Naruto ( c ) Masashi Kishimoto
"My Love Term: I Getting Stuck at Your Heart"
( c ) Hitomi Sakurako
…
Chapter 8: I don't like you but I like you?
Sinar matahari menerobos dibalik jendela kamar Sakura. Ia membuka matanya secara terpaksa karena silau matahari yang mengusiknya. Sakura melenguh kecil. Ia menggeliat dan mencoba tertidur lagi. Namun, Sakura tiba-tiba memikirkan tentang kejadian semalam.
Kejadian di mana Sasuke sangat dekat dengannya. Sasuke yang sewaktu itu menaruh kepalanya di pundak Sakura dan mengkhawatirkannya. Sakura membulatkan mata dan segera mengubah posisinya menjadi duduk.
Ia kembali terbayang kejadian itu. Kenapa disaat ia ingin menjauhi Sasuke, malah orang itu yang selalu menarik Sakura untuk terus berada di dekatnya? Sakura pikir, inilah salah satu bentuk pesona seorang Sasuke Uchiha. Sakura menggelengkan kepalanya. Ia segera beringsut dari ranjangnya dan bergegas menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
Sakura turun dari kamarnya yang berada di lantai dua. Di ruang makan ia melihat sepiring telur ceplok dengan daging asap dan selembar roti. Sakura duduk di kursinya dan melahap sarapannya. "Kemana Ibu?" Sakura celingukan mencari ibunya, kemudian ia menemukan selipat kertas di atas meja makan. Rupanya ibunya berangkat cepat karena ada pekerjaan penting. Sakura tersenyum, kemudian meneguk segelas susu sampai tandas.
Begitu ia keluar dari stasiun, Sakura segera mengecek jam yang melingkar di tangannya. Sakura tersenyum kecil. Ia belum terlambat rupanya. Sakura berjalan dengan santainya. Ia terus berjalan sampai ia tiba di depan sebuah perusahaan megah yang selama ini menjadi tempatnya bekerja. Memang perusahaan itu berada dekat dengan sekolah Sakura.
Sakura tersenyum, kemudian mencoba masuk ke perusahaan melewati pintu belakang seperti biasanya.
"Mungkin belum ada staff yang datang." ucap Sakura sambil berjalan di koridor perusahaan menuju ke ruangan Sasuke.
Sakura akan membuka pintu ruangan Sasuke seandainya saja tidak ada seseorang dari dalam yang memutar kenop pintu lebih dulu. Sakura sedikit bingung. Kemudian pintu setengah terbuka, menampakkan Sasuke dengan wajah datarnya.
"Kenapa kau di sini?" tanya Sasuke ketika melihat Sakura yang hanya mematung di depan pintu.
Sakura menggeleng pelan. "Hanya ingin tahu apakah staff yang lain sudah datang atau belum." Sakura terdiam sebentar, kemudian ia kembali berbicara, "Kau juga, kenapa ada di sini sepagi ini?"
Sasuke menghembuskan napas, ia menggaruk belakang kepalanya. "Aku hanya mengambil barang yang kelupaan." Sasuke mengayunkan ponselnya di samping wajahnnya.
Sakura mengangguk mengerti. "Oh, iya! Ada yang kelupaan juga!" kata Sasuke yang segera kembali memasuki ruangannya. Sakura yang agak bingung kemudian mengekori Sasuke. "Ada apa?" tanyanya.
Sasuke mengambil sebuah ikat rambut polkadot di atas meja bundar kecil. Ia memberikannya kepada Sakura.
"Ini! Ini punyamu, kan?" ucap Sasuke sambil menyerahkan benda itu kepada Sakura.
Sakura mengangguk kecil, ia mengambil ikat rambutnya. Ia tidak berbicara apapun, hanya menatap Sasuke heran.
Sasuke yang menyadari maksud tatapan Sakura hanya bisa menghela napas. "Aku menemukannya di studio kemarin, di dekat UKS."
Sakura kembali mengangguk. "Terimakasih!" Sakura akan segera melangkah pergi begitu saja, kalau Sasuke tidak kembali menahannya.
"Oi, ingat! Ini hari pertamamu sekolah setelah orang-orang tahu kau adalah manajerku." Sasuke menyeringai jahat. "Ingatlah bahwa musuhmu akan bertambah!" seru Sasuke sambil tertawa.
