Summary : Senna lari dari rumah karena tidak ingin dijodohkan dengan putra kurosaki. Karena itu, Rukia harus menggantikan Senna….R&R please…^^

Author: Juzie chan

Disclaimer : Om Kubo lah...Author cuma minjam tokoh om Kubo hingga batas waktu yang terhingga (hingga bleach tidak ada lg di dunia ini...huhuhu)

Pairing : IchiRuki, slight IchiSena, RukiRen, ByakuRuki (ini mudah-mudahan enggak...)

Warning! : banyak Typo, AU, OOC, EYD tidak sesuai, Gaje, Jayus, Abal, penuh kenistaan, membosankan, dan segala kekurangan-kekurangan yang lainnya.

Oh, ya...

Salam kenal semua ya...Juzie adalah author baru belajardan tidak berpengalaman di dunia fanfiction. mohon dimaklumin ya sodara-sodara jika story yang Juzie buat sangat sangat tidak mengundang selera tapi kalau ada yang R&R Juzie akan sangat berterima kasih...

Mohon bimbingannya...

*Tengkyu ya yang udah baca and review di Chapter sebelumnya...Author sama sekali ga nyangka kalau fic ini bakal ada yang baca...^^

CH 15

RIVAL

"Ichigo…" suara dan bayangan dia…orang yang kurindukan…

"…Ichigo bangunlah…"

Bayangan itu lalu hilang seketika, membuatku sedikit terkejut dan gelisah. Aku mengerjapkan mataku, setelah menyadari bahwa aku berada di kamarku sendiri aku lalu bangun. Ternyata suara itu hanya ada di mimpi. Kulihat jendela kamarku belum terang, ah…ini masih subuh. Selalu saja seperti ini.

"Ngantuknya…" gumamku sambil mengusap wajahku. Aku lalu menatap tali merah yang masih setia terikat di lenganku. "…kenapa kau selalu membangunkanku secepat ini…"

Dengan malas aku mengambil handuk dan menuju kamar mandi. Huaaaa…air di waktu subuh benar-benar selalu terasa seperti es, aku merasakan airnya menusuk hingga ke tulang-tulangku karena saking dinginnya. Tapi aku sudah terbiasa seperti ini, sejak dia selalu muncul di dalam mimpiku kemudian membangunkanku di waktu subuh sehingga mau tidak mau aku melanjutkannya dengan mandi.

Pagi ini aku berencana akan ke kantor, sudah setahun lebih aku tidak berkunjung ke kantorku. Setelah kepergiannya, begitu melihat Chappy Land hatiku bertambah merana akibatnya aku hanya menghabiskan waktuku dengan bersenang-senang bersama teman-temanku, baik itu teman pria maupun teman wanita, oh ya…dan juga beberapa artis. Akhir-akhir ini aku jadi banyak bergaul dengan para artis, karena mereka tahu bagaimana cara menghiburku.

Ah, lama sudah aku tidak menginjakkan kakiku di kantor membuat badanku terasa berat dan malas untuk ke sana. Kalau saja bukan Ishida tidak mengancamku dengan mengatakan "aku tidak mau perduli lagi dengan Chappy land kalau kau tidak datang besok, Kurosaki!" aku tidak bakalan mau ke kantor!

Aku mengenakan baju kaos berkancing lengan panjang, kugulung lengannya hingga menjadi tiga perempat. Kukenakan jam tangan dan…tidak lupa minyak wangi. Kali ini lebih santai karena aku berniat tidak ingin berlama-lama di kantor jadi setelah dari kantor aku akan keluyuran bersama teman-temanku.

Aku siap sekarang, aku lalu menuju pintu dan ketika pintu kubuka kurasakan reiatsu si tua Bangka itu. Begitu pintu kubuka, dengan sigap aku bergeser ke samping, ke balik dinding, dan benar saja ayah melayang ke arah pintu hendak memberikanku tendangan mautnya tapi… Huh, aku lebih cepat akibatnya ayah terus melayang hingga keluar dari jendelaku. Ahahahahaha.

