Summary : Senna lari dari rumah karena tidak ingin dijodohkan dengan putra kurosaki. Karena itu, Rukia harus menggantikan Senna….R&R please…^^

Author: Juzie chan

Disclaimer : Om Kubo lah...Author cuma minjam tokoh om Kubo hingga batas waktu yang terhingga (hingga bleach tidak ada lg di dunia ini...huhuhu)

Pairing : IchiRuki, slight IchiSena, RukiRen

Warning! : banyak Typo, AU, OOC, EYD tidak sesuai, Gaje, Jayus, Abal, penuh kenistaan, membosankan, dan segala kekurangan-kekurangan yang lainnya.

Oh, ya...

Salam kenal semua ya...Juzie adalah author baru belajardan tidak berpengalaman di dunia fanfiction. mohon dimaklumin ya sodara-sodara jika story yang Juzie buat sangat sangat tidak mengundang selera tapi kalau ada yang R&R Juzie akan sangat berterima kasih...

Mohon bimbingannya...

*Tengkyu ya yang udah baca and review di Chapter sebelumnya...Author sama sekali ga nyangka kalau fic ini bakal ada yang baca...^^

Ch 16

Icon for Chappy

Ichigo's POV

"…Anak sombong ini?" tanyaku dengan alis mengerut melihat foto yang Ishida berikan padaku.

"Benar sekali, Kurosaki," sahut Ishida, "aku sudah menyeleksi semuanya selama sebulan lebih dan…menurutku anak sombong itu yang lebih ideal menjadi icon Chappy."

Aku terus melihat foto itu, foto seorang anak laki-laki yang masih remaja, berambut hitam, panjang seleher dan agak berantakan. Wajah anak di foto itu mengingatkanku dengan Byakuya dan….yang ini sulit aku mengakuinya, anak itu juga mirip-mirip dengan Rukia. Aku pernah bertemu dengan anak di foto itu, aku memang tidak begitu mengenalnya tapi yang aku tahu…anak itu sangat sombong!

"…Ishida, tidak salah nih kalau dia yang akan jadi icon Chappy?" tanyaku, "kenapa bukan artis perempuan saja?"

Ishida mengerutkan alisnya menatapku, "Kurosaki…kau sendiri yang bilang kan kalau icon Chappy kita itu tidak hanya menampilkan kemolekan fisik, tapi yang paling penting adalah kelas dan kualitasnya!"

"Memang benar Ishida…tapi…Chappy itu identik dengan anak perempuan, kebanyakan yang berkunjung di Chappy Land itu adalah perempuan, jadi…icon Chappy itu seharusnya seseorang yang girlish…"

"Kurosaki…Kurosaki…tadi kau sendiri yang bilang kan kalau sebagian besar yang mengunjungi Chappy land itu adalah perempuan…makanya icon Chappy itu sebaiknya seorang anak laki-laki yang memiliki banyak fans perempuan."

Aku lalu memikirkan ucapan Ishida. Memang benar sih tapi…

"Apa….harus anak sombong ini?" aku belum menyetujui dengan anak yang akan menjadi icon Chappy itu, "kenapa bukan Justin Bieber saja?"

Ishida menggeleng-geleng dan menatapku seakan-akan aku orang bodoh. "Kau seperti tidak tahu saja kalau anak itu terlalu banyak melakukan kontroversi…icon Chappy itu harus seseorang yang bisa menjadi teladan! Lagipula…Justin Bieber itu tidak ada apa-apanya dibanding si anak sombong itu (hwhwhw…sorry ya fans Bieber, piss ah ^^v), kalau kita berhasil menjadikan dia icon Chappy, maka Baboon Land tidak akan bisa menyaingi Chappy land kita tercinta."

Yayayaya…yang itu aku setuju dengan Ishida. Memang anak sombong itu sedang naik daun dan menjadi perbincangan hangat di media. Tapi…

"Tapi Ishida….apa anak ini akan bersedia?" tanyaku ragu-ragu mengingat anak itu benar-benar sombong.

