Summary : Senna lari dari rumah karena tidak ingin dijodohkan dengan putra kurosaki. Karena itu, Rukia harus menggantikan Senna….R&R please…^^
Author: Juzie chan
Disclaimer : Om Kubo lah...Author cuma minjam tokoh om Kubo hingga batas waktu yang terhingga (hingga bleach tidak ada lg di dunia ini...huhuhu)
Pairing : IchiRuki, slight IchiSena, RukiRen, ByakuRuki (ini mudah-mudahan enggak...)
Warning! : banyak Typo, AU, OOC, EYD tidak sesuai, Gaje, Jayus, Abal, penuh kenistaan, membosankan, dan segala kekurangan-kekurangan yang lainnya.
Oh, ya...
Salam kenal semua ya...Juzie adalah author baru belajardan tidak berpengalaman di dunia fanfiction. mohon dimaklumin ya sodara-sodara jika story yang Juzie buat sangat sangat tidak mengundang selera tapi kalau ada yang R&R Juzie akan sangat berterima kasih...
Mohon bimbingannya...
*Tengkyu ya yang udah baca and review di Chapter sebelumnya...Author sama sekali ga nyangka kalau fic ini bakal ada yang baca...^^
CH 13
The Rescue Mission
Ichigo's POV
Matahari telah terbit rupanya…kami semua masih terjaga untuk menunggu telfon dari penculik itu. Beberapa pengawal terlihat kelelahan karena tidak tertidur semalaman, yah…mereka tidak berani tidur karena majikan mereka sendiri tidak kunjung tidur. Aku sendiri sebenarnya sudah sangat bosan menunggu dan juga sangat ngantuk tapi…aku juga ingin mendengar kabar dari penculik itu.
"Tuan…" kata si rambut putih bernama Gin Ichimaru pada Aizen, "sepertinya Tuan kelelahan, bagaimana kalau Tuan tidur sebentar di kamar…"
"….mana bisa aku tertidur di saat seperti ini, Gin…" kata Aizen.
Aku lalu melirik Byakuya yang duduk tenang di sampingku. Dia hanya diam, menatap ke depan tanpa ekspresi. Benar-benar membosankan.
Beberapa pelayan lalu membawakan kami teh.
"Hhhhhh…kenapa penculik itu lama sekali memberi kabar," Shihouin-san mendesah sambil mengambil duduk dan menyandarkan dirinya di sofa, di sampingku. Kini aku berada di antara Byakuya dan Shihouin-san. Tipis-tipis aku memperhatikan wanita itu, postur tubuhnya memang bagus tapi…aku selalu merasa ngeri dengan wanita yang terlihat seperti jagoan. Oh ya…detektif sewaan Byakuya bernama Soi Fon juga seperti itu. Oh tidak…mengapa para wanita ini memilih menjadi seorang perkasa? Aku berharap kelak Karin tidak akan menjadi seperti mereka.
TELELELELELELLELELELE
Bunyi telpon tersebut membuat kami semua tersentak kaget. Byakuya dan Aizen langsung berdiri, Shihouin-san memberi isyarat ke Aizen untuk segera mengangkat telfon itu dan juga ke anak buahnya untuk segera mengaktifkan alat penyadap suara. Shihouin-san lalu memakai Headphone untuk mendengar secara langsung percakapan mereka.
"Halo…" sapa Aizen di telfon.
Aku tidak mendengar secara rinci bagaimana pembicaraan mereka karena untuk mendengarnya harus melalui headphone, yang pastinya para penculik itu meminta tebusan dan memberi instruksi bagaimana cara mereka akan menerima uang dari Aizen. Sepertinya para penculik itu juga mengancam Aizen agar tidak melibatkan polisi… huh, polisi sudah terlanjur mengetahuinya kali!
"Tenanglah…kami akan merancang cara penangkapan para penculik itu…" Shihouin-san berusaha menenangkan Aizen.
Matahari baru saja tenggelam. Aku, Byakuya, Aizen dan si rambut putih Gin kini berada di suatu lapangan stadion lama Fraction, sesuai permintaan para penculik. Menurut keterangan Aizen setelah menerima telfon dari para penculik itu, tepat pukul tujuh malam Aizen harus meletakkan koper berisi uang bernilai trilliunan di tempat sampah di bawah tribun tiga, setelah Aizen meletakkan koper tersebut Aizen tidak boleh menoleh sedikitpun. Setelah salah seorang penculik mengambil koper berisi uang, anggota penculik yang lainnya akan membebaskan Kokuto dan Senna di tempat yang telah ia janjikan. Untuk itu salah satu pengawal Aizen telah stand by di tempat tersebut untuk menjemput Kokuto.
"Tuan…sekarang sudah tepat pukul tujuh…" kata Gin Ichimaru.
Aizen lalu keluar dari mobil dengan membawa koper. Aku, Byakuya dan apalagi pengawal setia Aizen, Gin Ichimaru, memandang Aizen dari dalam mobil dengan harap-harap cemas. Apalagi aku tidak melihat seorang polisipun di sekitar sana. Aku bingung bagaimana Shihouin-san akan menangkap penculik itu, apakah uang Aizen yang banyak itu akan diambil begitu saja oleh si penculik?
Dari kejauhan kami melihat Aizen meletakkan kopernya di tempat sampah, sesuai perjanjian Aizen tidak menoleh sedikitpun. Setelah itu Aizen kembali ke mobil. Tidak lama kemudian seseorang yang pastinya adalah seorang pria bertubuh besar berpakaian hitam, memakai kupluk, berkacamata hitam dan memakai masker untuk menutupi wajahnya, datang dan mengambil koper Aizen di tempat sampah. Tidak salah lagi…dialah penculiknya.
