Bagaimana jadinya bila DraMione dkk berada di Indonesia dan menjadi penganut agama Islam?
Untuk menyambut bulan Ramadhan, author mempersembahkan fanfict Islamic.
Tidak mengandung unsur rasisme.
-o0o-
Title : The Beautiful Thing I've Ever Known
Pairing : DraMione, tapi mungkin akan ada cinta segitiga atau segiempat(?) bersama tokoh lain
Disclaimer : Bunda J.K. Rowling always. Tetapi ide dan cerita pure milik author
Rated : T
WARNING!
Karena author merubah total (mungkin) karakter sebagian tokoh, maka author akan menjelaskan watak pemikiran author sendiri.
Hermione : Pendiam, sholehah, pandai, rajin, tetapi entah mengapa sangat benci & ketus hanya kepada Draco
Draco : Tidak terlalu intimidatif, pantang menyerah, pandai, dan terobsesi dengan Hermione
Harry : Cool, pendiam, tapi mempunyai sisi buruk yang akan terungkap di pertengahan fict
Ginny : Genit, centil, suka cari perhatian, dan plin-plan
-o0o-
Happy reading, and-don't forget to RnR please... :D
Hermione's POV
Aku heran apa maksud perkataan Draco tempo hari. Namun yang jelas—setelah itu—Draco tidak pernah berbicara denganku atau sekedar menyapaku. Jujur aku bingung dengan sifat Draco. Hingga sampai saat ini, tiga bulan kemudian, Draco tetap saja belum sudi berbicara denganku.
Sekarang aku tidak terlalu memusingkan akan perubahan sifat Draco, karena Ujian Tengan Semester (UTS) Semester Dua semakin dekat. Aku mati-matian belajar dan tidak peduli lagi dengan sekitar—termasuk Draco. Di sekolah, aku lebih banyak menghabiskan waktu di dalam Perpustakaan, membaca buku atau merangkum materi.
Hanya Harry yang membantuku mencari materi ujian di dalam Perpustakaan. Ya—Harry Potter. Tapi jangan salah sangka terlebih dahulu, aku dan Harry sama sekali TIDAK berpacaran. Dia juga tidak berani menanyaiku pasal perasaannya lagi, karena ia takut mengganggu ujianku.
Aktifitasku masih sama seperti biasa. Sore harinya aku harus mengajar anak-anak mengaji di Masjid, dan jika ada perkumpulan Remaja Masjid aku masih tetap ikut. Namun Draco sekarang tidak pernah terlihat, ia—tunggu. Aku memikirkannya lagi? Astaghfirullah...
Normal POV
Hermione mengacak rambutnya yang tertutup hijab biru bunga-bunga itu. Kenapa Draco terus saja muncul di pikirannya atau di buku yang sedang dibaca Hermione? Ia merasa kesal lantaran tidak bisa berkonsentrasi dan pikirannya penuh dengan Draco, Draco, dan Draco.
Entahlah, Hermione tak tahu apa yang terjadi. Kenapa ia begitu keras memikirkan Draco? Padahal ia tak punya perasaan apa-apa kepadanya.
Hermione merasa ia butuh udara segar juga sekali-kali. Maka pada sore hari itu, Hermione pamit keluar kepada kedua Orang Tuanya untuk berjalan-jalan sebentar. Ia mengendarai sepedanya yang sudah diperbaiki itu, namun tetap saja terlihat usang dan rantainya berkeretakan ketika Hermione mengayuhnya.
Angin sepoi-sepoi menerpa tubuh Hermione, mengibarkan kerudung birunya dengan indah. Mata Hermione terpancang dengan keindahan sunset yang sudah mulai terlihat seiring tenggelamnya matahari. Hermione memutuskan untuk berhenti sebentar dan berdiri di samping pohon mangga besar. Di depannya masih terlihat para petani yang sedang sibuk bersiap-siap untuk pulang.
SREK, SREK. Hermione menoleh lantaran mendengar suara langkah kaki di sampingnya. Jantungnya sedikit tersentak lantaran orang yang berjalan itu adalah Draco Malfoy. Pemuda itu menundukkan kepalanya dengan lesu, kepala pirangnya tertutup oleh peci berwarna hitam dengan motif yang sangat elok, baju koko berwarna biru muda itu terlihat pantas di tubuhnya, dan juga celana hitam panjang membalut kakinya dengan sempurna.
