Naruto ( c ) Masashi Kishimoto
"My Love Term: I Getting Stuck at Your Heart"
( c ) Hitomi Sakurako
…
Chapter 5: Aku akan membantumu!
"Sakura, apa kau sudah siap? Cepatlah turun!" teriak Mebuki dari dalam ruang makan.
"Aku akan ke ruang makan sebentar lagi!" teriak Sakura sambil memakai kaos kakinya. Dengan cepat ia berlari menuju ruang makan. Ia tidak ingin membiarkan ibunya menunggunya lebih lama.
Setibanya di ruang makan, "Maaf lama." ucap Sakura. Tiba-tiba air muka Sakura berubah. Ia terkejut melihat hidangan yang ada di atas meja.
"Apa-apaan ini?" teriak Sakura kaget. Bagaimana tidak, di meja sudah dihidangkan makanan yang sangat banyak. Selain itu semuanya makanan kesukaan Sakura. "Ibu, apa yang terjadi?" ucap Sakura sambil menatap tak percaya kepada ibunya.
"Kau sudah menjadi manajer Sasuke. Ibu sangat bangga!" ucap Mebuki sambil tersenyum bahagia.
Sakura syok. Apa-apaan ini? Hanya dengan menjadi manajer Sasuke sudah membuah ibunya bangga. Padahal Sakura sangat tidak menyukai ini. Ia sama sekali tidak ingin menjadi manajer Sasuke.
Sakura pasrah. Ia tidak bisa membantah lagi. Ia sangat menyesal mengenai masalahnya ini.
"Ibu, sepertinya kau tidak perlu sesenang itu. Aku sangat tidak menyukai Sasuke." ucap Sakura sambil menarik kursi perlahan. Ia memasang wajah murung tiba-tiba.
Mebuki menarik kursi dan duduk di samping Sakura. Ia menarik tubuh Sakura sehingga mereka berhadapan. Mebuki memegang erat kedua bahu Sakura. "Sakura, dengar. Ini adalah tugasmu. Kau tidak boleh menyesalinya. Kau harus menjalaninya dengan baik. Percayalah. Kau akan menemukan hal baik selama melakukan pekerjaan ini." ucap Mebuki dengan nada serius.
Sakura semakin murung. Ia melepaskan tangan Mebuki dari bahunya, kemudian berkutat dengan sarapannya. "Aku tahu Ibu senang karena tidak perlu lagi melihat berita di tv mengenai Sasuke. Tinggal tanya padaku pasti semua berita Sasuke bisa Ibu dapatkan. Selain itu Ibu juga bisa akrab dengan Sasuke karena aku." Sakura mengatakannya dengan malas sambil menyeruput minumannya.
"Ah, sepertinya kau bisa membaca pikiran Ibu. Kau pintar sekali, Sakura." Mebuki tertawa bahagia sambil menempelkan kedua telapak tangannya ke pipi. Persis seperti remaja yang blushing karena dirayu kekasihnya.
"Sangat mudah ditebak." Sakura menggumam sambil meninggalkan kursinya. Ia mengambil tas sekolahnya di dekat pintu.
"Sakura, kau sudah selesai?" tanya Mebuki.
"Ya, aku tidak bisa memakan semuanya karena Ibu langsung merusak mood makanku. Akan aku makan pulang sekolah nanti." Sakura tersenyum kikuk, ia kesal karena ibunya terus memaksanya dengan pekerjaan itu, tetapi ia sangat senang dibuatkan begitu banyak makanan meskipun ibunya melakukan ini semua karena Sakura menjadi manajer Sasuke.
"Jadi begitu. Tapi, tenang saja. Aku sudah menyiapkan kotak makanan untuk Sasuke. Kau harus memberikannya nanti." Mebuki menunjuk sebuah kotak makan yang besar itu.
Sakura terkejut. Bagaimana bisa ibunya ini memperlakukan aktor sialan itu seperti anaknya sendiri? Sakura kembali memasang ekspresi kesalnya. Kemudian ia menemuka secarik kertas di atas kotak makanan itu. Setelah Sakura membukanya, rupanya itu surat yang dituliskan Ibunya untuk Sasuke. Parahnya, surat itu beratasnamakan Sakura, seolah-olah Sakura yang membuat bekal itu demi Sasuke.
