WARNING: DLDR, TYPO, Gaje, Alur berantakan, Bahasa gaul(?), cerita suka-suka auth, dll
Disclaimer Naruto : Masashi Kishimoto
Di game online pasti ada yang berpacaran di game, istilah lainnya couples. Banyak yang jatuh cinta sungguhan karenanya. Aku Haruno Sakura, hanya menganggap game online hanya sebuah game, tidak lebih.
JUST GAME
"Hai!"
"Kyaa!"
Brukgubrukgubruk(?)
"Ada apa?"
"Kenapa?"
"Pelecehan ya?!"
"E-eh... Bukaaaan! Dia teman saya! Maaf sudah membuat kesalah pahaman!" aku membungkuk-bungkuk panik di depan kerumunan orang yang tiba-tiba berkumpul mengelilingi kami setelah aku berteriak. Yang tadinya bawa batu, kayu, besi, sampai samurai langsung menurunkan senjata mereka dengan ekspresi 'yaelah'nya masing-masing. Jadi tidak enak begini.
"Yee kirain apaan."
"Jangan teriak-teriak makanya, dikiranya ada sesuatu."
"Ah padahal mau join." Heh? Join apanya?!
Lalu orang-orang itu pun bubar dan berpencar keberbagai arah. Muka mereka terlihat kesal karna dibuat panik.
Aku melirik lelaki di sampingku melewati sudut mataku. Mungkin dia tersinggung dengan kesalahpahaman tadi.
"Apa wajahku terlihat seperti maniak?" tanya anak lelaki itu sambil menunjuk wajahnya. Aku gelagapan tidak enak.
"Maaf!" aku kembali membungkuk dalam-dalam tanda meminta maaf.
"Hee~ Tidak usah seformal itu. Aku Pein. kau Sakura, benar?" aku menegakkan kembali tubuhku lalu mengangguk pelan sambil melirik-lirik kearahnya, aku memang malu-malu, tapi nanti bisa jadi malu-maluin.
"Ternyata kau itu rendah ya?"
DUAK
Aku meninju perutnya dengan refleks karna ucapannya itu. Lalu aku tersenyum LEMBUT kepadanya. Ada masalah dengan ucapannya? Ya, ucapannya sangat tabu dan sensitive bagiku. Kata 'rendah' dalam kalimatnya bisa diartikan 'pendek', hanya saja itu dalam bahasa halusnya.
"Maaf ya? Tadi itu refleks."
"Ugh!" Pein memegangi perutnya sambil membungkuk-bungkuk dan terbatuk. Aku tersenyum bangga dengan tonjokanku.
"Hei Pein, ayolah~ Kita mau kemana?" aku bertanya kepada Pein yang masih membungkuk dan terbatuk. Tangan kanannya sedikit meremas perutnya.
"Uhuk! Akh!"
Aku langsung terbelak dengan reaksi tonjokanku itu. Pein sakit beneran? Aku mengira dia hanya bercanda dan pura-pura!
"Eh? Pein Pein! Kamu ga apa-apa kan?" aku membungkuk untuk melihat wajahnya. Tanganku memegang bahunya dan sedikit mendorongnya keatas agar mudah melihat wajahnya.
"Sesakit itu ya? Aduh maaf maaf!" tangaku mengelus-elus pundaknya untuk menenangkannya.
GREB
Aku terkejut ketika Pein tiba-tiba memegang tanganku yang ada dipundaknya. Dia mendongak, memandangku dengan tatapan datar. Aku balik memandangnya dengan takut-takut. Dia marah! Aduh padahal ini pertemuan pertama aku sudah memberikan kesan buruk kepadanya.
Tangannya yang senggang diangkatnya lalu diarahkan kewajahku. Aku menutup mataku sambil berteriak didalam hati. 'Jangan pukul aku!'.
Ctak!
"Aw!" aku memegang dahi lebarku yang terasa sakit. Aku langsung membuka mataku. Wajah Pein berada di sekitar 10cm didepan wajahku, dia tersenyum memperlihatkan gigi bersinarnya. Kenapa aku jadi ingat si Naruto ya?
"Aku hanya menyentilmu kok." kata Pein sambil berdiri tegak. Kedua telapak tangannya dia sembunyikan di saku celananya. Aku memandangnya dengan tatapan protes. Dia tadi hanya berpura-pura ternyata. Kalau tau begitu tadi aku tinggal saja.
"Huft! Ternyata kurang kenceng!" gumamku sebal sambil membelakangi Pein. Pein terkikik pelan.
"Kita mau kemana?" tanyaku agak jutek masih dengan membelakanginya membiarkan dia memandangi tas gemblokku.
"Baiklah, kita akan ke Oto." Aku berbalik badan lalu melototinya. Aku tidak salah dengar kan? Oto? Kan itu cukup jauh, ngapain dia mengajaku kesana?
"Mau menculikku, heh?" aku berbalik badan lalu mendongak. Ugh tubuhku terlihat sangat pendek jika didekat Pein.
