Naruto ( c ) Masashi Kishimoto
"My Love Term: I Getting Stuck at Your Heart"
( c ) Hitomi Sakurako
…
Chapter 12: "Tapi kenapa?"
"Aku pulang!" ujar Sagi yang berada di depan pintu.
Sakura tersentak. Ia segera berlari ke pintu depan untuk membantu Sagi membawa belanjaannya. "Ah, sepertinya kau membeli banyak!" seru Sakura.
"Ya, begitulah. Toki-chan dan Yukie-san belum kembali?" tanya Sagi.
"Hmm, ya! Eh, kau memanggil Toki-san dengan akhiran –chan. Apa tidak masalah?" ucap Sakura dengan nada heran.
"Kurasa tidak masalah. Aku adalah manajer Toki-chan." ujar Sagi sambil menaruh beberapa bahan makanan ke dalam kulkas.
Sakura terkejut. "Apa? P-pantas saja aku heran sebenarnya tugasmu di sini sebagai apa? Hehehe…" Sakura menggaruk belakang kepalanya sambil cekikikan.
"Dasar! Tapi Yukie-san hebat juga. Dia mengurus semua ini tanpa manajer." ucap Sagi sambil berseru kagum.
Sakura mengangguk beberapa kali. "Tanpa seorang manajer pun dia bisa melakukannya. Hebat!" puji Sakura.
Klak! Tiba-tiba pintu terbuka dan menampilkan Toki bersama Yukie. Rupanya mereka sudah kembali dari rapatnya bersama para staf.
"Aku lelah! Mungkin sebaiknya tiduran dulu~" ucap Yukie sambil meregangkan otot-ototnya. "Ah, Sasuke-san dimana?" lanjut Yukie sambil menatap Sakura.
Sakura terdiam beberapa saat. Ia baru ingat, Sasuke sampai tidak menghadiri rapatnya karena kejadian barusan. "Err… dia ada di kamar." ucap Sakura sambil memalingkan wajah dan dibalas dengan anggukan dari Yukie. Sakura bersyukur Yukie tidak menanyakan lebih lanjut.
"Sagi-kun, bagaimana perlengkapannya?" tanya Toki.
"Ah, semua bahan sudah kubeli. Hanya saja…" Sagi menghentikan ucapannya. Ia menatap bahan makanan itu dengan sedikit kecewa.
"Ada apa?" tanya Toki.
"Kita tidak bisa memasak." Perkataan Sagi sukses membuat semuanya bungkam. Toki sweatdrop, Yukie syok, dan Sakura cuma terdiam.
"Bagaimana ini? Apa kita akan menghabiskan liburan musim panas ini dengan kelaparan?!" jerit Yukie syok.
Sakura tertawa kecil melihat orang-orang di hadapannya yang stress seketika. "Tenang saja. Aku bisa memasak!" ucap Sakura memecahkan suasana.
"Benarkah!?" Yukie menggenggam tangan Sakura penuh harap.
"Haha, hanya pemula, kok. Tapi aku masih bisa menjamin rasanya!" ucap Sakura sambil menggaruk pipinya.
.
.
.
Krak! Krak! Sakura memotong wortel dan beberapa kentang. Hanya dirinya sendiri yang berada di dapur. Sakura menyarankan Yukie dan Toki untuk beristirahat, sedangkan Sagi sebenarnya ingin membantu Sakura, tapi ia tiba-tiba dipanggil oleh Toki.
Sakura memasukkan potongan wortel dan kentang ke dalam rebusan kuahnya. "Yosh! Aku tinggal menunggunya sampai lunak!" seru Sakura. "Sambil menunggu aku harus menyiapkan makanan penutupnya!" lanjut Sakura.
Saat Sakura sedang mengupas apel, tiba-tiba ia dikejutkan oleh Sasuke yang berjalan menuruni tangga. Ia panik, berharap Sasuke tidak berjalan menuju dapur. Dan sepertinya kebetulan sekali, saat itu Sasuke benar-benar berjalan menuju dapur.
