Naruto ( c ) Masashi Kishimoto

"My Love Term: I Getting Stuck at Your Heart"

( c ) Hitomi Sakurako


Chapter 4: Membantu

Sakura membuka matanya perlahan. Yang ia lihat hanyalah langit-langit kamarnya yang berwarna cream. Ia mengerjapkan matanya berkali-kali.

"Syukurlah cuma mimpi." Sakura bangkit dari tidurnya. Ia berjalan kearah meja belajarnya. "Aku adalah Sakura Haruno, umur enam belas tahun. Aku adalah siswi SMA biasa. Tidak ada yang istimewa dariku."

Sakura membuka laci meja belajarnya. Dan …

"Buruk! Ini buruk! Semuanya bukan mimpi!" Sakura dapat melihat dengan jelas selembar kertas dengan berbagai tulisan tercetak di sana, tidak lupa dibubuhi dua tanda tangan yang ia lihat salah satunya ada tanda tangannya.

Sakura kembali pada tempat tidurnya. Ia kembali berbaring sambil menutup mata. "Sakura Haruno, enam belas tahun, siswa SMA biasa!"

Sakura membuka mata kemudian ia menatap ke sampingnya, tempat kertas itu ia letakkan. Sakura kembali menutup mata, kemudian menoleh lagi.

"Tidak! Kenapa ini bukan mimpi?!" teriak Sakura sambil mencengkeram kertas itu.

"Sakura, ibu akan masuk!"

Brak! Terdengar suara Mebuki diiringi suara pintu kamar yang terbuka.

"Eh, apa yang kau lakukan dengan sebuah kertas?" Tanya Mebuki sambil berjalan mendekati Sakura.

Dengan cepat Sakura memindahkan kertas itu ke belakangnya. "B-b-bukan! Ini kertas ulangan, eh, b-bukan! Ini, anu-"

"Sakura sudah dewasa, ya? Kau sudah bisa menuliskan surat cinta seperti itu!" seru Mebuki sambil memeluk Sakura.

"Eh? Maksud Ibu?" ucap Sakura cengo.

"Surat itu untuk orang yang kau sukai, 'kan? Kau sudah benar-benar dewasa. Ibu juga pernah mendapat surat cinta dari ayahmu. Tapi, kau tidak boleh memikirkan surat terus. Kau harus segera bersiap. Ibu akan menyiapkan sarapan." Mebuki mengelus puncak kepala Sakura, kemudian ia melangkah menuju dapur.

Tapi seketika ia kembali membuka pintu kamar Sakura. "Ibu akan merapikan kamarmu, jadi sisihkan barang-barangmu yang penting. Ah, aku ingin tahu seperti apa lelaki yang mendapatkan surat itu." Mebuki tertawa kecil karena senang menggoda Sakura.

Sakura masih memasang tampang cengo. Kemudian ia menatap kertas itu lagi. Sakura menjatuhkan tubuhnya, ia jatuh terduduk di ranjangnya.

"Bohong. Aku tidak tahan seperti ini."

.

.

.

"Sakura!" teriak Ino sambil memeluk Sakura dari belakang diikuti oleh Hinata yang berada di samping Ino.

"Ah, selamat pagi." Sakura tersenyum ramah kepada dua sahabat tercintanya ini. 'Aku memang merasa sial, tapi aku masih memiliki Ino dan Hinata. Aku rasa aku menjadi kuat bersama mereka.'

"Selamat pagi!" ucap Ino dan Hinata bersamaan. "Katanya, Sasuke sudah mendapat manajer barunya!" teriak Ino.

Plak! Sakura menepuk jidatnya. "Percuma, mereka berpihak pada Sasuke."

"Sakura. Kau kenapa? Kau baik-baik saja?" Tanya Hinata sambil menyentuh lengan Sakura.

"Aku baik-baik saja. Jadi, ada apa dengan manajernya itu?" ucap Sakura sambil terpaksa tersenyum.

"Aku masih belum begitu mengetahuinya tapi Sasuke akan mengumumkannya sebentar lagi." ucap Hinata bersemangat.

"Hebat! Padahal kemarin itu baru disetujui dan hari ini akan langsung diumumkan. Aku sangat penasaran!" seru Ino.

'Gawat! Jangan-jangan Sasuke akan membongkar semuanya. Bagaimana ini? aku tidak bisa membiarkan Ino dan Hinata mengetahuinya.' Sakura berpikir keras. Ia harus menyelesaikan ini segera. Ia harus membicarakannya dengan Sasuke.

