Minna-san…

Sudah satu tahun lebih ya… Intinya…

GOMENASAI! T^T

sudah gak apdet setahun lebih, chapter terbarunya geje pula T_T


~OoOoOoO~

Coldest

By: Haruna Yumesaki

Warning: OOC, gaje, typo bertebaran, humor garing, dll.

Rated: T

Pairing: Masih GaaHinaSasu, NaruShion dan surprisee!

Disclaimer: I'm not own Naruto, okay.

Enjoy please!

p.s: Maafkan saya yang nulisnya selalu berantakan ini. Saya post lewat hape lagi!

~OoOoOoO~


Sore itu di sebuah ruangan yang gelap dan sempit itu, terdapat seorang pemuda yang belum ter-identifikasi identitasnya sedang mencoba menahan amarahnya yang meluap-luap. Ruangan itu sangat minim cahaya. Satu-satunya cahaya yang menerangi hanyalah dari sebuah lilin kecil di meja yang tak kalah kecil itu.

"T-tuan, m-maafkan saya," ucap seorang pria berwajah garang berkepala botak yang sedang menunduk itu.

"Kenapa kau?" tanya si Tuan dengan nada datarnya.

"S-saya belum mengetahui siapa dua orang itu,"

"APA!? KENAPA KAU TIDAK MENCARI TAHU!?" teriak si Tuan yang sontak langsung membuat si pria berwajah garang berkepala botak itu menciut nyalinya.

"Tuan, Tahu yang mau saya beli habis! Jadinya saya membeli tempe, tidak apa-apa kah?"

"Muka aja garang, pake otak malah jarang!"

Si pria botak menggigit bibirnya (?), mencoba menahan diri agar tidak menangis (?) di depan Tuannya yang bisa di bilang masih seorang anak kuliahan itu. Ya ampun, cyin… Padahal 'kan muka gue yang ter-garang, suara gue yang ter-cetar membahana terus body gue yang ter-kekar.. kenapa bisa gue takut sama Tuan gue sendiri yang ternyata masih bocah gini~? Apa jangan-jangan gara-gara gue jatuh cinta kali ya, sama Tuan gue? Aduh, eike pusing, batin si pria garang.

"Maafkan saya, Tuan! Saya lupa setelah saya membeli tempe itu! Tapi… Saya tahu ciri-ciri mereka!"

GEBRAK!

Tuan-nya yang sedang marah dan emosi itu akhirnya menggebrak meja kecil itu dengan penuh perasaan. "Katakan!"

"Se detail-detailnya?"

"Ya. Katakan ciri-ciri mereka dengan sangat detail!"

"Bahkan dengan merek pakaian yang mereka pakai juga?"

"YA!"

"Warna dan merek sepatu yang mereka pakai juga?"

"YA, YA!"

"Dengan—"

"Kau ini mau menyebutkan ciri-ciri mereka atau mau mem-promosikan merek-merek fashion yang mereka pakai, hah?! Gak jelas banget, sih, jadi stalker! Gue pecat tahu rasa lo!"

"MAAP TUAN! AMPUNI SAYA, TUAN! JANGAN PECAT SAYA, TUAAAAN~~!"

~xxx~

Setelah pulang dari café di dekat sekolahan itu, Gaara pulang ke rumah dengan lesu, lemah dan lunglai. Awas! Itu gejala kekurangan darah! Tidak, tidak. Jangan spoiler iklan lagi. Gaara capek memperagakan adegan dalam sebuah iklan tidak jelas. Ya, dan karena itulah sekarang Gaara mengurung diri di kamar mandi. Eh? Maksudnya di kamarnya.

Gaara menghela nafas. Ia sadar sekarang. Membuat seorang Hyuuga Hinata jatuh ke dalam pelukannya itu sangat... sulit. Terlalu banyak halangan, rintangan dan tantangan. Yang ia benci adalah halangan, rintangan dan tantangan dari author. Gaara tahu kalau Ayah-nya Hinata adalah seorang yang sangat protective. Dan kakaknya Hinata sendiri... over-protective. Kalau adiknya Hinata, sih, kayaknya mudah. Iya, bukannya mencuri hati seorang gadis kecil itu mudah? Gue beri apa yang ia mau, dan ia pun akhirnya kecantol dengan gue. Akhirnya dia bilang, deh, ke kakak-kakaknya maupun Ayahnya untuk menerima gue apa adanya.