"Nggak lah. Disana ada pameran game. Oto tidak begitu jauh kalau naik kereta."
Aku menurunkan kepalaku dan tidak lagi mendongak, aku memandangi Pein yang berjalan masuk kedalam stasiun. Aku masih diam di tempat saja, menunggu sampai Pein memanggilku. Tetapi ternyata aku tidak dipanggil-panggil. Dia niat pergi denganku tidak sih?
Menyadari Pein sudah hilang dari pandanganku, aku langsung masuk kedalam stasiun. Lihat saja, kalau sampai tidak ketemu, aku akan pulang.
"Oy! Sakura!" seseorang memanggilku, kedengarannya dari arah kanan. Kepalaku menengok keasal suara. Itu Pein, sedang berdiri di depan petugas yang memintai karcis, berarti dia mau memasuki areal kereta. Aku berjalan agak berlari kearahnya.
"Tiketku?" tanyaku pada Pein.
"Beli sendiri." jawabnya santai. Aku melototkan mataku takjub dengan Pein. Kirain sih dibeliin gitu, dia yang ngajak padahal kan. Sebaaal.
"Huh!" aku berbalik badan menghadap loket yang agak jauh dari tempatku berdiri. Lalu berjalan dengan sedikit menghentak-hentakan kakiku. Baru dua langkah berjalan, langkahku tiba-tiba berhenti. Aku menengok kebelakang melihat Pein yang menarik tasku. Aku menatap dengan tatapan 'Apaan lagi sih?'.
Lho... Itu kan...
"PEIIIN!" aku berteriak kesal kearahnya. Yang aku teriaki hanya tertawa-tawa nista. Sial sekali, sudah dua kali aku ditipunya. Aku kesal ketika tangan Pein yang satunya terangkat dain menunjukkan dua lembar karcis, DUA LEMBAR. Untuk siapa yang satu lagi? Tentu saja untukku. Hanya dia dan aku saja yang pergi. Tidak mungkin kan kalau dia memamerkan dua lembar karcis dan menghentikan aku tetapi bukan untukku?
Aku merampas kedua karcis dari tangannya itu lalu memberikan kepada petugas. Setelah dirobek oleh petugas itu, aku mengambil sisanya lalu mendorong Pein dari belakang.
"Hahaha sabar, Sakura."
"Wah rame banget!" aku berdecak kagum ketika memasuki area festival. Walaupun outdoor tetapi tetap menyenangkan. Banyak yang mengcosplay karakter dari game, game center, stand mainan replica dari karakter di game juga, dan lihat itu! Ada peluncuran game online PC Sword Art Online.
"Pein... Itu..." aku bergumam sambil memandangi orang yang diatas panggung sambil mempromosikan game SAO. Saking semangatnya aku sampai berdebar dan tidak bisa bernapas.
"Ayo!" ajak Pein. Lalu dia... Menggenggam tanganku.
"Biar gak ilang." katanya lagi.
DEG
Aduh, makin sesak dadaku, dan debaran jantungku semakin berpacu. Ini seperti... Kencan? Mikir begitu wajahku jadi agak memanas. Aku memandangi tangan Pein yang menggenggam tangaku. Besar.
Pein menarikku pelan menandakan aku harus mengikutinya. Aku berjalan menunduk dibelakangnya sambil membalas menggenggam tangannya. Eh, bukannya aku napsu ya! Aku takut hilang beneran nantinya!
BRUK
Saking asiknya menunduk, bahuku menabrak bahu seseorang. Aku menolehkan kepalaku kearah orang yang aku tabrak bahunya dengan bahuku. Seorang anak laki-laki kira-kira tingginya 10cm dariku, dia menggunakan topi putih, rambut hitamnya sedikit keluar.
"Maaf!" ucapku agak keras ke orang itu karna jarak kami semakin menjauh. Aku tidak bisa berhenti, Pein terus menarikku dan aku tidak bisa melepaskan gandengan ini, nanti aku bisa tertinggal Pein.
Orang itu menengok kearahku. Aku melihat sebuah (karna yang terlihat hanya satu) mata onyx yang menatapku tajam. Dia kenapa? Marah karna aku tabrak atau memang tatapan matanya seperti itu? Aku sedikit merinding dengan tatapannya.
"Kenapa?" tanya Pein singkat tanpa menoleh kearahku. Aku langsung mengalihkan pandanganku dari orang tadi ke Pein.
"Tadi nabrak orang."
"Kok bisa?"
"Apa sih yang nggak bisa buat aku?" jawabku dengan pertanyaan candaan. Pein hanya terkekeh. Walaupun tidak terdengar karna ramainya tempat ini, aku dapat melihat bahunya yang sedikit bergetar.
Pein tiba-tiba berhenti berjalan, tetapi masih memegangi tanganku. Kok mukaku jadi agak panas ya? ha-ha.
