Disclaimer : Masashi Kishimoto
Pairing : Sasuke U. Sakura H.
Rated : T
Genre : Hurt/Comfort, Romance, Family
Warning : AU, OOC, alur berantakan, typo bertebaran, gaje , maksa dll
Takdir " Benang Merah "
By : Saita Hyuuga Sabaku
Don't like Don't Read
***Happy Reading***
Summary : Seolah tak ingin terpisah, mereka menjerit dalam tangis, saat benang-benang merah yang tadinya begitu dekat, kembali mengulur membuat jarak yang semakin membentang jauh.
Seperti yang sudah tergaris oleh takdir, benang merah itu menarik dan menuntun salah satu ujungnya untuk mendekat ke ujung lainnya.
Chapter 3
"Apa benar ini kediaman keluarga Nara Shikaku,kerabat Uchiha Fugaku?" sambung suara itu.
Sedikit terkejut ada telepon dari kepolisian semua nyawanya yang masih berkeliaran langsung masuk ke dalam tubuhnya dan langsung menampakkan raut muka serius.
"Ya, ada apa?" sahut Shikaku.
"Begini, kami harus menyampaikan kabar duka. Tuan Uchiha Fugaku menjadi salah satu korban dalam kecelakaan kereta Iwa menuju Konoha, rabu malam pukul 11. Jenazahnya ada di rumah sakit Iwa," lanjut polisi itu.
'Tidak mungkin' batin Shikaku. 'Apa yang harus kukatakan pada Itachi. Dia pasti akan sangat terpukul.' Ia ingat saat itu adalah hari ia menelepon memberi kabar pada Fugaku tentang keadaan Mikoto. Jadi ia langsung bergegas menuju Konoha. Jadi inilah alasan ia tak datang pada pemakaman istrinya. Dan panggilan yang tak pernah di jawab, inilah alasan di balik itu semua. Karena dia pun justru menyusul istrinya ke alam sana.
'Sial,' batinnya.
"Tuan Nara," sahut polisi itu karena cukup lama tak mendengar jawaban. Shikaku pun langsung tersentak dari lamunannya.
"Baik Pak, akan segera saya urus. Terima kasih atas informasinya," dia pun langsung menutup sambungan telepon itu. Shikaku langsung melesat ke kamarnya dan berkemas. Yoshino yang sudah bangun pun menatap suaminya heran.
"Ada apa suamiku? Siapa yang barusan menelepon? Kenapa kau terlihat panik?" pertanyaan bertubi-tubi diluncurkan kala melihat suaminya tergesa-gesa seperti itu.
"Istriku, Fugaku..." suaranya tertahan,tenggorokannya rasanya tercekat sehingga sulit melanjutkan perkataannya. Yoshino makin kebingungan,tapi jelas terlihat di raut muka suaminya sesuatu yang buruk pasti telah terjadi. "Dia kecelakaan kereta saat menuju dia meninggal. Sekarang aku harus bergegas ke Iwa untuk mengurus jenazahnya. Kau jagalah anak-anak. Aku tak tau harus bagaimana menyampaikan berita ini pada Itachi" raut mukanya berubah sendu.
"Suamiku tenanglah, akan kubantu menjelaskannya pada Itachi. Segeralah kau berangkat",ucapnya lembut seraya menggosok punggung suaminya berusaha memberi ketenangan.
"Baiklah, aku pergi dulu." Ia pun bergegas melesat menuju Iwagakure.
.
.
.
Perlahan onyx Itachi terbuka karena sinar mentari yang menyembul ke dalam kamarnya. Ia mengucek-ngucek matanya seraya duduk mengumpulkan kesadarannya. Tak lama pintu terbuka menampilkan sosok Oba-san nya.
"Itachi,kau sudah bangun rupanya" ucap Yoshino seraya menghampiri ke ranjang Itachi.
"Ah iya Ba-san, ohayou," bibir mungilnya berusaha memberikan senyum tulus. Yoshino mengusap lembut rambut berhelain raven tau Itachi berusaha menyembunyikan kesedihannya dengan senyum itu. Ia menatap nanar Itachi. Bagaimana ia akan menyampaikan tentang kematian Fugaku. Sementara ia baru kehilangan Mikoto. Ia sungguh bingung tapi dia tak bisa menyembunyikan kenyataan.
