Summary : Senna lari dari rumah karena tidak ingin dijodohkan dengan putra kurosaki. Karena itu, Rukia harus menggantikan Senna….R&R please…^^
Author: Juzie chan
Disclaimer : Om Kubo lah...Author cuma minjam tokoh om Kubo hingga batas waktu yang terhingga (hingga bleach tidak ada lg di dunia ini...huhuhu)
Pairing : IchiRuki, slight TenRuki (ini benar kagak sih?)
Warning! : banyak Typo, AU, OOC, EYD tidak sesuai, Gaje, Jayus, Abal, penuh kenistaan, membosankan, dan segala kekurangan-kekurangan yang lainnya.
Oh, ya...
Salam kenal semua ya...Juzie adalah author baru belajardan tidak berpengalaman di dunia fanfiction. mohon dimaklumin ya sodara-sodara jika story yang Juzie buat sangat sangat tidak mengundang selera tapi kalau ada yang R&R Juzie akan sangat berterima kasih...
Mohon bimbingannya...
*Tengkyu ya yang udah baca and review di Chapter sebelumnya...Author sama sekali ga nyangka kalau fic ini bakal ada yang baca...^^
CH 17
Artist from Senkaimon
Bagaimana kabar Rukia Kuchiki sekarang?
Rukia Kuchiki kini berada di Senkaimon, mencoba menjadi seorang seniman. Kota Senkaimon memang terkenal sebagai kota yang melahirkan banyak para seniman, dan Rukia yakin dengan kemampuannya dan telah banyak belajar ia mencoba mencari peruntungan dengan menjadi seorang artis. Bukan artis yang dibayangkan orang-orang, karena Rukia memiliki hobi menggambar ia pun memutuskan untuk mencoba menjadi seorang pelukis.
Rukia kini duduk di pinggir jalan, menghadap kanvasnya. Tangan mungilnya yang memegang kuas terlihat sangat lihai mengulasi warna-warna di kanvasnya bak seseorang pelukis yang telah mahir. Sesekali mata violetnya yang indah melirik objek yang ia lukis, poni panjangnya yang sebagian menjuntai di wajahnya sama sekali tidak mengganggu penglihatannya. Rambut hitamnya telah dipotong pendek seleher rupanya.
"Sudah selesai!" serunya riang gembira.
"Oh, ya? Cepat perlihatkan!" ujar gadis mungil berambut kuning dan berkuncir dua tidak sabaran itu.
"Hehehehehe…" Rukia lalu membalik kanvasnya, memperlihatkan hasil karyanya yang….ini tidak perlu diceritakan. "Akan lebih cantik jika ditambahkan bingkai…" ucap Rukia dengan polosnya.
Gadis yang menjadi objek lukisan Rukia bersama kekasihnya itu cengo melihat lukisan Rukia. Wajah gadis yang tadinya terlihat bersemangat ingin segera melihat lukisan dirinya berubah mendadak ketika melihat hasil lukisan tersebut.
"…kau…tidak bercanda kan melukisku seperti itu…" wajah gadis itu menjadi merah padam, kekasihnya yang berada di sampingnya langsung merinding melihat reaksi gadisnya.
Gadis kecil itu lalu berdiri sambil menggeram hingga kursi yang tadi ia duduki terjauh. "KAU!" teriaknya marah, "BISA-BISANYA KAU MENYEBUT DIRIMU PELUKIS PADAHAL KAU TIDAK BISA MELUKIS SAMA SEKALI?! teriaknya sambil menunjuk-nunjuk wajah Rukia.
Rukia hanya bisa berbengong-bengong ria melihat reaksi gadis itu.
"Hiyori…tenanglah…" kata kekasih gadis bernama Hiyori itu sambil memegang bahu Hiyori untuk menenangkan gadis itu, "mungkin…gadis itu sedang sakit…makanya lukisannya jadi begitu…"
"Jangan membela amatiran itu!" celetuk Hiyori, "Lukisannya itu sangat jelek! Bahkan terjelek yang pernah ada! Huh, kenapa di Senkaimon bisa ada pelukis nista seperti dia! Apa mungkin kualitas seniman di sini sudah mengalami kemunduran!"
