Bagaimana jadinya bila DraMione dkk berada di Indonesia dan menjadi penganut agama Islam?
Untuk menyambut bulan Ramadhan, author mempersembahkan fanfict Islamic.
Tidak mengandung unsur rasisme.
-o0o-
Title : The Beautiful Thing I've Ever Known
Pairing : DraMione, tapi mungkin akan ada cinta segitiga atau segiempat(?) bersama tokoh lain
Disclaimer : Bunda J.K. Rowling always. Tetapi ide dan cerita pure milik author
Rated : T
WARNING!
Karena author merubah total (mungkin) karakter sebagian tokoh, maka author akan menjelaskan watak pemikiran author sendiri.
Hermione : Pendiam, sholehah, pandai, rajin, tetapi entah mengapa sangat benci & ketus hanya kepada Draco
Draco : Tidak terlalu intimidatif, pantang menyerah, pandai, dan terobsesi dengan Hermione
Harry : Cool, pendiam, tapi mempunyai sisi buruk yang akan terungkap di pertengahan fict
Ginny : Genit, centil, suka cari perhatian, dan plin-plan
-o0o-
Happy reading, and-don't forget to RnR please... :D
Malam harinya dengan masih bersin-bersin, Hermione belajar di kamar sempitnya dengan penerangan dari lampu minyak yang tergantung di dinding. Meskipun begitu, gadis ini sudah terlihat sangat bersyukur dengan keadaannya. Sekalipun ia tidak pernah meminta yang macam-macam kepada kedua orang tuanya. Namun, meskipun menggunakan penerangan seadanya, Hermione masih tetap bersemangat untuk belajar.
Suara jangkrik dan desiran angin malam menemani Hermione yang sedang menulis di meja belajarnya yang menghadap ke arah jendela yang terbuka—sehingga angin malam yang dingin dapat masuk ke kamar gadis itu, membuatnya semakin kedinginan dibuatnya. Tetapi, jika jendelanya tidak dibuka, Hermione tidak dapat belajar dengan konsentrasi.
Tiba-tiba saja Hermione terkejut tatkala melihat Ginny sudah berada di luar jendelanya sembari tersenyum lebar. Tidak biasanya Ginny keluar malam seperti ini.
"Ada apa, Gin? Kau selalu membuatku terkejut. Kenapa kamu tidak lewat depan saja?" cercah Hermione dengan lirih.
Namun Ginny hanya senyum-senyum saja sambil memandang kosong ke arah Hermione—seperti sedang melamun. Tak lama kemudian, ia tersipu. Hermione semakin heran dengan sahabatnya ini. Apa betul ini adalah Ginny yang ia kenal, atau makhluk yang menyamar sebagai Ginny? Entahlah. Hermione membuang jauh-jauh pikiran ngelanturnya itu.
"Gin, kau tak apa? Apa kau sakit?" tanya Hermione sembari melambai-lambaikan tangannya ke depan wajah Ginny.
Tangan Ginny dengan spontan menarik pergelangan tangan Hermione, membuat sang empunya tersentak. "Kau tahu, Hermione, sepertinya aku sedang jatuh cinta saat ini." Jawab Ginny akhirnya, namun dengan pandangan masih kosong sambil tersipu.
Jujur saja Hermione tidak mengerti dengan perkataan sahabatnya ini. Yeah... bukannya Ginny juga seminggu lalu sudah bilang kepadanya bahwa ia sedang jatuh cinta kepada Neville Longbottom, lalu kenapa dia memberitahu Hermione lagi?
"Er—ya, Gin. Aku tahu. Kau sudah memberitahuku seminggu yang lalu tentang Neville Longbot—"
Namun sebelum Hermione dapat menyelesaikan kata-katanya, Ginny dengan seenaknya saja membekap mulut Hermione. Ia menggeleng kuat-kuat. "Bukan Neville, Mione. Tapi pemuda ini lebih tampan, lebih keren, dan—kyaaa... dia sempurna." Seru Ginny dengan bersemangat.
Hermione menyuruh Ginny untuk memelankan suaranya, mengingat hari ini sudah malam.
