"Tadaima.." ucap seorang gadis dengan rambut twintail toscanya sambil membuka pintu rumahnya.

"Okaeri, Miku.." balas Okaa-sannya dengan senyuman, tapi tidak digubris oleh Miku.

Miku berjalan menuju kamarnya. Masuk kedalamnya. Menaruh tas sembarangan dan membaringkan tubuhnya di ranjang yang empuk –dengan masih menggunakan seragam.

Kini ia menatap langit-langit kamarnya. "Haaahh.. Seperti hari-hari biasa, ya?"


Vocaloid © Punya Crypton Future Media, Internet Co.,Ltd, Yamaha Corporation, AH software, Zero-G, Zola Project, 1st Place.

Utauloid, Voyakiloid and Fanloid © Milik Creator masing-masing.

Warning Typo, OOC, Humornya kurang GREGET, EYD kurang tepat, dan kalau tidak sengaja menyebutkan Merek atau apapun itu, ITU BUKAN PUNYA SAYA.


Summary:

–"TKJ dibalik JKT, TKJ28 kurang 20!". Lulus SMP, bertemu teman-teman baru yang absurd dan unik, kisah cinta yang tidak jelas, mempunyai Masa Lalu yang kelam, serta tugas-tugas yang menumpuk dari guru tak berperasaan. Mungkin bagi kalian ini biasa dan Mainstream. Tapi bagiku, ini adalah suatu kebahagiaan.. [a True Story in Real Life]


"Miku, sudah makan?" tanya Okaa-sannya.

Ia masih tiduran. "belom.."

"Makan dulu sana, Kaa-san masak omelet."

"Nggak ah, males. Itu mulu tiap hari. Bosen!" dan Miku langsung berbalik membelakangi Okaa-sannya. Kelihatan Okaa-sannya kesal, tapi Okaa-san tidak memaksa Miku.

Kalian bingung dengan perubahan sifat Miku? Asal kalian tahu, Miku yang di sekolah berbeda dengan Miku yang di rumah.

Kalau di sekolah Miku itu rakus, di rumah dia sangat malas untuk ke Dapur.

Kalau di sekolah Miku adalah orang yang ceria, di rumah Miku sangat dingin dan kejam.

Kalau di sekolah Miku itu penuh dengan senyuman, di rumah Miku hanya mementingkan egonya.

Tapi, Miku tetap orang yang humoris, kok. Dan Miku masih baik.

"Nee-chan, main yuk.." Yuki masuk ke dalam kamar Miku. Terlihat Miku yang sedang bermain dengan Handphonenya.

Yuki penasaran. Mengapa kakaknya suka sekali dengan benda persegi panjang itu? Bahkan sampai berjam-jam. Ada sesuatu yang menarik, kah?

Dengan satu gerakan, langsung saja Yuki mengambil Handphone itu dari tangan Miku.

"YUKI!"

PLAKKK!

Terdapat bekas tamparan di pipi gadis kecil itu. Matanya sudah basah karna air mata. Sementara sang kakak, hanya menatap adiknya dengan tajam.

"Bego! Ngapain elu ngambil hape gua, HAH?! PERGI LU!" ancam Miku dengan seluruh amarahnya. Jari telunjuknya kini ia arahkan ke pintu kamar; menyuruh Yuki keluar.

"HUAAAAA! MAMAAAAA!" Yuki segera berlari keluar. Miku menghela napas. Sebentar lagi pasti Okaa-sannya akan menggebrak pintu kamarnya dan akan–

"MIKU! SUDAH BERAPA KALI IBU BILANG, JANGAN MAIN FISIK!"

–memarahinya.

"KARENA KAMU SUDAH MENAMPAR YUKI, KAU IBU HUKUM TIDAK MAKAN MALAM KALI INI! IBU TELAH MENYESAL MENAWARIMU MAKANAN TADI!"

Dan terdengar suara pintu yang ditutup –dibanting– sangat keras oleh Okaa-sannya.

'Haaahh, ini sudah biasa..' batinnya. Miku menghela nafas lagi.