Sasuke meneguk air dalam gelas. Ia tidak memperdulikan Sakura yang menatapnya dengan kepanikan. "Mengenai kejadian tadi…" Sasuke membuka suara. Tapi ia tidak menatap Sakura.
"Ah! Kebetulan! Sepertinya kau kurang minum air. Pantas saja kau sering ngawur akhir-akhir ini! Dasar bodoh, kalau kau terus-terusan tidak jelas seperti itu, aku akan menertawakanmu!" ucap Sakura tiba-tiba. Nada bicaranya seolah mengejek dan perkataannya itu jelas-jelas memancing emosi Sasuke.
"Apa maksudmu?" gerutu Sasuke tidak terima. Yah, penyakit ingin menangnya mulai bangkit.
"Memang seperti itu, kan. Dasar ayam bodoh!" ejek Sakura yang masih sibuk dengan pekerjaannya mengupas apel.
Sasuke berjalan kearah Sakura. Ia berhenti tepat di depan Sakura. "Heh, sepertinya manajerku ini mulai bertindak seenaknya…" ucap Sasuke dengan senyum yang selama ini sering ia tampilkan ketika sedang meremehkan Sakura. "Sebaiknya kau ingat, pekerjaanmu akan sangat berat! Dah!" ucap Sasuke sambil meninggalkan Sakura dengan wajah kesal.
"Sialan! Makhluk itu kembali meremehkanku!" gerutu Sakura kesal. Meskipun Sakura selalu mencoba menang dari Sasuke, ia tidak pernah berhasil. Kemudian Sakura tersenyum. "Tapi sepertinya dia sudah kembali ke sifatnya yang biasa." gumam Sakura. Ya, sifat yang selalu Sasuke tunjukkan kepada Sakura, sikap ingin menangnya.
.
.
.
"Wah! Sepertinya enak sekali!" seru Yukie sambil berlari menuju meja makan.
Sakura mengambil posisi duduk di pinggir. "Silakan dimakan. Aku membuat banyak. Nanti akan kuberikan ke para staf juga!" ucap Sakura.
"Para staf mungkin tidak akan memakan makanan seenak ini!" seru Toki sambil menyantap makanannya.
Sakura tertawa lega, ia bisa membantu yang lainnya. Ketika ia akan memakan makanannya, Sakura melihat kursi kosong di depannya. Rupanya Sasuke belum hadir di meja makan. Sakura menghela napas berat. "Anak itu!" gerutu Sakura sambil berjalan menuju kamar Sasuke.
Buk! Sakura memuku pintu kamar Sasuke. "Hei, cepatlah keluar! Makanannya akan segera habis!" teriak Sakura dari luar.
Namun tidak ada jawaban dari dalam. Sakura kembali mengulangi perkataannya, dan sepertinya ia mendapat respon.
"Berisik! Aku tidak mau makan!" teriak Sasuke dari dalam kamar. Sakura kesal. "Baiklah! Jangan memanggilku kalau kau lapar!" bentak Sakura, kemudian ia meninggalkan kamar Sasuke.
Setelah semuanya telah makan, Sakura membereskan bekas makanan itu bersama Sagi.
"Sakura-san, Sasuke-san tidak makan?" tanya Sagi.
Sakura meletakkan piring kotor di tempat cuci piring dengan kesal. "Biarkan saja makhluk bodoh itu kelaparan! Palingan dia akan mencari makanan sendiri!" gerutu Sakura.
Sagi tertawa kecil. "Sakura-san itu benar-benar hebat, ya. Kau bisa memarahi Sasuke-san seperti itu. Kalian terlihat sangat akrab."
Sakura berseru dalam hati. 'Akrab apanya? Kami hanya sering bertengkar!' tapi kata-kata itu tidak bisa keluar mengingat statusnya sebagai manajer yang baik dan taat kepada artisnya. "Ah, tidak juga!" hanya kata itu yang bisa Sakura lontarkan.
"Kalau aku, sebenarnya sangat ingin dekat dengan Toki-chan. Tapi sepertinya hubungan antara manajer dan artis itu sangat tidak mungkin." keluh Sagi.
