Kini Nero sedang berdiri di depan kelas. Gugup melanda batinnya. Ia mengecek penampilannya; sudah pakai dasi, baju sudah dimasukkan, sepatu warna hitam, rambutnya sudah ia cukur, dan senyum menghiasi wajahnya –walau sebenarnya ia sangat gugup.
Tangannya gemetar. Ia mulai membuka mulutnya.
"My name is Akita Nero.."
.
.
.
Vocaloid © PunyaCrypton Future Media, Internet Co.,Ltd, Yamaha Corporation, AH software, Zero-G, Zola Project, 1st Place.
Utauloid, Voyakiloid and Fanloid © Milik Creator masing-masing.
Warning Typo, OOC, Humornya kurang GREGET, EYD kurang tepat, dan kalau tidak sengaja menyebutkan Merek atau apapun itu, ITU BUKAN PUNYA SAYA.
.
.
.
Hari masih pagi, tetapi ruangan yang bisa dibilang 'Kelas Khusus' itu terasa hawa yang tidak enak. Sunyi, gugup, dan tegang adalah kata yang tepat untuk suasana seperti ini.
Di 'kelas Khusus' itu, hanya dipakai untuk pelajaran Business Communication. Mungkin di sekolah lain tidak ada Pelajaran ini, tapi di SMK Vocaloid ini berbeda.
"Yes, Please begin.." ucap Kepala Sekolah, yang dikenal dengan sebutan 'Kaichou'.
Nero menganggukkan kepalanya. "My name is Akita Nero. And besides my two friends named Oliver and Suzune Ringo. We can group because we are familiar."
"Oh, yes. Can you tell me why you can group?"
Mampus.
Nero tidak bisa berbahasa Inggris.
"a-a.. anu.." Nero skakmat. Dia tidak bisa menjawab pertanyaan dari sang Kaichou.
Oh, tamatlah riwayat Nero hari ini.
"Hm? Tell me.." Kaichou menampakkan seringainya. Ini yang membuat kelas khusus ini begitu mencekam. Sang Kaichou yang terkenal karena sikapnya yang terbilang 'Tegas dan Disiplin'. Tapi menurut siswa siswi SMK Vocaloid, ia lebih terkesan 'Killer'.
"Hey, you cannot tell me?" ia mulai memegang dagu Nero. Menatapnya tajam.
Nero mulai keringat dingin. Begitupun Oliver dan Ringo.
"A value of zero for the three of you!" teriak Kaichou dengan sangat keras. Di depan Nero pisan. Menyemburkan kuahnya kearah Nero.
Oh, kaki Nero gemeteran.
"You, you, and you! Sit down!"
"Thank you, sir.."
"Tadi kasian Nero, dia yang paling ketakutan!"
"Iya, udah mana dia gak bisa jawab pertanyaan sang Kaichou, lagi!"
Nero, yang mendengarnya hanya menghela nafas. Sebenarnya ia mengerti ucapan Kepala Sekolahnya, tetapi ia tidak bisa menjawab pertanyaannya.
Nero merasa bahwa dirinya benar-benar sial.
Ia mulai berjalan menuju kelas 10. TKJ yang berada di lantai 3. Kadang ia mengutuk kenapa letak kelasnya begitu jauh. Sadar ia ditinggal oleh teman-temannya, ia buru-buru mempercepat langkahnya mengikuti teman-temannya yang sudah mulai menaiki tangga.
Dia, Akita Nero, adalah anak yang sangat tidak percaya diri dan juga pemalu. Untuk ukuran anak cowok di TKJ, ia anak yang tidak terlalu terkenal dikalangan para gadis. Paling yang mengenalnya hanya anak perempuan kelas 10. TKJ. Miris sekali.
Berbicara soal gadis, Nero pernah menyukai seorang gadis bernama Miku. Iya, si Hatsune Miku itu, loh! Dia sempat kesemsem karena waktu itu Miku dan Nero sempat dekat karena tempat duduk Miku dekat dengan Nero.
"Nero, tadi Leon-senpai bicara apa?" Masih ingat kalau Miku itu budek?
Nero melirik kearah Miku. "Tadi dia menjelaskan tentang merawat perangkat keras di CPU agar tidak cepat rusak.."