Sakura mengernyit. "Kenapa kau malah senang kalau musuhku bertambah?!" teriak Sakura kesal.
"Karena aku suka melihat Sakura Haruno tersiksa! Hahahaha…" Sasuke masih tertawa kencang yang menurut Sakura sangat memuakkan.
"Lagipula ada Ino dan Hinata yang bersamaku! Huh!" Sakura segera membalikkan dirinya membelakangi Sasuke.
"Tapi kau yakin bisa bertahan meskipun Ino dan Hinata ada di sisimu?" ucap Sasuke.
Sakura mengibaskan rambutnya sambil memasang wajah bangga. "Maaf saja, ya. Aku tidak ingin banyak bicara dengan orang yang bahkan tidak memiliki teman satu pun!" ucap Sakura dengan penekanan di setiap katanya.
"Woi! Aku juga punya teman!" teriak Sasuke kesal. Tidak terima dengan ejekan yang dilontarkan Sakura.
"Heh? Kau punya teman yang benar-benar bisa kau andalkan?!" ucap Sakura yang semakin menekankan ucapannya.
Sasuke tak mau kalah. "Aku punya! Dulu–– sewaktu SMP…" ucap Sasuke sambil mengecilkan kata-katanya.
Sakura mengangguk-anggukkan kepala. "Terus, terus beritahu aku, siapa orang sial yang 'terpaksa' harus menjalin pertemanan denganmu?" tanya Sakura.
"Aku tidak ingin memberitahukanmu yang satunya. Tapi aku paling dekat dengan seseorang bernama… umm, Na– Nagi? Bukan, Naru– Naruto!" ucap Sasuke yang langsung semangat begitu mengingat nama teman SMP-nya.
Sakura tertawa kecil. "Huh, aku sangat kasihan kepada orang bernama Naruto itu, dia menjalin pertemanan dengan orang sekej– eh! Maksudmu apa tadi?!" teriak Sakura yang langsung membuat Sasuke kebingungan. Sasuke hanya membalas "Apanya?"
"Kau tadi bilang namanya Naruto, kan? Naruto? Naruto Uzumaki maksudmu?!" teriak Sakura yang semakin terkeejut itu.
Sasuke kemudian berpikir sebentar, kemudian ia mengangguk pelan kepada Sakura.
"Ehhh! Seriusan?!" teriak Sakura terkejut.
.
.
.
Sakura melangkah memasuki sekolahnya. Ia mulai dengan mengganti sepatunya. Begitu membuka lokernya, Sakura mendapati kertas yang berserakan serta sampah minuman bahkan keluar dari dalam lokernya. Sakura tahu kenapa benda-benda itu bisa ada di lokernya. Ia sudah mengetahui itu. Sakura mengeluarkan semua sampah dalam lokernya. Ia membuang sampah-sampah itu ke tempat sampah dan segera mengganti sepatunya.
Ketika berjalan di koridor sekolah, Sakura mendapati tatapan aneh dari orang-orang di sekitarnya. Bahkan ada yang terang-terangan membicarakan Sakura. Berbagai fakta sampai opini keluar dari mulut mereka. Sakura hanya menghela napas. Ia tahu ini akan terjadi, seperti apa yang dikatakan Sasuke tadi.
Sakura terus berjalan tanpa menghiraukan satu pun orang-orang itu. Di dalam kelasnya juga sama. Mereka langsung membicarakan Sakura ketika ia sudah berada di sana, kecuali Ino dan Hinata.
Sakura langsung duduk di bangkunya. Ia menenggelamkan wajah. "Hah, padahal koridor itu tidak terlalu panjang tapi kenapa ke kelas ini sangat lama." gerutu Sakura.
Ino dan Hinata segera menghampiri Sakura. "Pasti kau kesulitan, Sakura." Ino menepuk kepala Sakura, membuat Sakura harus mendongakkan kepala.
"Aku tidak apa-apa!" ucap Sakura sambil menggeleng dan tersenyum.
Hinata menyentuh bahu Sakura. "Terpaksa kau harus mengalami hal itu lagi." ucap Hinata yang mengkhawatirkan Sakura.
