Summary : Senna lari dari rumah karena tidak ingin dijodohkan dengan putra kurosaki. Karena itu, Rukia harus menggantikan Senna….R&R please…^^

Author: Juzie chan

Disclaimer : Om Kubo lah...Author cuma minjam tokoh om Kubo hingga batas waktu yang terhingga (hingga bleach tidak ada lg di dunia ini...huhuhu)

Pairing : IchiRuki, slight IchiSena, RukiRen, ByakuRuki (ini mudah-mudahan enggak...)

Warning! : banyak Typo, AU, OOC, EYD tidak sesuai, Gaje, Jayus, Abal, penuh kenistaan, membosankan, dan segala kekurangan-kekurangan yang lainnya.

Oh, ya...

Salam kenal semua ya...Juzie adalah author baru belajardan tidak berpengalaman di dunia fanfiction. mohon dimaklumin ya sodara-sodara jika story yang Juzie buat sangat sangat tidak mengundang selera tapi kalau ada yang R&R Juzie akan sangat berterima kasih...

Mohon bimbingannya...

*Tengkyu ya yang udah baca and review di Chapter sebelumnya...Author sama sekali ga nyangka kalau fic ini bakal ada yang baca...^^

CH 12

Save Her, Please…

Rukia ada di ruangan ini! Cepat-cepat kututup dan kukembalikan album foto itu disela-sela buku di rak. Aku lalu menoleh ke arah Rukia. Rukia berdiri di dekat pintu sambil menatapku dengan tatapan polosnya.

Aku hanya bisa diam menatap Rukia. Aku ingin sekali menghilangkan kecurigaan dalam diriku saat ini juga tapi… Rukia mendekat dan kini berdiri tepat di depanku.

"Tadi, pelayan bilang kalau kau ada di sini," kata Rukia, "bagaimana kalau kita berbincang-bincang di luar sambil kau menunggu Nii-sama?"

Entah mengapa aku tidak ingin dulu bicara dengan Rukia. Aku berpura-pura melihat jam tanganku. "Rukia… aku harus pergi dulu," kataku untuk menghindarinya, "tiba-tiba saja aku ingat ada urusan penting, ummm nanti aku telpon." Aku mengelus sebentar pipi Rukia sambil menatapnya lekat-lekat sebelum meninggalkannya.

oOo

"Aku pulang…" seru Ichigo lesu sambil membuka pintu. Ia berjalan semponyongan memasuki rumahnya, wajahnya muram dan tak ada semangat sama sekali.

Yuzu lalu berlari menghampiri kakaknya. "Ichi-nii!" Yuzu berseru menyapa Ichigo, "apa Ichi-nii sudah bicara dengan om Byakuya? Bagaimana hasilnya? Apa Ichi-nii sudah menetapkan tanggal pernikahan Ichi-nii? Lalu, kapan kita sekeluarga akan melamar Rukia-chan secara resmi?" Yuzu langsung menyerbu Ichigo dengan banyak pertanyaan. Dari wajahnya ia terlihat sangat penasaran dengan hasil pertemuan Ichigo dengan kepala keluarga Kuchiki yang menurut perkiraannya tidak lama lagi akan menjadi keluarga mereka.

Ichigo tidak menjawab, ia hanya menepuk pelan bagian atas kepala Yuzu lalu pergi menuju kamarnya. Reaksi Ichigo yang demikian membuat Yuzu bingung, ia menatap khawatir kakaknya.

"Karin-chan, kau lihat sendiri! Kenapa Ichi-nii jadi lemas begitu…." Yuzu mengadu ke Karin setelah Ichigo menaiki tangga.

Karin terlihat biasa saja. ia menyandarkan dirinya di sofa dengan menyilangkan tangannya di belakang kepalanya. "Barangkali…om Byakuya tidak setuju kalau Rukia-chan menikah dengan Ichi-nii…" Karin hanya berusaha menebak saja.

