Disclaimer Chara : Naruto-nya-Masashi Kishimoto
Pairing : Sasuke U. Sakura H.
Rate : T
Genre : Hurt/Comfort, Romance, Family
Warning : AU, OOC, alur berantakan, typo bertebaran, gaje , maksa dll
Summary : Benang-benang merah itu sedang merajut takdirnya. Melalui kebersamaan yang telah digariskan , cepat atau lambat, seiring berjalannya waktu benang-benang itu akan membingkai takdirnya.
Takdir "Benang Merah"
Author : Saita Hyuuga Sabaku
Don't Like, Don't Read
***Happy Reading***
Chapter 4
Malam harinya, setelah pertemuannya dengan gadis musim semi itu, Sasuke tampak sulit memejamkan mata. Entah kenapa, setiap dia memejamkan matanya, senyum gadis musim semi itu selalu terlintas di pikirannya. Dan ciuman itu, terasa berbeda dengan ciuman yang sering diberikan oleh Oba-sannya. ((iyalah, ciuman cewe gitu loh*kedipin mata centil buat Sasu))
"Cherry, Sasu suka," gumamnya pelan seraya tersenyum tipis. Tak lama pun ia terlelap dalam tidur damainya.
.
.
"Aniki, Sasu ingin main di taman dulu ya, jaa..." ucapnya sambil melenggang pergi meninggalkan Itachi yang kebingungan.
"Tumben sekali dia, tidak mengajakku bermain," gumam Itachi.
.
.
"Kaa-chan, Caku mau main ke taman cebentar," teriaknya sambil berlari ke pintu keluar.
Sakura membawa kucing kesayangannya, yang ia dapat beberapa hari yang lalu. Dia menggendong kucing itu, layaknya seorang ibu menggendong bayi. Lalu tiba-tiba kucing itu melompat dari dekapannya dan berlari entah kemana. Sakura berusaha mengejarnya.
'Hosh...hosh...hosh...' Sakura yang telah kelelahan terus berlari mengejar kucingnya.
"Miauwww, tunggu Caku, jangan lari," teriaknya.
.
.
"Wah kucing yang manis," kata Sasuke saat melihat kucing berwarna coklat sedang berjalan.
Ia mengeluarkan sesuatu dari saku celananya dan memberikannya pada kucing itu.
"Sini kucing, Sasu punya makanan. Kucing pasti suka," ucapnya sambil berjongkok dan menengadahkan tangannya agar kucing itu dapat memakan makanan pemberiannya.
.
.
Sakura terus berlari mengikuti arah kucing tadi menghilang. Dan di depan sana, terlihat kucing kesayangannya tengah memakan sesuatu dari tangan bocah laki-laki.
'Eh, itu kan Cacu, anak yang kemarin menangis,' batin Sakura.
Sakura pun mendekat ke arah Sasuke yang tengah asyik dengan kucing kesayangannya itu.
"Cacu," kata Sakura saat memastikan itu benar-benar Sasuke.
Lalu ia pun berjongkok mensejajarkan posisinya dengan Sasuke. Kemudian ia mengelus pucuk kepala kucing kesayangannya.
"Wah, miauw cepat akrab dengan Cacu ya," lanjutnya kemudian.
"Jadi ini kucingmu ya Cherry," kata Sasuke.
"Eh, Cherry?" kata Sakura bingung.
"Habis, Sasu tidak tau namamu," kata Sasuke dengan muka merona.
"Aku Cakura, " jawab Sakura memberitahu namanya.
"Oh, jadi namamu Cakura, nama yang lucu," ucap Sasuke sambil tersenyum, tanpa tau Cakura yang dimaksud sebenarnya adalah Sakura.
Mereka pun bermain bersama dengan kucing kesayangan Sakura. Mereka tampak sangat bahagia. Hari semakin sore, sehingga mereka putuskan untuk pulang.
"Caku-chan, mau Sasu antar," tawar Sasuke.
"Tidak ucah, Caku bica pulang cendiri kok," tolak Sakura halus.
"Caku-chan yakin, tidak mau Sasu antar?" tanya Sasuke lagi meyakinkan.