Sakura hanya tertegun mendengar Ino dan Hinata yang mengkhawatirkannya. Sakura merangkul Ino dan Hinata sambil menundukkan wajah. "Kalian! Asal ada kalian, aku akan baik-baik saja!" seru Sakura semangat.
"Hei, kau tahu apa yang paling membuat mereka kesal kepadamu?" tanya Ino kepada Sakura dan hanya dibalas sebuah gelengan kecil.
"Ini!" Ino menyerahkan sebuah majalah kepada Sakura. Dan benar saja, itu berita mengenai konferensi pers waktu itu. Sakura menghela napas.
"Aku tahu itu. Kalian saja yang teman dekatku langsung marah begitu melihat aku bersama Sasuke, apalagi mereka yang tidak dekat denganku, tapi karena Sasuke yang menjelaskannya, kalian jadi mengerti." Sakura tersenyum sambil membaca deretan kata di majalah itu. "Lagipula tidak mungkin Sasuke harus menjelaskan kepada orang-orang itu. Jadi menurutku, itu tidak masalah!"
Bel jam pertama berbunyi. Semua murid bergegas menuju ke bangku masing-masing. Ino dan Hinata juga segera kembali ke bangku mereka. Sakura tersenyum sambil memberi kode mengacungkan kedua jarinya membentuk huruf 'v' seolah berkata 'aku-baik-baik-saja'.
Pelajaran dimulai seperti biasa. Angin berhembus memasuki ruang kelas Sakura. Membawa kelopak bunga Sakura yang berguguran itu ke dalam ruang kelas. Sakura yang duduk di dekat jendela hanya terdiam menatap bunga Sakura yang beterbangan sampai ke buku-bukunya. Kemudian ia mengalihkan pandangan ke bawah, melihat anak kelas satu sedang marathon.
Sakura menghembuskan napas. Tiba-tiba matanya menangkap benda hitam yang bergerak memasuki sekolahnya. Sakura sedikit heran. Bukankah benda itu adalah mobil? Mobil mewah hitam memasuki lingkungan sekolahnya? Ada apa ini?
Sakura tak mau ambil pusing. Ia kembali berkutat pada gurunya yang menjelaskan. Tapi pikiran Sakura kembali terpaut pada mobil hitam itu. Mobil. Hitam. Entah mengapa, Sakura pernah melihat benda serupa. Sakura mengatukkan pulpennya di atas meja, berpikir.
Plong! Pikiran Sakura tertuju pada satu hal. "Ehh!" teriak Sakura. Ia berdiri sambil menggebrak mejanya. Semua mata tertuju padanya dengan heran. Sakura kembali melihat mobil itu.
"T-tidak mungkin dia ada di sini, kan!" teriak Sakura sambil berteriak di dekat jendela. Seluruh murid mengikuti arah pandang Sakura. Mereka terheran-heran dan sedikit penasaran.
Kemudian, keluarlah seorang lelaki berambut mencuat ke belakang dari dalam mobil itu. Ia menggunakan kemeja putih bergaris dengan celana panjang hitam, lengkap dengan kacamata hitam untuk penyamaran, mungkin.
Seketika Sakura mendengar teriakan histeris dari kelasnya dan bahkan di lantai bawah kedengaran.
"S-Sasuke?!" teriak Ino dan Hinata syok. Ia menatap Sakura yang hanya tercengang.
Sakura mendecih pelan. Ia berlari keluar kelas. Tepatnya ke lapangan sekolah untuk langsung turun tangan. Sakura melihat sebuah kerumunan yang sangat besar, uhm dominan dari mereka adalah anak perempuan. Sakura menerobos memasuki kerumunan itu. Dengan sigap, ia menarik Sasuke menjauh. Memasuki gedung sekolah dan berlari mencari tempat bersembunyi.
Tak ada pilihan lain karena semua anak perempuan mengejarnya, Sakura segera berlari sekencang mungkin dan masuk ke WC perempuan. Ia bersembunyi di bilik yang berada di ujung. Sakura menempelkan telinganya di pintu wc. Memastikan tidak ada lagi orang di sekitar sana. Sakura menghela napas dan menatap Sasuke.
"Apa maksudmu?" tanya Sakura.