"Ino! Hinata! Aku duluan!" seru Sakura sambil berlari kearah kamar kecil.

"Eh, Sakura kenapa? Apa alerginya kepada Sasuke kambuh lagi?" Tanya Ino.

"Sakura aneh!" ucap Hinata sambil menundukkan wajah.

[Sementara itu di WC]

Sakura sedang menelpon Sasuke. Ia harus membicarakan ini dengan Sasuke. Sakura tidak ingin menjadi korban di sini. Ia harus meminta Sasuke agar membatalkan acara pengumuman itu. Yah, meskipun hanya kecil kemungkinan Sasuke akan mengabulkan permintaan Sakura.

Sakura bersyukur dalam hati karena nomor Sasuke masih tersimpan di ponselnya. Untung ia belum menghapusnya.

"Ha-halo~" ucap Sakura dengan suara yang sangat pelan. Ia mencegah agar orang lain tidak mendengarnya.

"Oh, Sakura? Ada apa?" ucap Sasuke dari dalam telpon.

"K-kau akan mengadakan jumpa pers lagi, 'kan?" Tanya Sakura dengan cepat.

"Ya. Kau tidak perlu sekhawatir itu. Kau tidak perlu buru-buru ke sini. Senang juga mendengar kau menghafal jadwalku."

Sakura menghela napas. "Aku tidak khawatir, aku tidak mau ke tempat itu lagi! Aku juga tidak menghafal jadwalmu. Aku mendengar itu dari temanku. J-jadi benar kau akan mengadakan itu?"

"Ya. Pastikan kau datang."

Sakura menggelengkan kepala, padahal Sasuke tidak melihatnya. "Aku tidak mau! Aku tidak mau bertemu dengan media. Aku tidak ingin teman-temanku mengetahuinya!"

"Kau ini harus bekerja! Harusnya kau tahu dimana posisimu sekarang!" teriak Sasuke.

Sakura menjauhkan ponselnya dari telinganya. Kemudian mendekatkan ke mulutnya. "Aku tidak mau! Jangan paksa a-" – tut… tut… tut…

Eh, panggilan telepon terputus seketika. Bukan, bukan. Sasuke sengaja memutuskan sambungan. Gawat. Ini berarti Sasuke tidak akan menarik ucapannya.

Sakura menatap lurus ke depan, kemudian ia bersandar di dinding bilik WC. "Apa yang harus kulakukan?" ucap Sakura sambil bergumam.

Sakura membuka pintu WC. Di sana ia dapat melihat beberapa orang gadis menatap kearahnya, kemudian mereka kembali ke aktivitas semula.

"Dia berteriak sendirian!" bisik seorang gadis saat Sakura sedang melewatinya.

"Aku pikir ia bersama seorang pria di dalam sana. Hihihi~" seorang gadis lagi mulai menertawakan Sakura.

Sakura menundukkan wajah. "Sial. Aktor bodoh itu! Dia benar-benar berniat menghancurkan masa SMA-ku!" teriak Sakura sambil melangkah di koridor menuju kelasnya.

"Sakura-chan!" ucap Naruto sambil menyentuh pundak Sakura.

Sakura menoleh kearah Naruto. "Eh, ada apa?"

"Apa kau melihat Hinata?" Tanya Naruto.

Sakura menggeleng. "Aku tidak tahu. Tapi sepertinya tadi ia akan ke kelas. Maaf."

Naruto tersenyum kecil. "Uh, jangan meminta maaf. Aku tidak menyalahkanmu. Yah, kalau begitu aku pergi dulu. Terima kasih!" Naruto melangkah meninggalkan Sakura.

"Kenapa Sasuke tidak bisa seperti Naruto? Sasuke dan Naruto sangat berbeda." gumam Sakura sambil menatap punggung Naruto.

.

.

.

[Jam pelajaran]

"Seperti yang kita tahu, saat ini semakin banyak perkembangan yang menjadi baik. Contohnya saja, kita sudah dapat melihat beberapa perusahaan sudah mencapai tingkat kesuksesannya. Baiklah, berikan salah satu contoh keberhasilan yang kalian ketahui!" ucap Pak Guru Waka Ranai.

"Pertanyaan bodoh! Untuk apa mengetahui keberhasilan sebuah perusahaan dan apakah mereka tahu?" batin Sakura sambil menatap teman-temannya yang berambisi menjawab.

"Baik. Naru Hodo-san, silakan jawab!" ucap Pak Waka Ranai.