Hermione bingung hendak menyapanya atau tidak. Namun sebelum Hermione memutusknan untuk menyapanya atau tidak, Draco sudah mengangkat kepalanya dan terlihat linglung ketika mendapati Hermione memperhatikannya. Dengan cepat Hermione menoleh memandang sunset di hadapannya itu lagi.
Draco berdehem, namun Hermione berusaha tidak menghiraukannya. Sekali lagi Draco berdehem, namun kali ini dengan melangkah mendekat. Jarak mereka dua meter—dan mereka berdua sama-sama tidak ingin bertegur sapa terlebih dahulu.
"Ehem... bagaimana persiapanmu menghadapi UTS?" tanya Draco tiba-tiba, memecah keheningan.
Sedikit terkejut, namun Hermione tetap menjawabnya. "Uhm... yeah... biasa saja. Hanya belajar lebih giat lagi. La—Lalu bagaimana dengan—denganmu?"
Draco tersenyum kecil, nyaris tidak kelihatan kalau ia sedang senyum. Ia merasa senang dengan percakapannya bersama Hermione setelah sekian lama mereka saling tidak bertegur sapa. "Sama—uhm... sama sepertimu."
Hening, mereka sama-sama terdiam cukup lama. Mata mereka berdua sama-sama terpancang pada sunset merah yang semakin lama semakin indah.
"Bagaimana—er—hubunganmu dengan Harry?" tanya Draco memecah keheningan.
Dengan spontan, Hermione menoleh menatap Draco dengan mata terbelalak—hendak membentaknya. Namun hati kecilnya tidak ingin membentak pemuda itu. Ia hanya menatap surai pirang Draco yang bercahaya lantaran terpantul cahaya sunset. Angin sepoi-sepoi masih saja menghembus, sehingga membuat rambut Draco sedikit melambai-lambai. Indah sekali.
Astaghfirullah... apa yang Hermione pandang? Ia pun segera mengalihkan pandangannya dan menggelengkan kepalanya dengan frustasi. Hampir saja—atau bahkan—ia telah melakukan zina mata.
Merasa pertanyaannya diabaikan, Draco menoleh memandang Hermione yang sedang menunduk dan ber-istighfar dalam hati. Gadis cantik disampingnya itu tetap tidak menjawab pertanyaan Draco.
Namun akhirnya Hermione menjawab, "Apa kau selama ini berpikiran bahwa aku dan Harry berpacaran, Malfoy?" suara Hermione bergetar.
Draco mengerutkan dahinya dengan bingung. "Apa maksudmu? Memang benar, kan? Bukannya selama ini kau berhubungan dengannya? Kalian selalu terlihat menghabiskan waktu bersama, belajar bersama, dan—yeah... intinya kalian selalu bersama."
"Jadi selama ini kau menjauhiku lantaran kau berpikir aku dan Harry berpacaran?"
"Iya, dan aku tidak mau dianggap sebagai pengganggu."
Hening kembali. Kedua insan itu sama-sama tertunduk malu setelah saling membentak mengeluarkan uneg-uneg di dalam hati masing-masing. Hermione dan Draco sama-sama berpikir bodoh karena terpancing emosi sesaat dan mengakibatkan mereka berbicara jujur.
Adzan maghrib sudah mulai berkumandang. Hermione meraih sepedanya dan memutuskan segera pulang ke rumahnya untuk menunaikan ibadah sholat maghrib. Ia tidak mengucapkan salam atau pamit kepada Draco. Begitupun dengan pemuda pirang itu, ia tidak melarang Hermione pergi atau menegurnya untuk mengucapkan salam.
"Assalamu'alaikum." Ucap Hermione setelah memasukkan sepedanya ke dapur lewat pintu belakang rumahnya.
"Wa'alaikumsalam." Jawab Mrs Granger dari dalam kamar mandi. "Kenapa kau tidak berjamaah di Masjid, Sayang?"
Hermione tersenyum sekejap. "Tidak, Bu. Lebih baik aku sholat di rumah saja."
"Bukannya lebih baik berjamaah, Sayang? Ibu masih siap-siap hendak ke Masjid bersama Ayahmu. Ayo kita ke Masjid bersama-sama." Bujuk Mrs Granger, karena merasa heran dengan Hermione yang biasanya rajin berjamaah ke Masjid, tiba-tiba saja menolak kesana.