Sakura tersenyum santai. "Heuh, mendekati artis itu sangat penting untuk menjaga interaksi yang baik. Behhh, tunggu! Hubungan manajer dan artis? Kau terdengar seperti jatuh cinta padanya saja!" ujar Sakura sambil mencuci piring.
"Ya, seperti itulah yang kumaksud!" ucap Sagi dengan santainya. Sakura syok. Tidak menyangka ada seorang manajer yang menyatakan perasaannya tanpa beban. "Apa?!" teriak Sakura histeris.
"Tapi, aku sudah tahu kalau sepertinya hal itu mustahil! Makanya aku bisa mengatakannya begitu saja." ucap Sagi dengan nada kecewa.
Sakura tersenyum sambil mengangguk-angguk. "Apapun itu, kalau perasaanmu tulus, kau bisa menggapainya. Meskipun dunia kalian berbeda, aku rasa perasaanmu itu harus sampai!" saran Sakura. Sagi masih menunduk. "Sagi-san, tapi bukan hal itu yang menjadi tujuan kita, kan? Sebelum itu kita masih harus memenuhi pekerjaan kita!" ucap Sakura dengan nada semangat.
Sagi mengangkat wajahnya. Perlahan ia mulai menyetujui pendapat Sakura. Kemudian ia kembali melanjutkan pekerjaannya membantu Sakura. Dan tanpa mereka sadari, Sasuke sedari tadi mendengar pembicaraan mereka.
"Meskipun berbeda, perasaanku harus sampai… kan?" gumam Sasuke sambil menatap Sakura yang sangat bersemangat mengerjakan tugasnya.
.
.
.
"Apa-apaan mereka itu, aku kira malam ini juga mereka akan syuting. Ternyata besok toh!" ucap Sakura sambil memperbaiki tempat tidurnya. "Malah mereka sudah tidur semua. Huh!"
Klak! Sakura mematika lampu tidurnya. Ia menarik selimutnya sampai menutupi kedua bahunya, bersiap akan berlabuh ke dunia mimpi.
Tap! Tap! Sakura membuka matanya dengan cepat. Ia mendengar langkah kaki di sekitar kamarnya. Tunggu dulu, ini kamar paling belakang, yang ada di dekat kamar Sakura hanya kamar mandi dan pintu belakang. Sakura berpikir mungkin ada orang yang mau ke kamar mandi.
Tap! Tap! Langkah itu mendekat ke pintu kamar Sakura. Sakura mulai panik, ia melototkan matanya.
Kriet! Sakura mendengar pintu kamarnya dibuka. Dengan sigap Sakura langsung menarik selimutnya hingga menutupi seluruh tubuhnya. Ia memang tidak terlalu percaya dengan hantu tapi suasana kali ini benar-benar mencekam.
Sakura mendengar langkah itu mendekati ranjangnya. Ia makin takut, tubuhnya bergetar. Tiba-tiba ia merasa sebuah tangan menyentuh bahunya.
"Jangan hantui aku!" teriak Sakura. Ia membuka selimutnya, memejamkan matanya dan mulai meraba-raba di depannya.
"Heh, kau kira aku hantu?!" tanya Sasuke dengan nada meremehkannya. Sakura tersadar akan suara jelek itu. Ia segera mengubah posisinya menjadi duduk. Sedangkan Sasuke juga ikut duduk di sisi ranjang Sakura.
"Apa yang kau lakukan di sini?! Lagipula, kau terdengar sangat menakutkan!" gerutu Sakura kesal.
"Aku lapar…" ucap Sasuke tanpa melihat Sakura. Sepertinya Sakura yakin kalau wajah Sasuke saat ini sedang memerah karena malu.
Sakura tertawa geli dalam hati. Kemudian ia membuang muka. "Huh, aku sudah bilang! Jangan mengadu kelaparan padaku!" Sakura melipat lengannya di depan dada. Memasang wajah sombongnya.
