Disclaimer:
Vocaloid © Yamaha & Crypton Future Media
Penggaris Kaca © Haniko Deguchi
Dalam kesunyian saat fajar, saat hari yang penuh harapan akan dimulai, seberkas cahaya emerald muncul mengejutkanku. Ku ingin mengetahuinya. Tetapi sayang, kau menghilang dan tidak ingin menampakkan wujudmu…
Penggaris Kaca Ch. 5
WARNING: OOT, authornya lagi gila, kalo berani baca sih gpp, terserah anda ( ̄▽ ̄)a
Tapi awas, nanti ketularan :v
Yosh! Happy Reading, minna-sama!
"Wush… "
"Angin malam benar-benar dingin! Huh.. Luka-nee, bisa tolong buatkan aku teh? " tanya Lui pada Luka sambil menuju ke dapur.
"Ya, tentu. Tunggu sebentar ya.. " jawab Luka. Ia pun segera memanggil Rin untuk membantunya membawakan makanan ringan ke ruang depan.
"Ada Len ya? Rin! Bisa kau bantu aku membawa makanan ini? "tanya Luka dari dapur. Rin segera menuju dapur untuk membantu Luka.
"I-Iya, yang mana, Luka-nee? "
"Itu, snack di meja makan. Tolong bawakan ke ruang depan ya. Lalu jangan lupa bawakan pisang yang ada di samping teko. " tambah Luka. Rin pun segera melaksanakan tugasnya. Sementara itu, di ruang depan terjadi sedikit kegaduhan yang luar binasa (lah?).
"Hyaaahh! Aku pasti menang! Tapi mengapa mobil ini begitu lambat sih?! " gerutu Meiko dengan nada teriak. Yang lain hanya bias bertaruh sambil menyaksikan pertandingan balapan mobil yang dilakukan oleh Meiko dan Miku.
"Hohohohoho! Sedikit lagi! Beta menang! Bruakakakak! (?) " tawa Miku dengan logat Maluku-nya. Entah darimana ia belajar bahasa Maluku itu, tapi yang jelas ke'gilaan'nya menurut author sudah mencapai stadium awal yang cukup membuat bulu kucing jabrik. /padahal authornya juga -_-
"Ada yang mau snack? " tanya Rin sambil menggerak-gerakkan telinga kucing yang ia pakai bersama ekornya. Entah kenapa, dan mungkin karna ulah Rin, Kaito yang agak-agak lolicon itu pun mimisan layaknya manusia biasa. (Ga perlu berlebihan lah.. -.- /jdesh)
"Lho? Len mana? Kok ngilang? " celetuk Gakupo. Ia pun menengok ke arah kanan dan kiri. Lalu berdansa ria-…. /gak
Ia pun segera menemukan sosok Len yang sedang pundung di atap kandang ayam milik tetangga sebelah sambil hujan-hujanan. Bersama juga dengan ayam-ayam tetangga yang sedang bernyanyi lagu galau untuk Len tercinta. /ngok
"Len? Ngapain disitu? Konser? " tanya Gakupo dengan wajah innocent(tidak bersalah)-nya. Seketika, fans Len pun menyumpahinya agar ia tersambar petir hingga kepalanya botak dan tidak tersisa sehelai rambut pun.
"DUUAARR! "
"Done! " teriak fans Len. Mereka pun kembali membuka handphone dan laptop mereka untuk melanjutkan membaca cerita. Sementara itu, Gakupo hanya bisa melongo setelah ia tersambar petir yang begitu 'nyes' baginya. Tapi, setelah dicermati lagi, ternyata rambutnya belum botak dan masih tersisa sehelai rambut yang terbelai angin. Petir pun kembali menyambarnya hingga kepalanya benar-benar 'botak'.
"Lho? Dimana? D-Dimana Len-nii chan? " kata Rin khawatir. Ia pun segera mencarinya. Setelah ia menemukannya, ia pun menangis melihat Len menangis di atas kandang ayam milik tetangganya itu.
"O-Onii c-chan… "
"Ah? R-Rin? "
"O-Onii chan… "
"Rin! " teriak Len sambil berlari ke arah Rin lalu memeluknya.
"Ke-Kenapa kau menangis, o-kawaii imouto-nyan? " tanya Len lembut.
"J-Justru, ke-kenapa onii chan menangis? Gara-gara aku ya… " tebak Rin sambil menatap Len dan menitikkan air matanya.
"Hei, hei.. Biasa ajalah.. Ga usah guatell (read: gatal) gitu napa Rin.. Mending enjoy ajalah.. Yo, yo,yo.. " kata sang author gaje (ga jelas) sambil nge-rap. Rin dan Len hanya bisa memasang wajah malas mereka melihat sang author udah mulai overdosis karena makan makanan kesukaannya, ikan.
"Hadeh.. Itu makhluk(?) makan ikan apa yak? " tanya Len entah pada siapa.
"Makan ikan sapu-sapu kali.. Tuh, liat aja, itu makhluk malah nyapu kan? " kata Rin.