"Okaa-san, ittekimasu!" teriak seorang gadis twintail tosca sambil berjalan menuju halte bis. Ia sedikit melompat di awalnya, memberi kesan bahwa ia bersemangat. Tapi ia kembali berjalan normal. Ia tak mau di cap orang tak waras di jalan.

Kejadian kemarin sudah ia lupakan. Dan Okaa-sannya juga sudah lupa. Yah, itu semua memang salahnya, kan? Miku memang tipe orang yang tidak mengambil pusing masalah, jadi ia selalu gampang berbaikan dengan Okaa-sannya.

Ia mulai menunggu Bis. Salahkan Miki yang selalu bangun kesiangan, di tambah sekolahnya itu berada di Kota sebelah. Jadi terpaksa Miku mengalah dan harus berangkat sekolah dengan Bis. Bukan Motor.

Tidak terasa Bis yang ia tunggu akhirnya datang juga. Buru-buru Miku masuk ke dalam Bis itu dan duduk di depan, dekat sang supir.

"Haaahh.. Pengendara motor sekarang asal nyerobot aja. Mentang-mentang body slim, merasa jalanan punyanya.." celetuk supir Bis kepada Miku. Miku yang merasa diajak bicara, nengok ke supir itu.

"Iya bang.." Miku mengangguk-angguk. Ini supir kok SKSD banget?

Sang supir tersenyum. Nyengir, tepatnya. "Lihat aja sekarang, pengendara motor saja nggak ngasih orang yang ingin nyebrang. Udah gitu asal nyelip aja. Kalo kata tetangga abang nih, mendingan kalo pergi kemana-mana bawa aja kucing!"

Miku bingung. "Loh? Emang kenapa bang?"

"Ya iyalah! Siapa yang mau ngelindes kucing? Menurut Mitos, kalo kita nabrak kucing, beberapa menit kemudian kita yang kecelakaan!"

Cerdas. 'Baru kali ini gua nemu supir kayak gini..' batin Miku.

Tanpa terasa Miku sudah sampai di halte dekat sekolahnya. Buru-buru Miku membayar dan turun dari Bis itu.

"Neng! Duitnya kurang 10 Yen lagi!" tapi sayangnya Miku sudah masuk ke dalam SMK Vocaloid.

Miku mulai menelusuri koridor sekolahnya. Beberapa kali Miku menyapa teman-teman dari kelas lain, dengan senyuman tentunya.

"Ohayou Miku!"

Miku berbalik, mendapati Kaito-senpai yang berada dibelakangnya dan segera mengelus kepala Miku.

"A-apaan sih senpai! Ja-jangan pegang-pegang!" segera Miku menghindar beberapa langkah kebelakang.

Kaito-senpai terkekeh. Miku mendengus.

"Ya-yaudah, aku pergi dulu yah senpai!" kemudian Miku buru-buru menaiki tangga, menghindar dari Kaito-senpai.

'Huh, kalau orang-orang melihat aku bersama Kaito-senpai, pasti akan ada gosip. Ntar Mikuo malah menjauh dariku. Hih! Jangan ampe dah!' pikir Miku.

Ia terus berjalan, tapi pikirannya terus melayang tentang kejadian barusan.

Yah, sebenarnya Miku sudah tahu kalau Kaito-senpai itu suka padanya. Sama seperti Nero, tapi Nero kelihatannya udah bisa Move On, tuh.

Tapi beda dengan Kaito-senpai, dia menganggap Mikuo sebagai 'Rival'nya. Dan, ia benci sekali dengan orang bernama Mikuo!

Tapi kan.. Miku sukanya sama Mikuo! Walaupun Mikuo masih gantungin Miku, sih..

Miku tidak ingin kehilangan Mikuo..

"Miku-chan!" panggil dua orang senpai padanya. Miku yang sedang berjalan otomatis berhenti, dan berbalik menghadap orang yang tadi memanggilnya.

Dua senpai itu terdiam sejenak. Memperhatikan rupa Miku dari ujung kaki sampai atas kepala. Sesekali terlihat senpainya yang berbisik, dan menyikut temannya. Miku bingung.

