Summary : Senna lari dari rumah karena tidak ingin dijodohkan dengan putra kurosaki. Karena itu, Rukia harus menggantikan Senna….R&R please…^^
Author: Juzie chan
Disclaimer : Om Kubo lah...Author cuma minjam tokoh om Kubo hingga batas waktu yang terhingga (hingga bleach tidak ada lg di dunia ini...huhuhu)
Pairing : IchiRuki, slight TenRuki (ini udah benar kagak sih?)
Warning! : banyak Typo, AU, OOC, EYD tidak sesuai, Gaje, Jayus, Abal, penuh kenistaan, membosankan, dan segala kekurangan-kekurangan yang lainnya.
Oh, ya...
Salam kenal semua ya...Juzie adalah author baru belajardan tidak berpengalaman di dunia fanfiction. mohon dimaklumin ya sodara-sodara jika story yang Juzie buat sangat sangat tidak mengundang selera tapi kalau ada yang R&R Juzie akan sangat berterima kasih...
Mohon bimbingannya...
*Tengkyu ya yang udah baca and review di Chapter sebelumnya...Author sama sekali ga nyangka kalau fic ini bakal ada yang baca...^^
/
CH 18
Still
Rukia's POV
Capek…capek… hari ini aku benar-benar capek latihan. Ternyata berakting di depan panggung cukup melelahkan, belum lagi masih banyak skenario yang harus dihafal, padahal ini baru latihan saja tapi aku sudah lelah seperti ini. Ternyata ini lebih sulit dari berakting di depan kamera karena aku pernah bermain sebagai figuran di Senkaimon, walaupun sekedar numpang lewat saja. Untung saja pelatihnya baik hati dan menyuruh kami istirahat sebentar.
Oh ya, mana si om-om rambut kuning itu sih? Daritadi aku tidak melihatnya, bukannya menjagaiku selama latihan dia malah keluyuran entah kemana. Dia tidak tahu apa kalau sekarang aku sangat capek dan butuh minum.
Aku mencari-cari tempat duduk untuk beristirahat. Ah…ada tempat duduk di bawah pohon yang teduh itu, aku langsung ke sana saja. Untung saja ini musim gugur jadi udaranya terasa sejuk tapi… tenggorokanku terasa sangat kering. Aku melirik ke samping, ada minuman botol rasa jeruk dingin yang terlihat sangat menggiurkan. Oh Tuhan…baiknya Engkau kepadaku…di saat seperti ini Engkau memberikanku minuman yang sepertinya terasa sangat segar.
Tanpa sungkang-sungkang aku langsung mengambil minuman botol itu, membukanya dan meneguknya. Benar-benar segar tapi satu teguk saja tidak cukup, aku lalu meneguknya lagi dan lagi…
"…Itu minumanku, Kuchiki-san!"
PRUUUUUUUUTT
"Uhuk…Uhuk…" Aku memuncratkan semua minuman dalam mulutku begitu mendengar Zangetsu-kun menegurku. Aku cepat-cepat menoleh ke arahnya, dia menatapku jengkel. Gawat, bisa-bisa Zangetsu-kun jadi membenciku.
"Maafkan aku!" seruku kalang kabut, "aku tidak tahu kalau ternyata ini punyamu… ini aku kembalikan," kataku sambil menyerahkan minuman botol itu.
Zangetsu tidak mengambil minuman botolnya, ia malah menatapnya kesal. "Itukan sudah bekasmu, ambil sajalah…" sahutnya bernada kesal.
"Sekali lagi aku minta ma…"
Zangetsu malah meninggalkanku dan duduk bersama managernya. Aish, dia benar-benar marah padaku. Ini tidak baik, benar-benar tidak baik. Bisa-bisa dia minta agar aku digantikan saja. Bagaimana ini?
Aku kembali duduk dan merenungkan nasibku. Sudah seminggu lebih kami seharian selalu bersama-sama tapi kurasa kami tidak bisa akrab. Zangetsu-kun tipe pria yang sangat dingin, persis sekali dengan Nii-sama. Aku bingung bagaimana memulai pembicaraan dengannya dan sekarang…aku membuatnya marah karena telah meminum minumannya?! Mungkin besok aku akan pulang ke Senkaimon tanpa hasil sepeserpun.
"Wah…ternyata kau dan Zangetsu-kun sudah akrab ya…"
Aku menoleh kesal ke samping, menatap geram orang yang sudah daritadi aku tunggu-tunggu. Dia kini sudah berdiri di sampingku sambil mengipas-kipas dengan santainya.