Sakura mengembalikan surat itu. "Aku tidak akan memberikannya pada makhluk bodoh itu!" ucap Sakura. Ia berjalan menuju ruang depan, tapi tiba-tiba Mebuki menarik lengannya.
"S-Sakura, aku tidak akan memasang surat itu. Jadi tolong bawakan ke Sasuke." Mebuki hanya tersenyum polos.
Sakura menghembuskan nafas pasrah. "Baiklah. Aku akan mengambilnya pulang sekolah. Aku akan ke perusahaan nanti." ucap Sakura sambil memperbaiki sepatunya dan melangkah keluar rumah. "Aku pergi!"
.
.
.
Sakura tiba di sekolahnya. Sebelum memasuki kelas, ia berjaga-jaga. Ia memperhatikan semua orang yang lewat. Persis seperti orang yang sangat mencurigakan. Ia berjaga-jaga siapa tahu di antara mereka ada yang sudah tahu kebenaran bahwa Sakura adalah manajer Sasuke.
Sakura bisa sampai di kelasnya dengan aman. Ia segera duduk di bangkunya dan menaruh tas. Tanpa komando, tiba-tiba Ino berteriak histeris. Sakura kaget dan segera menoleh kepada Ino. Beberapa temannya menghampiri Ino, kecuali Hinata karena dia sudah berada di samping Ino sejak tadi. Sakura juga ingin menghampiri Ino, tapi ia baru saja tiba di kelas. Ia malas bergerak.
"Ada apa, Ino?" tanya Temari.
"Ini! Coba lihat ini!" teriak Ino sambil menunjuk sebuah artikel di majalah.
Sakura mendengus kesal. Sudah ia duga. Setiap pagi sudah menjadi rutinitas sehari-hari Ino dan Hinata untuk membaca majalah itu. Palingan juga berita tentang Sasuke.
Sebentar, berita tentang Sasuke…
Jangan-jangan…
Sakura panik seketika. Ia segera bangkit dan ikut menghampiri Ino.
"Ada apa dengan majalah itu?" tanya Sakura dengan wajah sangat panik.
Ino tertawa kecil sambil menunjuk artikel itu. Ah, benar, itu tentang Sasuke. Dan itu tentang manajer lagi. Sakura kaget. Takut namanya atau pun fotonya muncul di sana. Bola matanya kesana kemari mencari hal yang membuat Ino kaget itu.
Ternyata, artikel itu khusus memberitakan ciri-ciri manajer Sasuke. Sakura masih saja kaget. Ia takut dalam artikel itu ciri fisiknya dituliskan. Sakura merebut majalah itu. Ia tertuju pada artikel yang akan menentukan nasibnya itu.
Sakura kaget ketika membaca semua poin-poin itu. Ia merasa sangat dipermalukan. Beginilah yang tertulis:
"1. Dia tidak pernah becus ketika bekerja"
"2. Dia cengeng"
"3. Dia selalu marah-marah seperti hewan"
"4. Dia selalu bertindak ceroboh"
"5. Dia keras kepala dan tidak mau mendengarkan"
"Aku tidak mengerti apa yang Sasuke pikirkan sampai memilih manajer itu. Padahal sudah jelas dia tidak mampu bekerja." Ino tiba-tiba menggerutu tidak jelas.
Sakura tersenyum canggung. Dalam hati ia sudah sangat marah. Kenapa Sasuke menulisnya seperti itu. Itu benar-benar menjatuhkan nama seorang Sakura Haruno.
"Sakura, ada apa?" tanya Hinata bingung.
Sakura tertawa kecil. Ia mengibaskan tangannya di depan wajahnya, tanda untuk meyakinkan Hinata bahwa semuanya baik-baik saja. "Ah, tidak apa-apa."
"Tapi, ya. Aku masih penasaran dengan manajer itu. Apakah ia cantik? Bagaimana cara dia bekerja?" ucap Ino sambil menatap majalah itu dengan mata berbinar.
Sakura diam saja. Kemudian ia mengingat sesuatu. "Ah, Ino, Hinata. Bolehkah aku bertanya?"
Ino dan Hinata mengangguk mantap.
