I Love You.. Goodbye
.
.
Hai, maaf atas Chapter 2 yang terlalu pendek yaaa... jadi sebagai permintaan maaf karena chapter 2 yang terlalu pendek dan kurang memuaskan, Silver fast update dengan langsung mempublish chapter 2 bagian B, jadi anggap saja yang tadi itu chapter 2A nya.. dan.. selamat membacaa..
.
.
\
.
Previous Chapter 2A
Sehun menjambak rambut Jessica kasar membuat Jessica meringis pelan "Kau tak berhak bertanya! Puas kan aku sekarang juga!" bentak nya membuat Jessica menggigit bibir bawahnya pelan, matanya terasa panas.
"Ta- tapi aku.. sedang ha- mil Hun- ah" lirih Jessica gugup.
Sehun menyeringai setan dan merendahkan tubuhnya, dia mengarahkan mulutnya ke telinga Jessica "Kau pikir aku perduli huh?!" desis nya tajam.
Tepat saat Sehun mencium nya kasar yang sarat sekali akan nafsu, Jessica tahu tidak ada cinta disana, setetes air mata pun jatuh dari pelupuk mata Jessica, dia pasrah, sekali lagi, Jessica memasrahkan segala nya untuk suami nya tercinta, walaupun dirinya harus menderita dan merasakan sakit.
"Aku mencintai mu Sehun- ah" bisik Jessica pelan yang sekali lagi dihiraukan oleh Sehun, dan Jessica, sekali lagi hanya bisa tersenyum, menahan sakit atas semua yang sudah Sehun lakukan padanya.
Jessica.. hanya terlalu mencintai Sehun.. suaminya tercinta.
.
.
.
.
Chapter 2B
.
.
Jessica bangun pukul 6.00 pagi, dia mendongak, menatap suami nya sedih, memori percintaan mereka semalam sangat membekas bagi Jessica, bagaimana Sehun yang selalu lembut padanya memperlakukannya dengan kasar, bahkan sangat kasar, Jessica hanya dapat berharap kalau anaknya baik- baik saja.
Jessica menyingkap selimut yang menutupi tubuh polos nya, memunguti pakaian nya yang di lempar Sehun serampangan selamam dan melangkahkan kaki nya kedalam kamar mandi dengan langkah tertatih. Jessica fikir dia butuh mandi dan menyegarkan fikiran nya yang terasa sangat kacau sejak semalam.
Sehun mengerjapkan matanya pelan saat merasakan cahaya yang masuk kedalam kamarnya terasa sedikit berlebihan. Dia mengalihkan pandangan nya pada sisi kasur sebelahnya. Kosong. Matanya melikirik jam digital yang ada di nakas menunjukkan pukul 8.30, well.. Sehun rasa dirinya terlalu lelah untuk ke kantor hari ini.
Dengan malas, Sehun meraih handphone nya yang ada diatas nakas dan mulai mengubungi seseorang.
"Hallo? Selamat pagi direktur Oh" sapa suara di sebrang yang merupakan sekretarinya.
"Ya pagi. Tiff, tolong kau urus perusahaan hari ini, batalkan saja semua jadwal ku, karena kurasa aku takkan masuk hari ini"
"Ada apa direktur? Apa anda sakit?" tanya Tiffany, terdengar khawatir.
"Hmm, kurasa begitu, tolong ya, kalau direktur Kim datang mencariku, bilang saja dia bisa langsung kerumah ku"
"Baik, direktur Oh. Semoga anda cepat sembuh, selamat beristirahat"
"Hm.. terimakasih"
Pipp
Sehun melempar asal ponsel nya kesisi lain kasur, tangannya memijit pelipisnya pelan, sialan, dia benar- benar pusing sekali. Belum lagi bau bekas percintaan nya semalam yang membuatnya mual. Sialan, bagaimana bisa dia meniduri istrinya disaat seperti itu? Lagipula kemana Jessica? Kenapa rumah terasa sepi sekali?!
Sehun menyingkap selimutnya pelan dan memakai boxer nya yang ada di atas sofa lalu melangkah dengan tergesa menuju kamar mandi, dia rasa dia akan mengeluarkan isi perutnya sekarang.
"Hoek.. hoek.."
Jessica yang baru masuk mara hendak membangunkan suami nya terkejut saat mendengar suara orang muntah dari dalam kamar mandi, segera saja Jessica masuk kedalam kamar mandi dan menatap khawatir pada suaminya yang sedang memuntah kan isi perutnya di kloset, sungguh! Mereka terlihat menyedihkan.
"Sehun- ah, kau baik- baik saja?" panik Jessica.
