Summary : Senna lari dari rumah karena tidak ingin dijodohkan dengan putra kurosaki. Karena itu, Rukia harus menggantikan Senna….R&R please…^^

Author: Juzie chan

Disclaimer : Om Kubo lah...Author cuma minjam tokoh om Kubo hingga batas waktu yang terhingga (hingga bleach tidak ada lg di dunia ini...huhuhu)

Pairing : IchiRuki, slight IchiSena, RukiRen, ByakuRuki (ini mudah-mudahan enggak...)

Warning! : banyak Typo, AU, OOC, EYD tidak sesuai, Gaje, Jayus, Abal, penuh kenistaan, membosankan, dan segala kekurangan-kekurangan yang lainnya.

Oh, ya...

Salam kenal semua ya...Juzie adalah author baru belajardan tidak berpengalaman di dunia fanfiction. mohon dimaklumin ya sodara-sodara jika story yang Juzie buat sangat sangat tidak mengundang selera tapi kalau ada yang R&R Juzie akan sangat berterima kasih...

Mohon bimbingannya...

.

.

.

CH 23

.

.

.

Aku mengucek-ngucek mataku untuk memastikan apakah aku tidak salah lihat siapa gerangan yang memerankan Shirayuki itu. Saat penglihatanku sudah kuyakini jelas… aku cengo melihatnya, melihat Shirayuki… lebih tepatnya melihat orang yang sedang memerankan Shirayuki…dan ternyata…

"WAAAAAAAKAKAKAKAKAKAKA-"

PLAKK

Ishida menggamparku karena tawaku terdengar menggelegar di ruang teater. "Jangan tertawa sekeras itu, Kurosaki! kau tidak tahu kalau di kanan, kiri, depan, dan belakang kita ini semuanya adalah fans Zangetsu!" Ishida memperingatkanku dengan berbisik-bisik. Aku menutup mulutku rapat-rapat agar bisa menahan tawaku. Untung saja lampu penonton dimatikan sehingga tidak ada yang tahu akulah yang tertawa keras tadi. Aku benar-benar tidak menyangka ternyata si anak sombong, sok cool, sok keren itu kini memerankan tokoh seorang gadis yang sangat cantik yaitu Shirayuki. Astaga…

"Mmmm…Ishida… apa kau tahu siapa yang jadi Shirayuki itu? dia cantik juga ya…" suara Grimmjow yang tidak tahu apa-apa. Rasanya aku ingin meledakkan tawaku sekarang juga tapi itu tidak memungkinkan, alhasil aku hanya bisa menutup mulutku rapat-rapat dengan telapak tanganku.

"Hehehe…pokoknya dia adalah seorang artis yang professional…" sahut Ishida.

Oke oke…aku akan terus menonton pertunjukan aneh ini, di mana sang pemain laki-laki memainkan tokok wanita….ehehehehe. Waduh…kasihan sekali Zangetsu terlihat sedang ditendang-tendang oleh beberapa wanita karena kecantikan Shirayuki, kulihat ekspresi para penonton….mereka terlihat sangat marah dan mengucapkan sumpah serapah pada orang-orang yang menjahati idolanya. Yah…kadang-kadang para fans melakukan hal-hal yang aneh untuk membela idolanya, padahal…pertunjukan ini kan cuma acting.

Kini sampai dengan kehadiran seorang pangeran yang sedang berburu…seorang pangeran yang diperankan oleh anak yang sepertinya seumuran dengan zangetsu, dia memakai pakaian dan jubah hitam lengkap dengan tudung penutup kepalanya. Awalnya…kupikir Zangetsulah yang akan memerankan tokoh pangeran itu tapi…

Sang pangerag memperlihatkan hasil tangkapan berburunya di depan kami semua kemudian dia membuka penutup kepalanya… terpandang olehku seraut wajah yang…aku reflex memajukan punggungku, melihat baik-baik sosok yang menjadi pengeran itu. Bisa kurasakan detak jantungku tiba-tiba terasa semakin keras.

Tiba-tiba saja efek suara dari balik panggung membuat aku dan semua penontong terkejut. Tiba-tiba saja sang beruang muncul hendak menyerang si pangeran itu dan si pengeran melawan dengan gesitnya hanya menggunakan ranting.

Semua penontong terlihat terpana dengan adegan itu, rasanya memang terlihat sungguhan tapi bukan itu yang membuat sesuatu yang luar biasa terjadi dalam diriku. Rasanya aku tidak bisa percaya dengan apa yang kulihat sekarang. Kulirik Ishida dan Grimmjow…mereka berdua terlihat seperti penonton yang lain…seperti tidak ada sesuatu yang lain. Apa…hanya aku yang mengira karena kelainan psikologis yang semakin parah tapi…aku sangat yakin dengan apa yang kulihat sekarang.

