Disclaimer Chara : Naruto-nya - Masashi Kishimoto

Pairing : Sasuke U. Sakura H.

Rate : T

Genre : Hurt/Comfort, Family, Romance

Warning : AU, OOC, alur berantakan, typo bertebaran, gaje , maksa dll

.

.

.


Summary : Di jalan itu, takdir telah mengubah alur kehidupan. Benang merah yang sudah terangkai, harus berhenti merajut takdirnya dan saling menjauh.

.

.

.

Takdir "Benang Merah"

By : Saita Hyuuga Sabaku


Don't Like, Don't Read

.

.

***Happy Reading***

.

.

Chapter 6

Pria yang sedang berdiri di hadapan mereka adalah Uchiha Madara. Ayah dari Uchiha Fugaku dan kakek dari Itachi serta Sasuke tentunya. Orang yang telah membuat Fugaku dan Mikoto menderita selama hidup mereka.

Shikaku mengalihkan pandangannya pada Yoshino, dan tidak lama kemudian Yoshino mengangguk tanda mengerti apa yang harus dia lakukan.

"Shikamaru, Sasuke, ayo kita masuk!" seru Yoshino.

"Kalian harus cepat mandi, hari sudah mau gelap," lanjutnya kemudian seraya membawa kedua bocah itu masuk ke dalam.

"Baa-san, siapa kakek itu?" tanya Sasuke polos.

"Dia tamu Jii-san," ucap Yoshino singkat.

"Tumben sekali Tou-san dikunjungi tamu sore-sore begini," Shikamaru ikut bicara.

"Lagipula, aku tidak pernah melihatnya. Darimana dia, Kaa-san?" tanya Shikamaru kemudian.

"Sudah, kalian tidak usah banyak bertanya. Sekarang, cepat kalian naik!" perintah Yoshino ketika sudah sampai di ujung tangga menuju lantai dua rumah itu. Dari nada bicaranya barusan, terlihat sekali dia sedang kesal. Tak ingin memancing kemarahan Yoshino, Shikamaru dan Sasuke langsung bergegas naik. Yoshino mengikuti langkah mereka dari belakang.

Sementara di ruang depan rumah, Shikaku, Itachi dan Madara masih setia pada posisi mereka. Beberapa saat setelah Yoshino membawa anak-anak, akhirnya dia mempersilahkan Madara masuk. Biar setidak suka apapun dia akan kedatangan tamu yang tak diharapkan ini, ia masih bisa menghargai seorang tamu.

Mereka berjalan menuju ruang tamu dengan posisi Shikaku di depan, Itachi dibelakangnya, dan Madara di belakang Itachi. Setelah sampai di ruang tamu, Shikaku mempersilahkan Madara untuk duduk. Mereka duduk di ruang tamu dengan posisi saling berhadapan. Kemudian dia meminta Itachi membuatkan minuman untuk tamu mereka.

Setelah Itachi berjalan menuju dapur tanpa basa-basi Shikaku langsung bertanya pada Madara, "Jadi, apa tujuan Anda kemari?"

"Aku ingin mengambil alih hak asuh atas cucu-cucuku," jawab Madara datar dan tanpa basa-basi pula.

Seketika raut wajah Shikaku menegang dan terlihat sangat serius.

"Tidak akan kuserahkan anak-anak itu padamu," ucap Shikaku dengan kata yang penuh penekanan.

"Aku tau kau tak akan mengijinkannya semudah itu. Tapi kumohon, ijinkanlah aku merawat mereka selama sisa hidupku. Aku, aku ingin menebus kesalahanku pada Fugaku dan Mikoto," ucap Madara dengan suara tertahan, seakan menahan rasa sedih yang mendalam.

Shikaku tercengang dengan sikap Madara. Selama ini, tak pernah ia melihat seorang Uchiha Madara serapuh ini. Tapi, luka masa lalu itu masih membekas di hatinya. Masih terekam jelas di pikirannya, penentangan Uchiha Madara terhadap hubungan Fugaku dengan adik semata wayangnya Mikoto.