"Hermione, apa kau tahu cucu dari kepala desa yang baru saja pindah dari kota? Apa kau tahu?" tanya Ginny dengan mata berbinar, berharap Hermione menjawab 'iya'.
Sepertinya tidak, pikir Hermione. Ia bahkan tidak tahu bahwa cucu dari kepala desa pindah kesini. "Tidak, Gin. Aku tidak tahu."
Raut wajah Ginny berubah menjadi kekecewaan. Namun tak lama kemudian ekspresinya seperti berubah terkejut. "Hermione, ya ampun—aku hampir lupa dengan tujuanku datang kemari, hantarkan aku ke Masjid sekarang. Sapu tanganku ketinggalan." Seru Ginny dengan tergopoh-gopoh sembari menarik-narik lengan Hermione.
"Iya, iya. Tunggu sebentar. Tunggu aku di depan. Aku harus pamit terlebih dahulu kepada kedua orang tuaku."
"Tapi jangan lama-lama."
"Siap."
Hermione menutup bukunya dengan pelan sembari menghela nafas. Waktu belajarnya terganggu—itu yang membuat Hermione sedikit jengkel dengan Ginny. Namun ia tidak tega jika harus memarahi sahabatnya itu. Setelah pamit kepada kedua orang tuanya, Hermione memakai sandal dan pergi keluar untuk menemani Ginny ke Masjid mengambil sapu tangannya.
"Bagaimana bisa sapu tangan 'kesayanganmu' itu tertinggal di sana, Gin?" tanya Hermione di tengah perjalanan mereka.
Mata Ginny mengedip-ngedip nakal kepada Hermione. "Aku kan yang menggantikanmu mengajar tadi. Karena Oliver dan Ernie tidak bisa—ya... jadilah aku yang mengajar." Ujar Ginny bangga, sembari merapikan kerudung hijaunya yang—menurut Hermione—sudah rapi sedari tadi.
Hermione hanya manggut-manggut mengerti. Syukurlah ada Ginny, jika tidak, pasti tidak akan ada yang menggantikan dirinya mengajar tadi.
Mereka berdua sudah sampai di Masjid. Hermione menyuruh Ginny cepat-cepat masuk ke dalam untuk mengambilnya, sedangkan ia sendiri lebih memilih menunggu di depan masjid. Hermione duduk di tangga sambil memperhatikan keadaan sekitar.
Tak lama kemudian Ginny sudah kembali dengan sapu tangan berwarna oranye sudah berada di genggamannya. Namun belum lama Hermione melangkah, ia melihat Draco Malfoy berdiri di hadapannya sambil menyeringai lebar sekali.
Entah kenapa, Ginny jadi salah tingkah ketika melihat Draco. Berkali-kali ia menarik lengan baju Hermione dan merapikan kerudungnya. Hermione malah sebaliknya, ia memandang Draco dengan dingin—namun tak berkata apa-apa.
"Hai, Granger. Kita bertemu lagi. Uhm—sekarang aku jadi semakin yakin kalau kita adalah—er... jodoh." Ujar Draco dengan seringainya yang menyebalkan masih menghiasi wajahnya yang tampan.
Hermione hanya membelalak mendengar perkataan Draco baru saja. Lagi-lagi ia berprasangka bahwa dirinya berjodoh dengan Hermione. Namun setelah diperhatikan secara serius, malam ini Draco terlihat sangat tampan. Dengan songkok berwarna hitam bertengger di kepala pirangnya, baju koko berwarna putih, dan sarung kotak-kotak berwarna hijau—pemuda ini jauh lebih terlihat sholeh daripada di sekolah tadi. Tapi kelakuannya tetap saja sama.
Karena penasaran dengan apa yang Draco lakukan malam-malam disini, Hermione memutuskan untuk bertanya. "Apa yang kau lakukan disini, Malfoy?"
"Aku? Oh... tadi setelah sholat berjama'ah, aku menemani kakek mendengarkan pengajian. Baru saja selesai. Dan—yeah... aku memutuskan untuk singgah sebentar, berkenalan kepada penduduk desa." Jawab Draco dengan lancar.