Aku tetap memilih diam dan terus menonton pertunjukkannya hingga kutahu pertunjukannya tidak lama lagi selesai karena sang pangeran sekarang kini bertarung dengan si roh penguasa hutan. Semua penontong berseru kaget ketika sang pangeran menebas tubuh si roh penguasa hutan, kelihatannya dia memang betul-betul seperti menebas betulan walaupun pastinya ada trik tapi adegan itu benar-benar terlihat sangat mengerikan. Ah…aku teringat dengan adegan terakhir cerita ini…tiba-tiba saja perutku terasa mual…rasanya aku tidak sanggup lagi melihat pertunjukkan ini.

"Ishida…ayo kita ke kantor dulu…" ajakku.

"Pergilah sendiri…aku mau lihat ini hingga selesai…" sahut Ishida sambil terus menatap ke arah panggung.

oOo

Gedung teater Chappy telah sepi rupanya. Semua penonton, beberapa kru dan pemain sudah pulang. Rukia, Urahara, Jinta dan Ururu kini berdiri di depan Gedung untuk menunggu mobil jemputan dari Tessai.

"Kuchiki-san…" sapa Zangetsu, Rukia menoleh ke belakang, Zangetsu kini sedang jalan bersama Kanonji menghampiri Rukia. "Yang tadi itu benar-benar keren…" puji Zangetsu dengan gaya cool-nya, "suatu saat nanti…aku harap kita bisa bekerja sama lagi…"

Rukia menggeleng. "Ini akan menjadi keterakhir kalinya aku bermain di panggung ataupun berakting…"

Zangetsu terlihat agak kecewa dengan ucapan Rukia barusan. "sayang sekali kalau begitu…" gumamnya.

"Jadi…apa kau akan pulang ke Senkaimon?" tanya Kanonji.

"Iya…mungkin…beberapa hari kemudian…" sahut Rukia.

Kemudian mobil mewah berwarna hitam milik Zangetsu tiba. "Kalau begitu… terima kasih ya, Kuchiki-san…" ucap Zangetsu, "senang sekali bisa bermain satu panggung denganmu…suatu saat…kuharap…kita bisa bertemu lagi…" Zangetsu lalu mengulurkan tangannya untuk mengajak Rukia berjabat tangan dan Rukia dengan senang hati menyambutnya.

"Sampai jumpa lagi ya, Kuchiki-san…semoga sukses selalu," kata Kanonji sambil berjabat tangan dengan Rukia.

"Terima kasih…" sahut Rukia.

"Sampai jumpa lagi, Urahara-san…" Kanonji mengajak Urahara berjabat tangan lalu ia dan Zangetsu menaiki mobilnya dan meninggalkan rombongan Urahara.

"Hei…Kuchiki-san…kau yakin tidak mau bermain akting atau semacamnya lagi? Ada banyak tawaran untuk bermain iklan loh…" Urahara memperlihatan beberapa kartu nama.

Rukia mendecak. "aku kan sudah bilang…aku mau melukis saja…" ucapnya.

Teeet Teeet

Suara Klakson dari mini bus yang dikendarai Tessai berbunyi. Jinta dan Ururu langsung berlari menuju mobil.

"Kuchiki-san ayo…" ajak Urahara.

"…Pulanglah duluan…aku mau mengunjungi kerabatku…mungkin aku akan menginap di rumahnya…" kata Rukia.

"…apa yang kau maksud itu…Mansion milik Byakuya Kuchiki?"

"Ha?" agak terkejut Rukia mendengar Urahara menyebut nama Byakuya.

"Ya ya… karena sepertinya kau banyak menyimpan rahasia…aku jadi cari tahu karena penasaran…" kata Urahara sambil mengibas-ngibaskan kipasnya.

"…kau…sudah tahu?"

"Ya…tapi aku tidak tahu kenapa kau malah kesasar di Senkaimon tapi…itu masalahmu, aku tidak mau terlalu tahu…" kata Urahara, "jaga dirimu baik-baik Kuchiki-san…oh, bukan…" Urahara lalu melepaskan topinya," tapi…" Urahara menaruh topinya di bawah dadanya dan menunduk, memberi hormat dengan style orang eropa, "…Kuchiki-sama… senang sekali bisa mengenal bangsawan seperti anda…"

"Astaga…kau tidak perlu bersikap seperti itu padaku…" Rukia nampak risih dengan sikap Urahara.

"Ini keharusan karena aku adalah keturunan dari pekerja setia seorang bangsawan …" Urahara kembali mengenakan topinya, "selamat tinggal…Kuchiki-sama," ucapnya sebelum beranjak.

Urahara lalu berjalan dan masuk dalam mobil.