"Aku hanya ingin mengunjungimu. Lagipula, kau ada jadwal hari ini." ucap Sasuke sambil menyilangkan tangan di depan dada.
"Aku tahu kalau aku punya tugas, tapi kau seharusnya hanya menelponku! Kau tidak berhak datang ke sekolah!" ucap Sakura kesal.
"Kau pikir salah siapa ponselnya tidak bisa dihubungi?!" teriak Sasuke yang juga kesal.
Sakura merogoh saku blazer-nya. Ia tidak menemukan ponselnya. Sakura mendecih. "Sial. Aku lupa membawanya."
Sasuke tersenyum penuh kemenangan. Namun, Sakura yang menyadari itu masih saja kesal. "Itu bukan alasan! Lagipula, kau sudah tahu kalau aku tidak akan bekerja selama jam pelajaran! Sudah ada ketentuan di surat perjanjian kita!" teriak Sakura sambil menunjuk-nunjuk Sasuke.
Sasuke menyingkirkan jari Sakura yang terus menunjuknya. "Sudahlah, lagipula tidak ada salahnya aku ke sini. Sepertinya mereka semua menyukaiku." Sasuke menyeringai sambil membayangkan betapa terkenalnya ia.
Sakura mendengus pelan. Kemudian ia keluar dari wc itu. Ia tidak mau ambil pusing mengenai Sasuke lagi, Sakura harus kembali mengikuti pelajaran.
"Haruno-san, kau dipanggil ke ruangan kepala sekolah!" ucap seorang lelaki tua yang Sakura ketahui adalah guru pengawas. Ia menaikkan frame kacamata hitamnya dan menatap Sakura tajam. Kemudian, Sasuke juga muncul di samping Sakura.
Sakura langsung menatap tajam kearah Sasuke. "Ini semua karena kau!" Kemudian Sakura berjalan menghampiri ruang kepala sekolah.
Sakura mengetuk pintu kayu itu dengan pelan, setelah mendapat perizinan untuk masuk, Sakura segera memasuki ruangan itu diikuti dengan Sasuke. Sebelum Sakura masuk sepenuhnya, ia mendelik kepada Sasuke. "Kenapa kau mengikutiku? Sebaiknya kau menunggu!" ucap Sakura.
Tsunade –sang kepala sekolah yang mendengar keributan di pintu ruangannya mencoba berdiri. "Haruno-san?"
Sakura tersentak. Ia membuka pintunya dengan lebar. Menampakkan Sasuke yang hanya memasang wajah kesal kepada Sakura.
Tsunade terkejut. "Kau, kan!" ucapnya sambil menunjuk Sasuke.
Sasuke sedikit terkejut, kemudian ia tersenyum simpul. Langsung masuk begitu saja ke ruangan Tsunade setelah mendorong Sakura yang menghalangi jalan masuknya. "E-eh! Apa yang kau laku–" Sakura kesal karena sikap Sasuke.
"Jadi kau Sasuke, ya? Apa keluargamu sehat-sehat saja?" tanya Tsunade sambil tersenyum dan duduk di sofa tamunya. Ia mempersilakan Sasuke untuk duduk di hadapannya.
"Ah, ya. Keluargaku baik-baik saja. Mereka masih menjalankan bisnisnya." ucap Sasuke semangat. Entah kenapa dia semangat tiba-tiba. Ia menatap Sakura melalui ujung matanya, kemudian tersenyum mengejek. Mungkin Sasuke semangat karena bertemu rekan keluarganya atau… semangat karena melihat Sakura hanya tercengang di depan pintu.
"Haruno-san, kenapa kau bisa bersama Sasuke?" tanya Tsunade.
Sakura enggan menjawabnya secara langsung. Ia memikirkan keadaan. Apa jadinya kalau ia mengatakan telah menjadi manajer Sasuke. Bisa jadi Tsunade marah dan malah mengeluarkannya dari sekolah.
"Ah, aku–"
"Dia manajer baruku! Anda tahu sendiri, kan. Saya sendiri berkecimpung dalam dunia entertain." Sasuke tersenyum sambil menatap Sakura, yang menurut Sakura merupakan senyum yang langsung menjatuhkan dirinya.
