Naruto ( c ) Masashi Kishimoto
"My Love Term: I Getting Stuck At Your Heart, Manager"
( c ) Hitomi Sakurako
-Ringkasan sebelumnya:
"Kau harus menerima hukuman. Kau harus membayar-ehm! Tidak usah membayar. Kamu harus-" Sasuke memotong perkataannya membuat Sakura penasaran.
"Lalu apa maumu?" kata Sakura tidak sabar.
"Hmmm," Sasuke tampak berpikir. Kemudian tersenyum menyeringai evil.
"Jadilah manajer ku,"
CHAPTER 3: Uchiha Sasuke memang menyebalkan!
"A-apa?!" Sakura tidak percaya.
"Kenapa? Kau pasti senang karena kupilih sendiri untuk jadi manajer ku 'kan," kata Sasuke narsis.
Wajah Sakura langsung berubah masam, "Aku menolak,"
"Apa? Kau menolak pekerjaan emas ini?"
"Ini bukan pekerjaan emas. Ini adalah pekerjaan bodoh," kata Sakura sambil berjalan menjauhi Sasuke.
Sasuke geram mendengar ucapan Sakura. Dengan cepat ia mengejar Sakura. Mencengkram bahunya dan membalikkan tubuh Sakura kehadapannya. Sakura terkejut dengan perlakuan Sasuke yang sangat mendadak. 'Mau apa orang sinting ini?' batin Sakura terkejut. Wajah Sasuke sangat dekat dengan wajah Sakura dan itu membuat Sakura kesal dan memberontak. "Woi, lepaskan! Apa yang kau lakukan?!"
"Tidak kulepas sampai kau bersedia menjadi manajerku,"
Sakura menghela napas, "Berapa lama?"
"6 bulan," ucap Sasuke seenaknya.
"Benar? Tidak lebih 'kan?" tanya Sakura, sebenarnya mau enam bulan atau dua bulan juga Sakura tidak mau.
"Hn,"
'Apa itu Hn? Kata-kata aktor jaman sekarang memang sulit di mengerti,' batin Sakura kesal.
"Jidat, bagaimana?" tanya Sakura.
"Hh, aku bersedia. Deh, kenapa kau juga memanggilku jidat!" teriak Sakura kesal. Ia menerima saja pekerjaan ini, menurutnya itu cuma alibi supaya ia bisa kabur dari suasana ini.
Sasuke tersenyum senang. Namun Sakura kembali melayangkan tatapan tajamnya ke Sasuke dan yang ditatap hanya memasang tampang watados.
"Apa?" tanya Sasuke.
"Bisa lepaskan aku sekarang. Tampaknya aku alergi dekat denganmu," ucap Sakura sambil menatap bahunya yang digenggam oleh Sasuke.
Sasuke melepaskan cengkramannya pada bahu Sakura, "Hn. Besok kau harus datang ke Mangekyou Entertainment untuk menandatangani surat perjanjiannya,"
Ini yang tidak di sukai Sakura. Harus pergi ke tempat yang tidak penting. Sakura 'kan anak sekolahan, yah Cuma ke sekolah saja dong. Itu pikir Sakura.
Sakura menghela napas untuk kesekian kalinya, "Hm, sudah tidak ada yang ingin kau katakan? Aku pergi dulu," kata Sakura sambil berjalan menjauhi Sasuke.
Sasuke hanya menatap punggung Sakura dari belakang. "Hei," panggil Sasuke.
Sakura menoleh kearah Sasuke dengan malas, "Kau mau kemana?"
"Bukan urusanmu,"
"Kau mau pulang, ya?" tebak Sasuke langsung.
"Itu kau sudah tahu,"
"Rumahmu dimana?" tanya Sasuke lagi.
Sakura tak memperdulikan perkataan Sasuke dan terus berjalan.
.
.
.
MALAMNYA~~~
Sakura belum juga pulang kerumahnya. Ia masih saja menunggu di halte. Bis menuju ke rumahnya belum lewat dari tadi dan sekarang sudah, ehhm...
"Jam tujuh malam. Busnya mana sih," kata Sakura sambil menghentakkan kakinya kesal.
Tiga puluh menit Sakura menunggu, bis yang dimaksud belum juga menampakkan diri. Sekarang ia malah kedinginan.