"Kenapa Kuchiki-san malah diam di sana?" tanya Ururu dengan polosnya.

"Kita duluan saja…mungkin Kuchiki-san tidak akan pulang ke Senkaimon."

"Hah?" Ururu dan Jinta terperangah bersamaan. "…Sudah kuduga kalau Kuchiki-san itu selingkuhan om-om…" gumam Jinta.

oOo

Rukia's POV

Tuuuut Tuuuut Tut Tut Tut Tut…

Nomor lamanya masih aktif tapi kenapa dia tidak angkat-angkat ya?! Aku coba lagi…

Tuuuut Tuuuut Tuuuut Tuuuut Tut Tut Tut Tut…

Kenapa Renji tidak mengangkat telfonku apa dia sudah tidur? Aku menatap jam tanganku, memang ini sudah sangat malam. Tapi… masa iya dia tidak bangun karena mendengar suara telfonku, aku kan sudah mencoba menghubunginya sebanyak tiga puluh dua kali, atau mungkin dia silent-kan? aduh…bagaimana ini?

Aku lalu merapatkan jaketku, suhu malam ini benar-benar dingin. Aku menatap langit sebentar…tidak lama kemudian butiran salju mulai turun. Ini sudah benar-benar musim dingin rupanya. Tapi…bagaimana ini? aku masih berada di depan gedung Teater walaupun sebenarnya gedungnya belum tutup betul tapi…aku tidak mungkin terus berada di sini. tidak mungkin juga kalau aku ke rumah Urahara, mereka semua pasti sudah tidur. Ah…mending mala mini aku menginap di penginapan saja.

Aku memutuskan untuk menginap di penginapan saja malam ini, biar besok pagi aku coba hubungi Renji lagi. saat aku mulai melangkah…tiba-tiba saja ada tangan yang menutup mulutku dan melingkarkan tangannya ke pinggangku agar aku tidak bisa banyak bergerak. Si-siapa itu?!

oOo

Terlihat dua orang pria sedang membawa Rukia dan menyekapnya di dalam ruang ganti pemain. Ia mendudukkan Rukia di kursi, mengikat tangan dan kaki Rukia dan menutup mulut Rukia dengan lakban.

"Hei…kau serius melakukan ini?" tanya seorang pria berambut hitam berkacamata memperhatikan perilaku temannya.

"Tentu saja…" ucap pria satunya yang sedang sibuk mengikat kaki Rukia, "ini demi teman kita yang sangat malang itu…"

"….Tapi…apa itu tidak terlalu sadis…kasihan Kuchiki-san diperlakukan seperti ini…"

"Ck…kau menonton saja dengan tenang…yang penting ini akan berhasil," pria berambut biru itu lalu mengamati wajah Rukia, "ummmm…ternyata kau cantik juga ya…pantasan di jeruk itu tergila-gila denganmu…" ucapnya sambil menyunggingkan senyumnya, "ayo kita pergi!" serunya mengajak temannya.

"Hah? kita akan meninggalkan Kuchiki-san di sini sendirian?"

"Ck…tidak apa-apa, nanti juga dia didapat, koq…" lalu mereka berdua mematikan lampu dan meninggalkan Rukia sendiri di dalam ruang ganti kostum.

"Hei…tidak apa-apa kita meninggalkannya di sana…" si pria berambut hitam napak benar-benar khawatir.

"Jangan takut…nantinya si jeruk itu yang akan menemukannya…"

Lalu…dimanakah Ichigo sekarang?

Ichigo kini berada di ruangan ishida, sendirian sambil menggeledah file-file kontrak para pemain yang ikut dalam pertunjukan Shirayuki and The Chappy.

"Ini dia…" akhirnya ia menemukan lembaran-lembaran kontrak dan data identitas para pemain. Ia lalu membuka-bukanya, mencari identitas gadis yang memerankan tokoh pangeran. Saat memeriksa…ia menemukan lembaran data identitas gadis itu, di lembaran itu terpampang foto seorang gadis berambut pendek seleher. Walaupun ada sedikit perbedaan tapi Ichigo sangat yakin bahwa gadis itu adalah Rukia Kuchiki, ia pun mengecek data-nya.

Nama : Rukia Kuchiki

Usia : 16 tahun

Tempat/ tanggal lahir : Senkaimon, 14 januari

"Ternyata benar dia Rukia…" gumam Ichigo, "tapi…kenapa usianya di sini enam belas tahun…" Ichigo lalu mengembalikan file-file tu ke tempanya semula.

"…kenapa ishida tidak memberitahuku…apa dia juga tidak tahu?" gumam Ichigo sambil berpikir. Memang benar Ishida tidak tahu apa-apa karena semua urusan pemain lain selain Tenza Zangetsu, ia serahkan ke bawahannya sepenuhnya.

