Takdir " Benang Merah "
Author : Saita Hyuuga Sabaku
Disclaimer : Naruto Masashi Kishimoto
Pairing : Sasuke U. Sakura H.
Rate : T
Genre : Hurt/Comfort, Family, Romance
Warning : AU, OOC, alur berantakan, typo bertebaran, gaje , maksa dll
.
.
.
Don't Like, Don't Read
.
.
.
Summary : Kehidupan terus berputar layaknya roda yang terkadang berada di atas dan di bawah. Hati pun kadang berubah tanpa sebab yang pasti. Benang merah tak selamanya terulur dengan baik. Lihatlah kini, bagaimana kusutnya benang itu.
.
.
.
***Happy Reading***
.
.
.
Chapter 7
.
.
.
Sepuluh tahun kemudian.
Sasuke tumbuh menjadi pria yang tampan dengan sejuta pesona. Mata onyxnya yang tajam, helaian ravennya yang mencuat kebelakang, seakan menambah kesan cool yang dimilikinya.
Lihatlah kulit putih mulus bak porselein dari wajah hingga seluruh tubuhnya. Makin menambah nilai sempurna dari seorang Uchiha. Bukankah semua Uchiha seperti dia? Selalu mengagumkan.
Kelebihan lain yang dimilikinya, dia tumbuh menjadi pria yang berhati baik dengan senyum yang seolah tak pernah pudar dari wajah tampannya. Wajar saja banyak yang tergila-gila pada Uchiha yang satu ini. Tampan, berkharisma dan lembut, semua melekat padanya berkat sang kakak "Uchiha Itachi" yang menjadi panutannya.
Kini ia akan kembali ke Konoha. Tempat dimana tersimpan semua duka, semua suka cita, dan tempat dimana ia temukan cinta pertamanya yang tak pernah sedikitpun hilang dari perasaannya.
"Shika, akhirnya aku akan kembali ke Konoha."
"Hn. Sampaikan salamku pada Oba-san."
"Besok pasti sudah tiba disana."
"Tidak. Itachi-nii harus mengurus perusahaan."
"Hn."
"Sampai bertemu besok."
Klik
Sasuke baru saja memutuskan sambungan telepon dengan sepupunya Shikamaru. Dia merasa sangat senang bisa kembali ke Konoha. Kembali ke tanah kelahirannya. Ia berharap Cherry-nya juga akan kembali kesana suatu hari nanti. Maka dari itu, dia memutuskan melanjutkan sekolah tingkat atasnya di KHS (Konoha High School).
.
.
.
.
.
Keesokan harinya kehebohan terjadi di KHS karena kedatangan seorang Uchiha Sasuke. Teriakan-teriakan para gadis terdengar mengiringi langkah pemuda berhelai raven tersebut. Senyum menawan tak pernah luput dari pandangan para gadis, sehingga membuat mereka terkesima, merona, dan bertingkah konyol. Author juga tidak tahan melihat senyuman maut Sasuke.
"Ya ampun Sasuke, pesonamu sungguh merepotkan," ucap Shikamaru yang berjalan di samping Sasuke. Mereka kini sedang berjalan di lorong sekolah, menuju ruang Kepala Sekolah.
"Kalau aku sekelas denganmu, aku bisa repot," lanjutnya.
"Heh Shika, begitukah sambutanmu pada sepupumu yang tampan ini?" ketus Sasuke.
"Iya, iya. Aku tahu kau tampan. Makanya para gadis langsung tersihir oleh pesonamu. Tapi jangan bangga dulu Sasuke, bukan hanya kau yang paling tampan di sekolah ini. Biar tukang tidurpun, aku juga masuk ke dalam jajaran pria tampan di sekolah ini tau," ucap Shikamaru bangga sambil menunjuk dirinya.
"Yah, aku percaya padamu," ucap Sasuke sambil tersenyum tipis. Yang lagi-lagi membuat para siswi KHS berteriak gaduh karena senyuman maut Sasuke.
Shikamaru menutup telinga kanannya menggunakan kelingking. Dia bisa tuli mendadak jika terus-terusan berada di samping Sasuke. Itulah yang dia pikirkan saat ini. Akhirnya mereka sampai di depan ruang Kepala Sekolah.