Hermione mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun karena risih oleh tarikan Ginny di lengan bajunya, Hermione memutuskan untuk memperkenalkan Ginny kepada Draco, begitupun sebaliknya. "Uhm... Malfoy, kenalkan ini temanku, Ginevra Weasley. Panggil saja Ginny. Dan Gin, ini Draco Mal—"
"Aku sudah tahu, Hermione." sela Ginny sembari menggeser posisinya, sehingga sekarang ia berhadapan langsung dengan Draco, dan Hermione tergeser ke samping. "Kau—Kau pasti cucu kepala desa, kan?"
Pertanyaan Ginny kali ini sukses membuat Hermione membelalak. Tunggu, Draco Malfoy adalah cucu dari kepala desa? Jadi, orang yang disukai Ginny saat ini adalah—Draco Malfoy?
"Tunggu, apa maksudnya? Jadi—kau cucu kepala desa?"
Draco mengangguk singkat. "Ya ampun, Granger. Ku kira kau lebih pintar dari ini. Apakah kau tak sadar? Kakekku bernama Abraxas Malfoy, jadi?"
Kali ini Hermione merasa amat bodoh. Bagaimana mungkin ia tak sadar? Marga mereka sama. Jelas tidak ada lagi marga Malfoy di dunia ini. Pipi Hermione memerah akibat malu dihadapan Draco. Ia menundukkan kepalanya sambil merutuki otak cerdasnya yang tidak sadar akan hal sesimpel itu. Ya Allah.
Merasa dipandangi terus menerus oleh Ginny, Draco mengangkat sebelah alisnya dengan kebingungan. Jujur ia merasa sedikit risih dengan pandangan Ginny yang begitu memuja. Tapi jika dilihat-lihat cantik juga gadis ini, pikir Draco.
"Kalian berdua mau kemana? Bukannya gadis-gadis tidak boleh keluar pada malam hari?" tanya Draco akhirnya.
Dengan cepat Ginny menjawab, "Uh... oh... Hermione baru saja menghantarku mengambil sapu tanganku yang tertinggal di Masjid." Nada bicara Ginny sungguh centil dan bersemangat.
Hermione hanya mendengus sembari menggeleng melihat kelakuan sahabatnya ini. Kebiasaan Ginny muncul lagi, gadis centil itu selalu saja begitu ketika berhadapan dengan orang yang disukainya.
Karena merasa hawa semakin dingin, Hermione menarik-narik lengan baju Ginny untuk mengajaknya pergi. Namun Ginny tetap bergeming di tempatnya—memandangi Draco dengan mata berbinar. Ya Allah, gadis ini selalu tidak bisa menjaga pandangannya.
"Ginny, ayo kita pergi. Ini sudah malam—dan hawanya semakin dingin. Ayo."
Draco, yang mendengar bisikan Hermione, buru-buru menghadang kedua gadis itu. "Tunggu—kau mau kemana, Granger?"
Pertanyaan Draco membuat Hermione memutar mata dengan sebal. "Menurutmu? Ya pulang, lah." Tukas Hermione dengan ketus.
"Mau kuhantar?"
"Tidak, terima kasih. Kalau mau, antar saja Ginny ke rumahnya. Aku akan jalan kaki—rumahku dekat dari sini. Assalamu'alaikum." Pamit Hermione.
Ginny melambai dengan semangat ke arah punggung Hermione. Draco hanya diam saja memandang tubuh Hermione yang semakin lama semakin menjauh. Kenapa Hermione begitu galak kepadanya, pikir Draco. Susah sekali untuk mengambil hati gadis cantik itu. Ia tidak tahu, harus mencari cara apalagi agar Hermione—minimal—mau menganggapnya sebagai teman.
"Uhm... Draco, kau bilang mau menghantarku? Nanti kita jalan-jalan mengelilingi desa dulu, lalu aku kasih tahu tempat makan bakso yang enak, kemudian—"
"Er... maaf, sepertinya motorku rusak lagi. A-Aku perbaiki dulu ya, kau pulang duluan saja."
Bibir Ginny cemberut mendengar penuturan Draco. "Tapi Hermione kan sudah menyuruhmu untuk menghantarkanku. Kalau begitu—aku tunggu saja sampai kau selesai memperbaiki motormu."