Aku mengintip kedepan Pein dari samping badannya. Aku menyadari kalau kami sedang mengantri. Antrian yang cukup panjang di depan sebuah counter, dan di atasnya ada poster anime SAO yang terpampang besar.
"Kita mau ngapain?" tanyaku pada Pein.
"Matamu tadi terlalu berbinar melihat ini."
"Terus?"
"Aku mau mengambil CD-nya, gratis. Kau mau juga kan?"
"Ga juga sih." jawabku seenaknya. Pein langsung menengok kebelakang, kearahku.
"Loh? Kenapa?" aku memandang Pein yang memandangku bingung.
"Itu kan CD, aku punyanya netbook. Ngga bisa masukin CD kan, dan aku tidak punya PC." jelasku pada Pein. Dia langsung mengangguk paham.
Aku jadi bingung karna Pein masih mengantri, padahal tadi aku bilang tidak mau mengambil CDnya.
Aku melepaskan genggaman Pein, mengantri tidak perlu bergandengan tangan bukan? Nanti dikira norak.
"Kok masih ngantri?" Tanyaku pada Pein yang sabar banget ngantrinya. Padahal kan panas.
"Aku mau CD-nya."
Gubrak
Aku menengok kearah anak kecil yang nabrak tempat sampah karna lari-larian. Kasihan.
Aa... Ternyata memang Pein yang menginginkannya tapi beralibi aku yang meminta. Tetapi tidak apa-apa karna aku juga jadi mau haha. Biasanya selain mendapat CD-nya kita juga akan mendapat merchandise dan juga bonus item di game itu. Lumayan kan? Gratis pula.
Tak lama kemudian, giliran Pein. Aku bergeser lalu berdiri di sebelah Pein. Lalu perempuan dengan pakaian yang unik nan seksi memberikan aku dan Pein selembar kertas yang harus diisi. Nama, e-mail, twitter, nomor handphone dan juga usia. Entah untuk apa aku tidak perduli. Yang penting dapat CD-nya (atau mungkin marchandisenya?)
Aku mengisi semua yang ditanyakan di dalam kertas tersebut. Setelah itu aku memberikannya kepada mba-mba(?) yang bertugas, Pein juga. Lalu mba-mba itu pun memberikan amplop karton dengan cover SAO.
"Terimakasih. Ajak teman-temannya main juga yah!"
"Tadi seru sekali. Aku baru kali ini merasakan bermain game online seramai tadi." aku memegang pipiku yang memerah, terbuai karna serunya bermain game online tadi. Ternyata disana ada gathering game online yang biasa aku mainkan, lalu kami bermain game bersama. Di game kita berkumpul di park server Rubi, suasananya heboh sekali. Karna menurut mereka dalam satu ruangan tidak perlu menggunakan chat, jadi ngobrol langsung - walaupun masih sering menggunakan chat-nya, tapi tidak battle sungguhan loh yaa.
"Wajahmu seperti baru pacaran saja." celetuk Pein. Aku langsung menengok kearahnya, lalu berkata,
"Haha aku memang begitu kok. Aku lebih tertarik sama game dari pada pacaran fufufu.", setelah itu aku melanjutkan aktifitas terbuai karena game.
Saking asiknya terbuai-buai, Pein sampai menarikku keluar dari kereta, menyadarkanku kalau kami sudah sampai di Konoha. Aku tadi belum bilang ya kalau kami lagi di kereta?
"Kau yakin tidak tertarik dengan pacaran?" tanya Pein sambil berjalan keluar dari stasiun. Aku mengangguk mantap.
"Yakin? Nggak pingin ngerasain suasana pacaran?" tanyanya lagi. Aku menurunkan kedua telapak tanganku dari pipi dan memasukannya kedalam saku rokku.
"Hmm... He'em!" aku mengangguk lagi. Aku memang kurang tertarik sama pacar-pacaran, tapi pasti ada perasaan ingin merasakan rasanya pacaran. Aku kan juga cewek, ya wajar kan kalau aku juga pingin ngerasain. Tapi aku takut kalau pacaran nanti aktifitas nge-game-ku berkurang.
Pein tiba-tiba berhenti berjalan. Aku juga jadi mengikutinya berhenti berjalan karena bingung melihatnya tiba-tiba berhenti berjalan. Kalau aku tidak melihatnya berhenti berjalan mungkin aku akan berjalan terus.
"Kenapa?" tanyaku pada Pein. Pein hanya diam saja dan melihatku. Aku memiringkan kepalaku bingung dengan tingkahnya. Lalu dia tiba-tiba menyeringai. Aneh banget ini anak.
"Nah, Sakura."
"Ng?"
"Aku penasaran..."
"...Penasaran kenapa?" aku jadi geregetan soalnya dia tidak langsung ngomong, nunggu ditanya dulu baru melanjutkan omongannya.
GREP
"Heh?" Pein tiba-tiba merangkul pundakku entah apa maksudnya. Masih dengan seringai yang tercetak jelas di wajahnya, Pein bertanya,
"Kalau begini, gimana?" begitu.
