Naruto ( c ) Masashi Kishimoto

"My Love Term: I Getting Stuck at Your Heart"

( c ) Hitomi Sakurako

Chapter 6: Aku ingin mengerti dirimu!


Sakura memasuki ruang kelasnya. Dilihatnya Ino dan Hinata sudah duduk bersama seperti biasa. Yah, mereka membaca majalah favorit mereka. Majalah yang isinya hanya seputar Sasuke.

Sakura mendengus pelan, kemudian ia mulai membuka pembicaraan. "Jadi kalian masih menyukai aktor itu?"

"Sakura, bagaimana? Kau sudah bicara dengan Sasuke?" Bukannya menjawab, Ino malah melemparkan pertanyaan kepada Sakura begitu ia tiba di kelas.

Sakura memasang wajah heran, kaget dan membuang muka secara perlahan. "Ah, ya. Aku sudah bicara dengannya."

Srak! Ino menyodorkan majalah mengenai Sasuke itu hingga mengenai wajah Sakura.

"Apa yang kau lakukan, Ino bodoh?!" teriak Sakura kesal. Ia mengelus hidungnya yang menabrak majalah itu.

"Sakura, hari ini kau akan melakukan konferensi pers mengenai manajer baru Sasuke?" tanya Hinata.

Sakura bengong. "Konferensi pers? Apa itu?" tanya Sakura heran.

Hinata menunjukkan sebuah artikel kepada Sakura. "Ini, majalah ini baru ada tadi pagi di toko perusahaan Sasuke."

"Konferensi pers adalah saat di mana kau akan mengumumkan sesuatu yang penting secara terbuka. Saat ini, kau akan melakukannya untuk mengumumkan mengenai manajer baru Sasuke. Sakura, kau akan segera terkenal!" seru Ino bahagia.

Sakura terkejut. Ia mundur beberapa langkah. "Apa? Terbuka? Tunggu dulu, artinya aku harus berhadapan dengan banyak orang?" tanya Sakura yang masih bingung.

Ino dan Hinata mengangguk mantap. "Kali ini benar-benar acara besar. Ada begitu banyak stasiun televisi yang akan menyiarkanmu."

Sakura mulai memasuki mode freezing. Ia benar-benar kaget dan tidak tahu harus seperti apa jika benar akan ada konferensi pers.

"Aktor bodoh itu, dia melakukan seenaknya!" gumam Sakura kesal sambil mengambil ponsel dari dalam sakunya. Ia ingin segera memarahi Sasuke.

"Ah, ya tunggu sebentar. Sepertinya bukan konferensi pers untuk Sakura." ucap Ino yang knembali fokus ke majalah itu.

"Benar juga, seterkenalnya aktor seperti Sasuke, sepertinya ia tidak akan sampai mengadakan konferensi pers hanya untuk seorang manajer baru. Lagipula ini berarti pertama kalinya kalau seandainya benar ada konferensi pers untuk manajer baru." jelas Hinata.

Sakura mengangguk-anggukkan kepala meskipun ia tidak begitu mengerti masalah seperti itu. Tapi ia lega, Sasuke tidak akan mengerjainya lagi.

"Jadi, sebenarnya itu konferensi pers untuk apa?" tanya Sakura yang masih penasaran.

"Uum, sepertinya review mengenai film Sasuke yang kemarin itu." Ino menunjukkan sebuah paragraf yang menjelaskan hal itu.

Sakura mendadak memasang wajah suram. "Ah, padahal mereka sudah mengadakan review beberapa kali. Apa mereka tidak bosan?" ucap Sakura.

"Sasuke ini aktor terkenal, lho! Terkenal! Kau tidak boleh melewatkan hal ini. Semakin banyak review semakin banyak pula Sasuke akan tampil di televisi!" seru Hinata.

Sakura kembali mengangguk. "Eh, tapi bagaimana denganku selama review itu berlangsung?"

"Tentu saja kamu harus berada di sana juga. Kau harus duduk di samping Sasuke karena kau manajernya!" ucap Hinata.

"Ah, aku iri. Seandainya aku saja yang menjadi manajer Sasuke~" Ino mengelus majalah yang menampakkan wajah Sasuke itu ke pipinya.

Benar-benar menjijikkan, itu hal paling bodoh yang tidak pernah dibayangkan Sakura. Bagaimana bisa Ino terlalu menyukai aktor bodoh itu.

"Ah, seandainya aku tidak pernah terlibat dengan orang itu." Sakura memasang wajah suram. Kemudian ia membuka tasnya untuk mengambil buku pelajaran.