"Bagaimana menurut kalian mengenai aktor yang memiliki manajer seorang gadis SMA?" tanya Sakura. Benar saja, mungkin pertanyaan ini sangat berhubungan dengan Sasuke.
Lama Ino dan Hinata berpikir. Kemudian Hinata mulai menjawab.
"Aku pikir hal seperti itu sangat aneh. Seorang aktor seharusnya memilih manajer yang tidak memiliki beban lagi. Gadis SMA tentu saja masih memiliki beban dalam mengurus sekolah. Lagipula, hubungan seperti itu dapat memicu skandal." Hinata mengeluarkan hipotesanya yang mungkin masuk akal itu.
Tiba-tiba Ino membuka matanya. Ia berhenti berpikir. "Aku pikir hal itu sangat bagus. Aku tidak bisa membayangkan hubungan mesra antara aktor dan manajernya. Seperti di manga yang kubaca!" seru Ino.
Sakura sweatdrop. Ia sangat menyayangkan sahabatnya yang satu ini sangat tidak bisa menempatkan posisi di mana harus serius dan bercanda.
"Aku rasa aku sangat ingin membunuhmu, Ino." ucap Sakura kesal.
"Ah, maaf, Sakura. Aku berkata yang sebenarnya. Tapi sebenarnya sangat jarang ada aktor yang memilih manajer seorang gadis SMA. Seperti yang Hinata katakan, aktor harus bisa memilih manajer yang sudah tidak memiliki beban."
"Jadi begitu." Sakura mengangguk berkali-kali. Ia berpikir akan menjelaskan hal ini kepada Sasuke agar Sasuke mau melepaskannya dari pekerjaan sialan ini.
.
.
.
Sekarang adalah waktu istirahat. Sakura sedang berjalan menuju kantin sekolah. Ia memilih makan roti saja. Di saat ia sedang berjalan menuju kantin, tiba-tiba ponselnya berbunyi. Sakura melihat nama orang yang menelpon Sakura.
"Gawat! Itu Sasuke!" Sakura bingung antara mau mengabaikan, menolak panggilan, atau menjawabnya. Sakura merasa pusing.
Kemarin Sasuke sudah membantunya meringankan masalah, Sakura merasa tidak enak jika harus mengabaikan apalagi menolak panggilan. Tapi situasi ramai seperti ini bukan tempat yang baik untuk menjawab telpon Sasuke.
Dengan cepat Sakura segera berlari menuju WC sekolah. Ia tampak seperti orang yang dikejar setan. Ia hanya takut kalau Sasuke mengira Sakura mengabaikan panggilannya.
Di bilik WC paling ujung Sakura segera mengangkat panggilan dari Sasuke. Ia mulai kesal kenapa ia harus seberlebihan itu berlari demi Sasuke.
"Halo?" ucap Sakura dengan suara pelan.
"Oh, lama sekali kau mengangkatnya." ucap Sasuke dengan nada lelah menunggu.
Sakura memasang wajah kesalnya. "Apaan? Padahal aku sudah mau mengangkat telponmu. Hampir saja aku mengabaikannya."
Benar-benar aneh. Apa yang Sakura pikirkan tadi sangat jauh dengan apa yang dia katakan. Padahal dia rela berlari sampai merasa selelah itu demi mengangkat telpon Sasuke.
"Aku tidak peduli. Pokoknya kau harus ke perusahaan sekarang. Kau akan menerima jadwalmu." ucap Sasuke seenaknya.
Sakura kesal. "Apa-apaan itu? Kenapa kau memerintahku seenaknya?!" teriak Sakura.
"Oi, kau lupa kalau kau cuma manajerku? Kau harus menuruti perintahku!" teriak Sasuke yang juga tak mau kalah.
"Dasar keras kepala. Aku tidak akan ke sana!" teriak Sakura lagi. Kali ini suaranya benar-benar keras. Ia benar-benar lupa kalau ia sedang berada di mana.
"Terserah. Aku bisa mendatangimu di mana saja!" teriak Sasuke yang kemudian segera memutuskan panggilan.
Sakura syok. Apa maksudnya? Sasuke akan mendatanginya? Tapi Sasuke pasti tidak benar-benar tahu di mana lokasi Sakura sekarang. Lagipula Sasuke tidak tahu sekolah Sakura.