Tak lama kemudian, Itachi datang dengan membawa dua gelas ocha di tangannya. Ia letakkan satu di hadapan Madara dan satu lagi di hadapan Shikaku, pamannya. Kemudian ia posisikan dirinya duduk di sebelah Shikaku.

"Jii-san, untuk apa dia kemari?" tanya Itachi pada Shikaku. Tapi pandangan matanya tepat mengarah ke onyx milik Madara. Onyx dan onyx saling bertemu.

Onyx yang biasanya terlihat angkuh dan dingin itu, entah mengapa onxy itu sekarang terlihat berbeda. Terlihat hangat dan sarat akan penyesalan. Sedangkan onyx yang tadinya begitu hangat dan lembut, sedang berkilat marah, menampakkan kebencian. Pemandangan itulah yang sedang dilihat Shikaku saat ini.

"Dia ... dia ingin mengambil alih hak asuh atas dirimu dan Sasuke," ucap Shikaku lirih.

"Tch, aku tidak sudi di asuh oleh penjahat seperti dia!" seru Itachi dengan suara yang menggeram menahan amarah. Kemudian dia bangkit berdiri dari duduknya dan berjalan meninggalkan ruang tamu. Dia berjalan ke lantai atas menuju kamarnya.

Shikaku dan Madara hanya bisa menatap kepergian Itachi tanpa berusaha mencegahnya.

"Shikaku, apa Itachi telah mengetahui kejadian itu?" tanya Madara meyakinkan. Melihat sikap Itachi dari awal kedatangannya, ia tau Itachi sangat membencinya. Itu pasti karena kejadian itu.

"Ya," ucap Fugaku singkat.

"Yoshino telah mengatakan apa yang terjadi pada Fugaku dan Mikoto. Itu karena Yoshino tidak bisa membiarkan Itachi membenci ayahnya," lanjut Shikaku.

"Aku mengerti. Itu semua memang salahku. Aku memang pantas diperlakukan seperti ini," ucap Madara lirih.

Flash back on

Di ruang tamu yang luas dan megah itu sedang terjadi perdebatan antara ayah dan anak. Perdebatan antara Uchiha Madara dan Fugaku.

"Tou-san kali ini saja, biarkan aku memilih jalan hidupku. Biarkan aku mengikuti kata hatiku. Biarkan aku memilih cinta dan pendamping hidupku," ucap Fugaku lirih, memohon pada sang ayah.

"Tidak Fugaku. Aku sudah menjodohkanmu dengan anak perempuan dari keluarga Hyuuga. Apapun yang terjadi, kau harus menikah dengan keturunan Hyuuga. Aku tidak akan merestuimu dengan yang lain. Hanya Hyuuga!" ucap Madara dengan keputusan final.

Kerjasama antara klan Uchiha dan Hyuuga sudah terjalin sejak lama. Bahkan perjodohan Fugaku dengan putri dari klan Hyuuga juga sudah diputuskan sejak mereka dilahirkan. Maka dari itu, Madara bersikeras memaksa Fugaku menikah dengan putri dari keluarga Hyuuga. Dia tidak ingin mencoreng nama baik Uchiha dengan keegoisan Fugaku.

"Tapi aku tidak mencintainya Tou-san!" ucap Fugaku dengan nada tinggi.

"Aku hanya mencintai Mikoto. Di dalam hatiku hanya ada dia," lanjutnya.

"Kau tidak bisa menentangku Fugaku," ucap Madara dengan nada yang tak kalah tinggi.

"Aku ini ayahmu. Apapun perintahku, kau harus patuh!" teriaknya kemudian.

"Sampai kapan? Sampai kapan kau terus mengatur hidupku Tou-san?" ucap Fugaku dengan nada yang lebih tinggi. Semua emosinya kini tengah meluap.