"Lukisanku tidak jelek koq…" gumam Rukia dengan polosnya.
"APA KAU BILANG?!" teriak Hiyori, "kau tidak menyadari kalau lukisanmu itu jelek?! Hei, kuberitahu ya, lukisanmu itu sangat sangat sangat sangat… bahkan super duper jelek, lukisan anak SD pun jauh lebih baik dari lukisan nistamu itu!"
"Sudahlah Hiyori…lebih baik kita pergi saja dari sini daripada nanti kau terkena stroke lagi…" kata kekasih Hiyori.
"Iya, kau benar, Shinji," kata Hiyori dengan sisa-sisa kemarahannya. "Kita pergi saja dari si-"
"Eh…kalian mau kemana?" cegat Rukia sebelum kedua pasangan kekasih itu beranjak.
"TENTU SAJA PULANG!" teriak Hiyori emosi tepat di depan Rukia.
"Iya…boleh-boleh saja kalian pulang tapi….bayar dulu atu neng!"
"APA?!" Hiyori semakin emosi. Ia hendak ingin lebih mencaci maki Rukia tapi kekasihnya menahannya.
"Sudahlah Hiyori…" kata Shinji menarik tangan Hiyoti, "biar aku saja yang bayar, kasihan juga gadis itu, dia juga pasti pakai modal untuk membeli kanvas dan sebagainya…"
"Yup, begitulah," ujar Rukia.
"Hehehehe…" Shinji tersenyum menampakkan giginya yang rata ke arah Rukia, "jadi…berapa biayanya, Nona?" tanyanya.
"Cuma lima ratus ribu…"
"Hah? mahal sekali untuk lukisan yang jelek!" celutuk Hiyori.
"Tidak apa-apa…" Shinji menenangkan Hiyori. Ia lalu mengambil dompetnya dan mengeluarkan uang merah sebanyak lima lembar. "Hehehe…lima ratus ribu kan?" katanya sembari menyerahkan uang itu ke Rukia. "Hehehehe…hehehehe…wah, ternyata kalau dilihat-lihat kau cantik juga ya, Nona…"
BLETAKK
"Adoooooohh," Shinji meringis kesakitan akibat jitakan Hiyori tepat di kepalanya.
"Berani-beraninya kau menggoda gadis lain di depanku!" teriak Hiyori marah.
"…aku cuma memuji sedikit saja…"
"Tapi kau sudah tidak mempedulikan perasaanku, kau mau minta diputuskan ya?"
"Ja-jangan!"
"Hei…kenapa kalian jadi bertengkar?" Rukia hendak melerai sepasang kekasih yang sedang bertengkar itu tapi malah ditendang oleh Hiyori hingga Rukia terlempar.
"No-Nona…kau tidak apa-apa?" tanya Shinji ke arah Rukia.
"SHINJI!" teriak Hiyori, "kau lebih memperdulikan gadis sialan itu dibanding aku?!"
"Tidak seperti itu…tapi…tadi kau benar-benar telalu kasar.."
"KAU BILANG AKU KASAR?!" Hiyori semakin berapi-api, "kau benar-benar minta diputuskan, kan?!"
Shinji menggeleng-geleng frustasi. "Tidak!"
"AKU…tidak akan memaafkanmu, Shinji!"
"Kumohon kalian pergilah dari si-!"
BUKK.
Hiyori langsung meninju hidung Rukia hingga darah mengalir deras dari lubang hidung Rukia.
"Jangan ikut campur!" bentak Hiyori ke arah Rukia. Rukia hanya bisa berdiri diam sambil menadah darah yang keluar deras dari hidungnya dengan telapak tangannya.
