Summary : Senna lari dari rumah karena tidak ingin dijodohkan dengan putra kurosaki. Karena itu, Rukia harus menggantikan Senna^^

Author: Juzie chan

Disclaimer : Om Kubo lah...Author cuma minjam tokoh om Kubo hingga batas waktu yang terhingga (hingga bleach tidak ada lg di dunia ini...huhuhu)

Pairing : IchiRuki, slight IchiSena, RukiRen, ByakuRuki (ini mudah-mudahan enggak...)

Warning! : banyak Typo, AU, OOC, EYD tidak sesuai, Gaje, Jayus, Abal, penuh kenistaan, membosankan, dan segala kekurangan-kekurangan yang lainnya.

Oh, ya...

Salam kenal semua ya...Juzie adalah author baru belajardan tidak berpengalaman di dunia fanfiction. mohon dimaklumin ya sodara-sodara jika story yang Juzie buat sangat sangat tidak mengundang selera tapi kalau ada yang R&R Juzie akan sangat berterima kasih...

Mohon bimbingannya...

*Tengkyu ya yang udah baca and review di Chapter sebelumnya...Author sama sekali ga nyangka kalau fic ini bakal ada yang baca...^^

.

.

.

CH 22

.

.

.

Ichigo's POV

Tiba-tiba saja Ishida mengajakku makan malam di suatu restoran mewah. Aneh saja karena ini tidak biasanya, kami memang sering makan bersama tapi tidak pernah di restoran semewah ini. Aku kini memasuki restoran mewah tersebut.

"Apa Ishida-san memesan tempat?" tanyaku pada salah seorang receptionist, ia lalu mengecek apakah memang ada yang memesan tempat bernama Ishida.

"Di lantai tiga, Tuan…" sahut reseptonist tersebut, ia lalu memanggil salah seorang pelayan untuk mengantarku.

Aku mengikuti pelayan tersebut, ternyata Ishida memesan ruang VIP. Hoh… kenapa dia ya?

Pelayan itu membukakan aku pintu dan ketika aku melihat ke dalam ruangan, Ishida sudah duduk di sana tapi ia tidak sendiri… ia bersama Tenza Zangetsu, si artis sombong yang telah menjadi icon Chappy Land.

"Selamat malam, Kurosaki…" sapa Ishida begitu aku berjalan memasuki ruangan. Aku menghampiri mereka, menarik Ishida dan mengajaknya ke sudut ruangan.

"Kau tidak bilang kalau kau mengajak anak itu…" bisikku, "kenapa kau mengajaknya?" tanyaku berbisik.

"Zangetsu-kun itu sudah menjadi icon Chappy kita, kita harus menjalin hubungan yang baik dengannya…" sahut Ishida dengan berbisik tentunya.

"Tapi aku tidak suka berinteraksi dengannya…"

"Eh…tidak boleh begitu, Kurosaki… kau suka atau tidak…kau tetap harus bersikap baik dengannya…"

"Ehem…" Zangetsu berdehem, mungkin ia bermaksud menegur kami.

"Bersikaplah yang sopan padanya…" Ishida memperingatkanku.

Kami lalu menuju ke meja makan. "Apa kabar Zangetsu-kun?" sapaku secool mungkin sebelum duduk sambil mengulurkan tanganku untuk mengajaknya berjabat tangan.

Zangetsu berdiri dan menjabat tanganku. Sekilas kulihat ia agak kaget melihat gelang merahku… mungkin dia merasa aneh saja kalau pria memakai gelang. Huh…dasar anak itu, di jaman sekarang ini banyak sekali pria yang sudah memakai gelang.

"Baik," sahutnya tidak kalah cool dariku, entah kenapa aku selalu merasa jengkel dengan laki-laki yang bersikap dingin dan sok keren. Rasa jengkel ini sama seperti aku baru pertama kali menemui Byakuya dulu, menjengkelkan. Kami bertiga lalu duduk bersamaan.

"Aku baru tahu ternyata…" Ishida bersuara, "Zangetsu-kun pernah memenangkan pentas pianist di Rusia ya…"

"Ya… tapi itu sudah sangat lama sekali, sewaktu aku masih duduk di sekolah dasar."