"Itachi segeralah mandi, setelah itu kita sarapan. Aku sudah menyiapkan makanan kesukaanmu." Lalu ia pun bangkit dan mulai melangkahkan kakinya keluar,tapi suara bariton Itachi menghentikan langkahnya.
"Ba-san," panggil Itachi. Yoshino pun mengalihkan pandangannya kembali pada Itachi.
"Arigatou, telah menyayangiku seperti anakmu sendiri. Aku...aku sungguh berterima kasih dan bersyukur. Karena Ji-san dan Ba-san tidak menelantarkan kami seperti Tou-san". Air mata mulai membasahi bagaimanapun juga ia memang masih terlalu kecil untuk menghadapi takdir seperti pun kembali menghampiri Itachi. Ia memeluk bocah berambut raven itu seraya mengusap lembut helaian ravennya.
"Itachi, tidak perlu berterima kasih. Sudah kewajibanku dan Ji-san mu untuk menjagamu. Jangan anggap kami sebatas Ji-san dan Oba-san mu. Anggap kami orang tuamu. Kapanpun kau merasa kesepian kami akan selalu ada disampingmu. Tabahkan hatimu Itachi. Bukan hanya kau yang menderita dan bersedih. Bukan hanya kau yang merasa kehilangan. Kami semua sama sepertimu. Tapi takdir telah memilih jalannya seperti ini. Tak ada yang perlu kau sesali. Jangan menyalahkan keadaan ini pada Tou-san mu. Dia sangat menyayangimu dan juga Mikoto. Jadi jangan membenci Tou-sanmu seperti itu. Dia tidak mungkin menelantarkan kalian," ucapannya terhenti karena Itachi melepaskan pelukannya.
"Bagaimana bisa Ba-san berkata seperti itu? Bahkan Tou san tidak pulang saat Kaa-san mau melahirkan. Bahkan saat pemakaman dia...dia tidak juga menemui Kaa-san", suaranya terisak dan air mata mulai deras mengaliri pipinya. "Ba-san tidak mengerti," tangan mungilnya mulai mengepal erat."Oba-sani tidak akan mengerti", ucapnya lirih. Yoshino kembali mendekapnya dalam pelukan hangatnya.
"Itachi justru aku dan pamanmu yang lebih mengerti. Bukankah Mikoto selalu bilang untuk tidak membenci Tou-san mu, hanya karena dia jarang menghabiskan waktu bersama kalian?". Kata-kata itu sukses membuat onyx milik Itachi terbelalak tak pun sebenarnya ingat bahwa ibunya pernah mengatakan hal yang sama. Mengatakan untuk tidak membenci ayahnya. Itachi hanya bisa menunduk. Tak tau apa kali ini dia telah benar-benar salah menilai Tou-san nya.
"Jika saatnya tiba kau akan mengetahui semuanya Itachi. Jadi, kumohon, jangan membenci Fugaku, keadaanlah yang memaksanya tidak punya waktu luang untukmu". Yoshino pun melepas pelukannya dan mengusap sisa air mata bocah onyx itu.
.
.
.
Di ruang makan...
"Ba-san, dimana Ji-san? Kenapa dia tidak ikut makan bersama?"
"Dia sedang ada urusan sebentar. Makanlah. Setelah ini kita akan membawa Sasuke keluar untuk berjemur".
.
.
.
Di taman saat sedang membawa bungsu Uchiha berjalan-jalan sambil berjemur, dan akan kembali pulang dia berpapasan dengan wanita seumurannya yang juga membawa bayi. Bayi perempuan yang cantik.
Ketika langkah Mebuki dan Yoshino semakin menjauh tiba-tiba secara bersamaan Sasuke dan Sakura menangis. Tak ada angin, tak ada hujan, tak ada badai, tak ada ombak, tak ada petir, tak ada halilintar... ((*woi author,,semuanya aja lu keluarin,,kaga kelar-kelar dah)~author: nyengir rubah))...membuat Yoshino dan Mebuki bingung dengan tangisan tiba-tiba itu.
.
.
.
Seolah tak ingin terpisah, mereka menjerit dalam tangis, saat benang-benang merah yang tadinya begitu dekat, kembali mengulur membuat jarak yang semakin membentang jauh.
Sepulangnya dari taman,Yoshino mengajak Itachi menuju ruang keluarga.
"Itachi," suara berat Yoshino memulai percakapan. Onyx bocah itu memandang Oba-san nya yang sudah duduk di sebelahnya.
"Itachi, Fugaku, dia sudah meninggal."
