Hallo-hallo Minna-san~~

Apa kabar? :3

Masih setiakah menunggu fanfic gila saya yang satu ini? T^T

Kalau iya, saya minta maaf karena chappie 3 kemarin tidak ada scene romance nya sama sekali.. Gomen~!

Kali ini saya akan membuat scene romance-nya deh.

Semoga semua menikmati yaa :3

Coldest

By: Haruna Yumesaki

Warning: OOC, gaje, typo bertebaran, humor garing, dll.

Rated: T

Pairing: GaaHinaSasu? NaruShion? .-.

Disclaimer: Bang Masashi Kishimoto, cuy.

Don't like? Don't read! ;)

Enjoy please!

p.s: Maafkan kalau chapter ini berantakan. Saya post lewat handphone lagi!

Suasana pagi hari itu benar-benar terasa sangat mencekam(?) untuk seorang gadis cantik berambut indigo panjang dan bermata lavender indah itu. Tidak, sebenarnya tidak ada yang salah dengan pagi ini. Pagi ini sama-sama saja seperti pagi sebelumnya. Hanya saja, yang membuat pagi ini menjadi berbeda adalah…

"Hinata, kau akan pergi bersamaku, 'kan?"

"Pergi bersamaku saja."

Dua orang pemuda yang mau tak mau harus di akui ketampanannya. Siapa lagi kalau bukan pemuda bermarga Uchiha dan Sabaku itu. Yah, mereka berdua entah kenapa bisa tiba-tiba ada di depan rumah mewah milik Hinata. Hinata sendiri kaget melihat Gaara dan Sasuke yang sedang adu mulut. Tak lupa dengan tatapan mesra—uhuk, maksud author, tatapan mematikan yang di adukan antara Gaara vs Sasuke. Mungkin karena itu daritadi aura dua pemuda itu tiba-tiba berubah menjadi hitam.

"A-ano…" Hinata hendak berbicara sebelum kedua pemuda di depannya kembali beradu mulut. Tapi nyalinya terbang seketika setelah merasakan Sasuke dan Gaara yang menatapnya penuh harap. Rasanya Hinata sangat… gugup.

"Hinata," panggil Sasuke.

"Eh? A-ada apa?" Hinata menatap Sasuke bingung.

Sasuke berdehem. Kemudian jarinya terangkat menunjuk Gaara yang berdiri di sebelahnya. Sambil menatap Hinata sendu(?), Sasuke mulai memperagakan bagian dari iklan yang dia sangaaat sukai. Sasuke mungkin tidak pintar berakting, tapi dia pintar sekali meniru gaya-gaya iklan masa kini.

"Kamu pilih dia atau aku!?" Sasuke bertanya dengan gaya dramatis yang benar-benar lebay.

Background hujan dan petir yang menyambar terlihat dari belakang Sasuke. Melihat itu, Gaara pun tidak mau kalah. Ia akhirnya berlutut dan menggenggam tangan mungil dan hangat milik Hinata.

"Hinata… Pilihlah aku." Kata Gaara sambil menatap Hinata syahdu.

"G-Gaara-kun…" gumam Hinata pelan. Ia tidak pernah menyangka kalau kisah cintanya akan di hiasi oleh berbagai macam kejadian aneh. Seperti sekarang. Kenapa Sasuke dan Gaara memperagakkan bagian dari sebuah iklan obat? Obat flu yang bermerk apalah itu yang kalau tidak salah menyangkutkan nama seorang juragan jengkol di Konoha. Iya, itu sudah pasti obat flu bermerk Kang Udin.

Tiba-tiba di tengah kerusuhan scene iklan itu, seorang gadis memanggil sang Putri yang di rebutkan oleh dua pangeran tampan itu. Terlihat dari ujung bumi yang jauh disana(?), Sakura dan Shion sedang berdiri menunggu Hinata. Sakura melambaikan tangannya.

"Hinata-chan~~!" panggil Sakura setengah berteriak.

Hinata menoleh ke arah sumber suara. Kemudian dengan reflek ia melepaskan genggaman tangan Gaara dan membalas lambalian tangan Sakura. Dan dengan itu, Hinata membungkuk dalam-dalam.