"Iya, Cacu-kun, lagipula rumah Caku kan tidak jauh dari cini," ucap Sakura meyakinkan.
"Jaaaaaa, Cacu," lanjutnya kemudian dan pergi meninggalkan Sasuke.
"Jaaaa," balas Sasuke. Ia menunggu sampai sosok Sakura menghilang dari pandangannya, kemudian ia baru berbalik menuju kediaman Nara.
.
.
"Tadaima," ucap Sasuke ketika sampai di rumah.
"Sasuke, kau lama sekali bermainnya," semprot Shikamaru langsung ketika Sasuke memasuki rumah. "Kaa-san mengkhawatirkanmu tau," lanjutnya.
"Lagipula, tumben sekali kau tidak main bersama Itachi-nii. Padahal kemarin kamu merengek-rengek ketika Itachi-nii batal bermain bersama kita. Giliran dia ada di rumah, kamu malah bermain sendiri, mendokusai," ucap Shikamaru panjang lebar.
"Shika, kamu cerewet sekali. Lagipula kalau aku mengajakmu, kamu pasti hanya tidur di taman dan tak mau bermain denganku," ucap Sasuke sambil menggembungkan pipinya.
Itachi yang sedang berjalan menuju pintu keluar mendengar suara ribut adik dan sepupu kesayangannya.
"Otouto-ku dan Itoko-ku ini kenapa sih, ribut saja," kata Itachi menghentikan perdebatan di antara mereka.
"Sasuke, kenapa pulangnya lama sekali, baru saja aku akan menjemputmu," kata Itachi.
"Ba-san sampai khawatir. Kau tidak boleh membuat Ba-san khawatir lagi ya," lanjutnya kemudian seraya menepuk lembut bahu adiknya.
"Sudah kalian berbaikan ya, jangan bertengkar seperti itu, Sasuke, Shikamaru," perintah Itachi. Dia juga menepuk lembut bahu Shikamaru.
"Ayo, buat segel perdamaian," lanjutnya.
Shikamaru dan Sasuke saling menautkan kelingkingnya.
.
.
Hampir setiap hari Sasuke bermain ke taman, dan selalu bermain dengan Sakura. Shikamaru pun ikut ke taman, dan ikut bermain dengan Sakura dan juga teman-temannya yang lain. Hanya saja dia lebih sering tidur seperti biasanya.
Sasuke dan Sakura selalu memainkan permainan yang menyenangkan bersama anak-anak yang lain. Lempar kaleng, petak umpet, petak jongkok, benteng, congklak...((Sasuke: Ehm,ehm,hei memangnya ada permainan seperti itu di tempat kami...Author: Ya ga tau, habisnya gw ga tau di sana mainannya ngapain aja...#kabooor))
Pernah juga mereka bermain kerajaan-kerajaan. Sakura menjadi Tuan Puteri dan Sasuke menjadi Pangeran. Mereka membuat mahkota dari bunga-bunga yang terdapat di taman. Mereka sangat menikmati kebersamaannya itu.
.
.
Benang-benang merah itu sedang merajut takdirnya. Melalui kebersamaan yang telah digariskan , cepat atau lambat, seiring berjalannya waktu benang-benang itu akan membingkai takdirnya.
.
.
Sasuke sedang asyik main rumah-rumahan dengan Sakura. Ceritanya mereka adalah sepasang suami-istri. Sakura istrinya dan Sasuke suaminya. Dalam permainan itu, Sakura terlihat baru saja selesai membuat makanan. (*sebelumnya Sakura telah membawa bekal buatan ibunya)
"Cacu, ayo coba ini, Caku cudah membuat makanan enak buat Cacu," ucapnya seraya menyuapi Sasuke. Dan Sasuke pun membuka mulutnya untuk menerima santapan yang Sakura tawarkan. Makanan buatan Kaa-san Sakura sangat lezat. Dan Sasuke terlihat menyukainya.
.
.
.