"Oh, begitu, ya!" ucap Sasuke yang kemudian menyeringai. Tiba-tiba Sasuke mulai bergerak. Ia menaruh kedua tangannya di kanan-kiri Sakura. Masih dengan posisi duduk, ia mengunci pergerakan Sakura. Wajahnya mendekat ke Sakura. "Kau jangan pelit seperti itu, Sakura-chan!" bisik Sasuke sambil memasang wajah menggodanya tepat di samping telinga Sakura. Dan sukses saja membuat wajah Sakura panas.
Bruk! Sakura mendorong tubuh Sasuke. "A-apa yang kau lakukan?!" protes Sakura. Wajahnya masih memerah. Dalam hati ia menggerutu kesal karena tidak bisa menyembunyikan rasa malunya.
Sasuke tertawa karena melihat wajah Sakura. "Makanya, aku lapar. Buatkan aku makanan!" pinta Sasuke.
"Kembali lagi, deh sifat suka memerintah seenaknya!" batin Sakura berteriak. Sakura membuka selimutnya. Ia berjalan menuju dapur diikuti Sasuke.
"Kita masih punya kari sisa makan malam, kau makan itu saja!" ucap Sakura dengan nada lelah. Sakura merasa lega karena Sasuke mau makan itu. Dengan malas Sakura mengambilkan kari dan menyerahkannya kepada Sasuke yang sudah menunggu di meja makan.
"Aku tidur dulu!" ucap Sakura yang akan menjauh, namun Sasuke segera menahan tangannya.
"Kau temani saja aku di sini!" pinta Sasuke. Sakura terdiam, kemudian ia menghela napas. Dengan sangat terpaksa, Sakura juga duduk di hadapan Sasuke, melihatinya makan.
Sakura masih melihat Sasuke makan, yah karena Sasuke sendiri tidak protes. "Aku sudah selesai!" ucap Sasuke yang sukses mengagetkan Sakura. Ia meneguk air minumnya dan menatap Sakura.
"A-ada apa?" Sakura merasa risih karena terus-terusan ditatap oleh Sasuke.
"Sepertinya dari tadi kau menatapku! Hah, mungkin saja–"
Sebelum Sasuke menyelesaikan perkataannya, Sakura segera mendahuluinya. "Aku melihat makananmu! Bukan wajahmu!" protes Sakura, meskipun dia bohong.
Sasuke dan Sakura terdiam. Tidak tahu harus mengatakan apa. Sakura berharap saat ini Sasuke langsung pergi begitu saja seperti biasanya, tapi Sasuke malah diam di tempat. Kalau begini keadaannya, sebaiknya Sakura yang segera pergi.
"Ah, aku kem–"
"Hei, Sakura. Apa kau… mulai menyukaiku?!" tanya Sasuke.
"Ee?!" Sakura bengong, apa-apaan pertanyaan menjebak seperti itu.
Sakura mengibaskan tangannya. "T-tidak! Tidak mungkin! Jangan berpikir sembarangan!" ucap Sakura disertai dengan gelengan cepat.
Sasuke berdiri dari duduknya. "Syukurlah kalau begitu. Ah, kau yang bereskan, ya!" ucap Sasuke sambil melangkah meninggalkan Sakura yang bengong sendirian.
Begitu Sasuke benar-benar menghilang dari sana, Sakura segera bangkit dari duduknya. Ia membawa piring kotor itu ke tempat cuci piring. "Mungkin aku sudah berbohong kepada Sasuke…" gumam Sakura.
.
.
.
"Selamat pagi!" seru Yukie sambil meregangkan otot-ototnya. Ia menyapa Sakura yang sudah ada di dapur.
"Selamat pagi, Yukie-san! Ah, aku membuat roti isi telur dan beberapa sandwich roll. Aku dengar-dengar pagi ini kalian akan langsung syuting!" seru Sakura semangat.
Yukie menghampiri Sakura. "Wuoh! Sakura-chan, kau sangat hebat dalam memasak. Andai aku juga sepertimu! Pasti masa depanmu terjamin! Ah iya, kami akan langsung syuting. Huh, padahal kita bisa bermain di pantai dulu…" ucap Yukie. Setiap kata yang dilontarkan Yukie selalu semangat, dan hal itu juga bisa membuat Sakura semangat.