"G-gomenasai… A-aku sudah janjian dengan Sakura-chan. K-kalau begitu a-aku duluan…" Hinata akhirnya berlari menghampiri Sakura dan Shion. Sedangkan Gaara dan Sasuke hanya bisa diam di tempat dengan wajah tidak percaya.

"Sialan."

~xxx~

Memang bukan pagi yang menyenangkan untuk Gaara maupun Sasuke. Tapi tidak apa-apa. Mereka rela, kok, berjalan kaki ke sekolah demi sang pujaan hati yang sudah duluan meninggalkan mereka bersama temannya. Lagipula, jarak ke sekolah dari rumah Hinata tidak terlalu jauh. Dekat atau jauh, Gaara dan Sasuke tidak akan pernah berhenti beradu mulut.

Ah, sudahlah. Kejadian tadi pagi tidak terlalu menarik. Lebih baik sekarang kita lihat dulu saja Naruto yang sedang mencoba menggombali Shion. Lho? Shion? Yap. Shion. Naruto sepertinya sudah move-on ke Shion. Err… Dia memang suka Shion dari dulu juga, sih.

Di kelas XI-A itu kini Naruto dan Shion sedang berada di tengah-tengah (?) sedangkan siswa lain mengerumuni, membentuk lingkaran(?). Tentu saja ini menjadi tontonan yang seru, karena menurut gossip yang beredar, Naruto sudah menyatakan perasaannya pada Shion. Tapi, Shion belum memberikan info lebih lanjut(?) tentang perasaan sebenarnya pada Naruto.

"Shion…" panggil Naruto dengan wajah yang berseri-seri.

"Iyaaa?" Shion menjawab dengan wajah malu dan gugup.

Seluruh siswa kelas XI-A itu sweatdrop. Kecuali Naruto. Bahkan Shion pun ikut sweatdrop, pemirsa. Kenapa mirip percakapan di iklan, ya?

"Hehehe…" Naruto nyengir kuda sambil menggaruk tengkuknya.

"Cieeee!" Koor siswa kelas XI-A itu bersamaan.

"Belom, cuy! Belom!" kini gantian Naruto yang sweatdrop.

Oke. Fokus, jangan sampai lengah. Dia bisa saja ada di belakangmu untuk menerkam—tunggu. Bukan itu! Itu 'kan strategi untuk melawan seekor ular jadi-jadian bernama Orochimaru—yang sebenarnya adalah seorang guru yang tidak di ketahui mengajarkan apa.

"Shion, kamu pasti suka menanam tanaman, ya?" Naruto mulai memulai jurus gombalnya.

"Iyaa… Kok tahu, sih?" Shion merespon dengan benar.

"Karena kau telah menanamkan bibit cinta di hatiku~"

"Cieeee!"

"Ahaydeuh! Prikitiew!"

Naruto kembali nyengir kuda. Sedangkan Shion yang terkena rayuan gombal maut-yang-masih-sangat-kuno dari Naruto itu sekarang hatinya telah dilanda hujan bunga. Tanpa di sangka-sangka sebelumnya, Shion mendekati Naruto dan memeluk lengan Naruto dengan mesra.

"Aku mau jadi pacarmu, Naruto-kun!"

Bagaikan sebuah petir menyambar seperti halilintar yang cetar membahana membuat suasana di kelas XI-A itu semakin memanas(?). Tidak di sangka-sangka lagi, pemirsa. Di tengah kericuhan siswa yang kesemsem NaruShion itu, sepertinya ada seorang murid jomblo yang ingin sekali mempunyai pacar.

"Hey, bapakmu dokter, ya?"

"Terus? Gue musti bilang 'kok tahu' gitu? Gombalan basi! Dasar jomblo!"

Entah ada yang menyadari atau tidak, tapi sepertinya kedua sejoli(?) itu tidak di pedulikan. Di dengar saja tidak, bagaimana mau di perhatikan dan di pedulikan.

Ya sudahlah, jangan di pikirkan. Itu pasti figuran lewat.

"Hinata," suara baritone yang sudah sangat familiar di telinga kita semua(?) membuyarkan lamunan Hinata.

