Sudah beberapa hari berlalu. Tidak ada tanda-tanda dari Erza yang siap menyerang Jellal. Hari itu adalah hari Minggu, bagi beberapa orang itu merupakan saat yang tepat untuk jalan-jalan. Begitu pula dengan Jellal, pada malam Minggu nanti ia ingin mengajak adiknya Wendy untuk pergi ke pasar malam.

"Wendy bagaimana jika malam ini kita pergi ke pasar malam?"

"Ya aku mau" Dia terlihat sangat gembira

Malampun tiba, cukup lama mereka berjalan sampailah mereka di pasar malam. Disana ada begitu banyak bazar dan juga kedai-kedai yang menjual berbagai macam makanan. Wendy tertarik untuk mencoba macam-macam topeng.

"Lihat, topeng ini bagus ya kak?"

"Ya bagus, jika kamu mau beli saja"

"Apa boleh?" Tanyanya ragu

"Boleh"

"Ya sudah, aku bayar dulu ya"

Saat Wendy hendak membayar tanpa sengaja Jellal melihat seorang wanita yang mengenakan jubah hitam yang menutupi wajah dan baju besinya. Ia sangat mengenal ciri-ciri orang tersebut, pasti dia Erza. Apa yang dilakukannya malam-malam begini? Apa lagi ia terlihat ingin memasuki pasar gelap. Pasti ada sesuatu yang direncanakannya, tanpa pikir panjang Jellal mengikuti Erza dari belakang. Benar saja Erza membeli beberapa bom peledak. Barang-barang tersebutkan sudah dilarang untuk beredar di pasaran. Ya namanya juga pasar gelap menjual barang-barang yang terlarang.

Jellal merasa harus mengagalkan rencana Erza. Jadi dia terus mengikuti Erza, dan tanpa disadari dia meninggalkan Wendy seorang diri.

"Jellal-san kamu dimana?"

"Ya sudahlah aku pulang duluan saja"

Ternyata Erza membawanya kesebuah tempat, yaitu sebuah rumah. Hari sudah larut semuanya pasti sudah tertidur, apa Erza merencanakan untuk menghancurkan tempat dewan? Tak sengaja Jellal menginjak sebuah ranting. Erza menengok kebelakang tetapi tidak ada siapa-siapa, meski begitu dia tetap curiga.

"Sudah kuduga, ada yang mengikutiku dari tadi. Tak perlu sembunyi aku sudah tau dimana tempat bersembunyimu, ya kan Jellal Fernandes?"

Jellal sangat terkejut karna Erza mengetahui jika dirinya yang mengikutinya dari tadi. Tanpa basa-basi Erza langsung melempar sebuah bom kearah Jellal. Karna Jellal tak bisa menghindar iapun terluka, saat asap sudah mulai menghilang Erza sudah menghilang dari tempatnya. Sial! Dia pasti sudah masuk, pikir Jellal. Langsung saja Jellal menyusul Erza masuk ke dalam sebuah rumah yang lumayan besar tersebut, dikarenakan rumah tersebut begitu besar, Jellal menjadi kesasar dan kehilangan jejak Erza. Dari kejauhan ia melihat sebuah ruangan dengan pintu terbuka. Langsung saja dia pergi kesana.

Betapa kagetnya Jellal, ternyata disana ada Erza yang ingin menghunuskan pedangnya tepat dijantung seorang kakek tua. Jellal serasa mengenalnya, dia adalah ketua dewan sihir. Erza hendak membunuh ketua dewan sihir!

"Erza!" Teriak Jellal

"Pengganggu rupanya"

"Kamu hendak membunuh ketua dewan sihirkan?"

"Ya memang benar, lalu kenapa?"

"Aku akan menghentikanmu"

"Memang kamu bisa? Lebih baik kamu pulang saja dan temani adikmu itu, aku tidak ingin berduel denganmu sekarang"

"Tentu aku bisa"

Jellal pun memukul Erza, tetapi Erza menghentikannya lalu membanting Jellal kearah jendela. Sekarang ia berada diluar dan terbaring. Meski begitu ia tetap berniat untuk menghentikan Erza, tetapi sudah terlambat. Dengan mata kepalanya sendiri Jellal melihat jika rumahnya terbakar sedangkan Erza sendiri sudah menghilang. Semua tetangga yang melihat berusaha memadamkan api secepat mungkn, akhirnya apinpun padam tetapi sudah tidak ada yang tersisa.

Para polisi datang dan menyelidiki kasus tersebut. Bahkan para wartawan banyak sekali yang berdatangan, ada salah satu wartawan yang ingin mewawancarai Jellal. Tanpa pikir panjang Jellal menolaknya dan pergi dari tempat tersebut. Berita tersebut tersebar dengan cepat dan masih ada yang belum tau siapa dalang dibalik semua kejadian ini.

Beberapa hari setelah kejadian itu, ada lagi beberapa berita baru yang mengabarkan jika tempat para berkumpul dewan di bom saat mereka sedang rapat. Memang saat itu ada yang selamat dari bom tersebut, tetapi orang yang selamat tersebut langsung dibunuh dengan sadisnya, kepala mayat tersebut sudah terpenggal, tangan kakinya sudah terpisah dari badannya, begitu banyak darah yang berceceran. Tetapi lagi-lagi tak ada yang tau siapa dalang dibalik semua kejadian ini.

Saat Jellal menonton berita tersebut di televisi dia hanya terdiam. Pastinya dalang dibalik semua ini adalah Erza. Entah mengapa Jellal merasa jika mereka berdua bertemu lagi ia bisa menghentikan segala perbuatan Erza, membuatnya bertobat dan menjadikannya penyihir yang mau menolong sesama. Semoga saja dia bisa melakukannya.

Bersambung…

A/N : Di chap selanjutnya, ini nyeritaiin duel kedua Erza dan Jellal, nah kira-kira siapa ya yang menang? Baca terus yaaaa….Maaf klo di chap ini ceritanya ga seru, RnR please :D