"Hiyori…kau sudah melakukan kekerasan sama gadis itu, kita pergi saja dulu dari sini sebelum kita dikira preman…" Shinji lalu menarik Hiyori dan cepat-cepat pergi dari sana.
Rukia mendesah lega setelah sepasang sejoli tersebut pergi. Rukia memungut kanvas lalu mengamati hasil karyanya, mencari tahu apa ada yang salah dari lukisannya.
"Tidak jelek sama sekali koq…ah, mereka saja yang tidak mengerti seni…" gumam Rukia. ia lalu menatap uang yang ada di genggamannya, "paling tidak…untuk hari ini aku dapat penghasilan," katanya riang gembira lalu memasukkan uangnya ke dalam saku celananya.
Ia lalu mengambil semua perkakasnya. Mungkin Rukia akan mencari tempat lain untuk melukis, mengingat tempat barusan sudah terjadi ribut-ribut oleh tingkah sepasang kekasih berambut kuning itu bahkan menjadi tontonan aksi kekerasan.
Saaaaatu jam saja…bercinta denganmu…saaaaaatu jam saja bercumbu denganmu…~
Baru saja Rukia hendak melangkah, ponselnya berbunyi. Jangan pikir ponsel Rukia masih ponsel jadul yang pernah dibelikan Ichigo tapi kini ponsel Rukia adalah ponsel Android, walaupun yang tipe murahan.
Rukia segera meraba-raba saku celananya, agak susah ia mengambil ponselnya karena ia sementara memegang semua perkakas melukisnya. Ia memeluk semua perkakasnya dengan satu tangan lalu mengambil ponselnya. Dia menatap nomor yang sedang memanggilnya, nomor asing yang tidak tersave rupanya.
"Halo…" sapa Rukia.
"Halo Kuchiki-san…" balas orang yang menelfon Rukia itu dengan riang gembira, suara seorang pria dewasa.
Rukia menggeram. "Kau…kau mengganti nomormu lagi?! Pantas saja kau jadi susah dihubungi!"
"Hehehe…tenang Kuchiki-san," kata suara pria itu cengengesan. "Yang penting kan sekarang aku menghubungimu…"
"Lalu…untuk apa kau menghubungiku? Kau tidak hanya sekedar memberitahuku bahwa sekarang kau pakai nomor baru kan?"
"Tentu saja tidak donk, Kuchiki-san…" sahut orang itu, "hehehehe…aku menelfonmu karena ingin menanyakan kabarmu…"
Rukia memutar kesal bola matanya. "kalau kau menelfonku hanya untuk menanyakan kabarku dan tidak memberiku pekerjaan lebih baik tidak usah!" kata Rukia, "aku tutup ya…"
"Jangan-jangan!" seru pria itu cepat-cepat saat Rukia hendak mematikan ponselnya. "kau mau pekerjaan kan?" tanyanya. Rukia lalu cepat-cepat menempelkan kembali ponselnya ke telinganya.
"Kau benar-benar ingin memberikanku pekerjaan?" tanya Rukia serius penuh harap.
"Hehehehe…iya donk…" sahut pria itu cengengesan, "dan ini pekerjaan yang sangat bagus, sangat pas untukmu Kuchiki-san…"
"Benarkah?" Rukia terlihat sangat bersemangat.
"Yup, sekarang juga kau datang ke rumahku, biar aku bisa jelaskan bagaimana pekerjaan itu."
Setelah pembicaraan tersebut Rukia mematikan ponselnya dan melempar semua perkakas melukisnya ke sembarang tempat. Ia lalu segera pergi menuju rumah si pria yang menelfonnya tadi.
oOo
Langit sudah mulai berwarna jingga, nampaknya matahari tidak lama lagi akan tenggelam. Rukia kini memasuki halaman rumah sederhana bergaya tradisonal jepang. Nampak seorang gadis kecil bertampang polos dan berambut hitam dikuncir dua sedang memperhatikan seorang anak laki-laki bertampang beringas dan berambut merah yang sedang asyik menembak burung-burung kecil dengan ketapel.