"Ichigo….tolong ayah!" teriaknya.

Huh, aku ingin membiarkannya di sana tapi…aku juga ingin melihat bagaimana model jatuh ayah. Aku lalu menengoknya, kukira ayah sudah jatuh tapi…ternyata tangannya masih berpegang di tepi jendelaku dengan tubuh bergantungan di luar.

"Ichigo…cepat tarik ayah!"

Aku memandang ayah sambil memicingkan mata dan menopang daguku. Inilah akibat karena berbuat kejam pada putra sendiri.

"Ayah tarik diri ayah sendiri…" kataku sengit, ayah langsung shock.

"Hei…jangan begitu Ichigo! ayah bisa mati kalau jatuh dari ketinggian ini!"

"Oh ya?" aku mengira-ngira ketinggian jendela kamarku, kamarku ada di lantai dua jadi… "aku yakin ayah tidak akan meninggal jika jatuh dari sini, paling…ayah masuk UGD karena patah tulang…" aku lalu mencoba melepaskan jari-jari ayah yang mencengkram tepi jendelaku.

"Hei, Ichigo, hentikan! yang benar saja! masa kamu tega melakukan ini pada ayahmu…"

"Hoh, aku tidak peduli…"

"Hei…kau boleh saja tidak peduli tapi…kau mau adik-adikmu jadi susah karena harus merawat ayah di rumah sakit, sebentar lagi adik-adikmu akan ujian…"

Cih…terpaksa aku menarik ayahku. Begitu ayah berada di kamarku tiba-tiba….

"AAAAAAAOUCH!" ayah menendang wajahku.

"Dasar anak kurang ajar!" rutuk ayah, "bisa-bisanya kau mau mencelakakan ayahmu sendiri!"

"….ayah duluan yang mau mencelakakanku…"

"Sudah, ayah mau turun dulu…" ayah lalu meninggalkanku. Akupun keluar dari kamar menuju ruang makan.

Di ruang makan sudah ada Yuzu dan Karin. Ah…mereka kini menjadi siswa kelas dua SMP.

"Ichi-nii…Ichi-nii hari ini mau keluar lagi?" tanya Yuzu.

"Ya…" sahutku sambil mengambil duduk. Yuzu lalu menyerahkan mangkuk berisi nasi.

"Apa Ichi-nii pulang malam lagi?" tanya Yuzu lagi.

"Tentu saja!" Karin yang menyahut. Huh, aku menatapnya sinis tapi Karin tidak memperdulikanku, ia tetap makan dengan lahapnya.

Selesai makan aku langsung keluar menaiki mobilku, menuju ke kantor tentunya.

Kalau abang sayang…please call me, kalau abang cinta…please call me. Selama diperjalanan aku mendengarkan musik dangdut, eits bukan berarti aku menyukai musik dangdut hanya saja kebetulan hanya lagu ini saja yang ada. :p

Kini aku berada di dekat gerbang Chappy. Aku heran melihat ada patung monyet raksasa berpose tangan kanan menggaruk kepala dan tangan kiri menggaruk… maaf, bokongnya, di lahan samping Chappy Land-ku. Sepertinya itu kebun binatang, mungkin selama ini mereka memang mendirikan kebun binatang karena masih banyak lahan kosong yang sangat luas di sekitar Chappy Land.

Begitu aku berjalan mengitari kantorku, semua karyawan berdiri dan memberi hormat padaku. Huh…untung saja mereka belum lupa dengan majikan mereka. Aku kini memasuki ruanganku dan Tsukisima cepat-cepat menyusulku sambil membawa map berisi laporan tentunya.

"Simpan saja di mejaku dan setelah itu keluarlah!" kataku memerintahnya.

Setelah Tsukisima keluar aku lalu menuju jendela dan mengarahkan teleskopku ke arah Chappy Land.

Ceklek…

Aku menoleh melihat siapa yang masuk ke ruangan tanpa permisi ke sekretarisku terlebih dahulu. Ternyata si kacamata Uryu Ishida.