"Iya tuh. Ya udah, imouto-chan, ayo ke dapur. Siapkan makanan untuk onii chan ya? " tanya Len sambil mengelus kepala Rin pelan.
"Ogah! Ga mau ah! Muales! (read: malas, bukan mules, kalo mules lain lagi -_- ) " kata Rin lalu kabur dari tempat itu bersama sang author yang udah kelewat overdosis. Lain keadaan di luar, lain juga keadaan di dalam. Author pun segera melanjutkan ceritanya. Dan Rin kembali ke dapur untuk membawakan makanan lain.
Angin yang bertiup kencang dan hujan yang makin deras tidak membuat kehangatan di keluarga dan persahabatan itu lenyap atau berkurang. Karena mereka mainan korek api /nggak
Yah, itu karena mereka saling peduli satu sama lain. Bahkan, saat Miku merasa kesepian dan ditimpa banyak masalah, sampai membuatnya berniat untuk menjadi hikkikomori atau mengurung dirinya selama lebih dari 6 bulan, kawan-kawannya justru berusaha membantunya. Sekalipun harus mengeluarkan uang yang cukup banyak.
"Braakk! "
"Wohoo! Aku dapat berliannya! " ucap Meiko kegirangan.
"Suara apa barusan? Meja siapa yang hancur? " tanya Luka dari dapur.
"Tidak kok, Luka-nee. Kami lagi main game adventure nih! " jawab Len setengah berteriak.
"Meiko.. Bagi dikit dong berliannya.. " pinta Kaito.
"MODAL DIKIT! " teriak Meiko tepat di depan telinga Kaito. Kaito yang agak marah itu pun memasang wajah datarnya. Meiko yang segera menyadarinya pun segera menanyakannya pada Kaito dengan sedikit rasa khawatir.
"Kamu kenapa? "
"Aishiteru yo… " kata Kaito sambil memeluknya.
" Uhuk! Uhuk! Uhuk! "
"Huweeekk! "
"Huwoookk! "
"Siapa yang muntah pakai vocal 'o' tadi, hah? Dengarnya aku jadi kepengen menghajarnya.. " tanya Meiko dengan amarahnya yang kian memuncak. Otomatis, kalo Meiko yang tanya, jelaslah sudah kalau ga akan ada yang mau jawab. Miku yang sebenarnya melakukannya hanya diam dan diam-diam menyelinap menuju ke dapur.
'Hah.. Daripada ketahuan, lebih baik aku ke dapur.. Mungkin saja ada yang bisa kubantu. ' gumam Miku. Sesampainya di dapur, suasanya tidak begitu ramai. Luka sedang sibuk mengajari Rin cara membuat onigiri (sejenis nasi gulung/bento). Ada juga Lui yang sedang asyik memakan ikan secara diam-diam bersama author. Miku pun berniat untuk mencicipi masakan yang ada disana.
"Wah, buat onigiri ya? Lucunya.. Boleh kumakan satu? " tanya Miku.
"Tentu, cobalah. " jawab Luka sembari tersenyum. Aku pun memakannya satu. Tiba-tiba Len pun datang dan mengambil beberapa onigiri untuknya. Rin pun segera berteriak dan mengejarnya. Sementara itu, Luka pun menggantikan Rin membuat onigiri.
"Bagaimana tentang penggaris kacamu, Miku? Sudah dapat informasi lebih banyakkah? " tanya Luka ramah. Tentunya ia masih membuat onigirinya.
"Ah, ya.. Itu.. Aku belum menemukannya satu pun. Aku sudah menanyakannya pada beberapa orang yang kukenal, tapi mereka semua tidak mengetahuinya. Niatnya sih, aku mau menanyakannya pada Lily, tapi sayangnya sepertinya ia sibuk akhir-akhir ini. Luka, boleh kupinjam bukumu yang waktu itu? Mungkin esok lusa sepulang dari tempat kerja akan kukembalikan. " kata Miku.
"Ah, tentu. Pakai saja. Ada di laci di kamarku kok. " kata Luka.
"Terima kasih. Ah ya, sini, biar kubantu. Aku pernah diajari temanku membuat onigiri waktu pergi ke Nagoya dulu. Waktu itu ada festival budaya, jadi aku sempat belajar membuatnya, hehe.. " tawa Miku. Ia pun berbicang-bincang dengan Luka soal Rin dan Len yang sering bertengkar, Lui yang sering memakan ikan di meja makan, Kaito dan Meiko yang sering menjahili satu sama lain, dan sebagainya.
"Hosh.. Hosh.. Onii chan ini benar-benar menyebalkan! Aku kan sudah susah-susah membuat-… "
"-kan untuknya! " sela Miku dan Luka bersamaan.
"Kalian kok malah menggodaku sih?! " gerutu Rin.
"Hei.. Tapi itu kenyataan, kan? " celetuk Lui sambil mengambil segelas jus jeruk yang ada di meja makan.
"A-Ah.. I-Itu.. Itu tidak benar! Kalian hanya mengada-ada saja tau! " bantah Rin. Pipinya pun mulai merona merah mendengar kawannya itu menggodanya dengan orang yang ia sukai.