"Ya. Perusahaan yang saya maksud kali ini adalah Mangekyou Entertainment. Saat ini, perusahaan itu sedang dilanda keuntungan yang luar biasa. Bayangkan salah satu aktornya lah yang membuat perusahaan itu menjadi sukses." jelas Naru Hodo sambil menggosokkan jarinya di hidungnya.

"Saya ingin menambahkan, Pak!" seru Dame Dayo sambil mengangkat tangannya tinggi-tinggi.

"Silakan, Dayo-san."

"Baiklah! Aktor yang menyukseskan itu adalah Uchiha Sasuke. Dia berhasil membawa keuntungan manajemennya! Sayangnya, ia baru saja memecat manajernya karena orang itu sedang dalam masalah keluarga."

"Bukan. Kau salah! Tenten-san tidak sedang dalam masalah keluarga. Si Sasuke saja yang ingin memecatnya. Ia berkata bahwa ia sudah bosan dengan manajer yang itu-itu terus. Sasuke bodoh itu. Begitu ia sudah terkenal, ia langsung membuang manajernya." teriak Sakura dengan emosinya. Ia kesal karena ia masih mengingat pertama kali ia harus menandatangani surat perjanjian. Ia kesal karena seandainya Tenten masih berada dalam perkerjaannya, Sakura tidak akan menjadi manajer Sasuke.

"Bohong. B-bagaimana kau bisa tahu itu, Sakura?" ucap Ino kaget.

"Eh?"

"Bahkan berita itu tidak pernah ia katakan. Di majalah juga tidak ada yang seperti itu." Seisi kelas mulai membicarakan apa yang Sakura katakan barusan.

"Eeeehh?!" teriak Sakura begitu ia sadar bahwa ia barusaja mencoba menggali kuburannya (?)

.

.

.

"Nol besar, deh. Semakin aku ingin menjauh, semakin aku dijebak untuk menjalani ini." ucap Sakura.

Ia sedang berada di atap sekolah. Sakura berdiri dari duduknya, kemudian ia menatap kota yang ada di hadapannya.

"Manajer. Aku tidak bisa membayangkannya."

Sakura membayangkan bahwa suatu saat nanti ia akan disibukkan dengan berbagai macam tugas yang menumpuk, membiarkan tubuhnya tertabrak oleh para wartawan, bersedia dimintai pertanggung jawaban di depan media dan lain-lain.

Tapi, sebelum semua itu, Sakura lebih mengkhawatirkan dirinya yang akan mengecewakan Ino dan Hinata. Mereka tahu bahwa Sakura adalah tipikal cewek yang membenci aktor seperti Sasuke, tapi malah Sakura-lah yang menjadi manajer Sasuke.

"Munafik. Kenapa kau sangat munafik seperti ini, Sakura. Harusnya kau berusaha menjauhi ini." Sakura menyandarkan kepalanya di dinding.

"Ah, Sakura-chan!" ucap Hinata di depan pintu.

Kemudian Ino langsung berada di hadapan Sakura. "Sudah kuduga. Kau pasti ada di sini."

"Ino, Hinata. Maaf, aku tidak memberitahu kalian kalau aku ada di sini." Sakura menundukkan wajah. Ia benar-benar tidak tahu harus bertingkah seperti apa di hadapan dua sahabatnya ini.

Pluk! Ino merangkul pundak Sakura. "Ceritakan saja!"

"Heh? A-apa?" ucap Sakura kaget. Ia tidak mengerti maksud Ino.

"Sakura-chan tidak boleh memendam perasaan sendirian." Hinata mengelus puncak kepala Sakura sambil tersenyum lembut.

'Kenapa? Kenapa aku harus berbuat jahat kepada mereka? Di saat keadaanku seperti ini, mereka masih mengkhawatirkanku.' batin Sakura sambil menatap wajah Ino dan Hinata secara bergantian. "Terima kasih."

"Sebenarnya ada hal yang ingin kubicarakan dengan kalian. Tapi aku masih harus menyimpannya. Aku akan mengatakannya nanti, di waktu yang tepat. Aku berjanji akan mengatakannya."ucap Sakura.

"Heh? Menyimpannya? Kenapa?" Tanya Ino khawatir.

"Aku hanya masih belum sanggup mengatakannya pada kalian. Aku berjanji akan mengatakan semua nanti."

"Aku mengerti. Ini mungkin masalah yang sulit bagi Sakura." ujar Hinata.

"Yah, meski dibilang begitu tapi kau sudah berjanji akan menceritakannya pada kami." Ino bersandar pada sebuah dinding.

"Aku harap Sakura-chan tidak terlalu lama memendam perasaan. Kami akan selalu mendengarmu."