'Duagh' sontak pernyataan itu membuat jantung si sulung Uchiha serasa berhenti berdetak dan nafasnya tercekat serta onyxnya membelalak. Itachi tak bisa berkata apa-apa karena berita yang di dengarnya sungguh sangat tiba-tiba. Belum cukupkah luka atas kehilangan Kaa-san yang sangat dicintainya. Haruskah luka itu dibubuhi pula dengan garam sehingga terasa sesakit ini? Begitulah kira-kira pikiran Itachi saat ini.
"Itachi tabahkan hatimu nak," tangan lembut sang bibi langsung mendekapnya ke dalam pelukan hangat. Yoshino menjelaskan berita yang ia dapat dari suaminya dengan sedetail-detailnya. Menjelaskan alasan kenapa Fugaku tak datang dan menjelaskan alasan dibalik sikap Fugaku .
Semua keadaan rumit itu, membuat Itachi terdiam dan tak bisa berkata. Dia hanya bisa menunduk dan meratapi takdir yang menurutnya telah mempermainkan keluarganya. Dengan suara yang bergetar dan tangis yang tertahan dia membuka suaranya.
"Ba-san, aku sungguh menyesal. Sangat menyesal. Membiarkan kebencian menyelimutiku. Aku ini bodoh,membenci Tou-san yang sangat menyayangi kami. Aku merasa sangat bodoh Ba-san" rengeknya kemudian. Tangisnya pun seketika meledak.
"Huwaaaaaaa...huuuu...uuuuuu...hiks...hiks...hiks..." tangis yang sama seperti saat ia kehilangan Kaa-sannya. Bahkan lebih dalam dan lebih menyedihkan dari malam itu.
"Sudahlah Itachi tak ada gunanya kau menyesali. Semua sudah terjadi. Sekarang kau sudah tau kebenarannya. Alasan kenapa Fugaku bersikap demikian. Aku dan Shikaku masih ada untukmu, untuk Sasuke. Kau harus tabah. Ini memang sudah jalan yang Kami-sama gariskan untuk kita. Yoshino makin erat mendekap Itachi dalam pelukan hangatnya.
.
.
.
Upacara pemakaman telah selesai dan mereka berlalu menuju kediaman Nara.
.
.
.
Lima tahun telah berlalu. Itachi dan Sasuke tinggal bersama keluarga Nara. Itachi mendapatkan kasih sayang yang tak pernah ia dapat dari Fugaku. Dan Sasuke mendapat kasih sayang sempurna dari Shikaku dan Yoshino. Mereka tak pernah membedakan perlakuan mereka terhadap Itachi, Sasuke dan anak semata wayangnya Shikamaru yang hanya berbeda usia satu tahun di atas Sasuke. Sasuke tak pernah kesepian, karena ia memiliki Aniki yang yang selalu menyempatkan diri untuk bermain dengannya, di tengah kesibukannya bersekolah. Dan sepupu yang selalu bermain bersamanya.
.
.
.
Kediaman Haruno
"Sakura..." panggil Mebuki.
Sakura yang berada dalam kamarnya di lantai dua, langsung turun mendengar Mebuki memanggilnya.
"Iya Kaa-chan, ada apa?" tanya Sakura dengan gaya bicara khas bocah berusia 5 tahun.
"Coba tebak, Kaa-san bawa apa untuk Saku," kata Mebuki.
"Umm..." Sakura terlihat berpikir. Jari telunjuknya ia letakkan di dagu dan matanya menerawang memandang Mebuki.
"Caku tidak tau Kaa-chan, ayolah Kaa-chan jangan buat Caku penacaran," rengeknya pada Mebuki.
Mebuki tersenyum. "Ayo, Kaa-san tunjukkan, tapi Saku harus tutup mata ya," ucap Mebuki.
"Hai'."
Mebuki menggendong Sakura menuju ke halaman rumahnya. Sakura yang sudah memejamkan mata, hanya bisa berdebar-debar menunggu kejutan yang akan diberikan Mebuki.
"Nah, sekarang coba buka matamu Sakura," kata Mebuki setelah sampai di halaman.
Sakura mengerjap-ngerjapkan matanya. Di hadapannya kini ada seekor anak kucing yang lucu dan menggemaskan. Matanya terlihat berbinar dan ia langsung berhambur memeluk Mebuki.
"Arigatou ne Kaa-chan," tawa bahagia terlukis di wajah cantik dan manis itu.
.
.
.