Miku bingung, antara tidak mengerti dengan ucapan Nero atau ia tidak terlalu mendengar ucapan Nero.
"Iya, tadi dia jelasin bagaimana caranya agar tetap bekerja dengan baik?"
"Dia bilang kalau CPU itu tidak boleh sampai panas, nanti bisa terjadi Overheat[1] dan merusak komponen didalam. Makanya harus ditambahkan Fan 2 atau 3 agar tetap stabil suhunya.."
"Oh, terima kasih yah, Nero-kun!" Miku tersenyum manis kearah Nero.
Kelopak mata Nero melebar, jantungnya berdebar kencang, dan wajahnya mulai memanas.
Dan mulai saat itu, Nero merasakan doki-doki terhadap Miku.
Yah, sampai Nero tahu bahwa Miku menyukai Mikuo, temannya sendiri.
Saat Nero mengetahui hal itu, nyalinya langsung ciut. Seakan dunia runtuh, tak ada lagi semangat untuk mendapatkan sang Gebetan. Seharusnya ia tahu kalau ia tidak pantas untuk Miku. Ditambah Miku itu Populer, jadi (pasti) banyak saingan yang juga ingin merebut hati Miku.
Walau begitu, Nero tidak mau bersaing dengan teman senasibnya sendiri, Mikuo. Mereka sudah seperti sahabat; pulang pergi bareng, ekstrakurikuler bareng, pokoknya Nero selalu ada untuk Mikuo.
Masa, gara-gara cewek doing, persahabatan antara Mikuo dan Nero putus?
Nero lebih memilih sportif –walau lebih kearah pesimis. Membiarkan teman senasibnya itu memiliki gadis yang ia sukai. Walau kokoronya patah, tapi demi temannya sendiri.. ia rela, kok.
Yah, walau Mikuo kadang nggak peka. Bukannya Mikuo nggak peka dengan Miku yang menyukainya, tapi Mikuo nggak peka dengan kebaikan Nero. Dasar teman durhaka!
Dia malah mencampakkan Miku! Sebenarnya apa maunya, sih? Kadang Nero merasa kasihan pada , dia sudah merelakan Miku untuk Mikuo, tapi Mikuonya gitu! Kurang asem, gak?
Sempat terpikir untuk mencomblangkan Miku dengan Mikuo, dan ini yang akan ia lakukan sekarang.
Nero beranjak keluar kelas. Ia ingin mencari udara segar –kipas angin di kelasnya mati entah kenapa. Dan ia melihat Miku di luar.
Sedang menangis.
"Hey."
Miku tidak menoleh sedikit pun. Sesekali ia terisak. Matanya kelihatan sembab sekali. Cairan bening it uterus menerus mengalir dari pelupuk matanya.
"Apa kalu baik-baik saja?" ucap Nero lagi. Ia merasa simpati pada Miku. Pasti Miku menangis karna satu; Mikuo.
Atau lebih tepatnya; Perasaannya digantungin.
Memang waktu itu Mikuo pernah bilang kepada Miku kalau ia menyukainya. Tapi kalau ia menyukai Miku, kenapa Miku harus menunggu sampai selama ini? Tiap hari Miku melewatkan hari-harinya dengan Mikuo. Walau Mikuonya bersikap cuek kepada Miku –yah, itu sifatnya–, tapi yang namanya suka pasti akan terasa bahagia bila dekat dengan si Do'i.
Nero mulai mendekati Miku. Ia melihat kemana arah mata Miku memandang; ke Lapangan. Mikuo sedang bermain basket bersama gadis-gadis dari SMP Vocaloid. Terlihat akrab. Dengan Junior SMP yang –menurut Miku– centil dan berusaha menarik perhatian Mikuo itu. Dan yang terlihat ialah; Mikuo malah bersikap ramah pada mereka.
"Kau pasti dapat memilikinya." Hiburnya. Miku menoleh sedikit, kearah Nero yang berdiri di sampingnya. Oh, apakah Miku saking terhanyut dalam tangisnya itu sampai ia tidak menyadari kehadiran laki-laki disampingnya?
"Nero?"
Nero menatap lurus kearah Lapangan, seperti Miku. "Apa?"
"Apakah Mikuo ingin Pindah Sekolah?"