"Tidak, Bu. Ibu dan Ayah pergi berdua saja." Keukeuh Hermione.
Mrs Granger meng-iya-kan dari dalam kamar mandi.
Hermione memasuki kamarnya dan mengambil sesuatu dari dalam laci lemarinya. Sapu tangan berwarna hijau elegan milik Draco. Hermione memandangi sulaman benang perak di pojokannya yang membentuk huruf 'D.M.'—yang berarti Draco Malfoy. Ia belum juga mengembalikan sapu tangan Draco kepada pemiliknya, mengingat Draco selama ini mengacuhkannya.
Tangan Hermione terus menggenggam sapu tangan itu sambil memikirkan apa yang tadi Draco katakan. Jadi selama ini Draco menjuhinya lantaran ia mengira Hermione dan Harry berpacaran, dan ia tidak ingin menjadi seseorang yang dianggap 'pengganggu' dalam hubungan mereka. Jadi itulah alasannya, yang membuat Hermione memikirkannya selama ini.
Hermione berdiri dan memasukkan kembali sapu tangan itu di tempatnya semula. Setelah itu ia keluar kamar menuju kamar mandi hendak berwudhu.
Setelah menunaikan sholat maghribnya, Hermione melakukan aktifitas rutin yang tak pernah ia lupakan, yaitu belajar. Suara bulpoin yang menggesek kertas terdengar memenuhi kamar gadis cantik itu. Ia sedang membuat rangkuman panjang untuk materi UTSnya dalam mata pelajaran biologi—pelajaran favoritnya.
Tangannya terasa pegal. Ia memijat-mijat pelan bagian yang terasa sakit itu. Mr Granger, yang masih mengenakan busananya yang tadi ia kenakan untuk ke Masjid, memasuki kamar anaknya itu dengan tersenyum. Hermione pun membalas senyuman Ayah yang selama ini dibanggakannya itu.
Mr Granger membelai pelan bahu Hermione. "Jangan terlalu memaksakan diri, Nak. Kau bisa sakit dan—jika sakit, kau tidak bisa ikut ujian. Sebaiknya kau juga butuh istirahat sebentar untuk menenangkan otakmu dan juga tanganmu yang pegal akibat menulis—astaga... panjang sekali catatanmu."
Hermione nyengir ketika Mr Granger membaca huruf-huruf kecil nan rapi Hermione. Mr Granger pun menggeleng pelan dan keluar kamar. Betul juga apa kata Mr Granger. Hermione butuh istirahat supaya tidak terlalu tegang.
Hari Minggu pagi. Hmmm... besok sudah mulai UTS, pikir Hermione. Pagi-pagi sekali setelah berjamaah sholat shubuh di Masjid, Hermione membawa peralatan belajarnya ke sebuah saung di tengah sawah tempat ayahnya bekerja. Disana ia lebih bisa berkonsentrasi, sekaligus menghirup udara pagi yang konon katanya bisa menyehatkan tubuh.
Gadis itu membungkuk rendah untuk menulis di buku catatannya.
"Assalamu'alaikum." Kata seseorang.
Hermione mendongak, ia mendapati Mr Abraxas Malfoy, kakek Draco sekaligus Kepala Desa di desa ini, sedang menegurnya. Lelaki tua berambut putih-keperakan itu tersenyum ramah di balik topi koboynya yang biasa ia kenakan untuk blusukan. Hermione membalas senyumannya dengan ramah pula dan menyingkirkan buku-bukunya—memberi tempat untuk Mr Abraxas duduk.
"Sedang apa kau, Hermione?" tanya Mr Abraxas dengan ramah sembari mempehatikan buku-buku tebal dan tulisan-tulisan rapi Hermione.
"Oh, uhm... sedang belajar, Mr Malfoy." Jawab Hermione sembari tersenyum manis.
"Untuk UTS besok, kan? Draco juga begitu, ia sudah tiga bulan terakhir ini mengurung diri di dalam kamar, katanya sih belajar untuk persiapa UTS. Dia sepertinya agak stress akibat memikirkan ujian," Mr Abraxas terkekeh pelan, "Dia selalu begitu, selalu serius jika menghadapi sesuatu."
Bibir Hermione tersenyum tipis menanggapi cerita Mr Abraxas.
"Kenapa kau tidak belajar kelompok saja dengan Draco?"