Aku bisa mendengar ada nada-nada kesombongan dari ucapannya tadi. Benar-benar menyebalkan.

"Itu adalah prestasi yang sangat luar biasa…" puji Ishida dan itu membuat kupingku panas.

Beberapa pelayan kemudian masuk membawa makanan pesanan Ishida dengan meja dorongnya. Para pelayan itu meletakkan makanan dan minuman itu di meja. Oh, my God…begitu banyak pisau di meja, aku benci acara makan yang seperti ini.

Kami bertiga lalu mulai makan, kulirik Zangetsu…ternyata dia benar-benar anak yang sangat mengerti tata krama, bahkan ia nyaris tidak bersuara sama sekali saat makan. Ah…itu kan karena ia sedang makan malam dengan si bos besar pemilik Chappy Land…coba dia makan sendirian atau makan di rumahnya sendiri…pasti dia makan steak juga pakai tangan barangkali…scara ya, anak seusianya itu sedang buas-buasnya makan… ahahahaha

Ishida menatapku tajam ketika mendapatiku sedang senyam-senyum membayangkan Zangetsu makan steak dengan tangan. Aku kembali makan dalam keadaan sunyi ini… aku tidak suka suasana seperti ini karena Ishida juga malah ikut-ikutan diam.

"Oh ya…" ujarku tiba-tiba. Aku ingin mencairkan suasana tapi Ishida malah menatapku heran seakan-akan ia berkata "jangan bicara, Kurosaki!"

Zangetsu menaruh telunjuknya di bibirnya. "ssssttttt…sebenarnya aku tidak pernah melakukan ini sebelumnya tapi….kurasa Kurosaki-san tahu bahwa aturan dalam makan tidak diperkenankan untuk berbicara…."

DUAR DUAR CETAAAAAAAARRR

Apa?! Barusan…anak sombong itu menegurku dan mencoba mengajariku tata krama saat makan?!

Ishida menatapku seakan-akan ia berkata "tadi kan aku sudah bilang…bersikaplah yang sopan…"

Akhirnya acara makan-makan yang membosankan itu selesai juga. Kami bertiga menikmati minuman.

"Tadi…bukannya anda ingin mengucapkan sesuatu?" Zangetsu mengingatkanku akan sesuatu yang tadi ingin aku sampaikan sewaktu makan.

Ishida menatapku seakan-akan berkata "bicaralah, Kurosaki…"

"Ya," ujarku, "minggu lalu…kau kedapatan sedang berkencan dengan seorang gadis…dan kau bilang saat jumpa pers kalian hanya berteman saat ini…sebenarnya…apa benar hubungan kalian memang masih hanya sebatas pertemanan?"

Ishida memperbaiki posisi kacamatanya yang tak salah sama sekali sambil menatapku seakan-akan berkata "pertanyaanmu itu tidak penting sama sekali, Kurosaki!"

"Apa penting aku harus menceritakan kehidupan pribadiku?" ujar Zangetsu dan menatapku dingin. Kelihatan sekali kalau dia tidak suka dengan pembicaraanku tapi aku malah senang melihatnya seperti itu, melihat ekspresinya yang rada jengkel.

"Tentu saja penting karena sekarang kau adalah icon Chappy Land kami, kau harus lebih bisa menjaga sikapmu dan…mungkin kau tahu sendiri bahwa banyak sekali aktor ataupun artis yang kehilangan popularitasnya hanya karena ia sudah menikah atau memiliki kekasih…"

Zangetsu hanya diam, menatapku dingin tentunya. Aku tahu bahwa akulah yang menang dalam pertarungan kali ini, ahahahaha… Senang sekali aku melihat anak sombong itu jengkel walaupun dalam keadaan seperti itu ia mencoba bersikap cool dan keren.

