Draw our Music

Wah terimakasih untuk reviewnya

Maaf kalau banyak typo

Enjoy

~nohe~

"Aku punya satu cara Kuroko...cara untuk memisahkan kakakmu dan Akashi..." kuroko tersentak dan langsung menatap Riko. Momoi hanya menghela nafas, sepertinya Momoi sepemikiran dengan Riko.

"Nee Riko-chan jangan bilang pemikiran kita sama...huft"Momoi menghela nafas dan sedikit berkeringat.

"Tapi,sepertinya...ini cara yang paling ampuh...yah, setidaknya untuk saat ini..."jawab Riko. Momoi mengangguk setuju.

"Bagaimana caranya?" tanya kuroko dengan serius. 'Aku akan memisahkan mereka, bagaimana pun caranya!' ucap Kuroko dengan mantap di dalam hatinya.

"MUNGKIN INI SEDIKIT GILA…." Ucap Riko dengan sangat serius.

Chapter 4a:

Keadaan di antara Kuroko, Riko, dan Momoi sedikit menegang. Momoi yang jengah pun mulai angkat bicara.

"Ne Riko-chan! Cepat katakan, atau aku yang mengatakannya?" ujar gadis bersurai pink itu.

"Hmmh baiklah. Kuroko, apa kau yakin ingin mendengar cara dari ku?" tanya Riko.

"Ya Riko-chan, beritahu aku!" ucap Kuroko dengan mantap.

"Kau bilang, kakak mu mengira kau menyukai Akashi kan?" Riko bertanya dengan serius, Kuroko mengangguk yang berarti 'ya'. Riko menepuk bahu Kuroko dan meghela nafasnya untuk kesekian kali.

"Kalau begitu, bepura-puralah menyukai Akashi" Jelas Riko dengan tenang namun masih dengan ekspresi yang serius. Momoi yang sepemikiran menganggukan kepalanya.

"A-apa!?" Kuroko terkejut dan tak mengerti akan cara yang diberikan Riko.

"Kau tahu kan Kuroko, nii-san mu begitu sayang padamu. Dari ceritamu barusan, aku menyimpulkan beberapa hal. Pertama, sepertinya Daiki berpikiran jika kebahagiaanmu lebih penting dari kebahagiaannya- jadi jika ia tahu kalau kau menyukai Akashi, kemungkinan besar Daiki akan menjauhi Akashi, karena dia pasti akan berpikir kalau kau akan bahagia bila bersama Akashi. Kedua, kau seharusnya bersyukur karena nii-san mu itu orang yang kurang peka menebak gerak-gerik orang- kau sering memperhatikan mereka kalau sedang berduaan karena cemas kan? Nah si Daiki lemot mengira kau suka pada Akashi karena kau sering memperhatikan mereka Kuroko" Riko menjelaskan lagi. Kuroko menimang cara yang diberikan Riko. Namun tetap saja, ada sedikit keraguan di hati Kuroko.

"Itu memang masuk akal, tapi aku sedikit ragu Riko-chan" Kuroko sedikit ragu.

"Tetsu-chan, aku sependapat dengan Riko-chan. Aku yakin kalaupun nii-san mu tidak menjauhi Akashi, minimal ia akan berpikir 2 kali tentang hubungannya dengan Akashi" Momoi meyakinkan Kuroko.

"Baiklah, jadi aku harus bagaimana?" tanya Kuroko dengan nada yang lirih. Kuroko sangat membenci seorang Akashi Seijuro, namun kini Kuroko harus berpura-pura menyukai orang itu. Riko dan Momoi tersenyum simpul lalu menepuk bahu Kuroko.

"Nanti akan ku beri tahu Kuroko, sekarang lebih baik bila kita kembali ke ruang rapat sebelum wanita iblis berkacamata itu mengamuk" Kuroko hanya tersenyum dan bersweatdrop-ria, bisa-bisanya ia lupa kalau tadi sedang rapat. Momoi terkekeh pelan mendengar perkataan Riko yang menurutnya lucu.

"Riko-chan benar, Tetsu-chan. Ayo kita bergabung dengan yang lainnya!" pekik Momoi kembali ceria. Kurokopun menggeleng sambil tersenyum tipis lalu mengikuti kedua sahabatnya itu. Kuroko sunggguh beruntung punya 2 sahabat yang pengertian padanya.