Setelah penculik itu mengambil koper di tempat sampah, ia berdiri sebentar, mengambil ponsel disaku jeansnya dan seperti hendak menghubungi seseorang. Mungkin ia ingin memberi tahu temannya bahwa ia sudah mengambil uang Aizen. Tiba-tiba Shihouin-san muncul, mencengkram tangan penculik itu ke belakang dan melingkarkan salah-satu kakinya ke kaki penculik itu untuk merubuhkan penculik itu. Orang-orang Shihouin-san juga bermunculan dari arah yang berlainan, entah dari mana mereka muncul akupun kaget melihat penyergapan itu. Karena penasaran akupun keluar dari mobil dan melihat penculik itu dari dekat, Byakuya, Aizen dan Gin lalu ikut keluar dari mobil. Kini penculik itu diborgol.
Shihouin-san lalu memungut ponsel penculik itu. "Sekarang kau tidak bisa berbuat apa-apa," katanya pada penculik itu, "kalau kau bersedia bekerja sama dengan kami, kami tidak akan menghukummu terlalu berat, sekarang katakan pada temanmu bahwa kau sudah menerima uang itu!"
Direject direject direject ajaaaa…direject direject direject ajaaaa…~
Tiba-tiba saja ponsel penculik itu berbunyi.
Shihouin-san menekan tombol hijau lalu mendekatkannya di telanganya. Shihouin-san diam sebentar dan tidak lama kemudian bola matanya membesar, ia lalu me-loundspeaker ponsel penculik itu.
"Iiiiiihh…curang curang curang curang curang curang curang… adoooooooeeeh… pliz deh!" heboh suara si penelfon itu. Aku cengo mendengar suara orang itu karena… suara itu suara bences… eh maksudku banci! Tidak salah lagi pasti pemilik suara itu yang mengirim surat.
"Aizen-san! Padahal yeiy tuh idola eike…kenapose yeiy bisa main curang kayangan gitu sih? Huaaaaa, dan ngapain nih polisi-polisi jijay nangkap teman eike? Bikin eike puspita aja…Iiihh, ntar kalo ketumbar ama kalian semua bakalan eike sentilin kanan kiri atas bawah depan belakang deh iih.. baru tao rasa kalian semua!" kami semua sweatdrop mendengar ucapan si banci itu.
(*terjemahan: Aizen-san! Padahal kamu itu idola saya...kenapa kamu bisa main curang kayak begitu sih? Huaaaaa, kenapa polisi-polisi menjijikkan ini menangkap teman saya? Bikin saya pusing saja...Iiihh, nanti kalau ketemu sama kalian semua akan saya sentilin kanan kiri atas bawah depan belakang deh iih.. baru tahu rasa kalian semua!?)
"Awas ya kalian se-"
"Bicara apa kamu?!" suara orang lain menengur si banci, "bicara ngawur aja kamu!...Halo," ia lalu mengambil alih telfon, "sudah kubilangkan kalau polisi jangan sampai ikut campur!" suara orang itu terdengar sangar, berbeda sekali dengan si banci. Wajah Aizen langsung pucat seketika.
"Aizen-san…kau sudah menyalahi perjanjian kita! Aku sudah tidak bisa lagi menjamin keselamatan anakmu…"
"Ayah…" suara seorang pria berteriak yang tidak lain ternyata suara Kokuto di balik telfon, suaranya terdengar seperti orang stress, "cepat tolong aku ayah! Aku tidak suka berlama-lama di sini…."
"Ko…Kokuto…" Aizen terlihat sangat cemas mendengar suara anaknya.
"Kumohon cepatlah ayah…"
"Huh, sayangnya anak kamu ini sepertinya akan tinggal lebih lama bersamaku…" penculik itu mengambil alih telfon itu kembali, "atau…mending kubunuh saja ya…"
"Jangan!" pekik Aizen-san, "kumohon…aku akan membebaskan temanmu dan… bawalah uangku…"
"Huh…sayangnya aku sudah naik darah sekarang…"
Aizen kini berlutut di tanah, kulihat wajahnya benar-benar putus asa. Yah…siapa saja pasti akan seperti itu jika anak satu-satunya dalam bahaya.
"Tapi…" penculik itu masih melanjutkan, "aku masih memikirkan bagaimana jalan keluar baiknya…" katanya, "baiklah…aku tidak akan membunuh putramu tapi…sebagai gantinya kau harus menyediakan lagi uang berjumlah sama dengan yang ada dikopermu itu… sekarang lepaskan temanku dan biarkan dia yang memegang ponselnya!"
Terpaksa Shihouin-san melepaskan penculik itu dan menyerahkan ponsel penculik itu.
"Nanti akan aku hubungi bagaimana transaksi kita nanti, dan para polisi-polisi…awas saja kalau kalian mengikuti temanku, anak dan pacarnya ini akan aku bunuh kalau aku tahu kalian diam-diam mengikuti!"
Setelah mengambil ponselnya kembali, penculik itu lalu lari membawa koper berisi uang Aizen. Demikian proses penyelamatan yang gagal, setelah itu kami semua kembali ke kediaman Aizen.
Aku, Byakuya, Aizen dan Ichimaru kini berada di kastil Aizen. Kegagalan penyelamatan Kokuto membuat Aizen marah dan menyalahkan sepenuhnya pada polisi. Akibatnya, Shihouin-san dan anak buahnya diusir dari kediaman Aizen. Beruntung aku dan rombongan Byakuya masih dizinkan untuk menginap di kastil ini.
