Naruto ( c ) Masashi Kishimoto
"My Love Term: I Getting Stuck at Your Heart"
( c ) Hitomi Sakurako
…
Chapter 10: Rendezvous
Brak! Sakura menutup pintu rumahnya dengan keras. Kemudian ia berbaring di salah satu sofa di ruang tamu. "Apa yang sudah terjadi padaku?" gumam Sakura.
"Sakura? Ah, ternyata beneran kamu! Kenapa kau tidak bilang kalau sudah pulang?!" ucap Mebuki yang tiba-tiba muncul dari ruang keluarga.
"Aku pulang!" ucap Sakura yang menatap ibunya sejenak kemudian kembali menjatuhkan kepalanya ke bantalan sofa.
Mebuki menggeleng pelan. Kemudian ia berjalan menghampiri putrinya itu. "Apa ada masalah?" tanya Mebuki sambil mengelus kepala Sakura.
"Tidak ada…" ucap Sakura lemas.
"Sakura Haruno ini sedang ada masalah!" ucap Mebuki bersikeras.
Sakura mengubah posisinya menjadi duduk. Ia menatap ibunya. "Aku hanya lelah karena di luar seharian." Sakura tersenyum kecil.
Mebuki tahu kalau bukan itu yang sebenarnya ingin disampaikan oleh Sakura, tapi ia menyerah dan hanya bisa menganggukkan kepala. "Jadi, apa mantra yang bisa membuat Sakura Haruno ini semangat?"Mebuki tertawa kecil.
"Aku lapar. Apa masih ada makanan?" tanya Sakura yang tiba-tiba semangat.
Mebuki tersenyum, senang melihat wajah Sakura yang langsung berubah secepat itu. "Tentu saja. Kau tahu, ibu memasak sup kesukaanmu."
"Benarkah? Wah! Aku makan dulu!" teriak Sakura yang sudah melesat keruang makan itu.
Mebuki tertawa kecil melihat tingkah kekanakan Sakura, kemudian ia juga mengikuti Sakura keruang makan.
.
.
.
Keesokan harinya.
"Sakura, sudah bangun? Waktunya tinggal sepuluh menit lagi kau masuk!" teriak Mebuki dari ruang makan.
Sakura berlari menuruni tangga."Aku datang- kyah!" Bruk! Sakura terpeleset di anak tangga terakhir. Mebuki terkejut dan langsung menghampiri Sakura, membantunya berdiri.
"Apakah ada yang sakit?! Duh, kau terlalu ceroboh!" ucap Mebuki.
Sedangkan Sakura hanya menggaruk belakang kepalanya sambil tertawa. "Aku baik-baik saja! Heheheh, maafkan aku. Aku takut terlambat ke sekolah!" ucap Sakura. Ia segera berlari menuju pintu depan.
"Sungguh anak itu terlalu ceroboh. Dia bahkan lupa bekalnya." Mebuki mengambil bekal Sakura di atas meja dan segera berjalan menuju pintu depan.
"Ibu, aku pergi dulu!" teriak Sakura.
"Sakura, kau lupa bekalmu!" cegah Mebuki sambil menyerahkan sebungkus kain kepada Sakura. "Aku juga memasukkan sarapanmu di sana. Jangan lupa sarapan!" ucap Mebuki.
"Wuoh, agak berat. Kalau begitu, aku pergi dulu!" ucap Sakura sambil berlari meninggalkan rumahnya.
"Aku tidak harus memikirkan kejadian kemarin. Apapun yang terjadi aku hanya harus menjalaninya!" batin Sakura semangat.
Ketika Sakura keluar dari stasiun, ia langsung berlari menuju salah satu toko di samping perusahaan tempat ia bekerja. Ya, toko yang secara khusus sangat up-to-date mengenai berita Sasuke.
Sakura membaca salah satu majalah yang ada di sana. Rupanya benar, berita di halaman pertama adalah mengenai Sasuke yang sudah mulai ikut dalam iklan.
