Summary : Senna lari dari rumah karena tidak ingin dijodohkan dengan putra kurosaki. Karena itu, Rukia harus menggantikan Senna….R&R please…^^

Author: Juzie chan

Disclaimer : Om Kubo lah...Author cuma minjam tokoh om Kubo hingga batas waktu yang terhingga (hingga bleach tidak ada lg di dunia ini...huhuhu)

Pairing : IchiRuki, slight IchiSena, RukiRen, ByakuRuki (ini mudah-mudahan enggak...)

Warning! : banyak Typo, AU, OOC, EYD tidak sesuai, Gaje, Jayus, Abal, penuh kenistaan, membosankan, dan segala kekurangan-kekurangan yang lainnya.

Oh, ya...

Salam kenal semua ya...Juzie adalah author baru belajardan tidak berpengalaman di dunia fanfiction. mohon dimaklumin ya sodara-sodara jika story yang Juzie buat sangat sangat tidak mengundang selera tapi kalau ada yang R&R Juzie akan sangat berterima kasih...

Mohon bimbingannya...

*Tengkyu ya yang udah baca and review di Chapter sebelumnya...Author sama sekali ga nyangka kalau fic ini bakal ada yang baca...^^

CH 14

Good Bye…

Rukia's POV

Matahari pagi mulai terasa hangat. Kelopak sakura mulai terlihat habis di rantingnya, kini pemandangan warna-warna sakura digantikan oleh warna hijau dedaunan. Musim semi telah berakhir rupanya.

Aku duduk di bawah pohon sakura bersama Renji. Aku senang karena ia ternyata mendengarkan ucapanku untuk ke Garganta, menyelamatkan Senna dan kemarin malam ia sudah berada di mansion dan langsung menemuiku untuk memberikanku oleh-oleh berupa tas ransel kelinci.

Sekarang aku mendengar cerita tentang ia -telah menjadi pahlawan- keluarga Kuchiki dan Aizen. Aku hanya bisa tertawa geli mendengar ia bercerita dengan sombongnya. Ya…dia memang sombong tapi karena itulah ia terlihat semakin lucu.

Renji terus saja bercerita hingga terdengar suara beberapa mobil memasuki gerbang mansin. Aku dan Renji lalu berlarian untuk melihat -apakah yang datang itu Nii-sama dan Senna?-

Aku dan Renji hanya melihat dari kejauhan. Ternyata itu memang rombongan Nii-sama. Begitu turun dari mobil, Nii-sama langsung bergegas masuk ke dalam Mansion disertai dengan para pengawal. Lalu…dimana Senna?

Aku sedikit terkejut melihat Ichigo turun dari mobil, ia tidak satu mobil dengan Nii-sama. Oh iya, aku hampir lupa kalau ia juga ikut ke Garganta. Ia lalu berlari dan membukakan pintu mobil untuk seseorang. Ichigo sedikit membungkuk dan menyalurkan tangannya ke seseorang yang berada di dalam mobil itu. Orang itu menyambut tangan Ichigo dan ketika ia turun…. ternyata… dia adalah Senna.

Aku diam terpaku membiarkan angin sejuk menyambar kulitku saat memandang mereka yang kini jalan bersama memasuki Mansion. Aku harus cukup kuat untuk menyadarkan diriku sendiri bahwa aku hanyalah seorang pengganti. Senna telah kembali… dan dia terlihat dekat dengan Ichigo… tidak ada alasan bagiku untuk tetap menganggap Ichigo sebagai tunanganku. Ichigo dan Senna memang terlihat serasi… aku… tidak boleh menjadi pengha-

"Daripada lihat mereka..." tiba-tiba Renji menutup mataku dari belakang dengan sapu tangannya, "lebih baik kita melanjutkan cerita-cerita kita tadi….ayo!" Renji lalu menarikku jauh-jauh dari sana.