Ishida berdehem dua kali lalu tersenyum ramah ke arah Zangetsu. "Kurosaki-san hanya bermaksud untuk menasehatimu, Zangetsu-kun…saat ini karirku dalam masa keemasan, sayang sekali kan kalau karir itu menurun hanya karena masalah yang sangat sepele…"

Dasar si Ishida, mengganggu rencanaku saja! Siapa yang bermaksud menasehati anak sombong itu? Huh…

"Jangan khawatir karena aku tahu bagaimana bersikap dan juga…" Zangetsu berujar, "setidaknya…sikapku masih tergolong wajar untuk anak seusiaku tidak seperti laki-laki dewasa yang menjalin hubungan dan bertunangan dengan gadis berusia enam belas tahun…"

Aku bingung dengan arah pembicaraan anak sombong itu, seakan-akan ia sedang menyinggung seseorang tapi, siapa yang dia singgung? Aku? Tentu saja tidak! Ishida? Lebih-lebih… Ishida juga tak kalah bingungnya denganku.

"Aku tidak menyangka saja ternyata ada seorang pria yang benar-benar sangat mapan dan seharusnya menikah dengan wanita dewasa pula tapi…malah menyukai gadis kecil…aneh sekali, ternyata pedofilia itu benar-benar ada…"

Aku jadi teringat dengan ucapan Psikiater beberapa hari yang lalu yang telah mengataiku menderita pedofil. Entah mengapa aku jadi merasa disinggung oleh bocah sombong itu.

Akhirnya, kami akan meninggalkan restoran.

"Tidak lama lagi petunjukkanmu akan dilaksanakan…jagalah kesehatanmu baik-baik, Zangetsu-kun," kata Ishida setelah mobil milik Zangetsu berhenti di samping kami.

"Aku tahu…" ucap Zangetsu dengan gaya sok cool-nya yang jijay itu. Sopir Zangetsu lalu membukakan pintu untuk Zangetsu.

"Sampai jumpa lagi…" kata Ishida sambil mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan lalu Zangetsu menjabat tangan Ishida setelah itu aku dan Zangetsu yang berjabat tangan, anak itu menatap gelangku lagi hingga tangan kami lepas satu sama lain. Aku lalu menutupi tali merahku itu, memasukkannya ke dalam-dalam lenganku agar tertutupi kemejaku, aku risih Zangetsu menatapku seakan-akan pria memakai gelang itu aneh.

"Ternyata orang itu benar-benar anda…" gumamnya mendesah. "Seharusnya kau mencari gadis yang lebih tua atau setidaknya yang berusia tidak terlalu jauh dengan usiamu…" ucapnya kemudian masuk dalam mobil.

"…Hei, Ishida…kenapa anak itu mengucapkan hal-hal yang membingungkan daritadi? Apa anak itu sedang mengigau?" tanyaku masih menatap mobil anak itu yang mulai menghilang dari pandangan kami.

"Entahlah…mungkin…anak itu terlalu capek bekerja barangkali," sahut Ishida sambil memperbaiki posisi kacamatanya, "sepertinya anak itu sudah dieksploitasi oleh orang tuanya sewaktu masih kanak-kanak…"

.

.

.

oOo

Byakuya Kuchiki sedang berjalan cepat menuju ruang tamu setelah salah seorang pelayan memberitahunya mengenai kedatangan seseorang. Saat ia mulai memasuki ruang tamu ia melihat tamu yang sedang berdiri di depan pintu, memandang pemandangan musim gugur di Mansion Kuchiki dengan penuh rasa kagum dan kerinduan. Seorang gadis bertubuh mungil dan berambut hitam pendek seleher, mengenakan sweater hijau dan celana jeans.

"Pemadangan di sini memang jauh lebih indah dibanding rumah sewaan Urahara-dono…" gumam gadis yang merupakan tamu itu.

Dari kejauhan Byakuya menatap gadis itu dengan tatapan penuh keterkejutan, ketidakpercayaan, kerinduan, dan rasa senang, semuanya bercampur. Gadis yang telah tiga tahun lebih lamanya ia meninggalkan Mansion Kuchiki, adalah adik angkat yang juga merupakan adik iparnya, Rukia Kuchiki.