"Apa benar akan dipublikasikan? Aku merasa wajahku terlalu aneh kemarin!" gumam Sakura sambil memasang wajah lemas. "Pasti mereka tidak terima mengiklankannya!"
Drrt. Drrt. Sakura merasa ponselnya bergetar. Ia segera merogoh kantung blazernya dan menatap layar ponselnya. "Cih, dari Sasuke."
Sakura kemudian mengangkat panggilan itu. "Ada apa?" ucap Sakura ketus.
"Kau di mana?" tanya Sasuke dari dalam panggilan.
"Aku sedang menuju ke sekolah. Ada apa?" tanya Sakura.
"Mengenai iklan kemarin, sepertinya kau sudah berusaha keras." ucap Sasuke.
Sakura terdiam. Ia menaruh majalah itu di etalase. "Yah, mungkin. Wajahku sangat aneh kemarin."
Sasuke juga terdiam. Sakura heran, ada apa sebenarnya? "Sasuke?" tanya Sakura.
"Coba kau berbalik sebentar." ucap Sasuke.
Sakura makin heran. "Ada apa?" Jujur ia takut dibodoh-bodohi oleh Sasuke.
"Kubilang kau harus berbalik dan menghadap kearah jam dua belas!" perintah Sasuke.
Sakura mendengus kesal dan mengikuti perintah Sasuke. Ia berbalik, tiba-tiba Sakura terkejut melihat apa yang ada di hadapannya. "Bohong!"
Apa yang ada di hadapan Sakura adalah sosok Sasuke yang berdiri tidak jauh darinya. Tapi bukan itu yang membuat Sakura terkejut. Sosok yang membuat Sakura terkejut adalah papan iklan di mana setiap tempat terpampang foto Sasuke dan Sakura. Ya, itu adalah foto hasil jepreten kemarin, yang artinya iklan itu benar-benar dipublikasikan. Dan yang lebih mengejutkannya, hampir semua papan iklan adalah mereka.
Sakura menatap Sasuke yang berjalan kearahnya. "Kau…"
"Iklannya benar-benar sukses! Aku sudah mengatakannya padamu kalau ini akan sukses!" ucap Sasuke sambil mengacak-acak rambut Sakura.
"Iklannya… iklannya benar-benar ditayangkan!" Sakura kembali melihat ke depan. Apa yang ada di hadapannya kini hanya penuh dengan iklannya bersama Sasuke. Ia tidak bisa menyangkal kalau ia benar-benar senang.
"Bagaimana? Aku akan mentraktirmu makanan sepulang sekolah." ucap Sasuke sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam saku.
"Benarkah?!" seru Sakura yang dibalas dengan anggukan dari Sasuke. "Eh, sepulang sekolah, ya…"
"Tentu saja. Kau 'kan harus sekolah!" ucap Sasuke sweatdrop.
"Eh?! Sekolahnya!" Sakura segera melihat jam di ponselnya. "Aku terlambat!" teriak Sakura yang langsung berlari meninggalkan Sasuke.
"Buh… Hahahahahaha!" Sasuke tertawa terbahak-bahak melihat Sakura yang seceroboh itu.
.
.
.
"Selamat pagi, Sakura-chan!" ucap Hinata.
Sakura menoleh kesamping, rupanya Hinata juga baru datang. Dasar anak itu sama terlambatnya. "Pagi, Hinata!" balas Sakura sambil tersenyum lebar.
"Kau agak terlambat. Ada apa?" tanya Sakura.
"Yah, begitulah. Ino-chan mengajakku telponan semalaman. Aku pikir mungkin Ino-chan juga terlambat." ucap Hinata dengan nada lemas.
"Heh, kalian kejam sekali berdiskusi tanpa sepengetahuanku!" protes Sakura.
"Sakura-chan tidak mungkin mau mendengarnya. Jadi kami tidak menghubungimu."
Sakura mengangguk beberapa kali. "Ah, pasti kalian membicarakan–"
"SASUKE UCHIHA!" ucap Ino tiba-tiba ketika Sakura dan Hinata sudah di dalam kelas.