"JANGAN." Ucap Draco segera. "Er... maaf, bukannya bermaksud kasar, tetapi—er—akan lama memperbaiki motor sebesar itu. Nanti kalau kau pulang terlalu malam, kan tidak enak dilihat orang-orang. Kamu pulang duluan saja, ya?" bujuk Draco.
Sekali lagi Ginny cemberut, menggangguk singkat kepada Draco, dan pergi begitu saja tanpa mengucapkan salam.
Pagi-pagi sekali, Hermione berangkat ke sekolahnya karena takut terlambat. Setelah ia pamit dan mencium tangan kedua orang tuanya, ia pun mengayuh sepeda bututnya seperti biasa. Dengan melewati kebun-kebun teh dan petani-petani teh yang sedang bekerja, gadis cantik itu sesekali membunyikan belnya untuk menyapa orang-orang ataupun memperingatkan mereka untuk minggir supaya tidak tertabrak.
Satpam yang biasanya menjaga gerbang sekolah, tersenyum kepada Hermione dan mengangguk singkat ketika gadis itu tiba lebih awal. Setelah memarkirkan sepedanya, Hermione berjalan menuju bangku di tepi lapangan basket. Ia memutuskan untuk membaca buku disana saja daripada di kelas yang pastinya masih sepi.
Dibukanya lembaran-lembaran buku sejarahnya yang bersampul mengkilap. Harum buku-buku itu membuat Hermione semakin mabuk dibuatnya. Dengan bersemangat, ia menghafalkan bab-bab mata pelajaran yang akan dipelajarinya nanti di kelas.
DUK! DUK! DUK! Mendengar suara bola basket yang memantul-mantul, Hermione mendongak. Ia melihat Harry Potter—kakak kelas yang sangat ia kagumi—sedang berlatih bermain bola basket. Ia bahkan tidak sadar bahwa Hermione tengah duduk di tepi lapangan itu.
Hermione menutupi wajahnya menggunakan buku tebal yang ada di pangkuannya. Sesekali ia mengintip untuk melihat permainan keren Harry. Karena takut ketahuan sedang mengamati, Hermione berdiri perlahan dan memutuskan hendak pergi ke kelas saja.
Namun sebelum kaki Hermione melangkah, Harry sudah memanggil namanya dan menghampirinya. Pipi Hermione memerah lagi, ia takut Harry mengira sedari tadi Hermione tengah memata-matainya.
"Hai, kau sudah dari tadi ya disini?" tanya Harry dengan membenarkan letak kacamatanya yang merosot.
Hermione hanya mengangguk singkat sembari tersenyum sedikit. "Maaf jika aku mengganggumu, ka—kau lanjutkan saja. Aku akan membaca di kelas. Assalamu'alaikum."
Belum lama Hermione melangkah, Harry sudah memegang lengan Hermione dengan kuat. Hal itu membuat Hermione spontan mengibaskan lengannya.
"Oh, uhm... maafkan aku sudah lancang memegang lenganmu. Tapi—" Harry membetulkan letak kacamatanya lagi, "aku ingin mengatakan sesuatu kepadamu."
Mendengar perkataan Harry, Hermione mendongak menatap pria jangkung dihadapannya itu. Tangannya masih mendekap erat bukunya di dada. Jantungnya berdegup kencang, kira-kira apa yang akan diungkapkan Harry kepadanya? Entahlah.
"Aku—Aku sudah—sudah lama menyukaimu, Hermione Granger." Gumam Harry lirih, tetapi dapat membuat detak jantung Hermione semakin cepat. "Kamu—er—mau jadi kekasihku?"
DEG! Tidak Harry, jangan menyatakan cinta terlebih dahulu. Hermione menundukkan kepalanya kembali, gadis itu bingung harus menjawab apa. Sejujurnya ia juga menyukai pemuda berambut hitam berantakan itu, tetapi bukankah Islam melarang kita untuk berpacaran? Hermione ingin menolak, tetapi ia merasa tidak enak hati kepada Harry, takut pemuda itu tersinggung dan sakit hati.