Bukankah itu terlalu mudah? Apa Gaara lupa kalau ia mempunyai saingan?

"Si pantat ayam itu..."

~xxx~

Di waktu yang sama saat Gaara memikirkan itu, Sasuke malah sedang asyik memikirkan strategi untuk menyingkirkan Gaara. Dengan otaknya yang encer itu, ia bisa memikirkan segala sesuatu dengan mudah, 'kan?

Iya. Dan karena itulah Sasuke sangat bersyukur ia di hadiahi ketampanan plus otak yang sangat encer. Kalau nggak ada Tou-san, pasti Kaa-san nggak bakal hamil. Dan karena itulah gue bahagia!

(Author: Plis, Sas—Maksudnya apa—*digebuk*)

Sasuke menyeringai. Gue Uchiha Sasuke. Gue ganteng, kece, jenius, rajin menabung, patuh dan berbakti kepada orangtua, selalu membantu orang lain yang sedang kesusahan tetapi mentertawakan sahabat yang sedang kesusahan, gue juga kaya. Ketampanan gue ini sudah melebihi ketampanan orang yang tertampan di dunia… katanya, sih.

Dan dengan pemikiran yang super duper narsis abis itu Sasuke beranggapan akan lebih mudah nantinya. Nah, gue udah ganteng dan baik gini masa' sih Hinata nggak kecantol juga sama gue? Gue kalau ketemu kakak, adik sama bapaknya Hinata... Gue gak bakalan memperlihatkan ketampanan gue yang sangat menawan ini. Nanti bisa-bisa malah kakak, adik sama bapaknya yang naksir gue, bukan Hinata.

Sasuke merinding sendiri membayangkan Neji, Hanabi dan bahkan Paman Hiashi naksir sama dia yang mau tak mau harus di akui kenarsisannya yang mendarah daging itu.

Ada satu masalah untukmu, Sasuke. Sainganmu... Rival abadimu.

"Si merah bertato itu..."

Dan, Gaara…

"Si pantat ayam itu…"

Maksudnya rambutnya, 'kan?

Di kedua tempat yang berbeda cat itu, Gaara dan Sasuke mendesis tajam. Dua-duanya sengaja author perlihatkan.

"...Harus di enyahkan."

Dengan tatapan mereka yang tajamnya melebihi silet itu, ternyata membuat kakak mereka masing-masing ketakutan. Tebak apa yang terjadi? Ternyata Itachi dan Kankuro sedang memperhatikan tingkah laku adik mereka ini dengan mengintip dari sedikit celah pintu yang terbuka. Dan... Voila~

"…ADIK GUE JADI PSYCHO GILA YANG MESUM!"

Well, sorry saja, Kankuro, Itachi. Andaikan kalian lihat dari dulu... Sebelum yang ini. Kalian pasti sudah menyimpulkan adik kalian ini memang benar-benar gila… Tapi, mesum?

Masih di pertimbangkan.

~xxx~

Itulah yang terjadi pada Sasuke dan Gaara. Mereka menggila gara-gara Hinata. Well, Hinata. Tenang saja, jangan menyalahkan dirimu sendiri. Ini memang salahku karena aku yang membuat mereka jadi gila, HAHAHAHA~! *author di hajar rame-rame*

Kalau di kediaman Hinata, sih… Bukan Hinata yang menggila. Hinata-nya sih nggak terlalu memikirkan mereka (Gaara, Sasuke: Jahat banget!). Yah, tapi tetap saja kepikiran mereka… Lebih seringnya kepikiran tentang Gaara. Ciyee~! Ekhem. Ngomong-ngomong, apa kalian tahu reaksi Neji-nii dan Paman Hiashi? Mereka menggila! Menggila, kawan-kawan! Menggilaa~!