"G-gimana apanya?" aku jadi gugup karna dirangkulnya. Jelas lah, cewek mana yang tidak jadi gugup karena dirangkul sama cowok yang baru di temuinya tadi pagi? Lagian juga tampang Pein lumayan tampan.
"Rasanya. Seperti orang pacaran, kan?" tuturnya. Tiba-tiba aku merasakan pipiku geli-geli gimana gitu.
"Bi-biasa aja kok." ucapku sambil mengalihkan pandangan kearah samping.
"Oh begitu yaa. Kalau begini?" aku memperhatikan tangan Pein yang satunya terangkat, lalu mengambil beberapa helai rambutku. Dia sedikit membungkuk mensejajarjan tingginya dengaku, tangannya memain-mainkan ujung rambutku. Ugh... Rasanya geli.
"I-itu..." aku sedikit menunduk untuk menutupi wajahku. Aduh pipiku semakin geli, malu rasanya.
"Gimana?"
"A-"
"Pffft! Kamu lucu sekali, Sakura!"
"Eh?"
"Aku tadi hanya mengetesmu. Ingin membuktikan perkataanmu saja, pfft." aku tercengang dengan penuturan Pein. Aku tau dia hanya mengerjaiku tapi tidak perlu segitunya, kan?
"Grrr... Peiiin!" aku mencubit kedua pipinya lalu menariknya kekiri dan kekanan.
"Uaaa aduh aduh sakit!" Pein menarik tanganku menjauh dari pipinya, tapi itu malah membuat pipinya semakin tertarik. Rasakan cubitan maut ala Sakura!
Aku melepaskan cubitanku dari pipinya. Belum puas sih cuma agak capek aja, lagi pula aku harus cepat pulang karna sudah jam 5, sebentar lagi gelap.
"Huh! Aku mau pulang!" aku berjalan menjauh dari Pein yang masih menertawaiku.
"Haha Sakura! Maaf ya!" Pein berteriak jauh di belakangku tanpa mengejarku. Aku berhenti, lalu memutar tubuhku kearahnya.
"Weeeeek!" ejekku sambil menjulurkan lidah dan menarik sedikit kantung mataku kebawah. Lalu aku lari keluar dari stasiun. Sebodo amat sama Pein deh.
Setelah lelah berlari, aku mulai berjalan santai sambil mendengarkan musik dari handphoneku menggunakan headset. Yah mencoba menenangkan diri dari rasa kesal dan blushing- blushing yang tersisa. Kenapa sih Pein meledekku dengan cara seperti itu? Kenapaaah? Kan jadi keliatan seperti orang yang berbohong. Aku memang jujur, tapi hatiku yang bergejolak aneh saat Pein merangkulku dan memainkan ujung rambutku. Kyaaa maluuuu!
"Ino! tunggu!"
Aku memelankan langkah kakiku ketika mendengar suara seseorang yang memanggil Ino, sahabatku.
Aku melihat disebrang jalan di depan sebuah restoran, ada anak laki-laki berdiri disana memandangi sesuatu dengan wajah panik, itu kan Sai. Ada apa dengannya? Aku pun mengikuti arah pandangan Sai. Dia memandangi perempuan berambut blonde yang dikuncir ponnytail sedang berlari menjauh dari restoran tersebut. Itu Ino. Entah apa yang terjadi dengan mereka berdua.
Aku yang tidak sigap hanya berhenti dan mematung memperhatikan mereka berdua secara bergantian. Tiba-tiba Sai menoleh kearahku. Aku kaget karna Sai menyadari kalau aku memperhatikannya.
Sai masuk kembali kedalam restoran itu sambil mengacak-acak rambutnya frustasi. Aku mencopot headset yang terpasang di telingaku, lalu aku berlari mengejar Ino.
"Ino! Tunggu! Woi Pig! Berhenti!" aku mengejarnya sambil berteriak-teriak agar Ino berhenti berlari. Dan benar saja, Ino berhenti berlari, langsung saja aku mempercepat lariku dan mendekatinya.
"S-Sakura?"
"Hah hah hh... Lebih baik kita duduk dulu." aku menarik Ino ke taman di dekat sana dengan lembut. Biasanya aku menariknya dengan agak kasar, tapi kurasa saat ini suasana hati Ino sedang buruk.
"Apa yang terjadi?" tanyaku to the point pada Ino ketika kami duduk di kursi taman.
"Eh? Apanya yang apa yang terjadi? Haha." ucap Ino sambil tertawa hambar, dan matanya malah memperhatikan kearah lain bukan kearah lawan bicaranya, mungkin dia tidak mau bercerita. Ino tidak biasanya seperti ini, kalau ada masalah dia pasti cerita, aku jadi penasaran.
"Tadi aku liat Sai loh. Kayaknya dia setres gitu." pancingku agar Ino mau cerita.
"Ah iya tadi aku habis bertemu dengannya." ucap Ino sambil merapihkan poninya. Dia tersenyum, tapi terlihat sekali kalau senyumnya itu dipaksakan.
