KnB (c) Fujimaki Tadatoshi

Tidak ada niatan untuk mem-bash karakter maupun agama manapun dalam cerita ini.

Yosh, chapter kali ini khusus tentang Kaijo, ehm lebih tepatnya Kise. Padahal niat bikin drabble, tapi pas diketik jadinya panjang gini, haha. Ohya, ceritanya lebih ooc dan gaje dari kemarin lho, semoga kalian tahan bacanya ya xD Cerita ini 100% ngawur, jadi bacanya jangan pake logika oke? ;;)

Enjoy~


Di bawah teriknya sinar mentari, seorang pemuda bersurai kuning berjalan dengan 5L—letih, lesu, letoy, lunglay, dan lapar. Wajahnya kusut, kepalanya pening. Bukan, bukan karena puasa. Penyebabnya adalah; para senpai menyuruhnya belanja bahan keperluan untuk acara buka bersama di rumah Moriyama nanti. Tentu, selaku anak yang baik dan tampan, Kise tak akan keberatan untuk membantu—hitung-hitung menambah amal. Tapi masalahnya adalah—

Daftar Belanja

1. Cincau bentuk segitiga

2. Dawet warna ungu

3. Jeruk bali sebesar bola basket (note: ukurannya harus sama persis!)

4. Daging biawak jantan

5. Sirup rasa telur kura-kura

6. Waswiswusweswoe asdgkghk

—Dan masih banyak bahan lainnya yang telalu absurd sampai-sampai Kise tak kuat membacanya. Tentu sang ace tim Kaijo sempat melayangkan protes perihal daftar belanja yang begitu amburegul ameseyu itu, akan tetapi ("Dengar, kalau kau tak berhasil mendapatkan bahan-bahan tersebut—kuberi hadiah keliling lapangan seratus kali. Mau mati dehidrasi sewaktu puasa?")—perintah Kasamatsu-senpai begitu mutlak, sampai-sampai Kise berpikir kalau jiwa seniornya itu tertukar dengan milik mantan kaptennya sewaktu SMP.

("Hatsyiiim!—seorang pemuda berambut merah tertentu bersin. "Pasti ada yang memikirkanku.")

Saking lelahnya—Kise mulai ngaco.

Pemuda berusia 16 tahun itu sempat memikirkan untuk menyerah dan menjalani hukuman lari seratus keliling daripada harus melaksanakan tugas kelewat mulia ini. Biarlah ia meninggal—dia malah ikhlas bila nyawanya dicabut kala bulan suci Ramadhan. Tapi kemudian ia teringat akan berbagai cita-citanya yang belum terealisasikan, di antaranya; menikah dan punya anak dua. Oh sungguh indah sekali.

Saat tengah menggerutu panjang-pendek sambil menyeret langkah, tiba-tiba—

"Kise-kun~!"—Gerombolan fangirls datang dan dalam waktu singkat ia sudah dikerubungi para gadis.

Kise agak kelimpungan, berusaha menjaga jarak. "Eh—ini bulan puasa jadi jangan pegang-pegang aku, ssu. Bukan muhrim."

"Tapi, aku ingin foto sambil gandengan~"

Kise menghela napas. Di tengah pergolakan, sebuah ide tiba-tiba muncul—memberi penerangan bagi sang pemuda.

"Dengar, ssu!" Kise berteriak lantang sambil mengacungkan daftar belanja terkutuk itu ke udara. "Aku ingin minta tolong kalian untuk—"

Ucapan Kise terhenti kala ia menyadari gelagat aneh dari para gadis itu. Mereka beringsut mundur sambil menutupi hidung, dan kemudian—

"Ka-kami pamit dulu ya, Kise-kun!" –Semuanya meninggalkan Kise seorang diri.

Eh? Ada apa dengan tatapan aneh itu? Jangan-jangan—

Kise menaruh telapak tangannya ke depan mulut. "Haaah~" Dia membaui napasnya sendiri.

Dan setelah itu dia pingsan.

.

Kise tambah pundung. "Gawat, image-ku hancur, ssu…"

Citranya sebagai pangeran yang senantiasa tampan dan awesome hancur karena sebuah bencana bernama bau naga.

Sang pemuda ber-piercing merengsek ke distrik perbelanjaan dalam kondisi mental breaking down stadium satu.

Sejurus kemudian, ia mengacungkan tinjunya ke udara. "Oke, aku tidak boleh sedih lagi, ssu! Sekarang aku punya tugas penting!" teriaknya sambil menatap daftar belanjaan penuh determinasi. Kobaran api semangat meliputinya—khas hero shounen manga yang akan memulai petualangan.

Sekarang, bagaimana dia harus mendapatkan bahan antah berantah ini?