Sakura segera menghampiri Sasuke. Tsunade langsung berdiri dan menghampiri Sakura. Sakura yang mulai agak takut, sedikit memundurkan dirinya. Namun, Tsunade berhasil menangkap bahu Sakura.
"Haruno-san! Tolong jaga Sasuke dengan baik! Dia itu anak yang polos." Tsunade menepuk-nepuk bahu Sakura dengan wajah penuh harapan.
Sakura hanya menatap Sasuke sejenak. "Eh? Itu tidak menjadi masalah? Bukannya seharusnya aku hanya belajar? Tunggu dulu, siapa yang polos?!" ucap Sakura kaget.
"Itu tidak masalah selama kau menjadi manajer Sasuke. Aku berhutang banyak kepada keluarga Uchiha. Mereka adalah rekan bisnis keluargaku, jadi aku harus menjalin hubungan yang baik dengan keluarga Uchiha." Tsunade menjelaskan disertai Sasuke yang hanya mengangguk beberapa kali sambil tersenyum puas.
Sakura mengangguk. "Ah, a-aku mengerti!" ucap Sakura.
.
.
.
Sakura berjalan dengan lesu keluar dari ruang kelasnya. Seperti tadi pagi, semua mata selalu tertuju padanya. Sebenarnya yang terkenal di sini Sasuke atau dia, sih? Tiba-tiba ia dikejutkan oleh Ino dan Hinata yang tiba-tiba memeluknya dari belakang.
"Kenapa kau meninggalkan kami?!" teriak Ino kesal.
Sakura menatap Ino dengan malas. "Aku hanya kesal dengan makhluk menyebalkan itu!" gerutu Sakura.
"Sakura, kupikir berhubungan dengan Sasuke akan membuatmu akrab dengannya, ternyata sama sekali tidak." Hinata menggelengkan kepala pelan, prihatin.
"Apa-apaan dengan ekspresimu itu, Hinata? Aku tidak suka dengannya!" ucap Sakura sambil membuang muka. Ia terus melanjutkan jalannya menuju gedung belakang sekolah. Mencari ketenangan.
"Lagipula, kalau aku terpaksa harus berdekatan dengannya, aku akan– eh!" Sakura tiba-tiba menghentikan langkahnya. Ino dan Hinata yang terkejut juga ikut menghentikan langkah."Ada apa tiba-tiba berhenti?!" tanya Ino kesal.
Sakura terdiam, kemudian ia segera menatap kedua sahabatnya sambil tersenyum. "Tidak ada! Aku hanya mengingat tugas matematika yang terlambat kukumpul, ternyata sudah kukumpul!" ucap Sakura beralasan.
Ino dan Hinata mengangguk mengerti, namun mereka tiba-tiba terbelalak kaget. "Gawat! Aku juga belum mengumpulkannya! Hinata, ayo kembali!" teriak Ino panik.
Sakura hanya menatap kedua sahabatnya dengan heran. Hinata melepaskan pegangan tangannya dari Sakura secara terpaksa. "Maaf, Sakura. Kau harus sendiri dulu!" Kemudian mereka berlari meninggalkan Sakura.
Sakura mengangguk kecil, ia memasukkan kedua telapak tangannya ke dalam saku blazer-nya. Matanya kembali menatap seseorang yang duduk di bangku panjang taman. Sakura menghampiri orang itu.
"Kenapa kau masih di sini?!" tanya Sakura di depan Sasuke.
Sasuke mendongakkan sedikit kepalanya. Di samping kanan dan kirinya ada anak gadis di sekolah ini. Sasuke sendiri hanya sibuk memainkan ponselnya tanpa memperdulikan gadis-gadis genit di sampingnya.
"Aku hanya ingin menikmati sekolah saja. Lagipula, Tsunade-san sudah bilang tidak masalah kalau aku di sini, kan?" tanya Sasuke.
Sakura meniup poninya. Ia segera menarik Sasuke untuk berdiri, namun beberapa gadis di sana menahan Sasuke di tangannya yang kosong.
"Jangan pergi, Sasuke-kun! Ini adalah kesempatan langka!" ucap mereka bersahutan.
Sasuke hanya tersenyum kecil kemudian menatap Sakura. "Kau lihat? Aku ingin sekali-kali bersama fansku seperti ini."