"Selama ini, kau terus mengaturku. Tak memberikan padaku sedikitpun kebebasan. Dan aku selalu menurutimu. Meski aku tidak suka, aku terus melakukannya demi dirimu. Demi kebanggaanmu yang selalu kau junjung tinggi itu. Aku lakukan semua sesuai perintahmu. Tapi kali ini, untuk yang satu ini, kumohon biarkan aku mengikuti kata hatiku. Biarkan aku menentukan masa depanku sendiri. Masa depan dengan gadis yang kucintai. Kumohon ayah," lanjutnya panjang lebar dengan suara lirih.

Air mata yang sedari tadi ia tahan akhirnya tumpah juga. Rasa sakit dan kesal yang sedari tadi terpendam akhirnya menguar juga. Ia sudah tak peduli dengan harga diri Uchiha. Meskipun harus menangis seperti ini. Meskipun harus memohon dan berlutut sekalipun, akan dia lakukan demi bisa bersatu dengan gadis yang dia cintai.

"Kalau kau bersikap egois seperti ini, kau tidak akan mendapatkan apa-apa Fugaku," ucap Madara dingin.

"Kau hanya akan mendapat penderitaan kalau kau tetap pada pendirianmu," lanjutnya kemudian.

"Tidak masalah," ucap Fugaku lirih.

"Jika aku harus hidup menderita sekalipun, asalkan dengan gadis yang kucintai, aku akan bahagia. Bahkan jika aku harus meninggalkan rumah ini dan semua fasilitas yang kau berikan, aku tidak keberatan Tou-san. Satu-satunya keinginan ku saat ini hanyalah masa depanku dengan gadis yang kucintai, lanjutnya panjang lebar dengan sorot mata yang menandakan keseriusan akan kata-katanya.

"Kalau begitu pergilah," usir Madara.

"Akan kulihat sejauh mana kau bisa bertahan. Dan pada akhirnya kau hanya akan mengemis padaku," ucapnya sinis.

Akhirnya Fugaku keluar dari rumah super megah itu. Meninggalkan segala kemewahannya di Suna dan pergi ke Konoha. Sejak pernikahannya dengan Mikoto tak sekalipun dia menginjakkan kakinya lagi di Suna.

Pada awalnya dia memang mengalami kesulitan. Karena perusahaan-perusahaan di Konoha sebagian besar beraliansi dengan Uchiha. Dan atas perintah Madara mereka tidak bisa menerima Fugaku sebagai karyawannya. Sampai akhirnya dia mendapatkan pekerjaan, tapi dia sering ditugaskan keluar Konoha.

Itulah sebabnya dia jarang menghabiskan waktu bersama keluarga kecilnya. Dan itu semua karena ulah Madara.

Flash back off

"Aku tau setelah semua yang kulakukan aku memang pantas mendapat semua kebencian ini. Setelah penderitaan yang kuberikan pada anak dan menantuku, aku bahkan tidak pantas di anggap kakek oleh cucu-cucuku. Tapi percayalah aku telah menyesali semuanya. Maka dari itu, aku kesini untuk memperbaiki semua kesalahanku. Aku tau Mikoto meninggal setelah melahirkan cucu keduaku. Dan Fugaku, dia mengalami kecelakaan saat menuju Konoha. Saat itu, aku merasa menyesal. Tapi aku tak punya keberanian untuk datang kesini. Aku takut kalian menolakku. Dan saat ini, aku merasa yakin ini saat yang tepat. Aku ingin memberikan kehidupan yang layak bagi mereka," ucap Madara panjang lebar dengan suara yang terisak, karena saat ini dia sedang menangis. Menangis karena penyesalannya, ketika ia mengingat kekejaman yang ia lakukan pada anak semata wayangnya.

Melihat sikap Madara yang seperti itu, luluhlah hati Shikaku. Shikaku tau bahwa Madara benar-benar telah menyesali perbuatannya. Tapi ia juga tak bisa memutuskan.

"Aku tak bisa memutuskannya. Keputusan ada di tangan Itachi dan Sasuke," ucap Shikaku.

Kemudian Madara tiba-tiba bangkit dari duduknya dan berjalan mendekat ke arah Shikaku. Kemudian dia berlutut di hadapan Shikaku.