Tanpa di komando, siswa-siswa yang tadinya mengelilingi Naruto dan Shion kini berganti menjadi mengelilingi Gaara dan Hinata. Ah, apa Gaara berniat menggombali Hinata? Atau melamarnya? *plak*

"I-iya?" Hinata menjawab tanpa lepas dari kegugupan dan kegagapannya.

"Kamu itu kayak sendok," Gaara meluncurkan jurus gombalnya yang entah kenapa bisa ia ucapkan dengan benar(?).

"K-kenapa kayak sendok?" tanya Hinata bingung.

"Karena kamu udah ngaduk-ngaduk perasaan aku."

"Eaaaa!"

"Cieeee!"

"Ahaydeuh! Prikitiew!"

Wajah Hinata memerah. Sedangkan Gaara menyeringai melihat reaksi Hinata yang sepertinya sih, sudah terkena racun cinta dari Gaara.

"Cih. Itu bukan apa-apa, dasar payah." Sasuke menghampiri Hinata dengan gaya cool-nya, yang sukses membuat para gadis menjerit-jerit seperti orang yang kesurupan jin iprit.

Sementara Gaara yang daritadi menyeringai kini mulai kesal melihat pujaan hatinya di dekati pemuda jadi-jadian berambut pantat ayam itu. Hatinya memanas, seperti terbakar, terbakar api cemburu. Dan itu sangat membuat si panda jadi-jadian itu emosi.

"Hinata,"

"I-iya?" Hinata merespon dengan kata-kata yang sama, nada yang sama, wajah yang sama, gugup yang sama dan gagap yang sama. *plak*

"Kamu mau gak jadi PACMAN ku?" Sasuke meluncurkan jurusnya.

"P-PACMAN itu apa?" tanya Hinata bingung.

"PACar sepanjang jaMAN,"

"Eaaaa!"

"Cieee!"

"Prikitiew!"

Wajah Hinata kembali memerah. Sasuke menyeringai puas. Hah, yang penting sekarang skornya sudah satu sama dengan si panda jadi-jadian itu. Tanpa di sadari, sedari tadi ada seseorang yang memperhatikan mereka dari meja guru.

"Persaingan Sasuke dengan Gaara bertambah panas dan ganas(?)!"

"Siapakah yang akan merebut hati Hinata?!"

"Kita tunggu minggu berikutnya!"

Sialan. Kenapa, sih, siswa di kelas ini gak ada yang waras.

Prok prok prok…

"Hah?"

Semua siswa sontak menoleh ke arah sumber suara. Oh tidak. Guru yang sama-sama tidak waras ternyata sudah duduk manis di mejanya. Guru yang selama ini ditakuti oleh para cowok ganteng.

Orochimaru-sensei…

"Hebat sekali gombalannya." Komentar Orochimaru-sensei.

"Makasih, Sensei!"

"Sasuke-kun, Gaara-kun. Aku merasa sangat terhormat sekali jika kalian mau mampir ke ruanganku nanti." Kata Orochimaru-sensei dengan wajahnya yang di imut-imutkan. *siapin kantong muntah*

"Hn? Buat apa?" tanya Sasuke bingung sekaligus jijik.

"Tentu saja untuk…"

Sasuke dan Gaara sudah menyiapkan kuda-kuda, mulai dari kuda hitam, kuda putih dan kuda poni(?) untuk melarikan diri dari Orochimaru-sensei.

"…Menggombaliku~" Orochimaru-sensei memanyunkan bibirnya, dengan tangannya yang ia buat menjadi berbentuk 'love'. Tak lupa dengan background pink dan hati yang berterbangan berwarna hitam(?).

"Kalau Sasuke-kun dan Gaara-kun datang ke kantorku, aku akan berdandan secantik mungkin~ Agar kalian berdua semakin terpesona padaku~~!"

Hoeek…

Sasuke, Gaara dan semuanya yang berada di kelas itu, cepat lari kalau tidak mau menjadi korban Orochimaru-sensei!

~xxx~

Insiden kebancian Orochimaru dan gombal massal di kelas XI-A itu mungkin sudah cukup bikin perut mual dan eneg. Tapi, semuanya tenang, oke? Jangan risau, kali ini author akan menyajikan momen Gaara x Hinata x Sasuke di tempat yang berbeda-beda(?). Err, untuk hari ini sepertinya hanya di sebuah café yang tidak jauh dari Konoha High School.