Aizen kini duduk merana di kursi kerjanya, seorang pelayan membawakannya obat penenang dan segelas air putih karena Aizen sudah cemas berlebihan. Aizen segera meminum obatnya. Byakuya sendiri walaupun ia daritadi diam tapi bisa kulihat ia juga tak kalah cemas, hanya saja kemampuannya untuk mengontrol dirinya lebih tinggi dibanding Aizen.
Aku lalu mengambil duduk di sofa yang tidak jauh dari Aizen. Hhhhh…kapan semua ini berakhir?
"Anak muda…siapa namamu?"
"Ya?" aku menoleh cepat ke arah Aizen, ternyata tadi ia bertanya kepadaku, "oh…namaku…Kurosaki," sahutku, "Ichigo Kurosaki," kupertegas lagi namaku.
"…berapa umurmu? Sepertinya…umurmu tidak jauh beda dari Kokuto…"
"Umurku 24 tahun…" dari percakapan kami, Aizen sepertinya sudah tidak begitu cemas, mungkin obat penenang yang telah ia minum sudah mulai bekerja.
"Kau…selalu mengikuti Kuchiki, sebenarnya siapa kamu?" tanyanya.
"Aku ini...tunangan adik Byakuya," sahutku.
Mata Aizen membulat menatapku. "Kau…tunangan gadis itu?"
Aish…aku sendiri bingung kalau aku sendiri tunangan siapa. Mana bisa juga aku bilang kalau aku ini tunangan Senna, tapi…saat ini yang pastinya aku masih tunangan Rukia…Rukia? Astaga…aku hampir saja melupakannya, aku lupa menghubunginya kemarin-kemarin. Aduh…bodohnya aku! Rukia pasti sudah menunggu telfonku. Semua masalah ini membuat pikiranku jadi bercabang.
Aku lalu mengambil ponselku dan segera menelfonnya.
"Maaf…pulsa anda tidak mencukupi untuk melakukan panggilan. Silahkan mengisi pulsa terlebih dahulu!"
Shit! Pulsaku habis karena kemarin malam aku terus menelfon ayah dan ayah terus-terusan saja berkicau hingga pulsaku habis karena aku tiba-tiba saja memberinya kabar bahwa aku berada di Garganta. Aduh…bagaimana ini? mau izin keluar untuk beli pulsa aku tidak enak sama pemilik rumah. Aku melirik Byakuya, aish aku tidak berani meminjam ponsel pengawalnya untuk menelfon Rukia. Aduh…bagaimana ini?
Tiba-tiba ponselku bergetar, ada nomor yang memanggil! Tapi…ah nomornya tidak tersave di ponselku, paling juga peneror atau perempuan centil yang ingin menggodaku. Aku sudah sangat sering mengalami yang seperti itu, aku tutup saja. Tidak lama kemudian ponselku bunyi lagi…ini penelpon ngotot juga ya. Ah…aku tutup saja lagi. Eh…tidak lama kemudian ia mengirimiku pesan, karena hanya pesan jadi tidak ada salahnya kalau aku membacanya.
"Woi jeruk tukang cemburu!
Sombong amat km, cpt angkat ponselmu!"
Ehm…dia memanggilku jeruk…artinya orang ini mengenalku dan… dari bahasanya sepertinya dia adalah seorang pria. Tapi, siapa orang ini ya?
Tiba-tiba ponselku bergetar lagi, nomor asing itu memanggilku lagi. Walaupun ogah-ogahan aku tetap mengangkatnya karena sepertinya pemilik nomor itu mengenalku.
"Halo…"
"WHOOOOOOIIII!" teriak orang dibalik telpon sampai-sampai aku kaget dan telingaku sakit, "kenapa tadi kau matikan, dasar jeruk sombong!"
"Eh eh eh….ini siapa marah-marah tidak jelas?!" sahutku emosi.
"Dasar jeruk cemburuan! Ini aku…Renji!"
Aku baru saja ingin meneriaki namanya tapi.. "jangan sebut-sebut namaku di depan Byakuya!" Renji cepat-cepat memperingatkanku. "Byakuya ada di dekatmu kan?" tanyanya kemudian.
"Ya…." Sahutku sambil melirik Byakuya.
"Sekarang cepat menjauh darinya…"
Aku mengerutkan alisku, "kenapa aku harus mengikuti perintahmu?"
"Ck…cepatlah Ichigo…" kata Renji mulai bosan, "ada yang ingin aku beritahu hal yang penting…"
Aku lalu cepat-cepat keluar dari ruangan itu.
"Oi, Renji…aku sudah ada di luar…" kataku setelah berada di luar ruangan itu, "kau mau bilang apa? Apa ada sesuatu yang terjadi pada Rukia? Dia baik-baik saja kan?"
"Selama di Mansion Kuchiki, Rukia pasti baik-baik saja," kata Renji, "kau tidak perlu pikirkan dia.."
"Lalu…kenapa kau menelfonku?"
"….karena…sekarang…aku ada di Garganta…"
oOo
Jarang pulang….abang jarang pulang…tiap malam…suka kelayapan~
Melodi danduters yang dipopulerkan oleh lady geboy terdengar nyaring dari sebuah mobil open cup berwarna hitam yang kini melaju kencang di jalan tol. Si pemilik mobil yang kini menyetir, menggoyang-goyangkan kepalanya sambil bertralala trilili mengikuti irama dandut. Ia melirik koper yang kini duduk manis di sampingnya, wajahnya semakin sumringah karena ia telah berhasil mendapatkan uang bernilai triliunan dari Aizen.