"Aku mohon Shikaku, bujuklah Itachi dan Sasuke agar mau tinggal bersamaku di Suna," ucap Madara memohon, meruntuhkan segala kehormatan Uchiha yang selama ini dia jaga.

Shikaku yang terkejut dengan sikap Madara kemudian memapahnya untuk kembali berdiri. Biar bagaimanapun sikapnya di masa lalu, seseorang pantas mendapatkan kesempatan kedua. Itulah yang ada di pikiran Shikaku saat ini.

"Aku tak bisa menjanjikan apa-apa untuk Anda. Tapi, aku akan berusaha membujuknya," ucap Shikaku berusaha meyakinkan sang Madara.

"Aku benar-benar berharap padamu Shikaku," ucap Madara.

"Aku akan berusaha semampuku, tapi aku tak bisa memaksa mereka, terutama Itachi," sahut Shikaku.

"Aku mengerti. Dan aku percaya padamu," ujar Madara.

"Kalau begitu aku pamit undur diri dulu," ucap Madara kemudian seraya membungkuk hormat.

Shikaku pun melakukan hal yang sama. Kemudian Madara berjalan menuju pintu keluar didampingi oleh Shikaku. Dan di luar sana, dia sudah disambut oleh kedua anak buahnya Pein dan Kabuto.

.

.

.

Malam harinya Shikaku berbincang dengan Yoshino dan juga Itachi. Dia berusaha meyakinkan Itachi untuk memberikan kesempatan kedua bagi kakeknya itu. Yoshino pun yang telah mengetahui keadaannya, akhirnya ikut meyakinkan Itachi. Mereka berkata, bahwa Itachi kapan saja bisa kembali ke Konoha. Pintu rumah mereka selalu terbuka untuk Itachi dan Sasuke. Dan sesekali mereka juga akan mengunjungi Itachi dan Sasuke ke Suna.

Meskipun awalnya Itachi bersikeras, tetapi pada akhirnya dia pasrah juga. Biar bagaimanapun juga dia merasa iba mendengar penuturan pamannya itu. Tentang bagaimana tadi sikap Madara. Ada ketulusan dalam hatinya. Ia tau itu. Walaupun ia belum bisa menerima Madara sepenuhnya, setidaknya ia akan mencoba menerima sang kakek semata wayangnya itu. Selain itu, ia juga tak ingin menjadi beban bagi Yoshino dan Shikaku. Sudah terlalu lama ia membebani mereka. Walaupun pada kenyataannya paman dan bibinya itu sama sekali tidak merasa terbebani.

.

.

.

Dua hari setelah kedatangan Madara, akhirnya saat ini tiba. Saat untuk membawa Itachi dan Sasuke ke Suna. Pagi-pagi Madara sudah mendatangi kediaman Shikaku, untuk menjemput kedua cucunya. Peluk cium Yoshino berikan pada Itachi dan Sasuke yang akan pergi meninggalkan rumahnya. Biar bagaimanapun juga ia sudah menganggap Itachi dan Sasuke seperti anak kandungnya sendiri. Walaupun berat, ini semua demi masa depan keduanya. Masa depan yang lebih baik. Semuanya bersedih, tapi yang paling merasa sedih sebenarnya adalah Sasuke. Karena sampai kemarinpun ia tak bisa menemukan sosok Cherry-nya. Padahal ia mau mengucapkan salam perpisahan.

Setelah salam perpisahan dengan keluarga Nara, Itachi dan Sasuke berjalan menuju mobil yang telah terparkir di halaman. Menyusul sang kakek yang telah lebih dulu masuk ke dalam mobil. Setelah mereka memasuki mobil, mobilpun melaju melewati jalanan Konoha menuju bandara.

Saat di perbatasan gerbang pintu keluar Konoha, tanpa di ketahui Sasuke dan Sakura, mobil mereka saling berpapasan. Mobil yang di dalamnya ada Sasuke berjalan menjauhi Konoha. Sedangkan mobil yang di dalamnya ada Sakura baru saja memasuki Konoha. Karena hari ini Sakura sudah pulang dari rumah sakit.