"Kalian habis ngapain emangnya?" aku semakin menggali kedalam. Semoga Ino mau cerita ya.
"Hm... Kami habis menghadiri acara reunian teman SMP-nya Sai, aku diajak." jawab Ino masih dengan senyum terpaksanya. Aku jadi semakin penasaran.
"Lalu kenapa kamu pergi dari sana?" tanyaku lagi dan mulai memasuki inti masalah.
Ino menunduk memandangi ujung sepatu flatnya. Matanya terlihat seperti ragu-ragu. Lalu dia menghela napas panjang.
"Ada mantan pacarnya." jawab Ino, aku terkekeh pelan. Jadi dia cemburu, heh?
"Mereka hanya mantan kan? Tidak ada hub-"
"Mereka berciuman, Sakura! Didepanku!" Ino tiba-tiba berteriak tertahan memotong ucapanku. Aku tercengang dengan ucapannya barusan.
Aku memandangi mata Ino yang mulai berkaca-kaca dengan pandangan kaget. Aku baru pertama kali melihat Ino seserius ini. Biasanya kalau sedang galau dia akan menangis seperti anak kecil.
"B-bagaimana bisa?"
"Pe-perempuan itu mendekati Sai, lalu merayunya." Ino pun mulai bercerita, aku diam agar tidak mengganggunya.
"Padahal Sai sudah memperingatinya... Tapi," Ino menarik napas dalam-dalam sebentar, aku yang melihatnya juga jadi ikut menarik napas dalam-dalam.
"...perempuan itu malah makin menjadi dan mencium Sai, di bibir. Hhh..." Ino terduduk lesu. Entah kenapa aku merasa ingin tertawa saat Ino bercerita tetapi menyebut si 'tersangka' dengan sebutan 'perempuan itu', seolah-olah itu perempuan seperti gimanaaa gitu.
"Tapi yang salah bukan Sai, ya kan?" tanyaku menyadarkan Ino. Benar kan? Yang salah bukan Sai, tapi perempuan itu yang tidak tau diri. Sebagai perempuan, aku merasa terinjak-injak harga diriku, karna dia dan perempuan sejenisnya sudah memberikan kesan buruk pada kaum hawa. Tidak bisa dibiarkan! Kok aku jadi emosi?
"Aku tau kok. Sai tidak salah."
"Lho? Terus kenapa galau?" aku memiringkan kepalaku bingung. Ino menatap mataku dalam-dalam dan serius.
"Masalahnya, perempuan itu tinggi, cantik, pintar, dan yang terpenting dia..."
"apa?"
"memiliki..."
"..." Ino lama deh, jadi makin penasaran.
"Dada yang besar. Huaaa~ lihat, dadaku rataaa~"
Lagi, aku menatap kagum kearah Ino. Jadi yang dia cemburui itu apanya? Masalah ciuman atau dada? Aku sudah panik karna Ino agak berbeda tadi, tapi tiba-tiba dia membuat rasa kasihanku lenyap.
Dan dia menangis seperti anak kecil sekarang. Benar-benar deh Ino, aku kadang tidak mengerti jalan pikirannya. Jadi kesal.
"Udah ah, mau pulang." aku beranjak dari kursi taman lalu berjalan keluar taman meninggalkan Ino yang sedang terisak. Biarkan saja dia, nanti juga diam dengan sendirinya.
"Sakuraaa!" Ino berteriak memanggilku. Aku langsung saja berlari menghindar darinya. Agak jahat ya, tapi biar lah. Cuma Ino kok haha.
Aku baru saja membuka pintu gerbang rumahku, tetapi aku tidak jadi masuk kedalam dan melihat kearah rumah sebelah. Ada mobil truk di depan rumah itu, box dari truk itu terbuka memperlihatkan isinya.
Sepertinya aku punya tetangga baru, semoga ada anak seusiaku agar aku punya teman baru.
Tak lama kemudian, sebuah mobil sedan merah melewatiku dan berhenti dibelakang truk itu. Mungkin itu tetangga baruku. Aku jadi ingin lihat seperti apa wajah-wajah mereka.
Aku berdiri di depan pagar rumahku sambil memegangi gagang pintu pagar. Aku terus memperhatikan mobil sedan itu dan menunggu isinya keluar.
Seorang wanita paruh baya yang masih terlihat cantik keluar dari mobil itu, rambut biru donker panjangnya dibiarkan tergerai, dewasa sekali.
Lalu dipintu yang satunya keluar seorang pria paruh baya, wajahnya terlihat datar dan angkuh, tipikal orang yang disegani di kantor. Sepertinya mereka suami istri. Apa mereka punya anak ya?
Wanita paruh baya itu berjalan kearah pintu belakang mobil lalu mengetuk-ngetuk jendelanya.
"Sasuke, keluar lah. Nanti kau terkunci kalau terus didalam mobil."