Sore ini, tepatnya sepulang sekolah, Naruto dkk memutuskan untuk refreshing di café dekat KHS. Bukannya Naruto berniat untuk mentraktir, tapi karena ia tahu di café itu sedang di adakan diskon besar-besaran karena sebentar lagi sudah mau menjelang bulan ramadhan(?).

"Ah, senangnya semua menu di diskon." Kata Kiba yang baru kelihatan semenjak insiden gombal tadi. Sepertinya tadi Kiba tidak menampakkan diri di depan keramaian.

"Ihah! Hehak hanhet hya! Hahi hamennha huhang hehak. Hehakan hang hi hamen hihihaku!" Naruto bicara tanpa menelan mie ramen nya terlebih dahulu. Jadi, bahasanya seperti bahasa alien.

"Hah? Ngomong apa, sih?"

"Naruto-kun, telan dulu mie ramen-mu, setelah itu baru kau bicara." Kata Shion menumpahkan perhatiannya pada Naruto yang malang(?).

Glek. Naruto pun menelan mie ramen nya tanpa perasaan(?). "Haah! Iya! Enak banget, ya. Tapi mie ramen nya kurang enak. Enakan yang di Ramen Ichiraku."

"Jelas."

"Hey, menurut kalian… Hinata lebih cocok dengan siapa?" tanya Sakura sambil meminum jusnya.

"Hmm… Menurutku, Hinata-chan cocok dengan Sasuke-kun." Kata Shion.

"Eh?" Hinata mengerjapkan matanya.

Sasuke sudah tidak tahan untuk mengeluarkan seringaiannya yang tipis namun keren dan mempesona itu. Tapi tetap ia tahan.

"Loh? Menurutku malah Hinata-chan cocok dengan Gaara." Kini Naruto yang bicara.

Kali ini Gaara yang tidak tahan mengeluarkan seringaiannya yang tipis namun keren dan mempesona itu. "Tentu saja."

"Cih! Kau pikir Hinata suka dengan warna merah mencolok begitu?" ejek Sasuke.

"Berisik. Bilang saja kau ini iri denganku yang mempunyai warna rambut yang keren ini." Kata Gaara dengan kenarsisannya yang tiba-tiba muncul entah darimana.

"Hah, dimana-mana rambut yang sepertimu itu sudah biasa! Rambutku lebih keren dan indah(?)!"

"Oh ya, jika gadis itu menyukai ayam pasti mereka akan merasa kau keren. Tetapi aku yakin gadis seperti Hinata tidak menyukai rambut pantat ayam sepertimu."

"Memangnya kau sudah yakin 100% kalau Hinata menyukai panda?"

Hinata yang merasakan namanya di sebut-sebut terus, kini mulai ikut dalam pembicaraan. "A-aku suka Hello Panda, kok."

"Nah, dengar itu—APA!?" Sasuke menjerit lebay mengikuti aktor dalam sinetron-sinetron jadul.

"I-iya… A-aku suka sekali biskuit Hello Panda… S-soalnya rasanya enak…" kata Hinata polos.

PLAK!

Sebuah tamparan keras meluncur dengan mulus ke arah meja(?). Membuat si meja meringis kesakitan(?). Dan setelah itupun author di lempari bola api dari Sasuke.

"Ne, Hinata-chan." Shion memanggil Hinata dengan senyum jahil yang terlihat jelas di wajahnya.

"Iya, Shion-chan?"

"Kau ingin jadi pacar Gaara atau Sasuke?" tanya Shion.

Dan detik itu pula iris jade milik Gaara dan iris onyx milik Sasuke bertemu dengan iris lavender milik Hinata.

"Eh…?"

"Hayooo, Gaara atau Sasuke?"

"Ah, enak sekali cake cokelat ini… Cokelatnya… lumer di mulut~"

Hinata memainkan jarinya dan wajahnya menunduk. Sedangkan Gaara dan Sasuke kembali menatap Hinata penuh penasaran.

"A-aku…"

Glek.