'Untung disini gak ada preman nakal,' batin Sakura sembari jaga-jaga jika nanti ada 'nyamuk nakal' yang mengganggunya.
Di bagian Sasuke...
"Hooaahhm," Sasuke menguap saat terbangun dari tidurnya yang panjang.
Sialnya saat terbangun ia malah kelaparan. Sasuke beranjak dari tidurnya dan segera menyambar jasnya di atas meja kemudian mengendarai mobilnya kearah restoran. Tentunya setelah menggunakan penyamaran yang baik.
Saat melewati depan halte, Sasuke melihat sosok yang tidak asing di matanya. 'Itu 'kan jidat. Kenapa bisa ada di sini?'
Di bagian Sakura...
"Tunggu, itu 'kan Saskey," dengan cepat Sakura membalikkan wajahnya. Tidak ingin tertangkap oleh Sasuke.
Namun apa daya, Sasuke sudah melihatnya. Dengan cepat Sasuke menghampiri Sakura yang terduduk.
"Hei, kenapa kau ada di sini?" tanya Sasuke.
Sakura menatap Sasuke, "Apa? Memangnya kenapa kalau aku disini, hah?"
"Tidak, kupikir kau pulang ke rumahmu," Sasuke duduk diam di samping Sakura.
"Busnya belum datang," kata Sakura ketus.
"Oh, sudah tidak ada bus yang lewat kalau jam segini,"kata Sasuke sambil tersenyum misterius. Ia berlagak melihat jam tangannya, benar-benar seperti orang yang serius.
"Apa? Aku tidak percaya," ucap Sakura.
"Hm, ya, sudah kalau gak percaya. Aku 'kan tinggal di apartemen sekitar sini. Jadi aku lebih banyak tahu," ucap Sasuke sambil memasang wajah seriusnya. Dibalik wajah itu sebenarnya dia berbohong.
Sakura berpikir sejenak, "Jadi aku harus pulang naik apa?" gumam Sakura.
"Kau ikut denganku saja. Aku akan antar kau pulang," ucap Sasuke sambil berdiri dari duduknya.
"Tidak!" tolak Sakura cepat.
"Benar tidak mau? Ini sudah malam. Nanti ada sesuatu yang tidak kau inginkan terjadi," goda Sasuke.
"Jangan bilang begitu!" teriak Sakura kesal.
"Ya, sudah. Aku pergi dulu," Sasuke berjalan meninggalkan Sakura, ia memasuki mobilnya.
Sakura terdiam, apa yang dikatakan Sasuke memang benar tapi masa' ia harus naik mobil bersama orang yang di bencinya?
Saat Sasuke akan menjalankan mobilnya, Sakura buru-buru menahan Sasuke.
"Ehm, a-aku ikut denganmu saja," ucap Sakura dengan wajah yang agak malu.
Sasuke tersenyum senang. "Bagus! Naiklah," pinta Sasuke dan mobil pun melesat pergi dari halte.
"Sebenarnya tadi aku mau makan malam. Sebaiknya kita makan dulu, bagaimana?"
"Tidak, aku tidak lapar. Aku ingin pulang," ucap Sakura. Ia membuang muka keluar jendela.
"Hn, tidak apa-apa. Jadi rumahmu di mana?" tanya Sasuke.
"Ujung kota," Sakura masih berucap dengan nada ketusnya.
"Oh, pantas kau selalu naik bus, rupanya rumahmu sangat jauh,"
"Huh, tak perlu banyak tanya kalau kau memang mau mengantarku pulang," kata Sakura.
.
.
.
ESOKNYA~~~
"Pagi," sapa Sakura ramah.
"Pagi juga, Sakura" balas Ino dan Hinata bersamaan.
Sakura segera duduk di bangkunya. Ino dan Hinata menghampiri Sakura. "Sakura, apa kemarin kamu tidak merasa kehilangan uang?" tanya Ino.
"Uang? Ah! Iya! Aku kehilangan sampai-sampai aku di tendang keluar dari bis kemarin,"
"Sebenarnya uangmu terjatuh sewaktu kau berlari pulang kemarin," Hinata memberikan uang Sakura.
"Hah, benarkah? Hm, tak apalah. Itu sudah lewat,"
"Jadi kau pulang naik apa kemarin?" tanya Ino.