Sakura terlonjak kaget sampai-sampai ia memeluk Hinata di sampingnya. "Uwah, apa yang kau lakukan?!" teriak Sakura.
"Semalam kita membicarakan mengenai Sasuke! Katanya Sasuke akan membuat iklan barunya! Aku tidak sabar~" seru Ino kegirangan.
"Benar! Katanya iklan itu sebentar lagi akan dipublikasikan. Aku juga tidak sabar melihat wajah Sasuke!" ucap Hinata.
Sakura hanya mengangguk mendengar celoteh dari kedua sahabatnya. "A-anu… iklannya sudah dipublikasikan di kota…" ucap Sakura yang tiba-tiba menengah.
"APA?!" teriak Ino sambil mencengkeram kedua bahu Sakura. "Aku belum melihatnya!"
"Hinata, apa kau tidak lihat iklannya? Mereka menayangkannya di dekat perusahaan, aku pikir kau lewat di sana." Sakura mendengus.
"Tidak terlambat sampai aku melihat beritanya di sini!" Ino mengeluarkan ponselnya. Ia segera melakukan browsing di internet. Sakura tersenyum kecil melihat tingkah keduanya. Kemudian ia berjalan menuju bangkunya. Tapi tiba-tiba…
"SAKURA!" teriak Ino.
Sakura terkejut namanya dipanggil mendadak seperti itu. Ia menoleh dan melihat wajah Ino dan Hinata yang syok karena ponsel.
"Kenapa kalian terkejut melihat ponsel?" tanya Sakura sweatdrop.
"Bukan itu!" Ino membalikkan ponselnya dengan layar yang menghadap ke Sakura. Dalam ponsel itu terdapat foto dalam cuplikan iklan Sasuke.
"Itu iklan yang ingin kalian lihat, kan? Ada masalah apa?" tanya Sakura yang masih sweatdrop.
"Bukan itu, Sakura-chan!" teriak Hinata yang juga ikut syok. "Kami terkejut dengan gadis yang ada di samping Sasuke" seru Hinata.
Sakura syok, Ino dan Hinata makin syok. Sakura segera merampas ponsel Ino. Ia benar-benar lupa kalau gadis dalam iklan itu adalah dirinya.
'Tenang, Sakura. Kau sudah menutupi rahasiamu. Jangan tunjukkan reaksi seperti itu atau mereka akan curiga!'batin Sakura berteriak.
Seketika ekspresi wajah Sakura menjadi tenang. Err, bukan tenang tapi terpaksa tenang. "Ah, kalian tidak tahu, ya? Iklannya memang bersama model."
"Eh! Sasuke jahat! Dia memilih bersama model, padahal aku hanya ingin melihatnya!" teriak Ino.
"Tapi, Sakura-chan. Setelah aku membaca artikelnya, mereka tidak memuat nama modelnya. Siapa orang itu?" tanya Hinata yang curiga.
Sakura terdiam. Mencoba berpikir. "Uh… yah. Mungkin itu semacam konsep dari iklan ini. Mereka mencoba konsep anonymous pada karakter modelnya. Hahahaha!"
Ino menepuk bahu Sakura."Sakura, kau adalah manajer Sasuke. Kau pasti tahu siapa gadis itu karena kau juga ada di sana waktu pengambilan gambar. Pokoknya aku iri kepada modelnya! Ugh!" ucap Ino kesal.
"Err…" Sakura terdiam sebentar, ia memikirkan apa lagi yang harus ia katakan kepada Ino sebagai alasan. "Begini…"
Tiba-tiba bel masuk berbunyi. Semua orang berhamburan menuju bangku masing-masing, sedangkan Sakura tersenyum lega karena bel masuk menyelamatkannya lagi. "Ah, belnya sudah bunyi. Aku pergi dulu!" seru Sakura sambil berjalan menuju bangkunya, meninggalkan Ino yang melongo karena belum mendapat penjelasan dari Sakura.