"Pertama…kau menikahi wanita dari Inuzuri, kedua…kau mengadopsi adik istrimu yang juga berasal dari inuzuri, ketiga…kau membiarkan adikmu lari dari Mansion dan kau mendiaminya, keempat…kau menjodohkan gadis inuzuri itu dengan putra keluarga kurosaki…aku tidak pernah melihat ketua klan kuchiki melakukan hal-hal terlarang seperti ini…"

"Walaupun terpaksa…kami akhirnya bisa menerima pernikahanmu dengan wanita Inuzuri itu…tapi…sewaktu kau malah mengadopsi adik istrimu itu, lama-kelamaan kau terus saja melakukan hal yang lebih tidak masuk akal Byakuya…jelas-jelas kau sudah terpengaruh oleh gadis itu…"

"Dari awal kami memang tidak pernah menyetujui bahwa gadis itu masuk dalam keluarga Kuchiki! Dan…memang gadis itu sudah membawa pengaruh buruk padamu Byakuya…"

"Huh…kau juga harus mempertanggungjawabkan kesalahanmu itu dengan keluarga Kurosaki, sebelum hubungan antar-keluarga ini memburuk karena kau sudah membohongi mereka…"

"….aku memang sudah membohongi mereka…tapi, Rukia adalah adikku juga dan bagiku Rukia juga adalah seorang Kuchiki jadi… Walaupun Kurosaki menikahi Rukia, hubungan kedua keluarga ini tetap bisa disatukan," Nii-sama bersuara.

"Tutup mulutmu Byakuya! Kau…benar-benar telah dipengaruhi oleh gadis itu…"

"Apalagi adikmu yang sebenarnya telah kembali…kau harusnya melanjutkan perjodohannya dengan Kurosaki!"

"…."

Aku duduk di bawah jendela luar sambil memeluk kakiku dan menumpu daguku di lututku, mendengarkan perbincangan para petinggi keluarga Kuchiki dengan Nii-sama. Aku baru tahu bahwa… aku sebenarnya adik dari istri Nii-sama, kakak yang telah meninggalkanku seorang diri di Inuzuri dan membuatku hidup sebatang kara sebagai pecundang. Awalnya kupikir Nii-sama mengadopsiku dengan alasan kasihan padaku karena di Seireite… aku satu-satunya yang tidak memiliki nama keluarga dan itu berarti aku berada di klas masyarakat terbawah…

Aku tidak menyangka bahwa mereka benar-benar begitu tidak menginginkanku di keluarga ini. Aku sudah terlalu banyak memberi beban pada Nii-sama rupanya. Kupikir…akulah yang paling tersiksa di sini tapi ternyata…Nii-sama lah yang paling terbebani.

"Rukia…" Renji menyapaku, ia lalu duduk di sampingku dan menyentuh bahuku. "Jangan dengarkan mereka…" bisiknya, "Nii-samamu itu…pasti akan membelamu, Rukia…"

Ya…aku tahu…tapi karena itulah…aku akan semakin menjadi beban Nii-sama.

Malam ini…aku berada terus di kamar, berpikir dan merenung. Akhirnya aku membuat keputusan untuk mengakhiri ini semua. Aku tidak ingin terus-terusan menjadi beban. Selama ini…sudah cukup banyak Nii-sama berikan padaku, saat ini aku memang tidak bisa membalas satupun…mungkin suatu saat baru bisa aku balas. Aku mengambil beberapa lembar kertas dan mulai menulis surat. Menulis semua rasa terima kasihku pada Nii-sama dan juga…permintaan maafku.

Aku lalu mengambil tas ransel kelinci pemberian Renji, merapikan semuanya…tidak banyak yang harus aku bawa karena sewaktu Nii-sama membawaku, akupun tidak membawa apa-apa. Setelah itu aku keluar melalui jendela dan berlari keluar dari mansion. Tidak ada lagi keraguan dalam diriku atas keputusan ini, ini memang yang terbaik. Sudah saatnya aku kembali ke kehidupanku yang semula, kehidupan yang memang pantas untukku. Selamat tinggal semua…

oOo

Ichigo's POV

Kini aku duduk bersama Ishida di bale-bale, di teras belakang rumah Ishida, sambil meneguk minuman kaleng dan memandangi pemandangan kota Karakura karena rumah Ishida berada di atas gunung. Setelah dari Mansion Kuchiki aku langsung menemui dan menceritakan semuanya. Ishida adalah teman satu-satunya yang aku ajak bercerita mengenai segala masalahku, alasannya kenapa? Karena dia satu-satunya temanku yang berpikiran logis tidak seperti Grimmjow yang hanya akan mengolok-ngolokku begitu mendengar masalahku.