"Eeeeehhh, itu tidak mungkin, Karin-chan!" seru Yuzu, "Rukia-chan itu tunangan Ichi-nii masa om Byakuya tidak setuju…"

"Ya…siapa tahu om Byakuya berubah pikiran karena kalau dilihat-lihat om Byakuya sepertinya tidak menyukai Ichi-nii…"

"Ah, Karin-chan sembarangan saja…"

"Cukicakicukicakicu…aha aha… kereta beraaaangkat…" Isshin membuka pintu sambil mendendangkan lagu dan berjingkrak-jingkrak kecil.

Hari sudah sangat larut tenyata. Malam ini pasien yang berkunjung sangat banyak sehingga Isshin harus membuka tempat prakteknya hingga tengah malam.

Rumah keluarga Kurosaki terlihat sudah sangat sepi, siapa saja pasti mengira bahwa penghuni di rumah itu sudah tertidur lelap di kamar masing-masing.

"Cukicakicukicaki-" Isshin menghentikan lagunya ketika melewati ruang keluarga, ia menyadari ada seseorang yang sedang duduk di sofa kecil.

"Siapa itu?! Kenapa bergelap-gelapan?" tanya Isshin lantang. Ia lalu menyalakan lampu di ruangan itu, terlihat ada seseorang berambut orange di balik sofa.

"Ini aku ayah…" sahut Ichigo sambil menoleh ke belakang, ke arah Isshin.

"Owww…Ichigo, kau belum tidur? kenapa tengah-tengah malam begini kau malah duduk sendirian di sini? ah…jangan-jangan kau menunggu ayah…aw aw aw aw aw…" tanya Isshin dengan aksen sedikit lebay.

"Ke sinilah ayah…ada yang ingin kuperlihatkan ke ayah," panggil Ichigo serius..

Mendengar nada suara Ichigo yang terdengar serius, aneh sekali bagi Isshin. Isshin lalu duduk di sofa lebar, di samping sofa Ichigo. "apa yang kau ingin perlihatkan, Ichigo?" tanyanya sambil melonggarkan dasinya, "Oh, ya, bagaimana pertemuanmu dengan Byakuya tadi?"

"Tadi aku tidak sempat bertemu dengannya…" sahut Ichigo, "tapi…aku menemukan ini ayah.." Ichigo lalu menaruh beberapa lembar foto di meja, tepat dihadapan Isshin. "Mungkin…ayah lebih bisa mengerti arti foto-foto itu…"

Isshin lalu mengambil foto-foto itu. "kenapa dengan foto-foto ini, Ichigo?" tanyanya.

"Coba ayah perhatikan baik-baik foto itu!"

Isshin lalu memperhatikan foto-foto itu secara bergantian. Sewaktu melihat foto pernikahan Byakuya, mata Isshin tiba-tiba membesar lalu mengerut memandangi foto tersebut. "Byakuya…menikah dengan….Rukia?" Ia menatap tidak percaya foto-foto itu.

"Bukan ayah…Rukia dan wanita itu memang sangat mirip, tapi dia bukan Rukia," sahut Ichigo.

"Benar juga… wanita ini terlihat lebih tua dari Rukia," gumam Isshin, "tapi…kenapa wanita ini sangat mirip dengan Rukia, ya?"

"Apa ayah tidak mengenal istri Byakuya?" tanya Ichigo.

Isshin menggeleng pelan. "Tidak," sahutnya, "waktu ayah tahu Byakuya sudah menikah, ayah kaget karena tidak ada undangan yang sampai di keluarga kita, gosipnya kalau pernikahan mereka sebenarnya ditentang oleh petinggi keluarga Kuchiki karena wanita yang ia nikahi itu berasal dari Inuzuri….. tapi, ayah tidak tahu pastinya."

"Benarkah itu ayah….?"

Isshin lalu mengamati foto keluarga Kuchiki. Ia merasa aneh karena gadis yang berdiri di samping Ginrei Kuchiki bukanlah Rukia…tapi seorang gadis muda yang lain.

"Siapa gadis ini?" Isshin bertanya sambil menunjuk gadis itu di foto.

"Apa ayah juga tidak mengenalnya?"