"Begitukah? " tanya Len yang tiba-tiba muncul tepat di belakang Rin.
"E-Eee?! O-O-Onii c-chan?! "
"Apa benar begitu, Rin? "
"I-Itu.. Ah! Onii chan.. Ayo ikut aku! " kata Rin tiba-tiba sambil menarik tangan Len ke arah teras depan.
"Semoga saja Len cepat mengungkapkan perasaannya, hahaha.. " tawa Luka sambil berharap. Setelah makanan siap, mereka yang ada di rumah Luka itu pun langsung menyantapnya sambil diiringi oleh canda dan tawa. Hujan masih belum berhenti dan belum reda, masih sama seperti tadi. Mereka semua pun makan hingga saatnya jam menunjukkan pukul 11 malam.
"Ah, aku sudah ngantuk. Sekarang waktunya tidur." kata Luka lalu menguap.
"Luka-nee, aku tidur dimana? " tanya Rin.
"Yang perempuan tidur di kamarku dan yang laki-laki tidur di ruang depan, tidak apa-apa kan? Kalau tidak muat di depan kamarku saja." saran Luka.
"Aku tidur duluan ya, udah ngantuukk.. Oyasumi! Oyasumi, onii chan! " kata Rin pada Len sambil melambaikan tangannya. Len pun tersenyum dan segera bergegas pergi ke ruang depan. Mereka semua pun tidur dengan nyenyak di tempatnya masing-masing. Tapi pada 2 jam kemudian, seisi rumah gaduh karena ada kejadian yang begitu memalukan.
"Ah! Ayolah, onii chan! Bangunlah! " kata Rin sambil menuntun Len yang tertidur dalam keadaan berjalan ke arah dapur.
"Ada apa sih? Kok ribut begini? " tanya Lui yang baru bangun. Ia baru sadar ada sedikit keributan karena ia tidur dengan mendirikan tenda di teras. Katanya sih, yang tidur di ruang depan tidurnya mendengkur semua. /parah
"Lihat itu.." ucap Kaito sambil menunjukkan jari telunjuknya ke arah Len dan Rin. Lui hanya berkata "Oh.." lalu kembali tidur dengan nyenyaknya tanpa ada sedikit rasa khawatir pun. Kaito yang melihat Lui kembali tidur itu pun ikut-ikutan tidur kembali. Begitu pula Gakupo dan Luka. Hingga akhirnya semuanya pun tidur kembali di tempatnya masing-masing. Tentu saja kecuali Rin yang sedang sibuk mengurusi Len yang jalan ke arah dapur dengan keadaan tertidur itu. Tapi untungnya, penderitaan Rin tidak bertahan lama. Beberapa menit kemudian, Len pun bisa kembali tidur di ruang depan dengan nyenyak kembali. Cerita pun berlanjut pada keesokan harinya. Tepatnya pada saat fajar dan suara kokokan ayam tetangga terdengar…..
"Ukh.. Huaamm.. Nyam nyam.. Ah, sudah pagi.." kata Luka pelan. Ia pun mengucek kedua matanya pelan lalu membuka jendela kamarnya. Saat itu masih sangat pagi, sehingga matahari belum terlalu terlihat terang. Luka pun segera bergegas mencuci wajahnya dan menyikat giginya. Setelah itu ia pergi ke dapur untuk membuat sarapan. Tapi, sebelum itu, ia menyempatkan diri untuk melihat ke ruang depan. Tampaklah Len, Kaito, dan Gakupo yang sedang tertidur dengan pulasnya. Luka hanya tersenyum. Tiba-tiba ia melihat tas Miku yang ada di ruang depan tampak bersinar. Ia yang penasaran pun segera membukanya. Tapi tiba-tiba cahaya hijau emerald itu pun menghilang. Luka cukup tercengang melihatnya. Ia pun segera melupakannya dan menuju ke dapur.
"Sriiing…"
To Be Continue…
Author's Note:
Haro, readers! Apa kabar? Pertama aku mau minta maaf karena baru update sekarang, maaf ya m(_ _)m Habisnya aku juga baru sempat sih -v- Ah ya, mohon maaf juga ya, aku numpang nampang di beberapa scene. Maklum, kan udah ada peringatannya di atas xDD
Yah, terima kasih buat para readers yang udah mau baca karyaku, aku akan senang banget kalau kalian juga me-review karyaku ini. Terima kasih banyak! Silahkan tunggu kelanjutannya ya! Tapi aku ga janji bakalan update next chapternya. Karena kan bisa aja tau-tau discontinued "-" Tapi kuharap sih, fanfic ini dan fanfic-ku yang lain ga akan ada yang discontinued, amin.. u.u
Ah ya, aku mau balas review dari Vhi:
Maaf ya, aku ga bisa update kilat, waktuku buat buka laptop ga terlalu banyak soalnya, hehehe.. :D
Tapi terima kasih banyak sudah mau baca dan review! Terima kasih! xDD
Review Please, Thanks!
Author