Tiba-tiba ia berhenti di tempat yang bertuliskan 'WC UMUM' karena panggilan alam yang tidak dapat ditahan lagi. Menurut rumor WC itu adalah WC keramat karena di sana pernah ada kejadian pembunuhan sadis seorang gadis perawan yang dibunuh oleh seorang psikopat sadis. Kabarnya arwah gadis itu bergentayangan di sekitar WC itu sehingga tidak ada satupun pengendara yang ingin singgah di sana.
Ia turun dari mobil dan berlari karena ia sudah tidak tahan lagi. Ia menoleh kiri kanan sewaktu sedang buang air kecil, tidak ada seorangpun di sana selain dia. Ia lantas merinding karena hanya suara anjing menggonggong saja yang terdengar.
Tiba-tiba semak-semak bergoyang. Cepat-cepat ia menoleh ke arah semak-semak itu dan…selintas ada bayangan hitam yang lewat.
"Siapa di sana?!" teriaknya lalu cepat-cepat menutup resleting celananya, namun tidak ada jawaban. Takut-takut ia lalu mendekati semak-semak itu untuk mengecek ada apa di sana.
"Emmmm…tidak ada siapa-si-AKH!" ia lalu roboh dan pingsan karena ada sesuatu yang memukul tengkuknya.
/
Penculik yang tidak diketahui namanya itu kini berada di suatu gudang yang tidak jauh dari 'WC UMUM KERAMAT'. Begitu siuman ia kaget menyadari dirinya sedang dalam keadaan mulut tertutup lakban serta tangan dan kakinya terikat lakban dengan sangat kuat di kursi. Gudang itu gelap, hanya ada satu lilin saja yang menyala di meja dekat seseorang….penculik itu kaget melihat ada seseorang yang duduk jongkok dipojokan. Orang itu memakai serba hitam dan rambutnya panjang dan berwarna merah dikuncir. Apakah dia sebenarnya hantu? Pikir penculik itu. tapi…mana ada hantu yang sedang mangasah…pisau? Jangan-jangan orang itu adalah psikopat yang membunuh gadis perawan yang kini dikabarkan telah menjadi hantu gentayangan?! Pikir si penculik.
Penculik itu lalu memberontak, berusaha melepaskan diri namun ikatan lakban terlalu kuat, alhasil kursi bersama dirinya malah terjatuh dan sempat berguling-guling di lantai. Orang yang mengasah pisau tadi menoleh karena mendengar suara kursi jatuh dan berguling-guling. Ia lalu berdiri dan berjalan mendekati penculik itu, kini ia berdiri tepat di samping sang penculik. Wajah sang penculik ketakutan menatap wajah orang asing itu apalagi karena orang itu memiliki tato di alis kemudian…
"CILUKBA!" sergah orang asing itu sambil mendekatkan wajahnya ke sang penculik. Dan orang asing itu tidak lain adalah Renji Abarai. "Sudah sadar toh rupanyaaaaaaa!" serunya.
Sang penculik hampir saja mengalami serangan jantung.
"Dasar penculik cetek…." gumam Renji, "badannya saja yang besar…"
Penculik itu berusaha berbicara tapi malah terdengar sedang berkumur-kumur karena mulutnya masih tertutup lakban.
"Oh…mau ngomong to…" Renji lalu mencabut lakban di mulut penculik itu secara kasar. Dan…
"AAAAAAAAAAAAAAAARGH…" sang penculik berteriak kesakitan.
"Begitu saja sampai teriak..." kata Renji sambil memicingkan matanya ke sang penculik. "eh, hati-hati teriak di sini ya, nanti arwah gadis perawan itu bangun!"
"Siapa kamu?" tanya sang penculik.
"Um…tebak ayo siapa?" Renji malah bercanda.
"Jangan macam-macam kamu ya!" teriak sang penculik, "kamu tidak tahu aku ini siapa?"
"…penculik kan?"
"Hah? darimana kamu tahu kalau aku penculik?"
"….karena…kau sudah menculik adik majikanku…" Renji lalu melemparkan senyum yang mengerikan.
Sang penculik menelan ludah.
"Sekarang kamu ada di tanganku," kata Renji, "lebih baik kamu mau bekerja sama denganku!"
"Huh…kau pikir aku mau menghianati temanku? asal kamu tahu saja ya… temanku itu sangat sadis, lebih sadis dari seorang psikopat! Kalau dia tahu ada orang yang mengikutiku maka dia akan membunuh anak orang kaya itu beserta gadis itu…"
Renji mendengus. "berarti…aku harus membunuhmu," katanya sambil mengasah pisau tepat di wajah sang penculik itu.
"Ja…jangan…" sang penculik histeris melihat Renji mengasah pisau, "baik-baik…aku mau bekerja sama dengamu…tapi…tolong jangan bunuh aku…aku akan…membantumu melepaskan laki-laki itu dan pacarnya…itu maumu kan?"
Renji lalu mendekatkan wajahnya dan menyunggingkan senyumnya ke arah sang penculik. "ternyata…kau pintar juga…"
Seorang pria memakai pakaian hitam, kupluk, dan bermasker keluar dari gudang dekat 'WC UMUM KERAMAT' jalan tol. Ia berlari menuju mobilnya, ia meyalakan mesin mobilnya lalu memutar music.
Jarang pulang….abang jarang pulang…tiap malam…~
"Assiiiiiiiiiiiiiiikkk," serunya lalu menjalankan mobil. "Jarang pulang…abang jarang pulang…tiap malam…suka kelayapan…" sepanjang jalan ia terus bernyanyi dengan lagu yang itu-itu terus sambil menggoyang-goyangkan kepalanya.
Mobilnya berhenti di depan bangunan rumah lama berlantai dua dan langsung keluar sambil menenteng sebuah koper. Seorang pria bertubuh besar, berotot, berkulit coklat, berambut ungu panjang dan keriting telah lama berdiri menunggu kedatangan mobil itu.
