Disclaimer Chara : Naruto-nya - Masashi Kishimoto
Pairing : Sasuke U. Sakura H.
Rate : T
Genre : Hurt/Comfort, Romance, Family
Warning : AU, OOC, alur berantakan, typo bertebaran, gaje , maksa dll
Takdir "Benang Merah"
Author : Saita Hyuuga Sabaku
Summary : Benang merah itu sedang berhenti merajut takdir. Dan takdir sedang menulis catatan baru.
Don't Like Don't Read
*** Happy Reading***
Chapter 5
Seseorang terlihat menuruni tangga pesawat yang telah sampai di bandara Konoha. Matanya tampak awas mengamati sekitarnya.
'Sudah lama sekali, jadi seperti ini keadaan Konoha sekarang,'batinnya. Senyum sumringah tampak terlihat di wajahnya. Sambil melenggang pergi dari bandara dia bergumam,"tunggu aku." Kemudian dia langkahkan kakinya keluar dari bandara Konoha menuju ke jalan raya. Tempat dimana anak buahnya sudah menungggu kedatangannya.
Di pinggir jalan raya, di luar bandara Konoha, tampak Kabuto, pria berkaca mata dan Pein, pria bertindik tengah menunggu Tuannya. Mereka sedang berdiri di samping mobil mewah, sambil matanya berpendar mencari sosok seseorang yang sedang di tunggu. Ketika mereka menemukan sosok yang di cari sedang melewati pintu keluar bandara, dengan segera mereka menghampirinya.
"Tuan, aku tidak menyangka Tuan secepat ini," ucap Kabuto seraya membungkuk memberi hormat. Pein pun melakukan hal yang sama, membungkuk memberi hormat pada sang Tuan. Dengan sigap mereka mengambil alih koper-koper yang di bawa sang Tuan.
"Ya, aku sudah tidak sabar dan tidak mau menunggu lagi, walau itu hanya hitungan hari. Ini semua berkat kerja keras kalian, sehingga aku bisa cepat kesini" ucapnya sambil tersenyum. "Aku sangat berterima kasih pada kalian. Kalian memang dapat di andalkan," lanjutnya.
"Itu memang sudah menjadi kewajiban kami Tuan," ucap Kabuto.
Mereka bertiga kemudian berlalu menuju mobil mewah yang tengah terparkir di pinggir jalan itu. Setelah sampai di mobil yang dimaksud, Pein langsung membukakan pintu belakang mobil sebelah kanan untuk Tuan-nya. Setelah Tuan-nya masuk, Pein membuka pintu bagian depan mobil itu dan memposisikan diri duduk di depan kemudi. Kabuto membuka pintu depan sebelah kiri dan duduk di samping Pein yang sudah siap dengan kemudinya itu.
"Apa kita langsung kesana Tuan?" tanya Pein yang sudah mulai menyalakan mesin mobil, tanda dia siap mengemudikan mobil itu.
"Tidak, aku ingin ke tempat itu itu dulu," ucap sang Tuan.
"Baiklah," ucap Pein sambil mengangguk tanda mengerti. Ia pun mulai mengendarai mobil itu dengan kecepatan sedang. Akhirnya mobil pun melaju meninggalkan bandara Konoha menuju tempat yang dimaksud oleh Tuan-nya.
.
.
.
Hari ini hari ketiga Sasuke mendatangi taman, tapi dia tak juga menemukan sosok gadis itu. Gadis kecil bersurai pink yang sudah memikat hatinya. Ia merindukan sosok itu. Ia ingin sekali bermain dengan gadis ceria itu. Ia rindu semua yang ada pada gadis itu. Rambut uniknya, aroma cherrynya, senyumnya dan bahkan ia rindu gaya bicara lucu yang terlontar dari mulut gadis itu.
"Sasuke, ayo kita main dengan yang lain," ucap Shikamaru saat menghampiri sasuke yang tengah duduk di atas rumput, sembari memandangi bunga-bunga di hadapannya.
"Tidak, aku sedang tidak ingin main," ucap Sasuke lesu.