Sakura masih tidak melepaskan tarikannya kepada Sasuke. Tiba-tiba ada salah satu dari fans Sasuke menahan tangan Sakura untuk melepaskan tangan Sasuke.
"Kau ini hanya karena manajernya langsung bertindak seenaknya!" ucap gadis itu dengan nada dingin.
Apa? Bukankah malah manajer lah yang berhak bertindak mengatur segala hal untuk artisnya? Sakura hanya terdiam, kemudian melangkah meninggalkan Sasuke dan gadis-gadis genit itu. Ia menyesal membiarkan Sasuke di sekolah ini. Bukannya apa, reputasinya semakin buruk saja.
Begitu pulang sekolah, Sasuke ternyata masih berada di sekolah Sakura. Ia menunggu Sakura di dekat tangga lantai pertama. Begitu Sakura sudah tiba, ia langsung berjalan di samping Sakura.
"Hei, aku benar-benar senang bisa bertemu banyak penggemarku di sini!" ucap Sasuke bahagia. "Kurasa, aku bisa sedikit menyangkal mengenai aku-tidak-memiliki-teman." Sasuke tersenyum tipis pada Sakura.
Sakura menghentikan jalannya. Ia menatap wajah Sasuke. Benar saja, Sasuke adalah orang yang kesepian. Ia tidak memiliki teman yang benar-benar bisa berada di sisinya selalu. Sakura cukup senang kalau ternyata Sasuke menemukan sedikit rasa bahagianya.
"Lagipula, musuhmu semakin banyak saja!" ucap Sasuke sambil mengejek Sakura. Sakura kembali memasang wajah kesalnya. Bisa-bisanya ia sempat menaruh simpati pada lelaki yang selalu mengejeknya ini.
"Aku sudah katakan, aku baik-baik saja meskipun mereka memusuhiku!" ucap Sakura sambil mendengus menghampiri loker sepatunya.
"Hahahaha, Sakura Haruno sekarang dimusuhi!" seru Sasuke yang masih tertawa mengejek Sakura.
Sakura membuka loker sepatunya. Seperti tadi pagi, kertas dan sampah-sampah memenuhi lokernya. Sasuke yang melihat itu segera menghentikan tawanya. Ia melihat kertas-kertas yang sebagian terjatuh itu karena saking banyaknya.
Sakura hanya mengeluarkan semua kertas dan sampah itu dari lokernya. Sasuke fokus pada setiap kertas yang berjatuhan itu. Semuanya ditulis dengan kata-kata ejekan dan umpatan. Kemudian Sasuke memungut salah satu kertas itu di lantai.
Sakura menjauhkan tangan Sasuke yang akan mengambil beberapa kertas itu lagi. Ia hanya tidak ingin orang yang selalu mengejeknya ini akan semakin mengejeknya begitu melihat sampah-sampah itu. Sakura mengambil semua kertas itu dan membuangnya ke tempat sampah.
"Oi, itu. Kau tidak apa-apa?" tanya Sasuke sambil terus menatap kertas yang berhasil diambilnya di lantai.
Sakura terdiam cukup lama sambil menunduk, kemudian ia mengangkat kepala dan tersenyum, "Ah, kau jadi melihat diriku yang memalukan!" ucap Sakura sambil menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal.
Sakura kembali ke lokernya, ia menjatuhkan sepatu sekolahnya dan melepaskan sepasang Uwabaki-nya. Sasuke yang sedari tadi hanya menatap Sakura yang mengeluh itu hanya menghembuskan napas, entah merasa bersalah atau kesal. Ia menundukkan badan dan mengambil sepatu sebelah kanan Sakura.
Sakura terkejut, ia mengangkat kepalanya. Menatap Sasuke dengan heran. Kemudian Sasuke berlari keluar sekolah sambil membawa sepatunya. Sakura makin panik. Masih bingung dengan kelakuan Sasuke, akhirnya ia menyadari bahwa Sasuke melempar sepatunya sangat jauh. Sakura menyusul Sasuke.
"Hei, apa yang kau lakukan?!" teriak Sakura sambil menggoyangkan lengan Sasuke.