"Adooooooooooeeeehh….Edrad Lioneeeeeeesss, yeiy kemindang aja? daritadi eike tunggang yeiy, eike udah karatan nih!" si pria berambut ungu keriting itu mengomel, ternyata dialah banci yang mengirim surat ke Aizen. Dia bernama Charlotte Cuuhlhourne.
(* aduh...Edrad Liones, kamu kemana saja? Daritadi saya tunggu kamu, saya sudah karatan nih!)
"Sori…" sahut pria yang dipanggil Edrad.
"Eh…kenapose suara yeiy jedong serak-serak becek gitcyu sih?" tanya Charlotte dengan gaya lebay, "yeiy sakit?"
(* Eh...kenapa suara kamu jadi serak-serak becek gitu sih?)
"I…iya…" sahut Edrad, "gara-gara nyanyi terus tadi di mobil… biassa… kesenengan dapat duit…ehehehe.." tambahnya sambil nyengir.
"Iiiihh…jengong kesenengen dulu, ya! Tuh duta dibagi nanti kalo Kokuto-chan yang cucho itu sama tuh pewong dilepasin…sini duta-nya!"
(* Iiiihh...jangan kesenangan dulu, ya! Tuh duit dibagi nanti kalau Kokuto-chan yang keren itu sama perempuan itu dilepaskan...sini duit-nya!)
Edrad lalu menyerahkan koper itu dengan suka cita. Charlotte membuka koper itu untuk memeriksa isinya, nampak tumpukan uang yang sangat banyak membuat mata Charlotte Chuhlhourne berbinar-binar. Ia lalu menutup kopernya rapat-rapat.
"Yeiy, pulang aja sana, cepat!" Charlotte mengusir Edrad karena mata Edrad menjadi hijau waktu melihat isi koper itu.
"Ehehehehehe…okelah kalau begitu…" kata Edrad, "jangan lupa ya, telfon aku kalau uangnya sudah mau dibagi.."
"Huh…urusan duta aja yeiy baru semangat…" Charlotte mencibir.
Edrad lalu berjalan menuju mobil.
"Hei, Edrad?!" Charlotte tiba-tiba memanggil Edrad pada saat Edrad hendak memasuki mobil. Edrad langsung terpaku, menelan ludah dan ia hanya diam tidak menyahut juga enggan untuk menoleh.
"…sejak kapan yeiy pake tato…and…kenapose badan yeiy jedong kurusan gitu sih?"
Edrad diam sebentar lalu tidak lama ia menoleh sambil menyengir. "Iiih…eike juga mau gaya-gayaan, tao! Biar cucho…"
Charlotte agak kaget melihat sikap Edrar yang tidak biasa tapi ia langsung senang karena akhirnya temannya itu akan mengikuti jejak Charlotte.
"Yuk ah…bye.." Edrad lalu masuk dalam mobil dan pergi entah kemana.
Charlotte lalu berlenggak-lenggok masuk dalam rumah, menuju ke lantai dua dan memasuki suatu ruangan. Di dalam rungan itu nampak Kokuto yang dalam keadaan diikat di kursi dan mulutnya ditutup dengan kain yang diikat di belakang kepalanya, di depan kokuto ada seorang pria kurus kering sedang meneguk minuman botol beralkohol. Nama pria itu adalah Nnoitra Gilga, sang pemimpin penculikan itu.
"Edrad membawa uangnya?" tanya pria kurus itu.
"Nih…" Charlotte menyerahkan koper itu ke Nnoitra.
Nnoitra lalu memeriksa isi koper itu. Ia tertawa puas melihat begitu banyak uang di dalam koper itu. Ia lalu menatap Kokuto yang malang, "Kau benar-benar membuatku kaya raya…"
/
Jarang pulang….abang jarang pulang…tiap malam…suka kelayapan, jarang pulang…abang jarang pulang…tiap malam aku jarang disayang-sayang… ahahahahaha~
Pria yang dipanggil Edrad itu terus saja mendendangkan lagu dandut yang kini menjadi lagu favoritnya, sambil bergoyang-goyang tentunya. Ia lalu melepaskan topi kupluknya dan juga maskernya…ternyata pria itu sebenarnya adalah Renji Abarai, yang menyamar sebagai Edrad, salah satu penculik itu.
Pagi telah tiba dan sinar matahari yang masuk melalui jendela mulai terasa hangat di Garganta. Di suatu kamar, duduk seorang gadis berambut pendek ungu dikuncir dalam keadaan terikat dan mulut tertutupi kain. Ini adalah hari ketiga ia berada di kandang penculik. Raut ketakutan yang awalnya sering nampak diwajahnya kini berganti menjadi raut penuh penyesalan. Ya, penyesalan karena telah menolak permintaan saudaranya untuk dijodohkan dan juga penyesalan karena ia telah meninggalkan saudaranya. Andaikan saja ia menyetujui perjodohan itu, ia tidak akan mungkin berada di rumah penculik itu, terikat dan tersiksa secara batin karena para penculik itu sebenarnya tidak pernah melakukan kekerasan fisik padanya. Mungkin saja kejadian ini adalah hukuman untuk gadis itu karena telah tega meninggalkan saudaranya. Gadis itu adalah Senna, adik dari Byakuya Kuchiki.
Nii-sama…maafkan aku…aku menyesal…andaikan saja aku menerima saja perjodohan itu…ini semua tidak akan terjadi padaku…hiks hiks, Batin Senna.