"Ayah tidak pernah melihatnya…"

"Kalau gadis itu ada di foto keluarga Kuchiki berarti gadis itu juga anggota keluarga Kuchiki, ayah…"

"Ya… kau benar, tentu itu pasti! Mana mungkin ada orang lain di foto keluarga….Hah!" Isshin menyadari sesuatu, ia semakin merasa aneh dengan foto itu.

"Di foto itu…Rukia malah tidak ada, ayah…"

Isshin diam, ia juga sebenarnya masih bingung dengan foto-foto itu. Ia berusaha menganalisa foto-foto tersebut dan akhirnya ia menemukan suatu jawaban yang masih merupakan kecurigaan.

"Ayah…apa mungkin…Rukia itu…"

"Ayah tidak yakin, ichigo," Isshin menyela Ichigo, "sebenarnya ayah sendiri juga berpikir sama dengan apa yang kau pikirkan…tapi…kita harus mendengar langsung dari Byakuya…kalau memang apa yang kita pikirkan benar…berarti…Byakuya telah membohongi kita…"

"Ya…ayah benar…"

oOo

Keesokan harinya di Mansion Kuchiki.

Setelah pertemuan kemarin dengan para petinggi Kuchiki, Byakuya memutuskan untuk segera menjemput Senna yang kini berada di Garganta. Pertemuan kemarin membuat Byakuya merasa sangat tertekan, para petinggi Kuchiki meminta pertanggung jawaban Byakuya atas terjadinya pertunangan putra keluarga Kurosaki dengan Rukia yang notabene tidak dianggap sebagai anggota keluarga Kuchiki bagi para petinggi klan Kuchiki. Mereka menganggap bahwa Byakuya telah melanggar ketentuan yang ditetapkan oleh Ginrei Kuchiki, kakek Byakuya sendiri. Byakuya yang duduk seperti sedang diadili hanya bisa terdiam, ia tidak melawan tapi ia juga tidak ingin merasa disalahkan. Toh, bagaimanapun Byakuya adalah kepala keluarga klan Kuchiki, ia lebih memiliki kuasa untuk memutuskan sesuatu hanya saja ia tetap harus menghormati para petinggi klannya.

Byakuya kini berjalan cepat di koridor bersama kedua pengawalnya. Langkahnya berhenti ketika melihat Renji di sana.

"Abarai, apa yang kau lakukan di sini?" tegur Byakuya, "kau sudah bersiap-siap kan? kita harus ke Gaganta sekarang!"

Bukannya segera beregas setelah mendengar panggilan majikannya, Reji malah diam memandangi majikannya.

"Kenapa kau diam saja, Abarai?" Byakuya agak marah melihat sikap Renji, "kita tidak punya banyak waktu!"

"….kalau Kuchiki-san pulang… lalu… bagaimana dengan Rukia…?" Renji bersuara.

Byakuya memandang heran Renji. "Ap-?"

"Apa…" Renji menyela Byakuya, "kau…akan memutuskan pertunangannya dengan Ichigo atau…kau…tidak akan memperdulikannya?"

"Tutup mulutmu, Abarai-kun!" geram salah satu pengawal Byakuya. "Berani sekali kau berbicara tidak sopan dengan Tuan Kuchiki-sama!"

"Tidak mengapa," kata Renji santai, "karena setelah ini… aku akan mengundurkan diri."

Byakuya mendesis dan menatap marah Renji. "….Abarai…kau?"

"Tuan Kuchiki-sama…maaf kalau saya mengganggu anda Tuan… mobil dan semuanya sudah saya siapkan," kata sang kakek kepala pembantu rumah tangga.

Byakuya mendengus marah lalu berpaling dan pergi meninggalkan Renji. Byakuya tidak habis pikir, bisa-bisanya orang yang dia angkat sebagai asisten kepercayaannya berani berbuat tidak sopan dengannya. Tapi, itu bukanlah masalah besar bagi Byakuya, ia bisa dengan sangat mudah mendapatkan pengganti Renji.

Sebelum sampai di mobil, Byakuya bertemu dengan Ichigo. Byakuya merasa sedikit aneh dengan tatapan Ichigo, seakan-akan ia mencegat Byakuya. Tapi kali ini Byakuya tidak mau berurusan dengan Ichigo, ia harus segera menuju ke Garganta sekarang.