Byakuya berjalan mendekati Rukia. "…Rukia…" panggilnya dengan suara rendah saat berada tepat di belakang Rukia.

Mendengar suara Byakuya, Rukia berbalik perlahan-lahan. Ia menatap lekat-lekat mata kakaknya dengan sinar emethyst-nya. "Nii-sama…" gumamnya, dari tatapannya jelas sekali Rukia telah menyimpan rasa rindu yang sangat lama pada kakak laki-lakinya itu. Lama mereka saling menatap seakan-akan mereka sedang berbicara melalui mata mereka.

"…kita duduk dulu, Rukia…" Byakuya mengajak Rukia untuk duduk di sofa dan mulai berbincang-bincang. Rukia menceritakan semua pengalaman yang ia alami selama tidak berada di Mansion Kuchiki, tempat-tempat yang pernah ia kunjungi. Byakuya hanya menyimak semua cerita Rukia, kalau dipikir-pikir…ini adalah pertama kalinya Rukia bisa berbicara dengan lepas di hadapan Byakuya. Tidak ada pembicaraan mengenai masa lalu sewaktu Rukia masih berada di Mansion, terutama mengenai Ichigo, keduanya tidak ada yang ingin menyinggungnya seakan-akan kejadian pertunangan antara Rukia dan Ichigo tidak pernah terjadi.

"Nii-sama…" ujar Rukia, "maukah Nii-sama membawaku ke Soul Society…" pinta Rukia, "aku ingin bertemu dengan Nee-sanku…"

Byakuya agak terkejut dengan permintaan Rukia, ia diam sebentar lalu memejamkan matanya sebentar. "Tentu saja Rukia…" ucapnya.

Dan mereka berdua, sebenarnya bertiga karena mereka diantar oleh seorang sopir, langsung meluncur menuju Soul Society, menuju ke Mansion Kuchiki yang berada di Soul Society. Ternyata makam keluarga Kuchiki semuanya berada di sana, termasuk makam Hisana.

oOo

Rukia's POV

Kini aku dan Nii-sama berdiri di hadapan makam Nee-san. Menatap makam Nee-san… tanpa kusadari air mataku terjatuh.

Nee-san… Maafkan aku karena aku sempat membencimu waktu aku tahu ternyata aku mempunyai saudara. Waktu itu aku berpikir…mengapa kau sangat tega meninggalkan aku sendirian di Inuzuri… Tapi…dengan bertambahnya usia dan kearifanku… aku bisa memahami mengapa kau melakukan itu. Aku tak lagi menyalahkanmu dengan semua yang telah terjadi.

Nee-san… aku tahu kau pasti sudah berusaha keras mencariku…karena itu, Nii-sama mengangkatku sebagai adik angkatnya ketika ia menemukanku di Seireite. Andai saja Tuhan memberi kita kesempatan untuk bertemu dan berkumpul, kemudian memulai hidup sebagai keluarga…dan saling bertukar cerita layaknya kakak-adik… Semuanya pasti akan lebih menyenangkan jika Nee-san kini berada di sini… bersamaku.

Nee-san…jangan khawatirkan keadaanku, kehidupanku kini lebih baik walaupun tidak berada bersama Nii-sama pun. Kelak…kita akan bertemu dan saat itu kita akan benar-benar menjadi kakak-adik, bersama dengan kedua orang tua kita…walaupun bukan di dunia ini…

Aku mengusap air mataku yang mengalir di pipiku. Kurasakan tangan Nii-sama menyentuh bahuku.

"Walaupun ia sakit…dan sekeras apapun sakitnya…ia tetap mencarimu untuk menebus kesalahannya padamu, Rukia… jadi, kumohon…jangan benci Hisana…"

Aku semakin tidak bisa menahan air mataku…walau sudah kuhapus berkali-kali…

"Ya…aku sudah memaafkannya…"

.

.

.

oOo

Setelah mengunjungi makam Hisana, Byakuya dan Rukia kembali ke Karakura dan kini mereka berada di halaman depan Mansion Kuchiki.

"Berhentilah bekerja dan kembalilah tinggal di sini, Rukia…" pinta Byakuya.