"Jangan begitu, Yukie-san. Tujuan kalian ke tempat ini adalah untuk film! Kalian harus berusaha! Aku hanya bisa membantu seperti ini, soalnya Sasuke jarang memberiku tugas!" ucap Sakura.
"Sasuke-san itu keren tapi sangat misterius, ya! Aku sampai bingung apa saja yang dia pikirkan! Ah, selamat pagi!" ucap Toki yang tiba-tiba muncul.
"Hah! Toki-san, selamat pagi!" seru Sakura dan Yukie.
"Sakura-chan, Sasuke-san itu seperti apa?" tanya Yukie.
Sakura mencoba berpikir. "Hmm, mungkin dia orang yang selalu ingin menang. Apapun perintahnya harus dilakukan, tapi dia sangat jarang memberiku tugas yang berat. Palingan dia memintaku ikut dengannya ke studio foto." jelas Sakura.
"Tapi, ya! Sasuke-san sangat akrab denganmu. Aku dengar kau adalah manajer barunya. Hebat!" puji Toki.
Sakura tertawa kecil. "Mungkin karena umur kami yang tidak terlalu berbeda, jadinya bisa lebih akrab!" sedangkan dalam hati Sakura berteriak, "Apanya yang akrab?! Itu karena kami selalu bertengkar!"
"Ah, Sakura-chan, kami pergi dulu!" ucap Yukie sambil berlari ke pintu depan diikuti Toki. Sakura mendadak kepikiran, di mana Sasuke?
"Selamat pagi, Sakura-san!" ucap Sagi yang pada saat itu keluar bersamaan dengan Sasuke yang juga ada di sana. Sakura terkejut, 'perfect timing sekali!' batinnya.
"Ah, selamat pagi! Hari ini aku membuat sandwich roll dan roti isi. Sagi-san sebaiknya menyusul Toki-san! Mereka sudah ada di pantai." ucap Sakura semangat.
"Kau sedang berusaha ternyata. Aku akan membantumu, sepertinya Toki-chan belum membutuhkanku!" ucap Sagi sambil membantu Sakura menyiapkan roti.
Sakura menatap Sasuke yang masih berdiri di dekat dapur. "Deh, Sasuke kau sebaiknya cepat keluar. Mereka sudah menunggumu!" pinta Sakura.
Sasuke menyeringai. "Huh, kau butuh waktu berdua, ya!" ucapnya dengan nada yang agak dingin. kemudian ia meninggalkan tempat itu, bahkan ketika lewat di hadapan Sakura, ia tidak menoleh sedikit pun ke Sakura.
Sakura menatap Sasuke yang sudah meninggalkan tempat. "Apa-apaan dia itu! Moodnya selalu buruk sepanjang waktu!" gerutu Sakura kesal.
"Sakura-san, Sasuke-san itu sepertinya benar-benar menyukaimu menjadi manajernya. Ia bahkan bisa mengeluarkan semua ekspresinya ketika bersamamu!" puji Sagi.
"Heuh, itu pujian atau hinaan? Kedengarannya seperti Sasuke mengeluarkan semua emosinya hanya padaku saja!" protes Sakura.
"Hahahaha, seharusnya kau senang! Aku sudah tahu Sasuke-san sejak lama, karena ia terkenal aku jadi banyak tahu. Sasuke-san tidak pernah menampilkan setiap ekspresinya di hadapan publik. Tapi ketika kau menjadi manajernya, ia seperti membuka dirinya kembali. Contohnya saja seperti akhir-akhir ini Sasuke-san sering mengeluarkan senyumnya." jelas Sagi.
Sakura terdiam, mencermati penjelasan dari Sagi. Kemudian ia tertawa kecil dan menggelengkan kepala. "Jangan berbicara seolah-olah itu karena aku! Sasuke itu memang suka menjaga image-nya. Tapi sepertinya tidak ada jaminan ia harus bersikap datar dan dingin di hadapan publik! Soalnya Sasuke itu aktor terkenal, kan!" ucap Sakura.