"Yesssss, kena!" seru anak laki-laki beringas itu ketika berhasil menjatuhkan sasarannya.
"Ah….jahat sekali," kata gadis kecil itu.
"Peduli amat!" anak laki-laki bertampang beringas itu lalu lari untuk melihat hasil tembakannya.
Rukia lalu mendatangi gadis kecil berambut hitam itu. "Ururu…" panggil Rukia. gadis kecil bernama Ururu itu menoleh ke arah Rukia.
"Kuchiki-san…" sahut Ururu, "tumben Kuchiki-san datang ke sini lagi…"
"Urahara-dono yang menelfonku untuk datang ke sini…oh ya, apa dia ada di dalam?" tanya Rukia.
"Ada…Kuchiki-san langsung masuk saja…"
Rukia pun langsung masuk ke dalam tanpa sungkang lagi karena ia sudah terbiasa dan dekat dengan pemilik rumah itu.
/
Di dalam rumah tradisional jepang yang sederhana, duduk seorang pria berambut kuning, mengenakan luaran kimono hijau dengan topi bulat bermotif blaster hijau putih yang dapat dijadikan wadah pop-corn.
"Aduh…kenapa sore-sore begini suhu masih terasa panas ya…" keluhnya bergumam sendirian sambil mengipas-kipas dirinya dengan kipas. "Tessai-san!" panggilnya kemudian ketika melihat teman serumahnya sekaligus asistennya yang bertubuh besar, berkacamata persegi yang tebal, berambut sedikit yang dikepang tiga dan berkulit kecoklatan.
"Ya…Urahara-dono…" sahut pria bernama Tessai itu.
"Tolong kau buatkan aku es cerut manis ya…aku masih kepanasan…" .
"Kalau begitu…tunggu sebentar." Tessai lalu menuju dapur.
"Hhhhhh….kenapa panas begini ya…apa penghuni rumah ini terlalu banyak dosa?" keluhnya sendiri.
SREEEEEEEET
Seseorang menggeser pintu geser di ruangan Urahara. Urahara lalu menoleh ke belakang untuk melihat siapa tamu yang mengunjunginya.
"Eh, Kuchiki-san!" serunya riang gembira ketika melihat Rukia yang kini memasuki ruangan. "Hehehehehe…akhirnya kau datang juga…aku sudah daritadi menunggumu."
"Kalau begitu….cepat jelaskan apa pekerjaan itu!"
oOo
Rukia's POV
Aku duduk dihadapan Urahara-dono, mendengarkan penjelasannya mengenai pekerjaan yang ia tawarkan padaku. Setelah Urahara-dono menjelaskan secara mendetail ia lalu melahap ice cerut buatan Tessai-san.
"Ayo Rukia…kenapa kau tidak mencoba ice cerut buatan Tessai? Ini sangat enak lho…" Urahara menawarkan.
Aku menatap serius Urahara, "…jadi, aku belum tentu diterima pekerjaan itu…berarti aku cuma buang-buang waktu ke sini!"
"Eh eh eh…jangan begitu Kuchiki-san…kau memang belum tentu diterima tapi menurutku…kau punya peluang yang besar untuk diterima," Urahara berusaha meyakinkanku.
Aku heran saja melihat Urahara bisa bicara seperti itu. "Kenapa kau begitu yakin?"
"Ya harus yakin donk!" serunya. "Mereka sudah banyak menolak orang-orang yang berminat dengan pekerjaan itu karena mereka benar-benar menginginkan orang yang benar-benar bisa dan memiliki kepribadian yang menarik…aku yakin kau pasti bisa, Kuchiki-san! Apalagi kalau mereka tahu kau dari Senkaimon…mereka pasti menerimaku," Urahara-dono kembali meyakinkanku.
Sebenarnya aku tidak begitu tertarik dengan tawarannya karena sebenarnya minatku hanya di seni lukis dan lagipula lokasi pekerjaan itu….