Sehun menepis tangan Jessica yang memegang tengkuk nya "Aku tidak baik- baik saja, apa kau tak bisa melihatnya?! Kenapa masih bertanya?! Hoek.."
Jessica menggigit bibir bawahnya menahan tangis "Apa kau mabuk semalam?"
Sehun mencuci mulut nya dan mengelap mulutnya dengan handuk kecil saat acara muntah nya selesai, dia melempar handuk itu secara asal kepada Jessica "Apakah itu penting?!" ketus Sehun.
"Tentu itu penting Sehun- ah, aku istri mu! Aku mengkhawatirkan mu" lirih Jessica.
"Simpan saja khawatir mu untuk anak sialan mu itu, aku tidak butuh!"
Jessica melempar handuk yang ada di tangannya kearah Sehun membuat Sehun terlonjak, Sehun menatap mata Jessica yang juga menatap kearah nya, iris Jessica berpendar kecewa, Sehun tau itu, tapi dia mencoba untuk tidak perduli.
"Masihkah kau mencintaiku Sehun? Masihkah kau mengangggap pernikahan ini berarti? Masihkah kau menganggap aku istri ku? Demi Tuhan Sehun, kau berubah bagaikan iblis dalam hidupku, aku bahkan hampir tak mengenal mu! Kenapa Sehun? Kenapa? Kenapa kau sangat membenci anak kita? Dia anak kandung mu Sehun- ah, bukan anak haram! Kenapa kau sangat ingin membunuhnya? Kenapa kau membuat anak ini tumbuh di dalam perut ku kalau kau memang tak meminginkannya? Aku mencintai mu Sehun, sungguh, dan suatu kehormatan bagiku bisa mengandung anak mu, anak kita. Tapi seperti nya kau tak pernah melihat kebahagian ku saat mengandung anak ini. Sehun, aku cukup sabar selama 7 bulan ini semenjak aku hamil, aku hanya tersenyum saat kau tidak memperdulikan ku, aku hanya menangis saat kau membuat ku membuang- buang makanan, aku hanya tersenyum sambil mengusap perut ku saat kau menghina putra ku, putra kita. Demi Tuhan Sehun, aku ikhlas dan berlapang dada kalau kau membenci dan menghina bahkan tidak memperdulikan aku lagi, tapi aku mohon dengan segenap hati ku, jangan kau biar kan anak kita merasakan apa yang aku rasakan. Berikanlah ia cinta layaknya seorang ayah. Dia hanya sebuah janin yang tak berdosa, sebuah janin yang tumbuh karena ada ayah dan ibunya. Setidaknya kau melihat kearah situ, aku tak pernah mengemis perhatian mu, aku tak pernah mengemis kasih sayang dan cinta mu, tapi demi anak ini aku rela mengemis semuanya, bahkan jika aku harus bersujud di kaki mu Sehun, aku mohon, jangan kau hina anakku. Kau sudah terlalu sering menyakiti ku, tolong.. jangan kau sakiti anakku juga.. anak kita.. hisk" luap Jessica, mungkin inilah batas nya, batas kesabarannya dalam menghadapi Sehun, dia tak permasalahkan kalau Sehun menyakitinya, tapi mendengar Sehun menghina anak nya, Jessica sungguh tak bisa menahan rasa sakit hatinya lagi, Sehun benar- benar seperti orang yang tak dikenalnya.
Sehun terdiam mendengarkan semua perkataan Jessica, melihat Jessica begitu menderita membuatnya sakit, tapi.. "Jess, aku tak akan menyakitimu kalau saja kau mau menuruti perkataan ku, apa susah nya menggugurkan anak itu? Dia juga tak mengenal kita, lagi pula aku sudah cukup bahagia dengan mu dulu, aku tak membutuhkan anak"
"Manusia macam apa kau yang tega menyuruh istri mu menjadi pembunuh?! Manusia macam apa kau yang tega membunuh anak mu sendiri. Aku bersumpah Sehun, sampai aku mati pun , aku tak akan menggugurkan nya, maaf jika selama ini aku mengganggu hidup mu dan merusak kebahagiaan mu dengan hadirnya anak kita, aku.. mencintaimu.." lirih Jessica dan melangkah menuju pintu kamar "Kalau kau ingin sarapan, aku sudah membuat kan soup rumput laut untuk mu, makan lah selagi masih hangat.." ujar Jessica tulus dengan senyum anggun nya membuat Sehun terpaku, tangannya mengepal erat.
"Aku bersumpah akan membunuh anak itu jika dia sudah lahir nanti!"
.
.
.
To be continued..
.
.
Makasih buat yang mau baca dan meninggalkan komentar, sampai bertemu di chapter 3 ya, itu pun kalau Silver masih berniat melanjutkan FF ini, hehe.. *bow*