Tiba-tiba ponsel Ichigo berbunyi. Ia menatap siapa pemilik nomor yang kini memanggilnya tapi ternyata nomor tak dikenal. Tapi Ichigo tetap mengangkatnya.

"Halo?" sapanya.

"Segeralah ke ruang ganti kostum di gedung teater, kalau tidak kau akan menyesal seumur hidup!" Tut Tut Tut Tut… orang itu langsung menutup telfonnya.

"…apa sih ini?"

oOo

Ichigo's POV

Setelah aku menerima telfon misterius itu, aku langsung menuju ke gedung teater. Tapi, tunggu dulu…jangan-jangan…orang itu sedang mengerjaiku lagi…apa aku pulang saja ya? Ah, aku penasaran juga, kalaupun tidak ada sesuatu aku langsung pulang saja, gampang kan!

Gedung teater sudah sepi waktu aku memasukinya tapi lampunya masih terang benderang. Aku bertanya pada salah satu penjaga dimana letak ruang ganti kostum pemain.

"Kalau Tuan mau…saya bisa menemani Tuan…" penjaga itu menawarkan bantuannya.

"Tidak perlu," kataku, "aku cepat koq, cuma lihat sebentar…" lalu aku menuju ruang itu. Letaknya di belakang ruang teater tapi jalur ke sananya berbeda.

Ceklek…

Aku membuka pintu ruang itu. gelap sekali rupanya, aku lalu memasukkan sedikit kepalaku untuk melihat ada apa di dalam sana.

"Mmmmph…" aku kaget karena sepertinya ada seseorang di dalam sana.

Aku masuk ke dalam, kuraba-raba dinding untuk mencari sakelar lampu tapi aku tidak menemukannya juga. Waktu aku menoleh lagi lebih ke dalam, terlihat ada seseorang yang sedang duduk di depan jendela oleh sinar bulan. Akupun menghampiri orang itu dna melihat siapa gerangan.

Astaga…aku sangat terkejut melihat siapa orang itu. "Rukia!" seruku lalu cepat-cepat aku berlutut di hadapannya, sekarang aku menatap mata emethyst-nya yang terpancar oleh sinar rembulan, dia benar-benar Rukia…

Aku melepaskan lakban yang menutupi mulutnya. "Rukia…" gumamku sambil terus menatapnya dan itu agak lama berlangsung lalu perlahan-lahan aku mulai memeluknya.

"…lepaskan tangan dan kakiku dulu, Ichigo…"

Astaga, aku lupa kalau Rukia sedang dalam keadaan terikat! Cepat-cepat kubuka ikatannya. Dan sewaktu ikatannya telah kulepas…

PLAKK PLAKK PLAKK DUAAG

"Aaaaaaooooww…huhu…kenapa kau memukulku, Rukia?!" teriakku meringis setelah Rukia mendorongku.

Rukia lalu berdiri dan membuang jauh-jauh tali yang tadi mengikatnya. "Dua orang laki-laki itu temanmu, kan?" geramnya, "Oh…ya…kau yang merencanakan ini semua…tega sekali kau!"

"Hei hei…siapa yang punya teman? dan rencana apa?" timpalku tidak terima semua tuduhannya.

"Kau pikir aku tidak tahu! Walaupun aku tidak begitu mengenalnya tapi aku tahu mereka itu temanmu, Ishida dan…aku tidak tahu namanya si rambut biru itu."

"Ishida dan Grimmjow?" seruku terperangah.

"Ya…mungkin benar tapi salah satunya adalah Ishida!" sahut Rukia, "Ck…kau tidak perlu pura-pura sok tidak tahu, aku tahu ini pasti rencanamu, kan?! tega sekali kau mengurungku di sini sendirian, bergelap-gelap, kau tidak tahu kalau di sini sangat banyak nyamuk!" Rukia terus saja mengomel-ngomel. "Ah…sudahlah…aku mau pergi dulu…bye…" Rukia kini berjalan menuju pintu dan memegang gagang pintu. Gawat!

Aku lalu cepat-cepat bangkit dan ketika pintu terbuka sedikit dengan cepat kutekan bagian atas pintu agar kembali tertutup. Rukia nampak kaget tapi aku tidak peduli. Ia lalu berbalik ke arahku sambil mendengus marah.

"Apa yang ka-" tanpa babibu lagi aku langsung memeluknya begitu ia berhadapan denganku. Aku tahu ia sangat terkejut dengan sikapku ini, tapi…aku tidak bisa lagi menahan rasa rinduku yang begitu lama.

"Ichigo…kau ini kenapa? Lepaskan aku!" Rukia mencoba memberontak.

"Tidak akan…" ucapku, "tidak akan kulepaskan!"