"Sakura, apa kau tidak pernah memikirkan hal itu?" tanya Hinata sambil mengambil kursi untuk duduk di samping Sakura.

"Memikirkan apa?" Sakura membuka-buka buku pelajarannya. Setidaknya ia ingin mencoba menghindari percakapan mengenai Sasuke.

"Kenapa kau bisa terlibat dengan Sasuke? Bukankah itu sebuah takdir?!" ucap Ino yang juga ikut mengambil kursi di samping Sakura.

Sakura menghela napas kesal. "Dia lagi. Ini gara-gara kalian yang pernah menyumpahiku terlibat dalam kehidupan Sasuke. Aku sama sekali tidak mau menganggap ini takdir yang bagus."

"Ah, kau sendiri yang salah pada saat itu Sakura!" ucap Ino dengan nada mengejek.

"Ino, kau tidak boleh memasang ekspresi seperti itu kepada Sakura!" tegur Hinata. Kemudian Hinata menepuk kepala Sakura berkali-kali.

"Aku akan mentraktirmu roti yang kau suka di kantin, Sakura." ucap Hinata sambil tersenyum senang.

"Ada apa tiba-tiba?" tanya Sakura yang sangat senang karena akan ditraktir.

"Karena kau sudah resmi menjadi manajer Sasuke!" ucap Hinata dengan nada serius.

"Hinata! Aku juga mau ditraktir~" ucap Ino dengan nada manja.

Sedangkan Sakura, ia hanya menatap ke depan dengan tatapan kosong. Baru saja ia merasa bahagia, tapi hal itu benar-benar membuatnya sakit hati karena kebahagiaan teman-temannya hanya karena ia memiliki hubungan dengan Sasuke.

'Ah, benar-benar sulit.' batin Sakura dengan nada mengenaskan. Di samping itu, ia tengah membayangkan wajah menyebalkan Sasuke untuk memperdalam rasa bencinya.

.

.

.

"Sakura, ayo pergi ke kantin!" ajak Hinata.

"Ino di mana?" tanya Sakura sambil celingak-celinguk mencari Ino.

"Ino sudah duluan. Ia sangat tidak sabar." ucap Hinata sambil tersenyum kaku.

Sakura menepuk jidatnya. "Anak itu, dia tidak pernah sabaran!" ucap Sakura kesal.

Ketika Sakura akan beranjak dari duduknya, tiga orang gadis teman kelasnya segera menghampirinya. "Sakura, ketua klubmu ada di depan. Ia mau menemuimu."

Sakura mengangguk mengerti, kemudian ia menarik menuju ke luar kelas. Dilihatnya, seorang lelaki yang merupakan kakak kelasnya sekaligus ketua klub memanah.

"Ah, Hinata. Kau bisa pergi duluan. Aku akan menyusul." ucap Sakura yang dibalas anggukan oleh Hinata.

"Sakura, kau ingat soal kemarin, kan?" tanya orang itu.

Sakura mengangguk. Ia mengeluarkan ponselnya dari dalam saku. "Aku ingat! Kau belum memindahkan datamu yang ada di ponselku, kan?" ucap Sakura sambil memberikan ponselnya kepada orang itu.

Sakura mulai memasang wajah masam ketika ia menunggu beberapa menit untuk ponselnya. Orang itu menyadari ada yang aneh.

"Sakura, kau ingin pergi ke suatu tempat?" tanya orang itu.

Sakura menggaruk pelan kepalanya. "Ya, sebenarnya aku berjanji pada temanku."

Orang itu menyerahkan ponsel Sakura kembali. "Sudah selesai?" tanya Sakura.

"Belum, tapi kau bisa pergi ke temanmu dulu." ucapnya sambil tersenyum ramah. Sakura merasa tidak enak, padahal ketua klubnya itu sudah mengorbankan waktunya untuk menemui Sakura.

Sakura menggeleng pelan. Ia kembali menyerahkan ponselnya ke ketua klubnya. "Tidak apa-apa, kau bisa memakainya dulu."

"Tidak apa-apa. Jangan merasa seperti itu, ponsel adalah salah satu benda privasi, nanti aku akan menemuimu." Orang itu mencoba untuk pergi.

Sakura menarik tangan ketua klubnya. "T-tidak apa-apa. Aku tidak ingin merepotkanmu, lagipula aku tidak memiliki hal privasi di dalamnya." Sakura mencoba mempercepat masalah ini agar dapat bertemu dengan Ino dan Hinata.

"Baiklah kalau begitu."