"Maaf… aku sedang terburu-buru," kata Byakuya sambil terus berjalan hendak melewati Ichigo, "aku tidak punya banyak waktu untuk melade-"

"Oh, ya?" Ichigo menyela Byakuya dengan lantang, "aku hanya ingin mendengar penjelasan mengenai…ini!" ichigo mengankat dan memperlihatkan foto-foto yang ia temui kemarin. Tentu saja Byakuya sangat terkejut tapi ia tetap menahan reaksinya.

Agak lama Byakuya terdiam menatap foto-foto yang kini berada di tangan Ichigo, tidak lama kemudian ia mendesah. "Baiklah Kurosaki…aku akan menjelaskannya di mobil…"

oOo

Ichigo's POV

Kini aku berada di mobil Byakuya, bersamanya tentunya walaupun sebenarnya aku tidak tahu Byakuya akan kemana.

"….Dimana kau temukan foto-foto itu?" tanya Byakuya memulai pembicaraan.

"Ini…tidak segaja aku temukan," sahutku, "aku menemukannya di ruang bacamu."

"Oh…"

"Di foto ini…" aku mengambil salah satu foto, "siapa gadis ini, Byakuya?" aku menunjuk Senna di foto itu.

"….dia adikku."

Aku terkejut mendengar jawaban Byakuya. Tidak kusangka… ternyata… Senna adalah adik Byakuya… lalu…

"Rukia?"

"Rukia adalah gadis yatim piatu yang aku adopsi sebagai adikku…" Byakuya menjawabnya dengan tenang.

"Lalu…kenapa… kau malah menjodohkanku dengan Rukia…?"

Byakuya mendesah berat, "….itu karena Senna tidak ingin dijodohkan denganmu, Kurosaki… akibatnya dia lari dari rumah dan di waktu yang sama ayahmu ingin segera agar kau dinikahkan dengan adikku," kata Byakuya, "Rukia itu adalah adikku juga jadi…kurasa sama saja…"

"…kau membohongi kami…"

"Maafkan aku untuk yang itu…" wajah Byakuya terlihat menyesal, "aku tahu ayahmu tidak akan setuju jika tahu bahwa putranya akan dijodohkan dengan gadis yang sebenarnya bukan keturunan Kuchiki…aku benar-benar salah…"

Walaupun Byakuya nampak benar-benar merasa bersalah tapi aku masih marah padanya. Bukan hanya karena telah membohongiku dan keluargaku tapi…aku benar-benar penasaran apa yang ia lakukan ke Rukia sehingga Rukia mau saja ditunangkan denganku.

"Apa…kau memaksa Rukia untuk mau bertunangan denganku?" tanyaku.

"….aku hanya mencoba meminta bantuannya…tidak kuduga dia menyetujuinya… walau aku tahu sebenarnya Rukia terpaksa menyetujuinya…"

"Kau sudah tahu kalau dia terpaksa menyetujuinya tapi kau tetap melangsungkan pertunangan kami!" suaraku meninggi, aku benar-benar emosi. "kau… tidakkah kau memperdulikan perasaan Rukia…?" tanyaku terengah-engah.

"Kurosaki…mungkin aku sudah kejam pada Rukia tapi…aku juga melakukan ini untuk Rukia…"

Aku mengerutkan alisku ke arah Byakuya. Tidak mengerti dengan maksud ucapannya barusan.