"Pagi sekali kau datang, Kurosaki…" katanya sambil memasuki ruanganku lalu duduk di sofa dengan santainya.

"Hei hei, dimana sopan santunmu, Ishida! Kau sering sekali memasuki ruanganku tanpa bilang ke Tsukisima atau setidaknya kau ketok pintu lebih dahulu!" tegurku menggeram.

"Apa aku harus melakukannya?" Ishida bertanya sambil memperbaiki posisi kacamatanya yang sebenarnya tidak salah sama sekali, "di sini….kedudukan kita sama, apa kau lupa?"

"Memang tapi…ini ruang pribadiku, akupun kalau masuk ke ruanganmu aku selalu permisi lebih dulu, kan!"

"Sudahlah…yang seperti ini tidak perlu kau permasalahkan," kata Ishida.

Aku lalu mengalihkan perhatianku kembali ke Chappy land. Aku sedikit terkejut dengan Chappy Land…kenapa aku melihat ada wahana yang sama…ah tidak, wahana itu lebih besar dan ada beberapa wahana yang baru.

"Ishida…" kataku, "apa kau menambah wahana di Chappy? Kau juga memperluas tanahnya lebih dua kali lipat… Kenapa kau tidak pernah memberitahuku?!"

"Itu dia yang ingin aku bahas hari ini, Kurosaki…" sahut Ishida, "makanya aku memaksamu untuk datang hari ini, biar kau bisa melihat sendiri..."

Aku menoleh dan mengerutkan alisku ke arah Ishida. "Jadi…kau baru mau memberitahuku bahwa kau sudah memasang wahana baru tanpa memberitahuku sebelumnya?"

Ishida mendecak. "Coba kau perhatikan baik-baik, Kurosaki!" kata Ishida serius, "wahana yang kau lihat itu bukan wahana di Chappy Land!"

"….ha?" aku lalu memperhatikan baik-baik wahana baru itu.

"Itu adalah area bermain yang baru dibangun setahun yang lalu dan yang sangat mengejutkan ternyata pembangunannya sangat cepat…kau sudah setahun lebih tidak berkunjung ke sini makanya kau tidak tahu, Kurosaki…"

"Si-siapa yang berani mendirikan area bermain di samping Chappy Land-ku?!" seruku marah. Huh, bisa-bisanya ada orang yang mendirikan area bermain tepat di samping area bermain?! Orang itu mau mengajak berkelahi kah? Bikin aku naik darah saja di hari aku baru berkunjung di kantorku!

Ishida malah mendesah. "Hhhhh…kau sangat mengenal orang itu, Kurosaki…"

Aku menoleh cepat ke Ishida. "Siapa?! Cepat beritahu aku siapa orang nekat itu!"

"Dia adalah…" Ishida berhenti sebentar untuk menelan liurnya, "…Renji Abarai."

"APA?!" seruku sambil membelalakkan mata. Renji? Si rambut nanas merah bertato bak preman pasar itu! Apa aku tidak salah dengar? benar-benar tidak bisa kupercaya! Sudah tiga tahun aku sudah tidak lagi mendengar namanya dan kini aku mendengar namanya karena dia mendirikan area bermain tepat di Chappy Landku! Oh My God...

"Seperti kau dengar tadi…pemiliknya adalah Renji Abarai…"

"AAAAAAAAAAKH…TIDAAAAAK!" teriakku.

"Kau tidak perlu berteriak lebay seperti itu, Kurosaki…"

"Bagaimana aku tidak kaget?! Si rambut aneh dan bertato norak itu….berani sekali dia mau menyaingiku seperti ini! dan…bagaimana dia bisa melakukan ini?!"

Ishida mendesah lagi. "Hhhh…kau tidak akan menyangka siapa dibelakang Abarai sehingga dia bisa membuat area bermain yang lebih besar dari Chappy Land kita…"

"Siapa?! Cepat katakan!"