Deg
"Sasuke?" tanyaku berbisik. Aku sudah pasti kaget setengah mati, namanya sama seperti Sasuke di game. Tapi aku tidak tau marganya apa. Walaupun begitu aku tetap berdebar-debar. Sasuke yang di game tinggal di sebelah rumahku, itu mungkin saja terjadi, bukan?
Pintu bagian belakang pun terbuka, aku langsung memandangi mobil itu dengan seksama. Seorang anak laki-laki berambut biru donker keluar dari mobil itu, dia membelakangiku jadi aku tidak tau beagaimana rupanya. Aku memandang anak itu dengan serius seperti ingin memantrainya. Ayo laaah, menengok kesiniii menengok laaah. Kumohon.
Dan... dia menengok!
Deg
Aku terpaku. Mata kami bertemu. Dia memandangku datar dan aku memandangnya kagum. Wajahnya tampan dan mempesona. Aku ingin berlama-lama memperhatikan wajahnya, tapi aku mengingat suatu hal. Aku harus mengecek di game, apakah Sasuke on atau tidak. Langsung saja aku berlari memasuki rumahku dengan cepat, secepat yang aku bisa.
"Tadaima!" aku mengucapkan salam lalu melepas sepatuku dengan asal tanpa memasukannya ke rak sepatu. Aku langsung berlari keadalam kamarku dan tidak memperdulikan omelan dari Nii-chanku itu.
Aku melempar tasku kearah kasur, lalu berjalan kearah lemari untuk mencari netbookku. Aku mengeluarkan netbookku itu, lalu langsung menyalakannya dan memasangkan modem. Untung saja semalam sudah aku penuhkan batterainya.
Aku menunggu booting dengan kesal karna terlalu lama. Aku mengetuk-ngetukan jariku diatas touchpad saking tidak sabarnya. Setelah selesai booting, aku langsung mengaktifkan modemku lalu membuka game kesayanganku, log-in dan, enter. Lagi-lagi aku harus menunggu karna setiap game pasti ada loading.
Terasa seperti sudah seabad menunggu karena aku sedang terburu-buru, akhirnya monitorku menampilakan ruangan persegi dengan berbagai interior didalamnya dan tentunya disana ada karakterku. Aku mengklik kotak bertuliskan 'buddies' lalu munculah kotak persegi panjang yang menunjukan teman-temanku di game itu. Aku tidak perlu mencari Sasuke, karna posisnya ada di paling atas. Dia online. Aku langsung mengiriminya private chat.
You
(17.45) Sasukeeeee!
1 menit
2 menit
3 menit
4 menit
5 menit sudah Sasuke tidak membalas pesanku. Jangan-jangan Sasuke yang baru pindah itu Sasuke yang di game? Kalau benar aku takut sekaligus senang. Takut karena dia seperti penguntit, senang karena dia tampan hahaha.
Puk!
Aku tersadar dari lamunanku ketika netbookku mengeluarkan bunyi yang khas saat pm masuk.
DarkRaven
(17.51) apa?
Sasuke membalas pesanku! Kyaaaa~ Eit,aku tidak boleh senang dulu, aku masih harus menyelidikinya.
You
(17.52) kenapa ngilang seminggu?
DarkRaven
(17.52) kenapa? Kangen?
You
(17.52) sok tau parah. Jawab aja sih.
DarkRaven
(17.53) Pulsa modem abis.
Masuk akal, karena aku akan seperti dia saat pulsa modem habis, miskin Internet dan berjuang menabung. Lagipula mana sempat Sasuke yang menjadi tetanggaku untuk online game, dia kan baru saja pindah.
Huft, jadi yang disebelah itu bukan Sasuke-ku? Aku senang tapi kecewa juga. Tau lah alasannya kenapa aku bisa senang dan kecewa secara bersamaan. Tapi, entah kenapa perasaanku masih ragu dengan pernyataannya. Hanya perasaanku saja sih.
Dan setelah itu aku dan Sasuke bermain game bersama lagi, horeee.
"Hoaaaahm..." aku menguap lebar sambil mendang selimut dari tubuhku. Semalam aku main game sampai pukul satu dini hari, dan aku bangun pukul tujuh pagi dihari minggu. Jika tidak ada anime Doraemon pada pukul 8 nanti aku tidak mau repot-repot bangun pagi.
Aku beranjak dari kasur dan berjalan kearah jendela. Aku membuka lebar-lebar tirai jendela merah maroon itu, juga membuka jendelanya agar udara pagi masuk kekamarku.
"Hoaaaam." lagi-lagi aku menguap lebar tanpa menutupnya. Aku berdiri santai didepan jendela sambil menghirup udara banyak-banyak.
Tunggu. Di sebrang jendelaku ada jendela lain, dan disana ada anak laki-laki yang melihatku. Melihatku? Kyaaa aku lupa rumah sebelah sudah terisi!
Buru-buru aku menutup kembali tirai jendelaku.