"Ya kita harus berusaha keras Kurosaki…" sahut Ishida, "okelah untuk masalah ini…biar aku yang tangani, untuk yang renovasi dan penambahan lahan dan wahana kau yang tangani. Oke!"

"Baiklah."

"Kalau begitu aku harus pergi," kata Ishida kemudian, "aku harus terus menemui manager si anak sombong itu."

Aku bisa sedikit berlega diri karena Ishida benar-benar serius untuk mengembangkan Chappy Land ini. Tidak menyesal aku mengajaknya dulu untuk mendirikan Chappy Land ini. Ishida benar-benar partner yang bisa diandalkan. Aku juga harus semangat.

Aku mengambil teropong kecilku di laci. Hari ini aku harus melihat perkembangan lahan Chappy-ku dari dekat.

Akhirnya aku menginjakkan kaki lagi di Chappy Land, walaupun sangat berat karena mengingatkanku akan kencan pertamaku dengan Rukia. Tapi aku harus kuat demi Chappy Land tercinta. Aku melihat-lihat pembangunannya dengan teropong kecilku. Dalam sebulan ini, ternyata pembangunannya sudah lumayan. Yah…ini harus berlangsung cepat karena aku dan Ishida sudah mengeluarkan sebagian besar tabungan kami untuk ini. Melihat Baboon Land yang semakin hari semakin ramai, aku dan Ishida harus melakukan apapun demi kejayaan Chappy Land walaupun uang kami akan habis nantinya.

"KUROSAKIIIIIIII!"

Seseorang berteriak tepat di telingaku dan membuatku terperanjat kaget luar biasa. Aku menoleh ke arah orang itu, terlihat si rambut biru, Grimmjow, sedang menertawaiku. Sialan dia!

"Hahahahaha…lucu sekali mukamu itu, Kurosaki," serunya sambil tertawa..

Aku mendecakkan lidah sambil menggeram ke arahnya. "Kau berniat membuatku tuli, ya?"

"Hahahaha…tentu saja tidak, Kurosaki…" Grimmjow masih menertawaiku.

"Kenapa kau berada di sini?" tanyaku sinis. "Bukannya kau seharusnya ada di Dangai bersama partnermu, Starrk?"

"Ah…aku bosan di sana, kau tahu sendirikan kalau si Starrk itu terlalu serius" sahutnya, "sekali-kali aku ke Karakura menemui teman-temanku, tidak apa-apa kan?" tambahnya sambil menyunggingkan senyumnya. "Oh ya, dimana si kacamata itu?" tanyanya.

"Ishida?"

"Ya-iyalah…siapa lagi?"

"Dia sedang gencar-gecarnya mengejar calon icon Chappy land kami…"

"Icon Chappy? Wah wah wah…sepertinya ada banyak berita baru yang belum kudengar," ucap Grimmjow semangat, "kalau begitu…bagaimana kalau kita ke café untuk mendengarkan ceritamu," katanya sambil menarikku pergi. Aku menurut saja karena sudah lama sekali kami tidak bertemu.

Kini kami duduk berdua di ruang VIP suatu Café.

"Tadi kau bilang icon Chappy…jangan bilang kalau dia adalah seorang artis yang sangat cantik…." Grimmjow lalu tertawa, "bisa-bisa kau tertarik lagi dengannya."

"Ah, itu tidak mungkin…lagipula, artis yang menjadi icon Chappy itu seorang anak laki-laki," sahutku.

"Oh…laki-laki ya…" gumam Grimmjow, "Siapakah dia?" tanyanya.

"Dia…si anak sombong."

"Anak sombong? Siapa itu?"

"Artis pendatang baru yang sangat tenar itu…Tenza Zangetsu!"

Begitu aku menyebut nama Tenza zangetsu, wajah Grimmjow langsung terpana hingga mulutnya sedikit terbuka. "Benarkah itu?" tanyanya tidak percaya. "Memang anak itu lagi tenar-tenarnya sejak pertama kali muncul…tapi…apa Ishida mampu mengajaknya?"

"Entahlah…tapi dia terlihat sangat semangat," sahutku.