Sakura menunjuk bangkunya. "Kau bisa duduk di sana. Aku rasa lebih baik di sana. Kalau sudah selesai, taruh saja ponselku di laci meja."

"Ah, terima kasih, Sakura." ucap orang itu sambil memasuki kelas dan duduk di bangku Sakura.

Sakura mengangguk kemudian berlari menuju kantin. Dalam hati ia takut Ino dan Hinata akan marah dan membatalkan soal traktiran itu.

Beberapa menit kemudian, ketua klub yang meminjam ponsel Sakura telah menyelesaikan pekerjaannya.

"Hah, sepertinya aku harus kembali. Aku akan menaruh ponsel Sakura di sini." Orang itu akan meletakkan ponsel Sakura di laci, tapi tiba-tiba ponsel Sakura bergetar. Tanda seseorang menelpon.

Orang itu mulai bingung, antara menjawab panggilan itu atau haru mengabaikannya. Apabila ia menjawab panggilan, berarti ia mengganggu privasi Sakura. Tapi apabila mengabaikan, panggilan itu tidak akan berhenti.

Yang jadi masalah, orang yang menelpon di ponsel Sakura tertulis "Orang bodoh!" dan membuat ketua klub memanah itu semakin penasaran.

Dengan agak takut, ia mencoba menjawab panggilan itu. "Halo?"

Dengan lancangnya, Sasuke berteriak melalui telpon. "Woi! Kenapa kau baru menjawabnya?! Apa kau tidak pernah diberitahukan orangtuamu untuk segera menjawab telepon kepada orang yang sudah kau kenal, dasar bodoh! Apa jadinya kalau itu adalah panggilan penting! Kau harusnya sudah mengerti hal itu dasar makhluk bo-"

Ketua klub memanah itu segera menutup panggilan. Ia benar-benar terkejut dengan teriakan tiba-tiba itu. "Apa-apaan itu?"

Kemudian ponsel itu kembali bergetar. Dia mencoba untuk bicara baik-baik karena sudah memutuskan panggilan secara sepihak.

"Apa?! Sekarang kau berani memutuskan panggilan? Seharusnya kau belajar lebih banyak lagi, booodoh!" teriak Sasuke lagi.

"Maaf…" ucap ketua klub memanah itu dengan nada lembut.

Sasuke diam sejenak. Masih diam, diam dan diam. Namun seketika, Sasuke kembali berteriak. "Heh? Heh? K-kau siapa? Kau… suaramu ini seperti suara lelaki." ucap Sasuke yang mulai kaku.

"Maaf, aku adalah ketua klub memanah Sakura. Kau mencarinya, kan? Maaf, aku sedang meminjam ponselnya karena ada yang harus kukerjakan. Aku mencoba untuk tidak menjawab panggilan ini karena menurutku itu hal privasi, tapi panggilanmu tidak pernah berhenti. Jadi maafkan aku." Ketua klub memanah menjelaskan dengan sangat ramah kepada Sasuke. Hal itu hanya membuat Sasuke di seberang sana hanya semakin merasa kesal.

"Di mana Sakura?" tanya Sasuke.

"Dia sedang pergi bersama temannya. Maafkan atas kelancanganku." ucap orang itu.

Sasuke kemudian menjelaskan dengan baik dan segera mengakhiri panggilan. Begitu ketua klub memanah itu meletakkan ponsel Sakura, pada saat itu pula Sakura kembali ke kelasnya bersama Ino dan Hinata.

"Ah, Sakura. Terima kasih karena sudah meminjamnya. Anu…" ketua klub memanah itu mendekati Sakura untuk berbicara berdua dengannya. Ia menjelaskan mengenai Sasuke yang menelpon. Sakura sangat terkejut.

"Anu... kau tidak tahu siapa yang menelpon, kan?" tanya Sakura.

Ia menggeleng pelan. "Aku tidak tahu. Dia tidak memperkenalkan dirinya. Ah, tapi bukan berarti aku penasaran dengan orang itu. Aku minta maaf sudah membuka hal privasimu."

Sakura menyibakkan tangannya. "Tidak apa-apa. Sama sekali tidak masalah." Sakura kembali memasang wajah ramah. Kemudian ketua klub memanah itu pergi dan kembali ke kelasnya.

"Ada apa, Sakura?" tanya Ino.

"Apa ada masalah?" tanya Hinata juga.

Sakura hanya menggeleng. Kalau ia menjelaskan hal itu, Ino dan Hinata pasti akan memaksa Sakura untuk memberikan nomor telpon Sasuke. Bukannya Sakura tidak mau, hanya saja Sakura takut menyerahkan nomor Sasuke sebelum meminta izin.