"Nah, sudah sampai," ucap Shikamaru.
"Aku ke kelas duluan yah." Shikamaru berbalik dan melambaikan tangannya pada Sasuke.
Sasuke membalas lambaian tangan Shikamaru dan mengucapkan terima kasih.
Tok ... Tok ... Tok
Sasuke mengetuk pintu ruang Kepala Sekolah dan menunggu sahutan dari dalam.
"Masuklah," ucap seorang pria dari dalam.
Sasuke menggeser pintu dan masuk ke dalam. Dia berjalan mendekat ke arah meja. Di hadapannya kini terlihat pria berhelai putih perak dengan gaya rambut yang melawan gravitasi. Dan juga masker hitam yang menutupi sebagian wajahnya.
'Aneh sekali,' batin Sasuke.
Sasuke membungkukkan badannya memberi hormat.
"Watashi wa Uchiha Sasuke desu," ucapnya memperkenalkan diri.
"Duduklah Sasuke," perintah Kakashi.
"Jadi kau dari Suna ya. Sepupu dari Nara Shikamaru," gumamnya seraya membaca data Sasuke.
"Iya." Hanya jawaban singkat yang Sasuke berikan.
"Baiklah, sekarang ikut aku. Aku akan mengantarmu ke kelas," ucap Kakashi seraya berdiri dari posisi duduknya.
Sasuke pun berdiri dan mengikuti Kakashi dari belakang. Mereka berjalan melewati lorong yang sama saat di antar Shikamaru tadi.
Saat tiba di ruang kelas X-A, Kakashi membuka pintu dan mempersilahkan Sasuke masuk.
"Kurenai, dia murid pindahan dari Suna. Tolong bantuannya," ucapnya pada guru cantik berhelai hitam dengan manik ruby, yang sedang mengajar.
"Tentu," ucap Kurenai sambil membungkukkan badan ke arah Kakashi.
Kakashi pun pergi meninggalkan kelas dan menuju ruang kerjanya.
"Nah, sekarang perkenalkan dirimu," ucap Kurenai setelah Kakashi pergi.
"Ha'i." Sasuke mengangguk dan mulai memperkenalkan diri.
"Watashi wa Sasuke desu."
"Aku berasal dari Suna."
"Douzo yoroshiku," ucapnya sambil membungkukkan badan.
"Sekarang kau boleh duduk di sebelah Naruto," ucap Kurenai sambil menunjuk bangku kosong di sebelah pemuda berambut kuning.
Bisik-bisik terdengar dari para gadis yang Sasuke lewati. Ia terus berjalan dengan senyum yang menghias wajahnya. Setelah Sasuke duduk, Kurenai kembali melanjutkan pelajarannya.
"Hei Sasuke, selamat datang di KHS dan salam kenal ya," sambut Naruto ramah dengan tangan yang terulur.
"Iya, terima kasih. Senang berkenalan denganmu." Sasuke menyambut uluran tangan Naruto dan tersenyum tipis.
Mereka pun memperhatikan Kurenai sensei yang sedang menjelaskan materi, setelah perkenalan singkat itu.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Seorang gadis dengan helai merah muda sebatas punggung terlihat sedang berbicara melalui telepon. Mata emeraldnya yang indah berbinar bahagia.
"Sungguh Nii-chan?"
"Jadi kau akan membawaku ke Konoha?"
"Aku tidak sabar kembali kesana."
"Tentu saja aku senang. Itu tempat kelahiranku. Aku menginginkan ini sejak lama."
"Ya. Aku janji."
"Baik, aku segera berkemas."
Klik
Sambungan telepon pun terputus. Gadis itu, segera masuk ke kamarnya dan mulai mengemas pakaiannya. Tak lupa figura yang ada di atas meja, ia masukkan ke dalam kopernya. Di figura itu terlihat foto ayah, ibu dan dirinya. Dia adalah Haruno Sakura.
"Akhirnya aku akan kembali ke Konoha. Tou-san, Kaa-san, aku akan sering mengunjungi kalian setibanya disana," gumamnya pelan.
Setelah itu ia merebahkan badannya di ranjang berukuran sedang. Ia mulai memejamkan matanya. Menikmati rintik hujan terakhir di Ame. Rintik hujan yang tak pernah henti membasahi bumi Ame, bahkan selalu mengguyur hatinya.