"…tapi…lokasinya di Karakura kan?" aku merenung sebentar, untuk saat ini aku memang membutuhkan pekerjaan tapi kalau tempatnya di Karakura… "kalau begitu…aku harus berpikir dulu sebelum memutuskan."
"Eits, keputusannya harus hari ini Kuchiki-san!"
"Hah?" aku terperangah, "apakah memang terburu-buru begitu?"
"Hehehehe…bukan masalah terburu-burunya atau apa Kuchiki-san…" Urahara lalu mengeluarkan lima lembar tiket pesawat dan memperlihatkannya padaku, "hanya saja…aku sudah membeli tiket pesawat ke Karakura untuk besok subuh…ahahahaha."
"Kau…" aku menggeram menatapnya, "aku kan belum bilang kalau setuju!"
"Ck…setuju sajalah Kuchiki-san…" kata Urahara sambil mengibaskan kipasnya ke arahku, "ini tawaran yang menarik…lagian…uang yang nantinya kau terima juga sangat lumayan…"
Aku kembali merenung, memikirkan tawaran pekerjaan itu. Saat ini aku memang butuh uang karena sangat sulit mencari pekerjaan tanpa ijazah, apalagi sepertinya honor yang nanti aku terima bisa dibilang lumayan.
"Hhhhh…kenapa mesti di Karakura?" desahku.
"Tidak apa-apa Kuchiki-san…setelah pekerjaan itu selesai kau bisa langsung pulang ke Senkaimon…" kata Urahara-dono, "oh ya, aku sudah menulis apa-apa yang akan kita datangi setelah sampai di sana, nantinya kita bisa belanja sepuas-puasnya….buahahahaha…"
"Oh….ternyata alasan sebenarnya kau mau berwisata ya…" sinisku.
"Hehehehehe…tidak apa-apa kan sambil cari uang sekalian Kuchiki-san, sekali-kali kita keluar dari Senkaimon untuk jalan-jalan, ku dengar udara di Karakura sedang sejuk-sejuknya makanya waktu mendengar ada tawaran itu aku jadi semangat…ahahahaha…"
Di Karakura…apa aku harus kembali ke sana? Jujur aku belum siap untuk ke sana, walaupun sebenarnya aku ingin sekali menemui Nii-sama. Lalu, bagaimana nanti kalau aku bertemu Ichigo? semoga saja tidak…
/
Subuh-subuh, aku, Urahara-dono, Tessai-san, Jinta dan Ururu sudah berada di bandara. Aku kaget melihat barang bawaan Urahara-dono yang di dorong oleh Ururu dan Jinta, apa itu tidak terlalu banyak? Sepertinya bawaan bisa muat satu lemari besar. Dia mau pindah rumah kah atau apa? Aku saja hanya membawa mini travel bag karena baju-bajuku memang tidak banyak. Memang sih, itu sudah termasuk barang-barang Tessai-san, Ururu dan Jinta tapi…apa itu tidak terlalu banyak?
"Ohohohoho…sekarang kita berangkat!" seru Urahara dengan semangatnya sebelum kami masuk dalam pesawat.
"Ehehehehehehe…ehehehehehe…"
Aku lalu menatap sinis Urahara-dono. "Kenapa daritadi kamu nyengir-nyengir terus?" tanyaku.
"Ada deh…" sahut Urahara-dono.
Tessai-san lalu membisikku sesuatu. "Sebenarnya…begini Kuchiki-san, ini pertama kalinya Urahara-dono naik pesawat…biasanya dia hanya naik kapal laut…"
Aku sweatdrop mendengar ucapan Tessai-san. Astaga…pantasan Urahara-dono bela-belain agar aku setuju dengan tawaran pekerjaan itu hingga terburu-buru membeli tiket. Ternyata dia ingin sekali naik pesawat rupanya….ckckck..