"Tidak apa-apa. Semuanya baik-baik saja!" ucap Sakura semangat.

"Benarkah?" tanya Hinata mencoba meyakinkan. Dan Sakura hanya membalasnya dengan anggukan yang semangat.

.

.

.

"Ino, Hinata. Aku harus segera ke perusahaan." ucap Sakura sambil membereskan bukunya.

"Heh, manajer aktor memang keren sekali. Aku bangga denganmu!" seru Ino sambil menepuk pundak Sakura. Sedangkan Sakura hanya mendecih karena menganggap itu adalah sebuah ejekan.

"Sakura, apa kau bisa melewati itu semua? Kau mau kami datang mendukung?" tanya Hinata yang sangat mengkhawatirkan Sakura.

Sakura yang sedari tadi diam langsung panik. "Eh? Mendukung? A-aku rasa tidak perlu!" tolak Sakura. Sakura menolak itu karena ia akan benar-benar malu apabila ada Ino dan Hinata juga.

"Ah, aku duluan, ya! Aku akan mengabari kalian kalau sempat!" teriak Sakura yang berlari keluar kelas.

Di loker sepatu, Sakura hanya terdiam dan memikirkan mengenai apa yang harus ia lakukan. Ia tidak tahu harus bertingkah seperti apa di konferensi pers nanti. Kemudian Sakura menggelengkan kepala dan menghela napas. Ia berjalan dengan berani menuju perusahaan.

"Aku tidak bisa terus melarikan diri. Sampai kapan aku melakukannya? Kalau aku seperti ini terus, semuanya tidak akan berakhir!" ucap Sakura dari dalam hati.

Sakura telah tiba di perusahaan, begitu ia akan masuk melalui pintu depan, tempat itu sudah dipenuhi banyak wartawan. Sakura segera berlari menuju pintu belakang. Ia tidak punya cara lain selain memasuki melalui pintu itu.

Bruk! Karena terburu-buru, Sakura menabrak Sasuke yang kebetulan berada di ruang belakang.

"Kau… datang?" ucap Sasuke yang menatap Sakura tidak percaya.

Sakura mengaduh kesakitan, kemudian ia memperbaiki posisi berdirinya. Ia merapikan bajunya. "Tentu saja. Kau menyuruhku, kan?"

Sasuke masih tidak percaya. "Padahal aku tidak memaksamu, tapi kau datang dengan sendirinya. Aneh!"

Sakura mendengus pelan. "Jadi kau lebih memikirkan soal rasa tidak percayamu itu daripada konferensi pers? Sekarang sudah dimulai!" ucap Sakura kesal.

"Tidak apa-apa? Aku akan membawamu menemui para media." ucap Sasuke sambil menggaruk belakang kepalanya.

Sakura terdiam sejenak. Ia masih bingung dan berpikir keras. Kemudian ia tersenyum dan mengangguk mantap. Sasuke tersenyum, ia segera menarik tangan Sakura menuju ruang pertemuan.

"Tangannya. Ia tersenyum sebelum menarikku…" Sakura sedari tadi menatap tangannya yang ditarik oleh Sasuke.

Mereka sudah tiba di belakang panggung. "Sakura, kau tidak boleh gugup."

Sakura menggeleng dengan semangat. "Aku akan berusaha!" Ia memasukkan telapak tangannya yang dingin itu ke dalam saku. Tiba-tiba tangannya menyentuh sesuatu di sakunya.

Sakura mengeluarkan benda itu, rupanya sebuah ikat rambut polkadot berwarna hitam putih yang pernah diberikan oleh ibunya.

Sasuke sedang asyik memperhatikan suasanya di ruangan itu. Ia memperhatikan dari belakang panggung, seberapa banyak media yang akan meliputnya.

"Sakura, sepertinya ada bany-" Sasuke hendak memberitahukan sesuatu kepada Sakura, begitu ia menoleh kearah Sakura, ia langsung terdiam. Sasuke terdiam melihat penampilan Sakura yang berbeda.

Sakura mengikat rambutnya yang tergerai itu menjadi ponytail dengan menggunakan ikat rambut dari ibunya. Ia yakin, pasti ia dapat menjalani ini. Sakura merasa, ibunya telah memberi keberanian dan rasa percaya diri melalui ikat rambut itu.

"Sakura, kau…" Sasuke agak heran dengan penampilan Sakura.

Sakura mengangguk. "Aku akan berusaha. Ayo!" ucap Sakura semangat.