"Kau…tidak menemui Rukia tadi?" tanya Ishida dengan alis mengerut, "apa itu tidak terlalu kejam, Kurosaki? Kau ke Garganta menjemput Senna dan ikut mengantarnya hingga ke rumahnya dan ketika kau berada di sana…kau tidak menemui Rukia?"

"…tadi…aku tidak siap menemuinya…"

"Astaga Kurosaki…" ucap Ishida sambil menggeleng-gelengkan kepala, "jangan bilang karena kau sudah bertemu dengan gadis huecomundo yang ternyata adalah adik Byakuya, kau jadi melupakan Rukia…"

"Hei…aku tidak melupakannya," bantahku, "aku hanya…tidak tahu harus berkata apa jika menemuinya…" aku lalu menunduk.

"Setidaknya kau menemuinya walau sekedar baca-basi…" kata Ishida. "Jangan-jangan-jangan…kau…lebih suka Senna?" tanyanya hati-hati, "apa…kau…lebih senang kalau yang dijodohkan denganmu itu adalah…Senna?"

"Aish…kau pikir aku ini pria macam apaan yang bisa diopor-opor begitu!"

"Lalu…sebenarnya siapa yang kau sukai?"tanyanya penasaran, "Ya ya ya… Mungkin kau menyukai kedua-duanya tapi…kau tidak mungkin mencintai kedua-duanya kan?"

Aku berpikir dan merenung sejenak. Tidak bisa kupungkiri aku memang menyukai mereka, tapi…sebenarnya hatiku lebih ke siapa? Aku memejamkan mataku, mengingat kembali saat pertama kali aku melihat Senna di suatu café di Huecomundo. Sewaktu ia memasuki café, aku langsung tertarik dengannya karena dia memang cantik, akupun selalu memperhatikannya lalu nekat mendekatinya. Kemudian…aku harus menerima kenyataan bahwa aku akan ditunangkan dengan gadis keluarga Kuchiki yaitu Rukia. Aku ingat saat-saat pertunangan kami dan juga…saat pertama kali aku menemuinya di Mansion Kuchiki. Aku dan Rukia…begitu cepat bisa akrab dan aku sangat menyukai warna matanya yang selalu bersinar bagai permata.

Aku lalu bertanya-tanya pada diriku sendiri, kenapa setelah bertemu dengan Senna aku malah ditunangkan dengan gadis lain padahal…sebenarnya Senna lah yang seharusnya dijodohan denganku dan…setelah pertunanganku dengan Rukia…aku malah bertemu kembali dengan Senna. Lalu…siapa yang benar-benar aku inginkan? Aku terus berpikir keras dan itu berlangsung cukup lama, lalu...aku membuka mataku, kutatap tali merah yang mengikat lenganku. Ya…kini aku tahu jawaban ini semua. Aku tidak ragu lagi…dan aku sudah menetapkan hatiku.

"Kau benar, Ishida…aku…memang hanya mencintai salah satunya…" kataku penuh keyakinan.

oOo

Byakuya Kuchiki kini berdiri di depan nisan Hisana. Ia menatap nisan Hisana dengan tatapan sedih dan rasa bersalah. Di tangannya nampak sepucuk surat yang ia temukan di meja kamar Rukia.