"Akrab apanya?" sengitku sambil merebut kipas Urahara-dono lalu mengipas-kipas leherku. "Darimana saja kau? Daritadi aku menunggumu…aku jadi minum minuman Zangetsu gara-gara kau terlalu lama hilang, aku benar-benar kehausan tadi!" aku mengomel saja sekalian.
Urahara-dono mengambil duduk di sampingku. "Aku pergi membelikanmu minuman Kuchiki-san…" kata Urahara-dono dengan santainya. Ia lalu menyerahkan kantong plastik berisi beberapa botol minuman dingin.
Hhhhhh… tadi aku sudah meminum minuman Zangetsu dan dia jadi terpaksa memberikanku karena aku sudah terlanjur meminumnya. Aku jadi tidak enak…apa dia sudah minum? Ah, aku kasih minumanku ini saja. Aku lalu menghampiri Zangetsu-kun yang duduk bersama dengan managernya dengan membawa minuman botol.
"Zangetsu-kun…"panggilku, Zangetsu-kun dan managernya menoleh ke arahku, "maafkan aku tadi…aku sudah tidak sopan langsung meminum minumanmu…ini aku ganti," aku menyerahkan minuman botol itu.
Zangetsu tidak menerimanya, ia hanya menatap dingin minuman botol yang ada di tanganku.
"Sekali lagi maaf…" kataku sambil membungkuk lalu menaruh minuman botol itu di meja depan Zangetsu-kun kemudian cepat-cepat aku meninggalkannya. Masa bodoh dia mau terima atau tidak yang penting aku sudah bertanggung jawab dengan mengganti minumannya dengan minuman yang lebih baik. Minuman favoritku pula!
"Hehehehe… dilihat-lihat kau dan anak itu terlihat sangat serasi, Kuchiki-san…" ujar Urahara-dono seenaknya.
"Serasi mulutmu!" sergahku. Enak saja dia mengatakan aku serasi disandingkan dengan seorang bocah. Hahaa!
Aku lalu melirik Zangetsu-kun, aku lega ternyata dia meminum minuman yang aku berikan tadi. Fiuh… semoga saja dia benar-benar memaafkanku dan tidak marah lagi.
oOo
Ichigo's POV
"Ini skrip ringkasan cerita yang akan dipertunjukkan nanti…" Ishida menyerahkan beberapa lembar kertas mengenai cerita yang akan dipentaskan di awal musim dingin.
Aku lalu mengambilnya dan membacanya. Judulnya, Sirayuki and The Chappy. Aku agak merasa aneh dengan judulnya karena bukannya icon Chappy kami itu adalah seorang anak laki-laki. Tapi tidak apa-apalah. Aku lalu membaca ceritanya. Ceritanya seperti demikian.
Di suatu desa yang amat damai dan tetram, dimana terdapat sayur-sayuran dan buah-buahan yang melimpah, serta aktivitas perdagangan yang cukup ramai, hiduplah seorang anak perempuan yatim piatu yang sangat sangat sangat sangat…
"Haruskah kata 'sangat'-nya sebanyak ini?" tanyaku.
"Baca sajalah Kurosaki…cerita itu langsung aku dapat dari penulisnya," sahut Ishida.
Aku kembali membaca cerita tersebut. Sampai mana tadi? Oh di kata 'sangat' yang banyak itu- sangat cantik, bahkan binatang buaspun akan terpesona jika melihatnya. Nama anak perempuan itu adalah Shirayuki.
Dari tahun ke tahun Shirayuki terus tumbuh hingga menjadi seorang gadis yang sangat cantik. Semua pria di desa itu, baik pria remaja, dewasa, om-om, bahkan yang sudah jadi kakek-kakekpun tergila-gila dengan kecantikan Shirayuki. Hal itu membuat para istri, ibu rumah tangga, dan nenek-nenek memusuhi Shirayuki. Mereka pun memaksa Shirayuki untuk keluar dari desa namun Shirayuki tidak mengikuti keinginan para wanita itu. Tapi mereka tidak kehilangan akal, segala cara mereka lakukan agar Shirayuki bisa keluar dari desa dan akhirnya mereka berhasil mengusir gadis itu keluar dari desa.