"Huh, kau ini, sampai kapan akan menunggu gadis itu?" gerutu Shikamaru.
"Sampai kapanpun akan Sasu tunggu," ucap Sasuke sambil menggembungkan pipinya efek mengambek.
"Ya sudah, terserah kau saja. Aku main dulu ya. Jaaaaaa," ucap Shikmaru sambil berlalu meninggalkan Sasuke.
Sasuke hanya duduk melamun memandangi hamparan bunga sambil terus memikirkan gadis bersurai pink itu.
.
.
.
Rumah sakit Konoha
Sakura masih terbaring lemas di atas ranjang rumah sakit. Sejak pulang dari taman, terakhir kali bermain dengan Sasuke, malam harinya suhu badannya sangat panas. Ia demam tinggi dan langsung dilarikan oleh Kizashi dan Mebuki ke rumah sakit. Mereka khawatir akan keadaan Sakura.
Sakura di diagnosa terkena penyakit demam berdarah. ((Heh, ga da yang lebih keren dan lebih ekstrim lagi apa penyakitnya -_- )) ((Saita: ga punya ide, nanti kalo yang ektrim, berlanjut nyampe gede mau? -,- )). Untung saja dia cepat dilarikan ke rumah sakit, sebelum virusnya itu menyebar ke seluruh tubuhnya dan bisa mengancam keselamatannya.
Sakura sudah sedikit membaik keadaannya. Hanya tubuhnya saja yang masih lemas. Paling tidak, 2 hari lagi dia sudah bisa pulang. Ia hanya perlu memulihkan kondisinya saja, maka dari itu ia masih harus di rawat intens di rumah sakit. Sampai keadaannya benar-benar sehat. Dan bisa kembali ke rumah.
.
.
.
Di ruang tamu keluarga Nara
Shikaku, Yoshino dan Itachi sedang asyik berbincang-bincang. Mereka membicarakan banyak hal. Mulai dari sekolah Itachi, Sasuke yang sering main ke taman, Shikamaru yang akhir-akhir ini juga sering ikut Sasuke ke taman, dan masih banyak lagi. Gelak tawa pun sesekali terdengar dari ruang itu. Mereka memang jarang bercengkrama seperti ini, maka dari itu jika ada kesempatan berkumpul mereka pasti akan membahas segala sesuatu. Mulai dari hal yang terkecil sampai hal-hal serius. Benar-benar terlihat harmonis layaknya keluarga yang selalu Itachi idam-idamkan.
.
.
.
Setelah beberapa jam menyusuri jalanan Konoha, akhirnya mereka tiba di tujuan awal kedatangan sang Tuan. Sekarang mereka sudah ada di depan kediaman keluarga Nara. Pein langsung keluar mobil dan dengan sigap membukakan pintu belakang mobil itu. Sang Tuan keluar dari mobil mewahnya, dan memandangi rumah yang ada di hadapannya.
"Perlu kami dampingi Tuan," tawar Pein.
"Tidak usah, kalian tunggu saja disini," ucap sang Tuan.
"Tapi Tuan, apa tidak apa-apa? Kita tidak tau reaksi apa yang akan mereka berikan nanti?" ucap Kabuto yang merasa khawatir akan Tuan-nya itu.
"Aku akan baik-baik saja. Kalian tunggulah disini," ucapnya dengan nada final.
"Baik Tuan," ucap Kabuto dan Pein bersamaan sambil membungkukkan badannya.
Akhirnya sang Tuan melangkahkan kaki menuju pintu kediaman keluarga Nara. Setelah sampai di depan pintu, dia sedikit menarik nafas, kemudian mulai mengetuk pintu itu.
'Tok ... tok ... tok ...' ia mengetuk pintu. Dan tak lama kemudian terdengar sahutan dari dalam yang mengisyaratkan dia untuk menunggu. Ia pun menunggu sampai sang empunya rumah membukakan pintu untuknya.
Di ruang tamu keluarga Nara, suara ketukan pintu menghentikan percakapan mereka. Itu jelas bukan Sasuke dan Shikamaru yang pulang dari acara bermainnya. Karena kalau mereka, akan langsung berhambur masuk sambil berteriak 'Tadaima'.