Kemudian, pak Asuma masuk untuk memulai pelajaran. "Selamat pagi." ucap pak Asuma sambil meletakkan buku-bukunya di atas meja guru. Kemudian ia mengedarkan pandangan.
"Berdiri!" pinta ketua kelas. Seketika kami semua berdiri mengikuti perintahnya. "Beri hormat!" pintanya lagi, maka kami langsung menundukkan bahu, setelah itu duduk kembali.
"Anak-anak, sebelum memulai pelajaran ada sedikit hal yang ingin bapak sampaikan mengenai liburan musim panas nanti–"
"Apa? Liburan musim panas sudah dekat?! Teman-teman, ayo kita liburan ke pantai!" seru Kiba sambil jingkrak-jingkrak. Seketika kelas menjadi heboh karena liburan musim panas itu. Sakura tersenyum senang, dalam hati ia berucap, "Liburan musim panas mau kemana, ya? Makan cemilan di rumah saja, deh!"
Bak! Pak Asuma menepuk meja. "Anak-anak, saya tidak menyuruh kalian berisik!" ucapnya setengah kesal, kemudian kelas menjadi diam dan sunyi.
"Ehm, jadi begini. Karena liburan musim panas sudah dekat, kami jadi harus mempercepat pembelajaran kalian. Selain itu sebelum liburan akan ada ujian, kalau kalian semua remedial, kalian harus mengucapkan selamat tinggal pada liburan kalian!" ucap pak Asuma dengan nada menyeramkan itu.
Seketika kelas menjadi riuh. Ada yang berbisik mengenai ujian, ada yang langsung menyusun strategi ujian, ada yang langsung belajar, bahkan ada yang stress karena takut remedial. Sakura menggelengkan kepalanya sambil tersenyum geli melihat aksi teman sekelasnya.
'Aku tidak perlu seserius itu belajar. Kalau remedial, aku tidak harus tinggal di rumah terus.' batin Sakura.
.
.
.
"Hei, hei. Kau dengar itu? Kalau nilai kita jelek, kita harus remedial!" teriak Ino histeris. Sekarang adalah waktu istirahat makan siang. Ino, Sakura dan Hinata berjalan menuju kantin untuk membeli makanan.
"Semoga saja kita semua bisa mendapat nilai bagus." ucap Hinata.
"Yah, aku harap juga seperti itu." Sakura menepuk-nepuk bahu Hinata dan Ino. "Oh iya. Kalian akan liburan?" tanya Sakura.
"Uhmmm… Aku sih belum yakin, tapi aku ingin pergi!" seru Ino disertai dengan anggukan setuju dari Hinata.
"Bagaimana kalau kita pergi bertiga?" saran Hinata.
"Betul juga! Ayo! Ayo! Bagusnya liburan di mana?" tanya Ino.
Tiba-tiba ponsel Sakura bergetar. Sakura menatap layar ponselnya untuk melihat si pemanggil. Rupanya itu panggilan dari Sasuke. "Ah, Ino, Hinata! Aku harus bicara. Aku titip dibelikan, ya!" ucap Sakura sambil berlari menuju kamar kecil.
"Dia itu, pasti telpon dari Sasuke!" ucap Ino. Hinata menarik tangan Ino. "Ino-chan, ayo pergi." ucap Hinata.
Blam! Sakura menutup pintu wc dan menjawab panggilan Sasuke. "Ada apa?" tanya Sakura.
"Kau tahu, liburan musim panas ini kita ada kerjaan!" ucap Sasuke dari dalam telpon.
"Hah?! Bukannya aku harus liburan juga?" protes Sakura tidak terima.
"Jika artis tidak libur, maka manajernya juga tidak libur,tidak peduli bagaimana pun keadaannya!" ucap Sasuke kesal.
"Kalau aku ada kerjaan musim panas, berarti aku harus memperbaiki nilai ujianku sebelum itu. Aku tidak bisa pergi kemana pun kalau nilaiku jelek! Memangnya ada kerjaan apa?" ucap Sakura beralasan.
"Berapa lama lagi sampai musim panas?" tanya Sasuke.