Nero tercekat. Suara Miku yang terdengar lirih itu bagaikan menyayat hatinya. Pandangan Miku itu bagai mengatakan; Jangan katakan kalau itu benar.
Pemuda itu menghela nafas. "Iya, kelas 2 ia akan pindah."
Mata Miku mulai menyipit. "Kemana?"
"Ke SMK Utau. Aku sih juga kasihan padanya. Kelas 2 kan, kita PKL. Apalagi dia ketua kelas 10. TKJ. Yaa, tapi ini keputusan Okaa-sannya sih.."
Miku terdiam. Nero pun juga. Mereka hanya menikmati angin yang berhembus menerpa wajahnya. Menerbangkan helai-helai rambut mereka. Mungkin kalau mereka adalah sepasang kekalsih, moment yang pas ini akan digunakan untuk bermesraan ria. Tapi sekarang yang ada disamping Miku bukan Mikuo, namun Nero.
"Apa aku bisa bersama Mikuo?"
"Pasti bisa. Kalian sering sms'an kalau malam, kan?"
Miku tersenyum getir. "Boro-boro, dah. Gue emang sering sms dia, tapi dianya yang nggak bales sms gue. Kan, nyebelin. Sebenarnya dia suka sama gue gak, sih?!"
"Kalo itu, Tanya aja sendiri ama dianya." Nero tersenyum.
Miku berpikir sebentar. Kemudian sentum tipis nampak di wajah manisnya. "Gue coba ngomong ama dia, deh."
"Bagus." Nero bangkit dari tempatnya. "Yaudah, gue masuk dulu." Kemudian ia masuk ke dalam kelas. Meninggalkan Miku sendirian lagi.
"PRIIIIITT!" Peluit sudah dibunyikan, tanda pertandingan futsal segera dimulai. Terlihat beberapa pemain mulai memperebutkan bola. Walau hujan terus mengguyur lapangan, namun itu tak menghalangi semangat para pemain. Benar-benar pria tangguh.
"Nero! Tendang!" Nero yang mendapat operan bola dari Mikuo langsung saja menendang bola kearah gawang dan–
"BRAKK!"
Nero ternyata kepleset pemirsa. Nampaknya tadi ia terlalu bersemangat sampai-sampai ia malah menginjak lapangan yang lumayan licin. Momen yang awkaward ini sempat dijadikan bahan hinaan untuk Nero. Sampai teman Nero sendiri, Mikuo pun ketawa ngakak melihat Nero yang wajahnya tampak suram itu.
"Nero, lu kocak banget sumpah! Ekspresi lo itu.. pfftt!" Mikuo menahan ketawanya. Nero mendecak sebal.
"Au ah! Udah, ayo pulang! Atau elu mau pulang sendiri?" Nada sebal. Nero mulai ngambek.
"Iya iya.. Jangan ninggalin gua, dong! Gitu aja ngambek! Elu mau ngongkosin gua?" Mikuo nyengir.
Nero cemberut. "Kagak! Udah, yuk ah!" dan mereka pulang dengan mengendarai motor Nero, setelah berpamitan kepada teman-teman lainnya.
"Nero, gue gak ada duit, nih. Beliin gue es teh, kek! Gua haus bandel, neh!"
Pemuda itu tersenyum tipis. "Iya.."
Nero itu teman yang baik bagi Mikuo. Mikuo nggak ada uang, Nero senantiasa meminjamkan uangnya kepada Mikuo. Nero nggak ada uang, Mikuo pura-pura lagi bokek. Hah, apa ini yang namanya solidaritas?! Seneng bareng-bareng, susah sendiri-sendiri. Emang dasar temen kampret!
"Mikuo! Gua mulu yang ngetraktir elu! Gua laper nih, beliin mie dong! Kali-kali gitu.." Nero cengengesan.
"Gomen, gua gak ada duit. Tadi kan duit gua udah dipake buat bayar uang Kas."
"…" Nero mengelus-elus dadanya. Mencoba sabar.
"Kukuruyuuuukk.. GUK! GUK!"
Di pagi hari yang cerah ini, terlihat Nero yang berusaha lari dari kejaran anjing tetangga sebelah. Saat itu muka Nero udah kayak nahan cepirit. Tidak seperti salah satu Member JKT48 yang kalau lari masih bisa senyum di salah satu iklan Ponari Sweat. Dia buru-buru masuk kedalam rumah, dan mengunci gerbang.
