Erza berada dibelakang sebuah pohon, dia nampak memata-matai Jellal. Menunggu saat yang tepat untuk menyandra anak perempuan tersebut. Jellal sendiri sepertinya tidak menyadari keberadaan Erza.
"Jellal-san kamu darimana saja?" Tanya anak perempuan itu
"Maaf membuatmu menunggu begitu lama, ini makanlah"
Pengembara tersebut memberikan sebuah makanan, meski sedikit sepertinya anak perempuan tersebut nampak senang.
"Kamu juga makanlah"
"Aku sudah makan" Jawab Jellal berbohong
"Jangan bohong, sudahlah makan saja"
Akhirnya Jellalpun menerimanya. Menurut Erza itu adalah sebuah drama yang begitu indah, tentang persahabatan seorang anak perempuan dan pengembara. Tetapi ia tak suka melihatnya, ingin rasanya Erza menghancurkan persahabatan mereka dengan membuat salah satu dari mereka mati. Berjam-jam kemudian akhirnya kesempatanpun datang. Jellal hendak pergi lagi, setelah cukup jauh, Erza berjalan kearah anak perempuan tersebut.
"Kamu siapa?" Tanyanya
"Aku? Aku hanya seorang pengembara"
"Apa kamu temannya Jellal-san?"
"Teman ya…Sepertinya bukan, kamu sendiri siapanya Jellal?"
"Dia adalah kakakku"
"Ohh, bukan temanmu ya?"
"Bukan, memang kenapa?"
"Jika aku membunuh salah satu dari kalian bagaimana?"
"Apa maksudmu berbicara seperti itu!"
Dengan kejamnya Erza mencengkram rahang anak tersebut. Ia nampak kesakitan dan semakin dia kesakitan semakin senang Erza.
"A..ap..aa….ma..ma…u..mmuu?"
"Mauku? Mungkin aku mau membunuhmu aku sedang ingin membunuh seseorang, tetapi yang kuinginkan adalah membunuh kakakmu itu Jellal Fernandes…."
"Ka.. ku ti-tidak a…akan se…mu..dah…i…itu..di..bu-nuh….o…leh..mu"
"Diam dan berhentilah berbicara!"
Erza semakin keras mencengkram rahang anak itu, mungkin sebentar lagi rahangnya bisa saja patah. Ternyata Erza melepaskan cengkramannya dan menodongkan pedang pada leher anak itu.
"Kakakmu sayang padamu bukan? Aku akan menggunakanmu sebagai sandera, jika kakakmu itu tidak datang saat matahari sudah terbenam maka terpaksa aku akan me..mo…tong lehermu!" Ia berkata dengan suara yang mencengkram dan dengan tatapan mata yang tajam
"Kakakku pasti akan datang!"
"Kita lihat saja"
Jam demi jam telah berlalu tak terasa matahari sudah mau terbenam. Waktu yang tersisa tinggal beberapa menit lagi hingga matahari benar-benar terbenam. Akhirnya tinggal 10 detik lagi hingga matahari terbenam.
"Jika kakakmu tidak datang 10 detik lagi maka hidupmu akan berakhir"
"Aku percaya pada kakakku!"
"Oh yeah? Aku akan menghitung sampai 10 jika ia tak datang maka hidupmu berakhir"
"10"
"9"
"8"
"7"
"6"
"5"
"4"
"3"
"2"
Hitungannya terhenti di angka 2. Ada sesosok pemuda yang datang menghampiri Erza. Pastinya dia adalah Jellal Fernandes.
"Kakak!"
"Wendy! Apa kamu baik-baik saja?"
"Adikmu hampir mati, sepertinya kamu datang disaat-saat yang tepat. Hampir saja aku memengal kepala adikmu ini"
"Kau! Apa maumu!?"
"Bukankah sudah kubilang tadi siang? Aku ingin menantangmu berduel, tetapi kamu menolak inilah akibatnya jika menolak. Orang yang kamu sayangi akan mati!"
"Sepertinya kamu benar-benar serius dengan ucapanmu"
"Tentu saja…"
Tanpa ragu-ragu Erza langsung maju hendak menebaskan pedangnya pada Jellal. Dengan cepatnya Jellal menghindari serangan tersebut, tetapi ternyata ia gagal Erza berhasil melukainya.
"Aku sudah melihat itu dua kali, sihir yang sama tidak akan bekerja padaku!"
"Jika itu tak bekerja, bagaimana dengan yang ini"
Ternyata Erza tidak sadar jika Jellal sudah membuat 7 lingkaran sihir diatas langit. Sihir tersebut bekerja dengan baik dan berhasil melukai Erza meski hanya sedikit. Jellal sendiri kaget, karna tiba-tiba saja Erza sudah menggunakan armor defense.