Tak lama matanya pun terpejam dan ia mulai terbuai ke alam mimpi.
.
.
.
Benang merah yang sudah terbentang pada dua insan yang lahir di hari yang sama, kini mulai merajut takdirnya. Tapi merajut takdir tak semudah merajut syal bukan? Benang merah itu akan merajut takdirnya perlahan demi perlahan.
.
.
.
.
.
"Ohayou Ba-san," ucap Sasuke begitu duduk di meja makan.
"Ohayou mo Sasu," balas Yoshino.
"Senang sekali rasanya kau kembali kerumah ini Sasuke. Ku kira Itachi juga akan tinggal disini lagi," lanjutnya.
"Nii-chan bilang dia akan kemari begitu urusan di Suna beres," sahut Sasuke.
"Apa Ji-san masih belum kembali?" tanyanya kemudian.
"Dia baru kembali besok. Aku sudah bilang kau bersekolah di sini. Dia sangat senang mendengarnya," ucap Yoshino seraya tersenyum.
"Sepertinya aku akan jadi anak terlantar lagi," ucap Shikamaru.
"Shikamaru, kau ini bicara apa? Aku tidak pernah membeda-bedakan kalian." Yoshino menjewer telinga Shikamaru.
"Adu-du-duh sakit Kaa-san. Aku kan hanya bercanda," gerutu Shikamaru sambil memegang tangan ibunya yang ada di telinga Shikamaru.
"Siapa suruh bercandamu kelewatan seperti itu," omel Yoshino dan melepaskan jewerannya pada telinga Shikamaru.
Shikamaru memegang telinganya yang merah dan terasa panas. Ia mengusap-ngusap telinganya dan berkata dalam hati, 'Apa semua wanita segalak Kaa-san ya, aku jadi takut membayangkan kehidupan berumah tangga dengan wanita galak seperti Kaa-san.'
Sasuke tertawa melihat tingkah Yoshino dan Shikamaru yang tak pernah berubah dari dulu. Inilah suasana yang sangat dirindukannya. Berada di tengah keluarga hangat kediaman Nara.
"Sudah cepat habiskan makanan kalian berdua. Kalian bisa terlambat ke sekolah nanti." Ucapan Yoshino membuyarkan pemikiran-pemikiran yang sedang menghinggapi Sasuke dan Shikamaru.
Mereka bergegas menghabiskan sarapannya dan pamit untuk berangkat.
"Kami berangkat Kaa-san/Ba-san," ucap mereka bersamaan.
"Hati-hati," teriak Yoshino, karena jarak mereka sudah lumayan jauh.
Sasuke dan Shikamaru berangkat dengan menggunakan mobil sport Shikamaru.
.
.
.
.
.
Di bandara Konoha seorang gadis berhelai soft pink terlihat keluar dari dalam bandara. Dia langsung melambai ke arah seseorang yang telah menunggunya.
"Nii-chan," ucapnya sambil berteriak dan menghampiri seseorang yang telah berdiri di depan mobil sport berwarna hitam.
Orang yang dipanggil Nii-chan itu hanya melambai mengangkat tangannya. Begitu sampai di hadapan orang itu, Sakura langsung memeluknya.
"Aku merindukanmu Nii-chan," ucapnya begitu ada di pelukan hangat pria bertubuh tinggi.
"Aku juga merindukanmu Sakura. Maaf aku tak bisa menjemputmu di Ame. Terlalu banyak hal yang harus aku kerjakan," ucapnya pada Sakura.
"Tidak apa. Lagipula aku tak mau membuat Nii-chan repot. Aku sudah terlalu sering membebanimu." Sakura menengadahkan kepalanya menatap kakaknya.
"Jangan bicara seperti itu terus Sakura. Ini sudah menjadi kewajibanku. Sekarang ayo kita berangkat," ucapnya sambil melepaskan pelukannya.
Pria itu meletakkan koper Sakura di bagasi belakang, kemudian memposisikan diri duduk di depan kemudi. Sakura sudah duduk manis disebelahnya.
Mobil pun melaju dengan kecepatan normal meninggalkan bandara Konoha. Takdir telah menanti Sakura di ujung jalan sana.