DEG! Mr Abraxas menyuruh Hermione untuk kerja kelompok bersama Draco?
"Oh—uhm... tidak, Mr Malfoy. Terima kasih, saya—saya lebih baik belajar disini saja."
"Atau bagaimana jika Draco kusuruh kesini saja untuk menemanimu?"
Hermione tidak tahu harus menolak bagaimana lagi. Mr Abraxas terus mendesaknya untuk belajar kelompok bersama cucunya itu. Jelas Mr Abraxas tidak tahu dengan problematika yang tengah terjadi antara Hermione dan Draco.
"Oh, tidak usah, Mr Malfoy. Saya—Saya yakin Draco lebih memilih belajar sendiri di rumahnya daripada disini bersama saya." tolak Hermione dengan sopan.
Kali ini Mr Abraxas mengangguk, tidak ingin memaksa Hermione lagi. Ia pun pamit untuk melanjutkan blusukannya.
Tak lama kemudian, Cedric, Ernie, dan Ginny datang. "Assalamu'alaikum, Hermione." ucap Cedric dan Ernie, Ginny hanya diam saja. Sepertinya ia masih sebal dengan Hermione.
"Wa'alaikumsalam. Hai... sedang apa kalian?" jawab Hermione.
"Apa kau sibuk? Kita mau mengajakmu untuk rapat Remaja Masjid."
Hermione menimbang-nimbang. Ia menatap buku dan teman-temannya secara bergantian. Sepertinya ada hal penting yang ingin dimusyawarahkan para Remaja Masjid—tentunya Hermione harus ikut. Tetapi jika ia ikut, bagaimana dengan belajarnya?
"Oh, ayolah, Hermione. Kau kan sudah terlalu banyak belajar. Jadi—apa salahnya bersantai sedikit dan berkumpul bersama teman-temanmu?" bujuk Ernie McMillan.
Setelah menimbang-nimbang cukup lama, akhirnya Hermione setuju untuk ikut bersama ketiga temannya itu. Ternyata mereka sudah membawa sepeda masing-masing. Syukurlah, sehingga tidak ada yang berjalan kaki atau bergandengan.
Sesampainya di Masjid, Hermione sudah melihat teman-temannya yang lain—Luna Lovegood, Lavender Brown, Hannah Abbot, Cho Chang, Neviile Longbottom, Dean Thomas, Seamus Finnigan, dan yang lainnya—sudah berkumpul dan bersenda gurau di pelataran Masjid. Namun hatinya mencelos ketika melihat Theodore Nott tengah berbincang dengan—Draco Malfoy. Jadi Draco juga datang?
"Assalamu'alaikum." Teriak Cedric.
"Wa'alaikumsalam." Jawab teman-temannya yang lain hampir bersamaan.
"Baiklah, semuanya sudah berkumpul, kan?" Teriak Percy Weasley, kakak Ginny sekaligus ketua Remaja Masjid. Pria berkacamata kotak itu sudah menjadi mahasiswa di salah satu Universitas yang jaraknya berkilo-kilo meter jauhnya dari desa ini.
Mendengar teriakan Percy yang sangat bossy, mereka pun memutuskan untuk mendekat daripada kena cercahannya yang sangat membosankan. Tanpa sadar, Hermione tengah duduk di sebelah Draco. Sekilas, mata mereka saling bertemu—namun buru-buru mereka mengalihkan pandangan masing-masing dan menggeser duduk mereka sehingga lebih jauh. Ginny mendekat, ia duduk di tengah-tengah Hermione dan Draco dengan seenaknya.
"Gin, tidak baik kau tiba-tiba menyeruak duduk di tengah seperti itu. Kata orang tua jaman dahulu itu pamali." Tegur Hermione.
Namun bukannya mendengarkan, Ginny mencibir perkataan Hermione dengan ketus. Hermione terdiam, tidak ingin memperpanjang masalah dengan Ginny. Ia bisa melihat dari sudut matanya, bahwa Ginny terus-menerus memepet Draco yang kelihatannya risih. Berkali-kali Draco menjauh dan mendorong bahu Ginny, tetapi Ginny malah menganggap perlakuan Draco sebagai gurauan.
"Ginny, Draco, bisa kalian diam?" teriak Percy dari depan.