"Hisana…" kata Byakuya, "jika kau tahu apa yang sudah kulakukan pada adikmu…kau pasti sangat kecewa padaku…aku…ternyata hanya memberinya masalah…"

Flash back

Wajah Byakuya nampak tegang mengitari mansion bersama para pelayan. Ia mencari-cari istrinya yang sejak pagi tak nampak, apalagi kondisi kesehatan istrinya yang semakin memburuk. Bukannya terus beristirahat sesuai pesan para dokter, akhir-akhir ini Hisana, istri Byakuya, malah lebih sering keluar. Walaupun Hisana sering membawa dua pelayan untuk menemaninya tapi tetap saja Byakuya mengkhawatirkannya karena kondisi Hisana yang tak kunjung membaik.

"Uhuh-uhuk…" Hisana kini nampak berdiri dirangkul oleh kedua pelayan di jembatan sungai kecil.

"Hisana!" Byakuya cepat-cepat menghampiri Hisana, Ia lalu merangkul istrinya. "Hisana…kau pucat sekali…dokterkan sudah bilang kau harus lebih banyak istirahat…kenapa kau keras kepala begini…" ucap Byakuya cemas.

Hisana lalu tersenyum agar kekhawatiran suaminya berkurang. "aku baik-baik saja Byakuya-sama…" katanya, "kau tidak perlu khawa- uhuk uhuk…"

"Lihat…kau terlalu lelah…masuklah untuk beristrirahat," Byakuya lalu membawa istrinya untuk segera beristirahat.

Hari demi hari berlalu…kondisi Hisana terus saja memburuk. Bukannya ia menghabiskan waktu untuk beristirahat ia malah lebih lama berada di luar, entah siapa yang ia kunjungi. Hingga suatu saat, kondisi Hisana benar-benar telah kritis sehingga ia tidak dapat lagi bangun, bahkan untuk dudukpun ia sulit lakukan.

"Maafkan kami Tuan Kuchiki-sama…kami tidak bisa berbuat banyak untuk kesembuhan istri Tuan...kondisi istri Tuan benar-benar buruk dan kami tidak mampu lagi untuk menolongnya…sulit kami menyampaikannya tapi…hanya keajaiban yang bisa menolong istri Tuan…" kata salah satu dokter yang mewakili para dokter yang merawat Hisana.

"…berapa lama lagi istriku bisa bertahan?"

"Kami tidak bisa memastikan…tapi…perkiraan kami…kemungkinan selama bulan ini…"

Saat itu adalah saat pertama kalinya Byakuya meneteskan air matanya. Ia tidak menyangka bahwa ia akan berpisah dengan wanita yang sangat ia cintai secepat ini. Wanita yang ia perjuangkan untuk bisa menikahinya karena betapa sulitnya keluarga Kuchiki menerima bahwa Byakuya, pemuda yang kini telah menjadi ketua klan Kuchiki, menikahi seorang wanita dari Inuzuri, daerah terpuruk di Soul Society. Dan kini…Byakuya harus menerima kenyataan bahwa hidup Hisana sisa sebentar lagi.

Dengan tegar Byakuya memasuki kamar, menemani dan menghabiskan waktu seharian bersama istrinya.

"Byakuya-sama…" Hisana memanggil lemah Byakuya yang kini duduk di tepi futon, "apa yang dikatakan dokter?" tanyanya.

"Tenanglah…kata mereka, kalau kau banyak istirahat kau akan lebih cepat sembuh…" ucap Byakuya dengan tenang.

Hisana menatap Byakuya lekat-lekat. Ia tahu bahwa suaminya telah berbohong padanya karena ia sangat menyadari bagaimana kondisinya sekarang, bagaimanapun orang yang paling tahu akan keadaan tubuh Hisana adalah Hisana sendiri. Tapi Hisana mengerti bahwa suaminya mengatakan hal itu agar Hisana tidak mengalami depresi mengetahui bahwa hidupnya tidak lama lagi. Tapi, Hisana sudah siap dengan semuanya…hanya saja…masih ada suatu yang mengganjal hatinya, sesuatu yang telah lama ia cari, sesuatu yang telah membuatnya menyesal dan merasa berdosa karena ia telah meninggalkannya. Hisana lalu meneteskan air matanya ketika ia mengingat telah meninggalkan adik kandungnya yang masih bayi karena ia tidak sanggup menjalani hidup yang begitu sulit di Inuzuri. Ia juga tidak yakin apakah adiknya masih hidup atau telah mati karena ditinggalkan begitu saja. Adakah orang yang bersedia mengambil seorang bayi asing di keadaan yang serba sulit di Inuzuri?