"…..dia adalah….si konglomerat kelas kakap, Sousuke Aizen…"

Aku kaget ketika Ishida menyebut nama Aizen. Yah…tidak heran memang kalau Aizen membantu Renji mengingat Renji telah berjasa besar atas penyelamatan Kokuto, anak dari Aizen. Tapi…kenapa si Renji itu mendirikan area bermainnya di samping Chappy Land? Aku tidak bisa menerima ini!

Aku kembali memperhatikan area bermain itu dengan seksama melalui teleskopku.

"Oh, ya. Kemarin Abarai mencarimu untuk memberikan undangan acara soft laundching-nya Baboon Land secara langsung, dia kecewa karena kau tidak ada di kantor jadi…dia menitipkannya padaku, acaranya malam ini…kita harus datang, Kurosaki," kata Ishida.

"…tadi…kau bilang launching-apa?" tanyaku.

"…Baboon Land…"

Aku menoleh ke Ishida. "…tolong katakan sekali lagi, mungkin aku salah dengar…"

"…Ku bilang launching-nya Baboon Land, Kurosaki…"

"…."

Aku dan Ishida diam sebentar. Lalu…

"WAAAAAAKAKAKAKAKAKAKAKAKAKAKAKA…. WOOOOOKOKOKOKOKO!"

Aku tertawa terpingkal-pingkal. Sumpah aku tidak bisa menahan tawaku. Baboon Land? Yang benar saja.

Ishida mengerutkan alisnya kearahku. "kenapa kau tertawa seperti itu, Kurosaki?"

"Waaaaahahahahahahahahaha, si Renji abarai itu menamainya dengan Baboon Land?! Cih, dia pikir…makhluk sejenis monyet itu bisa menyaingi Chappy yang begitu lucu dan imutnya?! Pantas aku melihat ada patung baboon raksasa di luar, aku bahkan mengira kalau itu adalah kebun binatang….miris!"

"Kurosaki….kau jangan menganggap remeh Abarai dalam menjalankan usahanya," kata Ishida serius, "dia bahkan mengontrak artis terkenal untuk menjadi icon Baboon Land!"

"Tentu saja dia membutuhkan artis terkenal untuk bisa menarik pengunjung ke Baboon…" kataku sambil tertawa, "aku penasaran, siapa sih artis bodoh yang bersedia menjadi icon Baboon Land itu?!"

"Kau tidak akan menyangka siapa orang itu, Kurosaki," sahut Ishida, "dia adalah…gadis yang telah kau tolak cintanya tempo hari…"

"Ri-Riruka?" suaraku tercekat karena kaget.

"Ya…mungkin dia mau-mau saja menjadi icon Baboon Land karena ingin balas dendam denganmu Kurosaki…entahlah, itu cuma pendapatku."

"Ri…Riruka…" gumamku.

Aku teringat dengan gadis itu. Dia memang cantik dan terkenal dan aku sempat dekat dengannya tapi…pernyataan cintanya melalui suatu acara talk show yang ditayangkan secara live tempo hari membuatku kaget dan…ya ya ya aku menolaknya karena hatiku sudah tidak bisa lagi terbuka untuk gadis lain. Dan ternyata… penolakanku membuatnya malu luar biasa sehingga ia bersembunyi selama seminggu lebih dari media.

Aku kembali melihat-melihat dengan teleskopku. "kau bilang…malam ini launching-nya kan?" tanyaku.

"Ya…dan kita harus datang."

Aku dan Ishida menuju ke butik sebelum menghadiri launching Baboon Land. Tadi aku hanya mengenakan baju kaos ke kantor, tidak mungkin kan aku berpenampilan sangat biasa di acara resmi seperti itu, apalagi pasti banyak orang-orang penting di sana, bahkan para artis pasti menghadirinya juga.

Desainer di butik itu yang langsung melayaniku, ia membawa kami berdua ke lantai dua. Sang disainer memilihkanku kemeja dan jas beserta jam tangan…o-ow, sepertinya aku akan membeli jam tangan lagi.