Semua kepala menoleh memandang dua orang yang dipanggil itu. Draco merasa malu, namun tidak dengan Ginny. Gadis itu malah senyum-senyum sendiri tanpa merasa bersalah atau apa.
Ginny sudah keterlaluan, batin Hermione.
Rapat berlangsung cukup lama. Mungkin hampir dua jam mereka disuguhi ceramah membosankan Percy Weasley. Hingga mereka semua heran, bagaiman bisa Percy mengoceh begitu lamanya namun mulutnya tidak berbusa? Satu persatu para anggota Remaja Masjid berbondong-bondong pulang. Begitu pula dengan Hermione, ia memakai sandal jepit berwarna merahnya dan berjalan menuju tempat parkir sepeda.
"Er—Granger." Panggil Draco, membuat Hermione tersentak kaget dan menjatuhkan sepedanya.
"Oh, maaf aku mengejutkanmu. Biar kubantu." Kata Draco, sembari mengangkat sepeda Hermione yang jatuh.
Hermione mengucapkan terima kasih dengan nada dingin.
"Aku ingin bicara."
"Apa yang ingin kau bicarakan denganku setelah kita sampai disini, Malfoy?" kata Hermione, membuka percakapan di antara ia dan Draco.
Mereka tengah berada di tempat yang sangat indah. Hermione pernah sekali kesini bersama Ginny ketika dengan tidak sengaja mereka menemukannya. Sebuah pohon kapas berukuran besar menjulang tinggi di salah satu sudut, di depan terdapat sengkedan-sengkedan dan sawah yang padinya sudah mulai menguning. Mereka juga dapat melihat rumah-rumah penduduk dari atas sini.
Draco tersenyum tipis seperti terakhir kali mereka bertemu. "Aku ingin meminta maaf atas kesalah fahamanku, Granger." Kata Draco dengan nada tenang yang ia paksakan.
"Tak apa, itu bukan masalah untukku, Malfoy." Jawab Hermione dengan dingin.
"Tiga bulan lagi kita akan naik ke kelas tiga, kemudian lulus. Aku ingin tahu, apa yang ingin kau lakukan?" tanya Draco tiba-tiba menanyakan tentang rencana Hermione di masa depan.
Hermione memikirkan jawaban yang akan ia berikan kepada Draco. Sebelum menjawab, Hermione mengambil buah kapas yang sudah terbuka dan kering dari tanah. "Aku? Tentu saja aku ingin kuliah untuk menggapai cita-citaku dan membahagiakan kedua orang tua." Jawab Hermione dengan menerbangkan sedikit demi sedikit kapas yang menyumbul keluar.
"Tidak ada pikiran mau—uhm... maaf—menikah?"
Dahi Hermione mengkerut mendengar pertanyaan Draco yang terkesan absurd ini. "Me—Menikah? Aku bahkan belum berpikiran sampai kesana. Aku—yang terpenting menurutku adalah membalas membahagiakan kedua orang tuaku. Soal jodoh, jodoh bisa datang kapan saja, Malfoy. Aku yakin Allah telah memberikanku jodoh yang terbaik."
'Dan semoga saja orang itu adalah aku, Granger. Aku sangat berharap.' Batin Draco dengan jantung yang berdegup kencang.
Mereka sama-sama terdiam. Draco dan Hermione sebenarnya sama-sama tidak nyaman dengan suasana canggung seperti ini. Hermione mengalihkan perhatiannya ke arah kapas-kapas yang bertebaran di tanah—memungutinya dan menerbangkannya lagi. sedangkan Draco, pria itu mengambil untaian-untaian bunga yang tumbuh liar di sekitar tempatnya berdiri. Ia menyusun bunga-bunga itu sehingga membentuk sebuah mahkota bunga yang sangat indah.
Draco menghampiri Hermione yang tengah berjongkok mengambil kapas-kapas dan meletakkan mahkota buatannya itu dengan hati-hati ke kepala Hermione. Sesaat, Hermione kaget dengan perlakuan Draco, namun ia kagum dengan mahkota yang Draco berikan.
Hermione berdiri sambil memegangi mahkota yang bertengger di kepalanya. Indah sekali. "Bagaimana kau bisa membuatnya?" tanya Hermione dengan kagum. Ia bahkan meninggalkan nada dinginnya.
"Dengan sentuhan sihir." Ucap Draco menggerakkan jari-jarinya seperti pesulap.