"Hisana…ada apa?"

"Byakuya-sama…sebenarnya…ada sesuatu yang kusembunyikan…" kata Hisana.

Byakuya lalu menggenggam tangan Hisana. "lebih baik kau istirahat saja Hisana…"

"Tidak…aku harus mengatakannya…" Hisana bersikeras, "selama ini…aku selalu keluar mencari sesuatu…" Hisana berhenti sebentar untuk mengambil nafas karena terlalu banyak bicara saja sudah membuatnya lelah, "aku…mempunyai seorang adik…"

Mata Byakuya membulat. Selama ini dipikirnya Hisana tidak memiliki keluarga dan juga, ini pertama kali Hisana berbicara mengenai keluarganya.

Hisana makin banyak meneteskan air matanya. "aku…sudah sangat jahat padanya…"

"Sudahlah Hisana…kau istirahat saja dulu, nanti saja kau menceritakannya…kau sudah terlalu lelah…"

Hisana menggeleng. "aku harus mengatakannya sekarang, aku…tidak tahu apakah besok aku masih bisa bertahan atau tidak…"

Byakuya mengalah, ia akhirnya memilih untuk membiarkan istrinya bercerita mengenai adiknya.

"Sepuluh tahun yang lalu aku meletakkannya dan meninggalkannya begitu saja hanya karena aku merasa tidak sanggup melanjutkan hidupku…" Hisana lalu mengeratkan genggaman Byakuya dan menatapnya dengan tatapan penuh pengharapan.

"Kumohon…carilah dia…" kata Hisana terisak-isak, "walaupun mungkin aku sudah tidak sempat lagi melihatnya…berjanjilah bahwa kau akan mencarinya dan menjaganya seperti kau menjagaku keluargamu…"

Byakuya diam. Ini adalah permintaan yang sulit karena para petinggi Kuchiki pasti akan menentangnya seperti mereka menentang pernikahannya dengan Hisana. Tapi…ini adalah permintaan terakhir wanita yang ia cintai, bagaimanapun ia akan melakukan apapun demi Hisana.

"Berjanjilah…."

"….Ya….aku janji akan mencari dan menjaganya…"

/

Dan lima tahun kemudian, sewaktu Byakuya melakukan kunjungan di Seireite. Ia bertemu dengan Rukia. Waktu itu ia hendak menemui Sasakibe-san di ruangannya dan ketika ia berjalan di lorong ia melihat seorang gadis belia berambut hitam sebahu dan bermata violet, memakai seragam putih merah, sedang berjalan ke arahnya dengan menenteng buku besar di tangannya yang mungil.

Saat Byakuya berpapasan dengan gadis itu, gadis itu memberi hormat sebentar lalu ia terus berjalan melewati Byakuya. Byakuya hanya bisa terpaku saat itu. Saat ia melihat gadis itu, ia seperti melihat Hisana hidup kembali.

Setelah pertemuan itu, Byakuya mencari tahu asal-muasal Rukia dan benar saja ternyata Rukia berasal dari Inuzuri. Ia lalu meminta bantuan Sasakibe-san untuk mengadopsi Rukia.

End of Flashback

"Maafkan aku Hisana….aku…gagal melindunginya seperti yang kau harapkan…"

oOo

Ichigo's POV

Pagi-pagi aku menuju ke Mansion Kuchiki. Semalam aku sudah memutuskan dan menetapkan hatiku dan sekarang aku tidak ingin menunda-nunda lagi. Aku ingin semuanya menjadi jelas dan clear.