"Rukia…sudah lima tahun aku mengadopsinya sebagai adikku…" kenang Byakuya, "selama itu…aku tidak pernah melihatnya tersenyum, ia selalu terlihat tegang…dan menyendiri sendirian…walaupun aku jarang berinteraksi dengannya tapi…diam-diam aku memperhatikannya dari kejauhan….dia sama sekali tidak bahagia menjadi bagian dari keluarga Kuchiki dan juga…dia takut padaku…" wajah Byakuya murung saat bercerita, "kupikir…Rukia akan lebih cocok jika berada di keluargamu, Kurosaki… makanya aku menawarkan pada keluargamu agar kau dan Rukia bertunangan terlebih dahulu karena aku tidak mau memaksa Rukia untuk bersedia menikah denganmu," Byakuya berhenti sesaat, "dan…. selama dia mengenalmu dan keluargamu… aku jadi lebih sering melihatnya tersenyum…" Byakuya lalu memejamkan matanya sebentar sambil mengatur nafasnya. "Kurosaki…Rukia itu…bagiku dia lebih berarti dari sekadar adik angkatku…karena…dia adalah adik dari wanita yang aku cintai…walaupun semua menentangku…aku…tetap menganggapnya sebagai anggota keluarga Kuchiki…"

Agak lama aku dan Byakuya terdiam. Ternyata Rukia adalah adik ipar Byakuya. Ya…aku sebenarnya bisa memahami perasaan Byakuya tapi…aku masih tidak bisa menerima ini semua.

"Adik kamu itu…namanya Senna, kan?" tanyaku kemudian.

Byakuya menatapku heran. "…Darimana kau tahu?"

"Aku pernah bertemu dengannya di Hueco Mundo…" sahutku.

"Be-benarkah itu?" Byakuya seperti tidak percaya.

"Ya…" kataku, "kulihat kondisinya baik-baik saja di sana, mungkin…dia masih berada di sana."

"Tidak," kata Byakuya, "dia ada di Garganta sekarang…dan aku akan menjemputnya pulang."

Tidak lama kemudian mobil berhenti. Kami berada di bandara rupanya. Salah satu pengawal Byakuya membukakan pintu untuk Byakuya dan Byakura turun dari mobil. Aku juga ikut-ikutan turun dari mobil.

"Kau bisa menceritakan semuanya pada ayahmu, Kurosaki," kata Byakuya, "aku tidak perlu lama-lama menutupinya lagi…"

"Ya…" sahutku, "itu sudah pasti."

Seorang pengawal lalu menghampiri Byakuya sambil memegang ponsel. "Maaf, Tuan Kuchiki-sama…ada telfon dari detektif Soi Fon…" katanya.

Byakuya lalu menerima ponsel itu. "Ya. Ada apa, Soi Fon?" Byakuya berbicara dengan seseorang di ponsel pengawalnya, aku tidak tahu ia berbicara dengan siapa yang aku tahu lawan bicaranya itu seorang detektif.

"Apa?!" Tiba-tiba Byakuya terkejut, entah apa yang dikatakan lawan bicaranya itu. "Se…Senna…diculik?"

"Kau bilang Senna diculik?!" aku ikut-ikutan terkejut. Tentu saja aku terkejut, aku baru tahu kenyataan yang sebenarnya mengenai Rukia dan kini aku mendengar bahwa Senna diculik?

Byakuya lalu mengembalikan ponsel pengawalnya itu. Wajahnya benar-benar tegang dan memucat. Ya, siapapun akan mengalami hal yang serupa jika mendengar bahwa adiknya sedang diculik. "Senna…terlibat dalam penculikan…." Kata Byakuya shock.

"Kalau begitu…aku akan ikut denganmu!"

Aku dan Byakuya kini berada di Garganta dan ternyata langit gelap mulai menyelimuti langit di kota itu. Ini pertama kalinya aku berada di Garganta. Letaknya memang tidak begitu jauh dari Huecomundo dan suasana kotanya yang terkesan klasik tidak beda jauh dari suasana di Huecomundo. Ah…membuatku mengingat liburanku bersama Ishida dan Grimmjow waktu di Hueco Mundo.

Akhirnya mobil Byakuya masuk ke suatu lahan kediaman seseorang yang….astaga, pasti orang yang punya rumah itu super duper kaya raya. Lahannya luas seperti lapangan golf, ah…seperti berada di resort mewah dan….ternyata bangunannya seperti kastil. Ini jauh lebih mewah daripada mansion Kuchiki!

Aku dan Byakuya turun dari mobil beserta dengan para pengawal Byakuya. Di depan kastil eh maksudku kediaman seorang konglomerat, baru saja kuketahui nama pemilik kediaman mewah ini, namanya adalah Sousuke Aizen. Aku sering mendengar namanya waktu di Hueco Mundo tapi aku tidak pernah melihat rupa si konglomerat itu.