Sasuke tersenyum licik, kemudian menatap Sakura. "Ambil sendiri kalau kau mau!" Ugh, Sakura kesal! Apa-apaan sifat Sasuke dalam suasana seperti ini. Sakura merasa dipermainkan. Akhirnya Sakura dengan sangat terpaksa, berlari –dengan memakai sepatunya yang sebelah– mencari sepatunya yang dilempar oleh Sasuke.
Merasa telah menemukan sepatunya, Sakura segera kembali ke tempat Sasuke, mengambil tasnya dan berlalu begitu saja tanpa memperdulikan Sasuke.
Sasuke hanya terkikik sambil menyamai langkahnya dengan Sakura. "Kau marah?" tanya Sasuke.
Dia bertanya 'Kau marah?' Kenapa pemuda di samping Sakura ini selalu bersikap tidak peduli, polos atau sok polos?! Ah, peduli amat. Sakura hanya mendiamkannya. Tidak mau berbicara dengan Sasuke sepanjang perjalanan ke kantor.
Namun, niatnya mengabaikan Sasuke sirna karena pemuda itu terus menyanyainya mengenai jadwal untuk iklan. Sakura memijit alisnya, ia menghela napas. "Jadi kau akan syuting iklan apa?" tanya Sakura.
Sasuke menyerahkan sebuah map kepada Sakura. Dengan sangat terpaksa, Sakura membuka map itu, mengeluarkan beberapa lembar kertas di dalamnya. "Coba kita lihat, hari ini Sasuke Uchiha akan syuting…" Sakura menghentikan perkataannya karena sibuk membaca lembaran itu. "Parfum?"
Sasuke mengangguk. "Mungkin ini yang terbaru di tahun ini. Aku barusaja bisa ikut iklan lagi!" sepertinya Sasuke terlalu semangat tentang ini.
Sakura mengangguk cukup lama, kemudian kembali membaca tulisan pada kertas itu. "Oh, aku tahu merk parfum ini, sepertinya memang masa boomingnya. Bagus kalau mereka memilihmu, supaya produk mereka semakin terkenal.
Sasuke dan Sakura akhirnya tiba di perusahaan, mereka kemudian berganti pakaian dan segera melesat ke studio foto iklannya. Setibanya di sana, mereka langsung dipersilakan masuk oleh beberapa staff. Memang hebat, meskipun sulit, tapi Sakura tidak bisa mengelak kehebatan seorang Uchiha Sasuke.
Sakura kembali fokus pada deretan huruf pada kertas itu. "Jadi, Sasuke mengenakan sebuah kemeja putih longgar dengan dua kancing atas yang terbuka–"
Ewh, Sakura mulai jijik membaca kalimat itu. Itu berarti Sasuke akan memamerkan dadanya kepada publik. Ewh! Sakura kembali melanjutkan kegiatan membacanya.
"Sasuke akan berperan bersama seorang model perempuan, kemudian Sasuke akan melakukan adegan akan memberikan ciuman dengan tatapan menggodanya." Sakura menaikkan alis. 'Ciuman?!' batinnya berpikir.
"EEEHHHHH?!" teriak Sakura, kaget setengah mati.
To Be Continued
Yosh! Ketemu lagi kita di sini. Hauuuwww, akhirnya aku bisa apdet chapter fic ini, meskipun gak ada yang nungguin, tapi aku selalu 'mikirin' ending cerita ini bakal gimana, udah ketemu plotnya jadi pengen cepet-cepet selesaiin huhuhuhu (takut kehilangan ide) /lol/
Oh, iya. Di chapter ini, Sakura sudah mulai menunjukkan 'ketertarikannya' kepada Sasuke meski gak terlalu nampak. Jadi sudah tahu dong yang bakalan suka duluan siapa dan mungkin saja endingnya bakal ketebak. Ups, masih ada banyak arc dari karakter yang misterius di dalamnya. Nanti ada arc khusus dari salah satu karakter yang muncul di cerita ini cuma satu kali, hayolohhh siapaaaa? /gak ada yang mau tau/
Oke, sampai sini dulu. Terima kasih sudah ngikutin fic-ku yang satu ini. Semoga kedepannya bisa cepat apdet /woi, tanggal 8 mau ujian woi/ Yosh! Sampai jumpaaaaa ~
Salam,
Ilma Sarah Zena – Watampone, 18 May 2015