Kemudian mereka berdua melangkah keluar dari belakang panggung. Di panggung sudah ada meja panjang dan beberapa kursi. Terlihat Kakashi-san dan banyak staff lain yang sudah mengambil posisi. Sasuke mengambil kursi terlebih dahulu dan Sakura duduk di sampingnya.

Semua wartawan di sana mulai berbisik ketika Sakura berjalan menuju panggung. Dan benar saja, Sakura sama sekali tidak merasa takut.

"Terima kasih atas kedatangan kalian. Kali ini aku akan menjelaskan mengenai review film aktor Sasuke Uchiha yang baru ditayangkan ini…" Kakashi memulai konferensi pers. Sakura terkejut ketika melihat ada seorang lelaki yang bertugas untuk mewawancarai dan Kakashi selalu dapat menjawabnya dengan baik.

Beberapa menit kemudian, masalah mulai muncul.

"Baiklah, sepertinya aku sudah cukup bertanya kepada Kakashi-san. Sekarang aku beralih kepada seorang gadis yang duduk di samping Sasuke."

Sakura terkejut. Ia panik seketika. "B-bagaimana ini?" bisik Sakura dengan sangat kecil kepada Sasuke.

Sasuke juga terkejut. Ia tidak tahu harus seperti apa, ini di luar dugaan. Ia mengira mereka hanya akan bertanya mengenai film itu.

"Aku dengar-dengar, Sasuke sudah menemukan manajer barunya. Apakah yang dimaksud adalah kau? Sebelumnya kau tidak pernah diberitakan. Siapa namamu?" tanya orang itu.

Sakura meneguk air liurnya. Ia mengangguk pelan. Dengan keberaniannya, ia menjawab pertanyaan orang itu. Sakura berdiri dari duduknya. "Namaku Sakura Haruno. Aku adalah manajer baru Sasuke. Aku minta maaf sebelumnya karena pada kesempatan inilah akhirnya aku bisa memperkenalkan diri! Mohon bantuannya." Sakura kemudian membungkuk sebentar, kemudian ia kembali duduk.

Sasuke hanya menatap Sakura tidak percaya. Ia kaget Sakura bisa mengatasi hal itu dengan baik.

"Selanjutnya, apa yang menyebabkan kau menjadi manajer Sasuke?"

Kini Sakura makin panik. Ia menatap Sasuke dengan takut. Wajahnya seolah mengatakan 'bagaimana ini?'. Ia tidak tahu harus mengatakan apa. Haruskah ia jujur bahwa ia menjadi manajer Sasuke karena menebus kesalahan? Tidak mungkin, itu alasan konyol.

Sasuke sepertinya terlihat kebingungan. Ia kehabisan ide. Sasuke menundukkan kepala, kemudian ia menggenggam tangan Sakura dengan sangat erat.

Sakura terkejut karena perlakuan tiba-tiba itu. Kemudian ia menatap Sasuke. Sedangkan Sasuke hanya mengangguk sambil tersenyum. "Kau bisa melakukannya." bisik Sasuke pelan.

Sakura mengangguk. "Ibuku adalah salah satu kenalan dari Ibu Sasuke. Aku hanyalah pelajar SMA. Kalian pasti bingung. Apa yang membuatku menjadi manajer Sasuke? Kebetulan aku akan mengambil jurusan manajemen keartisan ketika di universitas nanti. Ibuku ingin aku sudah mendalami hal itu sebelum memasuki universitas. Jadi ibuku menyarankan untuk menjadi manajer Sasuke agar lebih mudah." Sakura mengatakannya dengan jelas tanpa keraguan sedikit pun. Sasuke kembali dibuat terkejut karena kelakukan Sakura yang sangat mengagumkan itu.

"Maksudmu kau hanya berlatih menjadi manajer? Itu artinya kau tidak serius?"

Sakura mulai kesal karena pertanyaan ini belum selesai. "Aku serius. Apa maksudmu yang mengatakan kalau aku berlatih, aku tidak serius? Aku harus berlatih dengan serius sekarang. Karena sekarang lah yang akan menentukan semuanya nanti. Apakah aku disiplin atau hanya bermain-main."

Wartawan itu dapat melihat mata Sakura yang tajam seolah mengatakan 'Jangan bertanya lagi!'

"Baiklah, terima kasih karena telah menjawab beberapa pertanyaanku. Inilah, manajer baru Sasuke yang baru. Sakura Haruno!" ucap wartawan itu dengan semangat. Seketika blitz-blitz kamera yang menyilaukan itu menyelimuti Sakura.