Ishida mengambi majalah lalu duduk di sofa. Aku lalu masuk ke ruang ganti untuk mengenakan kemeja polos berwarna ungu. Setelah keluar dari ruangan itu, sang desainer lalu mengenakanku dasi bermotif…abstrak, aku tidak tahu motif apa ini, yang penting serasi dengan kemeja yang kukenakan sekarang.

"Kurosaki…" sahut Ishida sambil tetap berkutat dengan majalah yang ia baca, "benarkah…Senna sekarang menjalin hubungan dengan bangsawan Dubai ini?" tanyanya serius. Rupanya ia membaca berita mengenai Senna di majalah itu.

"Ck…berita itu sudah lama ishida…" kataku sambil melihat diriku di cermin.

"Apa itu benar, Kurosaki?" Ishida menatapku tak percaya, "kau tidak pernah cerita-cerita sebelumnya."

"Benar atau tidaknya aku tidak tahu…ya…mungkin saja berita itu benar," sahutku.

"Di majalah ini…katanya…mereka akan segera melangsungkan pertunangan…" Ishida kembali membaca berita itu.

"Yah…mungkin saja…" sang desainer lalu mengenakanku jas.

"Padahal…kupikir…Senna itu pacaran dengan sepupu pangeran William…tak kusangka sekarang dia dekat dengan pangeran Dubai…benar-benar luar biasa adik Byakuya Kuchiki itu ya…semua pria yang dekat dengannya adalah pria bangsawan yang kaya raya…"

Aku lalu teringat tiga tahun yang lalu setelah kepergian Rukia. Tidak lama setelah Rukia pergi, petinggi besar klan Kuchiki mengundangku dan ayah untuk menjelaskan "salah paham" mengenai perjodohanku. Mereka mengatakan bahwa ada kesalahan sehingga Rukia yang ditunangkan denganku dan mereka meminta maaf dan memintaku kembali agar aku bersedia dijodohkan dengan Senna.

Flashback.

Aku dan ayah berada di Mansion Kuchiki bersama Byakuya, Senna dan para petinggi besar klan Kuchiki. Mereka mengundang kami untuk membicarakan masalah perjodohan yang menurut mereka ada sedikit kesalahan.

"Maafkan kami Kurosaki-san…sebenarnya Byakuya-sama tidak bermaksud untuk menjodohkan Kurosaki-kun dengan Rukia…" kata salah satu petinggi Kuchiki yang tidak kukenali.

"Nii-sama…"bisik Senna ke Byakuya, "Nii-sama menjodohkan Ichigo dengan Rukia?" tanyanya tidak percaya, Byakuya hanya diam dan memejamkan matanya.

"…kami harap…pihak dari keluarga Kurosaki bersedia untuk melanjutkan perjodohan Kurosaki-kun dengan Senna-san…karena sesuai dengan kesepakatan Yamamoto Kurosaki dan Ginrei Kuchiki bahwa…keturunan Kurosaki harus dinikahkan dengan Keturunan Kuchiki…Rukia bukanlah keturunan Kuchiki jadi…tidak seharusnya dia yang dinikahkan dengan Kurosaki-kun."

Senna mengguncang-guncang sebelah lengan Byakuya. "Kenapa Nii-sama melakukannya…" Senna bertanya gemas ke Byakuya dengan suara berbisik. Byakuya diam saja.

Petinggi Kuchiki itu berdehem ke arah Senna. "Senna…tolong jaga sikapmu di depan calon suami dan mertuamu, sekarang ini kita sedang membicarakan pernikahanmu…"

"Tunggu dulu!" seru Senna. Ia lalu menggeram ke arah Byakuya, "Nii-sama…kenapa Nii-sama malah menjodohkan Ichigo dengan Rukia?!" tanyanya, "bukannya Ichigo itu seharusnya dijodohkan denganku…kenapa malah Rukia…"

Byakuya mendesah. "kau sendiri yang menolaknya kan?" timpal Byakuya.

"…Nii-sama tega…" Senna malah terisak.

