ini. begitu banyak buku-buku.

Oh, ya. Sekedar informasi, aku sedang menunggu Byakuya sekarang untuk membicarakan kelanjutan hubunganku dengan Rukia…ehehehehe…ehehehe…tahu kan masudku apa? Yup, aku ingin segera melamar Rukia agar Rukia bisa cepat menjadi milikku sepenuhnya…ehehehehehehe, jadi malu ah.

Aku lalu melihat-lihat ada buku apa saja di sini. kebanyakn buku-buku filsafat dan sastra rupanya, oh…pantas saja Byakuya menjadi orang yang sangat dingin dan tidak ada humor-humornya sedikitpun. Lihat saja bacaannya, filsafat man! Aku juga pernah membaca buku seperti itu tapi…kepalaku malah sakit selama tujuh hari tujuh malam.

Aku kemudian lihat-lihat lagi siapa tahu ada buku yang menarik. Ah, akhirnya aku menemukan sesuatu yang sangat menarik. Album foto keluarga Kuchiki! Aku langsung menariknya dari rak buku. Kumulai dari halaman pertama… alamak, foto Ginrei Kuchiki masih muda…o-ow ternyata kakek-kakek itu ganteng juga waktu muda…sebelas dua belas sama Byakuya…ow ow ow oooooww, kini aku bisa melihat masa depan Byakuya seperti apa nantinya. Ahahahaha…

Aku buka lagi…ah, ini foto Soujun Kuchiki…mirip dengan Byakuya sih tapi…wajahnya lebih teduh dibanding Byakuya yang sok cool itu. Kenapa bisa ya Byakuya dingin seperti itu padahal orang tuanya kelihatan ramah begini.

Aku terus membuka lembaran demi lembaran. Kini aku menatap foto Koga Kuchiki. Yang pernah kudengar Koga ini sebenarnya diadopsi oleh Ginrei Kuchiki karena kejeniusannya dan dia sangat terkenal di Soul society, sayangnya dia meninggal di usia muda. Aku baru melihat wajahnya, tidak kusangka ternyata dia ganteng juga, ada kenseikan di rambutnya seperti Byakuya.

Aku melihat-lihat lagi…ah siapa anak kecil berambut hitam panjang di kuncir kebelakang ini ya? Cantik sekali… apa itu Rukia? Tapi, bukan ah… aku melihat tahunnya…alamak ternyata Bakuya! Byakuya waktu kecil berambut panjang sampai sepinggang, astaga…mana dia terlihat badung lagi, kenapa bisa pribadinya berubah ya? Kini dia sangat dingin. Tapi… Byakuya ternyata cantik sekali ya waktu kecil… ehehehehehe… ehehehehe… benar kata ayah dulu kalau keturunan Kuchiki itu semuanya oke punya… semoga saja anakku dengan Rukia nanti cantik-cantik dan ganteng-ganteng seperti mereka… ehehehehehe… ehehehehehe…. ehehehehe… astaga, aku jadi cengengesan sendiri.

Aku lalu membuka lembaran berikutnya, eh…Byakuya muda bersama bayi? Itu pasti Rukia waktu bayi…ehehehe… Byakuya terlihat sayang sekali dengan adiknya.

Aku buka-buka berikutnya… Hah! aku terkejut melihat foto seorang gadis, gadis… yang aku kenal di Hueco Mundo… Senna? Walaupun difotonya ia terlihat masih remaja tapi itu benar-benar foto Senna! Kenapa foto Senna ada di sini? foto dia bersama Byakuya dan Ginrei Kuchiki lagi!

Aku terus membuka-buka album foto itu. Astaga…foto bersama keluarga Kuchiki dan ada Senna di situ! Tapi…anehnya tidak ada foto Rukia… apa maksudnya ini?

Aku lalu membuka-buka lagi. Foto pernikahan Byakuya… kali ini aku tak kalah kagetnya melihat foto pernikahan Byakuya. Byakuya…menikah dengan Ruki… akh, memang wanita di foto ini terlihat sangat mirip dengan Rukia tapi wanita ini jelas-jelas terlihat lebih dewasa.

Aku benar-benar tidak mengerti dengan foto-foto ini. tiba-tiba timbul kecurigaan di pikiranku. Apa mungkin…..? Ah, tapi… bagaimanapun aku harus memperlihatkan foto-foto ini ke ayah. Ya… ayah harus melihat foto-foto ini.

"Ichigo!"

Hah! Suara Rukia membuatku tersentak kaget.

To be Continue…

oOo

Mumpung ada waktu, Juzie langsung apdet kilat nih fic..huhuhuhu -_-'

coz besok-besok Juzie ada kesibukan laen... tapi mudah-mudahn bisa apdet minggu depan.

Maaf ya sodara-sodara kalo banyak banget typo and salah-salah yang lain, ga sempat diedit baik-baik pula...huuuuff

mudah-mudahan ceritanya ga tambah aneh...