"Ehm.. Senpai, ada apa yah?" Tanya Miku dengan muka polosnya.

"Miku, kamu suka Mikuo, yah?" bukannya menjawab pertanyaan Miku, senpai itu malah balik bertanya.

Miku menggaruk-garuk belakang kepalanya. Mukanya memerah. "I-iya senpai.. Hehehe.."

"Wah, kalian memang cocok, kok! Aku nge'ship kalian!" senpai yang tadi bertanya itu mengacungkan jempolnya, membuat Miku sweatdrop atau tambah blushing.

Kemudian senpai satunya lagi menepuk pundak si senpai 1, dan berbisik di telinganya. "Heh, bagaimana dengan si Maniak Es Krim itu?"

Ia menepuk jidatnya. "Oh iya! Aku lupa kalau dia cinta banget sama Miku! Eh, tapi si Kaitn nggak cocok ah dengannya. Dia ketinggian, sih!"

"Parah banget lu! Kasiam kan si Kaito itu? Dia kan bla bla bla.." dan seterusnya, sampai melupakan eksistensi Miku yang sudah berdiri dari tadi. Mereka terus saja berbisik-bisik. Tapi sayangnya, Miku berhasil mendengar percakapan mereka, dan itu membuat Miku risih.

"Ehm, senpai. Aku pergi ke kelas dulu, yah? Ada PR yang belum aku kerjakan.." Terpaksa Miku berbohong. Ia tidak ingin berdiri terus dan di kacangin seperti ini.

"A-ah, yasudah. Dadah Miku-chan!"

Miku menepuk jidatnya. Ia baru ingat kalau senpai tadi itu biang gosip. Dan pasti, kabar beredar bahwa 'si Bendahara 10. TKJ menyukai Ketua Kelasnya sendiri!' bakal segera meluas. Pasti itu.


"Ohayou Minna-san!" teriak Miku sambil menggebrak pintu kelasnya. Ada beberapa yang kaget, tapi ada juga yang biasa saja. Mungkin sudah terbiasa dengan kelakuan Miku. Yah, Miku melakukan ini agar terlihat bersemangat.

"Mik, bisa gak sih elu gak gebrakin tuh pintu? Kasihan kan Bang Bruno, dia kena omelan si Nenek kita tercinta.." omel Lily, tapi Miku hanya bisa nyengir.

Sedikit informasi, yang dimaksud 'Nenek Kita Tercinta' itu adalah ibu dari sang Kaichou, Kepala Sekolah kita ini. Dan dia jauh lebih seram dibanding sang Kaichou. Hiiiiiii!

"Wah, Miku. Kok telat? Pasti gara-gara Imouto lu yah?" tanya Lui. Loh, kok dia di kelas TKJ?

"Eh, lu ngapain di kelas gua?" Miku menepuk bahu Lui agak kencang. Lui menyipitkan matanya, tanda tak senang.

"Suka-suka gua lah! Emang nih kelas punya elu? Bukan kan?" ucap Lui sewot. Haha, dia tersinggung rupanya.

Lanjutnya. "Lagian, gua kesini mau ketemu Teto ama Neru, kok! Bukan ama elu!" Lui menjulurkan lidahnya.

Miku cemberut. "Ah, Lui mah jahat!"

"Biarin! Elu bukan temen gua!" sambil berjalan keluar kelas. Sok sok ngambek. Miku langsung mengejar Lui.

Hap! Ketangkap juga tangan Lui!

"Lui-kun~ Maafin Miku, yah?" ucap Miku dengan nada yang dibuat-buat sedih. Lengkap dengan puppy eyesnya.

"Halah! Lebay amat lu! Udah ah, gua pengen masuk kelas!" dan BLAM! Suara pintu dibanting.

Miku terdiam. Tangan Miku terulur kedepan, seakan ingin meraih sesuatu. Tubuhnya lemas. Walau ia tahu kalau Lui hanya pura-pura marah, tapi Miku terlanjur lebay. Ia harus memainkan drama ini.

