Naruto ( c ) Masashi Kishimoto
"My Love Term: I Getting Stuck at Your Heart"
( c ) Hitomi Sakurako
…
Chapter 9: Aku tidak mengerti!
"Kau yakin akan melakukan adegan ini?" tanya Sakura masih dengan ekspresi terkejutnya.
Sasuke mengangguk beberapa kali. Sambil menunggu, ia segera mengambil posisi duduk di sofa panjang sambil membaca majalah. "Tentu saja, itu sudah biasa bagiku."
Sakura hanya tersenyum kaku. "O-oh, begitu. Jadi kapan kau akan mulai?" tanya Sakura sambil celingukan ke sekitarnya.
"Sebentar lagi. Sebaiknya kau segera cek ke ruang ganti, jangan sampai tukang rias dan pakaiannya belum siap!" perintah Sasuke.
Sakura mengangguk, kemudian segera berlalu menuju ruang ganti. Ketika telah memastikan bahwa semuanya siap, Sakura keluar dari ruang ganti dan terkejut karena beberapa orang berkumpul di sana. Bahkan, Sasuke juga ada di kerumunan itu. Sakura kemudian ikut masuk dalam pembicaraan mereka.
"Ada apa?" bisik Sakura pada Sasuke.
Sasuke menghela napas tanpa menoleh kearah Sakura. Sepertinya masalahnya benar-benar serius. Buktinya Sasuke hanya mendiamkannya dan terlihat seperti memikirkan sesuatu. "Model perempuannya mendadak ada halangan keluar kota, jadi tidak bisa hadir dalam waktu cepat!" bisik Sasuke tanpa menatap Sakura.
"Eh? Terus bagaimana?" tanya Sakura lagi. Kali ini wajahnya panik, ia menarik-narik lengan kemeja Sasuke.
"Mungkin sebaiknya dibatalkan saja!" ucap sang produser iklan, sambil mengambil keputusannya.
"Bohong! Kenapa dibatalkan?! Kita masih bisa mencari yang lain!" teriak Sakura panik.
"Hei, nak! Iklan yang tidak sempurna seperti ini tidak akan memberi nilai jual. Semuanya sudah direncanakan sebagaimana mestinya. Selain itu, tidak semudah itu mencari model lain. Jangan seenaknya mengaturnya!" protes sang fotografer kepada Sakura.
Sakura berdecak kesal. "Padahal… padahal Sasuke sudah sungguh-sungguh akan mengikuti ini! Tapi kalian malah membatalkannya begitu saja!" teriak Sakura kesal.
"Jadi bagaimana ini? Apa yang harus kita lakukan?" tanya sang produser iklan.
"Aku mengerti!" ucap Sasuke tiba-tiba, memaksa Sakura agar kembali mendongak ke Sasuke.
"Apa maksudmu?" tanya sang fotografer.
Sasuke menarik bahu Sakura hingga merapat ke tubuhnya. Sakura sontak terkejut karena malu begitu Sasuke dengan seenak jidatnya memeluk bahunya. Sakura akan teriak, kalau saja Sasuke segera mendahuluinya.
"Biarkan manajerku yang menjadi penggantinya!" ucap Sasuke tegas, sambil memegang erat kedua bahu Sakura.
1 detik…
2 detik…
3 detik…
––seluruh kesadaran Sakura telah terkumpul semua.
"EEEEHHHHH?!" teriak Sakura dengan sangat sangat sangat keras. Ia menjauhkan diri dari Sasuke. "Apa maksudmu?!" teriak Sakura.
"Apanya? Kau akan menjadi pengganti model perempuannya." ucap Sasuke dengan nada santai.
"Kau bahkan mengatakannya tanpa beban! Kenapa aku harus melakukannya?! Sebaiknya kau batalkan saja!" teriak Sakura.
Sasuke menggaruk belakang kepalanya sambil mendengus kesal. "Kau sendiri yang melarangku membatalkannya!"
"Aku tahu aku mengatakannya tapi jangan libatkan aku sebagai penggantinya!" teriak Sakura lagi. "Kau pikir aku punya kemampuan seperti itu? Lagian aku tidak akan melakukannya!"
"Benar! Jangan memutuskan seenaknya! Kau menyuruh manajermu yang tidak tahu mengenai model? Apa maksudnya?" gerutu sang produser iklan. Di samping itu, Sakura mengangguk beberapa kali karena setuju dengan ucapan produser iklan.
"Dia bisa melakukannya! Aku yang bertanggung jawab!" ucap Sasuke dengan penuh keyakinan.