Detektif yang bernama Soi Fon sedang berdiri bersama pria bermata sipit dan berambut putih dan juga ada beberapa orang yang sepertinya adalah para pegawal, mungkin mereka adalah para pengawal pemilik kediaman ini. Mereka semua menunggu kami di depan Kediaman Aizen. Ia langsung menyambut Byakuya ketika Byakuya turun dari mobil.

"Kepolisian Garganta akan menceritakan bagaimana kejadiannya setelah kita masuk ke dalam," kata Soi Fon, "Aizen-san sedang menunggu kita di dalam."

Kami lalu masuk ke dalam kastil dituntun oleh para pengawal Aizen. Benar-benar luar biasa si Aizen itu, di dalam kastil...aku lebih suka menyebutnya kastil dibanding kediaman, benar-benar semuanya serba mewah. Kira-kira…biaya untuk membangun rumah sebesar ini berapa ya? Astaga…aku ini berpikir apa sih?!

Pengawal berambut putih dan bermata sipit membukakan kami pintu di suatu ruangan yang sepertinya adalah ruangan pribadi Aizen. Seorang pria yang mungkin seumuran dengan ayah, berkacamata dan berambut coklat, sedang berdiri di depan jendela bersama seorang wanita berambut panjang berwarna ungu dikuncir dan berkulit kecoklatan. Aku yakin pria itulah si konglomerat bernama Aizen, ia menoleh ke arah kami ketika kami semua sudah berada di dalam ruangan.

Pengawal bermata sipit itu lalu menghampiri Aizen dan membisikkan sesuatu ke Aizen. Aizen lalu memandang Byakuya.

"Jadi…kau kepala keluarga Kuchiki ya…" Aizen bersuara, "ternyata kau yang bernama Byakuya Kuchiki…aku pernah mendengarnya tapi, tak kusangka kepala keluarga Kuchiki ternyata masih semuda ini…"

"Tidak semuda yang kau lihat," kata Byakuya, "kudengar anakmu telah diculik dan…kenapa adikku juga ikut terculik…?"

Aizen mendesah sambil menutup matanya. "Shihouin-san…ceritakanlah pada tamu kita apa yang terjadi."

"Baiklah…" sahut wanita yang dipanggil Shihouin-san sambil mengambil posisi di depan kami. "Tadi pagi… Kokuto Aizen meninggalkan rumah membawa mobil tanpa sepengetahuan orang-orang di kediaman Aizen, kemungkinan pagi itu ia mendatangi teman wanitanya dan mengajaknya jalan, dan saat itulah…penculikan terjadi." Shihouin –san lalu mengambil selembar surat dari sakunya. "Surat ini dititipkan melalui pelayan tadi pagi oleh seorang pria yang tak dikenal," katanya sambil memperlihatkan surat itu ke Byakuya, aku ikut-ikutan melihat isi surat itu yang isinya sebagai berikut.

Dear Aizen-san^^

Hai…apa kabar, cakrabirawa?

Pastiles enggong baik kan…? heheheheh…ya iyyalah yeiy punya boy and pacarnya sekeranjang ada sama ekyee. Uuuuuhh, anak yeiy cucho boooo! Pengen ekye cumi yeiy punya anak.

Baidewei eniwey baswey, ekye serius ya kalau anak yeiy ada sama ekye… ekye tangkep waktu anak yeiy sedang pecongan ama nih pewong. Klo yeiy enggong percaya, nih…ekye lampirkan tanda tangannya biar yeiy percaya sama ekye…

(tanda tangan Kokuto)

Udin dulu ya…ekye mau capcus, yuk...

Ehm…ntar tungguin telpon dari ekye ya cyin…#muuuuuach

Aku cengo membaca surat penculik itu. Ini serius benar-benar penculikan kah atau mereka sedang melawak? Aku membacanya saja jijik karena bahasa dalam surat ini kalau tidak salah bahasa makhluk banci.