"Sudahlah Senna…yang penting kau akan dinikahkan dengan Kurosaki….." sahut petinggi Kuchiki itu.

"Maksud kalian…setelah Ichigo bertunangan dengan Rukia…kalian ingin menikahkanku dengan Ichigo…"

"…."

"Tega sekali kalian…kalian ingin menikahkanku dengan laki-laki bekas Rukia…"

Enak saja aku dibilang bekas!

"Aku tidak sudi menikah dengan bekas Rukia?!" teriak Senna sambil menutup wajahnya. Damn it!

"Maksud kami bukan begitu Senna…Kurosaki bertunangan dengan Rukia itu karena kesalahan Byakuya…tapi yang seharusnya bertunangan dengan Kurosaki itu adalah ka-"

"TIDAK!" teriak Senna, "aku tidak mau menikah dengan bekas Rukia! Aku ini punya harga diri!"

Yayayaya…siapa juga yang mau diopor-opor seperti ini.

"Senna…tapi…ini sudah kesepakatan Ginrei Kuchi-"

"Pokoknya aku tidak sudi!" Senna lalu berlari meninggalkan kami semua, mungkin ia masuk ke dalam kamar untuk menangis.

End of Flashback

Akupun tidak jadi dijodohkan dengan Senna karena Senna gengsi menikah dengan pria bekas tunangan Rukia. Aku cukup bersyukur dengan itu karena aku memang tidak berniat untuk menikahi Senna walaupun aku sebenarnya menyukainya tapi…rasa suka itu ternyata tidak cukup untuk membuatku mencintainya.

Setelah kejadian itu, Senna sering melakukan traveling ke luar negeri dan dikabarkan memiliki hubungan dengan pria kaya dan bangsawan di luar negeri, bisa dibilang bangsawan impor. Aku beruntung karena tidak jadi dinikahkan dengannya dan aku merasa menyesal kenapa dulu aku bisa menyukai gadis yang gampang menjalin hubungan dengan pria itu.

Sang desainer hendak melepaskan tali merah di lenganku.

"Hei hei hei… siapa yang menyuruhmu melepaskannya?!" seruku lalu mendengus marah.

"Ma-maaf…" desainer itu membiarkan tali merah itu tetap melekat di lenganku, ia lalu mengenakan jam tangan di lenganku.

Aku lalu melihat diriku lagi di cermin. Hehehehe…aku makin keren saja sekarang.

Aku dan Ishida lalu meninggalkan Butik dan menuju Baboon Land. Parkiran di Baboon Land sudah sangat ramai rupanya dengan mobil-mobil mewah. Para tamu yang hadir memang semuanya orang-orang terkenal dan kaya. Aku hampir tidak bisa percaya bahwa acara ini adalah acara Renji Abarai. Aku dan Ishida lalu masuk ke dalam gedung, karena ini masih acara soft launching Baboon Land.

Begitu masuk ke dalam gedung aku dan Ishida langsung mencari Renji. Dia terlihat sedang terpingkal-pingkal dengan beberapa tamu. Aku mendatanginya saja.

"Ehem-ehem.." aku berdehem di belakangnya. Renji lalu menoleh ke arahku dan begitu ia melihatku, ia langsung memelukku berlebihan.

"Ternyata kau datang juga, Ichigo!" serunya.

"Ternyata kau datang juga, Ichigo!" seru Renji sambil memelukku berlebihan begitu melihatku di acara soft launching Baboon land.

Aku lalu menarik bagian depan kemejanya dan menyeretnya ke sudut ruangan yang sepi.

"Apa maksudmu mendirikan Baboon land di samping Chappy land-ku, Renji?" tanyaku menggeram, dengan suara berbisik tentunya.

Renji malah memperlihatkan tampang bodohnya. "karena…aku ingin kita menjadi sahabat Ichigo…makanya aku mencari lahan tepat di samping Chappy Land," sahut Renji tanpa dosa. "Hehehehe…nantinya kita bisa saling mengunjungi…"

"….Kau bilang kau mau menjadi sahabatku?" tanyaku menyeringai, "yang ada…kau hanya mengajakku berkelahi!"