Sagi mengangguk beberapa kali. "Ya, mungkin kau ada benarnya juga!"
"Begitu, kan? Lagipula, kalau kau berpikir semuanya karena aku, kita itu lebih sering bertengkar, jadi mana mungkin Sasuke malah membuka diri karena keseringan bertengkar denganku. Hahahahah!" lanjut Sakura.
Sagi mengangguk, ia memasukkan sandwich dan roti isi telur itu ke dalam keranjang. Kemudian ia membawa keranjang itu bersama Sakura.
Begitu Sakura keluar dari villa. Ia langsung menghirup udara yang segar. "Akhirnya aku bisa merasakan suasana musim panas ini!" seru Sakura.
"Kemarin-kemarin juga sudah musim panas!" ucap Sagi sambil cekikikan. "Oh, Toki-chan! Aku datang membawa sarapan!" ucap Sagi sambil meletakkan keranjang itu.
Toki dan Yukie segera berlari untuk menyantap sarapannya. "Wah! Ini enak!" seru Yukie sambil mengunyah sandwich roll-nya. Sedangkan Sakura hanya tertawa karena dipuji.
Sakura menatap Sasuke yang juga sedari tadi menatapnya. Sakura menatap Sasuke seolah berkata, "Apa lihat-lihat?". Kemudian Sasuke menghampiri Sakura dan mulai mengambil roti isi telur. Ia menyantapnya tanpa menatap Sakura lagi.
Sakura berharap sekarang juga ia bisa membongkar isi kepala Sasuke untuk mencari tahu apa yang selalu ia pikirkan! Akhir-akhir ini Sasuke sering sekali melihatnya cukup lama dengan tatapan meremehkannya. Dan itu membuat Sakura kesal sekaligus risih.
"Yukie-san, Sasuke-san! Ini waktunya pengambilan adegan!" ajak Toki. Dengan semangat menggebu-gebu, Yukie menarik Toki pergi.
Sakura melihat Sasuke yang masih diam di tempat. "Kenapa kau masih di sini?!" tanya Sakura. Sasuke menghembuskan napas, kemudian ia melepaskan jaket hitamnya.
Pluk! Sasuke melemparkan jaketnya ke tubuh Sakura. "Aku titip sebentar, jangan dilepaskan!" ucap Sasuke. Kemudian Sakura mengangguk beberapa kali.
.
.
.
"Sasuke itu, katanya dia cuma menitip jaketnya sebentar, ternyata dia tidak mengambilnya!" protes Sakura.
"Sasuke-san sepertinya sangat memperhatikanmu, Sakura-san!" ucap Toki sambil menemani Sakura membawa keranjang itu kembali ke villa, sekalian ia ingin mengambil sesuatu di ruangannya.
"Darimananya?!" gerutu Sakura kesal.
Toki tertawa kecil. "Sudah kuduga kau tidak menyadarinya." Ucapan Toki sukses membuat Sakura keheranan. "Apanya?" tanya Sakura.
"Bajumu sangat tipis. Kalau dari jauh, aku bisa melihat lekukan tubuhmu dengan jelas!" ucap Toki. Sakura syok, wajahnya mendadak memerah. "B-benarkah itu?! Kenapa aku tidak sadar! Jadi, Sasuke terus memperhatikan tubuhku maksudnya?!" teriak Sakura malu. Ia langsung merapikan pakaiannya, menarik-nariknya agar sedikit longgar.
Toki semakin tertawa. Ia tidak menyangka Sakura sangat polos. "Bukan seperti itu. Jaket yang dia maksud minta dititipkan itu sebenarnya untuk menutupi tubuhmu. Kau lihat sendiri kan, dia melemparnya tepat di tubuhmu dan memintamu untuk tidak melepaskannya. Artinya dia ingin kau tetap memegang jaket itu dalam keadaan seperti itu." jelas Toki.