Hermione terkekeh pelan mendengar jawaban Draco. Sihir itu takhyul.
"Terima kasih." Kata Hermione dengan nada dinginnya kembali.
"Anything for you."
Jawaban Draco sukses membuat pipi Hermione memerah. Ia melirik jam tangannya sejenak, pukul 9 pagi—ia harus pulang untuk membantu Ibunya.
"Uhm... aku pulang dulu, Assalamu'alaikum." Pamit Hermione dengan datar.
"Wa'alaikumsalam." Jawab Draco, yang sebenarnya ingin mencegah gadis itu pulang. Ia masih ingin mengobrol panjang lebar lagi, namun apa boleh buat? Ia tidak mungkin melarang Hermione pergi, takut jika gadis itu berpikiran negatif terhadap Draco.
Cantik sekali. Dua kata itulah yang sedari tadi bergumam di hati kecil Hermione. Mahkota pemberian Draco masih setia di genggamannya. Sedari tadi Hermione tidak melepaskan mahkota itu dengan sengaja, ia membawanya kemanapun ia pergi—bahkan saat membantu ibunya di dapur. Sehingga membuat sang ibu terheran-heran karenanya.
Bunga berwarni-warni itu—bagaimana bisa Draco merangkainya menjadi mahkota yang begitu indah? Bahkan dapat membuat hati Hermione luluh. Tadi, hampir saja Hermione bersikap lunak kepada pemuda itu.
Apa mungkin Hermione sudah mulai jatuh cinta dengan Draco Malfoy?
Draco mengendap-endap memasuki Masjid. Ia tidak ingin ketahuan oleh satu orang pun—maka dari itu Draco melilitkan sarungnya menutupi muka seperti maling di televisi-televisi agar tidak ada yang mengenalinya, termasuk Hermione yang sekarang sedang mengajar mengaji anak-anak kecil di dalam Masjid.
Draco mengintip sedikit dari daun jendela yang terbuka lebar. Hatinya terenyuh melihat Hermione dengan telaten mengajari anak-anak itu huruf hijaiyah dan tajwidnya. Di sudut lain, ia dapat melihat Ginny Weasley duduk—namun tidak berniat membantu Hermione. Ia kelihatan uring-uringan, sehingga anak-anak kecil yang mendekatinya terkena imbasnya.
Draco menggeleng pelan melihat kelakuan Ginny. Apa benar apa kata kakeknya, bahwa Ginny menyukai Draco dan cemburu kepada Hermione? Pantas saja, tadi ketika rapat Remaja Masjid, Ginny selalu memepet dirinya dan memotong jarak antara dirinya dengan Hermione.
Tepukan keras di punggungnya membuat Draco membuyarkan lamunannya dan terkejut. Jantungnya serasa hampir copot.
Cedric Diggory, pemuda tampan itu hendak berteriak 'Maling, Maling'. Namun aksinya itu segera dihentikan oleh Draco. Draco membuka sarung yang menutupi kepalanya dan membekap mulut Cedric.
Cedric agak terkejut melihat kelakuan Draco. Ia bahkan sempat mengira Draco adalah maling yang hendak mencuri kotak amal. Namun Draco buru-buru menyanggahnya. Mana mungkin Draco seberani itu?
"Lalu apa yang kau lakukan, pirang? Mengintip seseorang, eh?" goda Cedric sambil mengerling ke dalam—ke arah Hermione.
Sekali lagi Draco membekap mulut Cedric. "Shhtt... jangan berisik. Nanti kalau ketahuan, harga diriku akan jatuh."
Cedric tak hilang akal, ia menjilat telapak tangan Draco yang membekapnya—sehingga sang empunya melepasnya dengan jijik. Draco mengelap air liur Cedric dengan baju koko pemuda itu. Cedric tertawa terbahak sembari berlari, dan Draco mengejar di belakangnya.
"Bisakah kalian tenang?" teriak seseorang dari depan pintu.
Cedric dan Draco sama-sama menoleh. Pipi Draco bersemu merah lantaran Hermione tengah melihatnya berlarian mengejar Cedric seperti anak berumur lima tahun.
Oke, ini sangat memalukan untuk seorang Malfoy.
.
.
.
-To Be Continue-
Assalamu'alaikum :)
Bagaimana? Masih adakah kekurangan di fict ini?
Langsung saja,
RnR, please...
Don't be silent readers, Guys :)