"Lui, tega amat lu ama gua.."

"Cieee, pagi-pagh udah ribut aja! Pake acara lebay segala, lagi!" ucap Mikuo sambil menepuk pundak Miku, lalu berjalan lagi menuju kelas 10. TKJ.

JEDERRR!

Miku merasa harga dirinya benar-benar runtuh. Dia tidak salah lihat, kan? Mikuo baru saja melihatnya dalam posisi yang biasa ada di sinetron-sinetron itu. MALU BANGET SUMPAH!

Ingin rasanya Miku harakiri sekarang juga.

Pintu kelas 10. PM terbuka, menampilkan Lui yang mengintip sedikit dengan wajah polos.

"Eh, tadi kita marahan gara-gara kenapa, yah?"

Hening seketika.


"Teng! Teng! Teng! Pelajaran hari ini telah selesai. The lesson is over. Doko wa owarimashita. Xiakele."

Semua orang yang berada di dalam kelas segera menutup telinganya. Berusaha agar pendengaran mereka tidak rusak karena volumenya yang begitu keras. Kata Leon-sensei sih, Resistornya harus diganti, tuh.

"Ah, lama-lama aku bisa budek!" teriak Miku setelah Miriam-sensei keluar dari kelas -tentunya.

Rin menoleh. "Bukannya elu emang udah budek, yah?"

"Oiya, yah. Hehehe.." Miku menggaruk belakang kepalanya.

Ia langsung membereskan bukunya, dan menghampiri Teto dan Neru.

"Eh, hari ini aku ada ekskull Paduan Suara. Kalian gak apa kan pulang tanpa aku?" tanya Miku dengan nada pasrah. Entah mengapa hari ini begitu cepat, dan begitu lelah.

Teto dan Neru hanya tersenyum.

"Tak apa, kok! Malah kami yang tidak enak karena Miku pulangnya sendirian.." ucap Teto disertai anggukan Neru. Miku menjadi lega.

"Yasudah. Kalian hati-hadi di jalan yah!"

Teto dan Neru melambaikan tangan. "Ya, kau juga!"

Seseorang menepuk pundak Miku. "Mik, jadi Padus?"

"Jadi lah. Mau makan dulu, gak? Biasa~ di Kedai 'Lapis. Laper nih gua.." seraya memegang perutnya, seakan Miku sangat lapar.

"Ayo dah Mik! Gua juga laper nih.." sahut Iroha disertai Lily yang mengangguk tanda setuju.

Oke, sedikit informasi –lagi. Di 10. TKJ ini, yang ikut Paduan Suara hanya Miku, Tei, Iroha, dan Lily. Dulu sih ada Neru, cuma dia keluar. Katanya sih, males. Yah, jadinya kalo hari Kamis.. Miku selalu pulang sendirian.

Sendirian.

Miku meremas ujung roknya. Perasaan itu kembali lagi. Perasaan takut. Takut untuk sendirian..

"Eh, Mik! Jadi gak?" tepukan Tei di bahu Miku membuat pikiran itu buyar entah kemana. Miku kaget.

"A-ah! Ng-nggak apa-apa, kok! Tadi cuma keinget duit gua yang masih ama Mbak Kantin aja! Hehehe.." Miku cengengesan, menutupi ekspresi sedihnya.

"Yaudah, ayo!"

Kemudian mereka pergi keluar dari sekolah, menuju Kedai 'Lapis. Letak Kedai ini tidak jauh, berada di belakang SMK Vocaloid setelah 3 rumah. Jadi, Miku dkk cukup berjalan kaki.


"Aku pesan burger 1, yah! Jangan lupa Neginya banyakin!"

Kalian pasti sudah tau itu siapa, kan?

"Mik, elu kok suka banget sih sama Negi?" tanya Lily. Mungkin dia heran tiap hari Miku selalu memesan makanan dengan ekstrak Negi.

Miku menopang dagunya, pose berpikir. "Hmm.. Suka aja sama Negi. Juga buat makanan lebih gurih dan wangi!"

Semuanya bergidik ngeri. Eh, apa ada yang salah?