"Maafkan aku, Harry. Tapi—tapi aku tidak ingin melanggar syariat Islam. Jadi—maaf—aku tidak bisa menjadi kekasihmu. Mungkin kau bisa mencari gadis lain yang lebih daripada aku. Assalamu'alaikum." Ujar Hermione akhirnya. Ia melangkah pergi, dan kali ini Harry tidak menghalanginya lagi.
Hermione menyandarkan punggungnya ke pintu toilet perempuan. Jantungnya masih berdegup tak beraturan. Harry menyatakan cinta kepadanya? Bukankah itu terlalu cepat, jika diukur dari waktu mereka berkenalan? Sekali lagi Hermione menggelengkan kepalanya dengan cepat, berusaha tidak memikirkan hal yang baru saja terjadi.
Ia melangkahkan kaki menuju westafel yang berada di depan kaca, tangannya membuka keran westafel. Setelah air mengucur dengan deras dari keran, Hermione membasuh mukanya. Permukaan jilbabnya basah terkena air, namun ia tidak peduli akan hal itu.
Setelah merasa lebih tenang dan bayangan Harry sudah mulai memudar, Hermione mengeringkan mukanya menggunakan sapu tangannya dan bergegas berjalan menuju kelasnya yang berada di lantai dua.
"Hermione, Hermione." panggil seseorang di balik punggung Hermione.
Merasa namanya terpanggil, Hermione pun menoleh. Namun ekspresi mukanya menjadi dingin tatkala melihat siapa yang memanggilnya baru saja. Draco Malfoy. Pria itu berlarian di koridor sekolah—mengabaikan panggilan gadis-gadis yang duduk-duduk centil di taman.
"Hai." Sapa Draco dengan terengah.
Hermione memutar bola matanya dengan jengkel. "Assalamu'alaikum."
"Oh iya, aku lupa. Assalamu'alaikum, gadis cantikku." Ucap Draco dengan nada menjilat.
Mendengar nama yang diucapkan Draco kepadanya, Hermione bergidik ngeri. "Wa'alaikumsalam. Jangan pernah memanggilku lagi dengan seperti itu, Malfoy." Tegas Hermione. ia pun melanjutkan melangkahkan kakinya.
Draco mengikutinya dari belakang dengan muka tak berdosa. Ia malah senyum-senyum sendiri seperti orang bodoh.
"Jangan mengikutiku, Pirang." Gertak Hermione.
Masih dengan wajah tak bersalah, Draco menjawab dengan santai, "Aku tidak mengikutimu, manis. Aku mau ke kelasku—dan entah karena kebetulan atau takdir—kelas kita sama, manis. Jadi, aku tidak mengikutimu, aku ingin ke kelasku. Sudah jelas?"
Pipi Hermione memerah mendengar Draco menyebutnya 'manis'. Bukan karena senang atau gembira dipanggil begitu, tetapi Hermione merasa malu lantaran banyak siswa-siswi lain yang memperhatikannya setiap Draco menyebutkan kata 'manis' yang memang sengaja ia keraskan volume bicaranya.
Tanpa merespon Draco, Hermione berbalik dan melanjutkan berjalan menuju kelasnya. Berkali-kali Draco membuat Hermione harus menahan amarah, dengan menyanyikan lagu-lagu rayuan di belakang Hermione dengan volume yang tidak sewajarnya. Tapi mau bagaimana lagi, Hermione tak dapat melarang Draco berjalan di belakangnya, itu berarti Hermione sama saja melarang Draco ke kelasnya.
"Malfoy," kata Hermione, membuka pembicaraan di tengah-tengah pelajaran olahraga mereka, "kalau aku boleh tahu, kenapa kau pindah ke daerah pedesaan seperti ini? Bukankah lebih enak tinggal bersama orang tuamu di kota sana daripada di pedesaan yang kumuh?" tanya Hermione tanpa memandang Draco.
Draco terdiam sejenak, seperti menimbang-nimbang jawaban yang akan diberikannya kepada Hermione. "Uhm... yeah, disana tidak terlalu enak seperti yang kau bayangkan, Mione—"
"Granger." Ralat Hermione.