.

.

.

"Hah, syukurlah semuanya telah berakhir!" ucap beberapa staff di ruangan kerja.

Sakura hanya duduk terdiam di salah satu sofa. Ia hanya memainkan ponselnya dari tadi. Sakura melepaskan ikat rambutnya. Ia tersenyum tipis. Ia merasa berterima kasih pada keberanian karena menggunakan ikat rambut itu.

Sakura melihat jam. Hari sudah sore. Sakura segera mengambil tasnya dan berjalan keluar, namun sebelum ia keluar, seseorang menahan tangannya.

"Tunggu! Kau mau kemana?" tanya Sasuke.

"Pulang. Aku mau pulang!" ucap Sakura yang kembali menjadi dingin kepada Sasuke.

"Kita tidak akan segera pulang apabila selesai melakukan hal ini." ucap seorang staff yang tiba-tiba muncul.

"Benar. Biasanya kita akan ke suatu tempat untuk merayakannya!" seru Kakashi dengan nada semangat.

"Merayakan?" ucap Sakura heran.

Sakura dan yang lainnya segera menuju ke salah satu rumah makan sederhana di pinggir jalan. Sasuke lagi-lagi memakai penyamarannya, hanya menggunakan topi dan jaket tebal.

Mereka memasuki salah satu ruangan yang memang dipesan pribadi. Sakura lagi-lagi melihat semuanya sudah mengambil posisi. Padahal Sakura berencana menghindari Sasuke. Sasuke sudah mengambil posisinya duduk di pinggir. Hanya ada satu tempat di samping Sasuke. Sakura lebih memilih duduk di sebelah yang agak jauh dari yang lainnya.

"Sakura, apa yang kau lakukan? Bukan saatnya menghindar!" tegur seorang wanita yang setahu Sakura adalah manajer dari direktur perusahaan. Sakura menundukkan kepala karena takut.

Sasuke yang dari tadi memperhatikan Sakura segera berdiri dari duduknya. Ia kemudian duduk di hadapan Sakura. "Apa yang terjadi?"

"Tidak ada!" ucap Sakura sambil membuang muka dan meminum air.

"Kau terlihat bermasalah." ucap Sasuke yang agak khawatir.

"Aku tidak apa-apa!" ucap Sakura.

Makanan telah dihidangkan. Kalian tahu menu apa yang mereka pesan? Itu adalah rebusan atau yang orang Jepangs sebut adalah Nabe. Ya, mereka memesan rebusan untuk merayakan sesuatu.

"Begitulah mereka. Ketika mereka berhasil melakukan sesuatu, mereka akan merayakan dengan rebusan." ucap Sasuke sambil tersenyum tipis. Ia menerima semangkok rebusan yang diberikan salah seorang staff.

"Ini, Sakura. Maaf tadi aku meneriakimu. Aku sangat menyesal. Kau tahu, aku hanya tidak ingin semuanya tertinggal." ucap manajer direktur itu sambil memberikan rebusan kepada Sakura dan tersenyum hangat.

Sakura terdiam sambil menatap rebusan yang diterimanya agak lama. "Tertinggal…"

"Kau tahu, Sakura. Dia adalah orang yang cukup keras, meski begitu dia sangat peduli dan akan sangat marah apabila ada seseorang yang ditinggalkan. Dia pernah mengatakan, 'bukankah bersama-sama itu lebih baik?'. Kupikir itu yang dia lakukan padamu." ucap Sasuke yang mencoba menenangkan Sakura.

Sakura tersenyum. "Maafkan aku."

.

.

.

Beberapa menit telah berlalu, yang lain masih sibuk merayakan dan terus makan. Sakura memilih untuk keluar sebentar. Ia duduk di salah satu kursi panjang dekat pintu masuk.

"Bersama-sama lebih baik, ya?" gumam Sakura sambil menunduk menatap tangannya yang diletakkan di atas pahanya. Sakura mengingat kejadian ketika Sasuke menyemangatinya dengan memegang tangannya. "Kupikir dia tidak seburuk itu…"

"Kau mengatakan kepada para wartawan tadi kalau orang tua kita dekat dan ibumu menyarankan untuk menjadi manajerku. Apa-apaan itu?" ucap Sasuke yang tiba-tiba muncul dengan nada mengejek.

"Biar saja! Hal seperti itu tidak akan menyebabkan masalah. Itu karena kau tidak membantuku mencari ide!" ucap Sakura kesal. Ia sangat terkejut karena kemunculan Sasuke yang sangat tiba-tiba.