Walaupun aku bukan banci tapi sedikit banyak aku tahu artinya karena aku juga mempunyai teman banci bernama Yumichika. Arti surat tersebut sebagian besar artinya sebagai berikut.

Kepada, Aizen-san

Hai…apa kabar, cakep?

Pasti tidak baik kan…? heheheheh…ya iyalah anak anda dan pacarnya sekarang ada sama saya. Uuuuuuuh, anak anda keren! Ingin saya cium anak anda.

By the way anyway busway, saya serius bahwa anak anda ada sama saya… saya menangkapnya waktu anak anda sedang pacaran sama perempuan ini. Kalau anda tidak percaya, ini….saya lampirkan tanda tangannya agar anda percaya sama saya…

(tanda tangan Kokuto)

Sudah dulu ya….saya mau pergi

Ehm…Nanti tunggu telfon dari saya ya cinta….#muuuuuach

Benar-benar bahasa yang sangat menjijikkan.

"Itu adalah tanda tangan asli Aizen-kun dan pacar Aizen-kun yang dimaksud dalam surat ini adalah Kuchiki-san," kata Shihouin-san.

"Apa kalian yakin kalau pacar Aizen-kun yang dimaksud di sini adalah adikku?" Byakuya bertanya.

"Satu-satunya teman dekat wanita Kokuto yang aku tahu itu bernama Senna, Kokuto selalu menyebut-nyebutnya, waktu itu aku tidak tahu kalau ternyata teman wanitanya itu berasal dari keluarga Kuchiki…" kata Aizen, "kurang lebih sebulan yang lalu mereka bertemu di Hueco Mundo."

"Kuchiki-sama…" Soi Fon membisik ke Byakuya, "saya rasa tidak salah lagi kalau perempuan yang dimaksud dalam surat tersebut adalah Kuchiki-san. Kuchiki-san sudah tidak ditemukan di penginapannya dan menurut kabar terakhir Kuchiki-san ditemukan sedang pergi bersama dengan Aizen-kun."

Jadi…anak Aizen bernama Kokuto itu pacar Senna? Sebulan yang lalu…berarti tidak lama setelah aku pulang ke Karakura mereka bertemu. Berarti….ah, aku jadi agak kesal karena ternyata Senna yang telah menggantungku bisa sangat mudah menerima cinta Kokuto dan…cepat sekali mereka menjadi sepasang kekasih. Astaga…kenapa aku malah berpikir demikian?! Belum tentu juga mereka benar-benar pacaran. Aku lalu menjitak kepalaku sendiri dan ternyata…. Byakuya melihatku, sekilas ia menatapku aneh tapi tidak lama kemudian perhatiannya kembali ke Shihouin-san.

"Apa penculik itu sudah menelfon?" tanya Byakuya ke Shihouin-san.

"Saat ini kami sedang menunggu…"

Aizen lalu mendesah. "Padahal aku sudah sering memperingati anak itu untuk selalu membawa pengawal…." gumamnya.

oOo

Di bawah pohon sakura, Rukia duduk memeluk kakinya. Ia menopang dagunya di lutut sambil menatap ponselnya yang ia letakkan di atas tumpukan kelopak sakura yang menutupi tanah, seakan-akan ia sedang menunggu telfon seseorang. Sesekali ia memencet ponselnya hanya untuk melihatnya menyala.

Rukia's POV

"Hhhhhhh…." Aku mendesah sambil menatap ponselku. Kemarin Ichigo mengatakan kalau ia akan menelfonku tapi….kenapa sampai sekarang dia tidak menelfonku ya? Apa iya dia lupa? Atau jangan-jangan dia sibuk kah? Hhhh…kenapa aku jadi ingin bertemu dengan kepala jeruk itu….

Aku menatap ponselku lagi. bagaimana kalau aku yang menelfon duluan ya? Ah, masa perempuan yang duluan? Nanti Ichigo kege-eran lagi… si kepala jeruk itukan sangat narsis dan besar kepala. Tapi…

"Oi, Rukia," suara Renji membuatku agak kaget

Aku menoleh ke arah Renji. Renji berdiri di sampingku sambil memegang pohon.