Akhirnya kami sampai juga di Karakura. Aku tidak tahu mengapa perasaanku jadi…senang? Apa karena aku sudah lama merindukan kota ini. Ummm mungkin saja walaupun sebenarnya aku belum ingin menginjakkan kaki di sini. Tapi…aku sendiri tidak percaya, kemarin aku masih duduk di pinggir jalan untuk menunggu orang-orang meminta dilukiskan dan tidak sedetikpun aku berpikir untuk berada di Karakura dan kini aku berada di Karakura. Apakah ini takdirmu, Tuhan?
"WELCOME TO KARAKURA TOWN!" seru Urahara-dono berlebihan sambil mengepalkan tangannya ke atas hingga semua yang ada di dalam bandara memandanginya.
Aku berpura-pura tidak mengenalnya saja dan kurasa Tessai-san, Jinta dan Ururu juga berpikiran sama denganku.
Tidak terasa sudah seminggu lebih kami berada di Karakura. Daun-daun berwarna jingga dan kekuningan berguguran, rupanya di Karakura sedang musim gugur. Aku senang sekarang bisa berada di Karakura karena sebelumnya aku belum pernah melihat musin gugur di Karakura walaupun tidak berada di Mansion Kuchiki karena aku yakin musim gugur di mansion pasti lebih cantik.
Seharian aku hanya berada di dalam rumah bergaya tradional jepang yang sederhana yang disewa oleh Urahara-dono hingga awal musim dingin. Urahara-dono, Tessai-san, Ururu dan Jinta tiap hari keluar untuk jalan-jalan mengelilingi kota, dengan kata lain akulah yang menjaga rumah.
Mengenai pekerjaan yang akan aku jalani, Urahara-dono sangat bersemangat hingga ia membelikanku banyak dress yang indah, bedak dan perawatan untuk wanita. Entah mengapa aku malah merasa kalau Urahara-dono seperti ingin menjualku. Aku juga bingung bagaimana nanti aku akan membawa semua itu ke Senkaimon nanti mengingat travel bag-ku cuma berukuran kecil.
/
"Jadi…aku diterima?" tanyaku setelah mendengar cerita Urahara-dono sehubungan dengan pekerjaanku nanti.
"Hehehehe…sebenarnya awalnya mereka ingin menolakmu karena kau tidak mempunyai pengalaman tapi begitu aku bilang kau salah satu seniman asal Senkaimon, mereka jadi memperhitungkan kembali lalu menerimamu…ahahahaha," sahut Urahara-dono panjang lebar dan diakhiri dengan tawanya yang menggelegar.
"Jadi, kapan aku menandatangani kontraknya?" tanyaku bersemangat.
"Jangan terburu-buru Kuchiki-san…" kata Urahara-dono, "kau baru diterima secara sepihak…"
Aku menatap bingung Urahara-dono. "bukannya kau bilang kalau mereka sudah menerimaku? Lalu apa lagi?"
"Kau harus menemui seseorang dulu untuk meminta persetujuannya…karena dialah yang menentukan kau diterima atau tidak," sahut Urahara-dono lalu menyerumput teh dalam cangkir yang terbuat dari tanah liat.
"Hhhhh…kenapa jadi bribet begitu ya?" desahku bergumam. Aku jadi tidak sabaran untuk menjalani pekerjaan itu. "Jadi, kapan aku akan bertemu dengan orang penting itu?" tanyaku.
Urahara-dono malah menjawab pertanyaanku dengan cengiran. Tiba-tiba saja di tangannya sudah memegang kimono putih bercorak kembang berwarna pink kemudian menyerahkannya padaku.
"Hehehehe…cepatlah ganti baju karena hari ini kita akan menemuinya…"
Kini aku dan Urahara-dono berada di kediaman keluarga Zangetsu, berada di suatu ruangan yang tenang bersama dua orang pria berkimono hitam yang tak kukenal. Untuk apa? Untuk menghadiri upacara minum teh tradisional rupanya. Sudah lama sekali aku tidak ikut upacara tradisional seperti ini, ku kenang-kenang…terakhir kali waktu di acara pertunanganku. Aku jadi ingat waktu itu, pertama kali aku bertemu dengan Ichigo, waktu itu Ichigo terus mengkhayal hingga ia menumpahkan teh dan berteriak heboh. Aish, kenapa aku malah mengingat kejadian itu?