Sakura berpikir sebentar, "Uhm… sepertinya masih ada seminggu lagi." ucap Sakura.
"Aku akan membebaskanmu dari tugas selama seminggu tanpa kerjaan!" ucap Sasuke tegas.
Sakura terdiam. Kemudian ia berteriak heboh. "Apa?! A, akhirnya! Akhirnya aku bebas!" seru Sakura sambil jingkrak bahagia.
"–tapi pastikan kau tidak mendapat nilai jelek dalam ujian! Karena iklan itu, aku mendapat tawaran bermain film lagi!" tambah Sasuke dengan nada mengancam.
Sakura meneguk ludah. "Siap! Eh, main film? Kau mulai main film lagi? Baguslah! Eh, tapi apa mereka tidak penasaran dengan gadis itu?" ucap Sakura.
"Makanya kau harus kerja ekstra selama liburan ini! Tenang saja. Semua rahasia aman. Mereka menanyakannya, tapi aku beralasan." ucap Sasuke.
.
.
.
Sepulang sekolah, Sakura seperti biasa harus sendirian lagi. Ino dan Hinata pulan duluan dengan jemputan mereka.
"Aku hanya harus giat belajar! Aku sudah mendapat liburku selama seminggu!" seru Sakura kegirangan.
Ketika Sakura berada di kota, ia kembali melihat iklan Sasuke masih bertebaran di papan iklan itu. Sakura berada di kerumunan orang-orang yang datang untuk melihat poster iklan itu.
"Sasuke-kun keren sekali!" seru beberapa gadis dengan hebohnya. Sakura memasang ekspresi jijik ketika mereka mengatakan bahwa Sasuke itu keren.
"Sasuke-kun sangat keren, ya!" ucap seorang gadis tepat di samping Sakura, seolah gadis itu mengajak Sakura berbicara.
"Ngg. Ya, b-begitulah!" Sakura menoleh ke gadis itu. Gadis dengan mata coklat serta rambut berwarna coklat yang digerai. Gadis itu tersenyum manis kepada Sakura.
Sakura terkejut. Ia merasa familiar dengan sosok gadis di hadapannya itu. "A-anu…" Sakura tidak mampu mengatakan apapun karena terkejut.
"Kau manajer baru Sasuke, kan? Err… kalau tidak salah, namamu adalah Sakura Haruno. Haruno-san, kenalkan! Aku Tenten!" ucap gadis yang diketahui bernama Tenten itu sambil mencoba menjabat tangan Sakura. Ia tersenyum sangat manis sekali.
Sakura masih terkejut, tubuhnya menjadi kaku. Tangannya bergetar ketika akan menyambut jabatan tangan dari Tenten. Ia masih syok. "A-aku, aku…" Sakura menjabat tangan Tenten dengan gugup.
Tenten memasang wajah heran. "Ada apa? Wajahmu terlalu kaku!" ucap Tenten sambil tertawa melihat ekspresi Sakura. Sakura menyadari bahwa ekspresinya itu sangat memalukan. Kemudian ia bersikap normal.
"Tenten-san!" seru Sakura. "Kau juga adalah manajer Sasuke, kan!"seru Sakura sambil tertawa. Ia tidak percaya bisa bertemu manajer lama Sasuke itu di sini.
"Ah, boleh aku memanggilmu Sakura-chan?" tanya Tenten, dan dibalas dengan anggukan dari Sakura. "Sepertinya kau menjalankan tugasmu dengan baik sebagai manajer Sasuke!" ucap Tenten.
Sakura menggeleng sambil mengibaskan tangannya. "Ahahaha, tidak, tidak! Tenten-san lebih hebat daripada aku!" ucap Sakura.
"Kalau aku sepertinya sangat buruk…"ucap Tenten dengan suara yang sangat kecil, seperti berbisik.
Sakura mendekatkan wajahnya ke Tenten. "Tenten-san? Ada apa?" tanya Sakura.
Tenten menggeleng cepat. "Tidak apa-apa! Di sini terlalu ramai, bagaimana kalau ke toko kue sambil minum teh?" saran Tenten.