"Oh, ya Kurosaki…aku kaget melihatmu ada di infotaimet beberapa minggu yang lalu bersama Riruka…kupikir kau sedang menjalin hubungan dengannya…kalian terlihat sering bersama dan astaga…kau membuat gadis itu patah hati…"

"…Dia yang sering mengajakku jalan…aku tidak enak saja menolak ajakannya lagian, aku tidak pernah bilang kalau aku menyukainya."

Grimmjow malah menertawaiku. "Kalian sering dikabarkan bersama-sama…bahkan kalian menonton teater berdua…waktu itu kupikir kau sudah melupakan mantan tunanganmu itu, Kurosaki…"

"Siapa bilang kalau dia mantan tunanganku?" celetukku sinis, "dia masih tunanganku, ini buktinya!" aku memperlihatkan tali merah yang masih terus melekat di lenganku.

"Oh oh oh…ternyata kau masih setia menunggunya…" kata Grimmjow sambil menyandarkan dirinya di sofa, "lalu bagaimana misalnya, Kurosaki…ini hanya misalkan saja ya, kalau suatu saat kalian bertemu…dan ternyata Rukia sudah menikah…bagaimana?"

Pertanyaan Grimmjow barusan membuatku menggeram sendiri. Aku benar-benar tidak suka dengan pertanyaannya.

"Itu tidak mungkin!" ucapku yakin.

Grimmjow membungkukkan sedikit badannya dan menatapku serius. "Lho, kenapa tidak mungkin, Kurosaki? ini sudah tiga tahun dan bukannya Kuchiki-san tidak pernah jelas-jelas mengatakan bahwa dia menyukaimu…bisa saja kalau Kuchiki-san bernasib sama dengan Inoue, dia bertemu dengan pria lain lalu menjalin hubungan lalu menikah…"

"Ck….kalau begitu…aku akan menunggu jandanya!"

Grimmjow terperangah menatapku. "Kau…serius?"

"Tentu saja!" sahutku bersungguh-sungguh.

Grimmjow menatapku miris. "Oh, Tuhan…jangan siksa lebih berat temanku ini lagi…cukup Ishida yang merasakannya…" gumam Grimmjow, "inilah sebabnya aku tidak ingin terlalu menyukai seorang gadis…makanya kalau suka cukup sekedarnya saja…"

Ah…ini sudah terlanjur tawu!

oOo

"Ichigo…"

Ini suara Rukia…cepat-cepat aku berbalik ke belakang, melihat Rukia yang memanggilku. Aku terpana melihatnya, ia memakai dress panjang dan rambutnya jadi panjang sepinggang, dia…benar-benar cantik.

"Ru…Rukia…" ucapku tidak pecaya dengan apa yang kini kulihat. Rukia tersenyum menatapku. Aku ingin sekali memeluknya agar ia tidak pergi lagi tapi…oh tidak, tubuhku tidak bisa bergerak…ada apa ini?

"Mama…" aku terbelalak melihat ada anak kecil yang tiba-tiba muncul dari belakang Rukia. Seorang anak laki-laki kecil berambut hitam dan bermata abu-abu…Siapa dia? Kenapa dia memanggil Rukia dengan…mama? Be…benarkah Rukia sudah menikah dan…dia sudah mempunyai anak? Ya tuhan…cabut nyawaku saja kalau itu benar!

Rukia lalu berjongkok. "Kenapa sayang?" tanyanya ke anak laki-laki itu.

"Siapa paman itu?" tanya anak kecil itu menunjukku.

"Oh…itu…paman Ichigo," sahut Rukia.

"Ru…Rukia…siapa anak itu?" tanyaku dengan mulut gemetar.

Mata indah Rukia menatapku. "Ini anakku Ichigo…"

Aku shock, benar-benar shock hingga aku tidak kuat berdiri. Kini aku berlutut di depan Rukia dan anak kecil itu…gawat sepertinya aku mengalami serangan jantung tahap awal.

"Si-siapa suamimu Rukia…?" tanyaku terengah-engah.