Sakura syok! Tubuhnya membeku, putih, dan nyawanya serasa akan meninggalkan raganya. Ini-tidak-masuk-akal! Bagaimana bisa Sasuke yakin kepada Sakura untuk berperan sebagai model perempuan?!
"Hei, hanya ini kesempatan yang bisa kau lakukan! Kalau kau manajerku, kau pasti bisa melakukannya. Apakah Sakura Haruno selemah itu?" ucap Sasuke sambil menatap Sakura tajam.
Sakura terdiam cukup lama, memikirkan dirinya sendiri. Bagaimana nasibnya mempertahankan kepercayaan Sasuke agar tidak terlihat mengecewakan. Sakura meneguk air liurnya dengan susah payah. Sambil menggumam 'aku-pasti-bisa!', Sakura segera tersenyum simpul dan menatap Sasuke. "Aku akan lakukan!"
Sasuke menyeringai mendengar jawaban yakin dari Sakura. "Baiklah, tolong rias dia sekarang!" ucap Sasuke sambil menunjuk Sakura.
"S-Sasuke? Kau yakin?" tanya sang produser iklan, dan dibalas anggukan dari Sasuke.
"Tapi dengan satu syarat! Aku… aku ingin memakai wig dan aku tidak bisa mengambil adegan yang menghadap depan!" ucap Sakura.
"Kenapa?" tanya Sasuke.
"Aku masih harus menjaga privasi. Akan sangat aneh kalau ternyata manajermu sendiri yang berperan sebagai model. Selain itu, aku harus menjaga diri dari teman-temanku! Tolonglah, aku akan lakukan asal kau penuhi permintaan ini!" ucap Sakura sedikit mendesak.
"Apa? Memakai wig? Tidak ingin menatap kamera? Bagaimana seorang model melakukannya?!" protes sang fotografer.
"Aku pernah liat di sebuah majalah. Untuk urusan iklan parfum atau kosmetik lebih cocok digunakan dengan gaya gelap. Bagaimana dengan wig hitam-panjang? Sepertinya cocok! Kemudian kita bisa memakai pakaian bernuansa gelap seperti hitam." ucap Sakura menjelaskan.
Sasuke tersenyum. "Untuk hal fashion, aku masih bisa mengandalkanmu!" ucap Sasuke.
"Tapi bagaimana dengan gaya yang tidak menghadap kamera?" tanya sang fotografer lagi.
"Aku akan mengaturnya!" ucap Sasuke sambil berlalu begitu saja ke ruang ganti.
.
.
.
Sakura menatap pantulan dirinya dalam cermin rias. Rambut hitam sebahu yang sedikit ikal dengan hiasan bunga putih di pinggirnya. Dress selutut yang sama dengan warna rambutnya. "Hah, aku terlihat sangat berbeda! Aku bukan Sakura Haruno!" ucap Sakura sambil memperbaiki dressnya.
"Yo!" sapa Sasuke yang muncul tiba-tiba. Ia memakai jam tangan yang ada di meja rias, serta beberapa perlengkapan aksesoris lainnya. "Kau siap untuk debut pertamamu sebagai model?" tanya Sasuke.
"Tolong hentikan itu! Jangan mengatakannya seolah-olah aku yang menginginkannya. Kau sudah mengerti, aku tidak ingin siapapun tahu kalau aku yang menjadi modelnya." ucap Sakura sambil memakai sepatu high heels hitamnya.
"Aku mengerti. Yang kau perlukan saat ini hanya kepercayaan dirimu. Apapun akan menjadi buruk kalau kegugupanmu menguasai dirimu!" ucap Sasuke. Ia menggulung kedua lengan kemejanya sampai siku.
"Aku akan berusaha! Kalau begitu, aku keluar duluan!" seru Sakura sambil mengacungkan jempolnya tanda siap.
Sebelum Sakura keluar, Sasuke dengan cepat menahan lengan Sakura, membuat gadis itu terpaksa menghentikan langkahnya. Ia segera berbalik untuk protes, namun Sasuke dengan cepat mencengkeram kedua bahu Sakura.
Buk! Sasuke membenturkan jidatnya ke jidat lebar Sakura. Membuat Sakura mengaduh kesakitan.
"Aw! Apa yang kau lakukan?!" teriak Sakura sambil mengelus jidatnya.
"Ini akan menjadi iklan yang sukses!" ucap Sasuke sambil tersenyum. Dan Sakura tidak bisa mengatakan kalau saat itu dia baik-baik saja, spontan wajahnya memerah ketika Sasuke mendekatkan wajahnya.