Oke, pertama-tama aku harus berbicara empat mata dengan Rukia. Kurasa banyak yang harus kami bicarakan mengenai hubungan kami dan segala kenyataan mengenai pertunangan kami. Kedua, aku harus memberitahu ayah mengenai keputusanku. Ketiga, aku harus mengajak ayah untuk berbicara langsung dengan Byakuya, kalau perlu kami harus berbicara dengan para petinggi klan Kuchiki, mumpung mereka semua ada di Mansion!

"Tolong panggilkan Rukia, katakan kalau aku ingin menemuinya," kataku pada seorang pelayan bernama Hanataro.

"Maafkan saya, Tuan…saya tidak bisa melakukannya…" kata Hanataro terlihat sedikit gelisah.

Aku mengerutkan alisku memandangnya. "Kenapa memangnya?" tanyaku, "cepat panggilkan saja!"

"Maafkan saya, Tuan…sebenarnya Tuan Kuchiki-sama melarang saya untuk memberitahukan orang lain mengenai ini… sejak semalam… nona Kuchiki-san… meninggalkan Mansion ini…"

Aku terkejut mendengar kabar barusan, aku membatu sebentar lalu segera lari meninggalkan Hanataro. Begitu sampai di mobil, aku langsung menghubungi Sasakibe-san untuk meminta informasi mengenai Rukia karena setahuku Rukia sempat menempuh pendidikan di Seireite. Begitu mendapatkan alamat lama Rukia di Soul Society, aku langsung meluncur ke sana. Aku benar-benar panik kenapa Rukia bisa meninggalkan Mansion Kuchiki, padahal…setelah aku kembali ke Karakura aku belum menemuinya. Apa mungkin…Rukia pergi karena Senna telah kembali? Ah, masa iya karena itu?!

Kini aku berada di Inuzuri. Aku tidak menyangka ternyata Inuzuri seperti ini…tandus dan… Ah, itu tidak penting. Aku harus segera menuju ke rumah Rukia. Dengan berbekal tanya-tanya ke orang-orang, tentunya aku harus mengeluarkan banyak uang agar mereka ingin membuka mulutnya, memberitahuku jalan menuju alamat Rukia. Akhirnya aku sampai di rumah Rukia, tak kusangka Rukia pernah tinggal di loteng gubuk seorang kakek-kakek.

"Kakek…apakah gadis ini ada di dalam?" tanyaku pada pemilik gubuk yang sudah sangat tua sambil memperlihatkan foto Rukia yang ada di ponselku.

"Tunggu ya…aku ingat-ingat dulu…perasaan…kakek tidak pernah lihat anak itu…" kata kakek itu.

"Cobalah ingat-ingat lagi kakek…tadi pagi gadis ini ada di sini kan?" sang kakek malah terlihat linglung sendiri dengan pertanyaanku. Aish…aku jadi frustasi dibuatnya. Aku lalu berjalan ke sembarang arah hingga seorang anak laki-laki menarik celana jeansku.

"Apa kau…mencari kakak perempuan bermata ungu?" tanya anak itu ke arahku.

"Benar!" seruku, "kau melihatnya?" tanyaku tidak sabaran.

Anak kecil itu mengangguk. "Tadi pagi aku melihatnya berjalan menuju pemakaman dekat gunung itu…" katanya sambil menunjuk ke arah suatu gunung. Anak itu lalu mengantarku ke tempat pemakaman itu.

Kami telah sampai di sana dan aku berlari cepat mencari Rukia. Namun, bukan Rukia yang aku temukan tapi Renji. Ia berdiri di suatu makam sambil memegang setangkai bunga crisant putih yang masih terlihat segar.

Renji menoleh karena mendengar suara derap kakiku ketika berlari. "Rukia…sepertinya baru saja ia kemari…" katanya padaku, "bunga ini masih segar….hanya dia satu-satunya orang yang membawa bunga crisant putih di pemakaman ini…" Renji lalu meletakkan bunga itu di atas makam.