"Terima kasih!" Sakura menyeka setetes air yang menggenang di pelupuk matanya.

'Tapi… apakah mereka masih akan sebaik ini setelah mengetahui semuanya nanti?'

.

.

.

"Yah, hari ini aku tidak pulang bersama Ino dan Hinata lagi. Ino ada rapat kesiswaan dan Hinata sedang les piano. Mereka adalah orang-orang yang berjuang keras. Aku benar-benar iri." seru Sakura sambil membayangkan kedua sahabatnya itu akan menjadi orang paling sukses di masa depan.

"Tapi, kenapa hanya aku yang tetap seperti ini? Aku selalu diolok-olok oleh temanku sewaktu kecil dan sekarang aku berurusan dengan tugas manajer."

Sruk! Sruk! Sakura menghentikan langkahnya begitu merasakan kehadiran aneh dari belakangnya. Karena tidak mendengar apapun, Sakura kembali melanjutkan jalannya. Kemudian ia mendengar suara itu lagi, namun ketika ia berbalik, ia tidak melihat siapapun.

"Siapapun itu kalau aku mengenalnya aku akan memuku–" Sakura tepat akan berbalik ke depan, namun ia tiba-tiba merasa pandangannya kabur. Bukan karena obat, ini karena matanya sedang ditutup sesuatu.

Sakura meronta kesal. "S-siapa? Siapa kamu?" teriak Sakura.

"Diam!" ucap lelaki misterius itu sambil membungkam mulut Sakura.

Sakura tidak mengenal suara ini. Ini bukan suara Naruto atau pun Sasuke. Sakura tetap meronta, tapi ia merasakan ia ditarik oleh orang itu ke sebuah tempat.

Bruk! Sakura merasakan tubuhnya menabrak sesuatu yang …empuk dan sempit? T-tunggu dulu. Sakura maulai panik. Ia mencoba memikirkan ini dengan tenang. Mungkin itu hanya semank-semak. Tapi semak-semak tidak selembut ini. Mungkin itu cuma padang rumput. Sama saja! Sakura tetap memikirkan sesuatu yang tidak-tidak menghampirinya. Sakura tidak dapat tenang lagi. Ia mencoba berteriak, tapi mulutnya dibungkam oleh lelaki ini.

"Tolong! Tolong aku …Sasuke!" ucap Sakura meskipun ucapannya agak aneh karena mulutnya dibungkam.

Seketika orang itu menghentikan aksinya. Sakura sempat bersyukur dalam hati. Ia bersyukur karena nama Sasuke dapat menjadi pelindungnya. Yah, cuma namanya! Cuma namanya! Mungkin orang di hadapannya ini mengira bahwa Sakura adalah kenalan Sasuke. Ternyata menggunakan nama aktor yang sedang naik daun sebagai kenalan adalah salah satu cara untuk menyelamatkan diri bagi Sakura.

"Kenapa kau memanggilku?" ucap pria itu sambil melepaskan tangannya dari mata dan mulut Sakura.

"Hah?" Sakura dapat melihat jelas orang yang ada di hadapannya. "S-Sasuke?"

"Barusan kau memanggilku, kan?"

"B-b-bagaimana kau bisa ada di sini. Kemana penjahat itu?" ucap Sakura panik.

"Bodoh! Aku yang sengaja melakukannya!" teriak Sasuke.

Sakura memperbaiki posisinya. Ia menatap sekeliling. Sakura sadar ia berada di dalam mobil. Pantas saja ada rasa sempit dan lembut, rupanya ia berada di jok belakang mobil Sasuke.

"A-apa yang kau lakukan? Kenapa menculikku?" teriak Sakura.

"Aku sudah menyuruhmu datang untuk jumpa pers hari ini. Apa kau sudah lupa?!"

"Tidak. Aku bahkan tidak ingin mengingatnya." ucap Sakura sambil memasang tampang datarnya.

"Karena kau tidak mendengarku aku terpaksa menculikmu."

Sakura membuang muka. "Aku tidak bisa pergi."

Sasuke berdecak kesal. Kemudian ia menatap jam tangannya. "Sudah hampir satu jam aku di sini. Sudahlah, kau ikut saja!"

"Tidak mau! Aku tidak mau!" teriak Sakura.

"Cepatlah bergegas. Kita tidak punya waktu!" teriak Sasuke.

"Aku tidak mau! Tolong mengertilah sedikit!" teriak Sakura. Air matanya mulai menetes membasahi pipinya. Sakura menangis. "Aku sudah tidak tahan. Aku tidak tahu harus seperti apa di depan Ino, Hinata, Ibu dan Naruto. Aku benar-benar munafik!"