.
.
.
.
.
Tepat di lampu merah sebelum KHS, Sasuke yang sedang melihat ke sisi kiri jalan, melihat gadis itu. Gadis yang ciri-cirinya mirip dengan Cherry masa kecilnya. Helaian soft pink yang berkibar di tiup angin, iris emerald jernih yang meneduhkan, bahkan pipi chubbynya masih terlihat sama seperti sepuluh tahun yang lalu. Sasuke yakin itu gadis yang sama dengan bocah sepuluh tahun yang lalu.
Saat mereka berpapasan di jalan yang berlawanan, Sasuke merasakan aroma Cherry dari tubuh gadis itu. Aroma yang sama dengan sepuluh tahun yang lalu. Secara refleks, Sasuke langsung memanggil gadis itu dengan nama Caku. Nama gadis di masa kecilnya.
"Caku," ucapnya.
Hei, ingat! Ketika kecil Sakura tidak bisa menyebut huruf "S". Dia menyebut "S" dengan huruf "C" dan memperkenalkan dirinya dengan nama Caku. Dan tentu saja Sasuke yang masih kecil tak menyadarinya. Bahkan kini pun ia tak menyadarinya. Karena ia memang belum tau nama aslinya adalah Sakura. Dia hanya tau "Caku" dan panggilan spesial untuknya adalah "Cherry".
Sakura langsung menoleh saat merasa, seseorang memanggil namanya. Tepatnya nama panggilannya sewaktu kecil. Dan nama itu, hanya satu orang yang tau, yaitu Sasuke. Anak yang telah mengisi hatinya sejak kecil hingga kini.
Ia menoleh ke sumber suara. Tapi ia tak melihat siapapun. Lebih tepatnya mobil Sasuke telah jauh dari pandangan Sakura, karena Shikamaru tiba-tiba menaikkan tempo laju mobilnya.
"Ada apa Sakura?" tanya pria di sebelahnya.
"Tidak. Tidak ada apa-apa," jawabnya cepat.
'Mungkin hanya perasaanku saja,' batinnya.
Mobil sport hitam itupun langsung menuju kediaman yang akan Sakura tempati.
.
.
.
.
.
Keesokannya KHS kembali ramai dengan kedatangan murid baru di sekolah ternama itu. Hanya saja, kali ini bukan teriakan para gadis yang memekakkan telinga, melainkan bisik-bisik dari siswa KHS.
"Wah, cantik ya."
"Beruntung sekali yang bisa mendapatkannya."
"Jangan macam-macam dengannya, kudengar dia masih kerabat dari orang yang paling berpengaruh di sekolah ini."
Sakura hanya cuek menanggapi bisik-bisik yang dilontarkan untuknya. Dia terus berjalan menuju ruang X-A. Saat di jalan dia berpapasan dengan Anko sensei yang kebetulan mengajar di kelas yang sama dengan yang akan Sakura datangi. Sakura pun mengikuti Anko dari belakang.
Anko membuka pintu dan memasuki kelas di ikuti oleh Sakura di belakangnya.
"Anak-anak kita kedatangan murid baru lagi. Sekarang perkenalkan dirimu!" Perintah Anko.
"Ohayou minna-san."
"Watashi wa Sakura desu."
"Douzo yoroshiku," ucapnya sambil memperkenalkan diri.
"Hanya itu?" tanya Anko.
"Iya sensei," ucap Sakura.
"Ya sudah, kau boleh duduk di sebelah Karin," ucapnya sambil menunjuk bangku kosong di sebelah Karin.
Anko pun memulai pelajarannya.
"Shika, aku melihatnya kemarin. Dia gadis yang sama dengan anak sepuluh tahun yang lalu kan?" bisik Sasuke pada Shikamaru yang duduk di belakangnya.
"Hm, aku juga merasa begitu. Kalau melihat ciri-ciri fisiknya yang langka, tidak salah lagi. Itu memang dia. Coba saja kau tegur dia saat istirahat nanti," saran Shikamaru.
"Hn," jawab Sasuke singkat.
'Jadi namamu Sakura ya,' batinnya. Ia pun mengulum sebuah senyuman di wajahnya.
Mereka pun kembali memperhatikan pelajaran yang diberikan oleh Anko sensei.
