Flashback Erza…..

Saat itu umurnya 7 tahun. Aku adalah seorang anak yatim piatu yang kedua orangtuanya telah meninggal. Kehidupan di jalanan begitu keras, dia harus mencari cara supaya dapat bertahan hidup. Bahkan terkadang Erza harus mencuri supaya dia bisa terus hidup. Meski kehidupan di jalanan begitu berat, semua bisa terlalui dengan baik karna aku memiliki teman-teman yang setia menemani. Kemanapun kami pergi kami selalu bersama. Betapa indahnya pertemanan kami saat itu.

Tetapi suatu hari ada sebuah kejadian naas yang menimpa teman-temanku. Para polisi sedang mencari orang-orang yang tinggal di jalanan, lalu setelah ditemukan mereka akan dihukum. Betapa kejamnya mereka. Saat itu para polisi menemukan teman-temanku. Aku sendiri disuruh bersembunyi oleh salah seorang temanku yang bernama Sho. Tetapi para polisi tersebut tau jika ada satu anak lain yang bersembunyi.

Mereka dipaksa memberi tau keberadaanku. Karna menolak merekapun mati ditebas oleh pedang. Betapa menyakitkannya melihat teman-temannya mati dengan matanku sendiri. Disana ada pedang bekas karna marah akupun nekat menebas para polisi itu dengan pedang. Semenjak saat itu aku menjadi buruan para polisi. Andai saja aku lebih kuat pasti aku bisa melindungi teman-temanku. Semenjak saat itu aku bertekad untuk menjadi lebih kuat dan balas dendam. Tetapi aku merasa semakin banyak aku membunuh semakin aku jauh dari tujuan utamaku, tetapi yang paling penting aku senang.

"Kamu membunuh untuk balas dendam?"

"Ya benar"

"Tetapi bukan berarti kamu harus membunuh orang-orang yang tak bersalah bukan?!"

"Untuk apa memikirkannya?! Yang penting sekarang aku senang karna bisa membunuh. Aku tak peduli dengan balas dendam, aku sudah senang hidup seperti ini"

"Sebenarnya kamu tidak senang, ya kan?! Kamu tidak ingin membunuh. Jawab aku itu benar bukan?"

"BUKAN ITU SALAH! AKU SENANG BISA MEMBUNUH" Erza menegaskannya

"JANGAN BOHONGI DIRIMU SENDIRI! Kamu ingin menjadi kuat untuk melindungi teman-temanmu, tetapi karna kamu sudah tidak memiliki seseorang yang begitu berharga bagimu, kamu menjadi pembunuh sebagai peralihan dari tujuanmu yang sebenarnya"

"KAMU TIDAK MENGERTI APA-APA JELLAL!"

Sekarang Erza benar-benar marah. Ia mengganti armornya lalu menebas Jellal berulang kali dengan pedangnya.

"Lebih baik kau mati Jellal!"

Jellal terkapar lemah tak berdaya. Erza menodongkan pedangnya ke jantung Jellal. Saat ia ingin menusuknya. Jellal memegang ujung pedang Erza, tangannya penuh dengan darah.

"Hentikan saja, jangan bohongi dirimu sendiri…"

"Sudah kubilang aku senang jika bisa membunuh. Kamu tak mengerti juga ya?!"

"Kamu memang berkata begitu, tetapi hatimu tidak. Mungkin aku akan menyadarkanmu"

Dengan tangannya sendiri ia meyingkirkan pedang Erza. Lalu mengeluarkan jurus pamungkasnya. Diatas langit ada sebuah lingkaran hitam yang menyedot Erza. Jurus tersebut membuat Erza terluka cukup parah.

"Kamu memang hebat Jellal…" Puji Erza

"Sepertinya kita seri"

"Ya kau benar kita seri"

"Tidak bukan seri, kamulah yang menang Jellal. Aku akan mengakuinya"

"Mengakui apa?"

"Pernyataanmu tentang aku ingin menjadi lebih kuat untuk melindungi teman-temanku itu memang benar. Tetapi aku kehilangan arah, aku dibutakan oleh kekuatan dan balas dendam. Semakin banyak aku membunuh semakin hampa hatiku. Tetapi karna aku sudah terbiasa untuk membunuh aku menjadi senang"

"Apa pertemuan kita memang sudah ditakdirkan?"

"Mungkin, kamu ditakdirkan untuk melawanku juga menyadarkanku"

"Aku senang jika akhirnya kamu sadar apa yang kamu lakukan itu salah"

Saat mereka tengah berbincang. Para polisi datang hendak menangkap Erza. Jellal yang menyadari hal itu segera meggendong Erza lalu membawanya pergi. Erza sendiri merasa kaget karna tiba-tiba Jellal menggendongnya.

"Kenapa tiba-tiba kamu menggendongku? Aku mau dibawa kemana?"

"Aku akan membawamu ke rumahku"

"Apa tidak apa-apa, sepertinya adikmu sangat membenciku"

"Tenang saja, dia itu pemaaf kok"

"Apa kamu tak membenciku? Setelah semua yang telah aku lakukan padamu?"

"Itu masa lalu, masa lalu tidaklah penting yang penting sekarang aku ingin mengatakan aku mencintaimu…"

Sesaat wajah Erza memerah. Apa Jellal serius? Semakin dipikir membuat Erza semakin kebingungan. Meski begitu dia senang.

"Apa kamu baik-baik saja?" Tanya Erza

"Tidak juga, tubuhmu berat…"

"Itu karna aku memakai armor, aku bisa berjalan sendiri kok turunkan saja aku"

Saat sudah mau sampai di rumah sepertinya Jellal kehilangan keseimbangan. Mereka berduapun terjatuh. Jellal langsung pingsan seketika karna Erza menimpanya. Wendy keluar dan kaget melihat kakaknya.

"Jellal-san kamu baik-baik saja?"

"Dia hanya pingsan" Jawab Erza

"Erza-san? Apa yang kamu lakukan terhadap kakakku?"

"Kami hanya berduel" Jawab Jellal

"Tetapi kamu sampai terluka parah"

"Luka ini tidak ada apa-apanya, aku baik-baik saja"

Sebenarnya Jellal tidak kuat untuk berdiri, tetapi dia memaksakan dirinya. Saat Jellal dan Wendy hendak masuk, Erza hanya terdiam memandang punggung mereka. Lalu Jellal dan Wendy menengok kebelakang sambil tersenyum.

"Masuklah, kami berdua senang menerima kedatanganmu" Kata Jellal

"Iya, Erza-san masuk saja"

Entah mengapa ia merasa langkah kakinya begitu berat. Akhirnya diapun melangkahkan kakinya masuk. Hatinya begitu terharu, mengapa masih ada orang yang begitu baik yang mau memaafkan segala kesalahannya? Kira-kira apa ya yang selanjutnya akan terjadi?

Bersambung…