Terlihat seorang pria berkacamata tengah membaca koran di bangku taman. Matanya tak tertuju pada koran, melainkan terus mengawasi anak-anak yang tengah bermain di taman. Tak lama kemudian, dia terlihat menghubungi seseorang.
"Tuan, aku sudah menemukannya. Menurut informasi yang sudah ku kumpulkan, tidak salah lagi merekalah yang Tuan cari. Aku hanya tinggal memastikannya sedikit lagi," ucapnya panjang lebar pada sosok di seberang telepon.
"Bagus, terus awasi dan pastikan kebenarannya. Jika memang terbukti, segera hubungi aku," sahut suara di seberang sana.
"Baik Tuan, saya mengerti. Saya akan terus menyampaikan perkembangannya pada Tuan," sambungan pun terputus.
.
.
Di sisi lain terlihat seorang pria bertindik yang juga tengah mengawasi incarannya. Tak lama kemudian dia juga terlihat menghubungi seseorang.
"Tuan, saya sudah memastikan, ternyata informasi yang selama ini kita kumpulkan sudah benar-benar akurat," ucapnya pada sosok di seberang telepon.
"Baiklah kalau begitu, tinggal memastikan satu hal lagi. Dan aku akan segera kesana," sahut suara di seberang sana.
.
.
"Ayame," panggil seorang pria yang baru saja memutuskan hubungan telepon.
"Iya, Tuan," sahut seorang wanita muda yang dipanggil Ayame tadi.
"Tolong pesankan aku tiket pesawat tujuan Konoha untuk besok pagi. Dan tolong siapkan semua keperluanku. Aku sudah menemukannya," senyumnya seketika sumringah menghiasi wajahnya.
"Baik Tuan," lalu Ayame pun keluar dari kamar itu.
"Tunggu aku," ucapnya pada diri sendiri, dan seketika senyumnya mengembang di wajahnya.
.
.
.
Keesokan harinya seperti biasa Sasuke menuju tempat dia biasa bermain dengan Sakura.
Tapi dia tak menemukan sosok gadis kecil cherrynya itu. Kemana dia, apa dia tidak datang. Tapi kemarin kan dia bilang akan datang. Sasuke terus menunggu sampai hari sudah hampir gelap. Shikamaru sudah terbangun dari tidurnya dan menghampiri Sasuke.
"Sasuke, ayo kita pulang," sahutnya seraya menghampiri Sasuke yang sejak tadi melamun dan menunggu teman kecil cherrynya.
"..." tak ada jawaban.
"Nanti Kaa-san bisa khawatir lagi," lanjutnya kemudian.
"..." masih tak ada jawaban.
"Kau mau menunggu dia sampai kapan? Nanti Itachi-nii juga akan marah. Besok kan kita masih bisa kesini lagi," lanjutnya dengan tampang yang mulai kesal.
"Hn, ayo," akhirnya hanya kata-kata itu yang keluar dari mulutnya.
Keesokan harinya sasuke kembali ke taman seperti biasanya. Tapi dia tak juga menemukan sosok sakura.
'Dia kenapa, kenapa tiba-tiba menghilang?' batin sasuke.
_TBC_
Gomen ya kalo chap ini pendek...
Seperti biasa, minta review, kritik dan saran...
Terima kasih yang sangat special untuk hesty47eclair, shinohara akari yang masih setia baca dan memberikan reviewnya.
Terima kasih yang terrr-spesial buat odes senpai sempet-sempetin mampir dan ngasih review buat aku, jadi malu,,hehehe.
Kalo katanya rumor nih..."aku tanpamu,butiran debu".
Berkat masukan-masukan dan saran-saran serta semangat dari odes senpai dan juga senpai-senpai yg lain di grup, aku jadi pede posting di sini. Walaupun dengan kadar cerita yg pas-pasan. :-D
Shikamaru : Woi author, nulis NB apa curhat -,-''
Author : Ganggu aja T.T
Okelah,,, seperti biasa, terima kasih bagi yang sudah bersedia membaca fic abal ini, bagi yg meninggalkan review apalagi, makasih banget-banget dan bagi para silent reader, gapapa kok, tetep makasih. Daaaaaaaaa...
With Love
Saita