Malu banget ketahuan nguap lebar sama laki-laki tampan. Imejku dimata dia pasti jadi buruk. Ya Tuhan, aku harap dia hilang ingatan! Huh, dari pada mengeluarkan sumpah-sumpahan yang malah menambah dosa, lebih baik aku menonton Doraemon.
Aku berjalan keluar kamar untuk cuci muka -karena kamar mandinya tidak menyatu dengan kamarku- langsung disambut oleh Okaa-san yang sedang mengepel.
"Nanti belanja ya, Saku." sambutan yang super sekali. Apa lagi kalau nanti dikasih upah, lebih super lagi ya.
"Abis Doraemon ya, Kaa-san?" pintaku agak memelas. Minggu lalu aku tidak dapat menontonnya karena aku kesiangan bangun dan hanya dapat menonton ending song-nya. Pokoknya hari ini aku tidak boleh kelewatan lagi.
"Ngga."
Yang menjawab bukan Kaa-san, suara Kaa-san lembut, tidak maskulin. Aku dan Kaa-san menoleh keasal suara. Sasori-nii baru keluar dari kamarnya. Kamarnya Sasori-nii ada disebelah kamarku, semua kamar ada di lantai dua kecuali kamar tamu.
"Hih, yang minta kan Kaa-san, kenapa Nii-chan yang melarang?" tanyaku sinis sambil melipat tanganku didepan dada.
"Aku sudah lapar." jawab Sasori-nii sambil mengusap wajahnya yang masih sangat amat kusut karena baru bagun.
"Aku juga sudah lapar!" Konohamaru tiba-tiba muncul dari balik sofa.
Aku memelototi Konohamaru agar dia mau menarik kalimatnya barusan. Tapi dia hanya diam dan menyengir lebar.
"Sudah-sudah. Sakura beli CDnya saja, ya? Kaa-san kasih uangnya nanti." senyumku langsung mengembang ketika mendengar penuturan Okaa-san. Saking senangnya aku melompat lalu memeluk Okaa-san.
"Okaa-san, daisuki!"
"Ittekimasu!" aku keluar dari rumah sambil menenteng tas dengan hati gembira. Tentu saja gembira, Okaa-san memberikan uang lebih kepadaku untuk membeli CD Doraemon yang aku rindukan. Kyaaa aku tidak sabar.
Aku menutup pintu gerbang rumahku dengan perlahan agar tidak menimbulkan suara benturan besi yang lumayan berisik. Saat itu, tanpa sengaja aku melihat kearah rumah sebelah yang baru saja dihuni kembali kemarin.
Didepan rumah itu ada seorang wanita paruh baya dengan pakaian santai sedang membawa kotak besar dengan banyak barang didalamnya, sampai-sampai menumpuk melebihi besar kotak tersebut.
"Waa!"
Aku berlari kearahnya saat melihat barang-barang yang dipegangnya akan jatuh. Lalu menahannya disisi yang akan jatuh tadi. Kalau jatuh akan semakin repot nantinya.
"Terimakasih!" wanita itu memiringkan kepalanya agar dapat melihat wajahku. Dia tersenyum ramah, membuatku ikut tersenyum juga.
"Iya. Mau di letakan di mana, Baa-san?"
"Dekat tempat sampah. Aku ingin membuangnya."
Aku dan wanita itu pun langsung bergotong royong membawa kotak itu kearah tempat sampah. Agak susah juga karena barang-barang ini hampir terjatuh beberapa kali, jadi aku terus menahannya agar tidak jatuh.
"Yak, disini saja. Turunkan perlahan." ucap wanita itu memberi tau. Aku langsung berhenti lalu menurunkan kotak itu perlahan-lahan mengikuti wanita itu agar seimbang.
Bruk
Dan kotak itu pun mendarat dengan selamat sentosa.
"Fyuh!" wanita itu mengelap pelipisnya yang berkeringat dengan lenganya, sedangkan aku hanya menepuk-nepukan tanganku yang agak kotor kepahaku, bahasa kasarnya sih meperin.
"Terimakasih ya anak manis, aku jadi tertolong." ucap wanita itu sambil tersenyum ramah, tangannya masih tetap mengelap pelipisnya yang masih berkeringat.
"Hahaha tidak apa-apa kok Obaa-san." aku tersenyum sambil menggaruk pipiku, bukannya gatal, tapi aku malu dan agak ke-GR-an karena dipuji.
"Oh iya, saya Mikoto Uchiha. Saya dan sekeluarga baru pindah kemarin, di sana." wanita itu memperkenalkan dirinya, lalu menunjuk kearah rumahnya yang tepat berada di sebelah rumahku. Mataku pun mengikuti arah yang di tunjukan wanita yang mengaku bernama Mikoto Uchiha.
"A-Aku Sakura Haruno. Selamat datang dilingkungan kami, Obaa-san." aku tersenyum ramah membalas senyuman Mikoto-baasan. Sepertinya wanita ini tipe ibu yang tidak suka bergosip dan yang tertawanya 'hohoho'(?) kalau ada gosip baru.