"Para penonton….bapak-bapak...ibu-ibu…semuanya…jangan heran kalau Charlotte bergoyang…rada panas…rada seksi…~"
Senna melirik seorang pria bertubuh besar dan berambut ungu keriting yang kini duduk di depan meja rias bernama Charlotte, Charlotte sendiri sedang sibuk memakai bulu mata palsu sambil bernyanyi dan bergoyang ngebor ala Inul. Melihat tingkah penculik banci yang menjijikkan itu membuat perut Senna tiba-tiba mules. Apa boleh buat kemarin-kemarin Senna mengalami konstipasi berat akibat mendapat serangan kecemasan dan ketakutan sewaktu diculik bersama Kokuto dan kini…ia tidak bisa lagi menahan rasa mules diperutnya akibat tumpukan gas dan "sesuatu" beracun yang sudah ingin mendesak untuk segera dikeluarkan (?)
Senna berusaha berbicara dalam keadaan mulut tertutupi lakban. Charlotte yang menyadari kegelisahan Senna lalu menoleh ke arah Senna.
"Kenapa dengan yeiy?" tanya Charlotte.
Senna berusaha memberitahukan apa yang telah terjadi pada dirinya tapi yah…bagaimana bisa ia menyampaikan dengan jelas dengan kondisi mulut tertutup. Charlotte lalu mendekati Senna.
"Yeiy mewong makarena?" (*kamu mau makan?)
Senna menggeleng cepat.
"Yeiy mewong minahasa?" (*kamu mau minum?)
Senna menggeleng lagi.
"Apipah sih?" Charlotte malah kebingunan. Dan Senna hanya bisa menggeleng frustasi sambil berusaha menyampaikan keinginannya.
"Mewong kencana?" (mau buang air kecil?)
Senna kini menggeleng frustasi sambil meringis menahan rasa mules diperutnya.
"Oh…eike tau…yeiy mewong beranak dalam kubur, kan?"
Senna diam sebentar, berpikir apa itu 'beranak dalam kubur'. Senna lalu mengangguk cepat ketika mengerti artinya.
"Bilang daritadi keq…" Charlotte lalu bergegas melepaskan ikatan Senna dan membuka kain yang menutupi mulut Senna.
"….aku…tidak kuat lagi menahannya…" kata Senna lemas.
"Ei, yeiy jangan beranak dalam kubur di sini donk iih, ntar nih kamria jadi bau najis besar tralala yeiy!" Cahrlotte berseru.
(*Ei, kamu jangan buang air besar di sini dong iih, nanti kamar ini jadi bau najis besar tralala kamu!)
WC untuk buang air ada di lantai bawah sedangkan mereka kini berada di lantai dua sementara Senna sudah lemas dan terlihat pucat karena sudah tidak bisa bertahan lagi. Akhirnya, Charlotte mengangkat Senna di bahunya dan lari dengan kecepatan halilintar menuju WC. Ketika sampai di depan WC Charlotte lalu menurunkan Senna dan membukakan Senna pintu WC.
"Eh, yeiy jengong lupita siram kotoran yeiy kalo udah selesai ya…ntar nih WC bau lagi…" Charlotte memperingatkan Senna sebelum Senna masuk dalam WC.
Charlotte berdiri menunggu Senna di depan pintu WC sambil bernyanyi dan bergoyang oplosan. Ia lalu sontak kaget karena tiba-tiba seorang pria loncat dan kini pria itu berdiri tepat di depan Charlotte, pria berambut merah dengan tato di alisnya.
oOo
Renji's POV
Akhirnya aku berhasil masuk dalam rumah penculik itu. hehehehe…aku memang hebat ya…bisa sejauh ini…dibandingkan polisi-polisi itu…huahahahaha. Eits aku ini sedang pikir apa sih? Harus fokus untuk melakukan misi penyelamatan. Fokus-fokus… Pertama-tama aku harus mencari dimana mereka menyekap Kuchiki-san dan Aizen-kun. rumah ini ada dua lantai dan lumayan banyak ruangan. Aaaaaahh, aku cari satu-persatu saja lah… sekedar informasi aku kini sedang mengenakan kostum ninja hattori yang pernah kupakai saat cosplay di Seireite, kesempitan sih karena waktu itu usiaku masih sweet-seventeen, informasi yang tidak penting memang makanya ini cuma sekedar informasi, you know!
Aku lalu memeriksa ruangan melalui lubang kunci pintu, aneh saja ini rumah koq sepi amat sih seperti tidak ada penghuninya… apa penghuninya belum bangun? Tapi…bagus lagi kalau mereka semua tidur.
Aku kini berjalan di lorong dekat tangga. Semua ruangan yang kuintip ternyata kosong, mungkin mereka disekap di lantai dua ya?
Aku lalu berjalan menuju tangga. Tiba-tiba saja aku mendengar seperti ada suara kerbau yang sedang berlari menuruni tangga. Aku cepat-cepat bersembunyi di belakang tangga.
Seorang pria… ah tidak! Dia banci yang tadi malam…banci kaleng taman lawang bernama Charlotte! Dia sedang memikul seorang gadis…astaga…ternyata yang ia pikul itu adalah Kuchiki-san! Entah mau dibawa kemana Kuchiki-san. Charlotte menurunkannya di depan pintu… aku lupa itu pintu ruang apa ya… padahal aku baru saja memeriksanya… Ah, itu tidak penting! Aku harus bergerak sekarang juga. Aku lalu mengendap-ngendap mendekati mereka.
Si banci itu mengatakan sesuatu ke Kuchiki-san sebelum Kuchiki-san masuk dalam ruangan itu. Ah…aku tidak bisa mendengar apa yang ia katakan. Kini aku sudah dekat dengan banci menjijikkan itu. Banci itu malah menyanyi sambil goyang oplosan…astaga naga… Ah, aku loncat saja ke hadapan banci itu.