"…Ichigo…lepaskan…"

"Sudah kubilang tidak akan kulepaskan!" sahutku lantang, "tiga tahun lebih aku menunggumu…tidak akan semudah itu kulepaskan!"

"Lepaskan aku, Bodoh…" geramnya, "kalau tidak…aku akan teriak…TOLONG! TOLONG!" Rukia benar-benar berteriak, "TOLONG! TOLONG!"

"Hei…diamlah Rukia…"

"TO-hhmmmpph…" aku menutup mulut Rukia dengan tanganku.

DUAAG.

Seseorang dari luar sepertinya menendang pintu sehingga aku dan Rukia terlempar ke lantai.

"Aduh…"

"Ru…Rukia kau tidak apa-apa?" aku mencemaskan Rukia karena tadi punggungnya terbentur oleh gagang pintu dan itu pasti sangat sakit.

"Sedang apa kalian?!" teriak dua orang penjaga bertubuh besar, "berani-beraninya kalian melakukan perbuatan mesum di-"

"Hei Hei siapa yang berani-beraninya? kau tidak tahu aku ini siapa, hah?!" sergahku. Enak saja mereka meneriaki majikannya!.

"Astaga…Kurosaki-dono! Maafkan kami, Tuan!" seru mereka ketakutan ketika mengenaliku, "kami tidak tahu…baiklah, kami permisi dulu," dan kedua penjaga itu langsung ngacir.

"Dasar mereka…tidak mengerti kalau orang lagi pacaran…"

"Siapa yang lagi pacaran?!" Rukia mendorongku dengan keras lalu cepat-cepat berdiri. "sembarangan saja bicara…" gumamnya lalu keluar dari ruangan.

Rukia pergi…tidak boleh, pokoknya aku tidak akan membiarkannya pergi lagi. aku cepat-cepat berdiri dan keluar dari ruangan ini untuk menyusulnya.

Rukia's POV

Dasar si jeruk itu…bisa-bisanya dia melakukan ini padaku, menyuruh temannya untuk menyekapku di ruangan yang banyak nyamuk…tidak bisa kumaafkan dia. aku kini berada di depan pintu utama, bagaimana ini? aku ingin menginap di tempatnya renji tapi sepertinya renji sudah tidur atau….kuhubungi saja dia ya…

Aku mengambil ponselku saat aku hendak mencari-cari nomor renji tiba-tiba…seseorang yang tidak lain adalah Ichigo memelukku erat dari belakang.

"jangan pergi rukia…"

"Ichigo…kau ini kenapa…lepaskan aku!" pintaku sambil mencoba memberontak.

"pokoknya aku tidak mau lepaskan, Rukia…aku tidak mau…" Ichigo tetap bersikukuh, "kumohon jangan pergi Rukia…aku…tidak bisa kalau kau pergi lagi…" aku bisa merasakan kesedihan dari suara Ichigo, "Rukia…kumohon…"

"…Ichigo…"

Akhirnya pelukan Ichigo melonggar, aku lalu berbalik menghadap Ichigo, menatap mata Ichigo. Ichigo menatapku sendu penuh permohonan. Aku tidak tahan melihat Ichigo seperti ini, tapi…jika kuingat-ingat masa lalu…rasanya… ah, aku menunduk, hatiku jadi gundah karena aku sudah memutuskan untuk tidak akan kembali lagi.

"Rukia…" Ichigo lalu menyentuh lembut pipiku dan mengangkatnya untuk tetap menatapnya, "…aku mencintaimu Rukia…sangat mencintaimu…jadi…jangan pergi lagi Rukia…"

"…Ichigo…" perlahan-lahan Ichigo memelukku, aku tidak bisa melawan lagi…Ichigo membuatku luluh dan hatikupun sebenarnya tidak ingin meninggalkannya. Aku membalas pelukan Ichigo dan rasanya…aku tidak ingin melepaskan kehangatan ini. Ichigo…aku juga mencintaimu…sangat…

Kami berpelukan dengan sangat erat, melepas kerinduan yang telah lama. Kurasakan Ichigo membelai lembut rambutku. Tiba-tiba…ponselku berbunyi, kamipun melepaskan pelukan kami. aku lalu mengambil ponselku dan melihat siapa gerangan…

"Renji!" seruku lalu hendak cepat-cepat menerima panggilan telponnya tapi Ichigo malah merebut ponselku dan dia yang menerima panggilan Renji.

"Halo, kau mengganggu saja, lebih baik kau lanjutkan tidurmu oke, bye!" Ichigo lalu menutupnya.

"Ichigo…itu Renji!" seruku memberitahu Ichigo.

"Terus kenapa?"

"Dari tadi aku memang ingin bicara dengannya…kenapa kau malah merebut ponselku?"