Rukia menggeleng cepat. "Aku sudah terikat kontrak dan setelah itu…aku akan kembali ke Senkaimon…"

Byakuya agak kecewa dengan ucapan Rukia barusan. Ia sangat berharap adik angkatnya itu kembali tinggal bersamanya di Mansion, tidak perlu bersusah-susah bekerja untuk meneruskan hidup. Tapi, Byakuya bisa memahami pilihan hidup Rukia dan ia tidak ingin memaksakan kehendaknya agar Rukia tetap bersamanya.

"Tapi…sebelum pulang ke Senkaimon…aku akan menginap semalam di sini…" ujar Rukia kemudian dan itu membuat Byakuya sedikit senang walaupun Byakuya akan lebih senang lagi jika Rukia benar-benar kembali menetap bersamanya.

"Baiklah…kalau begitu biar Kutsuzawa yang mengantarmu pulang…"

Sopir bernama Giriko Kutsuzawa lalu membukakan pintu mobil untuk Rukia.

"Nii-sama…" gumam Rukia, "kita sudah lama menjadi kakak-adik…tapi kita tidak pernah sangat dekat…bolehkah…aku memelukmu…" walaupun Rukia menyampaikan permintaannya barusan dengan sangat sungkang tapi terdengar sangat tulus.

"Tentu saja…adikku…" ucap Byakuya lalu Rukia memeluk Byakuya dengan canggung.

"Aku tidak pernah mengucapkan terima kasih secara langsung pada Nii-sama…terima kasih atas semuanya…dan maafkan aku karena telah banyak memberi beban Nii-sama…"

Byakuya terdiam, ia hanya menyahut dengan membelai lembut rambut Rukia. Giriko Kutsuzawa yang merupakan satu-satunya orang yang menyaksikan peristiwa perpisahan kakak-adik yang mengharukan tersebut, melap air matanya dengan sapu tangan, jujur ini pertama kalinya ia melihat majikannya yang selalu terkesan dingin itu kini bersikap sendu apalagi dengan latar daun-daunan kering yang berguguran sehingga pemandangan tersebut terlihat lebih syahdu lagi.

Rukia melepaskan pelukannya. "Sampai jumpa lagi…Nii-sama…" ucapnya sebelum memasuki mobil. Rukia memasuki mobil, ia terus menatap saudaranya melalui kaca mobil hingga ia benar-benar tidak bisa lagi memandangnya.

.

.

.

oOo

Ururu berlari memasuki rumah dan langsung menghampiri Urahara, Tessai dan Jinta.

"Kuchiki-san sudah ada di depan tapi dia diantar dengan mobil mahal…" cerita Ururu langsung begitu bertemu dengan penghuni rumah yang sedang santai menikmati teh dan kue untuk menunggu adzan magrib.

"Mobil mahal?" gumam Tessai.

"Huh…darimana kau tahu kalau mobil itu mahal?" pertanyaan Jinta bernada sinis.

"Pokoknya mobilnya bagus dan berkilauan…mirip-mirip dengan mobil yang mengantar Urahara-dono dan Kuchiki-san waktu pulang dari acara pesta…" sahut Ururu menjelaskan.

"Siapa?" tanya Tessai.

"Aku tidak tahu…Kuchiki-san duduk di belakang dan seorang paman yang lumayang tua yang mengantar Kuchiki-san…"

"Hah! jangan-jangan…" ujar Jinta dengan wajah penuh curiga, "Kuchiki-san…adalah selingkuhan om-"

PLAK

"Jangan sembarangan bicara!" seru Urahara setelah menggampar kepala Jinta.

"Lalu…kenapa dia bisa diantar oleh om-om?" protes Jinta sambil mengusap-ngusap kepalanya.

"Ya…mungkin Kuchi-"

Sreeeeeeeeett

"Aku pulang!" seru Rukia setelah membuka pintu geser dan nampaklah semua penghuni rumah yang sedang menatap Rukia. "Halo semua…" sapanya, "hhhhh…aku ingin mandi dulu…" gumamnya mendesah. Kemudian ia berjalan menuju ke kamarnya langsung.