Tiba-tiba seseorang mencubit pipi kananku. "Hai, Miku-chan.."

"A-aw! Sa-sakit–" Miku menoleh ke orang yang seenaknya mencubitnya, "–Eh, Kaito-senpai!"

"Hehehe.." senpai bersurai Ocean blue itu hanya terkekeh pelan. Mengingatkan Miku pada saat pertama kali bertemu senpainya ini.


FLASHBACK


"Ayo semua turun dari Bis! Kita akan melakukan flashmob pada jam 6 tepat! Ayo cepat cepat cepat!"

Yah, kini rombongan kami akan melakukan flashmob di suatu kota besar di Jepang. Dan Miku beserta teman-temannya yang ikut tentu diberi kaos khusus untuk flashmob nanti.

"Miku-chan, ayo kita ganti baju!" ajak Rion santai sambil menepuk pundak Miku.

"I-iya.. Tunggu dulu.." Miku mengeluarkan kaos yang masih terbungkus plastik dan menaruhnya di lengannya karena tangan Miku memegang handphone dan minuman. Miku berniat memasukkan handphonenya ke dalam tas, tapi-

CEMPLUNG~

Kaosnya merosot dan nyemplung ke lubang gorong-gorong pemirsa!

Hening seketika. Rion syok, Miku apalagi. Tubuh Miku bergetar ketakutan. Disini ia memegang peran yang penting, dan tanpanya flashmob akan kurang lengkap. Itu kaos buat flasmob beberapa menit lagi. Tapi.. Sekarang..

"AAAAAAAAAAAAA!"

Teriakan Miku membuat orang-orang disekitar berhenti beraktivitas dan memandanginya. Ada yang langsung menghampiri Miku, ada yang menutup telinganya saking kencang plus cemprengnya teriakan Miku, dan ada yang pura-pura gak dengar dan masa bodo. Kurang ajar tuh yang terakhir!

"Mi-Miku-chan, kau kenapa?!" teriak Neru yang begitu kaget melihat Miku dengan mata melebar dan tangannya bergetar.

"I-itu.. Itu.." ucap Miku terbata-bata sambil menunjuk lubang di gorong-gorong yang lumayan besar dan panjang.

Neru heran. "Itu apanya, Miku?"

"I-itu.. Kaosnya kecemplung! Huweeeee!" Miku mulai menangis.

Rion, yang sedari tadi berada disamping Miku –ia sudah agak tenang, menghampiri Neru. "Eh, ayo tanya ke Kaichou, masih ada persediaan kaos tidak?"

"Ayo dah! Miku, ikut kami!" kemudian Neru beserta Rion menuntu Miku ke Kaichou.

"Kaichou-sama, apa masih ada kaos lagi untuk Miku? Dia tidak sengaja menjatuhkannya ke gorong-gorong.." tanya Rion.

"Wah, sepertinya tidak ada. Kaito, kau mendapatkan kaos tidak? Peranmu disini kan kurang penting, mendingan kau pinjamkan dulu ke anak ini.." suruh Kaichou sambil menunjuk Miku.

Kaito melihat kearah Miku yang sedan menahan tangisnya, dan ia menghela nafas. "Haduh, kok bisa terjadi seperti itu sih? Ceroboh sekali. Untung bukan handphone mu yang jatuh.." sambil menyodorkan kaosnya kearah Miku.

Miku menerima pemberian dari senpainya itu. "A-Arigatou, senpai.."

Kaito tersenyum. "Ayo, ku antar kau ke kamar ganti.."

"Ah, hai' senpai!"


"Miku, ini burgernya! Dengan ekstrak Negi!" teriak Aoki-baasan –si Pemilik Kedai sekaligus Koki– sambil menaruhnya di meja Miku.

Ia tersadar. "Ah, i-iya. Ini uangnya, Aoki-baasan!" sambil memberikan uang 5 Yen.

Aoki cemberut. "Hei, aku ini masih muda! Panggil aku Aoki-neesan!"

"I-iya dah.." Miku sweatdrop.