.
.
.
.
.
Saat bel istirahat berbunyi, seperti saran Shikamaru, Sasuke menghampiri Sakura. Dia berjalan mendekati meja Sakura dan menghela nafas sejenak, untuk menghilangkan rasa gugup yang tiba-tiba menghinggapinya.
"Sakura," panggilnya pada gadis berhelai soft pink yang masih setia duduk di tempatnya berada.
"Ya," ucap Sakura datar.
"Sakura, apa kau mengingatku?" tanya Sasuke sedikit gugup.
"Maaf, apa kita pernah bertemu?" ucap Sakura sarkastik.
"Aku Sasuke. Aku memanggilmu Caku sepuluh tahun yang lalu. Karena seperti itu kau menyebut namamu." Sasuke berusaha memberi penjelasan.
Sakura tersentak kaget, tapi tak ia tunjukkan wajah terkejutnya. Karena dengan cepat ia bisa menguasai dirinya dan memasang wajah datar.
Sakura pun bangkit dari duduknya dan berlalu melewati Sasuke begitu saja, sambil berkata, "Maaf, aku tidak mengenalmu."
Sasuke hanya mematung mendengar penuturan Sakura.
Begitu Sakura keluar, Shikamaru yang sejak tadi berada di luar kelas langsung menghampiri Sasuke.
"Bagaimana Sasu?" tanya Shikamaru.
"Dia tidak mengenaliku," jawab Sasuke lirih.
"Apa mungkin aku salah orang?" tanyanya balik pada Shikamaru.
Shikamaru menggendikkan bahunya dan berkata, "Entahlah."
"Pelan-pelan saja Sasuke. Kita kumpulkan informasi sebanyak-banyaknya tentang gadis itu. Mungkin saja dia memang bukan orang yang kau cari, atau dia memang lupa akan masa kecilnya. Biar bagaimanapun, itu sudah 10 tahun yang lalu. Tak ada yang menjamin, seseorang masih mengingat kenangan 10 tahun silam." Shikamaru menepuk pundak Sasuke dan mengajaknya ke kantin.
"Sekarang, ayo kita makan!" Dia mengajak Sasuke keluar dari kelas dan menuju kantin.
.
.
.
.
.
Kehidupan terus berputar layaknya roda yang terkadang berada di atas dan di bawah. Hati pun kadang berubah tanpa sebab yang pasti. Benang merah tak selamanya terulur dengan baik. Lihatlah kini, bagaimana kusutnya benang itu.
.
.
.
TBC
Bales Review
hesty47eclair : Makasih ya selalu kasih semangat ke aku. Makasih juga motivasinya ^_^ Gomen telat update.
NikeLagi : Wah makasih ya mau menunggu dan menanti fic abal ini... ^_^
hanazono yuri : Ini udah di lanjut ^_^ maaf ga bisa kilat :v
Hezlin Cherry : hesty-chan, makasih udah mampir ya ^_^ ... oiya yang ku publish disini beda sama yang ku publish di fb. Ada sedikit pengeditan dan tambahan :-D
desypramitha26 : makasih udah bilang fic ini cukup menarik :-) #meskipun rasanya fic ini biasa aja ^^
Kirei Apple : Iya, emang banyak yg harus dibenahi. Maklum ini fic pertamaku. Arigatou senpai, dah mau mampir ^^
anita azahra : Gomen ya anita-chan, aru di lanjut. Selamat membaca lanjutannya
Ne, minna...
Makasih ya untuk kalian semua yang mau menyempatkan diri membaca fic ini dan me-review. Saya sangat berterima kasih atas apresiasi yang kalian berikan. Maaf untuk keterlambatan update-nya. Karena saya sedikit sibuk di duta. Saya ga bisa update cepet-cepet. Semoga kalian ga kecewa dan bersedia menunggu.
Saya ucapkan juga terima kasih bagi para silent reader yang sudah menyempatkan membaca fic ini, meski tidak me-review. Karena saya mah apa atuh, tanpa reader. Ga akan ada Author tanpa reader pastinya.
Sekali lagi saya ucapkan terima kasih dan maaf atas keterlambatan updatenya. Salam kenal ya semuanya...
With Love,
Saita