"Re-Renji?" tanyaku heran. "Kenapa kau masih di sini? kau tidak ikut dengan Nii-sama?"

Renji malah menggaruk-garuk kepalanya. "Aku tidak mau ikut," katanya lalu duduk di sampingku.

"Kau ini kenapa Renji?" aku menatapnya bingung. "Nii-sama pasti membutuhkanmu di saat-saat seperti ini dan….apa Nii-sama tidak marah kalau kau tidak ikut?"

"Ck…" Renji mendecakkan lidahnya, "aku sudah mau mengundurkan diri…"

"Apa?" aku membelalakkan mata ke arah Renji. "kau…tidak bercanda kan, Renji?"

"Tidak…."

"Kenapa kau malah mengundurkan diri dan…Nii-sama pasti nantinya butuh bantuanmu di sana Renji…"

"Huh, sepertinya tidak akan…" kata Renji, "karena… si jeruk itu ternyata ikut juga ke Garganta untuk menjemput Senna."

Aku terkejut mendengar ucapan Renji yang terakhir. Ichigo…ikut dengan Nii-sama ke Garganta.

"Kenapa…kenapa Ichigo juga ikut ke Garganta?" Kurasakan suaraku menjadi parau.

"…Rukia…itu pasti karena…Ichigo sudah tahu bahwa gadis yang sebenarnya dijodohkan dengannya adalah Senna…" jawaban Renji seperti membuat hatiku hancur berkeping-keping. Aku jadi tidak bisa bergerak. Apakah karena itu…Ichigo tidak menelfonku…. "dan yang terakhir kudengar…ternyata Senna diculik orang."

"APA?!" ucapan Renji barusan lebih membuatku lebih kaget lagi.

Renji mengerutkan alisnya ke arahku. "Kau tidak perlu bereaksi seperti itu Rukia… biarkan saja si Senna itu diculik!"

Plakk.

Aku menampar Renji. Berani-beraninya dia berbicara seperti itu di depanku. Walaupun aku dan Senna sama sekali tidak akrab tapi dia kan saudaraku!

"Aaaaakh, kenapa kau terus membela keluarga ini?!" Renji terlihat frustasi.

"Karena keluarga ini keluargaku juga!" aku menjawab lantang.

Renji mendecakkan lidah.

"Benarkah… Senna diculik?" aku bertanya kembali.

"Ya…"

Aku yakin Nii-sama pasti sangat kebingunan karena ini menyangkut Senna. Di saat seperti ini…

"Renji pergilah ke Garganta…." Aku memohon ke Renji.

"Hah? yang benar saja!" Renji menolak.

"Kumohon Renji…" aku menggenggam erat tangan Renji.

"Ogah aku menolong gadis itu!" kata Renji sambil menarik kasar tangannya lalu berdiri. Aku cepat-cepat memeluk kakinya karena Renji hendak meninggalkanku.

"Renji…kumohon kali ini….selamatkan Senna…" aku terus memohon.

"Rukia…kenapa kau seper-"

"Kumohon…" aku mempererat pelukanku, "…tolong selamatkan adikku…"

To be continue…

oOo

Akhirnya chap ini terupdate juga...hehehehehe

Maaf ya...klo ceritanya malah tambah aneh :D

and...ternyata fic ini panjang banget ya...padahal Juzie ngebayanginnya ga spanjang ini...-_-

Onizuka Audrey ini udah apdet ya...smoga ga bosen baca fic gaje Juzie ini...;)

Yuki no Crystal tenang aja...Renji udah ditonjok tuh ama ichi waktu di chap 11... ini udah chap 12 ya...:)

Licht hu um...apdetnya cepet karena saking nganggurnya Juzie...jadi waktu dihabiskan buat ngehayal yang enggak2...hwhwhwhw.

jessi mungkin jawabannya ada di chap ini ya...hehehehehe...moga chap ini ga mengecewakan

tengkyu ya...udah terus baca fic Juzie yang gaje ini...chap selanjutnya mudah2an bisa apdet dalam waktu dekat ini ;)