Rukia baru saja ingin menjawabnya tapi tiba-tiba…

"Aku!" sahut seorang pria dengan lantang, ia berada agak jauh di belakang Rukia. Pria itu berjalan mendekati kami dan saat dia berada di samping Rukia… aku benar-benar mengalami serangan jantung tahap lanjut. Pria itu…berambut hitam seleher agak berantakan dan ia terlihat masih remaja…dia Tenza Zangetsu! Anak sombong yang akan menjadi icon Chappy Land! Bu-bukannya anak itu masih berusia tujuh belas tahun?! Ke-kenapa bisa dia menikah dan sudah memiliki anak dengan Rukia?! Benar-benar gila?! Aku pasti sudah gila?!

Tenza Zangetsu lalu menarik Rukia pergi.

"Ru-Rukia!" teriakku, "I-Ini tidak benar kan? Hei?!" aku terus memanggil Rukia tapi Rukia tidak menoleh sedikitpun, "kau tidak mungkin menikah dengan pria yang masih anak-anak itu, RUKIA! HEI RUKIAA, HEII!"

"Rukia!" teriakku sembari bangun.

Kini aku duduk setengah berbaring di sofaku, kurasakan nafasku memburu. Aku lega karena kejadian barusan hanya mimpi. Tapi…mimpi barusan benar-benar mengerikan!

"Astaga…kau memimpikannya rupanya," suara Ishida! Cepat-cepat aku menoleh ke arahnya, Ishida sedang menatapku dengan alis terangkat sebelah. "Tidurmu sangat gelisah tadi…ternyata kau memimpikan Rukia ya…"

"Ck…sejak kapan kau ada di situ, Ishida?" tanyaku sambil memperbaiki posisi dudukku.

Ishida manatap jam tangannya sebentar. "Kurang lebih…hampir tiga puluh menit yang lalu…"

"Oh…"gumamku masih sedikit terengah-engah, "kenapa tadi kau tidak langsung membangunkanku?!" gerutuku. Kalau saja Ishida membangunkanku daritadi…aku pasti tidak bermimpi yang aneh barusan.

"Sepertinya kamu terlalu capek, Kurosaki…. jadi, aku tidak enak membangunkanmu."

Aku diam menunggu hingga nafasku berangsur-angsur stabil. "lalu, untuk apa kamu kemari?" tanyaku.

Ishida membetulkan posisi kacamatanya. "Aku cuma ingin memberitahumu bahwa… si anak sombong itu telah menyetujui untuk menandatangani kontrak sebagai icon Chappy Land," sahut Ishida.

Aku terperangah. "Ba-bagaimana caranya kau bisa…?"

"Tidak penting caranya bagaimana," sahut Ishida , "yang penting anak itu bersedia untuk menjadi icon kita."

Aish…aku jadi teringat dengan mimpi barusan. aku jadi tiba-tiba sangat membenci si anak sombong itu.

Ishida membetulkan posisi kacamatnya lagi. "Kenapa? Kau seperti tidak senang mendengarnya, Kurosaki."

"Oh ya?" aku menggaruk kesal rambutku, "aku senang koq," ucapku terpaksa, "baguslah kalau dia akhirnya mau bersedia…"

"Hhhhh…reaksimu itu tidak seperti yang kuharapkan," gumam Ishida sedikit kecewa.

"Lalu…apa rencanamu mengenai anak itu?" tanyaku.

"Aku berencana akan menyelenggarakan suatu pertunjukan yang luar biasa, Kurosaki… mungkin semacam teater atau…drama panggung atau apalah itu."

"Lalu…apa masalahnya sekarang? Kau ke sini pasti karena ada masalah kan?"

"Sekarang…masalah kita adalah…mencari lawan main untuk Zangetsu-kun."