Sakura tersenyum kemenangan. Ia merasa lega kalau Sasuke tidak memiliki bukti tentang ucapannya tadi. Sakura berjalan lega kembali ke kelasnya.
"Apa yang sebenarnya kuinginkan? Aku tidak ingin menjadi manajer Sasuke, tapi sebagian dari hatiku ingin membantunya, selain itu aku juga penasaran." Sakura membatin. Ia mulai berpikir keras. Ia bingung bagaimana perasaannya yang sebenarnya.
.
.
.
"Yah, aku pikir semuanya baik-baik saja." Sakura merapikan buku-bukunya.
Ino dan Hinata sudah menunggu di depan kelas. Dengan cepat Sakura segera mengambil tas dan berjalan bersama Ino dan Hinata.
"Hinata, hari ini kau ada latihan klub?" tanya Ino.
Hinata mengangguk mantap. Ia berdiri di depan ruangan klub musik. Kebetulan, Hinata memasuki klub musik. Yah, memang pas untuk dia yang bisa bermain beberapa alat musik itu.
"Ah, aku juga ada kegiatan." ucap Ino sambil menggaruk belakang kepalanya. "Sebentar lagi ada perlombaan, sih." Ino memasuki klub tenis, padahal dia lebih cocok masuk klub baseball. Tapi itu terserah dia.
"Hari ini kita penuh dengan kegiatan klub." ucap Sakura kaget.
"Oh, kau juga, Sakura?" tanya Hinata.
Sakura mengangguk pelan. "Aku akan ke klub memanah sekarang." Sakura memasuki klub memanah. Bukan karena ia cocok menggeluti klub itu, tapi Sakura tidak tahu harus memasuki klub apa lagi. Sedangkan klub memanah adalah klub yang tidak pernah masuk dalam list Sakura sejak dulu.
"Ya, sudah kalau begitu aku pergi juga." ucap Ino yang mulai melangkah pergi.
Begitu semua temannya akan pergi, Sakura kembali berbicara. "Anu, bi-bisakah kita bertemu setelah kegiatan klub?" tanya Sakura ragu.
"Kenapa, Sakura? Bicaramu terlalu kaku." Hinata menyentuh bahu Sakura yang agak gemetar itu.
"Pernyataan cinta?" ucap Ino sambil menertawai Sakura.
"B-bukan begitu!" ucap Sakura kesal. Ia membuang mukanya ke sembarang arah. Namun Ino dan Hinata masih menertawai Sakura.
"Jangan menertawaiku!" ucap Sakura sambil berlari meninggalkan Ino dan Hinata. Sebelum Sakura benar-benar jauh, Ino memanggil Sakura.
"Sakura, kalau kami sempat, kita bisa bertemu di gerbang. Mengerti?" ucap Ino.
Sakura tertegun. Kemudian ia tersenyum dan mengangguk mantap. Sakura kembali berlari menuju ruang klub memanah.
.
.
.
Sakura mengambil busur panahnya. Sudah sejam ia berada di klub ini. Teman klubnya yang lain juga sedang asyik berkutat dengan kegiatan yang sama.
Sakura merasa ponselnya bergetar. Kemudian ia segera mengambil ponselnya dalam tas. Rupanya itu panggilan dari Sasuke. Sakura segera menjawabnya.
"Ada apa?" ucap Sakura dengan nada pelan.
"Di mana kau sekarang?" tanya Sasuke.
Sakura berpikir pasti Sasuke akan mendatanginya. Dengan begini, Sakura bisa berbohong.
"Aku ada di sebuah toko, aku tidak tahu nama tokonya tapi sangat jauh dari rumahku." ucap Sakura dengan seenaknya.
"Hah? Kenapa kau tidak cepat mengangkat telponku?" tanya Sasuke lagi.
"Tentu saja karena aku tidak mendengarnya. Di sini agak ramai." Sakura segera melihat sekeliling ia menemukan sebuah kertas. Kemudian meremasnya tepat di dekat ponselnya.
"Kau dengar suaraku? Aku tidak mendengarmu. Ah gawat, sinyalnya jelek!" teriak Sakura sambil memutuskan sambungan seenaknya.