Sasuke membuang muka ke luar jendela. Ia menempelkan ponselnya pada telinganya. "Halo!"

"Batalkan pertemuan hari ini. Kakashi, aku dan Sakura tidak bisa datang. Sisanya kuserahkan padamu." Sasuke menutup telepon. Ia masih membuang mukanya.

"Batal? Kau membatalkannya?" ucap Sakura sambil menarik lengan Sasuke.

Sasuke menepis tangan Sakura. "Jangan menyentuhku. Kau sangat cepat menangis, kau tahu?!"

"Aku hanya tidak begitu mengerti. Kurasa karena ini pertama kalinya aku bekerja, aku tidak bisa mengerti. Apa yang harus kulakukan agar semuanya menjadi baik-baik saja."

"Tentang orang-orang di sekitarmu, mereka pasti malah akan senang kalau tahu kau ternyata ada manajerku."

Sakura bersandar sambil menghela napas. "Tidak mungkin. Mereka pasti akan membenciku."

"Kenapa?"

"Karena Sakura Haruno yang mereka kenal adalah gadis yang alergi dengan aktor seperti Uchiha Sasuke, bukan gadis yang menjadi manajer Uchiha Sasuke."ucap Sakura sambil tersenyum menatap Sasuke.

"Mereka akan mendapat akses yang cepat kalau ingin berurusan denganku. Mereka menyukaiku, kan? Kau pasti bisa membuat mereka bahagia." ucap Sasuke dengan sok kerennya.

Sakura mengangkat wajahnya yang sempat tertunduk. "Benar juga. Ino dan Hinata menyukaimu. Aku pasti bisa membantu mereka untuk menggapaimu."

"Yah. Aku menerima hal itu. Lagi pula itu memang tugasku sebagai seorang aktor." ucap Sasuke dengan sombongnya lagi.

"Huh, kau pembohong besar. Kau mengatakan berita yang tidak-tidak mengenai Tenten-san. Kau benar-benar iblis jahat karena membuangnya ketika kau sedang terkenal. Aku menduga mungkin orang ini juga akan memperlakukanku seperti itu." ledek Sakura.

"Tidak, karena kau berbeda."

.

.

.

Chapter 4: End


Hebat! Ini adalah pencapaian istimewa saya. Apdet fic dua tahun sekali wkwkwk. Memang benar kalau fic ini sudah kandas pas 2012 dan langsung dilanjut pas 2014.

Yah, maaf kalau ini mengecewakan. Sebenarnya ini bukanlah chapter 4 yang sesungguhnya. Jujur saya punya yang aslinya tapi ada di kompi (padahal kompi itu rusak pas mau apdet ch 4 =.=) Jadi saya cuma mau minta maaf. Semoga ch ini dapat berkenan di hati pembaca. Maaf, ya UvU

Eh, di atas ada beberapa OC yang saya tambahkan dan tolong jangan gebukin saya kalau nama OC-nya itu sesuatu banget. Seperti Wakaranai, dame dayo, Naru hodo. Tolong, saya kehabisan stok nama.

Sankyuu buat yang mau baca sampai sini. Sebenarnya fic yang apdet itu pasti akan naik kembali ke archive pertama, tapi saya sangat berterima kasih buat yang sudah mengikuti fic ini akan kembali membaca ch 4 saya ini.

Sekian dari saya,

Salam hangat dari Hitomi Sakurako

.

.

.

(Extra Story)

"Aku pulang!" ucap Sakura sambil meletakkan tasnya. Ia memasuki ruang keluarga dengan perasaan yang sangat bahagia. Bahagia karena Sasuke mulai mengerti perasaannya.

"Selamat datang, Sakura." Mebuki membawa Sakura untuk duduk di ruang keluarga. "Mau mendengar berita terbaru?"

Sakura memiringkan wajah, tapi ia langsung mengangguk semangat. "Ada apa?"

Mebuki mengeluarkan sebuah kertas tepat di depan wajah Sakura. "Anak ibu sudah menjadi manajer Uchiha Sasuke!"

"Heeeeh! I-itu! Itu bukannya punyaku. Bukan! Maksudnya, d-dimana Ibu menemukannya?" teriak Sakura.

"Di laci lemari bukumu. Tidak kusangka kau bisa sampai seperti ini, Sakura. Tidak semua orang di sini bisa menjadi manajer Sasuke lho~"

"Gawat! Hidupku benar-benar hancur mulai sekarang!"