"Huh…yang itu gampang saja…pertemukan saja dia dengan Haruka JKT48 atau Nabila JKT48…" aku tertawa membayangkan si anak sombong itu bertemu dengan gadis-gadis cantik itu, "kurasa…anak itu akan terkelepek-kelepek melihat kecantikan mereka…"

"Sepertinya tidak, Kurosaki…Zangetsu-kun itu orang yang mementingkan kualitas dan juga pribadi dari lawan mainnya, kurasa dia tipe laki-laki yang tidak menyukai melihat para gadis berjingkrak-jingkrak rame-rame sambil bernyanyi dengan suara lipsing…"

"Oh…begitu ya," gumamku, "jadi…bagaimana solusinya? Apa kita harus mengumumkan ke berbagai manajemen artis atau sanggar-sanggar kesenian untuk menemukan orang yang tepat untuk si anak sombong itu?"

Ishida membetulkan posisi kacamatnya. "Ya…kurasa begitu…"

oOo

Lalu, bagaimana keadaan Mansion Kuchiki sekarang?

Daun-daun pepohonan berwarna jingga menghiasi pemandangan halaman Mansion. ternyata bukan hanya musim semi saja yang membuat pemandangan Mansion terlihat indah tapi musim gugur juga membawa keindahan tersendiri . Seorang pria dewasa yang tampan duduk melantai di depan meja, ia sedang membaca buku filsafat dengan tenang di ruangan tersebut sambil menikmati pemandangan musim gugur dan aging sejuk yang masuk melalui pintu gerer yang terbuka. Pria itu adalah kepala keluarga dari keluarga Kuchiki yaitu Byakuya Kuchiki. Sudah cukup lama rupanya Senna meninggalkannya, Byakuya hanya menghabiskan waktunya dengan membaca.

Tok tok tok…

"Masuk!" perintahnya sambil terus berkutat dengan bukunya. Orang itu lalu menggeser pintu dan terlihat wajah pelayan yang sangat polos, siapa lagi kalau bukan Hanataro.

"Maafkan saya mengganggu Tuan Kuchiki-sama…"

"Ada apa?" Byakuya masih berkutat dengan buku di depannya.

"Saya…hanya ingin menyerahkan surat ini, Tuan…kupikir…surat ini pasti penting untuk Tuan Kuchiki-sama…"

"Oh, ya?" kata Byakuya sambil menoleh ke arah Hanataro, "Surat dari siapa?" tanyanya.

"Dari Nona…Kuchiki-san, Tuan…"

Mata Byakuya membesar mendengar ucapan Hanataro. Tidak mungkin surat itu dari Senna karena untuk menghubungi Byakuya, Senna pasti memakai ponsel atau telfon rumah.

"Maksudmu…Rukia?" tanya Byakuya untuk memperjelas.

"Benar Tuan…" sahut Hanataro lalu menyerahkan surat tersebut. Byakuya lalu cepat-cepat mengambil surat itu. Ia benar-benar ingin segera mengetahui kabar adik angkatnya itu, ini pertama kalinya Rukia mengirimkan surat untuk Byakuya setelah tiga tahun kepergian.

"Keluarlah!" perintah Byakuya setelah memegang surat Rukia. Setelah Hanataro menutup pintu, Byakuya memperhatikan amplop surat itu. Tidak ada alamat di situ, hanya ada nama Rukia Kuchiki dan perangko asal Senkaimon. Itu berarti Rukia kini berada di Senkaimon. Cepat-cepat Byakuya membuka amplop itu dan membaca surat Rukia.

Nii-sama…

Bagaimana kabar Nii-sama sekarang? Semoga Nii-sama baik-baik saja. Maafkan aku karena aku baru memberi kabar. Nii-sama tidak perlu khawatir padaku, kabarku di sini baik-baik saja. Walaupun aku tidak bersama Nii-sama, aku tidak pernah kekurangan koq. Sekarang aku malah lebih mandiri dan banyak belajar mengenai tantangan hidup, melihat dunia yang belum kulihat sebelumnya…ternyata sangat menyenangkan.

Oh, ya…sekarang aku berada di Senkaimon dan mungkin akan menetap lebih lama di sini. Di sini sangat menyenangkan karena kota ini dikenal dengan kota seniman. Aku jadi lebih banyak belajar mengenai Seni. Suasana kotanya juga terkesan klasik dan mataharinya juga terasa sangat hangat. Mungkin kapan-kapan Nii-sama bisa berliburan di sini…Jika Nii-sama bersedia, aku akan mengajak Nii-sama untuk naik perahu di sungai kota.