"Dia mengganggu sih…"

Ponselku berbunyi lagi dan kali ini Ichigo langsung mematikan ponselku lalu melemparnya ke luar, bisa kudengar ponselku yang tertimpa aspal hancur berkeping-keping. Aku shock menatap Ichigo yang terlihat biasa-biasa saja setelah melempar ponselku.

"Ichigo, kenapa kau malah melempar ponselku?" teriakku frustasi.

"Tidak apa-apa Rukia…kan bisa beli yang baru," sahutnya seenak jidat, "setelah kau menikah denganku…aku akan menggantikannya dengan yang lebih baik."

"…asal bukan ponsel jadul saja…" gumamku.

Ichigo's POV

Hehehehe…akhirnya Rukia akan tetap bersamaku, jika aku berada di tengah-tengah lapangan sendirian mungkin aku akan salto beberapa kali. Hehehehe…senangnya hatikuuuuu riang dan bahagiaaaa.

"Kenapa kau senyum-senyum terus daritadi, Ichigo?" suara Rukia menyadarkan aku dari lamunanku. Aku melirik Rukia, ia sedang menatapku aneh….aku lalu mencoba bersikap cool…ah…aku teringat sesuatu…ada hal yang ingin aku tanyakan pada Rukia.

"Hei Rukia…kenapa kau menulis di biodatamu kalau usiamu masih enam belas tahun?"

Rukia terdiam, ia nampak sedang berpikir. "i…itu…bukan aku yang membuat biodata itu, Ichigo…"

"Bahaya sekali kau ini Rukia…kau bisa saja diadili karena dianggap menipu…"

Rukia terlihat takut-takut menatapku, "apa kau akan melaporkanku?"

"Tentu saja tidak!" seruku, "masa aku melaporkan calon istriku sendiri!"

Wajah Rukia terlihat memerah…hehehehe…dia pasti malu karena aku menagatainya calon istri, tapi…wajah Rukia yang seperti ini jadi semakin menggemaskan. Astaga…aku teringat akan hal satu lagi.

"Rukia…jangan-jangan gadis bernama Rukiyem Urahara itu adalah kau…"

"Menurutmu?"

"astaga…ternyata dia benar-benar kamu…" aku merasa bodoh sendiri dan menyesal kenapa aku tidak menyadari waktu itu. "dan gadis yang ditemui bersama si anak ingusan itu…juga kau?"

"Siapa lagi?"

Benar-benar aku ini bodoh, kenapa aku tidak menyadarinya?! Ah ya…aku jadi teringat akan satu hal lagi dan ini bisa membuatku depresi.

"Rukia…" panggilku, "jadi…tadi…kau berciuman dengan si anak sombong itu?" aku sebenarnya tidak ingin menanyakan hal ini tapi…

"Emmm…begitulah kira-kira…"

"…Rukia…" aku menatapnya frustasi. Sialan si ingusan itu…aku saja belum pernah mencium bibir Rukia eh…dia sudah menyentuhnya, sialan!

"…tapi bohongan…"

"maksudmu?"

"tidak ada cerita cium-ciuman karena aku sendiri yang memintanya…"

"Benarkah itu Rukia?" aku jadi senang dan gembira plus bahagia mendengar ucapan Rukia barusan.

"Tentu saja…itu kan cerita anak-anak, mana bisa ada adegan seperti itu…"

Terima kasih Tuhan…Rukiaku belum pernah disentuh-sentuh…asyik-asyik.

"Oh ya, Rukia…jadi…kau akan tinggal dimana malam ini?" tanyaku.

"Emmm…sebenarnya aku ingin bermalam di rumah Renji tapi kau sudah merusakkan ponselku…"

"Kenapa juga kau ingin bermalam di rumah Renji?!" geramku.

"Ya…habis…dimana lagi…Urahara dan lain sudah pulang…jadi…mungkin aku akan menginap di hotel malam ini…"

"Bagaimana kalau kau menginap saja di rumahku malam ini?" tawarku.

Rukia melah menatapku dengan alis mengerut, "bukannya di rumahmu cuma ada tiga kamar…"

"Oh iya ya…" gumamku, "Ah…bagaimana kalau kau menginap di apartemenku malam ini…kita bisa tinggal bersama Rukia…"

Rukia malah cemberut menatapku. "aku ini masih gadis Ichigo…"

Cih…dia bilang dia masih gadis tapi tadi dia ingin menginap di rumah Renji…apa-apaan ini?

"Aku menginap di hotel saja…"

Ya sudahlah…asalkan Rukia tidak pergi meninggalkanku lagi.