"Hehehe.. Kau melamun, Miku-chan.." Kaito-senpai langsung mencubit hidung Miku.

"Ja-Jangan sentuh hidungku, senpai!" Miku mulai blushing. Kemudian Kaito-senpai segera melepaskannya. Fyuuhhh..

Gadis twintail itu mengambil burgernya, dan memakannya. Ia mulai risih karena Kaito-senpai terus memandangnya.

"A-ano.. Ada apa senpai? Senpai mau? Senpai laper? Senpai gak punya uang?" ucap Miku polos. Sedangkan Kaito-senpai cuma bisa sweatdrop.

"Bukan itu, Miku-chan. Itu, ada saus di bibirmu. Sini, aku bersihkan.." dan Kaito-senpai hendak mendekatkan tangannya ke bibir Miku, sementara Miku cepat-cepat mundur kebelakang.

"A-ah, ti-tidak usah senpai. A-aku bisa sendiri.." sambil buru-buru mengelap saus yang ada di bibirnya. Kaito-senpai hanya terdiam, sorot matanya meredup.

Eh, dia sedih?

'Mungkin Kaito-senpai tahu kalau aku tidak ingin terlalu dekat dengannya? Karna dia tahu aku menjaga perasaanku pada Mikuo?' batin Miku.

Tei berdiri. "Mik, kita udah nih makannya. Lu udahan belom?"

"Gua udahan, kok. Kaito-senpai, aku duluan yah!"

Dan Miku mempercepat langkahnya, pergi dari Kedai itu. Dan ia bisa melihat Kaito-senpai yang menghela nafas.


'Yah, pulang sendiri deh..' batin Miku sambil menghela nafas.

Sekarang ini Miku sedang menunggu Bis, dan tanpa Teto maupun Neru benar-benar sangat sepi. Ia bisa melihat Tei, Iroha, dan Lily yang melambaikan tangannya kearahnya dan memasuki Bis yang berbeda arah dengan Miku.

"Haduh, perasaan dulu gua paling seneng deh kalo pulangnya sendirian. Tapi kok sekarang jadi gini, yah?"

Disaat Miku sibuk dengan pikirannya, muncul Bis yang arahnya menuju rumahnya. Dengan sigap Miku masuk kedalam Bis dan duduk dekat jendela. Ia bisa melihat rumah dan toko-toko yang tiap hari ia lewati. Perlahan, nampak senyum tipis di wajah Miku.

"Ternyata, gua udah berubah.."


"Tadaima.."

Hari ini Miku merasa sangat lelah. Entah mengapa. Mungkin karna tadi latihan Padus, karna beberapa minggu lagi ekstrakurikuler Paduan Suara SMK Vocaloid akan tampil dalam Festival Go Green. Tentu ia harus tampil bagus disana.

"Okaeri, Onee-chan.." ucap Miki dari ruang tengah. Ia sedang menonton TV ditemani beberapa cemilan. Langsung saja Miku menghampirinya.

"Eh, Miki. Lu udah makan belom? Kita makan apaan hari ini?"

Miki menoleh. "Okaa-san sedang pergi, jadi kita cuma makan Indomie. Tapi tadi aku udah makan Indomie yang bungkus terakhir.."

"Kampret, jadi gua harus ke warung gitu? Gua kan kagak punya duit!" Miku mulai emosi.

"Nih, gua kasih duit.." Miki memberi Miku uang 1 Yen.

Miku cengo. "Apah? Cuma 1 Yen? Kurang lah!"

"Udahlah, Onee-chan. Udah bagus gua kasih duit. Lu minjem uang Kas aja, lu kan Bendahara.."

"Deh, mana bisa gitu?! Eh, tapi gapapa lah. Daripada gua gak makan.." kemudian Miku mengambil 3 Yen dari dompet uang Kasnya dan berjalan menuju warung terdekat.

"Mbak, beli Mie dong.."

"Mie apa?"

"Mie ciyus ada Mbak? Mie oyeng aja deh kalo gak ada~"

"Neng, jangan ALAY deh!" Mbak-mbak warung nampak kesal.