"Kenapa kau sendirian di sini, makhluk bodoh?" tanya Sasuke sambil duduk di samping Sakura.

"A-apaan kau? Kenapa kau harus ke sini?" ucap Sakura yang segera memalingkah wajah.

"Mereka masih sibuk ke menu selanjutnya! Aku yakin mereka tidak akan kuat berjalan setelah itu. Jadi aku meninggalkan mereka."

Sakura terkejut. "Heh? Tidak bisa berjalan? Bagaimana kita pulang?!" ucap Sakura.

"Entahlah, mungkin kita tidak pulang." ucap Sasuke yang memasang ekspresi seolah pasrah.

"Tidak! Aku tidak ingin tinggal di sini bersamamu!" teriak Sakura histeris.

Sasuke tersenyum, tak lama tawanya pecah. Ia tertawa sangat lama. Sakura menatap heran kearah Sasuke.

"Wajahmu itu, wajah panikmu itu. Dari tadi aku melihatnya. Sangat aneh! Hahaha…" Sasuke terus tertawa di sela ucapannya.

"Dasar! Apa maumu, makhluk sialan?! Kau menantangku?" teriak Sakura kesal.

Tak lama kemudian, ekspresi Sasuke mendadak berubah. Wajahnya menjadi serius. "Sakura, apa alasanmu begitu mempertahankan Ino dan Hinata?" tanya Sasuke.

"Heh? Kenapa kau bertanya seperti itu?" tanya Sakura yang juga heran.

"Kau ingat, kan. Mengenai kejadian kemarin, kau marah dan bahkan memukulku karena telah merusak persahabatanmu." Sasuke bersandar di punggung kursi. Matanya menatap langit-langit ruangan itu.

Sakura menangkap maksud perkataan Sasuke. "Oh. Kenapa, ya? Karena mereka sangat berharga!" ucap Sakura sambil tersenyum senang.

"Hanya itu?!" tanya Sasuke dengan wajah terkejut. "Kau mempertahankan mereka hanya karena itu? Kau marah dan memukulku hanya karena itu?!"

Sakura kembali meletakkan tangannya ke atas pahanya. Ia hanya menunduk. "Dasar, itu sama saja kau memaksaku mengatakan masa laluku." Sakura terdiam sejenak, kemudian ia melanjutkan pembicaraan. "Kau tahu aku sewaktu masih Sekolah Dasar? Aku bukan Sakura yang seperti ini. Aku sangat pendiam. Anak-anak di sekolahku selalu menindasku karena aku lemah. Sampai aku bertemu dengan Ino dan Hinata yang pada saat itu masih bergabung dengan anak yang lain. Aku mendengar Ino dan Hinata berteriak 'Ayo, mainlah bersama kami!' dan anak-anak lain mengancam akan membenci Ino dan Hinata apabila mereka mengajakku bermain. Tapi kau tahu, Ino dan Hinata tidak peduli. Mereka tetap mengajakku bermain meskipun harus menjauhi yang lainnya. Menurutku mereka yang seperti itu sangat keren! Aku termotivasi dan bertekad akan berubah. Sehingga aku menjadi seperti ini. Aku telah bersumpah akan selalu menjaga perasaan mereka." jelas Sakura.

Sasuke menatap wajah Sakura dalam waktu lama, Sakura segera menoleh dan menyadari wajah mereka sangat dekat. Sontak Sakura terkejut dan segera mundur. "Jangan melihatku seperti itu, dasar mesum!" teriak Sakura.

"Hah? Mesum?! Jangan menuduhku sembarangan, dasar jelek!" teriak Sasuke tak mau kalah.

Sasuke terdiam sejenak, kemudian ia menatap Sakura sambil tersenyum. "Aku rasa, aku ingin melihat dirimu yang dulu."

Sakura tercengang. Ia nyaris hanyut oleh senyuman Sasuke, namun ia segera membuang muka setelah mencerna kata-kata Sasuke. "Apa maksudmu?! Kau ingin melihatku tersiksa, kan?"

"Bukan seperti itu. Aku hanya merasa kau lebih pantas… dilindungi." Sasuke mengecilkan suaranya pada kata terakhir.

"Huh? Pantas apa?!" tanya Sakura penasaran.

"Dasar, lupakan itu! Bodoh!" timpal Sasuke sambil membuang muka.

Lama mereka diam, tiba-tiba Sasuke membuka pembicaraan lagi. "Yang tadi…"

Sakura menoleh kearah Sasuke. "Apa?"

"Sewaktu aku menelponmu tadi siang…" Sasuke mengucapkannya dengan agak ragu.