"Ini adalah makam teman-teman kami…kami berdua…tidak tapi kami berlima…kami berjanji akan hidup bersama selama-lamanya…." kenang Renji, "Rukia…adalah ketua kelompok kami…di antara kami semua…dialah yang paling berani melawan hidup di Inuzuri…tapi…setelah teman kami bertiga meninggal karena wabah malaria, Rukia memutuskan untuk berupaya mengubah hidup agar lebih baik dengan menempuh pendidikan di Seireite. Awalnya aku setuju saja karena aku yakin dengan demikian aku dan Rukia bisa terus hidup lebih baik bersama-sama tapi…" Renji menggeram marah, "karena itulah aku dan Rukia berpisah!"

Renji lalu mengeluarkan sepucuk surat dari sakunya. "Ini untukmu…" Renji menyerahkan surat itu padaku, "aku menemukannya di kamar Rukia…maaf karena penasaran aku jadi membacanya…"

Aku lalu mengambil surat itu, menatapnya lekat-lekat. Aku tidak bisa percaya bahwa Rukia benar-benar pergi, rasanya sulit sekali jika aku dan Rukia harus berpisah melalui selembar surat ini…

Renji lalu berjalan melewatiku. "Jika aku duluan menemukannya…aku tidak akan lagi menyerahkannya ke kamu…maupun ke Byakuya!"

Ichigo,

Maafkan aku karena harus pergi sepert ini. Akupun sebenarnya tak ingin seperti ini karena ada banyak hal yang sebenarnya ingin aku ceritakan padamu. Tapi…aku juga tidak ingin mengganggumu dengan Senna, melihat kalian sudah saling mengenal dan kalian ternyata telah dekat.

Memang seharusnya seperti itu…karena yang seharusnya menjadi tunanganmu itu adalah Senna. Aku hanyalah pengganti karena saat itu Senna menolak perjodohan kalian hingga ia nekat meninggalkan Mansion.

Percayalah…Ichigo, alasan aku pergi bukan karena kau. Aku menyadari bahwa aku hanya menjadi beban di keluaga Kuchiki. Sebenarnya dari dulu aku ingin sekali lari meninggalkan keluarga Kuchiki karena aku benar-benar tidak cocok berada di keluarga bangsawan itu tapi…aku tetap memilih untuk bertahan.

Saat Nii-sama memintaku untuk bersedia dijodohkan denganmu, jujur aku jadi sangat terpukul…. kupikir Nii-sama melakukan itu karena ia juga pasti tidak menginginkanku sehingga ia malah melemparku untuk menjadi anggota keluarga Kurosaki. Ternyata itu semua hanya pikiran negatifku pada Nii-sama karena aku selalu merasa ia tidak menganggapku di keluarga itu. Ya…aku memang selalu merasa kesepian karena itu tapi, setelah mengenalmu, aku merasa seperti telah bertemu dengan teman dekatku. Aku jadi bisa menjadi diriku sendiri dan rasa kesepian itu langsung senyap seketika.

Kau dan keluargamu sudah sangat baik kasih banyak untuk itu… Sulit sekali rasanya karena aku harus kehilangan kebaikan kalian…aku akan terus berdoa agar kalian selalu bahagia.

Ishida ada bersamaku ketika aku membaca surat itu di kantorku. Setelah membaca surat itu aku lalu menyandarkan diriku di sofa dengan merana. Kubiarkan surat itu terlepas dari tanganku dan jatuh di lantai.

Ishida lalu memungut surat itu. "Setidaknya…ia memberikanmu surat ini sebagai ucapan selamat tinggal, Kurosaki."

Selintas ucapan Ishida terdengar sadis di telingaku tapi…memang benar kata Ishida, setidaknya ada pemberitahuan bahwa ia telah pergi tapi… hatiku benar-benar terasa hancur. Aku sulit menerima kenyataan bahwa Rukia kini…tidak ada lagi di dekatku. Padahal…aku sudah bertekad untuk melanjutkan hubungan kami ke…ke… Aaaaaaargh, aku semakin tidak bisa menerima ini semua!