Sakura meletakkan ponselnya. Ia bersandar di dinding kayu itu. Ia menghembuskan nafasnya dengan keras.
"Dasar keras kepala."
Tiba-tiba Sakura mendengar suara kaki yang sedang berlari dari luar ruang klub. Bukan, seperti sangat banyak yang berlari. Salah satu teman klub Sakura keluar dari ruang klub untuk mencari tahu ada masalah apa.
Sakura hanya bermasa bodoh. Ia mengambil busur dan panahnya. Kemudian ia menyiapkan kuda-kuda untuk kembali berlatih.
Brak! Sakura tidak jadi menembakkan panahnya karena terkejut dengan teman satu klubnya yang tiba-tiba mendobrak pintu. Sakura tidak memperdulikan hal itu. Ia kembali akan menembakkan panahnya.
"Sasuke Uchiha datang mencari seseorang!" teriak teman klubnya itu. Sakura menembakkan panahnya. Dan itu sama sekali tidak tepat sasaran. Sakura terkejut. Ia menjatuhkan busur dan panahnya.
"Makhluk bodoh itu ada di sini?!" teriak Sakura syok. Dan dijawab dengan anggukan oleh teman seklubnya itu.
Sakura berlari mengambil tasnya. Ia segera berlari menuju ke tempat ramai itu. Wajahnya panik. Ia harus cepat sebelum Sasuke menyebutnya di depan orang lain. Orang-orang di klub memanah? Mereka sudah pergi ke lapangan sekolah.
Sakura tidak sempat mengganti pakaian klub panahan menjadi seragamnya. Meskipun agak sulit, Sakura segera berlari menuju loker sepatu. Dilihatnya lapangan di luar sana yang agak ramai. Untung saja, sekarang sudah agak sore. Hanya sebagian orang yang mengikuti klub.
Sakura melihat Ino dan Hinata yang berlari ke kerumunan itu. Sakura segera memakai sepatunya dan juga berlari ke sana. Sebelum ia benar-benar sampai ke kerumunan itu, Sakura menatap langit yang mendung. Gawat, kalau ia tidak cepat menyelesaikan ini, ia akan semakin lambat pulang ke rumah.
"Bagaimana dia bisa tahu kalau aku masih di sekolah?" gumam Sakura heran. Begitu sudah tidak terlalu ramai, Sakura menerobos masuk ke dalam kerumunan itu.
"Heh? Kau mendengarnya? Sakura siapa?" ucap beberapa orang dalam kerumunan itu.
"Aku tidak tahu. Ada begitu banyak orang bernama Sakura di sini." celetuk seseorang lagi.
Sakura tidak peduli, siapa yang kini benar-benar dicari oleh Sasuke. Tapi Sakura benci dengan sikap Sasuke yang seenaknya datang ke sekolah Sakura.
Sakura tiba tepat di hadapan Sasuke. Sakura menatap Sasuke dengan tatapan tajam. Sedangkan Sasuke hanya tersenyum seolah tidak bersalah. Tiba-tiba, rintik hujan mulai membasahi punggung tangan Sakura.
Dengan cekatan, Sakura menarik tangan Sasuke. Ia membawanya lari ke klub memanah, mumpung tidak ada yang menyadarinya. Sakura segera kembali ke ruang klub memanah untuk mengganti pakaian. Sakura menutup pintu ruang klub.
"Sebenarnya apa yang kau lakukan?!" teriak Sakura sambil mengambil seragamnya dari laci ruang klub.
"Bukankah aku sudah mengatakan akan menemuimu!" ucap Sasuke kesal.
"Hei, berbaliklah!" teriak Sakura. "Aku mau ganti pakaian!" Sakura membuka pakaian klubnya yang berbentuk kimono itu.
Sasuke segera berbalik meskipun tadi wajahnya agak memerah karena baru menyadari bahwa Sakura ingin mengganti pakaian.
Beberapa menit kemudian, Sasuke membuka pembicaraan. "Kenapa kau membohongiku?" tanya Sasuke.
Sakura terkejut. "Yah, karena aku banyak tugas, aku tidak bisa terlalu sering terlibat hal seperti itu. Eh, bagaimana kau tahu keberadaanku sekarang?!" Sakura berbalik menghadap Sasuke, ia sudah selesai mengganti pakaiannya.