"Astaga Ichigo…kenapa kau bisa zu-udzon padaku seperti itu…" kata-kata Renji membuatku semakin stress saja, "Aku cuma ingin mengajakmu berteman…ternyata kau memang anak sombong…" ucap Renji sok serius.

Aku lebih mengencangkan cengkramanku. "Jangan berakting! Aktingmu itu sangat jelek!"

"Kurosaki!" Ishida menegurku, "jaga sikapmu… Abarai-san adalah tuan rumah di sini, bersikap sopanlah dengannya…"

Terpaksa aku melepaskan cengkramanku dengan kesal.

"Hehehehehe…ternyata…teman kamu ini lebih pintar darimu, Ichigo."

"Apa kau bilang?!"

"Kurosaki…" Ishida kembali menegurku.

"Hehehe…bagaimana kalau kau bekerja saja denganku, aku akan menempatkanmu di posisi yang sangat penting…"

"Hei!" sergahku marah. Bisa-bisanya si rambut nenas itu ingin mengambil partner berhargaku itu.

Ishida membetulkan posisi kacamatanya. "Maaf…tapi…Chappy Land itu bukan cuma kepunyaan Kurosaki, tapi kepunyaan kami berdua…jadi…tidak mungkin aku bekerja di tempat saingan Chappy land.."

Aku menatap kagum Ishida, ternyata… Ishida benar-benar setia padaku…tidak kusangka…

"Hhhhhh…baiklah kalau begitu," kata Renji, "aku harus menyapa tamu-tamuku yang lain dulu…semoga kalian bisa menikmati acara ini," kata Renji sebelum meninggalkan kami berdua.

Tiba-tiba ada sesuatu yang menarik perhatian tamu-tamu yang lain, pandangan mereka semua tertuju pada pintu masuk. Karena aku penasaran aku mengajak Ishida untuk melihat siapa gerangan yang datang hingga semua perhatian tertuju padanya. Dan ternyata…orang itu adalah…Riruka! Riruka mengenakan gaun hitam tanpa lengan dengan topi yang ada hiasan bulu ayamnya. Ia kini berlenggak-lenggok bak ratu sejagat memasuki gedung bersama manajernya yang bernama Jackie Tristan.

Riruka kini berjalan mendekati Renji yang ternyata tidak jauh dari aku dan Ishida. Ia cipika-cipiki dengan Renji lalu mengobrol sebentar. Ketika ia menoleh ke arahku, ia menyunggingkan senyum yang tidak bisa kumengerti. Ia malah berjalan ke arahku.

"Hai, Riruka…apa kabarmu?" sapaku sambil mengulurkan tanganku untuk berjabat tangan dengannya. Eh…Riruka malah melewatiku. Shit!

"Hai, Ishida…apa kabar?" sapa Riruka ke Ishida sambil mengajak Ishida berjabat tangan kemudian bercipika-cipiki. Aku menatap mereka dengan mengangkat alisku.

"Baik…sama seperti kemarin-kemarin…" sahut Ishida, "Oh ya…kudengar kau kini menjadi icon Baboon Land, benarkah itu Dokugamine-san?"

"Emmmm…begitulah," sahut Riruka, "aku merasa sangat bangga karena Abarai-san memilihku untuk menjadi icon suatu area bermain terbesar di karakura ini!" katanya dengan memberi penekanan pada "area bermain terbesar" sambil melirikku sinis. Huh…bangga sekali dia menjadi icon seekor Baboon!

"Ah…aku harus ke depan dulu ya…karena aku adalah iconnya…" Riruka lalu meninggalkan Ishida sambil tertawa ria seakan-akan ia sudah melupakan sakit hatinya padaku.

Acara launchingnya telah dimulai dan setelah itu diikuti dengan jumpa pers Riruka mengenai kontraknya menjadi icon Baboon Land. Karena aku gerah melihat ini semua aku lalu menarik Ishida untuk keluar dari tempat ini. Kami lalu menuju ke kantor kami.