Senyum Sakura mengembang. "Apa tidak masalah?" tanya Sakura.
"Jangan sungkan. Ayo ikut aku!" seru Tenten sambil menarik Sakura menuju salah satu toko kue di dekat sana.
.
.
.
"Sakura-chan adalah manajer Sasuke, belum lagi kita barusaja bertemu. Jadi khusus pertemuan kita yang pertama kali ini, aku akan mentraktirmu semua kue yang kau suka!" seru Tenten.
Sakura mengangguk sambil tersenyum. "Benarkah?! Aku belum pernah ke toko kue yang imut-imut seperti ini!"seru Sakura.
"Hah? Kau belum pernah ke sini? Aku dulu juga tidak suka kesini, tapi aku mencoba menjadi lebih feminim ketika menjadi manajer Sasuke. Aku kira Sasuke-kun akan senang dengan gadis yang feminim!" seru Tenten heboh.
Sakura terkejut mendengar penuturan Tenten. Ia baru ingat, ternyata Tenten sangat menyukai Sasuke. Jadi Tenten rela mengubah hidupnya demi Sasuke.
"Sakura-chan, ada apa?" tanya Tenten yang melihat Sakura hanya bengong.
Sakura tersentak. Ia menggeleng dan langsung memakan sepotong kuenya. "Tidak apa-apa! Ternyata Tenten-san itu sangat baik, ya!"ucap Sakura.
"Jadi bagaimana dengan Sasuke-kun?" tanya Tenten.
"Sasuke? Oh, dia baru saja akan memulai filmnya lagi. Sepertinya gara-gara iklan itu, kepopuleran Sasuke semakin meningkat. Kemudian dia kembali diundang untuk main film." jelas Sakura.
Tenten mengangguk beberapa kali. "Begitu, ya. Baguslah, jadi dia akan memulai film lagi. Apa dia sehat?" tanya Tenten.
"Tentu saja." ucap Sakura dengan mulut yang penuh dengan kue. Tenten tertawa. "Sakura-chan, kalau kau seperti itu, Sasuke-kun tidak akan menyukaimu lho!" ucap Tenten.
"Aku sangat membencinya, kita selalu bertengkar. Jadi tidak mungkin dia akan menyukaiku!" ucap Sakura sambil tertawa.
Sakura dan Tenten terus bercerita mengenai kehidupan mereka. Beberapa percakapan dari Tenten selalu berhubungan dengan Sasuke. Sakura tidak mampu berkomentar lebih jauh karena ia belum mengenal Sasuke begitu lama.
Tenten mengakhiri panggilan pada ponselnya. Ia menatap Sakura dengan wajah sedih. "Ada apa?" tanya Sakura.
"Sakura-chan, aku harus segera pergi. Pacarku akan menjemputku!" ucap Tenten.
"Oh, begitu, ya. Apa? Pacar?! Kau punya pacar?!" tanya Sakura syok.
"Iya, pacarku akan menjemputku di dekat taman. Padahal aku menyuruhnya ke sini untuk menemuimu juga, tapi dia tidak bisa." ucap Tenten. "Kenapa kau seterkejut itu?" tanya Tenten.
"Ahahahaha, tidak apa-apa. Kau harus segera menyusul pacarmu!" ucap Sakura.
"Kau pasti tahu masalaluku yang dulu menyukai Sasuke-kun, kan?" tanya Tenten dengan ekspresi curiga.
Sakura mau menyangkal, ia mencoba menggeleng, namun Tenten malah tertawa melihatnya. "Tidak usah seperti itu. Sudah jelas kau mengetahuinya. Tidak masalah, lagipula itu hanya masalalu. Aku hanya harus fokus dengan kehidupanku sekarang!" ucap Tenten semangat.
Sakura tertawa lagi. Ia benar-benar kagum dengan sikap Tenten. Tenten selalu mencoba melihat ke depan meskipun masalalunya tidak menyenangkan.
