Penggaris Kaca (ガラス定規)
Disclaimer:
Vocaloid © Yamaha & Crypton Future Media
Penggaris Kaca © Haniko Deguchi
~~~~ Chapter 2 ~~~~
"Miku, makan dulu yuk. Minum jus jeruk deh kalau tidak! Kamu mau ngga? "tanya Rin kehausan. Dasar, emang kepengen aja dia mau minum jeruk!
"Tidak ah, sebentar lagi kan kita sampai, nanti minta saja sama Luka. Malah enak disana kamu dibeliin sama Luka, iya kan? "kataku sambil berjalan. Rin berpikir sambil memegang dagunya.
"Hmm... Iya juga sih. "pikir Rin. Aku, Rin dan Meiko pun sampai di depan rumah Luka, tepatnya di gerbang. Meiko menekan tombol bel yang ada ditembok gerbang. Luka pun segera datang dan membukakan pintu gerbang untuk kami.
"Eh, Rin, Meiko, Miku. Tumben kesini, lagi liburan ya? "tanya Luka ramah sambil mempersilahkan aku, Rin dan Meiko masuk ke dalam rumah Luka.
"Iya, kami sedang liburan. Luka-nee, aku boleh minta es jeruk ngga? Haus banget nih, udah daritadi sejak dijalan aku tahan hausnya "keluh Rin.
"Oh iya, kalian mau minum apa, Meiko, Miku? Biar nanti kubuatkan "tawar Luka. Meiko hanya minta air dingin saja. Sedangkan aku memilih tidak mau karena memang aku tidak haus.
"Kau mau minum apa, Miku? "tanya Luka. Sambil tersenyum, aku pun menjawab.
"Tidak perlu, Luka. Aku sudah bawa jus jambu kok dari rumah "jawabku enteng. Entah kenapa Rin yang sedang menikmati jus jeruknya itu tiba-tiba bingung dengan perkataanku barusan.
"Ehm... Miku, jus jambu itu bukannya punya Aoki ya? "tanya Rin kebingungan. Aku pun tertawa geli mendengarnya.
"Kau kenapa? "tanya Luka yang ikut bingung seperti Rin. Aku pun berhenti tertawa dan menjelaskannya pada mereka.
"Ihihi... Iya, tadi jusnya Aoki aku ambil. Habisnya di kulkas tidak ada air dingin untuk kubawa "jawabku sambil bersenyam-senyum ria. Luka dan Meiko hanya cemberut mendengarnya. Sedangkan Rin tidak peduli dengan perkataanku, ia kembali menyantap jus jeruk kesukaannya.
"Oh iya, Lily dan Lola ada di Amerika ya? Kemarin aku diberitahu oleh Gumi "tanya Luka sambil duduk di sofa yang berada tak jauh dariku.
"Iya, mereka berdua ada disana. Eh, Luka, apa kau tau apa ini? "tanyaku sambil menunjukkan kedua penggaris kaca yang tadi kutemukan. Sekilas, Luka memandangnya sambil memikirkan sesuatu.
"Sepertinya aku pernah melihat benda ini. Kalau tidak salah ini peninggalan bangsa Rafumi "jelas Luka. Bangsa Rafumi? Bangsa apa itu? Aku belum pernah mendengarnya sebelumnya.
"Bangsa Rafumi? Aku belum pernah mendengarnya. "kataku pada Luka. Luka pun segera menjelaskannya padaku. Bangsa Rafumi adalah sebuah bangsa yang ada di dunia khayalan. Konon, bangsa itu tercipta dari seorang anak kecil yang sangat membenci pertengkaran. Suatu hari, ada seorang penyihir mengubah keadaan bangsa Rafumi. Bangsa itu menjadi ada di 2 dunia yang berbeda. Pertama, ada di dunia asalnya, dunia khayalan. Yang kedua ada di dunia nyata. Itu pun tidak ada yang tau keberadaan dan masa dimana bangsa itu ada di kenyataan.
"Jadi, yang di dunia nyata itu copy-annya yang file-nya hilang ya? "celetuk Rin. Semua yang ada disana pun tertawa mendengar kata-kata Rin.
"Hahaha.. Yah, bisa dibilang begitu. "kata Luka.
- Skip Time -
Hujan lebat pun turun saat Miku, Rin dan Meiko mau bergegas pulang. Mereka pun memutuskan untuk menunggu hingga hujan tak terlalu deras. Tapi sayangnya, hujan yang lebat itu tak berhenti-henti. Justru malah menjadi hujan badai.
"Lebih baik kalian menginap saja dulu disini. Hujan dan anginnya tak baik untuk kalian. "kata Luka menyarankan. Rin pun langsung membantah saran dari Luka.
"Ga mau! Nanti ga bisa makan makanan penutup makan malam pakai jeruk! "kata Rin.
"Jeruk lagi.. Jeruk lagi.. "kata Meiko dengan wajah malasnya.