Pertama dia memasuki toko daging. Seorang penjaga toko berwujud wanita setengah baya bertubuh gempal menyambutnya, dengan senyum bisnis terpampang di wajah.

Kise bertanya, "Bi, ada daging biawak jantan nggak?"

"…"

Si penjual terbengong. Ganteng-ganteng kok edhan—mungkin begitu pikirnya.

Namun di luar dugaan, bibi itu malah menjawab, "Duh, Bibi nggak jual itu. Tapi Bibi punya stok di kulkas, untuk konsumsi pribadi. Kalo Adek beneran mau, Bibi kasih sebagian, ya?"

"Ma-mau Bi!" seru Kise, antara takjub dan merasa terselamatkan.

"Oke tunggu sebentar." Wanita itu pun berlalu memasuki rumahnya, dan tak lama kemudian sebuah kantong kresek hitam ala pembagian daging qurban disodorkan ke Kise.

Kise mengintip isi dalam kantong itu, bahkan sempat mengendus . Sejurus kemudian ia tersenyum puas. "Ya. Ini beneran daging biawak," ujarnya penuh keyakinan.

(—Tunggu, dari mana Kise bisa tahu kalau itu daging biawak asli?)

"Berapa harganya?"

"Duh, nggak usah bayar. Bibi kasih aja—kan bulan puasa kita harus saling berbagi," ujar bibi penjual sambil tersenyum tulus.

Kise tertegun. Seketika, cahaya surgawi menyorot entah dari mana dan wanita paruh baya di hadapannya berubah menjadi bidadari jatuh dari surga pas di hatiku eaa.

"Terima kasih banyak Bi! Semoga Bibi tambah cantik!" Kise berseru girang sembari menggenggam kedua tangan sang malaikat, dan hampir saja ia memberi hadiah berupa kecupan di pipi. Untung ia ingat kalau hal tersebut akan mengurangi pahalanya.

"Sama-sama."

Baru saja Kise hendak berbalik, tiba-tiba—"Tunggu sebentar." Sang bibi malaikat menyuruhnya berhenti. Kise menolehkan kepala dengan bingung.

"Kamu Kise Ryouta yang model itu 'kan? Bibi minta foto bareng dong, mau dipamerin ke temen-temen arisan nih~!"

Kise ber-gubrak ria.

Setelah memberi layanan penggemar berupa foto bareng, Kise bertolak ke toko selanjutnya untuk membeli bahan-bahan lainnya.

Ajaibnya, dia berhasil mendapatkan semuanya.

Cincau bentuk segitiga dan dawet warna ungu—cek. Bahkan di toko ada berbagai varian lain, seperti cincau rica-rica serta dawet rasa sushi. Super sekali.

Sirup rasa telur kura-kura—cek. Kise juga membeli sebotol lainnya yang diklaim si pemilik toko sebagai produk limited edition super langka—sirup rasa jeruk. Eits jangan salah, ini bukan sirup biasa—yang konon bisa menurunkan kadar ketampanan seseorang yang meminumnya. Khusus bulan puasa ini Kise ingin sedikit mengurangi kekerenannya, supaya para gadis tidak lengket-lengket padanya.

(Najis kau, Kise.)

Kise berjalan pulang menteng kantung belanjaan dengan hati riang trlalala trililili, berbeda jauh dari saat pergi tadi. Rasanya, ada kepuasan mendalam kala berhasil mendapatkan bahan-bahan makanan ajaib yang ajaibnya tersedia lengkap di distrik perbelanjaan yang dipenuhi toko ajaib tersebut.

(Di sisi lain Kise mulai mempertanyakan kewarasan dunia ini.)

.

Ternyata, yang namanya aral melintang tetap saja ada.

Kise memasuki gym dalam kondisi awut-awutan. Perjalanan pulangnya tak semulus yang ia kira—tadi ia sempat dikejar anjing (yang mengincar daging belanjaannya), hampir tertimpa konstruksi bangunan, kena guyuran air selang, diserempet motor, dan nyungsep ke selokan.

Rupanya sudah digariskan bahwa ini adalah hari apes bagi sang model tampan.

Menyeret langkah ia mendekati para senior yang sudah menunggunnya sedari tadi. "Ini bahan-bahannya," ujar Kise sembari menyerahkan kantung belanjaan.

"Kerja bagus, Kise," ucap Kasamatsu. "Sekarang kau boleh pulang."

"Oke! Nanti sehabis mandi dan berdandan aku langsung ke rumah Moriyama-senpai," ujar Kise sembari mengacungkan jempol.

Keempat senior terdiam sesaat, sebelum Kasamatsu berkata, "Memangnya siapa yang mengajakmu?"

"Eh?" Kedua alis Kise terangkat.