Kuroko, Riko, dan Momoi kembali ke ruang rapat, lalu Imayoshi melanjutkan rapat yang sempat tertunda barusan. Rapat berlangsung selama 3 jam lamanya, sekarang AS gallery disibukan tentang persiapan job besar mereka. Berbeda dengan yang lain, Kuroko malah melamun di ruang lukisnya.

"Apa cara itu akan berhasil?" ucap Kuroko.

"Cara apa Tetsuya-chan?" Kuroko berbalik dan sedikit terhentak, tiba-tiba Kiyoshi ada di belakangnya.

"Ya ampun Kiyoshi-senpai mengagetkanku" ucap Kuroko dengan nada monoton nan datar.

"Kau kaget? Tapi wajahmu tak menunjukkan kekagetan sama sekali Tetsuya-chan" Kiyoshi hanya menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Kuroko tersenyum tipis.

"Aku memang seperti ini Kiyoshi-senpai" Kuroko menjawab. Kiyoshi hanya tertawa canggung.

"Eh—ano, Tetsuya-chan..." kata Kiyoshi dengan nada yang sedikit gugup.

"Hmm? Ada apa Kiyoshi-senpai?"

"Em- tadi kau kenapa? Kau sakit? Ada masalah?" Kiyoshi kawatir pada Kuroko yang tadi tiba-tiba menangis saat rapat. Pipi Kuroko sedikit memanas 'Apa Kiyoshi-senpai menghawatirkanku?' gumam Kuroko dalam hati.

"A-aku ti..tidak apa-apa Kiyoshi-senpai'' Kuroko sungguh gugup saat ini, jantungnya berdebar tak karuan kalau sedang berada di dekat Kiyoshi. Kiyoshi melihat wajah Kuroko memerah, ia semakin mengkawatirkan keadaan Kuroko. Dengan cepat Kiyoshi menempelkan tangannya pada kening kuroko.

Pluk!

"Kau sakit Tetsuya-chan? Wajahmu merah sekali, katakanlah kau kenapa? Jangan membuatku cemas begini Tetsuya-chan" BLUSHHHH! Wajah Kuroko makin memerah dan panas.

"Ke-kenapa Kiyoshi-senpai mencemaskanku?" tanya Kuroko dengan gugupnya.

"Tentu saja aku kawatir, pertama kau sering melamun, lalu tadi kau menangis tiba-tiba, bagaimana bisa aku tidak kawatir? Kau itu sudah kuanggap seperti adik kandung Tetsuya-chan" jawab Kiyoshi. 'Adik ya? Ternyata selama ini aku salah sangka atas perhatian yang diberikan Kiyoshi senpai' gumam Kuroko dalam hati. Tanpa sadar, airmata Kuroko mengalir deras.

"Tetsuya-chan!? Kau kenapa? Aku antar kau pulang ya?" sekarang Kiyoshi benar-benar panik. Kuroko tersadar dari pikirannya. Cepat-cepat ia hapus airmatanya.

"A-aku tidak apa-apa Kiyoshi-senpai. Maaf aku duluan ya..jaa '' Kuroko langsung berlari dari Kiyoshi. Kiyoshi menatap Kuroko yang makin menghilang, 'sebenarnya kau kenapa Tetsuya-chan….'. Kiyoshi merasa sesak saat melihat airmata Kuroko, rasanya ia ingin memeluk dan menenangkan Kuroko.

'Adik huh ? Kiyoshi kau tidak menyayanginya sebagai adik,… lebih dari itu….' Gumamnya dalam hati. Kiyoshi menekan dada sebelah kirinya yang entah kenapa terasa sakit dan sesak karena Kuroko. 'Kenapa aku baru sadar akan perasaanku ? aku bodoh, bodoh! Ternyata ... '.

''Ternyata aku mencintaimu, Tetsuya''

Kuroko berjalan gontai keluar gallery, hari ini benar-benar hari penuh kesialan. Pertama, Kuroko mendapati Kakaknya yang ternya seorang homoseksual, lalu Ia harus pura-pura menyukai Akashi, lalu sekarang ditambah patah hati.

''Aku sial sekalai sih…..huft'' Kuroko memutuskan pergi ke maji burger untuk membeli segelas vanilla milk shake. Setelah 3 menit berjalan, sampailah ia di maji burger. Tadinya ia memesan satu gelas vanilla milk shake, lalu menjadi dua gelas, tiga gelas, empat gelas- Sudah 4 gelas vanilla milk shake yang diteguknya. Kuroko memanggil pelayan.