Sreeeeeeeeeet
Seseorang menggeser pintu dan nampak dua pria berkimono biru gelap, yang satunya mungkin seumuran atau lebih tua sedikit dari Urahara-dono, memakai kacamata bulat kecil berwarna hitam dan rambutnya dikepang banyak, dan yang satunya seorang pria yang masih sangat muda…ah dia masih remaja!
Pria yang bisa kusebut om-om itu duduk di samping Urahara-dono sementara pria yang masih berusia remaja itu…Astaga, ternyata dia yang akan memperagakan penyajian teh-nya! Benarkah anak semuda itu bisa? Karena sepengetahuanku butuh belajar yang lumayan lama untuk bisa menyajikan teh di upacara dan biasanya itu dilakukan oleh seorang yang sudah sangat mahir.
Aku terpesona melihat anak itu memperagakan teknik membuat teh, melihat cara ia memperagakannya…terlihat jelas ia memiliki kepribadian yang menawan. Orang tuanya pasti mendidik anak itu dengan sangat baik tapi, dimana ya orang tua anak itu?
Setelah anak itu memperagakan penyajian teh, kami dipersilahkan untuk menikmati teh hijau dan kue manis. Walaupun pahit, aku dan Urahara-dono tetap saja bisa menikmatinya karena kami berdua hidup dalam latar belakang yang tradisional.
Kedua pria berkimono hitam langsung pulang setelah upacara minum teh selesai. Sedangkan kami berdua tetap berada di dalam ruangan itu.
"Apakah dia yang bernama Kuchiki?" tanya om-om berkacamata hitam bulat kecil itu sambil mengamatiku dari atas hingga bawah.
"Oh, ya!" sahut Urahara-dono berseru, "Inilah Kuchiki-san kami yang sangat berharga…ahahahaha"
Aku menatap aneh Urahara-dono. Tawanya itu benar-benar sangat menggangguku.
"Kuchiki-san," panggil Urahara-dono, "perkenalkan, ini Don Kanonji, dia adalah seorang manajer dari artis yang sangat terkenal dan yang ini…" aku menatap pria muda yang hendak Urahara-dono perkenalkan, "dia adalah partnermu nanti setelah kau diterima, namanya Tenza Zangetsu."
Aku terkejut bahwa orang yang akan menjadi partnerku itu adalah seorang pria yang masih sangat muda, dia anak yang menyajikan teh tadi. Apa ini tidak salah?
"Kuchiki…" pria bernama Don Kanonji itu memanggilku, "apa kau dari keluarga bangsawan?" tanyanya.
"Hahahaha…itu tidak mungkin," Urahara-dono yang menyahut, "namanya saja yang kebetulan sama…Kuchiki kami ini seniman yang berasal dari Senkaimon sedangkan Kuchiki yang bangsawan itu berasal dari Soul Society jadi…mereka tidak ada hubungan sama sekali."
Aku lega Urahara-dono menjawab demikian. Untung saja aku tidak terkenal sebagai anggota keluarga Kuchiki.
"Ummmm…begitu ya," gumam Don Kannonji, "Jadi…berapa umurmu sekarang, Kuchiki-san?"
Aku bingung mau menjawab apa melihat usia anak yang akan menjadi partnerku, dilihat dari sudut manapun usianya masih belasan. Apa kalau aku mengatakan usiaku yang sebenarnya mereka akan menolakku? Aduh…aku harus menjawab apa?
"Kuchiki…" Don Kannonji menegurku.
"Enam belas tahun!" seru Urahara-dono sebelum aku membuka mulut. Aku cengo menatap Urahara. Aku berusia enam belas tahun? Yang benar saja?! Hei, usiaku sekarang sudah dua puluh empat! Masa aku semuda itu, delapan tahun lebih muda?