Miku nyengir. "Hmm.. Aku beli Sarimi isi 2 aja deh Mbak!"

"Ini. Harganya 3 Yen!"

"Sama krupuk, deh! Harganya 1 Yen, kan?"

Mbak-mbak itu hanya mengangguk. Ketahuan banget dia lagi bete.

"Yaudah, nih duitnya!" Kemudian Miku mulai membayar Mienya dan kembali ke rumahnya.

'Pas banget, nih. Ama Kiyoteru-sensei kan disuruh bawa bungkus Mie untuk dilihat komposisinya. Kimia lagi, Kimia lagi.. Kimia everywhere..' pikir Miku.

Ia buru-buru ke Dapur, dan menyiapkan panci untuk memasak Mie. Tiba-tiba Miku ingin ke Kamar Mandi untuk BAK (You know lah).

Saat Miku melangkahkan kaki pertama, ia bisa rasakan lantai yang licin dan setelahnya terdengar bunyi "BRAAKKK!" -yang berasal dari Miku sendiri. Yap, Miku kepeleset.

Ia mencoba bangun, dan mengusap-usap bokongnya.

"Huh, apes banget dah.."

Miku memperhatikan lantai Kamar Mandi yang agak berminyak, dan bisa ia lihat bekas Mie yang berceceran di lantai. Karna ini, Miku mengambil satu kesimpulan.

"MIKIIIII! LU KALO NGEBUANG AIR BEKAS NGEREBUS MIE JANGAN BUANG DI KAMAR MANDI, OON!"

Dari ruang tengah, Mikh hanya bisa nyengir. "Gomen, Onee-chan. Wastafelnya jauh, males jalannya.."

Miku sweatdrop. Padahal kan Wastafelnya cuma ada di luar rumah, nggak jauh-jauh amat. Dianya aja yang males keluar!

"Tauk, ah! Lu gak bakalan gua kasih pinjem hape gua!" kemudian Miku keluar dari Kamar Mandi, niatan untuk BAK seketika hilang. Dan Miku mulai ke Dapur, untuk memasak Mie yang tadi sempat tertunda.

Sementara Miki hanya pasrah, karna dia senang sekali minjem hape Miku untuk Fesbukan.


[ TO BE CONTINUED ]


Gomennasai! Hontou ni Gomennasai! Aku sudah lama tidak update-update Fanfict ini.. Bunuh saya.. :O

Kali ini aku tidak akan banyak bicara. Aku merasa bersalah pada Readers yang menunggu kelanjutan Fict ini.. :'(

Sekarang balas Review aja, yah? :'3

To Kurotori Rei :

Maka dari itu.. IA itu gak level sama Big Al! :v

Dan.. Emang Miku itu apes banget dah.. :'D

Ini udah lanjut! :3

To Kei-T Masoharu :

Emang si Rinto itu gak punya duit.. Makanya, beliin dong! 8D *ditendang*

Iya, ceritanya disini Moke itu anak bandel! :v *Plakk!*

To Hikari Kengo :

Ternyata CUL itu emang bener-bener sakit.. Terbukti tangannya ampe keringetan begitu.. :O

Emang Neru jorok! Dan memang kejadiannya seperti itu! TwT *mewek*

To Asane Yashi :

Wah, kamu ampe Review 2 chapter sekaligus! Arigatou! :D

Di bagian Rinto jadi Seksi Perlengkapan itu, emang si Rintonya ngata-ngatain Kiyoteru-sensei. Tapu di dalem hati.. :v

Kamu lebig suka yang pake bahasa gahol? Semoga di Fict ini menghibur kamu~ :3

To TasyaMarvell :

Hooo masih kelas 8 ._. Ku kira kelas 9 :D

Tapi gapapa, bersabarlah setahun lagi! 8D *Plakk!*

Ini udah lanjut! Gomen menunggu lama! :3

Nah, udahan Balas Reviewnya. Sekarang minta Review, nih.. ^O^

Oke.. Mind to Review, Minna-san? :'D

Original Story by cindychan28