"Rukia…" aku menggenggam kedua tangan Rukia… "terima kasih karena kau kembali, besok kita akan bertemu dengan ayahku dan juga Byakuya untuk membicarakan pernikahan kita…aku ingin pernikahan kita cepat-cepat dilaksanakan Rukia…"

Wajah Rukia kembali memerah, tersipu malu…aduh…Rukia cantik sekali sih…

"ummmm…Rukia ada yang ingin aku lakukan…" kataku.

"Apa?"

"emmmm…kau diam ya…" aku lalu mendekatkan wajahku ke wajah Rukia. tiga puluh senti…dua puluh senti…sepuluh senti…lima senti…

PLAKK

"…kenapa kau menamparku Rukia…?" jeritku meringis sambil memegang pipiku yang terkena tamparan maut Rukia.

"…ada nyamuk di pipimu, Ichigo…"

Aku kembali berdiri sigap di depan Rukia. "Tapi, sekarang sudah tidak ada kan?" tanpa babibubebo aku langsung menarik Rukia dan mencium bibirnya, tidak peduli terkejutnya Rukia. Kalau dipikir-pikir…ini pertama kalinya aku menciumi bibir Rukia…bibir lembutnya…hehehehe…hehehehe…

Setelah aku melepas ciumanku, Rukia malah mengusap bibirnya dengan punggung tangannya. "Tidak sopan sekali caramu mencium seorang gadis, Ichigo…" gerutunya.

"Bodo amat!"

.

.

.

Ichigo's POV

Tiga tahun kemudian…

"Ichigo…jaga mereka!" teriak Rukia ketika pasangan kembar berambut hitam, anak kami, Ichiryu dan Ichirin berlari begitu turun dari mobil.

"Hei hei kalian jangan lari terlalu jauh!" teriakku pada si kembar itu, tapi namanya juga anak-anak ya…tetap saja mereka melakukan hal yang ingin mereka lakukan.

"OOOOOWEEEEEEE" nah…si Kensha yang masih berusia empat bulan, berambut serupa denganku menangis lagi.

"usssssssssh" Rukia menimang-nimang Kensha berusaha agar diam.

"Ichigoooo" ah…ini suara si tua Bangka ayah. Ia bersama Yuzu dan Karin menghampiri kami.

"Apa kabar, Ayah…" Rukia membungkuk memberi hormat ke ayahku.

"Seperti biasa Rukia, ayah selalu baik-baik saja apalagi…cucuku bertambah lagi…nang ning ning nang ning nung…" ayah mengoyang-goyangkan tangan si Kensha, "eh, di mana kedua cucuku si kembar?" tanya ayah kemudian.

"Tuh…" sahutku sambil menunjuk si kembar yang sedang bermain kejar-kejaran.

Ayah lalu berjalan mendekati si kembar. "Come to Grandpa…beri kakek pelukan cucu-cucuku…" seru ayah pada si kembar Ichi. Bukannya mereka memeluk ayah, mereka malah melempari ayah dengan rumput-rumput kering. Hahaa…kasihan sekali ayah.

"Kensha semakin lucu saja ya…" kata Yuzu, ia dan karin mengerumuni Rukia untuk bermain bersama Kensha.

"Rukia…" suara Byakuya, "bukannya kau tidak akan datang?" tanyanya sambil menghampiri kami.

"Oh…Nii-sama…" sahut Rukia, "iya Nii-sama…aku tidak enak membiarkan Ichigo pergi sendiri jadi aku dan anak-anak juga ikut, Nii-sama…sepertinya Kensha ingin digendong oleh Nii-sama…" Rukia lalu menyerahkan Kensha ke Byakuya.

Byakuya menatap Kensha yang telah ada digendongannya. "Kensha benar-benar sangat mirip Kurosaki ya…"

Huh…tentu saja…anakku juga! Walau terlihat dingin Byakuya terlihat senang menatap keponakannya itu, hehehehe…siapa dulu donk yang punya anak.

"Kurosaki…" ini suara Inoue, ia sedang berjalan sambil melambaikan tangan ke arahku bersama Ishida…ya, Ishida. Mereka sudah menikah setahun yang lalu dan kini Inoue sedang hamil tua. Oh ya…suami pertama Inoue yang bernama Ulquiorra telah wafat tidak lama ketika aku menemuinya di rumah sakit, ingatkan? Dan ternyata…diam-diam Ishida sering mengunjungi Inoue dan menemaninya. Jadilah mereka kembali bersama. "Kuchiki…" Inoue berdiri di samping Rukia.

Rukia menatap perut buncit Inoue. "Inoue…kapan kau melahirkan?"

"emmmm…perkiraan dokter sih pertengahan bulan depan…"

"Oh ya… Kurosaki, dimana si kembar Ichi?" tanya Ishida.

"Tuh…" sahutku sambil menunjuk si kembar yang kini asyik melempari ayah dengan tanah. Ishida sewatdrop melihat pemandangan itu.