"Oke—Granger," Draco memutar bola matanya dengan malas, "Semua yang kau bayangkan salah." Draco mendengus. "Sama sekali tidak benar. Justru aku disini merasa lebih bebas tanpa kekangan kedua orang tuaku. Yeah, memang semua yang aku inginkan selalu terpenuhi, tetapi tidak dengan kebebasanku. Mereka tidak pernah menghargai keputusanku, semua yang aku lakukan harus selalu menurut apa kata mereka."
Mendengar jawaban Draco yang sepertinya berbau pribadi, Hermione terdiam—tidak berani bertanya lebih dalam lagi alasan kepindahan Draco kesini. Hermione menoleh kesamping dan mendongak untuk menatap wajah Draco.
Pemuda pirang itu terlihat murung, Hermione jadi merasa bersalah telah menanyakan hal itu kepada Draco. Ia sadar, rasa ingin tahunya membuat seseorang terluka hatinya.
"Maaf, jika pertanyaanku membuatmu menjadi sedih." Gumam Hermione.
Namun herannya, Draco malah menyeringai dan terkekeh. "Aku tidak sedih, siapa bilang aku sedih? Ingat, seorang Malfoy tidak pernah sedih." Ujarnya dengan nada sok dan sombong.
Saking kesalnya dengan lagak Draco, Hermione hampir saja menghantam wajah tampan Draco menggunakan bola voli yang berada di genggamannya sekarang. Namun sebelum Hermione berhasil melakukan aksinya, pluit Madam Hooch—guru olahraga yang amat tomboy—sudah terdengar, menandakan semua murid harus berkumpul ke tengah lapangan untuk memulai pelajaran.
"Selamat pagi, Anak-anak." Ucap Madam Hooch untuk memulai pelajaran pagi ini. Madam Hooch memakai celana training dan kaos olahraga, tak lupa dengan topinya yang selalu menutupi rambut kelabunya yang seperti bulu tikus itu.
"Selamat pagi, Madam Hooch." Jawab anak-anak dengan serentak.
"Baiklah, hari ini—langsung saja—kita akan memulai pelajaran bola voli. Saya akan membagi masing-masing kelompok..."
Sial bagi Hermione hari ini. Setelah Madam Hooch membacakan masing-masing anggota kelompok dan mengatur lawan pertandingan, akhirnya telah diputuskan kelompok Hermione akan berhadapan dengan kelompok centil Pansy Parkinson.
Firasatnya kurang baik, mengingat Pansy selalu bermain curang—ditambah lagi dari dulu Pansy dan gengnya amat sangat membenci Hermione karena Hermione adalah anak miskin yang hanya mendapat beasiswa untuk bersekolah disini.
Pluit Madam Hooch sekali lagi terdengar—tanda permainan bola voli sudah dimulai. Dan belum lima menit pertandingan berlangsung, Pansy dengan sengaja memukul bola keras-keras ke arah Hermione. Dan sasarannya tepat sekali, bola berat itu menghantam hidung Hermione dengan keras sampai ia terjungkir ke belakang.
Teman satu tim Hermione berteriak-teriak menggil namanya dan bergegas mendatanginya. Pandangan Hermione sedikit buram dan kepalanya pusing, tetapi ia dapat melihat Madam Hooch sedang memarahi Pansy habis-habisan dan—Draco Malfoy yang dengan khawatir memecah kerumunan untuk menghampiri Hermione yang sekarang hidungnya mengeluarkan darah dengan hebat. Setelah itu, Hermione tak sadarkan diri.
Mata Hermione mengerjap, ia merasakan ada sehelai handuk basah menempel di dahinya. Hidungnya masih terasa perih dan sakit, kepalanya masih terasa pusing dan berat. Sekali lagi Hermione mengerjapkan matanya untuk memperjelas pandangannya.
Ketika pandangan Hermione sudah mulai jelas, ia bisa melihat teman-temannya—Lavender Brown, si kembar Patil, Hannah Abbot, dan masih banyak lagi yang lain—berkumpul di sebelah tempat tidur Hermione dengan wajah yang amat cemas. Hermione merasa tidak enak dipandangi seperti itu, membuat semua orang khawatir dengan keadaannya.