"Apa?! Kau bertanya aku kemarin pulang naik apa?" dan dibalas anggukan dari Ino dan juga Hinata.
"Iya. Kau naik apa? Tidak mungkin kau jalan kaki pulang ke rumahmu,"
'Gawat! Yang mengantarkanku pulang 'kan Saskey,' batin Sakura takut.
"I-itu..." Sakura menatap Hinata dan Ino bergantian.
"KRIINNGG!"
"Yaah, sudah masuk. Padahal Sakura belum bicara. Ya, sudah, istirahat nanti aku akan menagihnya, Sakura," kata Ino.
Dan pada waktu proses belajar mengajar Sakura tidak dapat konsentrasi. 'Aku harus bilang apa?' batin Sakura bingung.
Ino sedari tadi menatap wajah takut Sakura kemudian menyenggol lengan Hinata.
Hinata yang merasa 'diganggu' segera menoleh kearah Ino.
"Ada apa?" kata Hinata setengah berbisik.
"Sakura sepertinya menyembunyikan sesuatu. Wajahnya cemas saat ini, tadi sewaktu aku bertanya dengan siapa dia pulang," kata Ino.
"Benarkah?" Hinata menatap Sakura dan benar saja. Raut wajah Sakura sepertinya sangat cemas.
.
.
.
Di kantin...
"Jadi, dengan siapa kau pulang kemarin?" tanya Ino sambil mengaduk-aduk jusnya.
"Aku naik bis itu. Kemarin itu aku diturunkan tidak jauh dari rumahku, Ino,"
"Benarkah?"
Sakura mengangguk, "Benar,"
"Awas kalau kau berbohong," kata Ino. Hinata mengangguk seolah sepengertian dengan Ino.
Sakura tersenyum paksa, "Aku tidak bohong,"
Kemudian Ino membuka majalah fashion yang baru ia beli. Tanpa ada suatu yang menarik (menurut Sakura), Ino menjerit kegirangan. Sakura mengernyit, kemudian mengaduk-aduk jus stoberinya dan segera meminumnya.
"Kyaaa! Rupanya Sasuke sudah dapat manajer baru," teriak Ino kegirangan.
BRUUTTS! Sakura menyemburkan jus yang diminumnya. Untung Hinata yang duduk di depan Sakura cepat menghindar. Ino menatap Sakura heran.
"Kau kenapa?" tanya Ino.
Sakura mengambil tissue dan segera membersihkan mulut dan meja yang di kotorinya.
"Ah, tidak apa-apa," kata Sakura sambil melanjutkan acara melap meja dan Ino kembali membaca majalahnya.
"Sakura-chan, aku pinjam ponselmu dulu, ya. Aku ingin mengirim pesan ke Neji," kata Hinata.
Sakura segera merogoh ponselnya di saku dan memberikannya pada Hinata. Sakura kembali duduk di tempatnya. Ia menghela napas. 'Bagaimana ini?' pikir Sakura sambil sesekali menatap Ino yang tengah asyik membaca.
"Sakura, ada yang menelepon," kata Hinata sambil menyerahkan ponsel Sakura.
"Kau sudah mengirim pesan ke Neji?" tanya Sakura sambil mengambil ponselnya yang di berikan Hinata. Hinata mengangguk mantap .
Sakura menatap layar ponselnya. 'Nomor tak dikenal. Siapa, ya?' batin Sakura.
Ino yang melihat Sakura tampak kebingungan segera buka suara, "Angkat saja. Siapa tahu penting. Tapi, kalau kau tak mau biar aku yang angkat," kata Ino.
"Ah! T-tidak usah, Ino," kata Sakura cepat sambil menekan tombol hijau dan menempelkan ponsel ke telinganya.
"Disini Haruno Sakura. Apa boleh saya tahu siapa anda?"
'Hei, cepat kemari!' pinta orang dari dalam telepon.
Sakura ingat itu. Suara jeleknya, hobinya yang suka memerintah, nada yang menyebalkan. Itu 'kan aktor Uchiha Sasuke!
"Kyyaa! Saskey!" teriak Sakura sambil memutuskan panggilan di telepon secara sepihak.
"Eh, kenapa dengan Sasuke? Apa ia menelponmu? Beritahu aku nomornya, Sakura," kata Ino tak sabar.
