Hari demi hari, minggu demi minggu, bulan demi bulan sudah berlalu. Polisi dan juga anggota dewan baru masih mencari siapa orang yang membakar tempat berkumpulnya dewan dan siapa yang membakar rumah ketua dewan sihir. Jellal bersama adiknya sudah beberapa bulan ini melalui hidup yang tenang.

Bulan Juni di hari Jumat. Siang itu Jellal sedang tidak berada di rumah hanya ada Wendy seorang. Wendy juga saat itu sedang tertidur dengan lelapnya, saat terbangun dia begitu terkejut karna ada sepucuk surat yang digulung dimeja makan.

Jellal aku menantangmu untuk berduel sekali lagi, kita tentukan siapa yang harus hidup dan mati. Hari ini jam 12 malam didepan bar Fairy Tail. Jika kamu tidak datang maka aku akan menyusulmu, dan jangan harap kamu akan hidup setelah menolak ajakan duelku!

-Erza-

Wendy POV

Pembunuh penyihir itu, mengapa dia tidak menyerah saja? Aku ketakutan setelah membaca surat darinya. Jika kakak kalah maka Erza akan membunuhnya, apa yang harus aku lakukan? Lebih baik aku menyembunyikan surat ini. Langsung saja aku membuka laciku dan menyimpannya. Jika ketahuan kakak bagaimana? Tidak, tidak boleh.

Saat aku sedang sibuk dengan pikiranku sendiri ternyata kakak sudah pulang. Aku berusaha menyembunyikan kekhawatiranku, aku membuka pintu dan tersenyum padanya seakan-akan tak terjadi apa-apa.

"Apa selama di rumah kamu bersikap baik?"

"Tentu saja, kakak hari ini perginya lama sekali"

"Maaf, kamu sudah laparkan? Ayo makan"

Aku ingin terus seperti ini, bersama kakak selalu pergi mengembara bersamanya. Meski terkadang mengalami kesulitan aku tak peduli. Asal bisa bersama kakak aku sudah senang. Saat kami menyantap makanan, aku tidak bisa menyembunyikan wajahku yang khawatir.

"Kamu kenapa? Apa ada sesuatu?" Tanyanya

"Tidak, aku baik-baik saja kok" Aku memaksakan wajahku tersenyum

"Jika ada apa-apa bilang saja"

Apa aku harus bilang? Tidak, aku tidak akan pernah bilang. Nyawa kakakku taruhannya, tapi jika aku tak bilang nyawa kakak dalam bahaya. Apa yang harus aku lakukan? Semakin dipikir semakin bingung.

"Kamu bingung, pasti ada sesuatu yang mengganjal pikiranmu"

"Kak, jika kakak mendapatkan surat tantangan dari Erza apa yang akan kakak lakukan?"

"Ya kakak akan menerimanya, meski kakak tidak tau apa kakak selamat atau mati. Mengapa kamu tiba-tiba menanyakan ini?"

"A…aku…ta…tadi…"

"Apa Erza mengirimkan surat padamu?"

"I..iya.."

Buru-buru aku mengambil surat yang tadi kusimpan di laci. Akupun memberikannya pada kakak, ia nampak sangat kesal sampai-sampai meremas kertasnya.

"Erza…."

"Kakak, kumohon jangan pergi nanti kamu mati"

"Apa kamu tidak percaya pada kakakmu?"

"Ta…tapi dia kuat, apa kakak bisa menang?"

Normal POV

Jellal berlutut menyamai tinggi adiknya, ia lalu memeluk Wendy erat-erat. Dengan tenang dan penuh keyakinan ia berkata pada adiknya.

"Wendy, kamu harus percaya pada kakak. Kakak pasti akan pulang dengan selamat, kamu hanya perlu memberikan doa, berdoa semoga kakak menang"

"Jika kakak berkata begitu, maka aku percaya padamu"

Giliran Wendy yang memeluk kakaknya, air matapun mengalir dari matanya. Jellal hanya mengelus-elus kepala adiknya tersebut. Akhirnya jam sudah menunjukkan pukul 12 malam. Jellal sudah siap dengan duelnya, sebelum kakaknya pergi Wendy memberikan sesuatu padanya.

"Kumohon bawalah ini"

"Bukankah ini kalung kesukaanmu?"

"Ya, memang. Kakak bawa saja, mungkin kalung itu bisa memberikan kakak keberuntungan. Doaku selalu menyertaimu"

"Baiklah, tunggu kakak ya"

Wendy hanya mengganguk pelan lalu melambaikan tangannya. Jellal membalas lamabaian tangan adiknya itu. Tak lama berjalan dia sudah sampai di bar Fairy Tail. Dengan sinar bulan, Jellal bisa melihat Erza yang sedang menunggunya.

"Ternyata kamu datang juga"

"Karna kamu menyuruhku untuk datang"

"Lebih baik kita langsung mulai!"

Tanpa basa-basi Erza langsung menyerang Jellal, anehnya Jellal tak menghindari serangan Erza. Sekali lagi Erza menyerang, kali ini dia sempat menghindar sayangnya Erza berhasil mengenainya lagi.

"Ada apa denganmu? Kamu ingin segera mati ya? Atau kamu ingin berduel dengan tinju? Baiklah akan kulayani"

Erza membuang pedangnya dan langsung meninju Jellal. Jellalpun balas meninjunya, terkadang kena terkadang tidak. Pergerakan Erza begitu cepat, sedangkan gerakan Jellal sendiri malah melambat karna luka yang diterimanya tadi. Tetapi tujuan dia yang sebenarnya bukan untuk berduel, melainkan untuk menyadarkan Erza. Mungkin ini saat yang tepat. Mereka masih saling meninju dan saat moment ini Jellal membuka mulutnya.

"Mengapa kamu membunuh?" Tanyanya

"Karna dengan membunuh aku menjadi lebih kuat"

Jellal berhenti, otomatis Erza juga berhenti. Mereka berdua berhenti cukup lama, akhirnya Jellal pun buka mulut dan sepertinya perkataannya benar-benar membuat Erza marah.

"Baka…"

"Bodoh katamu? Aku tidak suka dikatai bodoh oleh orang sepertimu!" Erza menendang Jellal

"Membunuh tidak menjadikanmu kuat, yang menjadikanmu kuat adalah dengan melindungi yang lemah"

"Melindungi yang lemah? OMONG KOSONG!"

Dengan geramnya Erza memukul muka Jellal beberapa kali lalu memukul rahangnya. Tetapi Jellal tak membalasnya, dia bangun perlahan-lahan dan menatap Erza dalam-dalam.

"Ada apa dengan tatapan matamu itu?! AKU TAK SUKA MELIHATNYA!"

"….."

"Kamu berkata jika melidungi yang lemah akan menjadikanmu kuat. Jika begitu mengapa dulu kamu tak melindungiku!?" Teriaknya

"Apa maksudmu?"

"Tidak ada gunanya, kamu tidak akan pernah mengerti. Mungkin aku akan menceritakannya padamu"

Bersambung….

A/N : Di chap selanjutnya Erza akan menceritakan masa lalunya. Maaf klo chap ini ga seru