Neji-nii mengirimkan stalker botak untuk mengikuti dua tersangka—yakni Gaara dan Sasuke—. Stalker yang di ketahui bernama Cling (?) ini ternyata melakukan tugasnya dengan—kurang—baik. Dia memang menguntit Sasuke maupun Gaara dengan baik. Tapi sayang saja si Cling ini tidak bisa fokus kalau tidak sambil makan makanan kesukaannya, yap, tahu dan tempe.

Paman Hiashi pun sebenarnya sudah menggila, tapi karena author yang baik hati ini diancam oleh Paman, jadi terpaksa nggak dilihatin kegilaannya.

Hanabi, yang lagi enaknya ngemil keripik, dengan santainya masuk ke kamar Hinata. Hinata yang sedang berbaring di tempat tidurnya pun spontan melihat ke arah Hanabi yang sedang makan keripik kesukaannya itu.

'Kriuk, kriuk'

"Nee-chan."

'Kriuk, kriuk'

"Tahu gak?"

'Kriuk, kriuk'

"Neji-nii jadi makin menggila,"

'Kriuk—

Hanabi, udahan dulu, dong, makan keripiknya. Capek nih ngetik kriuk mulu!

"Tahu gak kenapa?"

Hanabi duduk di kursi sambil menyimpan bungkus keripiknya di meja belajar Hinata. Hinata hanya menggeleng pelan.

"Tadi pagi ruang kerja Tou-san gelap. Terus aku 'kan penasaran, jadi aku intip deh. Gelap banget, nee! Walaupun ada satu lilin, masih aja nggak keliatan! Tapi samar-samar, aku lihat bayangan seseorang, rambutnya panjang. Aku kira itu hantu indonesia yang rambutnya panjang itu, lho! Tapi setelah aku pikir-pikir lagi, ternyata itu Neji-nii. Neji-nii lagi cosplay ya?"

Helaan napas keluar dari bibir wanita cantik bersurai violet itu mendengar curhatan adiknya yang gak jelas.

Sabar ya, Hinata.

~xxx~

Keesokan paginya, pemuda bersurai merah dan raven itu sudah terlihat batang hidungnya di depan rumah Hinata. Hinata yang nggak tahu apa-apa, cuma bisa memasang wajah polosnya. Neji, yang tentu saja nggak suka melihat keberadaan dua cowok ganteng nan jenius itu di depan rumahnya hanya bisa menatap mereka tajam sambil melontarkan pertanyaan-pertanyaan yang menusuk hati Kedua Pangeran itu.

"Oh, jadi kalian ya, yang suka sama Hinata?"

Gaara dan Sasuke mengangguk, bersamaan.

"Kau," Neji menatap Gaara dengan tajam. "Sabaku Gaara. Berandalan di sekolah, benar? Katanya kau pernah terlibat perkelahian dengan kau," Kini mata Neji beralih pada Sasuke. "Uchiha Sasuke."

'INFORMASI KAMPRET DARIMANA ITU?'

"Ng—nggak pernah." Gaara menyangkal pernyataan Neji yang 0,00001% salah.

"—Sasuke, kau katanya pintar, tapi sayang kau terlalu genit dengan para perempuan di sekolah."

'SIAPAPUN YANG NGASIH INFORMASI KE NEJI BAKAL GUE TABOK PAKE RAMBUT PANTAT AYAM GUE YANG MEMBAHANA INI.'

BIIIP

(Author lagi dalam keadaan kritis setelah di chidori oleh Sasuke)

Gaara dan Sasuke menggeram, tertahan. Gak mau dicap bad boy oleh Neji. Mereka yang anak baik dan rajin itu nggak mungkin punya issue di sekolah. Gak, Gaara maupun Sasuke di didik dengan baik oleh keluarganya. Sopan, rajin, pintar, baik, ramah, senang menabung, gak sombong, gak sok ganteng—oke, mungkin yang ini hanya berlaku untuk Gaara.