"Bodoh! Kau pikir aku tidak bisa memata-mataimu. Aku mengetahuinya dari mencari keberadaan ponselmu." ucap Sasuke sambil tersenyum kemenangan.
Sakura berdecak kesal. Kemudian ia menarik tangan Sasuke untuk keluar dari ruangan klub. Benar, tindakannya seperti orang mencurigakan. Sakura dan Sasuke bersembunyi di balik dinding bawah tangga.
"Dengar! Pokoknya kau tidak boleh melakukan hal itu lagi! Apa jadinya kalau media melihatmu di sekolahku? Kau harus hati-hati!" ucap Sakura dengan nada kesal. Matanya masih terus mengawasi orang-orang.
Sasuke terdiam sejenak. "Ada apa? Kau mengkhawatirkanku?" ucap Sasuke sambil tersenyum mengejek.
Sakura menatap wajah Sasuke yang mengesalkan itu. Ia menyadari ucapannya, wajahnya memerah. Sakura langsung membuang muka. "A-aku sama sekali tidak mengkhawatirkanmu!"
"Heh, wajahmu memerah, tuh!" ucap Sasuke sambil menusuk-nusuk pipi Sakura menggunakan jarinya.
"Apa yang kau lakukan? Aku tidak malu!" teriak Sakura sambil menghindarkan pipinya dari tangan menjijikkan Sasuke.
Sakura mencoba melihat keluar. Parahnya, di luar sudah hujan."Gawat, sudah mulai hujan. Kau terlalu mengganggu!" ucap Sakura kesal. Begitu akan keluar dari tempat persembunyiannya, Sakura langsung berada di hadapan Ino dan Hinata.
"Heh!" Sakura terkejut. Ia mundur beberapa langkah.
Sasuke yang bingung dengan Sakura juga keluar dari persembunyiannya. "Woi, kau kenapa?"
"A-apa maksudnya ini, Sakura?" tanya Ino sambil menatap Sasuke dengan wajah terkejut serta heran.
Sakura menggelengkan kepalanya, sesekali ia menatap Sasuke dan sesekali ia menatap kedua sahabatnya.
"Sakura…" ucap Hinata yang juga terkejut.
"A-aku bisa menjelaskannya! Begini, Ino–" Sakura mencoba menjelaskannya kepada Ino dan Hinata.
"Hinata, ayo!" ucap Ino yang tidak mau mendengar penjelasan Sakura. Hinata tidak ingin pergi, namun Ino menarik Hinata.
Sakura berlari keluar sekolah mengejar Ino dan Hinata. "Tunggu! Ino, Hinata! Jangan pergi!" teriak Sakura, namun kedua orang itu tidak memperdulikan Sakura.
Sasuke hanya memasang wajah heran. Ia masih berada di dalam sekolah, kemudian ia keluar dan menarik Sakura.
"Hei, ayo kita pergi!" ucap Sasuke sinis.
Sakura tetap diam di tempat. Ia menundukkan kepalanya. Sedangkan Sasuke masih mencoba menarik tangannya. Dengan cepat Sakura melayangkan tangannya dan menampar pipi kanan Sasuke.
"Bagaimana aku bisa pergi begitu saja sedangkan kau baru saja merusak persahabatanku?!" teriak Sakura. Air matanya mengalir dengan deras, bersamaan dengan air hujan yang mengalir deras dari wajahnya.
Sasuke terkejut dengan tamparan itu. Ia juga terkejut dengan Sakura yang menangis seperti itu. Wajahnya berubah menjadi kesal. "Itu kesalahanmu karena tidak pernah memberitahukan kepada mereka kalau kau manajerku!"
"Apakah kau tidak mengerti? Aku benar-benar tidak bisa mengatakan apapun kepada mereka!" teriak Sakura kesal.
Sasuke membuang muka. "Sial. Terserah kau!" teriak Sasuke sambil melangkah meninggalkan Sakura. Ia berlari memasuki mobilnya.
Sakura hanya diam melihat Sasuke yang meninggalkannya. Ia berdiri di bawah pohon. Sakura masih menangis dan terus menangis. Ia benar-benar kepada Sasuke yang tidak bertanggung jawab atas perbuatannya.