Sekian dari suratku dulu, aku akan mengirim surat lagi. Jangan lupa jaga kesehatan Nii-sama baik-baik. Suatu saat aku akan mengunjungi Nii-sama jika aku sempat berkunjung ke Karakura.

-Rukia Kuchiki-

Byakuya tersenyum setelah membaca surat tersebut. "Dasar anak bodoh…semoga saja kau tidak lupa mencantumkan alamatmu di suratmu nanti…"

oOo

Di bagian utara Senkaimon.

Seorang gadis bertubuh mungil sedang tertidur dengan menyandarkan punggungnya di kursi lipat di pinggir jalan dan kedua tangannya bersilang di perutnya. Ia mengenakan jaket jeans hijau dan celana panjang jeans yang terlihat lusuh dan ada banyak robekan di bagian lutut dan pahanya sehingga nampaklah kulit putihnya yang bercahaya dari balik robekan jeans-nya. Wajahnya yang menghadap langit ditutupi dengan topi hitam berlambang huruf "K" untuk melindungi wajahnya dari terik matahari. Rambutnya pendeknya seleher terlihat hitam legam bagai bulu gagak.

Walaupun hari itu matahari mulai terasa panas, tapi gadis itu tetap dapat tertidur dengan pulas. Kanvas dan peralatan melukis terlihat duduk manis dan bersandar di bagian samping kursi gadis itu. Lama menunggu pengunjung membuatnya sangat ngantuk hingga tertidur pulas.

Sepasang kekasih muda lalu mendatanginya. Seorang gadis berambut kuning dengan rambut dikuncir dua dan bertubuh mungil bersama seorang pria berambut kuning dan berponi, rambutnya sangat lurus seperti terlihat habis dismoothing tapi sebenarnya rambut lurusnya itu alami.

"Nona…apa kau pelukisnya?" tanya gadis berambut kuning itu.

Gadis yang tertidur tadi terbangun, ia mengeram sebentar lalu mengangkat topinya dari wajahnya sambil menoleh ke arah sepasang sejoli muda berambut kuning itu. Begitu gadis itu mengangkat topinya dari wajah putihnya, nampak kilau menyerupai emethyst yang indah dari matanya. Wajah gadis itu terlihat polos ditambah dengan tubuh yang mungil, siapapun yang melihatnya pasti akan mengira bahwa gadis itu adalah seorang pelajar SMA.

Gadis itu lalu menyunggingkan senyumnya menatap orang yang telah membangunkannya. "Benar…aku adalah pelukisnya…"

oOo

To be continue…

Bagaimana? ceritanya jadi semakin gaje kan? Juzie juga merasa seperti itu...wkwkwkwkwk

So? ceritanya baiknya dilanjutin atau ga? :D

hehehehe...apapun yg terjadi Juzie bakal lanjut terus...hwhwhwhw #plakk

Sorry ya teman-teman...mungkin ada yang mengharapkan bakal ada kisah yang sangat menyedihkan but...seperti yang dari awal-awal Juzie katakan bahwa Juzie ga akan ngebiarin Rukia hidupnya terlalu miris, kenapa apa? karena Rukia adalah my Hero *apaan sih?*

Juzie sangat suka kalau karakter Rukia dibuat jadi cewek yang kuat dan tegar jadi Juzie ga mau buat karakter Rukia jadi cewek yang melankonis bgt kayak Inoue...

Jadi, ga akan ada pertemuan yang mengharukan hingga meneteskan air mata lagi di chap-chap selanjutnya and seperti yang Juzie umumkan sebelumnya bahwa di chap-chap berikutnya interaksi Ichiruki ga akan ada hingga ke chap... rahasia #plakk

Sekali lagi Juzie minta maaf ya...kalau ga buat cerita ini seperti yang diharapkan readers, karena semua yang Juzie ketik itu hanya berdasarkan khayalan gaje semata.

Sekian dan terima kasih...