"Duh, aturan tadi gue gak usah keluar buat beli sarapan. Mana gak jadi beli lagi gara-gara tuh anjing!" dan ia langsung tancap gas menuju rumah Mikuo. Persetan dengan perut lapar, Nero bisa numpang makan di rumah Mikuo. Atau sarapan di sekolah –kalau ibunya Mikuo meliriknya dengan judes.
Sesampainya di sekolah, dia langsung mengunci ganda motornya dan berjalan menuju kelas. Di kelas, dia melihat semua temannya duduk diam ditempat. Tidak biasanya mereka seperti ini.
Nero bertanya pada Teto. "Eh, ada PR yak?"
Yah, pasti kalau pagi hari kelas sudah sepi berarti akan ada PR atau Ulangan.
"Lu lupa? Hari ini kan ada Ulangan Fisika! Dan juga ada PR Fisika dari nomor 1 sampai 5, dan harus ngerangkum juga di halaman 131 sampai 137!"
Nero kaget. "Mampus! Gua belom semuanya!" kemudian Nero membaur dengan teman-teman lainnya –yang mencontek buku Miku.
Kemudian, Rin –yang juga baru datang– langsung duduk di samping Miku.
"Mik, lu udah ngerjain PR?"
Miku menopang dagu, malas. "Udah."
Rin antusias. "Mana?"
"Noh, lagi dicontekin sama mereka." Sambil menunjuk kearah kerumunan orang –teman sekelasnya– yang saling berebut menyalin PR Miku. "Emangnya kenapa elu kagak ngerjain?"
Rin cengengesan. "Gua males megang buku."
"…" Miku sweatdrop.
Dan Rin pun mengambil paksa buku Fisika Miku dari siswa yang sedang mencontek. Terdengar suara "Et deh, Rin!" tapi Rin tidak peduli. Dia mulai mencari tempat duduk yang nyaman untuk kegiatan -menyalin-PR-Miku- itu.
Ringo, pemuda berambut Biru Langit itu yang juga belum mengerjakan PR, bertanya kepada Miku. "Mik, minjem buku PR Fisika dong!"
"Sama Rin, tuh.." kemudian Ringo berjalan kearah Rin.
"Rin, boleh minjem buku PR-nya Miku, gak?" Ringo bertanya kepada Rin dengan nada halus. Karena ia tahu bahwa Rin adalah orang yang ngomong-asal-ceplos. Sedikit saja ia salah bicara, ia bisa jadi bahan bully'an sekelas.
"Tapi ada 1 syarat." Rin menyeringai.
Ringo mencoba tetap keep calm. "Apa?"
"Tulisin PR gua juga."
Terlihat perubahan raut wajah Ringo, kini ia menatap Rin dengan hina. "Ogah menan!" lalu ia mencari contekan PR kepada yang lain.
Yuuma, yang sedang menyalin PR dari buku Teto, teringat sesuatu.
"Eh, nanti Ulangan Fisika, yah?!"
"Gua belom belajar, lagi!" Len frustasi.
"Mik." Terdengar suara Neru dari belakang Miku. Miku menoleh.
Neru melanjutkan kata-katanya. "Nanti Ulangan Fisika aku nyontek sama Miku, yah!"
Miku melotot. "Enak aja!"
Raut wajah Neru mulai berubah. Tadinya ceria, sekarang melotot dan memasang tampang garang. Tangan kanannya ia tinju ke tangan kirinya, seolah-olah ia akan menghajar Miku.
"Nyontek, gak!"
"I-Iya.. iya.." Miku ketakutan. Teto ketawa ngakak.
Haaahh.. Memang cewek-cewek TKJ itu gak ada yang beres. Tapi yang paling stress itu; Neru.
Neru itu kadang bisa menjadi polos, bisa menjadi galak. Walau sifat yang paling mendominasi dirinya itu.. yaaa, sifat oonnya itu. Bikin geregetan sendiri kalo di dekat Neru.
Contohnya pada kasus dengan Iroha. Iroha itu adalah salah satu dari sekian banyak orang yang ingin ngebacok Neru tapi takut dosa. Kalian tahu kenapa? Kalau kita berbicara dengan Neru, kita bakal capek batin. Secara, dia itu kalau diajak ngobrol gak pernah connect, atau istilah kerennya sih 'telmi'.