"Oh…berarti setahun lebih muda dari Zangetsu-dono."
Aku sweatdrop karena ternyata Kanonji-san percaya saja ucapan Urahara-dono. Tapi, benarkah aku terlihat semuda itu?
"Hehehehe…" Urahara-dono kembali menyengir, "apa Zangetsu-kun merasa cocok dengan Kuchiki-san kami?"
Pria muda bernama Zangetsu hanya terdiam sebentar lalu beranjak untuk keluar dari ruangan meninggalkan kami semua. Kenapa dengan dia ya? Apa dia tidak menyukaiku? Astaga…jangan-jangan dia tidak percaya kalau usiaku masih enam belas. Ini semua gara-gara Urahara-dono!
"Zangetsu-dono kami memang sangat dingin dan pendiam…tapi menurutku dia menyukai Kuchiki-san karena kulihat-lihat Kuchiki-san bukan tipe gadis yang agresif."
"Agresif?" ujar Urahara-dono.
Don Kannonji mengangguk, "Ia sangat selektif memilih lawan main dan ia sangat benci dengan gadis-gadis yang suka cari perhatian, makanya ia sudah sangat banyak menolak artis-artis yang juga tertarik untuk menjadi lawan mainnya karena mereka semua sangat agresif."
Setelah keluar dari kediaman keluarga Zangetsu, aku menarik Urahara-dono untuk cepat-cepat masuk dari mini bus yang disewa Urahara-dono selama kami di Karakura.
"Kenapa kau tidak bilang kalau orang yang akan jadi lawan mainku itu adalah seorang bocah?!" protesku saat berada di dalam mobil.
"…Itu tidak penting Kuchiki-san."
"Tidak penting bagaimana?" geramku, "untung saja mereka percaya kalau usiaku enam belas tahun tapi kalau tidak? Kau mau membuatku malu ya?" cecarku.
"Kuchiki-san…Kuchiki-san…" ujar Urahara-dono, "walaupun usiamu lebih dua puluh tapi tampilan fisikmu itu seperti pelajar SMA…"
"Hah…" aku heran menatap Urahara-dono, aku seperti anak SMA? Sudah katarak dia barangkali!
"Buktinya…mereka percaya-percaya saja, kan?!"
Aku berpikir-pikir lagi. Benar juga apa yang dikatakan Urahara-dono, mereka langsung saja percaya mengenai usiaku. Tapi, apa mereka itu orang bodoh atau apa?
"Sudahlah…yang penting mereka percaya dan kau ingat apa yang tadi Kanonji-san katakan," Urahara-dono tersenyum menggodaku, "Zangetsu-kun menyukaimu…ehehehehehe…"
oOo
to be Continue…
Juzie senang banget ngetik chap ini karena Rukianya udah muncul...di chap2 yang sebelumnya Juzie ga semangat banget karena Rukianya ga ada...*curcol*
Onizuka Audrey iya uda tiga taon...menurut Juzie si tenza emang mirip2 ama Rukia, maksud Juzie...mereka itu muka-muka jodoh sebenarnya #plakk# hubungan diantara mereka berdua semoga terjawab di chap ini :3
jessi hehehehe...Juzie hanya berusaha menempatkan diri Juzie di posisi Senna, Juzie juga ga mau menikah ama orang yang udah pernah bertunangan ama sodara sendiri...amit-amit dah #plakk#
rini desu hu um...emang aneh banget...banyak hal-hal aneh yang sebenarnya banyak terjadi di dunia ini... *ditendang* hehehehehe...Rukianya uda dicari tapi karena petunjuk yang kurang sehingga Ichigo tidak bisa berbuat banyak *digampar ma Ichigo* Yup! si Rukia memang yang jadi lawan main si Tenza
Snow hehehehehe...ntar diliat ya di chap2 selanjutnya *ting-ting*