Sakura terdiam. Antara bingung dan masih malu. Sasuke… memperhatikannya. Sasuke… menolongnya, tapi Sakura tetap tidak menyadarinya. "Sepertinya aku benar-benar tidak tahu…" ucap Sakura.
"Untuk range seperti Sasuke-san yang tidak mudah mengekspresikan perasaanya, aku rasa itu wajar bagimu tidak mengerti. Hahahaha…" ucap Toki.
"Ngomong-ngomong, Toki-san juga melihatku seperti itu kenapa tidak langsung memberitahukanku!" protes Sakura.
"Maaf, aku hanya penasaran dengan apa yang akan dilakukan Sasuke-san. Ternyata dia sangat peduli denganmu!" ucap Toki.
.
.
.
Sakura memasuki kamarnya. Ia harus segera mengganti pakaiannya, jadi dia membiarkan Toki pergi duluan. Sakura melempar jaket Sasuke di atas meja kamarnya. Tiba-tiba saja, Sakura ingat mengenai penjelasan Sagi yang mengatakan kalau perubahan Sasuke itu bersumber dari Sakura.
Dengan gesit Sakura membuka tasnya. Mengambil sebuah note berukuran sedang. "Tidak sia-sia aku membawa note lama milik Tenten-san! Tapi aku harap ini bukanlah tindakan kriminal karena melihat privasi orang lain." ucap Sakura. Karena note itulah sampai Sakura tahu kalau Tenten menyukai Sasuke, dalam note itu banyak foto-foto Sasuke selama bersama Tenten.
"Kalau tidak salah di note ini lengkap foto Sasuke saat konferensi pers dan foto dengan para staf! Siapa tahu saja dia memang sudah suka senyum!" Sakura membuka lembaran pertama. Namun mengejutkannya, Sasuke berkespresi datar. Sakura melihat foto selanjutnya, ada foto Sasuke bersama para staf. Dan hasilnya sama, Sasuke cuma berekspresi datar. Sakura juga melihat foto Tenten bersama Sasuke, namun semuanya sama. Sakura menggelengkan kepala, tidak percaya dengan ini.
"Bohong!" Sakura melihat foto-fotonya sendiri bersama Sasuke dan para staf di ponselnya. Di semua foto, Sasuke selalu tersenyum meskipun beberapa di antaranya senyum tipis. Kemudian Sakura tidak sengaja membuka fotonya bersama Sasuke waktu ia menjadi pasangan model Sasuke.
Di foto itu Sakura dengan jelas dapat melihat senyum Sasuke. Bukan senyum tipis, tapi senyum layaknya aktor biasa. Sakura terkejut. Heran dengan hal itu. Apakah ini berarti perkataan Sagi itu benar?
"Tapi kenapa?!" gumam Sakura sambil menatap tidak percaya pada perbedaan kedua foto itu.
- To Be Continued –
… udah aku diam saja, deh. Gak berani komentar apa-apa. Aku udh terima kalau readers langsung angkat kaki dari fic ini 0)-)
Aku tahu ch kali ini unexpected banget. Kenapa? Karena semua yang ada di ch ini terlintas begitu saja. Aku malah dapat ide itu setelah nonton AnsaKyo (tbh ansakyo itu bukan anime romcom lho) /krais
Ch kali ini kayaknya Sasuke mulai nunjukin perhatiannya ke Sakura. Dan Sakura sudah 'bener-bener' mulai jatuh cinta sama Sasuke. Entahlah nanti ch depan bakal kayak gimana. Ups, masih ada dua karakter lagi yang bakal muncul. Dua karakter yang nentuin ed dari fic ini /duagh
Bicara soal AnsaKyo (Ansatsu Kyoshitsu), itu anime rekomen banget deh. Sebenarnya animenya sudah lama tapi aku baru nonton (baca: nungguin tamat), gak sia-sia dulu aku penasaran sampai rela download 1.7 gb-an untuk batchnya, ternyata animenya worth it banget! /ceritanya curhat)
Okey, sampai jumpa di ch depan (itupun kalau ada yang nungguin huhuhuhu)
Love,
Ilma Sarah Zena