'GUE ANAK BAIIK!'

"Om, saya anak baik dan alim, nggak suka genit sama cewek—"

"—WAH, WAH. BARU KENAL UDAH PANGGIL OM."

"—M-Maaf, O—Maksud saya, Neji-san… Saya nggak suka genit, suer, deh!"

"Terus, ke Gurumu, si Orochimaru gimana?" Tanya Neji yang penasaran setelah mendengar issue kalau Sasuke diam-diam dikejar oleh Orochimaru. Katanya, sih, mereka suka genit-genitan…

Sasuke yang mendengar perkataan Neji sontak membelakkan matanya dengan mulutnya yang terbuka lebar, menganga. Awas, nanti lalat masuk, Sas!

"ASTAGA! GAK! GUE GAK SUKA SAMA SI ULAR BANCI! ENAK AJA! MENDING GUE SAMA SI NARU DAH DARIPADA SAMA SI BANCI!"

Neji sweatdrop, matanya menatap semakin tajam pada Sasuke. 'Astaga… Jadi benar. Sasuke itu homo…'

Sasuke homo? Informasi kampret darimana itu!? *author gebrak meja* *lalu ditendang masal*

'SASUKE HOMO?! Kok gue pengen ngakak astaga.' batin Gaara berteriak frustasi, karena tidak bisa tertawa keras-keras, biasalah, jaga image.

"S-Sas. L-lu homo—" Gaara mencoba menahan tawanya yang sudah hampir meledak dalam satu detik. 'Gaar. Jaga image! Jangan ketawa, tulung! Jaga image!'

Hening.

Neji masih terdiam membisu mendengar ucapan Gaara yang terlontar begitu manisnya. Gaara pun masih menahan tawanya, jaga image. Sedangkan Sasuke sedang dalam keadaan proses loading di otaknya, mendengar perkataan Gaara yang sampai detik ini pun belum bisa tercerna oleh otak jeniusnya.

"S-SASUKE-NII HOMO? FANSERVICE DONG!"

Disaat suasana yang menegangkan itu, Hanabi keluar dengan Hinata. Hanabi sepertinya adalah fujoshi… Perkataan Sasuke tadi membuatnya menjadi greget, ia ingin sekali melihat adegan yaoi secara live.

"Sasu-nii! Pokoknya aku ingin lihat Nii-san yaoi-an sama Naru-nii!"

"WHAT? GUE GAK HOMO!"

Naruto yang kebetulan lewat bersama Sakura sontak membelalakkan matanya dengan shock mendengar perkataan Hanabi. Sedangkan Hanabi sudah greget ingin melihat SasuNaru fanservice. Sakura? Sudah jelas siap untuk menghantam pemuda berambut kuning cerah itu.

"TIDAAAAAAAAAAAK~"

Sasuke terkapar dengan tidak elitnya, membuat Gaara yang sedang menjaga imagenya menjadi gagal, dan malah tertawa. Sampai Neji, Hinata, Sakura, Naruto dan Hanabi ternganga melihat Gaara tertawa (re: ngakak) gak ketulungan.

Disaat sedang ramainya suasana pagi hari di kediaman Hinata, sebuah suara yang diyakini adalah suara seorang pria, menghancurkan momen bahagia nan canggung ini dengan sekejap.

"…Ada apa ini?"

Tawa Gaara terhenti seketika. Sedangkan mereka yang asalnya menganga, kembali menutup mulut mereka. Takut ada tomcat masuk.

"Kalian ini… Bukannya pergi ke sekolah, malah ngerumpi di rumah orang."

Paman Hiashi melangkah keluar. Tatapan matanya tajam, ke arah Naruto, Gaara dan Sasuke yang terkapar. Hinata hanya menunduk, jelas tidak ingin membuat sang Ayah marah. Gaara dan Naruto sudah mempunyai bad feeling tentang apa yang akan terjadi selanjutnya jika mereka tidak cepat-cepat pergi. Sedangkan yang lain hanya diam tak mengeluarkan sepatah katapun. Sasuke? Hmm, entah dia masih bernafas atau nggak.