"Bagaimana kalau kau mampir kerumahku untuk makan camilan? Anggap saja sebagai ucapan terimakasih." katanya mengajakku. Aku sih mau saja, mau banget malah, tapi aku harus pergi berbelanja.
"Aku mau sekali Obaa-san, tapi aku harus pergi berbelanja." ucapku sambil mengangkat tas belanja yang masih kosong.
"Sayang sekali. Ah, Sasuke!"
Deg
Aku membatu seketika, dan dengan berat hati aku menoleh kearah orang yang dipanggil itu. Nah loh. Orang yang paling aku hindari muncul dan dalam beberapa detik lagi aku akan bertatap muka dengannya. Tidaaak! Aku belum siap! Kecerobohanku yang tadi pagi pasti masih segar diingatannya.
Aku melirik kearahnya, dan tanpa sengaja mata kami bertemu. Langsung saja aku menundukan kepalaku sedalam yang aku bisa. Aku malu, pasti di otaknya dia menganggapku cewek aneh karena masalah tadi. Jadi aku hanya mendengarkan pembicaraan mereka.
"Sudah mau berangkat, Sas?"
"Hn."
"Kau tau jalannya?"
"Tidak? Nanti kau nyasar. Oh, Sakura-chan?"
"Ah, iya?"
Aku yang kaget karena dipanggil langsung mendongak dan menyahut secara cepat sambil tersenyum kaku. Aku memandang lawan bicaraku, tatapi sebenarnya ekor mataku terfokus kearah anak laki-laki yang tingginya melebihi beberapa centi dariku yang berdiri disamping Mikoto-baasan.
"Ini puteraku, Sasuke."
Mikoto-baasan pun memperkenalkan putranya itu. Aku harus bersikap seperti apa? Jangankan berbicara, memandangnya pun aku masih malu.
"Ha-hai Sasuke." sapaku gugup. Lalu apa lagi? Oh iya memperkenalkan diri!
Dengan ragu, aku menjulurkan tanganku kearahnya mengajaknya berjabat tangan.
"A-aku Sakura Haruno. Salam kenal."
Satu detik
Dua detik
Tiga detik
Tidak ada balasan darinya, dia hanya melirik tanganku saja. Buru-buru aku menarik kembali tanganku itu dan menyembunyikanya dibalik badanku.
Kenapa dia tidak mau berjabat tangan denganku? Jangan-jangan dia sudah ilfil denganku, makanya jadi seperti itu. Huaaa hancur sudah pencitraanku. Berdiri dihadapannya seperti ini membuatku malu, karena tatapannya seperti mengintimidasiku. Atau tatapan matanya memang begitu?
"Aku pergi."
Kluk
Kepalaku jatuh kesamping, jika tidak tidak tersambung dengan leher pasti kepalaku sudah menggelinding. Anak itu melencos pergi tanpa menghiraukanku sama sekali. Sial, sepertinya anak ini tidak mau dekat denganku. Apa sebegitu rendahnya aku dimatanya? Sepertinya masalah nguap-menguap sembaranganku tadi pagi tidak buruk-buruk amat. Mungkin memang sikapnya seperti itu, sombong.
"Eit, tunggu Sasuke!" Sasuke berhenti berjalan ketika Kaa-sannya memanggil. Aku memandang anak itu sinis.
"Kau tau dimana letak SMP 1, Sakura-chan?" aku yang tadinya memandang sinis kearah anak laki-laki tadi, langsung merubah raut wajahku menjadi tersenyum ramah saat Mikoto-baasan bertanya padaku.
"Tentu tau. Sekolah itu tepat disebelah sekolahku. Ada apa memangnya, Baa-san?"
"Kebetulan sekali. Maukah kau mengantarkan Sasuke kesana?"
Oh tidak! Aku tidak ingin dekat-dekat dengan anak yang tidak ada ramah-ramahnya seperti itu. Aku harus apa?
TBC
Kyaaaa~ Akhirnya Update juga~ Lega loh beneran.
Gimana yang ini? Gaje ga? Alur gimana? Penulisan? Kalo typo typo? gak gantung kan ya?
Maaf banyak tanya, soalnya gue cuman meriksa sekali nggak sampe berkali-kali jadi kurang teliti, biasanya emang nggak teliti sih.
Di chapter ini, Sasuke udah nongol dan kita sudah memasuki inti cerita. Hore. *tebar bunga*
Special Thanks to: uchihyuna, Silvi Ichigo, paris, desypramitha2, A Lii Enn, Akasuna Sakurai, sonedinda, Love Foam, yixinggg, R, Akbar123, Neko Darkblue, hanazono yuri, Mushi kara-chan, poetri-chan, MS, UchiNami Selvie, Natsuyakiko32, cheryxsasuke, .5
Dan tentunya Silent Reader~ makasi makasi~
Minna~ sabar-sabar nunggu aku update yaa (itupun kalo ada yang nungguin)
See you!