"Haha.. Tenang saja Rin. Kemarin aku dapat jeruk satu keranjang dari tetangga-... "
"Luka-nee serius?! "kata Rin dengan penuh harap. Luka tersenyum lalu mengangguk. Rin pun berjingkrak-jingkrak kegirangan sambil berteriak "Yatta! Yatta! Yatta! " berulang kali. Mereka semua pun berjalan menuju ruang santai di rumah Luka.
"Kalian tunggu disini saja ya, aku mau membuat makanan untuk makan malam dulu. "kata Luka. Rin pun ikut dengan Luka karna ia ingin makan sedikit jeruk duduk bersama Meiko di ruang santai. Meiko hanya memainkan iPad-nya sejak tadi. Untuk mengisi rasa bosanku, aku menyalakan tv yang ada disana. Pada saat aku hendak ingin memencet tombol Power tv, aku melihat sebuah barang yang tak asing untukku. Pada saat kuintip sedikit, kelihatannya itu adalah sebuah game. Aku pun berniat bertanya pada Luka tentang benda itu. Karena jika dugaanku benar, aku ingin mengajak Meiko dan Rin untuk bermain balapan mobil bersamaku. Yah, tapi jika Luka sudah selesai membuat makan malam dan kami semua sudah memakan makan malam buatan Luka.
"Luka, kotak yang ada di bawah tv itu apa? Game? "tanyaku pada Luka dengan setengah berteriak. Ia yang mendengar pertanyaanku langsung menuju ruang depan.
"Yang mana? "tanyanya. Aku pun menunjuk ke arah kotak hitam yang ada di bawah tv.
"Oh.. Itu.. Iya, itu game. Kau mau memainkannya? Kalau mau buka saja kotaknya. "kata Luka. Aku mengangguk senang dan segera membuka kotak itu. Aku benar-benar tidak sabar ingin memainkannya. Karena terakhir kali aku main game adalah tahun lalu. Apalagi aku sangat menyukai game yang dapat dimainkan oleh 4 orang sekaligus ini. Aku ingin main balapan mobil!
"Kau tau cara menyalakannya kan, Miku? "tanya Luka dari dapur.
"Ya! Aku tau! "jawabku kegirangan. Setelah semuanya telah siap, aku pun mulai bermain game balapan mobil. Sebelum itu, aku mundur dan duduk bersandar di samping Meiko. Saat aku sedang asyik memodifikasi mobil yang akan kupakai, Meiko baru menyadari bahwa aku sedang main game.
"Eh? Game? Balapan mobil?! Aku ikutan dong! Miku, tungguin aku! Aku juga mau main! "seru Meiko langsung memasang sebuah joystick. Setelah itu ia duduk di sebelahku.
"Kita duel ya? Ok? "tanya Meiko dengan nada menantang.
"Ok. Tapi aku modifikasi dulu mobilku. "jawabku. Tiba-tiba, terdengar suara pintu terbuka. Tak lama kemudian masuklah Len, Lui, Gakupo dan Kaito.
"Aku pulang! "ucap Lui sambil meletakkan sepatunya di rak sepatu.
"Meiko, dimana Luka? Kau kok ada disini? "tanya Gakupo.
"Cieh! Gakupo-nii baru pulang langsung nyariin Luka-nee! Luka-nee! Gakupo-nii nyariin tuh! Oh ya, sejak kapan Gakupo-nii jadi peka begini, Luka-nee? "goda Rin yang tiba-tiba muncul dari balik tembok dengan gaya mengintipnya. Gakupo yang digoda Rin hanya bisa menunjukkan wajah malasnya. Setelah puas tertawa dan menggoda Gakupo, Rin melihat Len yang sedang melepas jaketnya di dekat pintu. Hanya melihat Len tanpa melihat wajahnya saja, Rin rasanya benar-benar terpukau dan malu seketika.
'L-Len-nii chan.. Kapan kau datang?.. Hwaa... "gumamnya dalam hati. Setelah meletakkan jaketnya di gantungan dekat rak sepatu, Len pun membalikkan badannya. Tak sengaja ia pun melihat Rin sedang melihatnya dengan pipi yang memerah. Sontak, Len yang melihat wajah Rin langsung meleleh. Yah, benar, mereka berdua blushing. Aku yang melihat mereka berdua langsung berpura-pura batuk dan muntah.
"Kamu kenapa, Miku? "tanya Meiko sambil menoleh ke arahku.
"Ehm.. Ah, engga. Hanya saja tadi ada pandangan yang membuatku tak ingin mengganggunya. "jawabku sambil sedikit mengeraskan suaraku agar didengar oleh Rin dan Len. Semua yang ada di ruangan itu mendengar kata-kataku dan berpura-pura batuk juga sepertiku kecuali Rin dan Len. Mereka berdua hanya blushing dan memalingkan wajah mereka ke arah lain. Setelah itu, tiba-tiba Luka menyahut dari dapur.
"Ada Len ya? Rin! Bisa kau bantu aku membawa makanan ini? "tanya Luka dari dapur. Rin segera menuju dapur untuk membantu Luka.
To Be Continue...
Don't forget for Review!