"A-ah, bukan! Orang tak dikenal ini terus mengoceh mengenai Saskey. Jadi tadi aku berteriak. Mungkin fansnya yang salah sambung," ucap Sakura berbohong.
"Oh," Ino dan Hinata hanya ber-oh ria.
"Err-Ino, Hinata. Aku harus pergi. Sepertinya ibuku sedang sakit. Tolong izinkan aku ke Kurenai-sensei, ya," kata Sakura sambil berjalan kearah kelas untuk mengambil tasnya.
"Ok! Semoga Ibumu baik-baik saja dan cepat sembuh," kata Ino.
.
.
.
Di sinilah Sakura. Ia sedang berdiri di depan gedung Mangekyou Entertainment. Rasanya ia ingin pergi saja. Tapi, Sakura bukan gadis pengecut yang akan lari dari kenyataan. Sakura melangkahkan kakinya ke dalam gedung megah itu dengan berat hati. Sepertinya ia punya penyakit 'demam keartisan'.
Sakura merogoh ponselnya. Kemudian menelpon Sasuke. "Hei, dimana aku menemuimu?" tanya Sakura pada Sasuke di dalam telepon.
'Kau naik ke lantai empat saja,' kata Sasuke.
"Hhh, ya,"
'Oya, jangan gunakan lift-nya. Sepertinya rusak,'
"Apa?! Rusak!?"
'Iya, kau naik tangga darurat saja,' kata Sasuke.
"Maaf, nona. Ada yang bisa saya bantu?" tanya seseorang dari meja informasi.
"T-tidak usah, terima kasih," kata Sakura sambil ber-ojigi.
Dengan perasaan yang sangat sangat sangat berat, Sakura berjalan menuju tangga darurat.
Hampir setengah jam Sakura berjalan di tangga darurat itu dan akhirnya satu anak tangga lagi ia sudah tiba di lantai empat.
"Huh, lelahnya," kata Sakura. Kemudian ia menelpon Sasuke lagi.
"Hei-hossh. Di-hossh-mana ruang-hosh-anmu-hoshh?" Sakura ngos-ngosan karena terlalu lelah menaiki tangga.
'Hn. Ruangan ku di ujung,' kata Sasuke sambil menahan tawa.
"Apa?! U-jung?!"
'Iya, cepatlah!' pinta Sasuke.
Akhirnya Sakura berjalan menuju ruangan Sasuke yang berada di ujung dengan sisa tenaganya.
CKLEK!
"Per-hossh-misi, apa ini-hossh- ruangan Uchi-hosh-ha Sasuke?"
"Ya, err-nona. Kenapa kau tampak seperti kelelahan?" kata Kakashi heran.
"Aku bukannya tampak. Tapi aku memang kelelahan. Aku menaiki tangga darurat, pak!"
"Kenapa tidak naik lift saja?"
"Lho? Bukannya lift sedang rusak?" tanya Sakura.
"Haahaa, tidak. Lift-nya baik-baik saja," kata Kakashi.
"Apa?! Makhluk sialan itu!" teriak Sakura dalam hati.
"Haha, perkenalkan. Namaku Hatake Kakashi, CEO Mangekyou Entertainment. Kebetulan aku kesini untuk membicarakan kepada Sasuke mengenai manajer barunya,"
"A-aku Haruno Sakura. Aku lah yang akan menjadi manajer baru Sasuke. Lalu dia dimana?"
"Hohoho, rupanya kau tak sabar ingin bertemu Sasuke, ya? Dia memang digilai banyak gadis,"
'Ya, aku tak sabar ingin bertemu Sasuke. Aku tak sabar ingin menghajarnya,' batin Sakura sambil tersenyum licik.
"Hei, Sasuke. Cepatlah kemari. Seseorang mencarimu," panggil Kakashi.
Dan Uchiha Sasuke pun keluar dengan mengenakan handuk yang melilit perutnya. Sepertinya ia baru saja selesai membersihkan diri. Sakura yang melihat itu sama sekali tidak tertarik. Yang ia pikirkan saat ini adalah bagaimana cara menghajar Sasuke.
Sasuke menggosokkan handuk kecil ke rambut ayamnya dan membuat rambut itu menjadi agak berantakan. Kalau Ino dan Hinata yang melihat momen ini, sudah dipastikan mereka akan terkapar di tempat. Sakura tersenyum kecil, 'Ino, Hinata, sepertinya bukan kalian yang melihat tubuh Sasuke untuk pertama kalinya, tapi aku. Kenapa juga harus aku sih?' batin Sakura sedih. Ia benar-benar sedih dengan nasib buruknya.