Tidak, sebenarnya ini juga adalah kesalahan Sakura karena tidak mau menjelaskannya dengan baik kepada Ino dan Hinata, tapi sepertinya semuanya sudah terlambat.
.
.
.
Sakura duduk di bawah pohon, hujan sudah berhenti. Matahari sore mulai menampakkan diri. Sakura merasa tidak bisa berlama-lama berada di sana. Ia harus segera pulang sebelum malam.
Sakura mengambil tas sekolahnya yang berada di tempat persembunyiannya bersama Sasuke tadi, kemudian ia melangkah menuju stasiun.
"Heh? Kenapa aku tidak mengejar Ino dan Hinata?" ucap Sakura dalam hati. Ia ingin mengejar, tapi entah mengapa. Satu perasaan dalam hatinya sangat ketakutan. Ia takut akan mengucapkan hal yang menyakiti Ino dan Hinata.
Ketika Sakura berbelok dari gedung sekolah, tiba-tiba di hadapannya muncul Ino dan Hinata. Sakura terkejut. Apa yang mereka lakukan?
"I-Ino. Hinata!" ucap Sakura dengan nada kecil dan kaku.
"Maaf, Sakura!" ucap Hinata sambil menundukkan wajah.
"Eh?" Sakura semakin bingung dengan mereka. "Kenapa?"
"Awalnya aku tidak tahu kenapa Sasuke bisa bersamamu, tapi kau tahu, aku dan Ino langsung merasa kesal karena mendengar selama ini kau membenci Sasuke tapi ternyata kau bersamanya." ucap Hinata.
"Aku benar-benar terkejut, Sakura. Tapi, aku baru menyadari kalau kau adalah manajer baru Sasuke. Aku bisa mengerti kenapa kau merahasiakan hal ini dari kami." ucap Ino sambil menepuk pundak Sakura.
Sakura tertunduk lemas, ia menangis lagi. "Maafkan aku karena terlalu lama merahasiakan hal ini dari kalian. Sejujurnya aku tidak pernah ingin menjadi manajer Sasuke, tapi dia terus memaksaku. Aku selalu ingin memberitahukannya pada kalian setiap kali kalian membaca majalah mengenai Sasuke, tapi dalam sudut hatiku, aku takut ketika mengatakannya akan kehilangan kalian…" ucap Sakura sambil mengusap air matanya.
"Sakura, kami yang harus meminta maaf. Jujur saja, kami kurang mengerti dirimu, kami terlalu bertindak seenaknya." Hinata tersenyum sambil mengusap kepala Sakura.
"Huh, jangan menangis. Bagaimana kalau kita berjalan bersama menuju stasiun?" tanya Ino. Sakura dan Hinata mengangguk mantap.
Setibanya di stasiun, Ino dan Hinata segera pamit menuju kereta mereka masing-masing. Sebelum mereka benar-benar pergi. Ino berbalik menghadap Sakura.
"Aku rasa aku benar-benar tidak menyesal menyukai aktor seperti Sasuke." ucap Ino sambil tersenyum bahagia.
"Eh, kenapa kau tiba-tiba mengatakan itu?" tanya Sakura.
"Kalau bukan karena dia mendatangi kami, kami mungkin tidak akan mengerti dan tidak akan menemuimu, Sakura!" kata Hinata sambil tertawa kecil.
"Kau lihat wajahnya yang serius itu, Hinata? Uwah! Dia seperti sedang melamarku saja! Keren! Pipinya agak memerah. Aku pikir dia malu menemui kita. Ini adalah pertama kalinya seorang aktor seperti Sasuke mengejarku!" seru Ino bahagia. Ia tertawa bersama Hinata. Sedangkan Sakura hanya terdiam mendengar ucapan Ino. Kemudian Ino dan Hinata melanjutkan perjalanan mereka.
Sakura masih terdiam. Sasuke rela menemui Ino dan Hinata setelah itu. Jadi, ketika Sasuke meninggalkan Sakura, ternyata ia mengejar Ino dan Hinata. Kata Ino, pipi Sasuke memerah. Apakah itu bekas tamparan Sakura.