Shirayuki tidak tahu harus kemana, ia terus berjalan meninggalkan desa hingga tidak sadar ternyata ia sudah berada di dalam hutan. Berada di hutan membuat Shirayuki ketakutan karena sangat banyak binatang buas yang ia temui. Beruntung Shirayuki memiliki kecantikan yang sangat luar biasa, bianatang buas itu-pun tidak tega untuk memangsanya. Akhirnya binatang buas itu membiarkan Shirayuki dan tidak menyakitinya. Gadis itu terus berjalan hingga akhirnya ia bertemu dengan sekelompok Chappy yang hidup dengan rukun, para Chappy-pun mengajak agar Shirayuki bersedia hidup dengan mereka. Shirayuki-pun setuju dan mereka hidup bersama.
Suatu hari seorang pangeran tampan sedang pergi berburu, namun di hutan ia bertemu dengan seekor beruang yang sangat buas. Terjadilah perkelahian antara sang pangeran dengan beruang. Namun, sang pangeran tidak mampu menumbangkan si beruang. Akibatnya, sang pangeran terluka dan pingsan. Beruntung, secara kebetulan Shirayuki menemukan sang pangeran sebelum sang pangeran menjadi makanan sang beruang, Shirayuki-pun memohon pada beruang agar beruang tidak memakan pria yang kini sudah tidak sadar diri.
Shirayuki sendiri tidak tahu bahwa pria yang telah ia tolong ternyata adalah seorang pangerang. Karena beruang sangat terpesona dengan kecantikan Shirayuki akhirnya beruang meninggalkan sang pangeran dan Shirayuki. Shirayuki lalu menyeret pangeran ke rumah Chappy dan merawatnya. Sang pangeran yang telah ditolong oleh Shirayuki jatuh cinta dengan Shirayuki karena selain Shirayuki sangat cantik, Shirayuki juga memiliki hati yang sangat cantik pula.
Setelah sembuh pangeran pun kembali ke istana dan memohon kepada raja untuk dinikahkan dengan Shirayuki.
Ternyata sudah agak lama Shirayuki tinggal di dalam hutan dan semua penghuni hutan sangat mengangumi dan menyanjung kecantikan Shirayuki. Hal tersebut membuat roh penguasa hutan yang berjenis kelamin perempuan ternyata cemburu akan kecantikan Shirayuki. Akibatnya, ia mengutuk Shirayuki terus tertidur hingga ada seorang pria datang menciuminya dengan rasa cinta yang tulus dan bukan karena kecantikan Shirayuki semata. Kasihan sekali Shirayuki terus berada di kamar, di rumah para Chappy, dengan demikian tidak ada seorang pria-pun yang mengetahui keberadaan-nya.
Sang pangeran datang dengan tujuan meminang Shirayuki namun ia mendapati Shirayuki yang tidak dapat bangun dari tidurnya. Para Chappy-pun menceritakan apa yang terjadi. Sang pangeran lalu mencari sang roh penguasa hutan untuk menanyakan bagaimana cara agar Shirayuki dapat bangun kembali. Si penguasa hutan tidak ingin memberitahu sang pangeran dan terjadilah perkelahian yang sengit hingga dimenangkan oleh pangeran. Sebelum mati si penguasa hutan memberitahu cara agar Shirayuki dapat bangun kembali. Sang pengeran lalu kembali ke rumah Chappy dan memberikan ciuman pada Shirayuki dan Shirayuki-pun bangun. Dan setelah itu mereka menikah dan hidup bahagia selamanya.
"…Adegan ciuman ya…hehehehe kurasa itu akan membuat kehebohan tapi, itu sangat menarik," ucapku, "lalu…apa lawan main untuk anak sombong itu sudah ditemukan?"
"Ya," sahut Ishida, "Rojuro Otoribashi yang menjadi pelatih, dia bilang kalau lawan main Zangetsu-kun itu seorang gadis belia yang sangat cantik."
"Oh ya? Apa dia seorang artis?"
"Ummmmm…mungkin tapi bukan di Karakura," sahut Ishida, "katanya gadis itu berasal dari Senkaimon, mungkin saja dia artis di sana."
"Kalau benar begitu…berarti kita beruntung sekali."
"Ya, kau benar sekali Kurosaki."
"Huh…kau bilang kalau gadis itu sangat cantik, bisa-bisa…anak sombong itu cinlok dengan gadis itu."
"Entahlah tapi…kurasa Zangetsu-kun bukan tipe pria yang suka mengejar-ngejar gadis."
"Ya…sepertinya begitu…" gumamku. "Oh ya, Ishida… kau tidak ingin menemaniku melihat-lihat perkembangan Chappy Land?" ajakku kemudian, Ishida malah menatapku aneh, "Hei, kenapa kau menatapku seperti itu? apa aku terlalu tampan sehingga kau sendiri terpesona?"