"Requip?"
"Ya, ini adalah sihir requip aku bisa mengganti armor kapapun aku mau. Sekarang adalah saatnya kamu mati!"
Erza mengganti armornya lagi dan kini kecepatannya bertambah. Tak sampai hitungan menit ia sudah berada dibelakang Jellal, dan langsung menebaskan pedangnya tepat dipunggung Jellal.
"Luka tebasan di punggung dan tebasan di perut, luka itu cukup dalam. Apa kamu masih sanggup bertahan?"
"Aku masih bisa bertahan asal orang yang ku sayangi tak mati"
"Begitu bodohnya dirimu, melindungi seseorang yang kau sayangi hingga harus mengorbankan nyawamu sendiri"
"Apa salah melindungi orang yang kita sayangi? Kamu juga memiliki seseorang yang kamu sayangi kan!?"
Sesaat Erza terdiam mendengar perkataan Jellal. Orang yang disayangi? Omong kosong macam apa itu, pikirnya. Tanpa pikir panjang Erza menodongkan pedangnya ke leher Jellal. Wendy yang melihatnya dari jauh begitu ketakutan.
"Tidak! Kumohon jangan! Siapapun tolong kakakku, kumohon siapapun…"
"Tak akan ada yang menolongnya bodoh! Hanya ada aku, kakakkmu dan juga kamu lagipula ini daerah yang sepi jadi tidak akan ada yang menyelamatkan kakakkmu!"
"Jika tak ada yang menolongnya maka aku yang akan menolongnya"
Wendy berlari ke arah Erza, dengan kasarnya Erza menyingkirkan Wendy dengan tangannya. Sepertinya Erza sudah bersiap-siap untuk memotong lehernya Jellal.
"Ini adalah bagian yang paling aku suka, waktunya memenggal lehermu"
"Lakukan saja…"
"TIDAK! JANGAN!" Teriak Wendy
Tiba-tiba Erza berhenti, dia berhenti bukan karna teriakan Wendy melainkan karna dia merasakan keberadaan seseorang. Benar saja ada beberapa anggota dewan yang siap menangkap Erza. Salah satu dari anggota dewan maju dan tepat berdiri didepan Erza.
"Hentikan perbuatanmu Erza Scarlet!"
"Cih, tikus-tikus yang menggangu sudah datang rupanya…"
"Kamu telah membunuh begitu banyak penyihir. Sekarang kami akan menangkapmu"
"Menangkapku ya…"
Erza bangkit berdiri dan sekarang dia sudah berada tepat dibelakang Wendy. Ia jongkok dan kini menodongkan pedangnya pada Wendy.
"Tidak! Jangan!" Teriak Jellal histeris
"Jangan ada yang maju! Jika ada yang maju maka gadis ini akan kupenggal lehernya!"
"Jangan tertipu, dia pasti hanya menggertak!"
Dengan nekatnya salah satu anggota dewan tersebut maju. Erza tak segan-segan ia memang tidak langsung memenggal kepala Wendy tetapi dia nampak memajukan pedangnya dan kini ujung pedangnya membuat leher Wendy berdarah.
"Wendy!"
"To….tolong…." Wendy ketakutan setengah mati
"Itu akibatnya jika kamu tidak menuruti perkataanku, sekarang mundur satu langkah maka nyawa anak ini terselamatkan"
Akhirnya anggota dewan tersebut menurut, ia mundur satu langkah dan Erza tidak lagi menodongkan pedangnya. Wendy langsung berlari kearah kakaknya dan Jellalpun memeluk erat Wendy.
"Jellal ingat hal ini, duel kita belum selesai. Jika saja tikus-tikus tadi tidak mengganggu pasti kamu sudah mati. Intinya nyawamu dalam bahaya" Ia mengatakannya dengan senyum yang begitu menyeramkan
Sekejap Erza menghilang dari hadapan semuanya. Semua anggota dewanpun pergi dan sepertinya mereka sangat menyesal karna membiarkan Erza kabur. Kini tak ada yang tau dimana Erza tetapi pastinya ia masih berada di Fiore.
"Kak, apa kita harus pergi dari kota ini?"
"Tidak perlu, jika kita pergi pembunuh penyihir itu pasti akan semakin ingin mengejar kita"
"Jadi kakak akan berduel lagi dengannya?"
"Ya, itu jalan satu-satunya, mungkin baginya duel itu adalah penentuan hidup dan mati"
Memang sudah dinasibkan jika Erza dan Jellal akan berduel suatu hari nanti. Tetapi nasib tersebut bisa saja berubah, bisa jadi saat mereka bertemu kembali mereka tidak jadi berduel, malahaan menjadi semakin akrab. Tak akan ada yang tau kedepannya, tinggal waktu yang menjawabnya.
Bersambung…