Sakura tengah asyik bermain di taman. Sampai tiba-tiba ia mendengar suara anak laki-laki yang sedang menangis. Ia mencari dari mana asal sumber suara itu dan mengikutinya.
Seperti yang sudah tergaris oleh takdir, benang merah itu menarik dan menuntun salah satu ujungnya untuk mendekat ke ujung lainnya.
Saat sudah tiba di sumber asal suara, ia berhenti sejenak. Ragu-ragu, ia putuskan menghampiri anak yang sedang menangis itu.
"Hei, kamu kenapa," ucapnya seraya mendekati bocah laki-laki berhelai raven dengan gaya rambut emo yang mencuat ke belakang.
"Aku...aku hanya sedang sedih...hiks...hiks..." ucap bocah laki-laki itu sambil sesenggukan menangis.
"Iya, Caku tau kamu cedang cedih, makanya kamu menangis kan? Tapi, apa yang membuat kamu cedih," lanjut Sakura kemudian. "Kalau kamu menangis seperti itu, Caku juga jadi cedih," lanjutnya.
"Belakangan ini, Aniki-ku tidak mau menemaniku bermain. Hari ini juga. Padahal ia sudah berjanji akan menemaniku bermain. Aniki-ku sudah tidak menyayangiku lagi...huuuu...uuu...uuu...hiks...hiks..." Sasuke semakin menagis sesenggukan.
Sakura bingung harus berbuat apa. Karena dia malah semakin membuat tangis bocah itu meledak. Perlahan Sakura mendekatkan wajahnya pada bocah laki-laki itu.
Dan...
'Cup' dia mengecup lembut pipi Sasuke. Sasuke yang kaget akan perlakuan itu, langsung diam dan berhenti menangis.
"Cekarang, apa kamu macih cedih? Kaa-chan celalu menciumku ceperti itu kalau aku menangis. Dan aku, jadi tidak cedih kalau Kaa-chan sudah menciumku," ucap Sakura panjang lebar.
Sasuke mengusap jejak air mata yang tadi mengalir dengan punggung tangannya. Ia tersipu malu dengan perlakuan gadis kecil itu.
"Arigatou," ucap Sasuke sambil tersenyum tipis, tapi masih bisa terlihat oleh Sakura.
"Cama-cama," ucap Sakura seraya membalas senyum Sasuke. Senyum termanis yang pernah Sasuke lihat.
"Nama kamu ciapa? Kamu tinggal dimana?" pertanyaan demi pertanyaan terlontar dari bibir mungil itu.
"A...Aku...aku Sasu..." belum sempat Sasuke menjawab, terdengar suara wanita dewasa memangil Sakura.
"Sakuraaaaa..." teriak Mebuki.
Sakura yang mendengar Kaa-sannya memanggil, langsung menyahut.
"Iya Kaa-chan...sebentar."
"Cacu...Caku pulang dulu ya...besok kita main lagi..." ucapnya disertai senyuman.
Ia berbalik dan berlari menghampiri Kaa-sannya. Sebelum sampai di tempat Kaa-sannya ia sempat berbalik dan melambai pada Sasuke.
"Jaa...Cacu."
Sasuke hanya bisa menatap kepergian gadis berhelai merah muda itu. Ia tersenyum setelah sosok gadis kecil bermata emerald itu hilang dari pandangannya.
"Cherry," gumamnya. Karena ia tidak tahu, nama gadis itu sebenarnya. Dia hanya tau 'Caku' dan aroma 'Cherry' yang menguar saat bocah musim semi itu menciumnya.
_TBC_
Sakura : Hei author, kenapa tidak kamu publish semua chapter yang sudah ada?
Author : Buat besok lagi.
Sasuke : Cepat katakan sepatah, 2 patah kata untuk readers. Aku ingin cepat istirahat.
Author : Baru maen sedikit scane aja udah cape,,payah -_-"
Sasuke : men-deathglare author
Author : #bergidik ngeri
Baiklah, seperti biasa, saya butuh review, kritik dan saran dari fic saya ini. Karena itu akan menjadi semangat tersendiri bagi saya untuk melanjutkan fic-fic saya.
Thanks special for : Hanazono Yuri, , Shinohara Akari, Uchiha NikeNike, yang sudah menyempatkan diri me-review fic saya ini.
Dan terakhir, terima kasih sudah membaca, terima kasih sudah sempat memberi review, dan terima kasih bagi para silent reader. ^-^
With Love,
Saita