"A-aku tahu! Aku sudah bilang akan berusaha!" ucap Sakura. Ia membalikkan tubuhnya, keluar dari ruang tata rias –masih– dengan wajah memerah.
"Ah, kau sudah selesai!" ucap sang fotografer. Sakura mengangguk beberapa kali.
"Sepertinya kita menemui sedikit masalah!" ucap sang produser iklan tersebut.
"Masalah apa?" tanya Sasuke yang saat itu sudah keluar dari ruang tata rias.
"Yah, aku rasa tempat yang ada di studio ini tidak cukup memenuhi syarat dari pak produser. Ia menginginkan tempat yang lebih realis dan serius!" ucap sang fotografer.
"Huh? Realis dan serius?" gumam Sakura bingung.
Beberapa saat terdiam berpikir, kemudian pak produser iklan mulai mengeluarkan suara. "Aku rasa tempat yang paling cocok kita gunakan adalah…"
"Apa?" tanya Sakura.
"Ngg… kamar hotel!" ucap pak produser iklan dan fotografer secara bersamaan.
"Apa?!" teriak Sakura sukses membuat kedua orang yang mengusulkan ide aneh itu terkejut.
.
.
.
"Aku tidak mau, aku tidak mau, aku tidak mau!" Sakura terus-terusan menggumamkan kata-kata itu dalam perjalanannya menuju kamar hotel. Sasuke hanya mendengus kesal melihat kegugupan Sakura.
Ketika berada di depan pintu lift, Sasuke segera menahan tangan Sakura agar naik belakangan. "Kami akan naik belakangan, aku ada keperluan sedikit!" Sasuke segera menarik tangan Sakura. "Ikut aku sebentar!" ucap Sasuke.
"Huh? Ada apa?!" gerutu Sakura.
Sasuke menarik Sakura ke salah satu tangga di dekat sana. Sasuke melepaskan tangan Sakura dengan kasar. "Ada apa denganmu?!"
Sakura yang merasa atmosfir menegangkan ini langsung membuang muka dan terus terdiam.
"Sakura!" teriak Sasuke, membuat Sakura sedikit terkejut karena teriakan itu. Sasuke segera mendorong tubuh Sakura hingga menghantam dinding. Mengunci kedua lengan Sakura di sisinya, membuat jarak yang sangat dekat dengan Sakura.
"Hei, apa yang kau lakukan?!" Sakura memberontak namun kekuatannya melemah ketika Sasuke semakin mendekatkan wajahnya.
"Kau ingin melakukannya atau kabur sekarang? Yang mana yang akan kau pilih?" ucap Sasuke setengah berbisik.
"Apa maksudmu?! Lepaskan aku!" teriak Sakura panik.
"Dalam keadaan seperti ini, kau akan kabur atau mengikutinya?" tanya Sasuke lagi. "Aku rasa, kabur tidak akan berguna!"
"Aku…" Sakura terdiam sebentar, membuang mukanya. "Aku akan melakukannya! Aku akan melakukannya, jadi lepaskan aku sekarang!" ucap Sakura dengan sedikit gugup dan wajah memerah.
Sasuke melepaskan kunciannya pada Sakura, menutup sebagian wajahnya dengan tangannya dan membuang muka. "Sudah kuduga kau akan melakukannya!"
"T-tapi, apapun itu aku tidak mengerti dengan maksud lain, maksudnya aku hanya mengatakannya bahwa kau menyuruhku berperan sebagai model itu. Anu, pokoknya aku…"
"A-aku mengerti." ucap Sasuke yang masih menutup setengah wajahnya. "Kalau begitu, sebaiknya kita kembali!"
"Sasuke? Ada apa denganmu?" tanya Sakura yang kebingungan. Sakura akan menarik tangan Sasuke yang menutup wajahnya itu, namun Sasuke segera mencegahnya.
"Aku tidak apa-apa! Bukan urusamu!" Sasuke berlalu begitu saja, meninggalkan Sakura yang kebingungan.
.
.
.
"Wah! Kamar hotel yang mewah!" seru Sakura sambil mengabsen satu per satu ruangan yang ada di sana.
"Hei, kita kesini bukan untuk itu. Sebaiknya cepat kau mempersiapkan diri!" ucap Sasuke.
"Jadi gaya seperti apa yang akan kita gunakan?" tanya Sakura pada sang fotografer.
"Huh? Bukannya kau sudah melihatnya? Pose akan memberikan ciuman!" ucap sang fotografer.