"Ah, aku ingat. Maaf, ponselku ada di ketua!" ucap Sakura sambil menyatukan kedua telapak tangannya di depan wajah seolah minta maaf.

"Aku tahu. Dia ketua klubmu, kan? A-aku iri dengan caranya berbicara…" ucap Sasuke dengan agak gugup.

"Heh? Tentu saja! Dia sangat ramah kepada orang lain!" ucap Sakura dengan bangga.

"A-apa aku bisa berbicara seramah itu?" tanya Sasuke dengan malu.

Sakura agak heran. "Tentu saja kau bisa! Kau sering melakukannya kepada penggemarmu, kan?" ucap Sakura dengan sangat semangat.

"Aku tahu itu, tapi… apa aku bisa berbicara s-seramah itu kepadamu? Aku selalu bicara kasar, kan?!" Sasuke semakin gugup. Ia tidak pernah menatap Sakura, ia terus membuang muka.

Sakura hanya terdiam menatap Sasuke. Ia semakin heran dengan orang itu. Ada apa dengan sikapnya yang selalu berubah itu?

Melihat Sakura yang hanya terdiam, Sasuke mulai protes. "Ya, ya! Aku tahu! Aku tidak perlu ramah kepadamu! Kau tidak pantas mendapatkannya, makhluk bodoh!" teriak Sasuke.

Sakura masih terdiam, kemudian ia tersenyum. "Tidak apa-apa. Aku sudah mengerti dirimu. Jangan berkata segugup itu padaku, harusnya kau mengatakannya seolah bercanda! Hahahahaha! Bukankah itu lebih aneh kalau kau ramah kepadaku?!" ucap Sakura sambil tertawa kecil.

Tiba-tiba semua orang yang tadi masih berpesta sudah muncul. "Ah kalian di sini! Ya sudah, ayo pulang!"

.

.

.

"Kalau begitu, aku pulang dulu. Sepertinya kereta terakhir belum berangkat!" ucap Sakura yang segera membereskan tasnya.

Kini mereka sudah berada di perusahaan tepatnya di ruangan Sasuke. "Oh, kau sudah mau pulang? Syukurlah! Cepatlah pulang, kau mengganggu!" ucap Sasuke.

Sakura memasang wajah murung. "Ya. Aku akan segera pulang!" teriak Sakura sambil berjalan melewati Sasuke. Kemudian Sakura berhenti tepat di depan Kakashi untuk berterima kasih atas hari ini. Setelah itu Sakura benar-benar pulang.

Sasuke hanya memperhatikan langkah Sakura daritadi, kemudian ia menghampiri Kakashi di dekat pintu masuk. "Kakashi-san!"

"Ada apa, Sasuke?" tanya Kakashi dengan nada ramahnya.

"Apa menurutmu, aku bisa bersikap ramah kepada Sakura?" ucap Sasuke dengan wajah serius.

Kakashi terdiam beberapa saat, sangat aneh apabila Sasuke bertanya hal seperti ini, kemudian ia menjawab sambil tersenyum. "Menurutku, semua orang menyukai ketika kau membalas perasaan mereka dengan baik. Semua orang suka apabila kau bersikap ramah."

"Apa menurutmu begitu? Tapi dia bilang, dia tidak begitu peduli!" ucap Sasuke.

Kakashi menepuk bahu Sasuke. "Sasuke, dengar. Kau belum mengerti Sakura. Kau tahu, dia itu selalu bertentangan dengan apa yang dia katakan! Kau harus rajin-rajin mengerti dirinya!"

Sasuke terkejut. Ia mengingat kembali apa yang dikatakan Sakura mengenai rasa tidak peduli apabila Sasuke tidak ramah kepadanya. "Dia... bertentangan?" Kakashi hanya mengangguk beberapa kali.

Sasuke terdiam cukup lama, tak lama muncul sebuah senyum kecil di bibirnya. Kemudian ia bergumam. "Sepertinya, aku ingin mengerti dirimu."

To Be Continued –

Terima kasih sudah membaca chapter sebelumnya. Aku sangat tidak menyangka masih ada yang berminat membaca fic ini. Kalau aku bermasalah di beberapa bagian, tolong berikan koreksi dengan mengirim saran kalian melalui review atau PM :') maaf kalau chapter ini agak gaje dan banyak bahasa kurang jelas. Aku menggunakannya sesuai imajinasi, jadi aku kurang lancar menuliskannya. Aku harap bisa menyelesaikan banyak chapter di liburan ini.

Salam,

Hitomi Sakurako