Ishida hendak muntah. "Ucapanmu barusan itu membuat perutku sangat mual…" katanya, "aku hanya heran saja…ternyata selama ini kau mengalami banyak perubahan, Kurosaki."
Aku mengerutkan alisku. "Perubahan? Perubahan apa? Potongan rambutku dari tahun ke tahun begini-begini terus, warnanya juga tetap orange dan wajahku juga tidak mengalami perubahan!"
Ishida membetulkan posisi kacamatanya. "Bukan perubahan seperti itu Kurosaki," katanya, "tapi kau jadi lebih rajin dari yang dulu-dulunya…ternyata…berdirinya Baboon Land membuatmu semakin rajin, ini sisi positifnya."
"Tentu saja aku jadi rajin agar Baboon itu tidak merebut pengunjungku!" ujarku, "ayo kita keluar melihat Chappy!"
Aku dan Ishida lalu keluar untuk mengamati perkembangan pembangunan wahana baru Chappy land.
"Wow…ternyata pembangunannya sangat cepat ya, Kurosaki…kau benar-benar bekerja…"
"Tentu saja!" sahutku bangga, "kereta gantung raksasa kita sudah jadi dan tidak lama lagi bisa difungsikan. Di balik gunung itu kita akan membuat air terjun buatan dan nanti para pengunjung bisa bermain ice skating di out-door walaupun bukan musim dingin, bukan cuma itu…aku juga berencana untuk membuat rumah game Chappy, dimana para pengunjung bisa menjadi tokoh game dan berpetualang layak berada di dalam game…"
"Benar-benar bagus ya, Ichigo…"
Aku dan Ishida langsung cengo mendengar suara barusan. Kami menoleh secara bersamaan ke belakang dan terlihat Renji abarai bersama asistennya yang berambut bintang dan berkacamata sedang memayunginya.
"Halo Ichigo…" sapanya dengan riang gembira.
"….Apa yang kau lakukan di sini, hah?" tanyaku geram.
"Ummm….mengunjungimu, apa lagi?" sahutnya menyebalkan, "aku kan memang sengaja mendirikan Baboon Land di dekat Chappy Land agar bisa selalu mengunjungimu, Ichigo."
"Cih…"
"Apa kabar Abarai-san?" sapa Ishida.
"Hai, Uryu," balas Renji dan itu membuat wajah Ishida langsung menjadi aneh. Kenapa demikian? Karena Ishida tidak senang dipanggil sok akrab demikian, scara si Ishida itu sangat ingin diperlakukan dengan sopan karena ia sendiri memang tipe pria yang sopan. Aku saja yang teman lamanya tetap memanggilnya dengan 'Ishida'.
"Oh ya, Chappy Land…banyak mengalami perubahan ya?" ujar Renji sambil memandangi Chappy Land-ku. "Tapi bagaimanapun…Baboon Land-ku jauh lebih bagus dan mewah…ahahahahahaha." Tawa Renji yang menjijikkan itu menggema di Chappy Land-ku. Sial!
"Ah, sepertinya aku harus pergi dulu ya, Ichigo! Kau tahu kan aku sangat sangat sangat sibuk…biasalah…orang sukses…ehehehehe," kata Renji dengan sombongnya, "aku pergi dulu ya, Uryu…" kulihat muka Ishida sudah merah padam. "ayo kita pergi dari sini, Love!" akhirnya Renji dan asistennya itu pergi juga. Dasar dia mengganggu saja.
~syalalalala~
Oh….my love…my darling…
I've hungered for your… touch
Aku berbaring di sofa sambil mendengarkan lantunan lagu unchained melody di ruangan kantorku yang gelap. Menatap langit-langit kantorku sambil mengingat saat-saat aku masih bersama Rukia… Rukia…kau dimana sekarang? Bagaimana kabarmu? Aku ingin sekali tahu tentangmu… Ah…aku sudah terlalu merindukanmu, walaupun aku bisa menjalani hari-hariku seperti biasa tapi…aku sangat merasakan ada sesuatu yang sangat berharga hilang dariku. Rasanya benar-benar tidak nyaman dan menyiksaku secara batin. Lalu…apa yang harus aku lakukan?
Ceklek…
Seseorang membuka pintu kantorku. Aku mengangkat sedikit kepalaku untuk melihat siapakah gerangan? Ternyata Ishida.
"Astaga…kukira kau sudah pulang dari tadi…" ujarnya. Aku mematikan musik di ponselku dan Ishida segera menyalakan lampu. Cahaya lampu yang silau terasa menyambar mataku. Ishida lalu duduk di sofa depanku, dan akupun bangkit untuk duduk.