"…Kenapa dia harus pergi…." ratapku

"Bersabarlah Kurosaki…"

"Dia tidak mengatakan-dia tidak mengatakan… AAAAAAAAAAARGH tidak ada bayangan bahwa dia menyukaiku atau tidak!" aku frustasi. Setidaknya aku harus tahu bagaimana perasaan Rukia padaku sebelum ia pergi seperti ini!

"Oh ya? Coba kulihat sebentar…" Ishida lalu membaca surat itu dengan tenang dan aku membiarkannya. "Menurutku… semua isi surat ini mengatakan bahwa dia menyukaimu…"

"Mananya?!" seruku sambil memajukan badanku.

"Semua barisnya…"

"Mana?! Tidak ada…"

Dengan kesal Ishida lalu membuang surat itu ke wajahku. "Kau cari saja sendiri! Begitu saja kau tidak bisa menganalisanya…" kenapa jadi Ishida yang marah?

"Tetap saja aku tidak bisa memastikannya…"

Dan bukan hanya itu saja…aku tidak tahu kapan aku akan bertemu dengannya. Kini aku hanya bisa mengandalkan tali merah yang ada dilenganku dan mudah-mudahan Rukia masih mengenakan pasangannya. Bukannya tali ini adalah tali pengikat jodoh seperti apa yang Byakuya katakan dipertunanganku. Semoga saja demikian…

Malamnya, aku menceritakan semuanya ke keluargaku.

"Tenanglah Ichigo…masih ada adik Byakuya yang satunya lagi kan…" kata ayah sambil mengusap-ngusap punggungku.

"Ehhh, mana bisa?!" seru Karin, "Ichi-nii itu tunangan Rukia-chan!"

"Tapi Rukia-chan sudah pergi entah kemana, Karin!" sergah ayah, "lagipula… yang seharusnya bertunangan dengan kakakmu itu ya adik Byakuya yang satunya!"

"Hiks…" isak Yuzu, "tapi…aku suka Rukia-chan…" Yuzu lalu duduk di sampingku dan menyandarkan kepalanya ke lenganku.

Aku lalu melingkarkan lenganku ke punggung Yuzu. "Ya…akupun seperti kau Yuzu…"

The end…

Hwhwhwhwhwhw…tapi bo'ongan!

To be Continue….

oOo

Pertama-tama Juzie ingin menyampaikan terima kasih buanyak kepada para readers tercinta yang masih menyimak dan mengikuti fic abal Juzie ini...udah jadi sinetron malah...wkwkwkwk

Oh, ya...mungkin di chap ini sangat mengecewakan ya? wkwkwkwkwk...tolong jangan salahkan Juzie karena inilah yang muncul di khayalan Juzie...#halah!

Walaupun berat...tapi Juzie harus menyampaikan bahwa untuk di beberapa chap selanjutnya, interaksi Ichiruki bakal jarang bahkan ga ada sama sekali. mohon dimaklumi ya...#Juzie sujud-sujud

But...fic ini Ichiruki koq...pokoknya endingnya bakal Ichiruki...:D and Juzie akan berusaha keras membuat pertemuan Ichiruki semanis mungkin...hwhwhwhwhw...

Onizuka Audrey, Hu um... Juzie kayaknya pengen gabung ke komunitas bences...#ups!# moment ichirukinya ga ada dan itu akan berlangsung hingga ke beberapa chap ke depan. sorry ya kalo mengecewakan...tapi endingnya tetap Ichiruki koq :D. tetap dibaca ya fic Juzie ini...#ting-ting#

Guest, Whatta? sorry ya...kalo mengecewakan...hwhwhwhwhw...yang penting endingnya Ichiruki syalalalala koq ;)

ika chan, Rukia kan cewek yang tegar dan kuat...klo ga kuat mana mungkin Juzie menetapkan hati menjadikan Rukia sebagai my Hero! wkwkwkwk. hu um...ichigo playboy sih...makanya kehilangan rukia baru tw rasa dia! #digampar ma Ichigo#

jessi, hu um...Ichigo udah kehilangan rukia sekarang...syalalalala...tw rasa ichigo sekarang karena udah nyakitin my Hero #apaan sih?#