"Iroha.. Iroha.." Nada manja.
"Apa?!" Irohamelotot kearah Neru. Bisa-bisanya Neru mengganggu pagi harinya yang damai.
Senyum innocence. "Kenapa bapak Polisi perutnya buncit?"
"Kagak tau, ah! Emangnya itu bapak gua?!" iroha sewot. Bagaimana tidak? Neru menanyakan itu setiap hari! Ku camkan, SETIAP HARI! Apalagi itu terjadi pada pagi hari. Dengan cepat merubah mood seseorang di pagi hari.
"Emangnya, bapaknya Iroha siapa?"
"Kepo banget sih, lo! Sana jauh-jauh dari gue!" Oke, Iroha sudah diambang batas kesabarannya.
Kemudian Neru pergi dari hadapan Iroha. Kasihan Neru.
"Teett! Teett! Pelajaran pertama segera dimulai. The first lesson is begin. Dai ichi-ji ka mo hajimemashio. Di yi ge jiaoxun kaishi." Ah, bel sudah berbunyi. Membuyarkan pikiran Miku tentang Neru.
Kemudian masuk seorang guru ber-Jas coklat dengan kacamata yang setia bertenggerr di batang hidungnya. Ia membawa banyak kertas Ulangan dan sebuah buku absensi. Semua murid yang ada disitu terdiam. Jelas, di menit berikutnya mereka akan dihadapi soal-soal Fisika yang susahnya bukan main.
"Minna-san." Kiyoteru-senseiberdehem sebentar. "Berhubung saya ada keperluan diluar, jadi hari ini ditunda menjadi hari Rabu.."
Tahukah kalian seberapa gembiranya mereka mendengar pengumuman itu?
"Oke, bapak pergi dulu. Permisi." Kemudian Kiyoteru-sensei keluar. Murid-murid 10. TKJ saling melirik satu sama lain, dan kemudian–
"HOREEE!"
"Akhirnya doa gua dikabulin juga!" Oke, itu yang ngomong si Rin.
"Kita bebas dari soal-soal siksaan itu! Yeah!" kemudian Len teriak.
Keadaan kelas; kacau.
Yah, setidaknya Neru takkan memakan soal yang bersifat menghitung lagi. Seperti hari itu.
Sekelas hening. Sekarang sedang diadakan ulangan dadakan –dan seperti biasa kelas 10. TKJ mengeluh tentang keputusan yang diambil oleh Prima-sensei, guru Matematika mereka.
"Tidak ada bantahan! Cepat kerjakan atau nilai kalian semua NOL!" dan semuanya langsung kicep berjamaah.
Neru, yang yang tidak mengerti sama sekali dengan soal Matematika, mulai stress. Bingung mau ngapain.
Miku, yang menyadari Neru yang mulai bertingkah aneh, menengok kearah Neru, dan–
Miku langsung menatap horror pada Neru. Bagaimana tidak? Neru sedang menggigit-gigit kertas ulangan Matematika itu. Miku tak berkedip, memperhatikan Neru yang mulai menjilat, menggigit-gigit, dan merobek kertas ulangan itu dengan giginya.
Seberapakah frustasinya ia sampai memakan kertas ulangan itu?
Prima-sensei yang melihat kejadian absurd itu, langsung menghampiri meja Neru dan berkata "Hei, Akita-san. Apa anda belum sarapan pagi ini?" dan sukses membuat Miku facepalm.
"Bisa-bisanya gue punya teman kayak dia.."
Miku menepis pikiran itu. Kenapa ia terus memikirkan Neru? Memang, dia suka menghabiskan baterai handphone Miku untuk berfoto-foto alay. Tapi bukan itu yang membuat Miku terus memikirkan Neru.
Dia teman yang baik.
Dia ada untuk mewarnai hari-hari Miku dan Teto.
Dan tanpa terasa, kami telah menjadi 'sahabat'.
"Miku, jajan yuk! Bosen nih Pelajaran kosong.." ajak Neru.
Miku menoleh. "Tapi kan, ini belum saatnya istirahat?"