Aku melepas jasku waktu memasuki ruanganku dan melemparnya di sofa. Aku lalu menyandarkan diriku di sofa sambil melonggarkan dasiku. Ishida lalu duduk di depanku.

"kenapa kita malah ke sini, Kurosaki?" keluh Ishida, "setidaknya kita harus mencoba menu makanannya…kitakan belum makan malam!"

Aku mendecakkan lidah. "aku mual melihat makanan di sana," sahutku kesal. Aku menyandarkan kepalaku, menatap langit-langit kantorku yang berwarna putih polos. Aku lalu menegakkan kepalaku. "Pokoknya kita harus membuat Chappy Land lebih tenar dari Baboon Land itu!" seruku berapi-api.

Ishida memperbaiki posisi kacamatanya. "baguslah kalau kau berpikir begitu, Kurosaki."

"Kita juga harus memakai icon untuk Chappy land!"

"…Ha?" Ishida menatapku aneh.

"Iya, icon untuk Chappy Land," aku menatap serius Ishida, "pokoknya icon kita itu harus seseorang yang benar-benar sesuatu -yang-cetar-membahana- pokoknya seseorang yang sangat tenar, berkelas, berkualitas, pokoknya orang yang tidak hanya mengandalkan kemolekan fisik, tapi seseorang yang benar-benar 'the real super star'!" kataku berapi-api.

Ishida memperbaiki posisi kacamatanya. "siapakah orang yang kamu maksud itu, Kurosaki?"

"Aku juga belum tahu tapi…kita harus menemukan orang yang seperti itu!"

Ishida kembali memperbaiki posisi kacamatanya lagi dan lagi…cape' deh. "Tapi masalahnya…dimana kita bisa menemukan orang seperti itu, Kurosaki?"

"Entahlah tapi…kita pasti menemukannya!"

oOo

To be continue…

Gomen ya...aku edit sedikit chap yang kemarin...aneh aja masa udah musim semi eh langsung musim gugur...wkwkwkwkwk #plakk

Rini desu Hu um...Juzie juga sedih karena ga ngetik interaksi ichiruki...huhuhuhuhu

Onizuka Audrey koq bisa nangis...Juzie malah ngerasa kalo hurt-nya masih kurang...*ditabok*

KeyKeiko hehehehe...jangan bingung donk, disini boleh ripiu apa aja koq...saran, kritik, kampanye juga boleh...#plakk. makasih ya udah mengunjungi fic abal bin gaje Juzie...chap ini di baca ya ;)

darries karena Isshin cuma berusaha mematuhi keinginan sesepuhnya buat ngejodohin anaknya ama cewe keturunan Kuchiki...Ichi emang lemot orangnya *digampar ma Ichi*yang duluan dapatin Rukia nanti ntu...ntu...ntu...rahasia #plakk

Guest ini udah diapdet ya...ke depan masih ada beberapa chap baru dah tamat :)

ika chan hu um...Ichi emang bego banget, ga liat dia kalo rukia lebih lebih dan lebih dari Senna *ditimpuk ama fans Senna*Senna jangan diculik terus donk,,,kan kasian...chap ini di baca lagi ya ;)

Yuki no Crystal hehehehe...apdetnya bisa sekali atau dua kali seminggu...kayak mau luluran gitu. Hohohoho...iya donk because fade to black itu movi bleach fav Juzie karena fokus pada ichiruki...;) *sebenarnya Juzie juga ga nyadar ternyata jadi mirip2 ma tu movie #plakk *

cristiyunisca Ichigo memang hanya untuk Rukia seorang...hehehehe. Ini udah apdet ya!

jessi Rukia pergi ke...ga tau #plakk hehehehe...sesedih itukah? wah Juzie jadi mau download lagu yang jessi denger ntu...

Tengkyu ya semua udah baca and ripiu...chap ini dibaca ya...