''Aku pesan dua gelas vanilla milk shake extra jumbo'' pelayan itu menatap horror Kuroko,

''Ta-tapi anda sudah meminum EMPAT GELAS nona'' Kuroko menghela nafas.

''Tidak apa-apa, aku mau dua gelas, tolong cepat ambilkan. Anda tidak mau uang ya ?'' Kuroko menjawab dengan datar. Pelayan itu hanya mengangguk lalu pergi. Kuroko memandang ke luar jendela, banyak sekali yang menjadi pikirannya. 'Ya ampun, bisa-bisa rambutku rontok dan beruban kalau memikirkan semua ini' gumam Kuroko dalam hatinya.

''Permisi, ini pesanan anda'' suara seorang pelayan maji burger menyadarkan Kuroko dari lamunan.

''Ah,arigatou'' ucap Kuroko.

''Hai, douita'' jawab sang pelayan sembari membungkuk lalu pergi. Sluuuuuurrrrp! Kuroko menyeruput vanilla milk shake extra jumbonya. Tiba-tiba …..

''Tet-chan!?'' Daiki berjalan ke kursi Kuroko. Kuroko melihat sumber suara. Kuroko kecewa melihat kakaknya bersama seseorang…Akashi Seijuro.

''Daiki-nii ...Askashi-san...domo" ucapnya datar. Ketika Daiki duduk bersama Kuroko, pandangannya berubah horror melihat 4 gelas vanilla milk shake ukuran sedang dan 2 gelas ukuran extra jumbo. Dengan gerakan patah-patah Daiki menatap Kuroko.

''Tet-chan kau kenapa?" Daiki bertanya histeris.

"Aku tidak apa-apa Daiki-nii" jawab Kuroko datar.

"Tetsuya, ini semua kau yang habiskan?" Akashi bertanya dengan tatapan tidak percaya. Kuroko hanya menganggukkan kepala."Tapi bagaimana bisa?" tanya Akashi.

"Mungkin di lambungku ada lubang cacing yang mentransfer semua vanilla milk shake yang tadi kuminum ke dimensi lain" jawab kuroko masih dengan wajah stoic nya.

1 detik hening

2 detik hening

3 detik hening

4 detik hen-

"Hahahahaha, jawaban macam apa itu Tetsuya" Akashi tertawa terbahak-bahak, Daiki juga menundukan kepalanya sambil menahan tawa. DEG DEG! 'kenapa hatiku berdebar melihat Akashi tertawa tulus seperti itu?' gumamnya dalam hati.'Ternyata Akashi tampan ya, apalagi bila memandanginya dengan jarak sedekat ini...eh! apa yang kau pikirkan Kuroko Tetsuya! kau membenci Akashi!ya kau membencinya' Kuroko menggelengkan kepalanya. Pada akhirnya mereka bertiga makan bersama. Awalnya mereka makan dengan normal sampai….

"Daiki jangan bergerak, ada remah roti di sini..." Akashi mengambil remah roti yang ada di sudut bibir Daiki. Wajah Daiki memerah, mereka berdua saling bertatapan mesra. 'Ya ampun, Daiki-nii kenapa kau sperti ini?' gumam Kuroko. Spontan Kuroko berdiri. Daiki dan Akashi tercekat melihat Kuroko...menangis.

"Te-tet-chan..." saat Daiki mau menepuk bahu Kuroko, Kuroko malah berlari ke luar maji burger lalu menyetop taxi dan segera pulang ke rumah. Kuroko langsung pergi ke kamarnya dan menangis sesengukkan. Untunglah kaa-san nya belum pulang dari toko, Kuroko tak ingin membuat cemas kaa-san nya. Tepat pukul 6 sore Daiki pulang, dengan cepat ia mencari Kuroko. Setelah berkeliling rumah, akhirnya Daiki menemukan Kuroko sedang menangis di kamarnya. Daiki menghampiri Kuroko dan duduk di sebelahnya.

"Nee Tet-chan, mau berbagi masalahmu pada nii-san?" tanya Daiki lembut sembari mengusap kepala Kuroko. Namun, Kuroko malah menggeleng lemas.

"Aku tahu... Kau cemburu kan?" spontan Kuroko mendongak ke nii-sannya. Kuroko heran, kenapa nii-sanya menyimpulkan seperti itu, lagi pula dia cemburu pada siapa. Daiki terseyum.