"Lagipula itu salah Sasuke-kun! Ia selalu membuatku makin menyukainya." ucap Tenten sambil tertawa kecil. Ia mencoba bercanda seolah semua hal ini salah Sasuke.
Sakura memasang wajah heran. "Eh, benarkah? Hahahaha, anak itu sepertinya terlalu dingin!" ucap Sakura.
"Makanya, aku merasa kalau aku mulai kembali terjerat karena Sasuke-kun, aku harus secepat mungkin melupakan perasaanku. Aku belajar dari pengalamanku, Sasuke-kun semakin membuat kita masuk ke dalam pesonanya, sehingga kita tidak akan pernah keluar lagi." Tiba-tiba nada bicara Tenten berubah menjadi serius.
Sakura terdiam. Ia juga merasakan yang sama dengan Tenten. Mengenai iklan itu, Sasuke benar-benar sudah menarik perhatiannya. Sakura sempat merasa sangat bahagia bersama Sasuke dalam iklan itu.
"Sasuke-kun itu, dia sebenarnya tidak pernah serius dengan kelakuannya. Waktu aku pertama kali menjadi manajernya, aku sangat bodoh. Aku tidak tahu apa-apa. Tapi Sasuke-kun selalu menarikku untuk berdiri dan melakukan tugasku. Ia berbisik kepadaku 'semuanya akan baik-baik saja, kita hanya perlu berusaha'. Kemudian ia memeluk bahuku untuk menyemangatiku. Hal itu membuatku sangat gugup sehingga karena itulah aku menyukai Sasuke." jelas Tenten.
Sakura terkejut. Ia mengingat kembali apa yang dikatakan Sasuke semalam ketika proses foto sudah selesai. 'Aku sudah biasa melakukan trik menghentikan kegugupan seperti itu pada pasangan modelku. Hal seperti itu sih biasa saja untukku! Jangan menganggapnya lebih!'. Sakura masih terkejut, jadi yang dimaksud Sasuke pada waktu itu mungkin juga adalah Tenten. Mungkin Tenten memang bukan pasangan model Sasuke, tapi Tenten mengatakannya persis seperti itu. Sakura juga selalu diperlakukan semanis itu ketika ia dibujuk untuk melakukan tugasnya.
"Sakura-chan?" tanya Tenten. Mencoba membangunkan Sakura dari lamunannya. Sakura tersentak, ia menatap Tenten sambil tersenyum kikuk.
"Ah, maaf, Sakura-chan. Aku tidak bermaksud menakut-nakutimu! Hanya saja, aku tidak ingin membuatmu berakhir sepertiku. Berakhir dengan menyukai Sasuke-kun dan ujung-ujungnya aku tidak bisa melepaskannya." ucap Tenten dengan nada bersalah.
Sakura menggeleng sambil tersenyum. "Tenang saja, aku tidak menyukainya. Lagipula Sasuke bukan orang yang akan memberikan semua perhatiannya seperti itu padaku!" ucap Sakura.
"Sasuke-kun itu orang yang sangat hebat. Ia bisa menarikmu kapan saja dia mau,tapi bisa meninggalkanmu ketika kau tidak bisa melepaskannya. Apapun itu, semua hal dan perhatian yang diberikan Sasuke-kun kepada seorang gadis hanya triknya saja! Dia tidak tertarik dengan gadis manapun!" ucap Tenten. Tenten berdiri dari duduknya diikuti dengan Sakura, mereka berjalan bersama menuju pintu depan toko.
Sakura kembali terdiam. Kata-kata yang dikatakan Tenten ini sepertinya benar. Sasuke hanya memainkan perasaan seseorang. Sakura juga pernah merasakannya, apapun perhatian itu hanya berhubungan dengan pekerjaannya.
"Tapi dia bukan homo…" bisik Tenten. Sakura terkejut, kemudian tawa Tenten meledak. "Hahahahah, Sakura-chan kau lucu sekali! Baiklah, kalau begitu aku pergi duluan!" seru Tenten.