"Udah, ayo ikut aja!" paksa Teto. Dan kemudian Triple Baka itu berjalan beriringan. Menuju kantin.
" To Be Continued "
Notes Mini:
[1] Overheat: Panas komponen rusak, lebih paranya lagi bisa meleleh dan terbakar. Kalau untuk Laptop atau Netbook, taruh di tempat yang datar dan dingin seperti keramik/ubin lantai.
Coretan Author.
Saya minta maaf sebesar-besarnya karena saya tidak mengupdate Fanfict ini dikarenakan tugas-tugas yang membebani saya, komputer saya yang lemot parah (mungkin karena banyak debu yang menempel di bagian dalam, saya terlalu sibuk untuk membongkar dan membersihkannya), dan juga Flashdisk saya yang rusak dan tidak bisa digunakan lagi –yang mengakibatkan data-data saya hilang semua termasuk Fanfict chapter 5 yang sekarang masih In-Progress.. :'(
Dan karena Flashdisk saya rusak, saya mengakali Memory card handphone saya untuk menyimpan Fanfict yang pasti berformat Ms. Word. Tadinya saya ragu apakah bisa, karena selama ini yang saya tahu Memory card itu hanya bisa menyimpan Lagu, Gambar, dan Video saja. Tapi setelah saya coba, ternyata bisa juga.. 8D
Alhamdulillah, dan sekarang saatnya Balas Review!
To YamiRei28 :
Kelas TKJ Memang kelas yang kocak! Kalau kamu berada di kelas ini, tiap hari kau takkan bisa berhenti tertawa! 8D
Waktu itu aku memang bilang kesurupan, karena ada orang yang bilang "Eh, kesurupan tuh!" jadinya aku bilangnya kesurupan deh.. XD
Ini udah lanjut, Arigatou sudah membaca! :3
To baka-arisa-chan :
Jurusannya ada 4, Akuntansi, Administrasi Perkantoran, Pemasaran, dan Teknik Komputer Jaringan. Nah, pasti di SMK itu ada kelas 10, 11, dan 12 kan? Jadi total semua kelas it = 12 kelas! :D
Nanti ada Perlombaan juga, Kok! Pas Class Meeting.. :3
Ditunggu aja, oke! ^O^
To Hikari Kengo :
Hikari-san ketua kelas? Tugasnya berat, tuh.. :D
Arigatou udah dibilang Greget, orang-orangnya juga Greget, kok! 8D
Dan, arigatou sudah membaca Fict ini! ^O^
To BlackLapiz :
Iya, Peminat cewek di TKJ itu dikit. Padahal kalau cewek masuk TKJ itu dianggap hebat, loh! :D
Hehe.. Semoga chapter ini bisa memuaskan, yah! :3
Oiya, aku membuat Fict ini dengan persetujuan teman-temanku. Yaa.. takutnya mereka nggak terima aku masukin kisah hidupnya ke Fanfict ini. Tapi Alhamdulillah Fict ini mendapat respon Positif dari teman-temanku. Dan temanku yang menjadi Tei disini juga suka membaca Fanfict ini diam-diam, loh! Yah kadang-kadang aku jadi malu sendiri kalau karya ku dipuji, sih. Kata temanku yang menjadi Tei "Cin, cerita ini bahasanya baku banget, menurut gue.." Yaa.. Pendapat orang beda-beda.
Terus juga aku sering kehabisan ide untuk membuat Fict ini, dan kadang merengek kepada temanku yang menjadi Teto agar dia membantuku. Dia juga Author, tapi untuk Fanfict Korean gitu, deh. Makanya aku suka bilang "Bantuin gua napa.." atau bertanya "Eh, kejadian yang kocak akhir-akhir ini di kelas kita apa, yak?" tapi dia tetap sabar dan tersenyum kepadaku. Terima kasih, yah! :3
Rencananya, Fanfict ini akan berkisar belasan Chapter. Soalnya akan ku bahas satu per satu teman sekelasku. Bagaimana menurut Readers? o.o
Yaaa, sudahlah. Kalau ada yang ingin bertanya, silahkan tanyakan pada kotak Review dibawah. Flame juga boleh, kok. Asal yang membangun.. hehe..8D
Oke, Mind to Review, Minna? ^O^
Original Story by cindychan28