Bibir Hermione melengkung membentuk senyuman yang manis, untuk meyakinkan teman-temannya dan berdalih bahwa ia tak apa. Sebagian mendesah lega mendengar penuturan Hermione, tetapi ada yang masih memandang Hermione dengan ketidakyakinan. Hermione memandang berkeliling. Entah kenapa hal yang saat ini paling ingin ia lihat adalah—Draco Malfoy.
Rambut pirang pria itu tak tampak di antara kerumunan anak-anak. Kemana gerangan pemuda itu? Terakhir Hermione lihat, Draco tengah menghampirinya dengan khawatir. Arrgghh... kenapa Hermione jadi memikirkan pria pirang itu?
"Permisi, permisi." Kata seorang pria tengah memecah kerumunan.
Hermione merasakan wajahnya memerah akibat malu. Harry Potter tengah menghampiri Hermione yang masih terbaring lemah di tempat tidurnya. Beberapa gadis bergumam dengan cemburu karena Harry amat mengkhawatirkan Hermione, namun Harry tidak mempedulikannya. Ia memandang Hermione dengan sayu.
"Aku tak apa, Harry. Apa kau tak ada kelas sekarang?" tanya Hermione yang heran mengapa Harry berada disini.
Sebelum Harry menjawab, ia menyuruh seluruh teman-teman Hermione yang berada di ruangan itu untuk pergi meninggalkan Harry dan Hermione berdua saja. Dengan dengung kemarahan, mereka semua pergi keluar menuruti perintah Harry. Hermione memandang teman-temannya dengan pandangan meminta maaf.
"Kenapa kau menyuruh teman-temanku pergi? kita tidak boleh berada di dalam satu ruangan dengan hanya berdua. Aku takut terjadi fitnah." Kata Hermione, dengan nada agak panik.
"Aku hanya butuh waktu sebentar saja untuk berbicara denganmu, Hermione."
Hermione terdiam mencoba mendengarkan Harry.
"Ketika aku mendengar kau masuk UKS dan pingsan, aku amat khawatir. Aku meminta ijin kepada Professor Sprout untuk ke kamar mandi. Dan ia mengijinkannya. Padahal aku ingin menjengukmu." Harry menarik nafas dalam-dalam. "Aku sangat mencintaimu Hermione. Aku tahu, kau pasti berfikir bahwa ini terlalu cepat. Karena kita masih baru kemarin berkenalan. Tetapi aku sudah menyukaimu dari pertama kau masuk ke sekolah ini. Aku memperhatikanmu dari kau kelas satu, tetapi aku belum berani berkenalan denganmu karena—yeah... aku akui aku lemah kepada wanita."
Leher Hermione terasa kaku dan tersumbat sesuatu. Ia tidak bisa menjawab apa-apa, atau bahkan bernafaspun ia tak sanggup.
"Jadi, sekali lagi aku bertanya kepadamu, Hermione. Apa kau bersedia menjadi kekasihku?"
BRAAKK!
Sebelum Hermione dapat menjawab, Draco tiba-tiba sudah berada di depan pintu membawa tisu dan minyak kayu putih di genggamannya. Ekspresinya terlihat dingin tetapi sedikit salah tingkah. Dengan tangan yang—jika Hermione tak salah lihat—bergetar, Draco menaruh tisu dan minyak itu di meja di samping Hermione.
"Maaf jika aku mengganggu. Aku hanya ingin membawakan ini untukmu—Granger." Ujar Draco dengan dingin.
"Oh, ya, terima kasih. Sekarang, apa bisa kau pergi dari sini?" ujar Harry dengan sinis dan ketus.
Sebelum Draco melangkah pergi, ia memandang Hermione sejenak dengan pandangan yang tak dapat diartikan, kemudian memandang Harry dengan sinis, dan pergi keluar meninggalkan Hermione berdua bersama Harry lagi.
.
.
.
-To Be Continue-
Asslamu'alaikum ('-')/
Ketemu lagi sama author :D
Maaf updatenya lama, kuota abis dimakan nyamuk :v
Gimana? Ada kekurangan nggk di chap yg ini?
Langsung saja, RnR, please...
Don't be Silent Readers!
Eh iya, makasih buat yang sudah menerima fict islamic pertamaku ini. :D Ternyata responnya baik-baik semua XD
Thanks, Guys ... :D