.

.

.

Di jalan itu, takdir telah mengubah alur kehidupan. Benang merah yang sudah terangkai, harus berhenti merajut takdirnya dan saling menjauh.

.

.

.

Skip

Disinilah Itachi sekarang. Di tempat yang tak pernah ia kunjungi sebelumnya. Di Suna. Di kediaman sang kakek yang sangat megah layaknya istana. Fasilitas yang lengkap dan para maid yang selalu standby 24 jam. Ia tak menyangka kakeknya teryata orang yang sangat terpandang dan kaya seperti ini. Tapi disela kekagumannya ada kesedihan yang tak dapat disembunyikan.

Dia sedih karena harus meninggalkan kediaman Nara. Meninggalkan paman, bibi dan sepupunya yang sudah dianggap seperti keluarganya. Sedih karena dia akan jarang mengunjungi makam kedua orang tuanya.

Sasuke pun sama sedihnya dengan Itachi. Terlebih dia tak akan bisa lagi bermain dengan Cherry-nya yang menggemaskan. Apalagi dia tidak bisa menyampaikan salam perpisahan.

.

.

.

Di Konoha

Sore harinya, Sakura yang tak sabar ingin bertemu dengan Sasuke teman mainnya itu, langsung berlari menuju taman dengan langkah riang. Tapi tak ia temukan sosok berhelai raven itu. Ia putuskan menunggu sampai hari mulai gelap, namun sosok itu tak kunjung datang. Sampai akhirnya, Ka-sannya menjemput Sakura untuk segera pulang. Dan Sakura harus pulang dengan perasaan sedih dan otak dipenuhi tanda tanya, 'kenapa temannya itu tak datang bermain?'

.

.

Keesokan harinya pun Sakura selalu mendatangi taman itu. Berharap menemukan sosok berhelaian raven itu. Atau setidaknya Shikamaru yang merupakan sepupu dari Sasuke. Setidaknya dia akan bisa mengetahui alasan Sasuke. Tapi sosok itupun tak dapat ia jumpai.

.

.

Sudah hampir dua minggu Sakura selalu mendatangi taman dan berharap menemukan sosok Sasuke. Tapi hari ini adalah hari terakhir dia bisa berharap. Karena esok hari tak akan ada lagi harapan. Besok keluarganya akan pindah ke Takigakure, karena Tou-sannya dipindah tugaskan.

Menunggu dan terus menunggu. Berharap dan terus berharap meski harapan itu hampir tidak ada. Pada akhirnya harapannya kembali menjadi kekecewaan. Hari ini, di hari terakhirnya berada di Konoha, ia masih tak bisa menemui Sasuke.

_TBC_


Saatnya balas review ^-^

.

.

Shinohara Akari

iya...ini udah di lanjut

.

.

Arigatou hesty-chan sudah mengembalikan kepercayaan diriku. Aku jadi inget tujuan aku nulis itu apa, dan pencapaian yang aku mau capai itu adalah "bisa menyelesaikan semua fic yang aku buat". Aku bener-bener bisa bangkit lagi berkat kamu. Sakali lagi terima kasih atas semangat yang kamu berikan dan terima kasih juga sudah setua me-review.

.

.

hanazono yuri

iya, ini udah di lanjut...

.

.

hani yuya

Arigatou hani senpai udah mampir kesini...dan udah ngasih aku semangat,,,hehehe

di puji hani senpai aku jadi tersanjung ^-^

.

.

Yosh sekali lagi terima kasih bagi kalian semua yang sudah mereview. Terima kasih sudah setia membaca fic gaje ini. Terima kasih juga bagi para silent reader.

Tidak bosan-bosan, saya minta kritik dan saran yang membangun atas tulisan yang saya buat ini. Agar tulisan ini bisa sedikit berkembang. Terima kasih semuanya.

With Love,

Saita