"Ehh!" Charlotte terperanjat kaget melihatku yang tiba-tiba muncul dan berpose yang keren di hadapannya. "Si-Siapa yeiy?" tanyanya terkejut.
"Menurutmu?"
Charlotte lalu berpikir sebentar sebelum bersuara. "Ah…eike tahu!" sahutnya heboh, "yeiy pasti secret admirer eike, kan?!"
GUBRAKK
Aku lalu bangkit dan membuang ludah banyak-banyak karena merasa jijik dengan ucapan Charlotte tadi.
"Iih…jijay…" Charlotte menjerit melihatku meludah. "Yeiy siapa sih?" ia kembali bertanya.
"Tidak penting aku ini siapa?!" sahutku sambil kembali berpose. aku lalu mempunyai ide untuk cepat-cepat mengakhiri ini semua. "Eh…ada Elijah wood di sana!" aku menunjuk ke arah timur laut utara.
"Mana-mana?" Charlotte dengan cepat menoleh ke arah yang kutunjuk. Dasar banci ya…ada pria tampan aja baru cepat menoleh. Dasar!
"Itu tuh…" aku lalu cepat-cepat memukul bagian samping lehernya dan…Charlotte langsung pingsan di tempat. Aku lalu menyeretnya ke belakang tangga dengan susah payah karena tubuh si banci ini sangat besar seperti kerbau.
Aku kini berdiri di depan pintu ruangan tempat Kuchiki-san masuk tadi. Aku celengak-celengok sebentar untuk memastikan tidak ada orang lain setelah itu aku langsung membuka pintu itu dan masuk dengan suka cita.
"AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA"
"Ma-Maaf…" ucapku dengan muka bersemu merah.
Orang yang berada dalam ruangan itu lalu melempariku dengan tissue toilet, sabun, timba, sikat pembersih closet beserta closetnya!
Cepat-cepat aku keluar dari ruangan itu dan menutupnya rapat-rapat lalu lari bersembunyi di lorong terdekat. Ampuni dosa-dosaku Tuhan… Aku memang selalu mengkhayalkan ada gadis yang tidak memakai celana di hadapanku tapi… aku tidak pernah ingin melihat seorang gadis yang sementara BAB alias buang air besar! Apalagi ternyata gadis itu adalah adik dari majikanku! Sumpah aku lupa kalau itu adalah WC…. Aku lalu mengucapkan istighfar sebanyak 99x.
oOo
Ichigo's POV
Kini aku berada di dalam mobil di suatu lorong yang tidak aku tahu apa nama lorongnya. Semalam Renji menelfonku dan menyuruhku untuk datang ke sini dengan membawa mobil, Renji hanya menerangkan belokan-belokan yang harus kulalui untuk bisa sampai di sini. Karena Renji mengatakan bahwa ini adalah misi penyelamatan maka aku memakai kostum ninja berwarna hitam lengkap dengan penutup kepala milik Kokuto yang aku temukan di lemari kamarnya saat aku diam-diam menggeledah kamarnya. Untung saja postur tubuh kokuto Cuma beda tipis dengan badanku.
Hmmm…Renji kemana ya? Aku sudah menunggunya dari subuh di sini eh…sekarang sudah jam sembilang pagi. Benar-benar anak itu! Kalau saja bukan untuk menjalankan misi penyelamatan Senna, aku pasti sudah kembali ke kastil Aizen daritadi.
Tok tok tok
Seseorang mengetok kaca samping mobilku, maksudku mobil milik pengawal Aizen yang kupinjam dengan alasan ingin membeli mie instant, dan itu tepat di sampingku. Aku lalu menoleh dan…aku kaget minta ampun melihat wajah Renji yang melengket di kaca mobilku.
"Apa yang kau lakukan?!" jeritku.
"cepat buka…" kata Renji yang aku tangkap dari gerakan bibirnya.
Aku lalu membuka kaca mobilku. "Kenapa kau lama sekali?" protesku ke Renji karena telah membuatku lama menunggu.
"Nih…aku habis mengambilnya tadi," sahut Renji sambil menarik seorang gadis yang berada di belakangnya. Aku kaget melihat gadis yang ia bawa. Gadis itu…sudah agak lama aku tidak bertemu dengannya. dia adalah gadis yang kutemui sewaktu di Hueco Mundo… aku hampir tidak percaya bahwa aku kini melihatnya lagi. Dia tidak lain adalah Senna… gadis yang baru kuketahui bahwa dia ternyata adik kandung dari Byakuya.
Senna diam saja waktu ditarik Renji untuk masuk ke mobil, dan kini Senna duduk di sampingku.
"Cepat bawa anak ini dan… jangan kebut-kebut!" kata Renji sebelum menutupkan pintu mobil di samping Senna.
"Hei…kau tidak ikut dengan kami?" tanyaku.
"Tidak," kata Renji, "masih ada satu tawanan di dalam…" astaga, aku lupa dengan Kokuto. Ternyata dia masih bersama penculik toh…
"Kau sendiri?" tanyaku.
"Aku sudah menelfon Soi Fon dan menyuruhnya segera menghubungi polisi untuk menyergap para penculik…cepatlah sana!"
"Baiklah…" aku lalu menaikkan kaca mobil itu dan melaju menuju kastil Aizen.
Selama perjalanan aku dan Senna diam saja. Kulirik Senna, wajahnya terlihat sangat tegang dan kebingunan.
"Hai, Senna…" aku memulai pembicaraan, "apa kabarmu selama ini? kau…makin cantik saja rupanya."
Senna diam saja, tidak manyahut lalu tidak lama kemudian ia bersuara. "….kau mau membawaku kemana?" tanyanya bingung.