"Bohong…" Sakura bergumam pelan. Kemudian ia berlari keluar dari stasiun. Sakura mengambil tasnya, ia menatap ponselnya. Ia sangat ingin menelpon Sasuke sekarang.
Ketika Sakura berhenti di dekat taman, Sasuke menyapanya dari belakang. "Hoi, kau mencariku?"
Sakura berbalik menghadap Sasuke. Dilihatnya Sasuke yang sedang bersandar di mobilnya. Sakura dapat melihat pipi Sasuke yang masih memerah. Melihat itu, membuat Sakura semakin merasa bersalah.
"Kenapa kau melakukan itu?" tanya Sakura sambil menghampiri Sasuke.
"Kenapa? Karena kau menamparku, itu sangat sakit, bodoh!" ucap Sasuke sambil membuang muka.
Sakura menatap pipi Sasuke yang telah ditamparnya. "Maaf…"
"Jangan cuma mengatakan maaf, cepatlah bekerja karena semua bebanmu sudah kuhilangkan, bodoh!" teriak Sasuke tepat di depan wajah Sakura.
"Hei, kau tidak perlu marah-marah seperti itu. Aku juga tidak berharap kau membantuku!" teriak Sakura yang juga kesal. "Lagipula kenapa kau masih keras kepala memintaku menjadi manajermu, padahal apa kau tidak berpikir seorang aktor dan gadis SMA itu hubungan pekerjaan yang sangat aneh. Jelas-jelas itu akan membuat kehidupanmu hancur."
"Maksudmu?" tanya Sasuke.
"Apa yang akan terjadi kalau media mengira kau dan aku punya hubungan khusus, pasti mereka heran kenapa kau memilih manajer seorang gadis SMA, bukan orang dewasa yang benar-benar hebat!" teriak Sakura.
"Ah, menurutku itu hal yang mudah. Karena kau punya masalah denganku, kemudian tidak mungkin media mengira kita memiliki hubungan khusus, tidak mungkin aku menyukaimu."
"Dasar! Bukan hubungan khusus dengan alasan itu! Kau terlalu melakukan seenaknya!" ucap Sakura sambil menggerutu kesal.
"Apa? Aku melakukannya agar kau mau bekerja, dasar makhluk bodoh!" teriak Sasuke kesal. "Lagipula, aku kagum dengan kau yang sangat menghargai pertemananmu itu." Sasuke tiba-tiba mengecilkan suaranya.
"Tentu saja, aku sangat memperdulikan mereka. Tapi, karena kau berhasil melakukannya, terima kasih, Sasuke…" ucap Sakura dengan lembut. Mendengar itu membuat wajah Sasuke agak memerah.
"Tch, jangan berbicara selembut itu, aku jijik mendengarnya!" Sasuke membuang muka agar wajahnya tidak kelihatan.
"Apa maumu, dasar bodoh!" teriak Sakura yang akan menampar Sasuke sekali lagi. Namun, tangan Sasuke segera menahan tangan Sakura.
"Aku menerima bekal di perusahaan. Petugas mengatakan kalau itu darimu. Dan suratnya…" Sasuke agak malu mengatakan hal itu, kemudian ia mengeluarkan secarik kertas dari dalam sakunya dan memperlihatkan kepada Sakura.
Sakura terkejut. Ibunya benar-benar menyelipkan surat itu di dalam kotak bekal. "D-darimana kau mendapatkannya?"
"Ah, aku menerimanya dari petugas. Katanya kau membawakan ini untukku. Kapan kau membawanya?" ucap Sasuke heran.
Wajah Sakura benar-benar memerah karena marah dan malu. "Aku sama sekali tidak berniat memberikannya kepadamu!" teriak Sakura sambil meninggalkan Sasuke.
"Eh, kau benar-benar peduli. Terima kasih, Sakura!" teriak Sasuke ketika Sakura sudah menjauh.
"Jangan berterima kasih begitu!" ucap Sakura malu yang kemudian segera berlari memasuki stasiun.
-To Be Continued-
Lama gak apdet. Gak apa-apalah soalnya penunggunya (?) sedikit. Terima kasih karena telah membaca dan memberi masukan.
-Hitomi Sakurako-