Moriyama menjelaskan sambil memegangi bahu kise, "Adikku membawa banyak teman perempuannya untuk buka bareng di rumah kami. Kalau kau ikut, bisa-bisa acara buka bersama berubah jadi meet-and-greet Kise Ryouta—soalnya mereka rata-rata menggemarimu. Nanti suasana buka malah dipenuhi oleh pekikan para gadis."

"Ta-ta-tapi—" Kise sungguh tak terima. Kemudian kedua manik madunya yang dalam mode puppy eyes menatap Kobori, mengharapkan pembelaan.

Menghela napas, Kobori berujar dengan berat hati, "Kurasa alasan Moriyama cukup logis. Maaf ya, Kise."

Jleb! Kalau Kobori yang notabene adalah makhluk paling baik setim saja berkata demikian, berarti tidak ada harapan lagi.

"KISE JANGAN SEDIH, NANTI KITA BUKA BA(R)ENG BESOK!" Hayakawa berupaya menghibur, namunayangnya, hati Kise terlanjur hancur berkeping-keping.

Ia menangis sepanjang perjalanan pulang dalam kondisi mental breaking down stadium akhir.

"Hiks, tidak ada yang menyayangiku, ssu …"

Terlalu dramatis, memang.

.

Dunia ini kejam, seperti kata Mikasa.

Di rumah, sang makhluk paling tersakiti sejagat meringkuk di kursi sambil meratapi nasib. Seluruh anggota keluarganya sudah mudik duluan ke kampung halaman, jadi tinggallah Kise seorang diri, forever alone. Di hadapannya ada segelas air putih serta nasi dengan lauk tempe, soalnya cuma itu yang bisa si pemuda masak. Padahal sebenarnya dia tinggal beli menu berbuka yang lebih layak, namun dia sengaja berbuka dengan menu ala anak kos di akhir bulan—untuk mendramatisir penderitaannya. Dasar coretmasokis.

Sebuah ketukan membuyarkan kegiatan menggalaunya.

Kise menyeret langkah ke pintu.

"Siapa?"

"Ini aku. Cepat buka pintunya," sahut suara di seberang sana.

"... Kasamatsu-senpai?"

Dalam keadaan bingung, Kise membuka pintu dan sejurus kemudian, sebuah confetti ditembakkan tepat di depan wajahnya. Di antara kertas warna-warni yang menghalangi pandangan, Kise bisa melihat empat orang seniornya.

"SELAMAT ULANG TAHUN!" seru Kobori, Hayakawa, Moriyama, dan Kasamatsu.

Di belakang Kasamatsu, terdapat gerobak yang mengangkut berbagai jenis masakan, di antaranya; es dawet, kolak, sushi, okonomiyaki, lasagna, spaghetti, dan lain-lain.

(Menunya normal semua—lantas kemana perginya bahan-bahan abstrak yang Kise beli tadi?)

Abaikan, yang jelas Kise sangat bahagia sekarang. Sambil menyusut air mata serta ingus yang meleleh, dengan mata berkaca-kaca ia berkata penuh haru, "Terima kasih banyak, ssu. Aku sangat bahagia."

Mereka buka puasa dengan nikmat, lalu dilanjutkan dengan solat berjamaah yang diimami Kasamatsu.

Ternyata hari puasa membawa berkah bagi Kise; dalam wujud orang-orang terdekat yang ternyata begitu peduli padanya.

.

End of Kise Maso Adventure(?)


.

HAPPY BIRTHDAY KISE-KUN! *emoticon love*

Oke aku tau ini telat, telat tiga hari. Tapi nggak apalah daripada tidak sama sekali /alibi /ditendang

Baru tahu Kise ultah pas kemaren liat postingan grup knb di fb kemaren. Mana Kise ultahnya pas di hari pertama puasa pula, jadinya aku gabung aja ke fic abal ini. Akhir-akhir ini aku doyan nonton Sket Dan, jadi terpengaruh gaya humornya yang slengean (ga ada yang nanya). Saya ga tau chapter ini lucu atau nggak, karena saya nggak punya lucumeter /? /abaikan

Maaf kalo interaksi antar teammate Kaijo-nya kurang, hanya ini yang bisa saya bikin hiks. Btw, Rakuzan and Too coming soon yaa

Oh ya, berhubung saya ini slow updater, bisa update dalam waktu tiga hari itu termasuk keajaiban lho, ha ha hahaha. /krik krik krik/

Makasih udah baca, RnR? owo

Salam,

Mieko

.


Omake

"Oi Kise buruan cuci piringnya!"

"Entar perutku masih begah."

"Sebentar lagi solat azan isya, mending kita buruan ke masjid."

"MO(R)IYAMA-SENPAI HATI-HATI PEGANG PETASANNYA!"

"Eh—"

DUARR!

"ANJRIT TANGAN GUE!"

"Woi itu kolak jatah gue jangan dilahap!"

( Ya, semuanya berakhir bahagia. )