"—Ah, jadi ada Sabaku dan Uchiha disini. Hmph, modusnya sudah kelihatan. Dasar cowok genit gak tahu malu, seenaknya aja menggoda Hinata. Mau mati kali ya."

'Sial… Belum ngapa-ngapain udah dicap anak nggak bener sama Paman… Harus gimana!?' Batin Gaara berteriak. Efek lebaynya tidak author perlihatkan, karena sudah terlalu banyak adegan oocnya.

'…Pengen bangun, tapi suasana lagi canggung, nih. Lanjutin /pura-pura/ pingsan aja deh,'

"A-ano, Tou-san—"

"—Diam, Hinata. Jangan terus membela cowok nggak bener."

"…Um. Bukan itu. Aku ingin pamit pergi ke sekolah dulu.."

Oh. Makanya Paman, dengerin dulu dong. Jangan main sambet aja.

"Oh. Yasudah, sana. Hati-hati."

Menganggukkan kepalanya, Hinata kemudian pergi ke sekolah bersama Hanabi dan Sakura. Sedangkan cowok-cowok yang masih ada disana, ditahan oleh Neji. Bagaimanapun, Gaara, Sasuke dan Naruto masih mempunyai urusan yang harus mereka selesaikan dengan Neji dan Paman Hiashi.


Tsudzuku~


GOMENASAI GOMENASAIIIII! Gaje banget! Kena writer block nih T_T

Btw, saya mau apdet dari tahun kemarin. Tapi telkoms*el(?) mem-block ffn. Tapi pas saya buka sekarang, kok bisa ya?'-' Syukurlah! Akhirnya saya bisa apdeeet~! *sujud sukur*

Gaara: Berisik.

Sasuke: Tumben nggak pingsan tuh anak.

Haruna: bales review! Bantuuin!

Gaara: Ok. Riz Riz 21 nih, chapter berikutnya. Jangan dinikmati ya.

Sasuke: Yukori Kazaqi... KENAPA!? TIDAKKK! SasuHina aja!

Haruna: Gaanata-chan Okay! Terimakasih sudah vote yap! Lebih gaje tentunya! Hehe!

Gaara: Hm... Sabaku-Yuuhi KEEP VOTE GAAHINA! /5

Haruna: UWAHH- Masa sih!? Sabaku-Yuuhi-san arigatou!

Sasuke: Cih! Phacha-yuki43sha... OOC banget kan?

Haruna: Fuchsia Harumi yoshaa! arigatou!

Sasuke: Flowers lavender oke oke. nih, chapter terbaru.

Gaara & Sasuke: Sherly-chan11 APA!?

Haruna: ajun chai .1 Okay! Akan author simpan sarannya! Ditunggu yaa!

Naruto: *lewat* Kok gue jadi kayak begitu di fanfic ini... EH! Ikutan dong! Ekhem-

Haruna: Misa-chan... HALO MISA! Review lagi ya! *kisu jauh*

Naruto: -Audhitaputri halo! Hah, kayaknya sih, ini sampai 9 chapter. Maukah terus membaca?

Sasuke: Hana milkovich, gadiena no sabaku, terimakasih.

Gaara: hapLuvGaaHina, luvnata. Halo. Pilih GaaHina, oke?

Yap! Itulah review yang saya terima sekitar pada bulan... JUNI 2013!? Oke... Oke.

Maaf, cerita di atas makin nggak jelas. Saya kehabisan ide... Untung nggak discontinued ya? :c

Oh ya, terimakasih para reader yang sudah mau meninggalkan jejak dengan mengirim review. Terimakasih atas saran, vote dan kritikannya juga ya! Terimakasih juga nih buat Kaoru-chan dan Ahn-chan (?) yang sudah mau baca dan bantu!

Karena saya sibuk, sekian saja dari saya. Jika para readers punya keluhan atau apapun itu yang ingin readers sampaikan pada saya. silahkan review atau simple-nya kirim saya pesan ^u^

Arigatou! Read and review?