"S-sebenarnya… B-bukan masalah Gaara-kun atau Sasuke-kun."

"Lho? Terus kenapa? Eh, tapi kau mau 'kan berpacaran dengan salah satu dari di antara mereka berdua?" tanya Sakura.

"I-itu… A-aku…"

Entah kenapa rasanya Hinata susah sekali untuk melanjutkan ucapannya.

"B-belum di bolehkan untuk berpacaran…"

"APA!?" teriak semua orang (?) yang ada di café itu bersamaan.

Eh… Sebenarnya itu hanya teriakan Naruto dkk, sih.

"EH!? Kenapa aku baru ingat!?" jerit Kiba. "Aku pernah dengar itu, dari Neji-nii dan Paman Hiashi!"

"Hah? Kau sudah tahu duluan, Kib?"

Kiba mengangguk. "Iyalah, secara gue 'kan sahabatnya Hinata dari dulu. Jadi gue ap to det banget sama status Hinata!"

Terus?

"Waktu itu, Paman Hiashi bilang… 'Kalau ada yang ingin memacari Hinata, orang itu harus berhadapan denganku dulu'. Sedangkan Neji-nii bilang... 'Kalau Hinata punya pacar, tidak akan kubiarkan orang yang memacari Hinata itu selamat dari semua pertanyaanku dan mungkin penyiksaanku'."

Hah. Ini menjadi semakin menarik, ya? (Readers: kagak!) Perjuangan Gaara dan Sasuke untuk mendapatkan Hinata akan menjadi semakin berat seiringan dengan berjalannya waktu. Yah, Hinata tidak akan bisa kau dapatkan semudah itu.

Hadapi Neji dan Hiashi dulu, baru dekati Hinata. Itu peraturan yang pertama.

To Be Continued…

Ya ampun! Chapter ini dipenuhi oleh gombal dan juga hal gak penting lainnya! *pingsan*

Haruna: "Ehem… Biarin aja dia kayak gitu. Dia emang suka pingsan setelah nulis fanfiction."

Naruto: "Bah, untung masih bisa bangun yak dia."

Gaara: "Karena itulah aku bersyukur, dia masih bisa bangun."

Haruna: "Begini, maafkan saya dulu, nih… Gara-gara kebosanan yang melanda, jadi saya bikin yang rada gaje begini."

Readers: "RADA GAJE?"

Haruna: "Ohehe… Gaje banget, deh, kalau gitu!"

Sasuke: "Kenapa sih, si Orochi muncul terus. Eneg gue lihat mukanya yang di penuhi make up menor itu."

Haruna: "Sorry, aku sengaja memasukkan dia. Biar lebih terasa gitu.. (?)"

Kiba: "Kok gue dikit amat, sih."

Haruna: "Syukurin aja, kali! Yang penting udah masuk, 'kan!"

Naruto: "Iyee!"

Sasuke: "Ayo, kita balas review."

Haruna: "Yukori Kazaqi, terimakasih untuk votenya!"

Sasuke: "Ayey.. *salto di udara (?)*"

Gaara: "Untuk Kaze no Nachi… Hm. Si Ran musti tanggung jawab, nih. Kasian nih, katanya perutnya mules gara-gara ketawa."

Haruna: "EH!? Emang fanfic-ku lucu, yaa?"

Naruto: "Ya lucu aja, sih. Kalau ada yang menderita!"

Sasuke: "Nih, buat Misa-chan. Hoi. *baca reviewnya Misa sampai akhir* IDIH BUSET MANA MAU GUE DI PAIRINGKAN DENGAN GAARA!"

Naruto: "Wakakak! Kocak!"

Gaara: "*siap-siap menyambit Misa*"

Haruna: "Iya, deh. Aku maafin. Nih! Chap 4 apdet! Review lagi, lho! Kalo nggak, aku dan Ran pundung lagi!"

Naruto: "Nih… Michiko. Wow, dia suka Gaahina, tuh. T-tapi gak usah ngacungin golok kali, mbak…"

Gaara: "Arigatou, senangnya semua orang merestui hubungan gue sama Hinata."

Sasuke: "Oi!"