"…aku tidak menyangka ternyata…wajahnya yang polos itu ternyata adalah selingku-"

PLAKK

"…Sudah kubilang jangan bicara sembarangan…"

.

.

.

oOo

Seminggu kemudian…

Ichigo's POV

Malam ini adalah malam pertunjukan Shirayuki and The Chappy, aku lebih memilih untuk tetap berada di kantorku sambil melihat para antrian pengunjung yang begitu panjang, di luar gedung teater Chappy. Ishida mungkin sudah berada di sana tapi aku sama sekali tidak tertarik untuk menonton pertunjukkan itu karena pertunjukkan itu memang sebenarnya ditujukan untuk anak remaja walaupun ternyata banyak juga orang dewasa yang ingin menontonnya.

"Astaga…daritadi aku mencarimu, ternyata kau masih di sini…" ujar Ishida begitu menemukanku di ruanganku.

"…Aku tidak mau ke sana…" kataku sambil terus melihat-lihat dengan teleskopku.

"Bicara apa kau ini, Kurosaki?!" seru Ishida, "kau itu adalah pemilik Chappy Land, bisa-bisa Zangetsu-kun tersinggung kalau kau tidak ikut melihat pertunjukan itu… kalau sudah seperti itu…bisa-bisa dia tidak betah jadi icon Chappy!"

Aku menoleh ke arah Ishida sambil memasang tampang malas… "Kan ada kau…kau saja yang ikut ya…" kataku.

"Tidak bisa!" geram Ishida, ia lalu menarikku, "pokoknya kau harus ikut menonton!"

Akhirnya kami berada tidak jauh dari gedung teater Chappy. Di bagian atas gedung ada poster raksasa bergambarkan Shirayuki bersama para Chappy, sayangnya gambar poster itu hanyalah gambar kartun. Para pengunjung yang ingin menonton pertunjukkan itu semakin membludak saja… aku tidak tahu caranya bagaimana aku dan ishida bisa masuk dalam gedung kalau seperti ini…

"Ishida…kau tidak lihat lautan manusia itu? bagaimana kita bisa masuk ke dalam?"

"Ck…kita bisa lewat belakang, Kurosaki…" sahut Ishida, "seperti orang kehilangan akal saja…" kami pun memasuki gedung lewat belakang dan langsung menuju ruang Teater, kupikir ishida akan membawaku ke bagian VIP tapi ternyata…

"Hei…Ishida, "panggilku sambil menatap aneh Ishida, "kenapa kau membawaku ke kursi yang bukan di VIP?" tanyaku bernada protes, sembarangan saja si kacamata itu mengajakku menonton di bangku para penduduk jelata itu.

"Ck…sekali-sekali tidak apa-apa, Kurosaki…" sahut Ishida, "bagaimanapun pengunjung yang paling banyak itu bukanlah dari kalangan elit jadi…kita akan lebih merasakan atmosfer para pengunjung kita…lagipula…kita akan tetap bisa menonton dengan jelas pertunjukkan itu kan."

"Jelas sih iya…tapi…kira-kira donk…masa pemilik Chappy nonton di bangku biasa… bikin malu saja…" ketusku tapi aku tetap mengikuti Ishida, menuju ke kursi kami. dan ternyata…di sana sudah ada si rambut biru. Grimmjow!

Grimmjow duduk sendirian di sana dengan memasang tampang malasnya.

"Grimmjow!" panggilku.

Grimmjow menoleh ke arah kami, dari tatapannya ia sedang kesal. "Kalau aku tahu sebelumnya kursiku bukan di VIP…aku tidak bakalan datang ke sini!" ujarnya mengeluh, "…ternyata kau cuma memberiku tiket biasa…" Grimmjow menatap kesal Ishida, "tadi aku sudah berdiri di depan ruang VIP eh…mereka mengusirku karena tiketku hanya tiket biasa…apalagi di sana ada si kembar Kurosaki, malu sekali aku…"

"Waaaaaakakakakakaka," aku menertawainya saja, jarang-jarang aku melihat Grimmjow kesal. Tapi, kasihan sekali dia karena mengira akan duduk di kursi VIP, hahahahaha…ngarep dia.