Ishida membetulkan posisi kacamatanya. "Pertama kau menolak cinta gadis-gadis, kedua kau memimpikan Kuchiki-san dan sekarang kau berada di ruangan gelap, sendirian sambil memikirkan Kuchiki-san… Ini sudah lebih tiga tahun Kurosaki dan kau masih saja terpuruk dengan kisah cintamu itu…"
"Bukannya kau juga sendiri masih terpuruk, Ishida?" timpalku.
Ishida terperangah. "Hah? aku?" tanyanya sok tidak mengerti.
"Ya," sahutku, "sampai saat ini kau belum juga menemukan pengganti Inoue, itu bukti kau masih terpuruk dengan pernikahannya! Ya, kan?"
Ishida mendecak. "Tidak koq!" dia mencoba menyangkal, "aku sudah benar-benar merelakannya, buktinya aku tidak pernah menyinggung-nyinggung tentangnya dan aku juga tidak pernah mencoba mengingat kenangan-kenangan kami dulu."
Aku memicingkan mata menatapnya. "kalau begitu…kenapa sampai saat ini kau tidak pernah menjalin hubungan dengan perempuan lain?"
"Itu karena aku belum menemukan yang cocok saja, Kurosaki!" sahutnya agak kesal, "masa aku harus menjalin hubungan dengan sembarang wanita…kau itu yang aneh, Kurosaki!"
"Aku? Aneh?"
"Ya! Bukannya kau ini dari dulu terkenal sebagai perayu unggul wanita dan tidak bisa berlama-lama sendirian tanpa seorang gadis, kau juga sulit menolak gadis, kau bahkan mempunyai radar untuk mendeteksi kehadiran gadis cantik…"
"Ck…itu dulu Ishida…" sahutku jengkel, "hatiku ini sudah mencintai seseorang dan itu sangat sulit diubah…"
"Akupun seperti itu Kurosaki… tidak mudah untuk bisa mencintai seseorang begitu saja…"
Ya…aku benar-benar terpuruk karena cinta. Aish, mungkin ini kutukan dari gadis-gadis yang sering aku permainkan dulu, memacari mereka tanpa komitmen. Tapi, itu bukan sepenuhnya salahku juga, mereka saja yang terlalu tergila-gila padaku!
"Oh, ya Kurosaki," ujar Ishida, "selama kau bertemu dengan Abarai, kenapa kau tidak pernah menanyakan kabar Kuchiki-san? Siapa tahu kan kalau Kuchiki-san pernah menghubungi Abarai, bagaimanapun mereka berteman sejak mereka masih kecil."
"Walau aku tanya…Renji tidak akan memberitahuku. Lagian…Rukia tidak berada di sini, buktinya waktu launching Baboon Land, dia tidak ada di sana," ucapku, "kalau dia ada di Karakura pasti dia akan menghadiri acara penting temannya, ya kan?"
Tapi…mungkin saja Renji pernah mendengar kabar Rukia…ah, bagaimanapun dia tidak akan memberitahuku karena dulu dia sendiri bilang kalau dia yang duluan menemukan Rukia, dia tidak akan menyerahkannya padaku.
oOo
To be Continue...
/
Mumpung ada waktu jadi ni chap di apdet aja...:D. pokoknya ceritanya hingga Ichiruki bertemu, ceritanya ringan-ringan aja ya boo, jadi konfliknya ga giman-gimana koq :D
Rini desu ini dah apdet ya...cepat seperti biasa...hehehehe namanya juga pengangguran ya...ga sekolah kayak anak-anak laen. selamat membaca ;)
15 Hendrik Widyawati Wow...ternyata jenk Widyawati-san membaca fic ini kayak lari maraton...:D. iya bukan ulqui...kan ulquinya udah nikah ama Inoue so, mesti kudu kerja yang benar dia *apaan sih* Ini udah apdet ya...tengkyu
MR. KRabs Iya mister...semoga pertemuan mereka kelak menjadi pertemuan yang membahagiakan...kita doakan sama-sama ya...aamiin
Onizuka Audrey Ini dah apdet ya ;) ntar konfliknya konflik ringan-ringan aja koq...XD sekedar penyegaran aja... selamat membaca
Snow Urahara emang ga tahu identitas Rukia... biasalah, masalah ekonomi jadi Rukia ikut2 aja *kasian bgt sih* di sini ada interaksi Tenza ama Rukia ya...;)