"Kakashi, ini dia manajer baruku,"
"Iya. Aku sudah tahu. Sepertinya kau memilih orang yang tepat," kata Kakashi sambil mengeluarkan selembar kertas dari dalam laci meja.
"Ya," jawab Sasuke tenang.
"Oh, ya, Haruno-san. Tolong tanda tangan surat perjanjian ini," kata Kakashi.
Akhirnya tiba juga saat yang ditakutkan Sakura. Dengan langkah gemetar, Sakura mengambil pulpen di atas meja dan akan menandatangani surat kontrak itu. Tangannya gemetar. Kemudian Sasuke menghampiri Sakura dan berdiri di belakangnya.
"Tanganmu gemetar. Kau pasti gugup berada di dekatku 'kan. Atau jangan-jangan karena aku bertelanjang dada disini?," kata Sasuke narsis. Disini Sakura merasa perutnya akan mengeluarkan semua isinya (baca: muntah).
'Bodoh, kalau tidak ada presdir disini, aku akan menggetok kepala ayammu,' batin Sakura sambil menatap Sasuke. Karena Sakura masih tahu ia berada di mana sekarang dan masih ingat situasi, akhirnya Sakura hanya tersenyum paksa. "Iya, aku sangat gugup berada di dekatmu. Jadi menjauhlah," kata Sakura kemudian melayangkan deathglare kearah Sasuke.
Sakura kembali menatap kertas yang bisa di sebut surat kontrak. Sakura menutup mata dan segera tanda tangan dengan cepat.
"S-sudah," kata Sakura sambil membuka matanya perlahan. Kemudian dilanjutkan Sasuke yang menandatangani surat itu.
"Baiklah, Haruno Sakura kau resmi diterima sebagai manajer baru aktor Uchiha Sasuke. Ah, sepertinya aku ada urusan. Jadi aku pergi dulu," kata Kakashi sambil menjabat tangan Sakura dan melangkah keluar dari ruangan.
"Huh, Kakashi sudah pergi," kata Sasuke.
"Heh, kenapa tadi kau membohongiku?" ucap Sakura kesal.
"Membohongimu? Kapan?" Sasuke duduk di sofa dan berbicara dengan santainya.
"Itu kau bilang aku harus naik tangga darurat karena lift-nya rusak. Padahal tadi Kakashi bilang bahwa lift-nya baik-baik saja. Dan aku harus menerima tertawaan dari Kakashi,"
"Hahaha. Sepertinya mengerjaimu memang asyik,"
"Benar-benar menyebalkan!" kata Sakura kesal.
Tiba-tiba Sasuke mengingat sesuatu. 'Oh, aku ingat. Aku pernah ingin menghajarnya. Mungkin ini waktunya,' batin Sasuke sambil tersenyum evil.
"Aku pulang dulu. Terpaksa aku harus izin pelajaran demi ini. Agar kau tidak selalu menggangguku," kata Sakura sambil melangkah pergi.
"Hei, kau pikir pekerjaanmu hanya tanda tangan surat kontrak saja? Kau pikir ini adalah akhirnya? Ini baru awalnya, Haruno!" kata Sasuke.
"Aku tahu itu, tu-an! Tapi aku mulai bekerja besok, bukan sekarang," kata Sakura.
"Sebentar saja," kata Sasuke dengan sangat pelan sampai Sakura kurang mendengarnya.
"Hah? Apa yang kau katakan?" tanya Sakura sambil menghampiri Sasuke.
"Kau harus di sini meski cuma sebentar saja," kata Sasuke sambil membuang muka dengan wajah kaku.
Sakura menghela napas kesal. Kemudia ia duduk di samping Sasuke. "Ada apa, huh?"
Sasuke tersenyum dan segera berdiri di hadapan Sakura. Sasuke mencengkram kerah seragam Sakura. Ia menindih tubuh Sakura dan mengunci pergerakannya.
"Eh, kau mau apa?!" teriak Sakura kaget.
"Menghajarmu. Aku ingin membalas dendamku waktu kau mengejekku," Sasuke siap melayangkan tangannya ke wajah Sakura.