Sakura tertohok. Ia menatap Sasuke dengan tatapan kesal. Sial, dia lupa kalau ini iklan parfum. Seandainya saja iklan ini berupa syuting video, mungkin ia tidak harus melakukan pose itu. Tapi karena ini adalah iklan di majalah, mereka harus memperkuat pose agar semakin menarik minat konsumen.
"Huh! Mau bagaimana lagi!" Sasuke membuka kedua kancing atas kemejanya. Ia menarik Sakura sehingga posisi mereka sekarang berdiri tepat di samping ranjang.
"A-apa yang mau kau lakukan? Kenapa tiba-tiba seserius ini?!" tanya Sakura mulai panik.
Sasuke menyentuh kedua pipi Sakura, menarik wajah Sakura mendekat. "Kau sendiri yang bilang mau melakukannya denganku!" bisik Sasuke.
Sasuke memposisikan wajahnya di samping telinga Sakura seolah berbisik, dan foto pertama berhasil diambil dari sang fotografer.
"Ekspresi yang menarik, sepertinya aku serahkan posenya kepadamu!" ucap sang fotografer sambil tersenyum sumringah.
Sedangkan Sakura, ia harus mati-matian menahan degup jantung dan wajah memerahnya yang sudah tidak dapat dikontrol. Berbagai pose sudah dilakukan oleh keduanya dan semakin ke sini, posenya semakin memalukan.
"Baik, pengambilan terakhir. Sasuke, tolong baringkan dia di ranjang!" ucap sang fotografer.
"APA?!" teriak Sakura syok. Kemudian ia menatap Sasuke. "Kau tidak mungkin melakukannya, kan. Aku itu sudah cukup melakukan hal-hal memalukan tadi!"
Sasuke menyeringai. "Kau bilang akan melakukannya, Sakura!"
Bruk! Sasuke dengan sengaja menjatuhkan tubuh Sakura di atas ranjang. Tunggu dulu, padahal Sakura bisa melakukannya sendiri. Hei, apa-apaan ini? Kenapa Sasuke seolah-olah bersikap seperti akan melakukan tindakan tidak senonoh kepadanya?! Apakah ini salah satu bentuk balas dendam, Sasuke yang bersikap jail dan berusaha menggodanya atau––
"Sasuke, apa yang kau lakukan?! Jangan kasar seperti itu!" Sakura mulai memberontak. Ia mulai menendang udara karena kesal tapi Sasuke langsung menindih tubuhnya, mengunci gerak kaki Sakura. Sakura berteriak dalam hati. Wajahnya benar-benar memerah. Apalagi ketika Sasuke menahan tangannya, seperti dengan yang Sasuke lakukan sebelumnya di tangga.
"Diam saja dan ikuti perintahku!" bisik Sasuke lagi. Dan jepretan demi jepretan dilakukan. Sakura hanya harus menahan rasa malu dan degup jantungnya. Sakura ingin berteriak sekarang juga, ia ingin lepas dari keadaan menyiksa ini.
.
.
.
"Otsukare-sama!" ucap sang fotografer sambil menunduk pada Sasuke. Proses foto sudah selesai, kini semuanya telah kembali ke studio. Memilih foto yang bagus untuk dimasukkan dalam iklan dan melakukan editing.
Sasuke mengangguk dan memperbaiki pakaiannya. Ia telah berganti pakaian dan menyelesaikan tugasnya. Sedangkan Sakura masih di ruang tata rias, mengingat-ingat kejadian memalukan yang barusan dilewatinya.
"Hei! Kenapa kau tidak segera berganti? Semua akan segera pulang!" ucap Sasuke.
Sakura mengangguk. Wajahnya kembali memerah ketika menatap wajah Sasuke. "Aku mengerti!"
Sakura segera berganti pakaian di ruang ganti dan merapikan dirinya. Ia menemui Sasuke di ruang depan studio yang sedang memainkan ponselnya.
"S-Sasuke!" panggil Sakura.
Sasuke menoleh dan menatap Sakura yang kini sudah berganti pakaian. "Ada apa?" tanya Sasuke.
"Anu…" Sakura mengeluarkan ponselnya dari dalam saku. "B-bisakah kita mengambil foto bersama?!" ucap Sakura sambil menutup mata, malu.
Sasuke terdiam, kemudian ia tertawa. "Hahaha! Boleh!"