Haruna: "Hmm, ini dia dari Gaanata-chan. Ini~ Aku selipkan sedikit GaaHina~"

Sasuke: "Dari Hameru Kurai. *baca review Hameru sampai akhir* ARGH! GUE KESEL!"

Gaara: "Oh, terimakasih lagi. Apa ini sudah termasuk apdet kilat?"

Haruna: "Yo! Salam transtipi!(?)"

Kiba: *tiba-tiba datang sambil bawa setumpuk kertas(?)* "Nih, dari hime7015. Katanya gaje tapi gue tetep cool,"

Naruto: "Enak aja, lu!"

Haruna: "Dari Mysterio. Aduh~ Gomen na, tadinya juga memang mau buat NaruHina. Tapi kayaknya belum cukup kuat(?), jadi saya buat yang ini dulu~"

Gaara: "Nih, dari Sherly-chan11. Katanya humornya udah kerasa tapi tetep…"

Sasuke: "MASIH KURANG PANJANG."

Naruto: "Jempol kaki tuh!"

Haruna: "Kalau segini sudah cukup panjang belum?"

Kiba: "Oke, selanjutnya dari flowers lavender. Oh! Iya dong! Gai-sensei itu di perkirakan bunya banyak background berwarna-warni!"

Gaara: "Sebelum kipasnya Temari-nee di coba, lebih baik kita semua berlindung atau pergi dari TKP(?) sejauh-jauhnya."

Haruna: "Domo!"

Naruto: "Nih, dari Riz Riz 21. Sebenernya gue nggak ngerti dia ngomong apa…"

Sasuke: "Ahsudahlah…"

Haruna: "Wah wah XD Terus terang sekali untuk meng-copas ini! Tulisan ini boleh Riz copas! *lho*"

Gaara: "Terakhir ada dari .1. hai, salam kenal."

Naruto: "Ok, nggak apa-apa, kok."

Sasuke: "KENAPA GAAHINA LAGI!? *jeleger*"

Naruto: "YEY!"

Sasori: "Eh? Ada yang ngomongin gue?"

Gaara: "Kagak, udah sono balik."

Haruna: "Okee. Sudah selesai! Hah, pegal sekali aku. Ngetik bagian ini."

Kiba: "Istirahat, dong."

Haruna: "Tadinya ini mau di telantarkan lagi untuk beberapa jam(?). tapi sayang… jadi aku terusin nulis. Kira-kira—"

KIRA di deathnote: "Siapa yang manggil gue?"

Haruna: "—aku menyelesaikan ini chappie selama… 4 jam."

*bangun dari pingsan* 4 JAM TANPA ISTIRAHAT! KEREEN! *pingsan lagi*

Gaara: "Kau memaksakan diri."

Sasuke: "…,"

Naruto: "Ehmm, ya benar!"

Haruna: "Minna-san, saya harap minna baca bagian gak jelas seperti ini! Karena disinilah saya akan menjelaskan sesuatu!"

Naruto: "Apa tuh?"

Haruna: "Main pairing ini, di tentukan oleh voting! Voting terbesar sudah di pegang oleh GaaHina dengan 6 vote. Err.. gak tahu kurang gak tahu lebih. Yah, yang penting… chapter depan… akan lebih…"

Gaara: "Romantis?"

Haruna: "Bukan! Ah, pokoknya lihat saja nanti! Main pairingnya… Akan ketahuan nanti, khu khu khu…"

Naruto: "Okelah. Ketawamu aneh. Yang penting terimakasih untuk readers yang sudah review!"

Gaara: "Review dan vote."

Haruna: "YAP! AYEEEY~~"

Sasuke: "Kalian tinggal tunggu chapter selanjutnya untuk pertarungan antara aku dan Gaara yang semakin memanas,"

Haruna: "YEEY! BENAR!"

All: "MINNA-SAN, HONTOU ARIGATOU SUDAH RNR! YANG VOTE JUGA TERIMAKASIH, YAA! KAMI TUNGGU REVIEW KALIAN UNTUK CHAPTER INI! DAN JUGA MAAFKAN AUTHORNYA YANG LELET SEKALI DALAM MENG-UPDATE FANFIC!"

Domo, arigatou.

~Haruna Yumesaki~