Sakura menahan seringainya kemudian menunduk. "Hei, bukannya sudah kubilang untuk tidak merasa kesal dengan ejekan itu?!" ucap Sakura kesal.
Sasuke menghentikan aksinya untuk memukul Sakura.
"Tch, maaf saja. Aku benar-benar tidak bisa menerimanya. Aku tidak bisa memaafkanmu!" kata Sasuke sambil menguatkan cengkeramannya pada kerah seragam Sakura.
"Dasar keras kepala!" kata Sakura. Ia menggenggam kedua bahu Sasuke yang masih bertelanjang itu. Sakura menarik Sasuke sehingga dekat dengan wajahnya. "Kau tahu apa yang kau lakukan? Posisi ini benar-benar memalukan!" ucap Sakura tepat di depan wajah Sasuke.
Sasuke terkejut dengan tindakan Sakura yang tiba-tiba itu. Sasuke menatap mata Sakura yang kini menatapnya tajam, tapi seketika Sakura tersenyum kecil. "Dasar bodoh,"
"Hah?" Sasuke bingung
Sakura mendorong tubuh Sasuke ke belakang. Ia berdiri dari duduknya. "Kau tidak pernah mau memaafkanku karena aku juga tidak akan pernah meminta maaf." ucap Sakura. Sakura bukannya meminta maaf malah menambah kekesalan pada Sasuke saja.
Sasuke terdiam di tempat. "Lihatlah, aku akan benar-benar membuatmu mengakui kehebatanku."
"Pfft. Jangan mimpi! Dasar aktor bodoh," Sakura beberapa kali menjulurkan lidahnya seolah mengejek Sasuke.
Sasuke segera mengejar Sakura. "Jangan lari, jidat!" teriak Sasuke sambil berlari keluar ruangan.
"Whooaa! Dia mengejarku," teriak Sakura sambil mempercepat larinya keluar dari gedung itu.
.
.
.
"Aku pulang," kata Sakura sambil melepas sepatunya dan memasuki rumahnya.
"Selamat datang, Sakura." teriak Mebuki Haruno a.k.a ibu Sakura dari ruang keluarga.
'Biasanya Ibu menyambutku di depan pintu,' kata Sakura sambil melangkah menuju ruang keluarga dan duduk di samping ibunya.
"Jadi yang membuat Ibu tidak menyambutku di depan pintu karena sedang menonton," kata Sakura.
"Ah, maaf, Sakura. Ibu tidak ingin ketinggalan berita," kata Ibu Sakura.
"Berita apa?" kata Sakura sambil memakan kue kering di hadapannya.
"Berita yang katanya Uchiha Sasuke sudah dapat manajer baru,"
UHUK! Sakura tersedak. "Apa?"
Saat gambar Sasuke di televisi akan di tampilkan, Sakura segera mengambil remote dari tangan Ibunya kemudian mengganti channel tv lain. Pada akhirnya ia nangkring di channel yang sedang menyiarkan kartun kesukaannya.
"Ini lebih bagus, bu! Lebih seru! Banyak kekonyolannya," kata Sakura.
Dengan cepat Ibu Sakura segera merebut remote dari tangan Sakura. "Kau pikir Ibu ini anak kecil sepertimu yang suka nonton kartun, ya? Cepat kemarikan. Ibu ingin lihat siapa manajer baru Sasuke,"
Mebuki segera mengganti kembali ke channel tv kesukaannya. Namun, "Yahh, beritanya sudah habis. Kamu sih Sakura, pake ganti segala,"
Sakura mengelus dadanya, "Syukurlah," gumam Sakura.
"Apa? Syukurlah? Karena apa?"
"Ah, tidak,"
"Sebenarnya Ibu tidak bisa bayangkan kalau kamu yang jadi manajer Sasuke. Kau pasti sangat terkenal,"
"Hahaha, aku ke kamarku dulu ya, bu," kata Sakura sambil berlari ke kamarnya.
-TO BE CONTINUED-
Halo, minna.
Tolong beri saran dan kritik. Kirimkan saran anda ke kotak review yang ada di bawah. Ada yang penasaran ama kelanjutannya? #digiles
Reviewnya udah dibalas melalui PM.
Sampai jumpa di chapter depan.
-Hitomi Sakurako-