Sakura tersenyum senang. "T-tapi ini bukan berarti aku sudah menjadi fansmu!" ucap Sakura. Kemudian ia memposisikan ponselnya agar dapat berfoto bersama Sasuke. Setelah mendapatkan foto itu, Sakura langsung tertawa.
"Kenapa?" tanya Sasuke.
"Tidak ada. Aku hanya tidak percaya, aku menjadi model dalam waktu cepat!" Sakura kembali tertawa, namun wajahnya kembali memerah begitu menatap Sasuke. Sakura terkejut dan langsung mengalihkan pandangannya ke layar ponselnya.
"Ah, jangan-jangan kau masih memikirkan hal tadi?" tanya Sasuke sambil tertawa kecil.
"Eh?" Sakura mendongak. "Apa maksudmu?"
"Maksudnya waktu aku memaksamu mengikuti perintahku! Aku akui aku melakukannya dengan kasar, tapi itu ada gunanya juga!" Sasuke tertawa kecil.
"Y-yah, kalau kau mengatakan seperti itu mungkin ada benarnya juga. Soalnya aku baru pertama kali mendapat perlakuan seperti itu dari orang lain!" ucap Sakura sambil menatap kembali ponselnya.
Sasuke menepuk puncak kepala Sakura. "Jangan dipikirkan. Aku sudah biasa melakukan trik menghentikan kegugupan seperti itu pada pasangan modelku. Hal seperti itu sih biasa saja untukku! Jangan menganggapnya lebih!" ucap Sasuke sambil tersenyum.
Sakura terkejut mendengar kata-kata itu meluncur dari mulut Sasuke, apalagi dengan ucapannya yang terakhir. Sakura hanya terdiam.
"Ayo pulang! Aku akan mengantarmu!" ucap Sasuke sambil mengambil kunci mobilnya dan berjalan lebih dulu dari Sakura.
Sedangkan Sakura, ia masih terdiam di tempatnya. Ia masih menunduk menatap ponselnya, menghiraukan panggilan dari Sasuke.
"Begitu, ya. Hahah, begitu, ya." Sakura bergumam sambil tertawa kecil. Suaranya agak serak dan terdengar kecewa.
"Oi, Sakura! Ayo cepat!" teriak Sasuke.
Sakura mengangkat wajahnya. "Aah, aku ingat harus membeli beberapa keperluan besok di jalan!" ucap Sakura sambil tertawa kecil. Ia mengambil tasnya dan berjalan keluar. Sebelum ia pergi, Sasuke menahan tangannya.
"Aku bisa mengantarmu. Jangan pergi sendirian!" ucap Sasuke.
"Tidak, tidak! Aku bisa pergi sendiri. Lagipula aku bisa pulang naik kereta!" ucap Sakura –masih– sambil tertawa. Ia memaksa melepaskan lengannya dari genggaman Sasuke.
"Kau yakin?!" tanya Sasuke. Ia melepaskan genggamannya pada lengan Sakura.
"Mm!" Sakura mengangguk tanpa menoleh kearah Sasuke. Kemudian ia segera berlari meninggalkan studio tersebut tanpa menoleh sedikit pun kearah Sasuke.
"Kenapa aku begitu bodoh terlalu melebih-lebihkannya?!" gumam Sakura sedih.
- To Be Continued –
Hai, kembali lagi sama saya Hitomiiiii ~ /siapa kamu
Maafkeun karena keterlambatan (mungkin) chapter 9. Sebenarnya aku mau updatenya sebelum ujian, tapi giliran mau nulis selalu ada tugas, kalo bukan tugas biasanya idenya hilang. Sekalinya pas ujian, idenya malah muncul. Y h a!
Tapi aku mulai seneng sm chapter ini. Kenapa? Karena di chapter ini hints SasuSaku itu mulai kuat meskipun masih belum ada kesadaran dari masing-masing pihak /halah
Apapun yang ada di kelanjutannya masih misteri (padahal sebenarnya authornya juga lupa plot awalnya tuh gimana /jduk). Aku pernah mikir buat bikin Sasuke langsung suka saja sm Sakura karena ada pemicu seperti dicemburuin atau apalah gitu (kayak film-film yg romantis gitu) tapi aku ingat, kalau untuk modal fic level rendah macam ini, dengan cerita yang mainstream jadinya kurang menarik.
Makanya aku tetap bikin hints yang bisa bikin kalian mikir "oh lanjutannya pasti gini-gini!" padahal aslinya enggak, ceritanya akan semakin seru kalau 'pemeran pembantu dan figuran' akan muncul sebagai penengah (yha spoiler) /gak ada yang penasaran *krai*