"Kenapa kau malah menertawaiku, stobery orange?" Grimmjow menatapku sinis, "Ho… ini rencanamu, ya?" tuduhnya.

"Enak saja!" sahutku, "aku juga heran karena Ishida malah membawaku ke sini!"

Ishida membetulkan posisi kacamatanya. "sekali-sekali tidak apa-apa kan…" sahut Ishida tanpa merasa salah sama sekali, "di sini juga sangat nyaman…" ia lalu mengambil duduk di samping Grimmjow dan akupun duduk di samping Ishida.

"Lagian…kenapa juga kau begitu percaya diri ingin duduk di VIP?" kataku.

"Aku yakin pasti Ishida memberiku tiket untuk kursi VIP karena kupikir tidak mungkin pemilik Chappy Land memberiku tiket untuk kursi murahan…"

"Maaf ya…di sini tidak ada yang murahan," ucap Ishida.

"Terserah!" ujar Grimmjow sambil mengibaskan tanganya dengan kesal.

Semua pengunjung sudah duduk di kursi mereka masing-masing. Tidak lama kemudian lampu penonton dimatikan, semua cahaya lampu hanya tertuju di panggung. Ah…sepertinya pertunjukannya segera dimulai.

Tirai panggung terbuka dan menampakkan tokoh utama dalam cerita. Dia adalah seorang gadis yang bernama Shirayuki, bertubuh layaknya gadis berusia remaja, memakai kimono berwarna putih-pink, berambut panjang dan berwarna putih seperti es, ada jepitan rambut berwarna ungu menghiasi bagian samping kepalanya. Sesuai dengan cerita yang sebenarnya, tokoh yang memerankan Shirayuki itu memang terlihat sangat cantik dan…

Aku mengucek-ngucek mataku untuk memastikan apakah aku tidak salah lihat siapa gerangan yang memerankan Shirayuki itu. Saat penglihatanku sudah kuyakini jelas… aku cengo melihatnya, melihat Shirayuki… lebih tepatnya melihat orang yang sedang memerankan Shirayuki…dan ternyata…

.

.

.

oOo

To be Continue…

.

.

.

syukur alhamdulilah Juzie panjatkan atas terapdetnya chap ini...setelah Juzie banyak mengalami tekanan batin and pikiran...hikz #ga penting amat!

sorry banget ya...klo banyak tipo and sebagainya...coz baterai lappy Juzie lagi bermasalah, cepat banget lobetnya padahal udah full baterainya, udah bocor kali ya? jadinya...ga sempat edit baik-baik. so...maafin ya kalo ada readers yang terganggu banget apalagi bagi yang punya mata sensitip...hehehehe.

Sebagai info chap selanjutnya chap terakhir ya...hihihihi...Juzie senang banget deh coz Juzie pengen buat cerita baru...hohohohoho

Gilang363 salam kenal ya gilang...iya udah ga lama koq, chap selanjutnya udah chap terakhir. jelek banget ya nih fic...coz scene ichirukinya minim banget. nantinya juzie berniat membuat fic ichiruki yang banyak ichirukinya. hehehehe...chap selanjutnya dibaca ya ^^

Hendrik Widyawati hehehehe...kasiank ulqui-nya donk. ntar Juzie dicobek2 ama fans ulqui...but...ntar diliat nih ulqui mau dibikin mati atau apa belum tau juga #sadis amat sih...

MR. KRabs ini udah apdet ya mister...hehehehe...jangan lupa baca chap ini sekalian chap selanjutnya juga nanti...:D

Suu hehhee...ntar si zangetsu ngadu ama ishida trus ketauan deh si ruki-nya...hehehehe...ga lama lagi si ruki udah ketauan koq, XD

Snow coz Juzie ga rela buat cerita rukia ciuman ama cowok laen selain ichi! ga banget deh...hehehehe...latihannya bukan di chappy land tapi di belakang rumah Juzie #-_-'