"Ichigoooooo~" ini suara Renji, dia datang sendirian karena dia belum punya pasangan. "Ah…si jeruk junior!" pekiknya ketika melihat Kensha yang ditimang oleh Byakuya.

"OOOOOOWEEEEEEEEE"

"Hei hei…gara-gara kau Kensha menangis lagi!" geramku pada Renji.

"Tidak apa-apa Ichigo…menangis itu baik untuk bayi…itu salah-satu olahraga bayi…" kata Renji.

"Olahraga kepalamu!" celutukku.

"Apa kata Abarai itu benar Kurosaki..menangis itu membuat bayi semakin kuat…" suara Byakuya. Cih…aku tidak tahu hal itu.

"Rukia!" seru Renji tiba-tiba, "coba aku lihat kau dari samping…" Renji lalu melihat postur tubuh Rukia dari samping, "…jangan-jangan…kau hamil lagi Rukia…"

"Hehehehe…iyya…koq tawu? Aku memang sedang hamil dua bulan…dan sepertinya…ini baru perasaanku ya karena belum pasti…sepertinya kandunganku ini akan kembar…"

"Apa?!" teriak Byakuya, Ishida, Renji, Inoue, Yuzu dan Karin serempak.

"Apa tadi aku dengar?!" nah…ini ayah yang teriak, "Rukia hamil lagi?!"

"Hehehehe…iya ayah…" sahut Rukia cengengesan.

Ayah lalu berdiri di depan poster ibuku yang entah darimana asalnya. "hikz hikz…Misaki…ternyata anak kita sangat jantan…bahkan lebih jantan dariku…aku terharu…"

Kami semua menatap ayah dengan tatapan aneh.

"Kurosaki…kenapa Rukia bisa hamil lagi? belum lama Rukia melahirkan kau sudah membuatnya hamil lagi...kau tidak pikir susahnya Rukia melahirkan!" Byakuya berprotes ria tapi aku tidak peduli.

"Aku senang koq melahirkan terus Nii-sama…" ujar Rukia.

"Hah? kau tidak trauma melahirkan Rukia…apalagi kemungkinan kandunganmu kembar lagi?" Byakuya malah mencemaskan Rukia.

"Aku malah senang karena anakku akan bertambah lagi…" ucap Rukia.

Bagus Rukia…akupun senang punya banyak anak, kalau bisa kita akan membuat kesebelasan…hahahahaha…

Kami lalu masuk ke mesjid…hehehehe…ini bukan untuk beribadah atau apa ya. Tapi kami sedang menghadiri akad nikah Grimmjow, temanku yang menyebalkan itu. dia akan menikah… hehehehe bersama gadis yang ia temui di Dangai bernama Bambietta, ia adalah gadis yang sangat tengil dan cerewet…tak kusangka ternyata Grimmjow menyukai gadis tipe seperti itu…scara ya…Grimmjow tipe pria yang jarang menjalin hubungan dengan seorang perempuan.

"Aku terima nikahnya Bambietta binti blalalala…"

Aku menggenggam tangan Rukia, aku jadi teringat saat aku menikah dengannya…yah…itu pasti yang dirasakan oleh Grimmjow sekarang…bahagia pastinya.

"HALOHA MAHALO!" seru seseorang yang ternyata adalah…Senna! Senna yang memakai pakaian hula-hula khas Hawai. Akhirnya dia pulang ke Karakura bersama dengan kekasihnya yang merupakan konglomerat yang berasal dari Hawai…

.

.

.

The End

.

.

.

Demikianlah dari akhir cerita gaje Juzie...maafkan klo mengecewakan ya...hehehehehe...btw ini bersamaan dengan trebitnya fic baru juzie berjudul friend of virtual world, fanfic Ichiruki gitu loh...(ga tw kenapa ichiruki lagi -_-' hehehehe...#promosi mode on*

buat teman-teman readers yang tetap setia membaca fic ini, terima kasih ya semua...berkat dukungan dari kalian Juzie tetap semangat buat fic ini...

15 Hendrik Widyawati hehehe...itu bukan Rukia tapi zangetsu yang jadi sirayuki...ga tau kenapa bisa, Juzie jadi pengen jadiaan zangetsu jadi sirayuki...

Gilang363 hehehehe...bahkan hurtnya ga kerasa bgt sebenarnya...ini udah end ya...selamat membaca^^

Suu Hehee...maafkan Juzie Suu karena lama bgt apdetnya...ini udah apdet ya...chap trakhir...akhirnya ichiruki bersatu kembali hehehehehe

Snow Ehehehehehe...yg itu bukan rukia ternyata...tapi zangetsu...-_-' maafkan klo jadi aneh bgt, emang juzie orangnya aneh...