"Siapa yang datang di saat seperti ini, tumben sekali," ucap Shikaku. Karena rumahnya tidak biasa kedatangan tamu. Apalagi di hari menjelang sore seperti ini.
"Biar ku lihat," ucap Yoshino seraya beranjak pergi dari ruang tamu menuju ke pintu.
"Iya, sebentar," teriaknya. Mengisyaratkan bahwa sang empunya rumah sudah mendengar ketukan itu dan menyuruh tamunya untuk menunggu.
Setelah sampai di depan pintu, Yoshino dengan segera membuka pintu. Dan, betapa terkejutnya ia saat membuka pintu dan mendapati sosok yang ada di hadapannya kini. "Anda ...," matanya terbelalak tak percaya mendapati sosok di hadapannya sementara salah satu tangannya menutup mulutnya yang mungkin menganga akibat refleks keterkejutannya.
Cukup lama Yoshino tak dapat mengendalikan rasa syoknya, sampai akhirnya Shikaku yang penasaran menyusul untuk melihat siapa gerangan yang datang. Sama halnya seperti Yoshino, Shikaku juga merasa terkejut dengan sosok yang ada di hadapannya itu. Matanya terbelalak tak percaya dengan sosok yang ada dihadapannya itu. Tapi kemudian dengan cepat dia menguasai keadaan, dan raut wajahnya berubah menjadi serius.
Hening.
Sampai.
"Ji-san, Ba-san, siapa yang datang?" suara Itachi memecah keheningan. Ia tak bisa melihat sosok yang ada di depan pintu itu karena terhalangi oleh punggung Ji-san dan Ba-san nya.
Seketika Shikaku dan Yoshino saling pandang dan tak lama menoleh ke arahnya, kemudian menampilkan sosok yang sedang berada di hadapan Shikaku dan Yoshino. Itachi tak kalah terkejutnya melihat sosok itu. Matanya membulat sempurna dan onyxnya terlihat tak suka.
Tak lama kemudian Sasuke dan Shikamaru pulang dari acara bermainnya. Mereka bingung melihat semuanya terdiam di depan pintu. Mereka segera menghampiri ke arah orang-orang itu. Sasuke dan Shikamaru hanya bisa menatap bingung sosok yang ada di depan rumahnya itu.
Sedangkan orang yang sedang di pandangi itu hanya menatap satu persatu orang-orang yang tengah mematung dan juga 2 bocah yang baru pulang bermain.
.
.
.
Di rumah sakit
Sakura yang sedang terlelap dalam tidurnya, tengah bermimpi. Dalam mimpinya ia sedang bersama dengan gadis berambut pirang sebahu yang tengah menatap pohon sakura. Sakura tidak tau siapa gadis kecil itu. Karena Sakura justru menghadap ke arah belakang. Melihat sosok yang ada di hadapannya. Helaian ravennya yang mencuat ke belakang, bergoyang-goyang diterpa angin. Mata onyx kelam itu terlihat sendu seperti menyembunyikan kesedihan. Melihat keadaan Sasuke seperti itu batinnya bergumam, "Cacu kenapa? Kenapa Cacu cedih ceperti itu? Apa karena Caku tidak main cama Cacu? Gomenne Cacu ... gomen. Becok kalau Caku pulang dari cini, Caku pacti ke taman. Tunggu Caku ya Cacu."
Seperti itulah dia sedang mengigau dalam dunia nyatanya.
.
.
.
Benang merah itu sedang berhenti merajut takdir. Dan takdir sedang menulis catatan baru.
.
.
.
_TBC_
Lagi males bikin dialog, langsung aja ya...
Terima kasih untuk hanazono yuri dan Shinohara Akari yang masih setia membaca dan meninggalkan review. Terima kasih untuk semua yang masih setia mengikuti cerita ini. Terima kasih untuk yang sudah mampir untuk membaca dan terima kasih untuk para silent reader semuanya.
Terakhir yang ingin saya sampaikan, review, kritik, dan saran selalu dinanti.
Arigatou Minna ^-^
With Love,
Saita