"Aku tahu kok, kamu menyukai Sei-kun kan?" Kali ini Kuroko menatap horror Kakaknya.

"Daiki-nii a-aku tidak-" entah apa yang merasuki Kuroko, Kuroko tiba-tiba ingat cara yang diberikan oleh Riko.'Apa Tuhan sengaja memberikan kesempatan seperti ini?' pikir Kuroko dalam hati.

"chan- Tet-chan? Daijoubu?" Kuroko tersadar,'maaf kan aku Daiki-nii' ucapnya dalam hati.

"Apa Daiki-nii punya hubungan khusus dengan Akashi-san?" Tanya Kuroko masih dengan airmata yang mengalir, sementara itu Daiki membatu.

"Ah, ti-tidak kok, aku dan Sei-kun hanya sahabat dekat." Daiki menjawab.

"Tapi...tapi kalian begitu dekat, Akashi-san selalu dekat dengan nii-san, bahkan perhatiannya pada nii-san seperti seorang kekasih. Gomen nii-san, aku ce-ce- glek! Cemburu pada nii-san.,,hiks...hiks...hiks" balas Kuroko dengan air mata...buaya? oh tidak, memang Kuroko menggunakan kesempatan ini untuk menjalankan rencana dari Riko. Tapi airmatanya tulus, air mata yang kawatir dan kecewa dengan kakaknya.

"Tet-chan,..." Daiki merasa bersalah membuat adiknya menangis.'Ternyata Tet-chan memang mencintai Akashi...' gumamnya dalam hati.

"Aku menyukainya, tapi dia seperti jelas-jelas menolakku, dia hanya peduli pada nii-san...hiks…..hiks...bagaimana ini? nii-san, aku sangat mencintainya, aku men-men- men-cin-tai Akashi-san" sebenarnya Kuroko tidak rela kalau bibir sucinya berkata'akumencintai Akashi-san', tapi mau bagaimana lagi? Kuroko lebih tidak rela melihat nii-san tercintanya menjalani hubungan sesama jenis.

"Tidak Tet-chan, kami hanya berteman. Tet-chan jangan menangis lagi ya, nii-san mu ini akan membuat Akashi Seijuro jatuh cinta pada Tet-chan." Sebenarnya hati Daiki sangat sakit mengucapkan itu semua, bohong kalau mereka hanya berteman,'aku dan Sei-kun berpacaran' gumamnya.

Setelah itu,mereka berbincang hangat hingga Kuroko tertidur. Daiki memakaikan selimut pada Kuroko. Daiki tersenyum melihat wajah Kuroko yang tertidur.'Rasanya sudah lama tak melihatmu menangis seperti ini Tet-chan, kau pasti sangat mencintai Sei-kun"pikirannya. Daiki mengelus rambut Kuroko.

"Yah, sepertinya...aku harus mengalah ya" tes tes, Daiki menitikkan air matanya. Air mata Daiki menetes tepat di pipi Kuroko. ''Aku mencintaimu Sei-kun….Tapi aku tak bisa membiarkan Tet-chan sakit seperti ini…. Gomen Tet-chan membuatmu cemburu dan sakit '' Daiki mengecup kening Kuroko singkat lalu beranjak keluar dari kamar Kuroko.

''Gomen ne Daiki-nii'' ternyata Kurokotidak tidur, Kuroko mendengar semua perkataan nii-sannya.

'Aku patah hati di hari ini, tapi aku juga bisa membuat nii-san bimbang akan pilihannya'

Next chapter 4b:

-"Kenapa kau tak bisa biarkan mereka bahagia? Mereka saling mencintai! " seseorang pria tampan misterius mencoba menghalangi langkah ku. Muncul lagi hambatan, "Karena mereka salah! Mereka tak akan bahagia kalau seperti ini! Kenapa kalian tak mengerti sih!?".

-"Ku mohon Sei-kun, lupakan aku dan hubungan kita. Belajarlah untuk mencintainya. Selamat tinggal Sei-kun. Aku sangat mencintaimu"

-"Jangan coba-coba kau permainkan Tetsuya-chan!"

~apa sih yang akan terjadi selanjutnya? Penasaran? Ikuti chapter selanjutnya, hehehe~maaf chapter ini agak sadikit membingungkan ^^

-NOHE-