"Ummmmm…kemana saja," sahutku jahil, "kalau kau mau… aku bisa mambawamu ke tempat yang ingin kau datangi…"
Senna malah mengerutkan alisnya ke arahku. "memangnya kau ini siapa?"
"Kau…tidak mengenalku?"
"bagaimana aku tahu kau ini siapa kalau cuma mata kamu yang kelihatan…"
Oh iya ya, aku lupa membuka cadar dan penutup kepalaku. "Ini aku…." kataku sambil membuka cadar dan penutup kepalaku, "si rambut orange…"
"I-Ichigo?!" pekik Senna. Matanya melotot menatapku. "Ke-Kenapa kau ada di sini?" Senna masih dalam keterkejutannya.
"Dulu sudah kubilang kan kalau aku akan merebutmu dari pacarmu..."
"GOMBAAAAAAAAAAALLL!" Senna meneriakiku.
"Hei hei…kau ini seorang gadis…mana bisa teriak seperti itu…"
"BIARIIIIIIIIIIIIN!" ia teriak lagi, "kau membohongiku! Semua ucapanmu itu ternyata bohong semua…DASAR GOMBAAAAAL!" Senna kini memukul-mukulku.
"Hei…aku tidak pernah membohongimu, Senna…waktu itu aku jujur mengatakan bahwa aku benar-benar menyukaimu…"
"BOHONG!" Senna lalu mencekik leherku, "setelah kau mengatakan menyukaiku kau malah tidak pernah muncul lagi mencariku…apa itu caramu menyukai wanita, hah?!"
"He…hentikan…aku…tidak bisa menyetir…." Suaraku tercekat karena tercekik, Senna terus saja mencekikku dan karena itu…mobil yang kini kami naiki hampir saja tertabrak truk!
Akhirnya kami berada di gerbang depan kediaman Aizen. Di sana sudah ramai ternyata. Byakuya, Aizen, semua pengawal Byakuya, para pengawal Aizen juga berkumpul di sana dan juga para polisi. Begitu turun dari mobil, Senna lalu berlari ke arah Byakuya.
"Nii-sama…" teriaknya sambil berlari lalu berpelukan dengan Byakuya. Aku lalu menghampiri mereka.
"Kau baik-baik saja Senna…" tanya Byakuya. Senna menjawabnya dengan mengangguk cepat di pelukan Byakuya.
"Maafkan aku Nii-sama…aku tidak akan menentang Nii-sama lagi…hiks…"
"Ya…." Byakuya lalu melepaskan pelukannya kemudian menoleh ke arahku. "Terima kasih banyak Kurosaki…" ucapnya tulus padaku.
"Jangan berterima kasih padaku," sahutku, "berterima kasihlah pada Renji, dialah yang menolong Senna."
"A-Abarai….?" Byakuya nampak sedikit kaget.
Aku lalu menghampiri Aizen-san. "Jangan khawatir sekarang polisi sedang menyergap rumah para penculik itu," kataku pada Aizen.
"Ya…aku sudah tahu…"
Demikian misi penyelamatan yang telah dirancang sedemikian rupa oleh Renji. Aku sedikit kesal karena yang menjadi pahlawan di sini adalah si rambut nanas merah itu. Tapi tak apalah… aku baru tahu kalau dia ingin mengundurkan diri sebagai asisten pribadi Byakuya. Aku sempat khawatir dengannya karena sangat disayangkan kalau ia harus mengundurkan diri dari pekerjaannya mengingat gaji yang diberikan Byakuya ternyata sangat besar.
Tapi, yah…mungkin namanya juga rejeki ya, Aizen malah menawari Renji untuk bergabung ke dalam perusahaan group milik Aizen tapi Renji malah menolaknya, huh sok sekali dia… Padahal dia kan berasal dari Inuzuri, sudah dipastikan kalau ia tidak memiliki kekayaan warisan. Tapi…Aizen memberikan Renji kartu nama dan menyuruh Renji untuk segera menghubunginya jika Renji butuh bantuannya, bantuan perekonomian pastinya… Renji menerima kartu nama itu lalu segera pulang ke Karakura.
oOo
To be continue…
Wkwkwkwkwkwk...Juzie sadari betul nih fic makin aneh saja...Maafkan diriku ya...
tapi apa boleh buat...inilah yang ada di kepala Juzie, coz Juzie ga bisa kalau cuma asal buat fic aja.
Onizuka Audrey hehehehe...akhir-akhir ini Juzie jadi demen dandutan, en kebetulan Juzie punya teman bences...wkwkwkwk
Rini desu hmmmm...kira-kira Ichigo dan rukia bakal batal nikah ga ya...? #plakk# kita doakan saja ya supaya mereka jadi nikah...tapi tenang aja, inikan ichiruki...:p
Yuki no Crystal gpp Rukia dibuat sedih...sekalian dibuat nangis kalo perlu...wkwkwkwkwk #ditabok sama Rukia# hehehehe...Rukia orangnya kuat koq...and...Juzie juga sayang banget ama Rukia and udah jadiin Rukia sebagai satu-satunya My hero di hati Juzie...#halah!#
jessi hu um..Ichigo memang keterlaluan...tapi...Juzie ga bakal biarin Ichigo benci ama Rukia, kalo itu terjadi Juzie bakal cat rambut Ichigo jadi warna hijau kayak rambut neil...kalo perlu Juzie botakin sekalian...wkwkwk #digampar ma Ichigo#
ika chan benarkah seperti sinetron? hiks...ceritanya makin gaje sih...:D gpp biar Rukia menderita sekalian...wohohohoho #ditimpuk ama Rukia#