"Ah, ya. Terima kasih untuk hari ini,Tenten-san!" Sakura membungkuk sedikit, kemudian tersenyum menatap Tenten. Kemudian Tenten berjalan menjauh.
Sebelum Tenten benar-benar menghilang dari pandangan Sakura, ia kembali berbalik. "Sakura-chan, semoga kita bisa bertemu lagi!" seru Tenten sambil melambaikan tangan ke Sakura.
Sedangkan Sakura hanya mengangkat sedikit tangannya dan mengangguk sambil tersenyum.
.
.
.
Sakura terdiam. Kembali memikirkan perkataan Tenten. Kalau seperti itu, berarti Sasuke adalah satu-satunya orang paling tidak berperasaan yang pernah Sakura kenal. Sasuke tidak pandang bulu, ia meninggalkan siapapun yang menyukainya. Hal seperti itu pasti ada alasannya.
"Sakura!" panggil Sasuke.
Sakura menoleh ke samping. Ia melihat Sasuke yang berdiri tidak jauh darinya. Sasuke melangkah mendekati Sakura. "Aku mencarimu di sekolah!"
Sakura percaya bahwa apa yang dikatakan Tenten itu benar, Tenten adalah salah satu korban dari Sasuke. Sasuke menarik seseorang, namun semua hal itu hanya bagian dari triknya. Kalau benar seperti itu, Sakura berarti juga mulai menyukai Sasuke.
"Sakura? Kenapa kau diam saja, bukannya aku mau mentraktirmu makan?" tanya Sasuke dengan nada semanngat.
"Bohong!" ucap Sakura dengan nada berbisik. Sakura langsung menundukkan wajah.
"Apa? Aku tidak mendengarmu!" tanya Sasuke heran. Ia mendekatkan wajahnya ke Sakura.
Bruk! Sakura mendorong tubuh Sasuke sehingga Sasuke harus mundur beberapa langkah ke belakang. "Woi, apa mak–"
"DASAR RENDAH!" teriak Sakura kesal. Sakura menangis. Sasuke terkejut. Sebenarnya ada apa dengan gadis di hadapannya itu. Kenapa dia menangis sambil berkata kasar kepadanya.
"Sakura…" Sasuke mencoba menarik tangan Sakura, namun dengan cepat Sakura segera menghindar dan berlari meninggalkan Sasuke.
Sakura terus berlari sampai ia tiba di stasiun. Sakura menghentikan langkahnya karena lelah. Ia mengusap air matanya, kemudian berbalik dan menatap sekeliling. Ia tidak melihat Sasuke yang mengejarnya.
"Kenapa aku mencarinya? Sasuke tidak akan peduli dengan hal itu, kan!" ucap Sakura sambil tersenyum sarkastik.
- To Be Continued -
Darling ling ling ling! (efek baca NG chapter 8)
Akhirnya chapter 10 udah selesai. Yeaaayyy! Akhirnya bisa nyampe sepuluh ch juga. Waktu aku pertama bikin fic ini di tahun 2012, aku mikir mungkin fic ini bakal terbengkalai dan stuck di ch 4 saja x'D
Mungkin aku updatenya kecepatan, ya? Dari semua chapter, mungkin perbedaan rilisan ch 9 sm 10 itu yang paling cepat (karena liburan lol).
Yeiiii, akhirnya di ch ini udah ada Tenten /peluk cium Tenten/ Aku dulu bingung banget, ini Tenten beneran jadi dikeluarin apa enggak terus di chapter mana. Ternyata dia udh dikeluarin arcnya di ch ini. Masih ada dua karakter lain lagi yang bakal muncul di ch berikutnya (entah ch keberapa) /spoiler woi/
Btw Sasuke di sini kesannya cowo kampret banget, ya. Terus makin ke sini Sakura selalu dibuat maso karena Sasuke :'''( Ah iya, aku juga bingung fic ini mau dibuat berapa ch? Yang pasti gak bakal bisa sampai 15, mungkin lebih tapi tapi tapi aku juga mau kerja project duet sm temen /yha
Ilma Sarah Zena
